PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE -

Click here to load reader

  • date post

    28-Oct-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PELAKSANAAN GOOD GOVERNANCE -

TAHUN 2018
Gelar Sarjana Administrasi Publik Pada Konsentrasi Manajemen Publik
Program Studi Administrasi Publik
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
Kecamatan Majasari Kabupaten Pandeglang. Pembimbing I: DR. Dirlanuddin,
M.Si dan Pembimbing II: Rahmawati, M.Si
Fokus penelitian adalah penerapan good governance di Kecamatan Majasari Kabupaten
Pandeglang. Permasalahan pada penelitian adalah pihak Kecamatan Majasari kurang
informatif terkait pelayanan-pelayanan yang disediakan, pihak swasta masih kurang
berpartisipasi dalam pelayanan pembuatan izin usaha yang disediakan oleh pihak
Kecamatan Majasari, respon terhadap permohonan masyarakat untuk pembuatan Kartu
Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk dinilai lamban, pihak Kecamatan Majasari masih
terbilang diskriminatif dalam pemberian pelayanan pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu
Tanda Penduduk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari. Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Teori UNDP dan Teori Pelayanan Parasurman. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan survey. Analisis data yang
digunakan dengan prosedur reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan oleh
Matthew B. Milles dan Michael Huberman. Hasil penelitian, dapat diketahui bahwa
pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari belum optimal karena pihak
Kecamatan Majasari masih melakukan pelanggaran dalam menerapkan prinsip-prinsip
good governance. Berkaitan dengan hasil penelitian yang didapat, peneliti memberikan
beberapa saran diantaranya, pihak Kecamatan Majasari agar lebih memahami kebutuhan
masyarakat, pihak Kecamatan Majasari agar lebih mendisiplinkan para pegawai, dan
pihak Kecamatan Majasari agar lebih mempersiapkan diri dalam memberikan
pelayananan.
ABSTRACT
Dirlanuddin, M.Si and Second Supervisor: Rahmawati, M.Si.
The focus of the research is the implementation of good governance in Majasari Subdistrict,
Pandeglang Regency. The research problems are that the Majasari Subdistrict was less
informative regarding the services provided, the private sector still lacked participation in the
service of making business licenses provided by the Majasari Subdistrict, the response to the
community's request for Family Cards and Identity Cards is considered slow, Majasari
Subdistrict is still discriminative in providing services for making Family Cards and Identity
Cards. The purpose of this study is to find out how the implementation of good governance in
Majasari District. The theory used in this study is the UNDP Theory and Parasurman Service
Theory. The research method used is a qualitative method with a survey approach. Analysis of
data used with data reduction procedures, data presentation, and drawing conclusions by
Matthew B. Milles and Michael Huberman. The results of the study, it can be seen that the
implementation of good governance in Majasari Subdistrict is not optimal because the Majasari
District still violates the implementation of good governance principles. In connection with the
results of the research obtained, the researcher gave several suggestions, namely, the Majasari
Subdistrict in order to understand the needs of the community quite better, the Majasari
Subdistrict in order to discipline employees quite further, and the Majasari Subdistrict to prepare
themselves for providing services quite better.
Keywords: Good Governance, Majasari Subdistrict, Services
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah Swt atas segala rahmat
hidayah dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi
yang berjudul Pelaksanaan Good Governance di Kecamatan Majasari Kabupaten
Pandeglang. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat untuk memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Administrasi Publik pada Konsentrasi Manajemen Publik
Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
Sultan Ageng Tirtayasa.
Terimakasih atas dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu secara
moril maupun materiil dalam melakukan penelitian untuk kelancaran penyusunan skripsi
ini. Sehubungan dengan hal itu maka peneliti juga menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Soleh Hidayat, M.Pd., Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Bapak Dr. Agus Sjafari, S.Sos., M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirayasa.
3. Ibu Rahmawati S.Sos., M.Si., Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Bapak Iman Mukhroman, M.Si., Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Bapak Kandung Sapto Nugroho S.Sos., M.Si., Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan juga sebagai Dosen
Pembimbing Metodologi Penelitian Administrasi.
6. Ibu Listyaningsih, S.Sos., M.Si., Ketua Program Studi Administrasi Publik Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
7. Ibu Dr. Arenawati, S.Sos., M.Si.,Wakil Ketua Program Studi Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
8. Bapak Dr. Dirlannudin, M.Si., Dosen Pembimbing I yang selalu memberikan arahan
dan masukan dalam penyusunan skripsi.
9. Ibu Rahmawati, M.Si., Dosen Pembimbing II yang juga selalu memberikan arahan,
masukan dan kritik yang membangun serta semangat dalam penyusunan skripsi.
10. Kepada seluruh Dosen Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang telah mendidik dan membekali
penulis dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang bermanfaat selama perkuliahan.
11. Para Staff Tata Usaha Program Studi Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa atas segala bantuan administrasi dan
informasi selama perkuliahan.
12. My Love, Fitri Choirunnisa, selaku supporter dalam pembuatan skripsi ini. Tanpamu
aku bukan apa-apa.
13. Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan Administrasi Publik Angkatan 2013,
yang tidak dapat disebutkan satu persatu namun telah memberikan kesan, tawa, serta
dukungan agar kelak sukses bersama.
Atas segala bantuan dan bimbingan serta kerjasama yang baik yang telah
diberikan selama penyusunan skripsi, maka peneliti ucapkan terimakasih dan hanya
dapat memanjatkan doa semoga kebaikan tersebut dibalas dengan pahala yang berlipat
ganda dan merupakan suatu amal kebaikan di sisi Allah SWT.
Peneliti juga menyadari bahwa dalam penyususnan skripsi ini masih terdapat
kekurangan-kekurangan, maka dengan segala kerendahan hati penulis menerima kritik
dan saran yang membangun dari semua pihak.
Akhir kata penulis berharap agar upaya ini dapat mencapai maksud yang
diinginkan dan dapat menjadi tulisan yang berguna bagi semua pihak.
Serang, Januari 2019
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................... 13
1.3 Batasan Masalah ........................................................................ 13
1.4 Rumusan Masalah ...................................................................... 14
1.5 Tujuan Penelitian ....................................................................... 14
1.6 Manfaat Penelitian ..................................................................... 14
1.7 Sistematika Penulisan ................................................................ 15
DASAR
2.1.3 Pengertian Pemerintahan .................................................. 31
2.1.5 Konsep Pelayanan ........................................................... 40
2.2 Penelitian Terdahulu .................................................................. 42
2.3 Kerangka Berfikir ...................................................................... 46
2.4 Asumsi Dasar ............................................................................. 48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.2 Ruang Lingkup/Fokus Penelitian .............................................. 49
3.3 Lokasi Penelitian ........................................................................ 50
3.4 Instrumen Penelitian .................................................................. 50
3.5 Informan Penelitian .................................................................... 51
3.7 Teknik Pengolahan dan Analisis Data ....................................... 58
3.8 Uji Keabsahan Data ................................................................... 62
3.9 Jadwal Penelitian ....................................................................... 66
4.4 Pembahasan ................................................................................ 99
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 115
5.2 Saran .......................................................................................... 115
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar Pihak Swasta yang Terdaftar Memiliki Izin Usaha ............. 9
Tabel 2.1 Perbedaan Government dan Governance ........................................ 21
Tabel 3.1 Informan Penelitian ......................................................................... 53
Tabel 3.2 Pedoman Wawancara ...................................................................... 56
Tabel 3.3 Jadwal Penelitian ............................................................................ 66
Tabel 4.1 Informan Penelitian ......................................................................... 71
Tabel 4.2 Fasilitas Operasional di Kantor Kecamatan Majasari ..................... 91
Tabel 4.3 Perkembangan Penyediaan Fasilitas Operasional ........................... 98
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.2 Kerangka Berfikir .......................................................................... 47
Gambar 3.1 Teknik Analisis Data ..................................................................... 59
Gambar 3.2 Triangulasi Teknik ........................................................................ 64
Gambar 3.3 Triangulasi Sumber ...................................................................... 64
Gambar 4.1 Informasi Pelayanan di Kecamatan Majasari ................................ 76
Gambar 4.2 Informasi Pembangunan di Kecamatan Majasari.......................... 78
Gambar 4.3 Sarana dan Prasaranan di Kecamatan Majasari............................. 90
BAB I
dalam pengelolaan administrasi publik. Hal ini antara lain tercermin dari tuntutan
yang masiv dari masyarakat kepada para penyelenggara negara, baik di
pemerintahan, dewan perwakilan maupun yudikatif untuk menyelenggarakan
pemerintahan yang baik. Artinya, terselenggaranya good governance merupakan
cita-cita dan harapan bagi setiap bangsa. Secara umum, good governance dapat
diartikan sebagai proses pengelolaan pemerintahan melalui keterlibatan stakeholders
yang luas dalam bidang ekonomi, sosial dan politik suatu negara dan pendayagunaan
sumberdaya alam, keuangan dan manusia menurut kepentingan semua pihak dengan
cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan, kejujuran, persamaan, efisiensi,
transparansi dan akuntabilitas. Soffian Effendi dalam Azhari, (2002: 187)
mendefinisikan good governance sebagai penyelenggaraan pemerintahan secara
partisipatif, efektif, jujur, adil, transparan dan bertanggungjawab kepada semua level
pemerintahan. Pada akhirnya, good governance akan menghasilkan birokrasi yang
handal, profesional, efisien, produktif, serta memberikan pelayanan prima kepada
masyarakat.
Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berjuang demi terciptanya good
governance. Namun faktanya, keadaan Indonesia saat ini belum menunjukkan
bahwa harapan tersebut sudah tercapai. Hal ini dibuktikan dengan mencuatnya
kasus-kasus yang melibatkan kalangan birokrasi akhir-akhir ini. Salah satunya
adalah kasus korupsi Political and Economic Risk Consultancy (PERC)
mengumumkan hasil surveinya mengenai peringkat korupsi negara-negara di dunia,
dimana Indonesia merupakan salah satu negara yang masuk dalam pemeringkatan
tingkat korupsinya. Menurut data Indonesia Corruption Watch (ICW), sepanjang
priode 1 Januari hingga 31 Juli 2012. Penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK), kepolisian RI dan kejaksaan agung telah menetapkan 597 orang
sebagai tersangka dalam kasus korupsi. Kasus sepanjang semester pertama 2012
tersebut mencapai 285 kasus dengan potensi kerugian aset Negara yang yang
ditimbulkan akibat korupsi sebesar Rp 1,22 trilliun. Keadaan ini berbanding jauh
dengan Singapura di mana pihak pemerintah berperan aktif di masyarakat dalam
mengelola dan mengembangkan ekonomi, kemudian pegawai negeri memiliki
prestise yang tinggi sehingga pelayanan publik hampir seluruhnya bebas dari korupsi
(Romdon: 2013). Pada awal tahun 2017, Indonesia dihebohkan dengan kasus
korupsi proyek pembangunan Hambalang yang melibatkan nama-nama tokoh
politik tenar seperti Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.Azzam, dkk. (2013:
2) menjelaskan bahwa kasus korupsi proyeksi Hambalang sudah mulai bergulir sejak
Agustus 2011 lalu. Pada tanggal 1 Agustus, KPK mulai menyelidiki kasus korupsi
proyek Hambalang senilai Rp 2,5 triliun. Nama-nama elit politik pun mulai
bermunculan dan terseret kasus proyek Hambalang. Pada 3 Desember 2012, KPK
menjadikan tersangka Andi Alfian Mallarangeng dalam posisinya sebagai Menpora
dan pengguna anggaran. Setelah Andi, nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas
Arbaningrum masuk dalam pusaran korupsi Hambalang. Arjamudin (2012)
menyatakan bahwa kepentingan politik, KKN, peradilan yang tidak adil, bekerja di
luar kewenangan, dan kurangnya integritas dan transparansi adalah beberapa
masalah yang membuat pemerintahan yang baik masih belum bisa tercapai.
Pelaksanaan good governance di Indonesia sendiri mulai benar–benar dirintis
sejak munculnya era reformasi. Era tersebut menuntut proses demokrasi yang bersih
sehingga good governance menjadi salah satu alat reformasi yang mutlak diterapkan
dalam pemerintahan baru. Febrian (2009) mengemukakan bahwa masih banyak
ditemukan kecurangan dan kebocoran dalam pengelolaan anggaran dan akuntansi
yang merupakan dua produk utama good governance. Artinya, penerapan good
governance di Indonesia belum dapat dikatakan berhasil sepenuhnya sesuai dengan
cita–cita reformasi sebelumnya.
Berkaitan dengan good governance, salah satu hal yang harus diperhatikan
adalah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat atau pelayanan publik. Karena
pada dasarnya peran pokok dari pemerintah memberikan pelayanan publik antara
lain dalam hal-hal yang berkaitan dengan memelihara keamanan, ketertiban,
mewujudkan keadilan, memenuhi kepentingan umum, mewujudkan kesejahteraan
sosial, perekonomian, pemeliharaan sumber-sumber daya alam dan lingkungan.
Dalam keterkaitan tersebut pembentukan berbagai instansi pemerintahan dengan
tugas dan fungsinya masing-masing berperan sebagai perangkat utama dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat, yang sesuai dengan peraturan menteri
pendayagunaan aparatur Negara Nomor 15 Tahun 2014 bahwa setiap penyelenggara
pelayanan publik wajib menyusun, menetapkan, dan menerapkan standar pelayanan
serta menetapkan maklumat pelayanan dengan memperhatikan kemampuan
penyelenggara, kebutuhan masyarakat, dan kondisi lingkungan.
Pelayanan publik menjadi tolak ukur keberhasilan pelaksanaan tugas dan
pengukuran kinerja pemerintah melalui birokrasi. Pelayanan publik sebagai
penggerak utama juga dianggap penting oleh semua aktor dari unsur good
governance. Para pejabat publik, unsur-unsur dalam masyarakat sipil dan dunia
usaha sama-sama memiliki kepentingan terhadap perbaikan kinerja pelayanan
publik. Ada tiga alasan penting yang melatarbelakangi bahwa pembaharuan
pelayanan publik dapat mendorong praktik good governance di Indonesia. Pertama,
perbaikan kinerja pelayanan publik dinilai penting oleh stakeholders, yaitu
pemerintah, warga, dan sektor usaha. Kedua, pelayanan publik adalah ranah dari
ketiga unsur governance melakukan interaksi yang sangat intensif. Ketiga, nilai-nilai
yang selama ini mencirikan praktik good governance diterjemahkan secara lebih
mudah dan nyata melalui pelayanan publik.
Fenomena pelayanan publik oleh birokrasi pemerintah syarat dengan
permasalahan, misalnya prosedur pelayanan yang berbelit-belit, ketidakpastian
waktu dan harga yang menyebabkan pelayanan menjadi sulit dijangkau secara wajar
oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan terjadi ketidakpercayaan kepada pemberi
pelayanan dalam hal birokrasi sehingga masyarakat mencari jalan alternatif untuk
mendapatkan pelayanan melalui cara tertentu yaitu dengan memberikan biaya
tambahan.
Selain permasalahan di atas, juga tentang cara pelayanan yang diterima oleh
masyarakat yang sering dilecehkan martabatnya sebagai warga negara. Masyarakat
ditempatkan sebagai klien yang membutuhkan bantuan pejabat birokrasi, sehingga
harus tunduk pada ketentuan birokrasi dan kemauan dari para pejabatnya. Hal ini
terjadi karena budaya yang berkembang dalam birokrasi selama ini bukan budaya
pelayanan, tetapi lebih mengarah kepada budaya kekuasaan. Untuk mengatasi
kondisi tersebut perlu dilakukan upaya perbaikan kualitas penyelenggaraan
pelayanan publik yang berkesinambungan demi mewujudkan pelayanan publik yang
prima sebab pelayanan publik merupakan fungsi utama pemerintah yang diberikan
sebaik-baiknya oleh pejabat publik. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan
melakukan penerapan prinsip-prinsip good governance, yang diharapkan dapat
memenuhi pelayanan yang prima terhadap masyarakat. Terwujudnya pelayanan
publik yang berkualitas merupakan salah satu ciri good governance. Untuk itu,
aparatur negara harus melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara efektif dan
efisien, karena diharapkan dengan penerapan good governance dapat
mengembalikan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah.
Kecamatan dengan swadaya tertinggi dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan
lainnya di Kabupaten Pandeglang. Kecamatan Majasari adalah pemekaran dari
Kecamatan Pandeglang berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Pandeglang No.26
Tahun 2007 tentang pembentukan Kecamatan Majasari dan Kecamatan Sobang tanggal
17 Juli 2007. Secara administratif, Kecamatan Majasari merupakan salah satu bagian dari
Kabupaten Pandeglang dengan luas wilayah 19, 41 KM2 yang berbatasan dengan:
Sebelah Utara : Kecamatan Pandeglang/Karang Tanjung
Sebelah Selatan : Kecamatan Kaduhejo
Sebelah Timur : Kecamatan Banjar
Sebelah Barat : Kecamatan Kaduhejo
Secara Geografis, Kecamatan Majasari terletak di antara 6.173,2o Bujur Timur
dengan luas daerah 20, 09 KM2, atau sebesar 0,73% dari luas Kabupaten Pandeglang.
Kecamatan Majasari ditempati oleh 46.041 jiwa penduduk yang tersebar di 5 kelurahan;
Sukaratu, Karaton, Selaja, Saruni, Pager Batu. Sebuah Kecamatan dipimpin oleh seorang
Camat yang berada di bawah tanggung jawab Bupati melalui Sekretaris Daerah.
Kecamatan Majasari merupakan wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah
Kabupaten dengan visi “mendorong, meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui
agrobisnis, pertanian, wisata, dan home industry” serta misi sebagai berikut:
1. Terwujudnya pelayanan masyarakat yang berkualitas, transparan, dan akurat.
2. Terwujudnya budaya tertib hukum dan tertib lingkungan dalam masyarakat.
3. Mewujudkan usaha-usaha guna mendukung penerimaan pendapatan daerah yang
optimal.
Berdasarkan peraturan Bupati Pandeglang nomor 66 tahun 2016, Kecamatan
Majasari mempunyai tugas pokok untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan yang
dilimpahkan oleh Bupati untuk menangani sebagian urusan otonomi daerah dan
menyelenggarakan tugas umum pemerintahan. Proses pelayanan melibatkan 28 pegawai
yang terdiri dari 15 pegawai pegawai ASN, 6 pegawai TKK, dan 17 pegawai TKS.
Berbagai macam pelayanan bagi masyarakat disediakan oleh pihak Kecamatan Majasari,
diantaranya:
2. Pengantar Kartu Tanda Penduduk (KTP)
3. Pengantar Akta Kelahiran
4. Pengantar Surat Pindah
5. Rekomendasi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dibawah 100 M²
6. Rekomendasi Ijin Keramaian
8. Pengantar Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK)
9. Rekomendasi Dispensasi Nikah dibawah 10 Hari
10. Rekomendasi Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM)
11. Legalisir Surat Kematian
14. Pengantar Permohonan Mutasi/Balik Nama SPPT
Di Kecamatan Majasari, masalah good governance menjadi masalah yang hangat di
bicarakan. Guna mengetahui secara singkat tentang pelaksanaan good governance di
Kecamatan Majasari, peneliti melakukan pre-observasi melalui wawancara semi struktur
dengan Sekretaris Camat Majasari. Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui
bahwa beberapa dari prinsip-prinsip good governance belum berhasil diterapkan secara
optimal, seperti transparansi, partisipasi, responsivitas, dan keadilan.
Berkaitan dengan misi yang diemban oleh Kecamatan Majasari yaitu “Terwujudnya
pelayanan masyarakat yang berkualitas, transparan, dan akurat, transparansi” dalam
pelaksanaan good governance seharusnya sudah diterapkan secara optimal. Namun,
faktanya, pihak Kecamatan Majasari masih dianggap kurang informatif terkait
pelayanan-pelayanan publik yang disediakan oleh pihak kecamatan sehingga berpotensi
untuk mengurangi partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pelayanan tersebut.
Contohnya saja dalam pelayanan pembuatan surat IMB dan surat izin keramaian.
Menurut Soni Azhari (25); masyarakat di Kecamatan Majasari, ketika ingin mengajukan
pembuatan rekomendasi IMB, ia tidak mengetahui secara jelas tentang persyaratan-
persayaratan yang harus dipenuhi sehingga harus kembali lagi ke kecamatan ketika
semua persyaratan sudah lengkap. Selain itu, Agus Arif Rahman (37); masyarakat di
Kecamatan Majasari, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa Kecamatan Majasari
menyediakan pelayanan surat izin keramaian. Agus menambahkan, ia juga tidak
memahami apa fungsi dan kapan harus meminta surat izin keramaian kepada pihak
Kecamatan Majasari.
pelaksanaan pelayanan-pelayanan tersebut. Terbukti dengan prinsip partisipasi yang
dinyatakan belum optimal karena pihak swasta yang berperan sebagai salah satu pilar
dari good governance belum berpartisipasi dalam pelayanan yg disediakan oleh pihak
Kecamatan Majasari seperti surat izin usaha. KASI pemerintahan Kecamatan Majasari
menyatakan bahwa masih ada beberapa tempat usaha di Kecamatan Majasari yang belum
memiliki surat izin. Dari sekian banyak pihak swasta yang mendirikan usaha di daerah
pemerintahan Kecamatan Majasari, hanya beberapa yang terdaftar memiliki izin usaha
di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten
Pandeglang, berikut daftarnya:
No Nama Pihak Swasta Alamat
1 Toko Gugun Nugraha Kp. Cipacung, Kel. Saruni, Kec.
Majasari
Majasari
Majasari
4 Dr. H Gatot Supriadi Kp. Maja Mesjid Rt/Rw. 001/005
Kel. Sukaratu Kecamatan
5 Apotek Hana Perintis Farma Jl. Raya Labuan Km.4 Kp.
Cipacung, Kel.saruni, Kec.
Majasari
6 Apotek Central Farma 2 Jl. Raya Labuan, Kp. Ciekek, Kel.
Karaton, Kec. Majasari
“Limbah Rezeki”
governance, maka tiga pilarnya yaitu pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil
hendaknya saling menjaga, saling dukung dan berpatisipasi aktif dalam penyelenggaraan
pemerintahan yang sedang dilakukan. Dalam pemberian pelayanan publik, respon pihak
kecamatan adalah salah satu faktor penilaian masyarakat terhadap pelayanan yang
diberikan. Pada pelaksanaan good governance di Kecamatan Majasari, khususnya dalam
pemberian pelayanan publik prinsip responsivitas dinyatakan belum optimal karena
respon yang diberikan oleh pihak Kecamatan untuk pelayanan permohonan pembuatan
Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk masih terbilang lamban. Formulir untuk
pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk seringkali tidak tersedia sehingga
proses pembuatan harus diundur selama beberapa jam atau bahkan ke lain hari. Hal ini
juga menunjukkan bahwa penguluran waktu masih ditemukan dalam proses pelayanan
sehingga mengharuskan masyarakat untuk kembali ke kantor kecamatan dua sampai tiga
kali. Keadaan tersebut terbilang tidak efisien karena merugikan masyarakat dari segi
waktu dan biaya. Terlebih lagi, prosedur dan waktu pelayanan seringkali ditemukan tidak
sesuai dengan SOP Kecamatan Majasari. Berikut ini Standar Operasional Pelayanan
yang ada di Kecamatan Majasari terlampir pada Gambar 1.1 di bawah ini:
Gambar 1.1
( PATEN ) Kecamatan Majasari
(Sumber : Kecamatan Majasari)
kemampuan lembaga publik dalam merespon kebutuhan masyarakat terutama yang
berkaitan dengan basic needs (kebutuhan dasar) dan HAM (hak sipil, hak politik, hak
ekonomi, hak social, dan hak budaya). Selanjutnya, dalam pemberian pelayanan publik,
pihak Kecamatan Majasari dituntut untuk adil kepada seluruh masyarakat; tanpa
membeda-bedakan status sosial dan ekonomi. Keadilan dalam pelaksanaan good
governance di Kecamatan Majasari khususnya dalam pemberian pelayanan publik, juga
dinilai belum optimal. Pihak Kecamatan masih diskriminatif dalam memberikan
pelayanan permohonan pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk. Dalam
hal ini, pelayanan yang diberikan oleh pihak Kecamatan Majasari terkesan pandang bulu.
LOKET 1
Masyarakat yang memiliki kenalan dengan pegawai Kecamatan Majasari atau
memberikan upah pengerjaan, prosesnya akan di percepat. Menurut Aristoteles, keadilan
berasal dari kata “Adil” yangberarti tidak berat sebelah, tidak memihak; memihak pada
yang benar, berpegang pada kebenaran; sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang.
Terkait dengan penjelasan dalam Undang Undang 23 Tahun 2014 Tentang
Pemerintahan Daerah pasal 221 ayat (1) bahwa good governance diperlukan agar
Kecamatan dapat meningkatkan koordinasi penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan
publik, dan pemberdayaan masyarakat Desa/Kelurahan. Menyadari akan pentingnya
good governance bagi Kecamatan Majasari, peneliti bermaksud melakukan penelitian
ini guna menganalisa masalah-masalah yang menghambat terlaksananya good
governance.
observasi maupun studi pendahuluan pada fokus penelitian. Maka berdasarkan pra
penelitian yang dilakukan oleh peneliti, berikut masalah-masalah good governance yang
teridentifikasi di Kecamatan Majasari:
disediakan.
2. Pihak swasta masih ada yang tidak berpartisipasi dalam pelayanan pembuatan izin
usaha yang disediakan oleh pihak Kecamatan Majasari.
3. Respon terhadap permohonan masyarakat untuk pembuatan Kartu Keluarga dan
Kartu Tanda Penduduk dinilai lamban.
4. Pihak Kecamatan masih terbilang diskriminatif dalam pemberian pelayanan
pembuatan Kartu Keluarga dan Kartu Tanda Penduduk.
1.3 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini ditujukan agar penelitian tetap fokus dan tidak
melebur. Hal ini dikarenakan konsep good governance yang begitu luas. Adapun
penelitian ini difokuskan pada batasan tematik, yaitu:
1. Analisa tentang pelaksanan good governance di Kecamatan Majasari difokuskan
pada pelayanan publik; permohonan pembuatan Kartu Keluarga, permohonan
pembuatan Kartu Tanda Penduduk, pembuatan surat Izin usaha, dan izin keramaian
2. Analisa tentang pelaksanaan good governance dalam pelayanan publik di
Kecamatan Majasari difokuskan pada prinsip-prinsip yang ditetapkan…