PEDULI UNTUK BERBAGI -

Click here to load reader

  • date post

    23-Nov-2021
  • Category

    Documents

  • view

    0
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PEDULI UNTUK BERBAGI -

JUli.inddLembaga Amil Zakat Nasional
@DPUDT-Indonesia
www.dpu-daaruttauhiid.org
Mudik Amanat
7 >>Hal
11 >>Hal
saparedaksi
“Tidak beriman kepadaku, siapa yang bisa tidur nyenyak dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya tidak bisa tidur karena rasa lapar yang ia rasakan padahal dirinya men- getahui hal tersebut.” (HR. al-Thabrani)
Sepenggal hadis ini layak menjadi renungan kita. Di sela-sela aktifi tas ibadah di bulan suci, atau kemeria- han menyambut hari raya Idul Fitri, tak ada salahnya kita bertafakur sejenak. Menyelami perkataan Rasululllah di hadis tersebut, dan merealisasikannya dalam bentuk perilaku. Bahwa kepedulian untuk berbagi harus dimil- iki setiap insan.
Berbagi tanpa memikirkan timbal balik yang mungkin diterima. Berbagi dengan mengabaikan prin- sip untung rugi. Sepanjang hal itu membuat Allah rida, hal lainnya tidak perlu dipersoalkan. Inilah yang naman- ya berbagi tanpa syarat.
Sikap peduli atau empati, juga dapat menjadi tolak ukur keimanan seseorang. Jika ia sungguh-sungguh beri- man kepada Allah dan Rasul-Nya, tidaklah mungkin ia mengabaikan saudara-saudara seimannya yang sedang diuji oleh kesengsaraan/penderitaan.
Benar yang dituliskan oleh H. Herman, Direktur Utama DPU Daarut Tauhiid di rubrik Kabar DPU pada edisi ini, bahwa: “Ketika umat Islam sudah tidak lagi peduli terhadap saudara-saudaranya yang seakidah, serta hilang rasa empati terhadap penderitaan mereka, maka akan memperlemah kekuatan Islam. Umat Islam pun seakan menjadi buih di tengah lautan.”
Semoga kita bukan umat Islam yang seperti itu. Umat yang banyak jumlahnya, tapi minim kekua- tan. Laksana buih. Mudah terhempas oleh ombak dan sekejap menghilang. Mari, kita jadikan Rama- dan dan Lebaran di tahun ini sebagai momentum memperkuat barisan umat Islam. Salah satu caranya dengan menumbuhsuburkan kepedulian untuk ber- bagi.
Redaksi
S adayaW Media Komunikasi Daarut Tauhiid
Diterbitkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional SK Menteri Agama RI No. 410 Tahun 2004 Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhiid ISSN 1693-3087 Penasihat KH. Abdullah Gymnastiar Pengarah H. Gatot Kunta Kumara Redaktur Ahli Abu Fadhli, Prof. Dr. KH. Miftah Faridl, KH. Hilman Rosyad Syihab, LC Dewan Redaksi H. Herman. H. Cucu Hidayat, Sansan Darajat Pemimpin Redaksi Suhendri Cahya Purnama Redaktur Astri Rahmayanti Reporter Cristi Aningsih Sarif, Agus Iskandar Darmawan Koresponden Inggar Saputra (Jakarta) Taufi k Hidayat (Bogor) Indra (Priangan Timur) Vita Febriarini (Semarang) Nurdin Syaiful Baladi (Yogyakarta) Eko Yulianto (Lampung) Indra Firdaus (Palembang) Putri Yulia (Batam) Layouter Magenta Alamat redaksi Jalan Gegerkalong Girang No. 32 Bandung, Jawa Barat Telp/Fax. 022-2021 861 / 2021 862 E-mail red[email protected] Website www.dpu-daaruttauhiid.org
Sapa Redaksi Kabar Cabang
Seputar Islam
Mei 2015
Ayo, Optimalkan Bulan Ramadan untuk Berbagi
Agar Ramadan Berbekas di Hatimu
Dahsyatnya Saum Ramadan
Pertolongan Allah Itu Dekat dengan Bersedekah
Perihal Mendidik Anak, Salim A. Fillah Berkisah
Nikmati Rumah di Surga dengan Berwakaf
Istiqamah Berdakwah ke Rutan
Oleh: H. Herman, S.Sos Direkur Utama DPU Daarut Tauhiid
Oleh:
kabarDPU
Ramadan, Bulan Empati dan Peduli RAMADAN adalah bulan teristimewa bagi umat Islam. Banyak sekali jamuan dari Allah yang sudah disiapkan bagi hamba-hamba-Nya yang beri- man. Tujuannya, agar mereka dapat merengkuh pribadi istimewa (takwa). Jamuan ibadah tersebut disediakan selama 24 jam nonstop. Ibadah saum di siang hari dengan cara menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, mulai dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari (maghrib). Lalu, ibadah salat tarawih pada malam hari. Ada pun ibadah-ibadah yang lainnya seperti tilawah al-Quran, sedekah, dan ibadah-ibadah lainnya dapat ditunaikan baik di waktu siang maupun malam hari.
Ibadah saum sebagai ibadah utama di bulan Ramadan, dilaksanakan tidak hanya dengan menahan diri dari yang dapat membatalkan- nya karena mengharap rida Allah semata,
tapi juga harus memiliki dimensi sosial yang kuat. Jangan sampai ibadah saum menghasilkan pribadi yang hanya mementingkan kepuasan diri sendiri. Me nyiapkan berbagai makanan untuk berbuka, tapi melupakan saudara-saudaranya yang harus berjuang demi memiliki sesuap nasi untuk dirinya.
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang memberi makan berbuka bagi yang menjalankan ibadah saum, maka ia memperoleh pahala saum tanpa pahala orang saum tersebut dikurangi.” (HR. al-Baihaqi)
Hadis tersebut harus menjadi penyemangat umat Islam untuk memiliki jiwa kepedulian dan kemauan kuat berbagi, terutama di bulan yang penuh berkah ini. Dalam riwayat Bukhari disebutkan Rasulullah sangat der- mawan, dan lebih dermawan lagi p a d a bulan Ramadan. K e b a i - kan beliau
digambarkan laksana angin yang bertiup, sehingga kebaikan-kebaikan beliau dirasakan oleh seluruh umatnya.
Ketika umat Islam sudah tidak lagi peduli terha- dap saudara-saudaranya yang seakidah, serta hilang rasa empati terhadap penderitaan mereka, maka akan memperlemah kekuatan Islam. Umat Islam pun seakan menjadi buih di tengah lautan. Dalam salah satu keterangan Rasulullah menegaskan: “Tidak beri- man kepadaku, siapa yang bisa tidur nyenyak dalam keadaan kenyang sedangkan tetangganya tidak bisa tidur karena rasa lapar yang ia rasakan padahal dirinya mengetahui hal tersebut.” (HR. al-Thabrani)
Marilah, di bulan yang istimewa ini kita gosok hati nurani kita. Salah satunya adalah dengan memperban- yak sedekah agar jiwa semakin bersih dan hati berkilau dengan cahaya iman. Jangan lupa tunaikan zakat yang be- lum terbayarkan, termasuk zakat fi trah di
penghujung Ramadan. Berbagi keba- hagiaan adalah ciri seorang
muslim. Selamat me- nikmati jamuan Allah
semoga kita men- jadi insan yang ber- takwa.
4 EDISI NO 155, JULI 2015
DOMPET PEDULI UMMAT DAARUT TAUHIID LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA GABUNGAN BULAN MEI 2015 (UN AUDITED) SUMBER DANA Penerimaan dana Zakat Rp 406,845,928.11 Penerimaan dana Infaq Shadaqah Rp 342,312,078.89 Penerimaan dana Infaq Shadaqah Terikat Rp 760,144,006.40 Penerimaan dana Wakaf Rp 129,908,847.50 Penerimaan dana Pengelola Rp 447,980,523.79 Penerimaan dana Jasa Bank Rp 264,551.22 Jumlah Penerimaan Dana Rp 2,087,455,935.91 PENGGUNAAN DANA Dana Zakat Penyaluran untuk Fakir Miskin Rp 1,219,775,747.04 Penyaluran untuk Muallaf Rp 1,700,000.00 Penyaluran untuk Ibnu Sabil Rp 1,325,000.00 Penyaluran untuk Fisabilillah Rp 80,882,163.14 Jumlah Dana Zakat Rp 1,303,682,910.18 Dana Infaq Shadaqah Program Pendidikan Rp 7,040,000.00 Program Kesehatan Rp 19,663,400.00 Program Ekonomi Rp 7,479,000.00 Program Dakwah Sosial Rp 608,625,725.08 Jumlah Dana Infaq Shodaqoh Rp 642,808,125.08 Dana Infaq Shodaqoh Terikat Program Dakwah Sosial Rp 124,614,000.00 Program PendidiProgram pemberdayaan ekonomi Rp 30,619,900.00 Program Kemanusiaan/ Bencana Rp 33,246,100.00 Program Pusosman Rp 1,463,000.00 Program Aqiqah Rp 38,040,000.00 Penyaluran non cash dan lainnya Rp 123,478,600.00
Jumlah Dana Infaq Shodaqoh Terikat Rp 361,242,600.00 Dana Wakaf Rp 1,500,000.00 Jumlah dana Wakaf Rp 1,500,000.00 Dana Jasa Bank Sarana Umum Rp 2,000,000.00 Jumlah Dana Jasa Bank Rp 2,000,000.00 Dana Pengelola Operasional Kantor Rp 445,202,283.82 Jumlah Dana Pengelola Rp 445,202,283.82 Jumlah Penggunaan Dana Rp 2,756,435,919.07 Surplus / Defi sit Rp (668,979,983.16) Saldo Awal per 01 Mei 2015 Rp 8,524,470,415.99 Saldo Akhir per 31 Mei 2015 Rp 7,562,581,439.54
keuangan
* Saldo dana yang tersedia merupakan saldo konsolidasi kantor pusat, cabang dan unit DPU (Bandung, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Lampung, Palembang, Bogor, Tasikmalaya, Batam, Bekasi dan Jambi) dan digunakan untuk membiayai program- program bulan berikutnya.
5EDISI NO155, JULI 2015
Insan yang menyadari betapa dosa melumuri dirinya, bahagia dengan adanya bulan Rama- dan.
Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar di bulan Ramadan adalah sedekah. Islam menganjurkan umatnya un- tuk banyak bersedekah. Apalagi di bulan Ramadan, amalan ini lebih dianjurkan. Demikianlah sepatut- nya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan, bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah.
Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadis: “Sesung- guhnya Allah Ta’ala itu Mahamemberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia memben- ci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi)
Berdasarkan hadis ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sifat pelit dan bakhil adalah akhlak yang bu- ruk. Begitu juga sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya, seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari)
Selain itu, sifat dermawan jika didu- kung dengan tafaqquh fi ddin, maka akan terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), sehingga dicapai kedudu- kan hamba Allah yang paling tinggi. Rasulullah bersabda: “Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rezeki oleh Allah serta kepaha- man terhadap ilmu agama. Ia bertakwa kepada Allah dalam menggunakan har- tanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudu-
kan hamba yang paling baik.” (HR. Tirmidzi) Pun halnya momen Ramadan yang banyak
dimanfaatkan individu atau lembaga untuk ber- bagi, termasuk Dompet Peduli Umat (DPU) Daarut Tauhiid. Mulai dari sosialisasi hingga rencana serta pelaksanaan program -program selama Ramadan. Kegiatan berbagi itu meliputi: Tarhib Ramadan (kegiatan menyambut Ramadan yang disosialisa- sikan secara luas), Berkilau Masjidku (program me- makmurkan masjid berupa tebar quran sebanyak 5.550 ke masjid, pesantren, dan madrasah di pe- losok desa di seluruh cabang DPU Daarut Tauhiid), Berkilau Sahabatku (program berbuka puasa ber- sama 11.000 anak yatim dan dhuafa yang dike- mas dengan acara perlombaan islami, kreasi seni dan tausiyah menjelang berbuka), dan Berkilau Bingkisanku (program pemberian paket sembako sebanyak 5.500 paket untuk jompo dan keluarga dhuafa menjelang Idul Fitri).
Kita yang mengaku meneladani Rasulullah saw sudah selayaknya memiliki semangat serupa. Yaitu semangat berbagi, lebih banyak dan lebih berman- faat di bulan Ramadan melebihi bulan-bulan lain- nya. Insya Allah.
AYO, OPTIMALKAN BULAN RAMADAN UNTUK BERBAGI! Kehadiran bulan Ramadan setiap tahunnya menjadi penghibur hati orang mukmin. Beribu keutamaan ditawarkan di bulan ini. Pahala diobral dan ampunan Allah bertebaran. Seseorang yang menyadari kurangnya bekal untuk menghadapi hari penghitungan kelak, merasa semringah dengan hadirnya Ramadan.
Dadan Junaedi Ketua Program Ramadan Nasional
Oleh:
fokusfokusSalam
AGAR RAMADAN BERBEKAS DI HATIMU
fokus
RAMADAN akan berlalu. Bersyukurlah, karena Ramadan masih bisa kita temui di tahun ini. Masih segar dalam ingatan kita betapa mudah dan nikmatnya beribadah. Jika sebelum Ramadan kita masih ringan meninggalkan ibadah, namun tidak pada Ramadan. Kita akan benar-
benar memanfaatkan waktu yang hanya 30 hari tersebut.
7EDISI NO155, JULI 2015
benar-benar merugi. Mereka tidak mengenal un- tuk apa mereka diciptakan, terlebih-lebih menge- nal kebesaran dan kehormatan Ramadan.
Muslim yang sadar terhadap makna Ramadan adalah yang terus memelihara interaksinya den- gan Allah Ta’ala. Yakni senantiasa mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia tamat dari Ma- drasah Ramadaniyah.
Hal yang Perlu Dijaga Ada beberapa hal yang perlu dijaga oleh setiap
muslim setelah Ramadan berlalu, yakni:
Istiqamah dalam beramal shalih. Nabi saw bersabda: “Kalian jangan seperti si
Fulan, awalnya rajin salat malam setelah itu, ia tinggalkan kebiasaan tersebut.” (HR. Bukhari). Istiqa- mah dalam menjaga kewajiban salat lima waktu secara berjamaah. Rasulullah saw bersabda: “Ba- rang siapa salat berjamaah selama 40 hari dengan mendapatkan takbir pertama imam (ikhlas karena Allah), maka akan dicatat baginya terbebas dari dua hal; terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat munafi k.” (HR. Tirmidzi)
Istiqamah dalam memelihara amalan sunah. Mengingat fungsinya sebagai pelengkap dan
penyempurna amal fardhu. Seperti sempurnanya puasa dengan zakat fi trah, sempurnanya salat fard- hu dengan salat rawathib. Nabi bersabda: “Wahai
“Wahai sekalian manusia, beramallah menurut yang kalian sanggupi,
sesungguhnya Allah dak akan bosan sehingga kalian merasa bosan,
sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah
yang dikerjakan secara berkelanjutan walaupun
sedikit.” (HR. Bukhari)
Dengan sisa waktu yang sedikit, setidak- nya kita masih bisa menikmati peng- hujung Ramadan yang penuh berkah. Semoga kita tidak termasuk orang-
orang yang celaka karena tidak mendapatkan pe- ngampunan dari Allah SWT, sebagaimana dalam doa yang diucapkan malaikat Jibril dan diamini Ra- sulullah saw: “Celakalah seorang hamba yang men- dapati bulan Ramadan kemudian Ramadan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah).” (HR. Ahmad)
Golongan Orang Pascaramadan Ibnul Qayyim al-Jauzi menyebutkan di antara
tanda diterimanya amal kebaikan seorang hamba adalah hamba itu meneruskannya dengan amal ke- baikan lainnya. Ada tiga golongan manusia ketika Ramadan telah berlalu, yaitu:
Golongan pertama: golongan yang tetap be- rada di atas kebaikan dan taat saat Ramadan tiba. Mereka menyingsingkan lengan baju mereka, me- lipat gandakan kesungguhan mereka, dan mem- perbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, me- nyusul yang terlewati.
Mereka menyadari sesungguhnya amal saleh tidak hanya terbatas saat Ramadan. Mereka selalu puasa enam hari di bulan Syawal, puasa hari Kamis dan Senin, serta puasa-puasa lain yang disunahkan. Air mata selalu membasahi pipi mereka di tengah malam, dan di waktu sahur istighfar mereka me- lebihi orang-orang yang penuh dosa.
Golongan kedua: golongan yang hanya khusyuk di bulan Ramadan. Golongan ini sebelum Ramadan berada dalam kelalaian, lupa, dan bermain. Saat Ra- madan, mereka tekun beribadah, puasa dan salat, membaca al-Quran, bersedekah, air mata mereka berlinang, dan hati mereka khusyuk. Akan tetapi setelah Ramadan berlalu, mereka kembali seperti semula. Kembali kepada kelupaan mereka, kembali kepada dosa mereka.
Golongan ketiga: golongan yang datang dan perginya Ramadan tiada bermakna. Kondisi golon- gan ini sama seperti keadaan mereka sebelum datang dan perginya Ramadan. Tidak ada sesuatu pun yang berubah dari mereka. Tidak ada perkara yang berganti. Bahkan, kemungkinan dosa mereka bertambah, kesalahan mereka menjadi lebih besar, catatan amal mereka bertambah hitam.
Mereka merasa bulan Ramadan adalah bulan berat. Bulan rintangan untuk menyalurkan kes- enangan duniawinya. Dan itulah orang-orang yang
8 EDISI NO 155, JULI 2015
sekalian manusia, beramallah menurut yang kalian sanggupi, sesungguhnya Allah tidak akan bosan se- hingga kalian merasa bosan, sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan se- cara berkelanjutan walaupun sedikit.” (HR. Bukhari)
Istiqamah dalam menjaga kitabullah dengan senantiasa membaca dan mengamalkan kandungannya.
Orang yang rajin membaca al-Quran, Al- lah pelihara dari jilatan api neraka, bisa men- jadi syafaat dan menerangi kuburannya (Sha- hihul Jami’ Syaikh Albani). Istiqamah dalam memelihara dzikir dan istighfar kepada Allah, baik zikir lisan maupun zikir perbuatan (ingat Allah dengan menjauhkan diri dari dosa). Is- tiqamah dalam menjauhkan diri dari segala per- kara yang merusak hati, membinasakan diri dan menghapus amal atau hal-hal yang sia-sia. Nabi saw bersabda: “Di antara tanda kebaikan agama seseorang adalah kemampuannya untuk mening- galkan hal-hal yang sia-sia.” (HR. Ibnu Majah)
Istiqamah dalam menjauhi kemaksiatan. Ahli ilmu mengatakan: “Sesung-
guhnya kemaksiatan itu berjalan menuju kekufuran. Manusia ber- pindah dari satu bentuk kemaksi- atan kepada kemaksiatan lainnya, sampai akhirnya dia keluar dari aga- manya.”
Sebaik-baik pengharapan adalah pengharapan kepada Allah. Lewatnya Ramadan bukan berarti pula lewat- nya kesempatan memanen pahala di bulan-bulan berikutnya. Setiap muslim tentunya memahami jika setiap saat adalah waktu untuk mendapatkan rida Allah SWT. Salah satu sarana yang dibe- rikan Allah agar semangat selalu terjaga pascaramadan adalah disunnahkannya puasa Syawal. Rasulullah bersabda: ”Siapa yang puasa Ramadan, kemudian ia mengi- kutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka puasanya itu seperti puasa setahun.” (HR. Muslim). Semoga kita bisa membawa semangat Ramadan ke bulan- bulan berikutnya. Aamiin.
(Astri Rahmayanti/ berbagai sumber)
9EDISI NO155, JULI 2015
hikayat
TIDAK diragukan lagi, Abu Bakar ash-Shiddiq adalah salah satu sahabat Nabi saw yang mulia. Umat Muhammad yang dalam ilmu Islamnya, kuat tekadnya dalam
berjihad, bertakwa, dan banyak amalannya.
DELAPAN PINTU SURGA MEMANGGIL ABU BAKAR
Abu Bakar juga termasuk sahabat Nabi yang gemar bersedekah. Dari Umar bin al-Khat- tab berkata: “Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun
melaksanakannya. Aku berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar.’ Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Kujawab: ‘Semisal dengan ini.’ Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’ Abu Bakar menjawab: ‘Kutinggal- kan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya.’ Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya.’” (HR. Tirmidzi).
Kedalaman ilmu Islam dan keteguhan Abu Bakar dalam berjihad, sukar dicari tandingannya. Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Ketika Nabi saw wafat, dan Abu Bakar menggantikannya. Banyak orang yang kafi r dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa- bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasu- lullah bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan laa ilaaha illal- lah. Barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Ada pun hisabnya diserahkan kepada Allah?’
Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara salat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di ma- saku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasu- lullah, akan kuperangi dia.’ Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat ke- cuali Allah telah melapangkan dadanya un- tuk memerangi orang- orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran.’” (HR. Bukhari dan Mu- lim).
Abu Bakar adalah seorang yang pemaaf. Diri- wayatkan dari Abu Darda, ia berkata, “Aku pernah duduk di sebelah Nabi. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah.’
Lalu Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera men- datanginya untuk meminta maaf, kumohon kepadanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang.’
Nabi lalu berkata: ‘Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar (sebanyak tiga kali).’ Tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya: ‘Apakah di dalam ada Abu Bakar?’ Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah. Sementara wajah Rasulullah terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sam- bil duduk di atas kedua lututnya: ‘Wahai Rasulullah, demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah (sebanyak dua kali).’ Maka Rasulullah bersabda: ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian men- gatakan, ‘Engkau pendusta wahai Muhammad.’ Semen- tara Abu Bakar berkata, ‘Engkau benar wahai Muham- mad.’ Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sa- habatku? (sebanyak dua kali).’ Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti.’” (HR. Bukhari).
Ketika mendengar Rasulullah saw mengabarkan tentang pintu-pintu surga, Abu Bakar lalu
menanggapi: “Wahai Rasulullah, Tidak- lah sulit bagi seseorang untuk dipang- gil dari satu pintu itu. Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu itu?”
Nabi pun menjawab: “Ada. Dan aku berharap engkau termasuk dari mereka wahai Abu Bakar.” (HR. Bukhari). (sumber: kisahmuslim.com dengan beberapa perubahan)
10 EDISI NO 155, JULI 2015
hikmah
PERIHAL MENDIDIK ANAK, SALIM A. FILLAH BERKISAH
“BAPAK dan ibu. Saya harus menyebut beliau berdua jika berbincang tentang menulis. Saya yakin jika Allah SWT berkenan menjadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari saya ini sebagai kebaikan, maka
kebaikan itu pertama-tama akan menjadi hak mereka,” ujar Salim A. Fillah, seorang penulis dan da’i muda saat ditemui beberapa waktu oleh Majalah Swadaya di Omah Dakwah, Yogyakarta.
Salim A. Fillah, selain dikenal sebagai penulis dengan gaya bahasa yang puitis, ia juga ak- tif mengisi kajian di berbagai kota hingga mancanegara. Salim mendirikan kajian
Majelis Jejak Nabi dan aktif dalam organisasi In- donesia Tanpa JIL di Bandung. Kajian Majelis Jejak Nabi tidak hanya dilakukan di Masjid Jogokariyan, tetapi juga dilaksanakan di Masjid al-Ukhuwah Bandung setiap pekan ke-4.
Menurutnya, bapak dan ibunyalah yang san- gat berperan dalam menumbuhkan kegemaran- nya menulis dan menimba ilmu. Salim mengenang masa kecilnya ketika masih kelas 5 SD. Ibunya membawa Salim ke toko buku di awal tahun ajaran. Maksudnya, tentu untuk berbelanja buku pelajaran dan alat tulis sebagaimana lazimnya anak yang lain. Karena ibunya ada kepentingan lain, Salim diting- galkan di toko buku dengan uang yang pas untuk membeli semua keperluan tahun ajaran baru.
Saat ibunya kembali, beliau hanya bisa geleng- geleng kepala. Yang dibeli oleh Salim adalah buku- buku yang sama sekali tidak berkaitan dengan anak kelas 5 SD. Yang ada di keranjang belanja justru buku sejarah, biografi tokoh, fi lsafat, dan psikologi. Seingat Salim, dari lisan ibunya hanya keluar pekik, “Masya Allah!” Ketika sampai di rumah, bapaknya juga hanya tertawa-tawa.
Cara Mendidik Anak Berkaitan perihal mendidik anak, Salim
menjelaskan nilai pertama yang harus diajarkan kepada anak adalah tauhid. Tujuannya agar anak tidak menyekutukan Allah SWT. Lalu, dilanjutkan dengan memberikan teladan bagaimana kita berbakti kepada kedua orangtua. Hal ini akan dijadikan cermin oleh anak-anak kita kelak. Selain itu, mengajarkan si- kap kuat memegang prinsip (nilai tauhid).
“Bukan lemah lembut yang akan kita ajarkan kepada anak, tetapi kuat dan lembut. Kalau lemah lembut saja, kayaknya lemah ya. Kenapa harus juga disertai kuat? Karena kekuatan tidak menghalangi kelembutan. Kuat di dalam prinsip, kuat dalam apa yang ia yakini, asalkan itu kebaikan, tetapi juga lem- but dalam sikap,” kata Salim.
Salah satu contoh sikap teguh memegang prin- sip ketauhidan, Salim mengisahkan tentang Sa’ad bin Abi waqas. “Ketika Sa’ad masuk Islam pada usia 13 tahun, ibunya yang mengetahui Islamnya Sa’ad…