PEDOMAN TEKNIS PPA

download PEDOMAN TEKNIS PPA

of 23

  • date post

    06-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    44
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PEDOMAN TEKNIS PPA

PEDOMAN TEKNIS PENGEMBANGAN AGRIBISNIS PETERNAKAN(Proyek Pengembangan Agribisnis Peternakan) I. PENDAHULUAN 1. Program Pengembangan Agribisnis Peternakan dimaksudkan untuk mengoperasionalkan pembangunan sistem dan usaha-usaha agribisnis, yang mengarahkan agar seluruh sub sistem agribisnis dapat secara produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk peternakan yang memiliki nilai tambah dan daya saing yang tinggi, baik di pasar domestik maupun pasar internasional. Untuk pencapaian tujuan program tersebut, kegiatan pengembangan agribisnis peternakan juga ditujukan untuk menunjang program Kecukupan Daging 2005, dengan cara peningkatan produktifitas dan populasi ternak serta perbaikan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat peternak di pedesaan. Melalui Proyek Pengembangan Agribisnis Peternakan (PPA) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2001 (kegiatan pengembangan ternak sapi potong melalui intensifikasi peternakan, intensifikasi kawin alam, pelayanan jasa IB, pengembangan HMT), dan PPA tahun 2002 yang ditujukan bagi pengembangan agribisnis sapi potong, sapi perah, kambing/domba, kerbau, babi dan ayam buras. Program Pengembangan Agribisnis (PPA) yang dijabarkan melalui Proyek PPA merupakan upaya pemberdayaan yang menggunakan pendekatan usaha kelompok dan dikelola oleh manajemen yang profesional (business oriented). Kelompok bukan hanya memelihara ternak tetapi lebih kepada mengusahakannya, dengan melakukan kegiatan usaha ekonomi yang produktif, yang pada akhirnya diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan anggota kelompoknya. Secara umum, tujuan yang ingin dicapai oleh Proyek PPA, adalah : (1) Mendorong berkembangnya usaha peternakan berwawasan bisnis (2) Menghasilkan produk peternakan yang berdaya saing (3) Menghasilkan nilai tambah melalui pengolahan hasil pertanian (4) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak sekaligus mendorong tumbuhnya ekonomi wilayah 6. Sasarannya adalah untuk : (1) Meningkatnya populasi dan produksi ternak

2.

3.

4.

(2) 7.

Meningkatnya kemampuan peternak (manajerial dan teknis) peserta kegiatan dalam mengembangkan usaha kelompoknya

Keluaran yang diharapkan dari kegiatan pengembangan agribisnis peternakan adalah : (1) Meningkatnya usaha kelompok melalui pengembangan usaha agribisnis peternakan (2) Meningkatnya pelayanan yang diberikan oleh kelompok kepada anggotanya (3) Meningkatnya pengetahuan anggota kelompok tentang manajemen pengelolaan usaha kelompok dan masalah teknis peternakan

II.

PELAKSANAAN1. Prinsip Pelaksanaan

Pengelolaan proyek harus memenuhi prinsip pengelolaan yang baik dan transparan. Maka kepada pengelola kegiatan ini, baik yang ada di Dinas Peternakan atau pengelola di Instansi lainnya dan juga kepada Kelompok Ternak, Manajer dan anggota kelompok harus memenuhi prinsip-prinsip dibawah ini : (1) (2) (3) (4) (5) 2. Tetap mematuhi peraturan yang berlaku Menghindarkan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) Melakukan kegiatan dan pengelolaan keuangan secara transparan, sehingga dapat dipertanggungjawabkan kepada publik Semua kegiatan dimaksudkan untuk mencapai tujuan akhir yaitu meningkatkan kesejahteraan peternak sebagai klien dari kegiatan ini Kerjasama dan interaksi yang saling menguntungkan antara Pemerintah dengan peternak

Struktur Organisasi Proyek

Anggaran kegiatan pengembangan agribisnis peternakan merupakan anggaran dekonsentrasi, yang artinya perencanaan dan sumber dana dari Pusat sedangkan pelaksananya adalah Pusat dan Daerah . Mekanisme pelaksanaannya langsung pada kelompok untuk PMUK disamping terdapat anggaran pembinaan bagi pendamping. Struktur organisasi proyek diserahkan kepada masing-masing Propinsi untuk menyusunnya, disesuaikan dengan keadaan masing-masing daerah dan dibentuk seefektif dan seefisien mungkin. Pusat dan Daerah melakukan koordinasi pembinaan dan pendampingan kegiatan di lapangan. Disamping itu diperlukan Tim Teknis untuk membantu Pemimpin Proyek guna kelancaran pencairan, penggunaan dana bantuan yang ditetapkan dengan SK Bupati/Walikota. Jika diperlukan dapat pula dibentuk Tim Monitoring

dan Evaluasi PMUK, terutama untuk melakukan monev pelaksanaan kegiatan dan proses perguliran PMUK. 3. Penetapan Calon Peternak Calon Lokasi (CPCL) Calon Peternak dipilih dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :(1) Kelompok yang sudah ada/berpengalaman dan mempunyai ketrampilan/kemampuan budidaya ternak

(2) (3) (4)

Kelompok berada pada kawasan sentra produksi ternak, tersedia sumberdaya HMT, kemudahan mengakses pelayanan kesehatan hewan dan pelayanan IB, serta sumber informasi yang diperlukan. Setiap kelompok mempunyai sekitar 25-30 anggota/KK Pengadaan dana difokuskan untuk PMUK (Penguatan Modal Usaha Kelompok) dan pengembangan SDM kelompok, serta pengadaan barang/modal untuk kelompok ternak seperti pengadaan ternak, pembuatan/perbaikan kandang, peralatan termasuk peralatan pengolahan hasil peternakan, pelayanan keswan, pelayanan IB, pelatihan-pelatihan, kebutuhan administrasi kelompok, dll yang dipandang diperlukan/dibutuhkan oleh kelompok tersebut.

Penetapan Calon Lokasi diserahkan kepada Daerah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : (1) Merupakan lokasi yang diarahkan pada terbentuknya kawasan usaha dengan komoditas yang diunggulkan, baik lokasi lama maupun lokasi pemekaran (2) Mempunyai potensi untuk dikembangkan, dilihat dari aspek sosial dan ekonomi masyarakatnya. Disarankan untuk melakukan PRA (Participatory Rural Appraisal). (3) Akses pelayanan teknis, informasi dan pasar yang menunjang. 4. Pendampingan Pendampingan pemerintah dalam memfasilitasi proses kegiatan adalah dengan memberi dukungan inisiatif masyarakat, bukan memaksa masyarakat untuk mengikuti kehendak Pemerintah dengan mengedepankan learning process approach melalui pendekatan partisipatif. Nilai dan kode etik yang harus menjadi referensi dalam pendekatan partisipatif adalah kesejahteraan dan kepentingan clients (dalam hal ini peternak). Kepentingan organisasi seringkali hanya bersifat sekunder. Pendampingan dilakukan dengan tujuan pemberdayaan masyarakat yang mempunyai prinsip-prinsip bahwa dana PMUK bukanlah merupakan pembagian hadiah, masyarakat harus mampu melakukan analisa dan membuat perencanaan sendiri, sedangkan peran orang luar hanyalah mendampingi. Tujuan dari

pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan masyarakat yang tidak tergantung pada bantuan, masyarakat yang merasakan memiliki program yang digulirkan (PPA), dan instansi yang tanggap terhadap kebutuhan peternak. Interaksi yang dapat dijalin antara pemerintah sebagai pendamping kegiatan dengan peternak selaku pelaksana kegiatan haruslah : (1) Menjauhi clientelism (menempatkan pemerintah pada posisi superior dan peternak pada posisi inferior) (2) Mengembangkan hubungan yang lebih bersifat kolaboratif atau partnership (kemitraan) (3) Yang terpenting adalah menjaga keseimbangan, karena antara pemerintah dan peternak tidak mungkin bekerja atau melakukan kegiatan yang bertentangan dengan karakteristiknya masingmasing Dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan agribisnis peternakan tetap diperlukan peran pemerintah (Ditjen Bina Produksi Peternakan, Dinas Peternakan Propinsi dan Kabupaten/Kota, BIPP) dan instansi terkait lainnya seperti LSM/NGO dalam memfasilitasi kegiatan tersebut di kelompok tani yang terpilih untuk melakukan kegiatan ini, karena selain ditujukan untuk program pemberdayaan masyarakat peternak, dalam upaya peningkatan pendapatan peternak. Kegiatan ini ditujukan pula untuk mendukung program Pemerintah dalam rangka peningkatan produktifitas dan populasi ternak. Beberapa pendampingan yang dapat dilakukan, baik oleh pihak pemerintah (petugas Dinas Peternakan, PPL dan petugas pendamping lainnya), maupun institusi lain seperti LSM/NGO antara lain adalah : (1) Menentukan kelompok ternak yang memenuhi kriteria sebagai kelompok penerima bantuan kegiatan pengembangan agribisnis peternakan. (2) Memberi pengertian bahwa dana Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK) harus diartikan sebagai pinjaman kelompok kepada Pemerintah, sehingga kelompok harus merasa bahwa dana yang didapatkan merupakan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan dan dikembalikan atau digulirkan kepada yang lain. (3) Melakukan sosialisasi terus menerus tentang kegiatan pengembangan agribisnis peternakan, terutama bagaimana mekanisme pencairan dan pengelolaan dana. (4) (5) (6) (7) Memfasilitasi pelatihan kader, pelatihan manajemen dan teknis lain Memfasilitasi pengadaan sarana penunjang kegiatan (misalnya ternak betina bibit, N2 cair, peralatan IB, pakan, obat, dsb) Memberikan bimbingan teknis dan manajemen yang diperlukan Membantu akses kepada pasar, informasi dan permodalan lain

(8)

Memfasilitasi pertemuan (secara partisipatif) antara kelompok penerima dengan calon kelompok perguliran

III.TATA CARA PENYALURAN DANA Tata cara penyaluran dana, mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Anggaran, Departemen Keuangan, No. 91/A/2002, tanggal 11 Juni 2002, tentang tata Cara Penyaluran Dana Bantuan Langsung Kepada Kelompok Tani (Lampiran-2) Bagian II SE tersebut mengatur hal-hal yang berkaitan dengan penyaluran dan pencairan dana untuk Bantuan Langsung kepada kelompok Tani, sebagai berikut : 1. Penyaluran dana dilakukan melalui Kantor Perbendaharaan dan kas Negara (KPKN) setempat, dengan tata cara Pembayaran langsung (LS) yaitu pemindahbukuan (transfer) dana dari rekening Kas Negara ke rekening Ketua Kelompok Tani pada Kantor Cabang/Unit Bank Penyalur/Kantor Pos Tata Cara penyaluran dana : (a) Ketua Kelompok Tani membuka rekening tabungan pada Kantor Cabang/Unit Bank Penyalur/Kantor Pos terdekat dan memberitahukan kepada Pemimpin Proyek/Bagian Proyek. (b) Ketua Kelompok Tani mengajukan Daftar Kegiatan Kelompok Tani (Lampiran-1 SE) kepada Pemimpin Proyek/Bagian Proyek. (c) Pemimpin Proyek/Bagian Proyek meneliti usulan kegiatan masingmasing Kelompok Tani yang akan dibiayai,