PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE - repository.fisip …repository.fisip-untirta.ac.id/1297/1/PELAKSANAAN...

of 172/172
PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE DI KECAMATAN MAJASARI KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2018 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Administrasi Publik Pada Konsentrasi Manajemen Publik Program Studi Administrasi Publik Oleh: ALGI FIRMANSAH 6661132381 PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA SERANG, 2019
  • date post

    08-Jul-2019
  • Category

    Documents

  • view

    235
  • download

    1

Embed Size (px)

Transcript of PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE - repository.fisip …repository.fisip-untirta.ac.id/1297/1/PELAKSANAAN...

  • PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE

    DI KECAMATAN MAJASARI KABUPATEN PANDEGLANG

    TAHUN 2018

    SKRIPSI

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

    Gelar Sarjana Administrasi Publik Pada Konsentrasi Manajemen Publik

    Program Studi Administrasi Publik

    Oleh:

    ALGI FIRMANSAH

    6661132381

    PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PUBLIK

    FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

    UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

    SERANG, 2019

  • ABSTRAK

    Algi Firmansah. NIM. 6661132381. Skripsi. Pelaksanaan Good Governance di

    Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang. Pembimbing I: DR. Dirlanuddin,

    M.Si dan Pembimbing II: Rahmawati, M.Si

    Fokus penelitian adalah penerapan good governance di Kecamatan Majasari Kabupaten

    Pandeglang. Permasalahan pada penelitian adalah pihak Kecamatan Majasari kurang

    informatif terkait pelayanan-pelayanan yang disediakan, pihak swasta masih kurang

    berpartisipasi dalam pelayanan pembuatan izin usaha yang disediakan oleh pihak

    Kecamatan Majasari, respon terhadap permohonan masyarakat untuk pembuatan Kartu

    Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk dinilai lamban, pihak Kecamatan Majasari masih

    terbilang diskriminatif dalam pemberian pelayanan pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu

    Tanda Penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

    pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari. Teori yang digunakan dalam

    penelitian ini adalah Teori UNDP dan Teori Pelayanan Parasurman. Metode penelitian

    yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan survey. Analisis data yang

    digunakan dengan prosedur reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan oleh

    Matthew B. Milles dan Michael Huberman. Hasil penelitian, dapat diketahui bahwa

    pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari belum optimal karena pihak

    Kecamatan Majasari masih melakukan pelanggaran dalam menerapkan prinsip-prinsip

    good governance. Berkaitan dengan hasil penelitian yang didapat, peneliti memberikan

    beberapa saran diantaranya, pihak Kecamatan Majasari agar lebih memahami kebutuhan

    masyarakat, pihak Kecamatan Majasari agar lebih mendisiplinkan para pegawai, dan

    pihak Kecamatan Majasari agar lebih mempersiapkan diri dalam memberikan

    pelayananan.

    Kata Kunci : Good Governance, Kecamatan Majasari, Pelayanan

  • ABSTRACT

    Algi Firmansah. NIM. 6661132381. Research Paper. Implementation of Good

    Governance at Majasari Subdistrict Pandeglang Regency. First Supervisor: DR.

    Dirlanuddin, M.Si and Second Supervisor: Rahmawati, M.Si.

    The focus of the research is the implementation of good governance in Majasari Subdistrict,

    Pandeglang Regency. The research problems are that the Majasari Subdistrict was less

    informative regarding the services provided, the private sector still lacked participation in the

    service of making business licenses provided by the Majasari Subdistrict, the response to the

    community's request for Family Cards and Identity Cards is considered slow, Majasari

    Subdistrict is still discriminative in providing services for making Family Cards and Identity

    Cards. The purpose of this study is to find out how the implementation of good governance in

    Majasari District. The theory used in this study is the UNDP Theory and Parasurman Service

    Theory. The research method used is a qualitative method with a survey approach. Analysis of

    data used with data reduction procedures, data presentation, and drawing conclusions by

    Matthew B. Milles and Michael Huberman. The results of the study, it can be seen that the

    implementation of good governance in Majasari Subdistrict is not optimal because the Majasari

    District still violates the implementation of good governance principles. In connection with the

    results of the research obtained, the researcher gave several suggestions, namely, the Majasari

    Subdistrict in order to understand the needs of the community quite better, the Majasari

    Subdistrict in order to discipline employees quite further, and the Majasari Subdistrict to prepare

    themselves for providing services quite better.

    Keywords: Good Governance, Majasari Subdistrict, Services

    KATA PENGANTAR

  • Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah Swt atas segala rahmat

    hidayah dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi

    yang berjudul Pelaksanaan Good Governance di Kecamatan Majasari Kabupaten

    Pandeglang. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh

    Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Administrasi Publik pada Konsentrasi Manajemen Publik

    Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas

    Sultan Ageng Tirtayasa.

    Terimakasih atas dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu secara

    moril maupun materiil dalam melakukan penelitian untuk kelancaran penyusunan skripsi

    ini. Sehubungan dengan hal itu maka peneliti juga menyampaikan ucapan terima kasih

    yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

    1. Bapak Prof. Dr. Soleh Hidayat, M.Pd., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

    2. Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Sultan Ageng Tirayasa.

    3. Ibu Rahmawati S.Sos., M.Si., Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

    Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

    4. Bapak Iman Mukhroman, M.Si., Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu

    Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

    5. Bapak Kandung Sapto Nugroho S.Sos., M.Si., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial

    dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan juga sebagai Dosen

    Pembimbing Metodologi Penelitian Administrasi.

    6. Ibu Listyaningsih, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Administrasi Publik Fakultas

    Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

  • 7. Ibu Dr. Arenawati, S.Sos., M.Si.,Wakil Ketua Program Studi Administrasi Publik

    Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

    8. Bapak Dr. Dirlannudin, M.Si., Dosen Pembimbing I yang selalu memberikan arahan

    dan masukan dalam penyusunan skripsi.

    9. Ibu Rahmawati, M.Si., Dosen Pembimbing II yang juga selalu memberikan arahan,

    masukan dan kritik yang membangun serta semangat dalam penyusunan skripsi.

    10. Kepada seluruh Dosen Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan

    Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah mendidik dan membekali

    penulis dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang bermanfaat selama perkuliahan.

    11. Para Staff Tata Usaha Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan

    Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atas segala bantuan administrasi dan

    informasi selama perkuliahan.

    12. My Love, Fitri Choirunnisa, selaku supporter dalam pembuatan skripsi ini. Tanpamu

    aku bukan apa-apa.

    13. Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan Administrasi Publik Angkatan 2013,

    yang tidak dapat disebutkan satu persatu namun telah memberikan kesan, tawa, serta

    dukungan agar kelak sukses bersama.

    Atas segala bantuan dan bimbingan serta kerjasama yang baik yang telah

    diberikan selama penyusunan skripsi, maka peneliti ucapkan terimakasih dan hanya

    dapat memanjatkan doa semoga kebaikan tersebut dibalas dengan pahala yang berlipat

    ganda dan merupakan suatu amal kebaikan di sisi Allah SWT.

  • Peneliti juga menyadari bahwa dalam penyususnan skripsi ini masih terdapat

    kekurangan-kekurangan, maka dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik

    dan saran yang membangun dari semua pihak.

    Akhir kata penulis berharap agar upaya ini dapat mencapai maksud yang

    diinginkan dan dapat menjadi tulisan yang berguna bagi semua pihak.

    Serang, Januari 2019

    Peneliti

    Algi Firmansah

  • DAFTAR ISI

    PERNYATAAN ORISINALITAS

    LEMBAR PERSETUJUAN

    LEMBAR PENGESAHAN

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    ABSTRAK

    ABSTRACT

    KATA PENGANTAR ..................................................................................... i

    DAFTAR ISI ................................................................................................... iv

    DAFTAR TABEL ........................................................................................... vii

    DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii

    BAB I PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................ 1

    1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 13

    1.3 Batasan Masalah ........................................................................ 13

    1.4 Rumusan Masalah ...................................................................... 14

    1.5 Tujuan Penelitian ....................................................................... 14

    1.6 Manfaat Penelitian ..................................................................... 14

    1.7 Sistematika Penulisan ................................................................ 15

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERFIKIR DAN ASUMSI

    DASAR

    2.1 Tinjauan Pustaka ....................................................................... 18

  • 2.1.1 Konsep Good Governance ............................................... 19

    2.1.2 Prinsip-prinsip Good Governance ................................... 26

    2.1.3 Pengertian Pemerintahan .................................................. 31

    2.1.4 Pengertian Apartur Sipil Negara ...................................... 36

    2.1.5 Konsep Pelayanan ........................................................... 40

    2.2 Penelitian Terdahulu .................................................................. 42

    2.3 Kerangka Berfikir ...................................................................... 46

    2.4 Asumsi Dasar ............................................................................. 48

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian ........................................... 49

    3.2 Ruang Lingkup/Fokus Penelitian .............................................. 49

    3.3 Lokasi Penelitian ........................................................................ 50

    3.4 Instrumen Penelitian .................................................................. 50

    3.5 Informan Penelitian .................................................................... 51

    3.6 Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 54

    3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ....................................... 58

    3.8 Uji Keabsahan Data ................................................................... 62

    3.9 Jadwal Penelitian ....................................................................... 66

    BAB IV PEMBAHASAN

    4.1 Deskripsi Objek Penelitian ........................................................ 67

    4.2 Deskripsi Data Penelitian .......................................................... 68

    4.3 Deskripsi Hasil Penelitian ......................................................... 71

    4.4 Pembahasan ................................................................................ 99

  • BAB V PENUTUP

    5.1 Kesimpulan ................................................................................ 115

    5.2 Saran .......................................................................................... 115

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • DAFTAR TABEL

    Tabel 1.1 Daftar Pihak Swasta yang Terdaftar Memiliki Izin Usaha ............. 9

    Tabel 2.1 Perbedaan Government dan Governance ........................................ 21

    Tabel 3.1 Informan Penelitian ......................................................................... 53

    Tabel 3.2 Pedoman Wawancara ...................................................................... 56

    Tabel 3.3 Jadwal Penelitian ............................................................................ 66

    Tabel 4.1 Informan Penelitian ......................................................................... 71

    Tabel 4.2 Fasilitas Operasional di Kantor Kecamatan Majasari ..................... 91

    Tabel 4.3 Perkembangan Penyediaan Fasilitas Operasional ........................... 98

  • DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1.1 Mekanisme PATEN di Kecamatan Majasari ................................ 11

    Gambar 2.1 Interaksi Antar Pelaku dalam Kepemerintahan ............................. 26

    Gambar 2.2 Kerangka Berfikir .......................................................................... 47

    Gambar 3.1 Teknik Analisis Data ..................................................................... 59

    Gambar 3.2 Triangulasi Teknik ........................................................................ 64

    Gambar 3.3 Triangulasi Sumber ...................................................................... 64

    Gambar 4.1 Informasi Pelayanan di Kecamatan Majasari ................................ 76

    Gambar 4.2 Informasi Pembangunan di Kecamatan Majasari.......................... 78

    Gambar 4.3 Sarana dan Prasaranan di Kecamatan Majasari............................. 90

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Pemerintahan yang baik (good governance) merupakan isu yang mengemuka

    dalam pengelolaan administrasi publik. Hal ini antara lain tercermin dari tuntutan

    yang masiv dari masyarakat kepada para penyelenggara negara, baik di

    pemerintahan, dewan perwakilan maupun yudikatif untuk menyelenggarakan

    pemerintahan yang baik. Artinya, terselenggaranya good governance merupakan

    cita-cita dan harapan bagi setiap bangsa. Secara umum, good governance dapat

    diartikan sebagai proses pengelolaan pemerintahan melalui keterlibatan stakeholders

    yang luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik suatu negara dan pendayagunaan

    sumberdaya alam, keuangan dan manusia menurut kepentingan semua pihak dengan

    cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, persamaan, efisiensi,

    transparansi dan akuntabilitas. Soffian Effendi dalam Azhari, (2002: 187)

    mendefinisikan good governance sebagai penyelenggaraan pemerintahan secara

    partisipatif, efektif, jujur, adil, transparan dan bertanggungjawab kepada semua level

    pemerintahan. Pada akhirnya, good governance akan menghasilkan birokrasi yang

    handal, profesional, efisien, produktif, serta memberikan pelayanan prima kepada

    masyarakat.

    Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berjuang demi terciptanya good

    governance. Namun faktanya, keadaan Indonesia saat ini belum menunjukkan

    bahwa harapan tersebut sudah tercapai. Hal ini dibuktikan dengan mencuatnya

  • kasus-kasus yang melibatkan kalangan birokrasi akhir-akhir ini. Salah satunya

    adalah kasus korupsi Political and Economic Risk Consultancy (PERC)

    mengumumkan hasil surveinya mengenai peringkat korupsi negara-negara di dunia,

    dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam pemeringkatan

    tingkat korupsinya. Menurut data Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang

    priode 1 Januari hingga 31 Juli 2012. Penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan

    Korupsi (KPK), kepolisian RI dan kejaksaan agung telah menetapkan 597 orang

    sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Kasus sepanjang semester pertama 2012

    tersebut mencapai 285 kasus dengan potensi kerugian aset Negara yang yang

    ditimbulkan akibat korupsi sebesar Rp 1,22 trilliun. Keadaan ini berbanding jauh

    dengan Singapura di mana pihak pemerintah berperan aktif di masyarakat dalam

    mengelola dan mengembangkan ekonomi, kemudian pegawai negeri memiliki

    prestise yang tinggi sehingga pelayanan publik hampir seluruhnya bebas dari korupsi

    (Romdon: 2013). Pada awal tahun 2017, Indonesia dihebohkan dengan kasus

    korupsi proyek pembangunan Hambalang yang melibatkan nama-nama tokoh

    politik tenar seperti Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.Azzam, dkk. (2013:

    2) menjelaskan bahwa kasus korupsi proyeksi Hambalang sudah mulai bergulir sejak

    Agustus 2011 lalu. Pada tanggal 1 Agustus, KPK mulai menyelidiki kasus korupsi

    proyek Hambalang senilai Rp 2,5 triliun. Nama-nama elit politik pun mulai

    bermunculan dan terseret kasus proyek Hambalang. Pada 3 Desember 2012, KPK

    menjadikan tersangka Andi Alfian Mallarangeng dalam posisinya sebagai Menpora

    dan pengguna anggaran. Setelah Andi, nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas

    Arbaningrum masuk dalam pusaran korupsi Hambalang. Arjamudin (2012)

  • menyatakan bahwa kepentingan politik, KKN, peradilan yang tidak adil, bekerja di

    luar kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa

    masalah yang membuat pemerintahan yang baik masih belum bisa tercapai.

    Pelaksanaan good governance di Indonesia sendiri mulai benarbenar dirintis

    sejak munculnya era reformasi. Era tersebut menuntut proses demokrasi yang bersih

    sehingga good governance menjadi salah satu alat reformasi yang mutlak diterapkan

    dalam pemerintahan baru. Febrian (2009) mengemukakan bahwa masih banyak

    ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi

    yang merupakan dua produk utama good governance. Artinya, penerapan good

    governance di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan

    citacita reformasi sebelumnya.

    Berkaitan dengan good governance, salah satu hal yang harus diperhatikan

    adalah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat atau pelayanan publik. Karena

    pada dasarnya peran pokok dari pemerintah memberikan pelayanan publik antara

    lain dalam hal-hal yang berkaitan dengan memelihara keamanan, ketertiban,

    mewujudkan keadilan, memenuhi kepentingan umum, mewujudkan kesejahteraan

    sosial, perekonomian, pemeliharaan sumber-sumber daya alam dan lingkungan.

    Dalam keterkaitan tersebut pembentukan berbagai instansi pemerintahan dengan

    tugas dan fungsinya masing-masing berperan sebagai perangkat utama dalam

    memberikan pelayanan kepada masyarakat, yang sesuai dengan peraturan menteri

    pendayagunaan aparatur Negara Nomor 15 Tahun 2014 bahwa setiap penyelenggara

    pelayanan publik wajib menyusun, menetapkan, dan menerapkan standar pelayanan

  • serta menetapkan maklumat pelayanan dengan memperhatikan kemampuan

    penyelenggara, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan.

    Pelayanan publik menjadi tolak ukur keberhasilan pelaksanaan tugas dan

    pengukuran kinerja pemerintah melalui birokrasi. Pelayanan publik sebagai

    penggerak utama juga dianggap penting oleh semua aktor dari unsur good

    governance. Para pejabat publik, unsur-unsur dalam masyarakat sipil dan dunia

    usaha sama-sama memiliki kepentingan terhadap perbaikan kinerja pelayanan

    publik. Ada tiga alasan penting yang melatarbelakangi bahwa pembaharuan

    pelayanan publik dapat mendorong praktik good governance di Indonesia. Pertama,

    perbaikan kinerja pelayanan publik dinilai penting oleh stakeholders, yaitu

    pemerintah, warga, dan sektor usaha. Kedua, pelayanan publik adalah ranah dari

    ketiga unsur governance melakukan interaksi yang sangat intensif. Ketiga, nilai-nilai

    yang selama ini mencirikan praktik good governance diterjemahkan secara lebih

    mudah dan nyata melalui pelayanan publik.

    Fenomena pelayanan publik oleh birokrasi pemerintah syarat dengan

    permasalahan, misalnya prosedur pelayanan yang berbelit-belit, ketidakpastian

    waktu dan harga yang menyebabkan pelayanan menjadi sulit dijangkau secara wajar

    oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan terjadi ketidakpercayaan kepada pemberi

    pelayanan dalam hal birokrasi sehingga masyarakat mencari jalan alternatif untuk

    mendapatkan pelayanan melalui cara tertentu yaitu dengan memberikan biaya

    tambahan.

    Selain permasalahan di atas, juga tentang cara pelayanan yang diterima oleh

    masyarakat yang sering dilecehkan martabatnya sebagai warga negara. Masyarakat

  • ditempatkan sebagai klien yang membutuhkan bantuan pejabat birokrasi, sehingga

    harus tunduk pada ketentuan birokrasi dan kemauan dari para pejabatnya. Hal ini

    terjadi karena budaya yang berkembang dalam birokrasi selama ini bukan budaya

    pelayanan, tetapi lebih mengarah kepada budaya kekuasaan. Untuk mengatasi

    kondisi tersebut perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas penyelenggaraan

    pelayanan publik yang berkesinambungan demi mewujudkan pelayanan publik yang

    prima sebab pelayanan publik merupakan fungsi utama pemerintah yang diberikan

    sebaik-baiknya oleh pejabat publik. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan

    melakukan penerapan prinsip-prinsip good governance, yang diharapkan dapat

    memenuhi pelayanan yang prima terhadap masyarakat. Terwujudnya pelayanan

    publik yang berkualitas merupakan salah satu ciri good governance. Untuk itu,

    aparatur negara harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan

    efisien, karena diharapkan dengan penerapan good governance dapat

    mengembalikan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap

    pemerintah.

    Pada penelitian ini, analisa pelaksanaan good governance difokuskan pada

    pelayanan publik di Kecamatan Majasari. Kecamatan Majasari sendiri merupakan

    Kecamatan dengan swadaya tertinggi dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan

    lainnya di Kabupaten Pandeglang. Kecamatan Majasari adalah pemekaran dari

    Kecamatan Pandeglang berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Pandeglang No.26

    Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Majasari dan Kecamatan Sobang tanggal

    17 Juli 2007. Secara administratif, Kecamatan Majasari merupakan salah satu bagian dari

    Kabupaten Pandeglang dengan luas wilayah 19, 41 KM2 yang berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara : Kecamatan Pandeglang/Karang Tanjung

    Sebelah Selatan : Kecamatan Kaduhejo

    Sebelah Timur : Kecamatan Banjar

    Sebelah Barat : Kecamatan Kaduhejo

    Secara Geografis, Kecamatan Majasari terletak di antara 6.173,2o Bujur Timur

    dengan luas daerah 20, 09 KM2, atau sebesar 0,73% dari luas Kabupaten Pandeglang.

    Kecamatan Majasari ditempati oleh 46.041 jiwa penduduk yang tersebar di 5 kelurahan;

    Sukaratu, Karaton, Selaja, Saruni, Pager Batu. Sebuah Kecamatan dipimpin oleh seorang

    Camat yang berada di bawah tanggung jawab Bupati melalui Sekretaris Daerah.

    Kecamatan Majasari merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah

    Kabupaten dengan visi mendorong, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui

    agrobisnis, pertanian, wisata, dan home industry serta misi sebagai berikut:

    1. Terwujudnya pelayanan masyarakat yang berkualitas, transparan, dan akurat.

    2. Terwujudnya budaya tertib hukum dan tertib lingkungan dalam masyarakat.

    3. Mewujudkan usaha-usaha guna mendukung penerimaan pendapatan daerah yang

    optimal.

    4. Mewujudkan pelaksanaan pembangunan yang berbasis partisipasi masyarakat.

    Berdasarkan peraturan Bupati Pandeglang nomor 66 tahun 2016, Kecamatan

    Majasari mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan yang

    dilimpahkan oleh Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan

    menyelenggarakan tugas umum pemerintahan. Proses pelayanan melibatkan 28 pegawai

    yang terdiri dari 15 pegawai pegawai ASN, 6 pegawai TKK, dan 17 pegawai TKS.

  • Berbagai macam pelayanan bagi masyarakat disediakan oleh pihak Kecamatan Majasari,

    diantaranya:

    1. Pengantar Kartu Keluarga (KK)

    2. Pengantar Kartu Tanda Penduduk (KTP)

    3. Pengantar Akta Kelahiran

    4. Pengantar Surat Pindah

    5. Rekomendasi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dibawah 100 M

    6. Rekomendasi Ijin Keramaian

    7. Rekomendasi Ijin Gangguan (HO)

    8. Pengantar Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)

    9. Rekomendasi Dispensasi Nikah dibawah 10 Hari

    10. Rekomendasi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)

    11. Legalisir Surat Kematian

    12. Legalisir KTP/KK

    13. Pengantar Permohonan SPPT Baru

    14. Pengantar Permohonan Mutasi/Balik Nama SPPT

    Di Kecamatan Majasari, masalah good governance menjadi masalah yang hangat di

    bicarakan. Guna mengetahui secara singkat tentang pelaksanaan good governance di

    Kecamatan Majasari, peneliti melakukan pre-observasi melalui wawancara semi struktur

    dengan Sekretaris Camat Majasari. Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui

    bahwa beberapa dari prinsip-prinsip good governance belum berhasil diterapkan secara

    optimal, seperti transparansi, partisipasi, responsivitas, dan keadilan.

    Berkaitan dengan misi yang diemban oleh Kecamatan Majasari yaitu Terwujudnya

    pelayanan masyarakat yang berkualitas, transparan, dan akurat, transparansi dalam

    pelaksanaan good governance seharusnya sudah diterapkan secara optimal. Namun,

    faktanya, pihak Kecamatan Majasari masih dianggap kurang informatif terkait

  • pelayanan-pelayanan publik yang disediakan oleh pihak kecamatan sehingga berpotensi

    untuk mengurangi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pelayanan tersebut.

    Contohnya saja dalam pelayanan pembuatan surat IMB dan surat izin keramaian.

    Menurut Soni Azhari (25); masyarakat di Kecamatan Majasari, ketika ingin mengajukan

    pembuatan rekomendasi IMB, ia tidak mengetahui secara jelas tentang persyaratan-

    persayaratan yang harus dipenuhi sehingga harus kembali lagi ke kecamatan ketika

    semua persyaratan sudah lengkap. Selain itu, Agus Arif Rahman (37); masyarakat di

    Kecamatan Majasari, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Kecamatan Majasari

    menyediakan pelayanan surat izin keramaian. Agus menambahkan, ia juga tidak

    memahami apa fungsi dan kapan harus meminta surat izin keramaian kepada pihak

    Kecamatan Majasari.

    Kurangnya informasi terkait pelayanan-pelayanan yang disediakan oleh pihak

    Kecamatan Majasari berdampak signifikan terhadap partisipasi masyarakat dalam

    pelaksanaan pelayanan-pelayanan tersebut. Terbukti dengan prinsip partisipasi yang

    dinyatakan belum optimal karena pihak swasta yang berperan sebagai salah satu pilar

    dari good governance belum berpartisipasi dalam pelayanan yg disediakan oleh pihak

    Kecamatan Majasari seperti surat izin usaha. KASI pemerintahan Kecamatan Majasari

    menyatakan bahwa masih ada beberapa tempat usaha di Kecamatan Majasari yang belum

    memiliki surat izin. Dari sekian banyak pihak swasta yang mendirikan usaha di daerah

    pemerintahan Kecamatan Majasari, hanya beberapa yang terdaftar memiliki izin usaha

    di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten

    Pandeglang, berikut daftarnya:

  • Tabel 1.1

    Daftar Pihak Swasta yang Terdaftar Memiliki Izin Usaha

    No Nama Pihak Swasta Alamat

    1 Toko Gugun Nugraha Kp. Cipacung, Kel. Saruni, Kec.

    Majasari

    2 CAS Water Park Kp. Cikole, Kel. Sukaratu, Kec.

    Majasari

    3 Toko Kholid Kp. Cikole, Kel. Sukaratu, Kec.

    Majasari

    4 Dr. H Gatot Supriadi Kp. Maja Mesjid Rt/Rw. 001/005

    Kel. Sukaratu Kecamatan

    Majasari

    5 Apotek Hana Perintis Farma Jl. Raya Labuan Km.4 Kp.

    Cipacung, Kel.saruni, Kec.

    Majasari

    6 Apotek Central Farma 2 Jl. Raya Labuan, Kp. Ciekek, Kel.

    Karaton, Kec. Majasari

    7 Tempat Penampungan Limbah Bekas

    Limbah Rezeki

    Kp. Wakap, Kel.Sukaratu,

    Kec.Majasari

    (Sumber: DPMPTSP Kab.Pandeglang, 2014)

    Kuswanto (2012) menjelaskan bahwa dengan melaksanakan prinsip-prinsip good

    governance, maka tiga pilarnya yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil

    hendaknya saling menjaga, saling dukung dan berpatisipasi aktif dalam penyelenggaraan

  • pemerintahan yang sedang dilakukan. Dalam pemberian pelayanan publik, respon pihak

    kecamatan adalah salah satu faktor penilaian masyarakat terhadap pelayanan yang

    diberikan. Pada pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari, khususnya dalam

    pemberian pelayanan publik prinsip responsivitas dinyatakan belum optimal karena

    respon yang diberikan oleh pihak Kecamatan untuk pelayanan permohonan pembuatan

    Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk masih terbilang lamban. Formulir untuk

    pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk seringkali tidak tersedia sehingga

    proses pembuatan harus diundur selama beberapa jam atau bahkan ke lain hari. Hal ini

    juga menunjukkan bahwa penguluran waktu masih ditemukan dalam proses pelayanan

    sehingga mengharuskan masyarakat untuk kembali ke kantor kecamatan dua sampai tiga

    kali. Keadaan tersebut terbilang tidak efisien karena merugikan masyarakat dari segi

    waktu dan biaya. Terlebih lagi, prosedur dan waktu pelayanan seringkali ditemukan tidak

    sesuai dengan SOP Kecamatan Majasari. Berikut ini Standar Operasional Pelayanan

    yang ada di Kecamatan Majasari terlampir pada Gambar 1.1 di bawah ini:

    Gambar 1.1

    Mekanisme Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan

    ( PATEN ) Kecamatan Majasari

  • (Sumber : Kecamatan Majasari)

    Santosa dalam Mawarni (2014) mengatakan bahwa responsivitas merupakan

    kemampuan lembaga publik dalam merespon kebutuhan masyarakat terutama yang

    berkaitan dengan basic needs (kebutuhan dasar) dan HAM (hak sipil, hak politik, hak

    ekonomi, hak social, dan hak budaya). Selanjutnya, dalam pemberian pelayanan publik,

    pihak Kecamatan Majasari dituntut untuk adil kepada seluruh masyarakat; tanpa

    membeda-bedakan status sosial dan ekonomi. Keadilan dalam pelaksanaan good

    governance di Kecamatan Majasari khususnya dalam pemberian pelayanan publik, juga

    dinilai belum optimal. Pihak Kecamatan masih diskriminatif dalam memberikan

    pelayanan permohonan pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Dalam

    hal ini, pelayanan yang diberikan oleh pihak Kecamatan Majasari terkesan pandang bulu.

    LOKET 1

    PENERIMAAN /

    PEMERIKSAAN BERKAS

    PERIZINAN

    LOKET 2 PENERIMAAN

    / PEMERIKSAAN BERKAS NON

    PERIZINAN

    PROSES PEMBUATAN

    BERKAS

    PENANDA-TANGANAN

    BERKAS

    LOKET 3 PENYERAHAN

    BERKAS

    RUANG TUNGGU

    PEMOHON

    PEMOHONPETUGAS

    PIKET ( INFORMASI )

  • Masyarakat yang memiliki kenalan dengan pegawai Kecamatan Majasari atau

    memberikan upah pengerjaan, prosesnya akan di percepat. Menurut Aristoteles, keadilan

    berasal dari kata Adil yangberarti tidak berat sebelah, tidak memihak; memihak pada

    yang benar, berpegang pada kebenaran; sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang.

    Terkait dengan penjelasan dalam Undang Undang 23 Tahun 2014 Tentang

    Pemerintahan Daerah pasal 221 ayat (1) bahwa good governance diperlukan agar

    Kecamatan dapat meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan

    publik, dan pemberdayaan masyarakat Desa/Kelurahan. Menyadari akan pentingnya

    good governance bagi Kecamatan Majasari, peneliti bermaksud melakukan penelitian

    ini guna menganalisa masalah-masalah yang menghambat terlaksananya good

    governance.

    1.2 Identifikasi Masalah

    Identifikasi masalah merupakan proses untuk mengenali asumsi-asumsi berdasarkan

    observasi maupun studi pendahuluan pada fokus penelitian. Maka berdasarkan pra

    penelitian yang dilakukan oleh peneliti, berikut masalah-masalah good governance yang

    teridentifikasi di Kecamatan Majasari:

    1. Pihak Kecamatan Majasari kurang informatif terkait pelayanan-pelayan yang

    disediakan.

    2. Pihak swasta masih ada yang tidak berpartisipasi dalam pelayanan pembuatan izin

    usaha yang disediakan oleh pihak Kecamatan Majasari.

    3. Respon terhadap permohonan masyarakat untuk pembuatan Kartu Keluarga dan

    Kartu Tanda Penduduk dinilai lamban.

  • 4. Pihak Kecamatan masih terbilang diskriminatif dalam pemberian pelayanan

    pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk.

    1.3 Batasan Masalah

    Batasan masalah dalam penelitian ini ditujukan agar penelitian tetap fokus dan tidak

    melebur. Hal ini dikarenakan konsep good governance yang begitu luas. Adapun

    penelitian ini difokuskan pada batasan tematik, yaitu:

    1. Analisa tentang pelaksanan good governance di Kecamatan Majasari difokuskan

    pada pelayanan publik; permohonan pembuatan Kartu Keluarga, permohonan

    pembuatan Kartu Tanda Penduduk, pembuatan surat Izin usaha, dan izin keramaian

    2. Analisa tentang pelaksanaan good governance dalam pelayanan publik di

    Kecamatan Majasari difokuskan pada prinsip-prinsip yang ditetapkan pada misi

    Kecamatan Majasari; transparansi, partisipasi, responsivitas, dan keadilan.

    1.4 Rumusan Masalah

    Berdasarkan uraian latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang menjadi

    fokus kajian dalam penelitian ini adalah Bagaimana pelaksanaan good governance di

    Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang?

    1.5 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah, adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk

    mengetahui pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari Kabupaten

    Pandeglang.

    1.6 Manfaat Penelitian

    Terdapat dua aspek manfaat penelitian yang diharapkan oleh peneliti yaitu:

    a. Aspek Akademis

  • Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat bagi

    pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai pelaksanaan good

    governance yang dapat dijadikan referensi pembelajaran bagi mahasiswa fakultas

    ilmu sosial dan politik.

    b. Aspek Praktis

    Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi bagi pemerintah

    Kecamatan Majasari agar lebih maksimal dalam melaksanakan good governance

    di Kecamatan Majasari.

    1.7 Sistematika Penulisan

    Sistematika penulisan dalam penelitian ini yaitu:

    BAB I PENDAHULUAN

    Pada bab ini terdiri dari :

    a. Latar belakang masalah, menjelaskan mengenai ruang lingkup dan kedudukan

    peramasalahan yang akan menjadi alasan dilakukannya penelitian tersebut.

    b. Identifikasi masalah, menjelaskan mengenai identifikasi masalah yang

    ditemukan oleh peneliti dan dikaitkan dengan topik/judul penelitian.

    c. Batasan Masalah, menjelaskan batasan yang akan dibahas dalam penelitian ini.

    d. Rumusan masalah, menjelaskan mengenai penetapan masalah yang dianggap

    paling penting yang berkaitan dengan fokus penelitian.

    e. Tujuan penelitian, menjelaskan mengenai sasaran yang diinginkan peneliti dalam

    penelitiannya dan harus sejalan dengan rumusan masalah yang ada.

    f. Manfaat penelitian, menjelaskan manfaat teoritis dan praktis dari hasil penelitian.

    g. Sistematika penulisan.

  • BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN ASUMSI

    DASAR

    Terdiri dari :

    a. Deskripsi teori, pada bagian ini peneliti mengkaji berbagai teori dan konsep-

    konsep yang relevan dengan permasalahan penelitian yang kemudian akan

    menjadi pisau analisis untuk mendapatkan jawaban dari penelitian yang

    dilakukan.

    b. Penelitian sebelumnya, berisi ringkasan penelitian yang serupa yang telah

    dilakukan sebelumnya sebagai bahan referensi dan masukan hal-hal yang perlu

    ditambahkan atau dihilangkan.

    c. Kerangka berfikir, pada bagian ini peneliti akan menggambarkan alur pikiran

    peneliti sebagai kelanjutan dari kajian teori untuk memberikan penjelasan kepada

    pembaca.

    d. Asumsi dasar, merupakan penjelasan atau kesimpulan awal dari peneliti.

    BAB III METODE PENELITIAN

    Pada bab ini mencakup :

    a. Desain penelitian, dalam bagian ini peneliti menjelaskan mengenai metode yang

    digunakan dalam penelitian, fokus dan lokus dalam penelitian yang dilakukan,

    dan menjelaskan definsi konsep dan definisi operasional.

    b. Instrumen penelitian, akan menjelaskan mengenai alat yang digunakan sebagai

    pencarian data yang diperlukan dalam penelitian.

    c. Teknik pengumpulan data, menjelaskan cara-cara yang ditempuh atau digunakan

    peneliti dalam mencari informasi mengenai penelitian yang dilakukan.

  • d. Informan penelitian, bagian ini menjelaskan siapa saja yang menjadi sumber

    informasi dalam penelitian.

    BAB IV HASIL PENELITIAN

    a. Deskripsi lokasi penelitian, akan menjelaskan mengenai keadaan lokasi

    penelitian yang kemudian dikaitkan dengan permasalahan.

    b. Deskripsi informan dan data lapangan, menjelaskan mengenai informan sebagai

    sumber informasi dan mendeskripsikan informasi dan data yang didapat dari

    informan.

    c. Pembahasan, menyusun jawaban yang didapat dari informan dan diselaraskan

    dengan teori yang peneliti gunakan.

    BAB V PENUTUP

    a. Kesimpulan, merupakan jawaban dan simpulan dari rumusan masalah yang ada.

    b. Saran, merupakan rekomendasi yang diberikan peneliti dari kesimpulan dalam

    penelitian.

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN

    DAN ASUMSI DASAR PENELITIAN

    2.1 Tinjauan Pustaka

    Deskripsi teori yakni menjabarkan penggunaan berbagai teori dan konsep yang

    relevan dengan permasalahan dan fokus penelitian untuk kemudian disusun dengan

    teratur dan rapi untuk dapat membuat suatu asumsi dasar dalam penelitian. Dengan

    mengkaji berbagai teori dan konsep, maka peneliti memiliki konsep penelitian yang jelas

    sehingga dapat menyusun pertanyaan yang rinci untuk penyelidikan, serta dapat

    menemukan hasil penelitian yang tepat dan akurat. Selain itu, untuk meningkatkan

    kualitas deskripsi teori, pembahasannya perlu dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian

    yang akan dilakukan peneliti. Dengan demikian, maka memungkinkan hasil penelitian

    tentang Pelaksanaan Good Governance di Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang

    menjadi lebih optimal. Penelitian yang dilakukan peneliti sangat erat hubungannya

    dengan teori-teori yang digunakan para ahli ilmu administrasi negara, ilmu

    pemerintahan, ilmu sosial dan ilmu-ilmu lainnya.

    Safiani (2012) menyatakan bahwa dalam administrasi publik, teori didefinisikan

    sebagai rangkaian ide mengenai bagaimana dua variabel atau lebih berhubungan. Teori

    menurut F.M Kerlinger (dalam Rakhmat, 2004 : 6) merupakan himpunan konstruk

    (konsep), definisi, dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang

    gejala dengan menjabarkan relasi di

  • antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. Jadi,

    berdasarkan pengertian-pengertian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa teori

    merupakan seperangkat proposisi yang menggambarkan bagaimana suatu gejala

    terjadi.

    Frayogi (2015: 44) menjelaskan bahwa terdapat beberapa kelompok teori

    dalam administrasi negara, antara lain, teori deskriptif eksplanatif, teori normatif,

    teori asumtif, dan teori instrumental. Teori deskriptif eksplanatif merupakan teori

    yang bersifat memberi penjelasan secara abstrak realitas administrasi negara,

    misalnya teori yang menjelaskan tentang ketidakmampuan administratif.

    Selanjutnya, teori normatif merupakan teori yang bertujuan menjelaskan situasi

    masa mendatang, idealnya dari suatu kondisi, misalnya teori tentang kepemimpinan

    ideal masa depan. Selanjutnya, teori asumtif yaitu terori-teori yang menekankan

    pada prakondisi, anggapan adanya suatu realitas sosial dibalik teori atau proposisi,

    misalnya teori x dan y dari McGregor yang menyatakan manusia mempunyai

    kemampuan baik (y) dan kurang baik (x). Selanjutnya, teori instrumental, yaitu

    teori-teori yang memfokuskan pada bagaimana dan kapan, lebih pada penerapan

    atau aplikasi dari teori, misalnya teori tentang kebijakan, bagaimana kebijakan

    dijalankan dan kapan waktunya.

    2.1.1 Konsep Good Governance

    Konsep dari pemerintahan (governance) pada dasarnya merujuk kepada

    suatu proses interaksi sosial-politik antara pemerintah dengan masyarakat dan

    proses berfungsinya pemerintahan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat

    sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakat di berbagai bidang, baik ekonomi,

  • sosial, politik, dan sebagainya (Frayogi, 2015: 44). Dengan demikian terdapat tiga

    stakeholders kepemerintahan yaitu pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat, yang

    senantiasa berinteraksi untuk kemajuan ekonomi, sosial dan politik suatu negara.

    Dalam hal ini, negara menciptakan lingkungan politik dan hukum yang kondusif,

    sektor swasta menciptakan pekerjaan dan pendapatan, serta kelompok masyarakat

    turut berpartisipasi dalam aktivitas ekonomi, sosial, dan politik tersebut.

    Terdapat beberapa perbedaan antara konsep government dan

    governance. Istilah pemerintah atau government berarti pengarahan dan

    administrasi yang berwenang atas kegiatan orang-orang dalam sebuah negara,

    negara bagian kota dan sebagainya. Selain itu government juga dapat diartikan

    sebagai lembaga atau badan yang menyelenggarakan pemerintahan negara, negara

    bagian kota dan sebagainya. Sedangkan istilah kepemerintahan atau governance

    merupakan tindakan, fakta, pola, dan kegiatan atau penyelenggaraan pemerintahan.

    Istilah governance tidak hanya berarti kepemerintahan sebagai suatu kegiatan,

    tetapi juga mengandung arti pengurusan, pengelolaan, pengarahan, pembinaan

    penyelenggaraan dan bisa juga diartikan pemerintahan (Sedarmayanti, 2012: 2-3).

    Dari pengertian tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa governance dapat

    dimaknai sebagai suatu cara bagaimana kekuasaan negara digunakan untuk

    mengelola sumberdaya-sumberdaya ekonomi dan sosial guna pembangunan

    masyarakat. Cara di sini lebih menunjukkan pada hal-hal yang bersifat teknis.

    Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan oleh ahli di atas, kita dapat

    melihat perbedaan-perbedaan yang terdapat antara istilah government dan

    governance. Perbedaan-perbedaan ini dapat memudahkan kita untuk

  • memisahkan penggunaan konsep government dan governance dalam

    kehidupan bernegara. Perbedaan-perbedaan istilah tersebut disajikan pada tabel di

    bawah ini yang didasarkan pada penjelasan yang telah dikemukakan di atas:

    Tabel 2.1

    Perbedaan antara Government dan Governance

    No

    Unsur

    Perbandingan

    Government

    Governance

    1.

    Pengertian

    Dapat berarti badan atau

    lembaga atau fungsi yang

    dijalankan oleh suatu

    organ tertinggi dalam

    suatu Negara.

    Dapat diartikan cara,

    penggunaan atau

    pelaksanaan

    2.

    Sifat Hubungan

    Hierarki, dalam arti

    memerintah berada di

    atas, sedangkan warga

    Negara yang diperintah

    ada di bawah

    Hitarakis, dalam arti

    ada kesetaraan

    kedudukan dan hanya

    berbeda dalam fungsi.

    3.

    Komponen

    Hubungan

    Sebagai subyek hanya ada

    satu yaitu institusi

    pemerintah

    Ada tiga komponen

    yaitu: sektor publik,

    sektor swasta dan

    masyarakat.

    4. Pemegang Peran

    Dominan

    Sektor pemerintah Semua memegang

    peran sesuai dengan

    fungsinya masing-

    masing.

    5. Efek yang

    Diharapkan

    Kepatuhan warga Negara Partisipasi serta

    kontribusi dari sektor

    publik, sektor swasta

    dan masyarakat.

    6. Hasil Akhir yang

    Diharapkan

    Pencapaian tujuan Negara

    melalui kepatuhan warga

    Negara

    Pencapaian tujuan

    Negara dan tujuan

    masyarakat melalui

    partisipasi sebagai

    warga Negara maupun

    sebagai warga

    masyarakat.

    (Sumber: Wasistiono (2002: 31-32), 2014)

    United Nations Development Program (UNDP) (dalam Sedarmayanti, 2012: 3)

    mendefinisikan kepemerintahan (governance) sebagai berikut:

  • Kepemerintahan adalah pelaksanaan kewenangan atau kekuasaan di bidang

    ekonomi, politik, dan administratif untuk mengelola berbagai urusan negara

    pada setiap tingkatannya dan merupakan instrumen kebijakan negara untuk

    mendorong terciptanya kondisi kesejahteraan integritas, dan kohesivitas sosial

    dalam masyarakat.

    Berdasarkan Dokumen Kebijakan UNDP dalam Tata Pemerintahan

    Menunjang Pembangunan Manusia Berkelanjutan, Januari 1997, yang dikutip dari

    buletin informasi Program Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di

    Indonesia (Partnership for Governance Reform in Indonesia), 2000, disebutkan:

    Tata pemerintahan adalah penggunaan wewenang ekonomi, politik dan

    administrasi guna mengelola urusan-urusan negara pada semua tingkat. Tata

    pemerintahan mencakup seluruh mekanisme, proses dan lembaga-lembaga

    di mana warga dan kelompok-kelompok masyarakat mengutarakan

    kepentingan mereka menggunakan hak hukum.

    UNDP merekomendasikan beberapa karakteristik governance yaitu: legitimasi

    politik, kerjasama dengan institusi masyarakat sipil, kebebasan berasosiasi

    dan partisipasi, akuntabilitas birokratis dan keuangan (finansial), manajemen

    sektor publik yang efisien, kebebasan informasi dan ekspresi, sistem yudisial yang

    adil dan dapat dipercaya. Tetapi UNDP kurang menekankan pada asumsi mengenai

    superioritas majemuk, multi-partai, sistem orientasi pemilihan umum, dan

    pemahaman bahwa perbedaan bentuk kewenangan politik dapat dikombinasikan

    dengan prinsip efisiensi dan akuntabilitas dengan cara-cara yang berbeda. Hal-hal

    tersebut juga berkaitan terhadap argumentasi mengenai nilai-nilai kebudayaan yang

    relatif; sistem penyelenggaraan pemerintahan yang mungkin bervariasi mengenai

    respon terhadap perbedaan kumpulan nilai-nilai ekonomi, politik, dan hubungan

    sosial, atau dalam hal-hal seperti: partisipasi, individualitas, perintah dan

    kewenangan. UNDP menganggap bahwa good governance dapat diukur dan

  • dibangun dari indikator-indikator yang komplek dan masing-masing menunjukkan

    tujuannya.

    Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa good governance awalnya digunakan

    dalam dunia usaha (corporate) dan adanya desakan untuk menyusun sebuah konsep

    dalam menciptakan pengendalian yang melekat pada korporasi dan manajemen

    professionalnya maka diterapkan good corporate governance. Sehingga dikenal

    prinsip- prinsip utama dalam governance korporat yaitu: transparansi, akuntabilitas,

    fairness, responsibilitas dan responsivitas. (Nugroho, 2004: 216).

    Good governance menurut Andrianto (2007:24), secara sederhana diartikan

    sebagai pengelolaan yang baik. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kata baik

    di sini adalah mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar

    good governance. Sebagian kalangan mengartikan good governance sebagai

    penerjemah konkret demokrasi dengan meniscayakan adanya civic culture sebagai

    penopang sustainabilitas demokrasi tersebut.

    Berdasarkan pemaparan dari beberapa ahli di atas, maka dapat diketahui

    konsep dari tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) itu sendiri. Good

    governance dapat diartikan sebagai suatu konsep tata kelola pemerintah yang baik

    dan bersih dari segala praktek-praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)

    sesuai dengan prinsip-prinsip dasar good governance untuk terciptanya

    kesejahteraan integritas dan kohevisitas sosial dalam masyarakat.

    Frayogi (2015: 48) menjelaskan bahwa good governance sendiri hanya

    bermakna bila keberadaannya ditopang oleh lembaga yang melibatkan kepentingan

    publik. Dengan demikian, pada dasarnya unsur-unsur dalam kepemerintahan

  • (governance) mencakup pilar-pilar yang membangun dan bersifat saling berkaitan

    satu sama lain. Pilar-pilar dalam good governance tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Negara atau pemerintahan (The State):

    Konsepsi kepemerintahan pada dasarnya adalah kegiatan kenegaraan,

    dengan melibatkan sektor swasta dan masyarakat. Negara dalam konsep

    good governance berperan sebagai:

    a. Menciptakan kondisi politik, ekonomi, dan sosial yang stabil

    b. Membuat peraturan yang efektif dan berkeadilan

    c. Menyediakan public service yang efektif dan accountable

    d. Menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM)

    e. Melindungi lingkungan hidup

    f. Mengurus standar kesehatan dan standar keselamatan publik

    2. Sektor Swasta (Private Sector)

    Pelaku sektor swasta mencakup perusahaan swasta yang aktif dalam

    interaksi dalam sistem pasar, seperti: industri pengolahan perdagangan,

    perbankan, dan koperasi, termasuk kegiatan sektor informal. Adapun dalam

    konsep good governance, sektor swasta memiliki peran tersendiri yaitu

    sebagai berikut:

    a. Menjalankan Industri

    b. Menciptakan Lapangan Kerja

    c. Menyediakan Insentif Bagi Karyawan

    d. Meningkatkan Standar Hidup Masyarakat

    e. Memelihara Lingkungan Hidup

  • f. Menaati Peraturan

    g. Transfer Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kepada Masyarakat

    h. Menyediakan Kredit Bagi Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah

    3. Masyarakat Madani (Civil Society)

    Kelompok masyarakat dalam konteks kenegaraan pada dasarnya berada

    diantara atau di tengah-tengah antara pemerintah dan perseorangan, yang

    mencakup baik perseorangan maupun kelompok masyarakat yang

    berinteraksi secara sosial, politik, dan ekonomi. Adapun dalam konsep good

    governance, masyarakat memiliki peran, diantaranya:

    a. Menjaga Hak

    b. Memengaruhi Kebijakan Publik

    c. Sebagai Sarana

    d. Mengawasi Penyalahgunaan Kewenangan Sosial Pemerintah

    e. Mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM)

    f. Sarana Berkomunikasi antar Masyarakat

    (Andriano, 2007: 26-27 )

  • Gambar 2.1

    Interaksi antar Pelaku dalam Kerangka Kepemerintahan

    (Sumber:Sedarmayanti, 2012:38)

    Gambar di atas menggambarkan adanya interaksi antara pelaku pilar-pilar good

    governance dalam konsep kepemerintahan, yaitu Negara atau pemerintah, sektor

    swasta dan masyarakat yang mana adanya keterkaitan hubungan dan saling

    menguatkan satu sama lain. Keberhasilan penyelanggaraan good governance sangat

    ditentukan oleh keterlibatan dan sinergi dari ketiga pilar tersebut.Negara dalam hal

    ini tidak lagi menjalankan peran yang dominan dalam pemerintahan, namun peran

    serta sektor swasta dan masyarakat menjadi sangat penting berkesinambungan. Hal

    ini ditujukan dalam rangka menciptakan suatu tata kelola pemerintahan yang baik

    (good governance).

    2.1.2. Prinsip-Prinsip Good Governance

    Prinsip dasar yang melandasi perbedaan antara konsepsi kepemerintahan

    (governance) dengan pola pemerintahan yang tradisional, adalah terletak pada

    adanya tuntutan yang demikian kuat agar peranan pemerintah dikurangi dan

    peranan masyarakat (termasuk dunia usaha dan Lembaga Swadaya Masyarakat

    (LSM) atau organisasi non pemerintah) semakin ditingkatkan dan semakin terbuka

  • aksesnya. Gambir Bhatta (dalam Sedarmayanti 2012:5), mengungkapkan bahwa

    unsur utama good governance, yaitu akuntabilitas (accountability), transparansi

    (transparency), keterbukaan (openness), dan aturan hukum (rule of law) ditambah

    dengan kompetensi manajemen (management competence) dan hak-hak asasi

    manusia (human right). Prinsip-prinsip good governance juga dikemukakan oleh

    United Nations Development Program (UNDP) (dalam Andrianto 2007: 24-26)

    yang dapat dijadikan tolak ukur kinerja suatu pemerintahan. Karakteristik dan

    prinsip-prinsip harus dianut dan dikembangkan dalam praktek penyelenggaraan

    kepemerintahan yang baik (good governance), meliputi:

    1. Partisipasi Masyarakat (Participation)

    Sebagai pemilik kedaulatan, setiap warga negara mempunyai hak dan

    kewajiban untuk mengambil bagian dalam proses bernegara,

    berpemerintahan serta bermasyarakat. Partisipasi tersebut dapat dilakukan

    secara langsung maupun melalui institusi intermediasi, seperti Dewan

    Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Lembaga Swadaya Masyarakat

    (LSM), dan lain sebagainya. Partisipasi yang diberikan dapat berbentuk

    buah pikiran, dana, tenaga maupun bentuk-bentuk lainnya yang bermanfaat.

    Partisipasi warga negara dilakukan tidak hanya pada tahapan implementasi,

    tetapi secara menyeluruh mulai dari tahapan penyusunan kebijakan,

    pelaksanaan, evaluasi serta pemanfaatan hasil- hasilnya. Syarat utama

    warga negara disebut berpartisipasi dalam kegiatan berbangsa, bernegara

    dan berpemerintahan, yaitu: (i) Ada rasa kesukarelaan (tanpa paksaan); (ii)

  • Ada keterlibatan secara emosional; (iii) Memperoleh manfaat secara

    langsung maupun tidak langsung dari keterlibatannya.

    2. Tegaknya Supermasi Hukum (Rule of Law)

    Good governance dilaksanakan dalam rangka demokratisasi kehidupan

    berbangsa dan bernegara. Salah satu syarat kehidupan demokrasi adalah

    adanya penegakan hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.

    Tanpa penegakkan hukum, orang secara bebas berupaya mencapai

    tujuannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain, termasuk

    menghalalkan segala cara. Oleh karena itu, langkah awal penciptaan good

    governance adalah membangun sistem hukum yang sehat, baik perangkat

    lunaknya, perangkat kerasnya maupun sumber daya manusia yang

    menjalankan sistemnya.

    3. Transparansi (Transparency)

    Salah satu karakteristik good governance adalah keterbukaan. Karakteristik

    ini sesuai dengan semangat zaman yang serba terbuka akibat adanya

    revolusi informasi. Keterbukaan tersebut mencakup semua aspek aktivitas

    yang menyangkut kepentingan publik mulai dari proses pengambilan

    keputusan, penggunaan dana-dana publik sampai pada tahapan evaluasi.

    4. Daya Tanggap (Responsiveness)

    Sebagai konsekuensi dari keterbukaan, maka setiap komponen yang terlibat

    dalam proses pembangunan good governance perlu memiliki daya tanggap

    terhadap keinginan maupun keluhan para pemegang saham (stakeholder).

    Upaya peningkatan daya tanggap tersebut terutama ditujukam pada sektor

  • publik yang selama ini cenderung tertutup, arogan serta berorientasi pada

    kekuasaan. Untuk mengetahui kepuasan masyarakat terhadap pelayanan

    yang berikan oleh sektor publik, secara periodik perlu diperlukan survei

    untuk mengetahui tingkat kepuasan masyarakat.

    5. Berorientasi pada Konsensus (Consensus Orientation)

    Kegiatan bernegara, berpemerintahan dan bermasyarakat pada dasarnya

    adalah aktivitas politik, yang berisi dua hal utama yaitu konflik dan

    konsensus. Di dalam good governance, pengambilan keputusan maupun

    pemecahan masalah bersama lebih diutamakan berdasarkan konsensus yang

    dilanjutkan dengan kesediaan untuk konsisten melaksanakan konsensus

    yang telah diputuskan bersama. Konsensus bagi bangsa Indonesia

    sebenarnya bukanlah hal baru, karena nilai dasar kita dalam memecahkan

    masalah persoalan bangsa adalah melalui musyawarah untuk mufakat.

    6. Keadilan (Equity)

    Melalui prinsip good governance, setiap warga negara memiliki kesempatan

    yang sama untuk memperoleh kesejahteraan. Akan tetapi, karena

    kemampuan masing-masing warga negara yang berbeda-beda, maka sektor

    publik perlu memainkan peranan agar kesejahteraan dan keadilan dapat

    berjalan sesuai dengan seiring sejalan.

    7. Efektivitas dan Efesiensi (Effectiveness and Efficiency)

    Agar mampu berkompetisi secara sehat dalam percaturan dunia, kegiatan

    ketiga domain dalam governance perlu mengutamakan efektivitas dan

  • efesiensi dalam setiap kegiatan. Tekanan perlunya efektivitas dan efesiensi

    terutama ditujukan pada sektor publik karena sektor publik ini menjalankan

    aktivitasnya secara monopolistic. Tanpa adanya kompetisi tidak akan

    tercapai efektivitas dan efesiensi itu sendiri.

    8. Akuntabilitas (Accountability)

    Setiap aktivitas yang berkaitan dengan kepentingan publik perlu

    dipertanggungjawabkan kepada publik. Tanggung gugat dan tanggung

    jawab tidak hanya sekedar diberikan atasan saja melainkan juga pada para

    pemegang saham (stakeholder), yakni masyarakat luas. Dan akuntabilitas

    sendiri dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu akuntabilitas

    organisasional atau administratif, akuntabilitas legal, akuntabilitas politik,

    akuntabilitas profesional, dan akuntabilitas moral.

    9. Visi Strategis (Strategic Vision)

    Para pemimpin dan masyarakat memiliki prespektif yang luas dan jauh ke

    depan atas tata pemerintahan yang baik dan pembangunan manusia, serta

    kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan

    tersebut. Selain itu, mereka juga harus memiliki pemahaman atas

    kompleksitas kesejarahan, budaya dan sosial yang menjadi dasar bagi

    prespektif tersebut. Dalam era yang berubah secara dinamis seperti sekarang

    ini, setiap domain dalam good governance perlu memiliki visi yang

    strategis. Tanpa adanya visi semacam itu, maka dapat dipastikan bahwa

    suatu bangsa dan negara akan mengalami ketertinggalan. Visi itu sendiri

    dapat dibedakan antara visi jangka panjang (long-term vision) antara dua

  • puluh sampai dua puluh lima tahun (satu generasi) serta visi jangka pendek

    (short-term vision) sekitar lima tahun (Wasistiono, 2002: 32-35)

    Berdasarkan Bagian Kedua mengenai Asas Penyelenggaraan Pemerintahan

    pasal 58 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

    Daerah, setidaknya terdapat sembilan asas yang harus dipenuhi dalam

    penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Pada pelaksanaanya sembilan

    asas inilah yang dijadikan sebagai dasar dalam penyelenggaraan

    pemerintahan yang baik (good governance).

    2.1.3.Pengertian Pemerintahan

    Dikatakan oleh Koswara (2001 : 29) bahwa yang dimaksud

    pemerintahan adalah:(1) dalam arti luas meliputi seluruh kegiatan pemerintah,

    baik menyangkut bidang legislatif, eksekutif maupun yudikatif, (2) dalam arti

    sempit meliputi kegiatan pemerintah yang hanya menyangkut bidang

    eksekutif. Selanjutnya, Koswara (2001 : 5) menjelaskan bahwa ilmu

    pemerintahan adalah ilmu pengetahuan yang secara mandiri

    menyelenggarakan studi tentang cara-cara bagaimana pemerintahan negara

    disusun dan difungsikan, baik secara internal maupun eksternal dalam upaya

    mencapai tujuan negara.Ilmu pemerintahan merupakan ilmu terapan karena

    mengutamakan segi penggunaan dalam praktek, yaitu dalam hal hubungan

    antara yang memerintah (penguasa) dengan yang diperintah (rakyat).

    Obyek material ilmu pemerintahan secara kebetulan sama dengan objek

    material ilmu politik, ilmu administrasi negara, ilmu hukum tata negara dan

    ilmu negara itu sendiri, yaitu negara. Objek forma ilmu pemerintahan bersifat

  • khusus dan khas, yaitu hubungan-hubungan pemerintahan dengan sub-subnya

    (baik hubungan antara Pusat dengan Daerah, hubungan antara yang diperintah

    dengan yang memerintah, hubungan antar lembaga serta hubungan antar

    departemen), termasuk didalamnya pembahasan output pemerintahan seperti

    fungsi-fungsi, sistem-sistem, aktivitas dan kegiatan, gejala dan perbuatan serta

    peristiwa-peristiwa pemerintahan dari elit pemerintahan yang berkuasa.

    Asas adalah dasar, pedoman atau sesuatu yang dianggap kebenaran,

    yang menjadi tujuan berpikir dan prinsip-prinsip yang menjadi pegangan. Ada

    beberapa asas pemerintahan, antara lain : asas aktif, asas mengisi yang

    kosong atau Vrij Bestuur, asas membimbing, asas Freies Ermessen, asas

    dengan sendirinya, asas historis, asas etis, dan asas de tournament de

    pouvoir.

    Menurut Taliziduhu Ndraha, pemerintahan dapat digolongkan menjadi

    2 golongan besar yaitu pemerintahan konsentratif dan dekonsentratif.

    Pemerintahan dekonsentratif terbagi atas pemerintahan dalam negeri dan

    pemerintahan luar negeri. Pemerintahan dalam negeri terbagi atas

    pemerintahan sentral dan desentral. Pemerintahan sentral dapat diperinci atas

    pemerintahan umum dan bukan pemerintahan umum.Yang termasuk ke dalam

    pemerintahan umum adalah pertahanan keamanan, peradilan, luar negeri dan

    moneter.

    Ermaya (1998: 6-7) membedakan secara tajam antara pemerintah dan

    pemerintahan. Pemerintah adalah lembaga atau badan-badan politik yang

    mempunyai fungsi melakukan upaya untuk mencapai tujuan

  • negara.Pemerintahan adalah semua kegiatan lembaga atau badan-badan publik

    tersebut dalam menjalankan fungsinya untuk mencapai tujuan negara.Dari

    pengertian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemerintah pada

    hakekatnya adalah aspek statis, sedangkan pemerintahan adalah aspek

    dinamikanya.

    Selanjutnya, Ermaya (1998: 6-7) menyebutkan, bahwa suatu pengertian

    tentang pemerintahan, dapat dibedakan dalam pengertian luas dan dalam

    pengertian sempit. Pemerintahan dalam arti luas adalah segala kegiatan

    badan-badan publik. Yang meliputi kekuasaan legislatif, eksekutif dan

    yudikatif dalam usaha mencapai tujuan Negara. Dalam arti sempit, adalah

    segala kegiatan badan-badan publik yang meliputi kekuasaan eksekutif.

    Karakteristik pemerintahan yang orientasinya kepada Anglo Saxon

    menurut Koswara (2003: 3) lebih memperhatikan kemandirian masyarakat

    regional dan lokal, antara lain:

    1) Partisipasi masyarakat yang luas dalam kegiatan pemerintahan

    2) Tanggung jawab sistem administrasi kepada badan legislatif

    3) Tanggung jawab pegawai peradilan biasa

    4) Sifatnya lebih desentralistik

    Menurut Koswara (2003: 3), karakteristik pemerintahan yang

    orientasinya kepada sistem kontinental, antara lain:

    1) Pemusatan kekuasaan ditangan eksekutif

    2) Terdapat dominasi otorisasi nasional

    3) Profesionalisme aparat pemerintah

  • 4) Memisahkan secara psikologis dari rakyat biasa dan tanggungjawab

    pemerintah kepada Peradilan Administratif

    5) Kecenderungan sentralistik

    C.F Strong dalam Koswara (2003: 247) memberikan makna

    pemerintahan sebagai berikut: Pemerintahan menunjukkan bahwa pemerintah

    mempunyai kewenangan yang dapat digunakan untuk memelihara kedamaian

    dan keamanan Negara baik kedalam maupun keluar. Untuk melaksanakan

    kewenangan itu, pemerintah harus mempunyai kekuatan tertentu, antara lain

    kekuatan di bidang militer atau kemampuan untuk mengendalikan angkatan

    perang, kekuatan legislatif, atau pembuatan undang-undang serta kekuatan

    finansial atau kemampuan mencukupi keuangan masyarakat dalam rangka

    membiayai keberadaan negara bagi penyelenggaran peraturan. Semua

    kekuatan tersebut harus dilakukan dalam rangka penyelenggaraan kepentingan

    negara. Sementara itu, Finer dalam Pamudji (1993: 24-25) mengemukakan

    bahwa istilah government paling sedikit mempunyai 4 (empat) arti yaitu:

    1. Menunjukan kegiatan atau proses pemerintah, yaitu melaksanakan

    kontrol atas pihak lain (the activity or the process of governing).

    2. Menunjukan masalah-masalah (hal ikhwal) negara dalam mana kegiatan

    atau proses di atas dijumpai (states of affairs).

    3. Menunjukan orang-orang (pejabat-pejabat) yang dibebani tugas-tugas

    untuk memerintah (people charge width the duty of governing).

  • 4. Menunjukan cara, metode atau sistem dengan mana suatu masyarakat

    tertentu diperintah (the manner, method or system by which a particular

    society is governed).

    Pemerintahan dalam konteks penyelenggaraan negara menunjukkan

    adanya badan pemerintahan (institutional), kewenangan pemerintah

    (authority), cara memerintah (technique to govern), wilayah pemerintahan

    (state, local, rural and urban) dan sistem pemerintahan (government system)

    dalam menjalankan fungsi pemerintahannya.

    Bayu Suryaningrat dalam Supriatna (2007 : 2) bahwa unsur yang

    menjadi ciri khas atau karakteristik mendasar pemerintah menunjukkan :

    1. Adanya keharusan, menunjukkan kewajiban apa yang diperintahkan.

    2. Adanya dua pihak, yaitu yang member perintah dan yang menerima

    perintah.

    3. Adanya hubungan fungsional antar yang memberi dan menerima perintah.

    4. Adanya wewenang atau kekuasaan untuk memberi perintah.

    Sedangkan Rasyid dalam Supriatna (2007: 2) mengatakan bahwa

    pemerintahan mengandung makna mengatur (UU), mengurus (mengelola) dan

    memerintah (memimpin) dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan bagi

    kepentingan rakyat.

    Pemerintahan mengandung unsur yang secara filosofis berkaitan erat

    dengan : Badan pemerintahan (pemerintah) yang sah secara kontitusional;

    Kewenangan untuk melaksanakan pemerintahan ; cara dan sistem pemerintahan

    ; Fungsi sesuai dengan kekuasaan pemerintahan, dan Wilayah pemerintahan.

  • 2.1.4. Pengertian Aparatur Sipil Negara (ASN)

    Romdon (2016) mendefinisikan ASN (Aparatur Sipil Negara) sebagai

    profesi bagi Pegawai Negeri Sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian

    kerja yang bekerja pada instansi pemerintah. Pegawai ASN terdiri dari Pegawai

    Negeri Sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang diangkat

    oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan

    pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan

    peraturan perundang-undangan. ASN terbagi ke dalam beberapa jabatan, di

    antaranya: jabatan administrasi, jabatan fungsional, dan jabatan pimpinan

    tinggi. Jabatan administrasi adalah sekelompok jabatan yang berisifungsi dan

    tugas berkaitan dengan pelayanan publik serta administrasi pemerintahan dan

    pembangunan.Setiap jabatan administrasi ditetapkan sesuai dengan kompetensi

    yang dibutuhkan. Jabatan administrasi terdiri atas:

    1. Jabatan Administrator:

    Bertanggung jawab memimpin pelaksanaan seluruh kegiatan pelayanan

    publik serta administrasi pemerintahan dan pembangunan;

    2. Jabatan Pengawas :

    Bertanggung jawab mengendalikan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan

    oleh pejabat pelaksana, dan;

    3. Jabatan Pelaksana:

    Bertanggung jawab melaksanakan kegiatan pelayanan publik serta

    administrasi pemerintahan dan pembangunan.

    https://id.wikipedia.org/wiki/Profesihttps://id.wikipedia.org/wiki/Pegawai_Negeri_Sipilhttps://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pegawai_pemerintah_dengan_perjanjian_kerja&action=edit&redlink=1https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pejabat_pembina_kepegawaian&action=edit&redlink=1
  • Sedangkan, jabatan fungsional adalah sekelompok jabatan yang berisi

    fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada

    keahlian dan keterampilan tertentu. Jabatan fungsional dalam ASN terdiri atas:

    1. Jabatan fungsional Keahlian:

    Terdiri dari 4 (empat) tingkatan yakni ahli utama, ahli madya, ahli muda,

    dan ahli pertama.

    2. Jabatan fungsional Keterampilan:

    Terdiri dari 4 (empat) tingkatan yakni penyelia, mahir, terampil, dan

    pemula.

    Dan, jabatan pimpinan tinggi adalah sekelompok jabatan tinggi pada

    instansi pemerintah. Jabatan pimpinan tinggi terdiri atas:

    1. Jabatan Pimpinan Tinggi Utama

    2. Jabatan Pimpinan Tinggi Madya

    3. Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama

    Sebagai pegawai yang bekerja di instansi pemerintahan, ASN

    mempunyai hak dan kewajiban.ASN berhak memperoleh:

    1. Gaji, Tunjangan dan Fasilitas

    2. Cuti

    3. Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua

    4. Perlindungan

    5. Pengembangan Kompetensi

    6. Gaji, Tunjangan dan Fasilitas

    7. Cuti

  • 8. Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua

    9. Perlindungan

    10. Pengembangan Kompetensi

    Sedangkan PPPK berhak memperoleh:

    1. Gaji dan Tunjangan;

    2. Cuti;

    3. Perlindungan;

    4. Pengembangan kompetensi.

    Di bawah ini adalah beberapa kewajiban yang harus dilaksanakan oleh

    ASN:

    1. Setia dan taat kepada Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, dan pemerintah

    yang sah

    2. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa

    3. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang

    berwenang

    4. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan

    5. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,

    kesadaran, dan tanggung jawab

    6. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan

    tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan

    7. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia

    jabatan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

  • 8. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah NKRI

    Untuk sistem kelembagaan, Presiden selaku pemegang kekuasaan

    pemerintahan tertinggi dalam kebijakan, pembinaan profesi, dan Manajemen

    Aparatur Sipil Negara (ASN). Untuk menyelenggaraan kekuasaan dimaksud,

    Presiden mendelegasikan kepada:

    1. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi

    Birokrasi (PAN-RB) berkaitan dengan kewenangan perumusan dan

    penetapan kebijakan, koordinasi dan sinkronisasi kebijakan, serta

    pengawasan atas pelaksanaan kebijakan ASN

    2. Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) berkaitan dengan kewenangan

    monitoring dan evaluasi pelaksanaan kebijakan dan Manajemen ASN

    untuk menjamin perwujudan Sistem Merit serta pengawasan terhadap

    pelaksanaan asas kode etik dan kode perilaku ASN

    3. Lembaga Administrasi Negara (LAN) berkaitan dengan kewenangan

    penelitian, pengkajian kebijakan Manajemen ASN, pembinaan, dan

    penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan ASN

    4. Badan Kepegawaian Negara (BKN) berkaitan dengan kewenangan

    penyelenggaraan Manajemen ASN, pengawasan dan pengendalian

    pelaksanaan norma, standar, prosedur, dan kriteria Manajemen ASN.

    2.1.5. Konsep Pelayanan

    Definisi kualitas pelayanan terpusat pada pemenuhan kebutuhan dan

    keinginan konsumen. Menurut Wyckof yang di kutif Arif (2007:118), kualitas

    jasa adalah tingkat keunggulan yang di harapkan dan pengendalian atas tingkat

    https://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Pendayagunaan_Aparatur_Negara_dan_Reformasi_Birokrasi_Indonesiahttps://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Pendayagunaan_Aparatur_Negara_dan_Reformasi_Birokrasi_Indonesiahttps://id.wikipedia.org/wiki/Komisi_Aparatur_Sipil_Negarahttps://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Administrasi_Negarahttps://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Kepegawaian_Negara
  • keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan.Dengan kata lain

    Parasuraman (1985) yang di kutif Arif (2007:118) mengatakan ada dua faktor

    utama yang mempengaruhi kualitas jasa/pelayanan yaitu expected service dan

    perceived service apabila jasa yang diterima sesuai dengan yang di harapkan

    maka kualitas jasa dipersepsikan baik atau memuaskan. Jika jasa yang diterima

    melampaui harapan pelanggan maka kualitas dipersepsikan ideal.

    Sementara itu menurut Gronroos yang di kutif Arif (2007:118-119).

    Menyatakan bahwa kualitas total suatu jasa terdiri atas tiga komponen utama,

    yaitu :

    1. Tehnical Quality

    Komponen yang berkaitan dengan kualitas output (keluaran) jasa yang

    diterima pelanggan. Menurut Parasuraman, et al., tehnical quality dapat

    diperinci lagi sebagai berikut:

    a. Search quality, yaitu kualitas yang dapat dievaluasi pelanggan sebelum

    membeli, misalnya harga.

    b. Experience quality, yaitu kualitas yang hanya dievaluasi pelanggan

    setelah membeli atau mengkonsumsi jasa. Contohnya, ketepatan waktu,

    kecepatan pelayanan, dan kerapihan hasil.

    c. Credence quality, yaitu kualitas yang sukar dievaluasi pelanggan

    meskipun telah mengkonsumsi suatu jasa. Misalnya, kualitas operasi

    jantung.

    2. Functional Quality

    Komponen yang berkaitan dengan kualitas cara penyampaian suatu jasa.

  • 3. Corporate Image

    Profil, reputasi, citra umum dan daya tarik khusus suatu perusahaan.

    Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa apabila jasa yang

    diterima oleh pelanggan sesuai dengan yang di harapkan, maka kualitas

    pelayanan akan dipersepsikan baik. Dan sebaliknya, jika pelayanan yang

    dirasakan lebih rendah dari yang diharapkan konsumen, maka kualitas

    dipersepsikan sangat jelek atau tidak baik, sehingga konsumen merasa bahwa

    kebutuhan dan keinginannya belum terpenuhi atau belum memuaskan.

    Menurut Parasuraman yang dikutip Fandy Tjiptono (2002: 70)

    mengemukakan lima dimensi pokok pelayanan, di antaranya:

    1. Bukti langsung (Tangibles), meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,

    pegawai, dan sarana komunikasi.

    2. Kehandalan (Reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan yang

    dijanjikan dengan segera, akurat, dam memuaskan.

    3. Daya tanggap (Responsiveness), yaitu keyakinan para staf untuk

    membantu para pelanggan dan memberikan layanan dengan tanggap.

    4. Jaminan (Assurance), mencangkup pengetahuaan, kemampuan,

    kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf ; bebas dari

    bahaya, resiko atau keragu-raguaan.

    5. Empati (Emphaty), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan,

    komunikasi yang baik, perhatian pribadi, dan memahami kebutuhan para

    pelanggannya.

  • 2.2. Penelitian Terdahulu

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 2 penelitian serupa yang

    telah dilakukan sebelumnya sebagai referensi. Penelitian pertama dilakukan

    oleh Wiro Oktavius Ginting (120903133), FISIP, Universitas Sumatera Utara,

    2016 dengan judul Pengaruh Pelaksanaan Prinsip-Prinsip Good

    governance Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai (Studi Pada Kantor

    Bupati Dairi Provinsi Sumatera Utara) yang berisikan sebagai berikut :

    Good governance merupakan proses penyelenggaraan kekuasaan

    negara dalam melaksanakan penyediaan public good and service disebut

    governance (pemerintahan/kepemerintahan) sedangkan praktek terbaiknya

    adalah good governance (kepemerintahan yang baik). Good governance

    yang diterapkan di dalam suatu instansi pada akhirnya akan mempengaruhi

    kepuasan kerja. Untuk itu good governance yang diterapkan oleh organisasi

    merupakan faktor yang amat penting dan perlu diterapkan dengan baik dan

    benar sehingga kepuasan kerja pegawai dalam menjalankan tugasnya terhadap

    organisasi dapat semakin tumbuh. Pelaksanaan good governance oleh

    organisasi Pemerintah Daerah akan optimal pencapaiannya apabila setiap

    organisasi/instansi memperhatikan kepuasan pegawainya dalam upaya

    menerapkan prinsip-prinsip good governance tersebut.

    Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

    menganalisis pengaruh pelaksanaan prinsip-prinsip good governance terhadap

    kepuasan kerja pegawai di kantor Bupati dari Provinsi Sumatera Utara dengan

    bentuk penelitian metode penelitian kuantitatif. Data yang digunakan adalah

  • data primer dan data sekunder.Penelitian ini menggunakan data penelitian

    selama 3 bulan dan penentuan hipotesis yang merupakan pernyataan yang

    bersifat sementara mengenai dua variabel.Pengolahan analisis data

    menggunakan software pengolahan data statistik yaitu SPSS 20 for windows

    yang data sebelumnya ordinal dirubah menjadi data interval dengan program

    Metode Successive Interval (MSI).

    Berdasarkan hasil analisis data menggunakan analisis data linear

    sederhana terdapat koefisien regresi variabel good governance sebesar

    0,630; artinya setiap penambahan 1 nilai good governance (X), maka

    Kepuasan Kerja (Y) akan mengalami peningkatan sebesar 0,630. Pengaruh

    good governance terhadap Kepuasan Kerja Pegawai di Kantor Bupati Dairi

    Provinsi Sumatera Utara berdasarkan hasil uji hipotesis pada responden adalah

    0,630. Signifikan korelasi diketahui lebih kecil dari 0,05 (0,000 < 0,05) yang

    menunjukkan kedua variabel berkorelasi secara signifikan.

    Penelitian kedua dilakukan oleh Gerry Katon Mahendra

    (20090520110), FISIP, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2013 dengan

    judul Penerapan Prinsip- Prinsip Good Governance dalam Pelayanan

    Publik (Studi Kasus Penerapan Prinsip Transparansi dan Partisipasi

    dalam Pelayanan Publik di Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulon

    Progo Tahun 2011) yang berisikan sebagai berikut:

    Good governance atau tata kelola pemerintahan yang baik merupakan

    sebuah paradigma baru yang berk embang di Indonesia saat ini. Good

    governance muncul dari berbagai tuntutan masyarakat agar bisa mendapatkan

  • pelayanan yang prima, transparan, akuntabel, dan efisien. Pelaksanaan good

    governance harus dimulai dari jenjang pemerintahan loka l hingga jenjang

    pemerintahan nasional.

    Skripsi ini merupakan studi deskriptif di Kecamatan Samigaluh,

    Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan merupakan Satuan Kerja Perangkat

    Daerah (SKPD) yang memberikan pelayanan publik dan administratif dengan

    menerapkan prinsip good governance. Dalam skripsi ini peneliti akanmeneliti

    tentang Bagaimana Penerapan Prinsip Good Governance, Khususnya Prinsip

    Transparansi dan Partisipasi dalam Pelayanan Publik di Kecamatan Samigaluh

    pada Tahun 2011? Dalam penelitian ini penulis mengguna kan metode

    penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis dengan mengukur,

    memberikan gambaran atau deskripsi mengenai pelaksanaan penerapan prinsip

    transparansi dan partisipasi dalam pelayanan publik di Kecamatan Samigaluh

    pada tahun 2011. Pengumpulan data yang dilakukan dilapangan tidak hanya

    dengan menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi, namun juga

    digabungkan dengan menggunakan teknik kuesioner guna memperkuat

    keabsahan data yang diperoleh.

    Hasil penelitian yang didapat menunjukkan bahwa penerapan prinsip

    transparansi dan partisipasi dalam pelayanan publik di Kecamatan Samigaluh

    sudah berjalan dengan baik. Hasil ini didapat dari hasil kuesioner yang

    dibagikan kepada masyarakat dan hasil dari wawancara dengan beberapa

    aparatur Kecamatan, tokoh masyarakat, dan masyarakat Kecamatan

    Samigaluh.dari hasil penelitian tersebut diketahui indeks transparansi sebesar

  • 2,78 atau dalam kategori baik dan indeks partisipasi sebesar 2,79 atau dalam

    kategori baik. Selain itu juga diketahui faktor-faktor dominan yang

    mempengaruhi pelaksanaan prinsip transparansi dan partisipasi. Faktor-faktor

    tersbut secara berurutan adalah sebagai berikut: faktor kepemimpinan, faktor

    pendidikan, faktor sosial budaya, faktor penerapan kebijakan, faktor pers dan

    media massa.

    Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan prinsip transparansi

    dan partisipasi di Kecamatan Samigaluh sudah berjalan dengan baik dan

    mengarah kepada perkembangan yang lebih baik lagi Saran bagi pihak aparatur

    Kecamatan Samigaluh adalah pihak Kecamatan sebagai penyedia layanan

    harus lebih mampu meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat dengan

    menciptakan inovasi baru dan lebih memberdayakan masyarakat dan pihak

    swasta.

    2.3. Kerangka Pemikiran Penelitian

    Good governance adalah suatu konsep pendekatan yang berorientasi

    kepada pembangunan sektor publik oleh pemerintahan yang baik. Disini dapat

    dilihat bahwa arah kedepan dari good governance adalah membangun the

    professional government, bukan dalam arti pemerintah yang dikelola para

    teknokrat, namun oleh siapa saja yang mempunyai kualifikasi professional,

    yaitu mereka yang mempunyai ilmu dan pengetahuan yang mampu

    mentransfer ilmu dan pengetahuan menjadi skill dandalam melaksanakannya

    berlandaskan etika dan moralitas yang tinggi.

  • Berkaitan dengan dengan pelaksanaan good governance pada

    pemerintahan di Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang yang menjadi

    indikator dari pelaksanaan good governance yaitu Prinsip-prinsip good

    governance menurut UNDP melaui LAN yang dikutip Tangkilisan (2005:115)

    partisipasi, pelaksanaan hukum, transparansi, responsivitas, orientasi,

    keadilan, efektifitas, akuntabilitas, strategi visi.

    Dari uraian diatas, yaitu mengenai pelaksanaan good governance pada

    pemerintahan di Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang, maka peneliti

    ingin menjawab apakah pelaksanaangood governance di Kecamatan Majasari

    Kabupaten Pandeglang sudah optimal atau sebaliknya. Adapun kerangka

    berfikir yang di gambarkan adalah:

  • Gambar 2.2.

    Kerangka Berfikir

    Prinsip-Prinsip Good Governance Menurut

    UNDP Diantaranya :

    1. Partisipasi (Participation) 2. Tegaknya Supermasi Hukum (Rule of

    Law)

    3. Transparansi (Transparency) 4. Daya Tanggap (Responsiveness) 5. Orientasi (Consencus Orientation) 6. Keadilan (Equity) 7. Efektifitas& efesiensi (Effectiveness&

    Efficiency)

    8. Akuntabilitas (Accountability) 9. Visi Strategis (Strategic Vision)

    Pelayanan Menurut

    Parasurman:

    1. Tangibles 2. Reliability

    3. Responsiveness 4. Assurance 5. Emphaty

    Permasalahan Penelitian

    a. Pihak Kecamatan Majasari kurang informatif terkait pelayanan-pelayan yang disediakan

    b. Pihak swasta masih ada yang tidak berpartisipasi dalam pelayanan pembuatan surat izin usaha yang disediakan oleh pihak Kecamatan

    Majasari. c. Respon terhadap permohonan masyarakat untuk pembuatan Kartu

    Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk dinilai lamban.

    d. Pihak Kecamatan masih terbilang diskriminatif dalam pemberian pelayanan pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk.

    Terlaksananya good governance di Kecamatan Majasari dengan optimal

  • 2.4.Asumsi Dasar

    Peneliti berasumsi bahwa pelaksanaan good governance di Kecamatan

    Majasari belum optimal, karena beberapa dari prinsip-prinsip good governance

    seperti responsivitas, partisipasi, dan keadilan belum terlaksana. Dalam hal

    responsivitas, pelayanan yang di berikan oleh Kecamatan Majasari masih

    terbilang lamban. Prinsip partisipasi masih dinilai belum optimal, terlihat dari

    adanya pihak swasta yang masih tidak berpartisipasi dalam pembuatan

    permohonan izin seperti izin usaha. Terlebih lagi pada prinsip keadilan,

    beberapa pegawai masih mengutamakan pelayanan kepada kerabat.

  • BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    3.1 Pendekatan dan Metode Penelitian

    Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan

    tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2012: 1-2). Dalam penelitian ini, peneliti

    menggunakan metode survey dengan pendekatan kualitatif. Melalui penelitian ini,

    peneliti mencoba menganalisa tentang bagaimana pelaksanaan good governance di

    Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang, di mana data tersebut berasal dari

    hasil wawancara, catatan lapangan, foto atau duokumen lainnya.David William

    (Moleong, 2010: 5) menyatakan bahwa pendekatan kualitatif adalah pengumpulan

    data dari suatu latar ilmiah dengan menggunakan metode ilmiah dan dilakukan oleh

    orang atau peneliti yang tertarik secara ilmiah. Jelas definisi ini memberi gambaran

    bahwa penelitian kualitatif mengutamakan latar ilmiah, dan dilakukan oleh orang

    yang mempunyai perhatian ilmiah.

    3.2 Ruang Lingkup atau Fokus Penelitian

    Fokus penelitian tentunya menjadi suatu aspek penting guna memfokuskan

    serta mengadakan batasan yang jelas dalam penelitian. Batasan bukan berarti

    mengkotak-kotakan obyek penelitian namun berfungsi untuk menjaga sasaran

    penelitian sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan penelitian, penentuan

    informan, pengumpulan data hingga analisis data dan hasil penelitian nantinya akan

    tepat sasaran. Dalam penelitian ini peneliti berfokus pada Pelaksanaan Good

    Governance di Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang.

  • 3.3 Lokasi Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang,

    Banten, Indonesia.

    3.4 Instrumen Penelitian

    Dalam penelitian kualitatif yang menjadi instrumen penelitian adalah peneliti

    sendiri. Nasution (Sugiyono, 2005: 60) menyatakan, bahwa dalam penelitian kualitatif

    tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian

    utama. Alasannya ialah bahwa, segala sesuatu belum mempunyai bentuk yang pasti.

    Masalah, fokus penelitian, bahan hasil yang di harapkan, itu semuanya tidak dapat di

    tentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan

    sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak

    ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat

    mencapainya.

    Menurut Nasution (Sugiyono, 2005: 61-62) peneliti sebagai instrumen

    penelitian serasi untuk penelitian serupa karena memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

    Peneliti sebagai alat peka dan dapat bereaksi terhadap segala stimulus dari

    lingkungan yang harus diperkirakannya bermakna atau tidak bagi penelitian.

    Peneliti sebagai alat dapat menyesuaikan diri terhadap semua aspek keadaan

    dan dapat mengumpulkan aneka ragam data sekaligus.

    Tiap situasi merupakan keseluruhan. Tidak ada sesuatu instrumen berupa test

    atau angket yang dapat menangkap keseluruhan situasi, kecuali manusia.

  • Suatu situasi yang melibatkan interaksi manusia, tidak dapat difahami dengan

    pengetahuan semata. Untuk memahaminya kita perlu sering merasakannya,

    menyelaminya berdasarkan pengetahuan kita.

    Peneliti sebagai instrumen dapat segera menganalisis data yang diperoleh. Ia

    dapat menafsirkannya, melahirkan hipotesis dengan segera untuk menentukan

    arah pengamatan, untuk menguji hipotesis yang timbul seketika.

    Hanya manusia sebagai instrumen dapat mengambil kesimpulan berdasarkan

    data yang dikumpulkan pada suatu saat dan menggunakan segera sebagai

    balikan untuk memperoleh penegasan, perubahan, perbaikan, atau pelaksanaan.

    Dalam penelitian dengan menggunakan test atau angket yang bersifat

    kuantitatif yang diutamakan adalah respon yang dapat dikuantifikasi agar dapat

    diolah