Peluru Kosong Blok 25

download Peluru Kosong Blok 25

of 17

  • date post

    27-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    60
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of Peluru Kosong Blok 25

Skenario2 blok 25 Sistem Reproduksi

Skenario2 blok 25 Sistem Reproduksi2013

SKENARIO-7 Peluru kosongSetelah berkali-kali mengajak suaminya kedokter, akhirnya Ny I berhasil membawa suaminya, Tn. A berobat kedokter. Ny I menduga suaminya mengalami kemandulan karena pasangan ini sudah menikah selama 8 tahun tetapi belum dikaruniai anak padahal Ny I sudah sering berobat kedokter. Ternyata sebelum menikah tn A pernah mengalami sakit gondongan (pembengkakan rahan dan pipi) sebelah kanan dan kemudian diikuti pembengkakan pada buah zakarnya.

PENDAHULUANInfertilitas merupakan masalah yang dihadapi oleh pasangan suami istri yang telah menikah selama minimal satu tahun, melakukan hubungan senggama teratur, tanpa menggunakan kontrasepsi, tetapi belum berhasil memperoleh kehamilan. Infertilitas dikatakan sebagai infertilitas primer jika sebelumnya pasangan suami istri belum pernah mengalami kehamilan. Sementara itu, dikatakan sebagai infertilitas sekunder jika pasangan suami istri gagal untuk memperoleh kehamilan setelah satu tahun pascapersalinan atau pascaabortus, tanpa menggunakan kontrasepsi apapun.Delapan puluh empat persen (84%) perempuan akan mengalami kehamilan dalam kurun waktu satu tahun pertama pernikahan bila mereka melakukan hubungan suami isttri secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Angka kehamilan kumulatif akan meningkat menjadi 92% ketika lama usia pernikahan dua tahun.

Sistem Reproduksi ManusiaSetiap bayi perempuan lahir dengan rata-rata 400 ribu sel telur imatur pada ovariumnya. Ketika perempuan sudah mencapai menarche, maka setiap bulan ketika haid, wanita akan kehilangan 1 sel telurnya. Setiap siklus menstruasi dimulai dengan pelepasan gonadotropin releasing hormon (GnRH), FSH, dan LH. Hormon hormon ini akan mempersiapkan ovarium untuk melepaskan sel telur dan memberi sinyal untuk uterus agar endometrium mempersiapkan diri untuk sebuah implantasi. Kemudian ketika di pertengahan siklus, adanya peningkatan hormon akan membuat pelepasan sel telur oleh ovarium, hal ini disebut ovulasi. Sel telur itu kemudian ditangkap oleh fimbrae dan berjalan melalui tuba fallopi menuju uterus. Apabila sel telur ini kemudian bertemu dengan sel sperma, maka sel telur dan sel sperma akan bertemu dan terjadi fertilisasi, hal ini paling sering terjadi di ampulla tuba fallopi. Sel telur yang telah difertilisasi ini akan menjadi zigot, terus berjalan ke arah uterus, dan akhirnya akan terjadi implantasi pada endometrium uterus dalam bentuk blastula. Apabila sel telur ini tidak dibuahi maka akan hormon akan memberi sinyal agar endometrium meluruhkan lapisan-lapisan yang tadinya dipersiapkan untuk implantasi bayi. Hal inilah yang disebut dengan menstruasi, dan siklus ini akan berlanjut sampai masa menopause.2

Gambar 1.1 Reproduksi WanitaPada bayi laki-laki, mereka lahir dengan 2 testis. Setiap testis mempunyai kemampuan untuk membuat dan menyimpan sperma secara berkelanjutan. Hal ini dimulai ketika masa pubertas, stok sperma yang baru akan dibuat setiap 72 jam, akibat respon terhadap hormon testosteron, GnRH, LH, dan FSH. Saluran epididimis merupakan tempat untuk pematangan sperma yang kemudian akan berjalan melalui vas deferens dan duktus ejakulatorius. Selama dalam perjalanan ini, sperma akan bercampur dengan sekret dari epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, dan prostat untuk membentuk semen. Ketika sudah diejakulasikan, sperma harus berenang melalui serviks untuk bertemu dengan sel telur.2

Gambar 1.2 Reproduksi Pria

ANAMNESISPada awal pertemua , penting sekali untuk memperoleh data apakah pasangan suami istri atau salah satunya memiliki kebiasaan merokok atau minum, minuman beralkohol. Perlu juga diketahui apakah pasutri atau salah satunya menjalani terapi khusus seperti antihipertensi, kortikosteroid, dan sitostatika.Siklus haid merupakan variable yang sangat penting. Dapat dikatakan siklus haid normal jika berada dalam kisaran antara 21 35 hari. Sebagian besar perempuan dengan siklus haid yang normal akan menunjukkan siklus haid yang berovulasi. Untuk mendapatkan rerata siklus haid perlu diperoleh informasi haid dalam kurun waktu 3-4 bulan terakhir. Perlu juga diperoleh informasi apakah terdapat keluhan nyeri haid setiap bulannya dan perlu dikaitkan dengan adanya penurunan aktivitas fisik saat haid akibat nyeri atau terdapat penggunaan obat penghilang nyeri saat haid terjadi.Perlu dilakukan anamnesis terkait dengan frekuensi senggama yang dilakukan selama ini. Akibat sulitnya menentukan saat ovulasi secara tepat, maka dianjurkan bagi pasutri untuk melakukan sanggama secara teratur dengan frekuensi 2-3 kali perminggu. Upaya untuk mendeteksi adanya ovulasi seperti penggukuran suhu basal badan dan penilaian kadar luteinizing hormone (LH) di dalam urin seringkali sulit untuk dilakukan dan sulit untuk diyakini ketepatannya, sehingga hal ini sebaiknya dihindari saja.

PEMERIKSAAN Setiap pasangan infertil harus diperlakukan secara satu kesatuan. Itu berarti, kalau istri saja sedangkan suaminya tidak mau diperiksa, maka pasangan itu tidak diperiksa. Adapun syarat-syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut:81. Istri yang berumur antara 20-30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapatkan anak selama 12 bulan. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila:a. Pernah mengalami keguguran berulangb. Diketahui mengidap kelanan endokrinc. Pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perutd. Pernah mengalami bedah ginekologik2. Istri yang berumur antara 31-35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter.3. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36-40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum punya anak dari perkawinan ini.4. Pemeriksaan infertiitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri dan anaknya.1. Pemeriksaan FisikTujuan dari pemeriksaan fisik adalah untuk menemukan bukti kelainan yang dapat menyebabkan menyebabkan infertilitas. Pada pemeriksaan fisik pasangan wanita, perhatian khusus harus diberikan untuk mengidentifikasi tanda-tanda kelebihan androgen, yaitu hirsutisme, kebotakan, dan jerawat. Ukuran dan mobilitas organ reproduksi dan adanya nodul endometriosis dapat dinilai selama pemeriksaan bimanual. Jika ada kecurigaan infeksi PMS, spesimen serviks dapat diperiksa untuk dikultur. Pada pemeriksaan terhadap pasangan laki-laki, defisiensi androgen harus dicari, seperti rambut tubuh berkurang, dan ginekomastia. Pada pemeriksaan genital, yang harus dinilai adalah OUE untuk menyingkirkan adanya epispadia atau hipospadia, yang dapat mengganggu deposisi sperma di vagina. Oleh karena tubulus seminiferus menyusun sekitar 80% sampai 85% dari seluruh massa testis, maka evaluasi ukuran testis dengan orchidometer Prader dapat memberikan penilaian global mengenai fungsi testis. Pemeriksaan pada skrotum untuk menyingkirkan varikokel harus dilakukan dengan posisi pasien berdiri dan kemudian dilakukan manuver Valsava. Selain itu, tanda-tanda peradangan epididimis seperti penebalan epididimis atau nyeri tekan dapat ditemukan pada palpasi skrotum.42. Pemeriksaan infertilitasPemeriksaan fisik dari pasangan subur dapat mengidentifikasi penyebab yang berpotensi dapat menyebabkan infertilitas yang kemudian dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan tes laboratorium khusus atau studi pencitraan. Pada pasangan infertil, pendekatan diagnosa secara sistematis diperlukan untuk evaluasi diagnostik infertilitas.4a. Faktor Pria: Analisis SemenSetiap laiki-laki dalam semua pasangan infertil harus menjalani analisis air mani, terlepas dari riwayat kesuburannya. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, penyebab infertilitas pria banyak sekali, termasuk eksposur terhadap obat, racun, penyalahgunaan zat, trauma testis, infeksi, dan riwayat operasi sebelumnya. Sedikitnya 2 atau 3 spesimen yang diambil dalam interval 1-2 bulan direkomendasikan untuk analisis semen. Jika mereka berbeda secara nyata dalam karakteristik fisik, spesimen tambahan harus diambil lagi. Spesimen umumnya diperoleh dengan masturbasi dan dimasukkan ke dalam wadah steril, tetapi juga dapat diperoleh melalui hubungan seksual dengan menggunakan kondom khusus. Pengumpulan spesimen dilakukan setelah berpuasa hubungan seksual (abstinensia) selama 3-5 hari. Abstinensia yang terlalu lama sebelum pengambilan spesimen akan menyebabkan bertambahnya volume semen namun berkurang motilitas spermanya. Setelah diambil, spesimen harus disimpan dalam suhu ruangan dan diperiksa oleh laboratorium maksimal dalam 1 jam kemudian.Pemeriksaan dasar pada analisis semen antara lain volume semen, konsentrasi sperma, motilitas sperma, viskositas, aglutinasi dan morfologinya sesuai yang sudah ditetapkan oleh WHO. Meskipun analisis semen adalah landasan utama dalam pemeriksaan infertilitas, namun pemeriksaan ini adalah prediktor yang relatif buruk untuk menilai kesuburan kecuali parameter semen sudah sangat abnormal.

Tabel 1. Nilai normal analisis semenApabila hasil analisis semen abnormal pada pasangan laki-laki, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab infertilitasnya.Untuk mengetahui ada tidaknya ketidakcocokan imunoligik antara suami dan istri maka dapat dilakukan uji kontak air mani dengan lendir serviks (sperm cervical mucus contact test (SCMC test)). Uji yang dikembangkan oleh Kramer dan Jager ini dapat mempertunjukkan adanya antibodi lokal pada pria atau wanita. Menurut Kremer dan Jager, pada ejakulat dengan autoimunisasi, gerakan maju spermatozoa akan berubah menjadi terhenti, atau gemetar ditempat kalu bersinggungan dengan lendir serviks. Perangai gemetar ditempat ini terjadi pula kalau air mani yang normal bersinggungan dengan lendir serviks dari wanita yang serumnya mengandung antibodi terhadap spermatozoa suami. Uji ini sangat berguna untuk menyelidiki adanya faktor imunologik apabila ternyata uji pasca sen