Pbl Sementara SS

download Pbl Sementara SS

of 48

  • date post

    31-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    241
  • download

    5

Embed Size (px)

description

kedokteran

Transcript of Pbl Sementara SS

LAPORAN KELOMPOK PBLMODUL I KULITBLOK INDERA KHUSUS

Disusun oleh :KELOMPOK 6Pembimbing : dr. Rachmat Faisal SyamsuSuyudi Kimiko Putra La Udo110 211 0151Agustin Nurush110 213 0003Nurfi Resni Fitra110 213 0016Siti Hikmaniar Husraini110 213 0028Muhammad Fachreza P. Goma110 213 0042A. Nadiah Nurul Fadilah110 213 0048Zulfa Mahfudzah110 213 0063Ghea Anisah110 213 0057Rizka110 213 0106Adhe Ikhmaynar Putri110 213 0145Ulfah Anggraini Syarief110 215 0160

FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUSLIM INDONESIAMAKASSAR2015

A. SKENARIO Skenario 2Perempuan berusia 29 tahun datang ke poliklinik dengan bintik-bintik merah bersisik pada wajah, punggung dan dada sejak 4 bulan yang lalu. Keluhan disertai gatal dan pasien merasa ingin menggaruk teetapi ringan. Jika beerobat keluhan seembuh tapi kemudian muncul kembali. Gejala semakin berat setelah pasien dipecat dari pekerjaannya dan belum kembali bekerja, sejak 3 bulan terakhir. Pada pemeriksaan fisis ditemukan makula eritema dan skuama agak kasar sebagian halus. Sudah berobat kee puskesmas berulang kali tetapi tidak mengalami perubahan malah semakin banyak dan keluhan seemakin hebat karena penderita stres. Riwayat kakak pasien memiliki keluhan yang sama. Pasien sering merasa nyeri pada sendi-sendi besar.B. KATA SULIT1. Makula : kelainan kulit berbwtas tegas berupa perubahan warna2. Eritema: kemerahan pada kulit yang disebabka pelebaran peembuluh darah kapileryang reversible3. Skuama: lapisan startum korneum yang teerlepasdari kulitFk ui hal. 49-51

C. KATA/KALIMAT KUNCI1. Perempuan, 29 tahun2. Bintik merah bersisik pada wajah, punggung dan dada3. Gatal4. Hasil pemfis: makula eritema dan skuama5. Berobat berulang kali6. Keluhan semakin hebat karena stress7. Riwayat kakak keluhan yang sama8. Nyeri sendi-sendi besar

Analisa Masalah: 1. Mengapa keluhan bertambah setelah stres? Jawab :Patogenesis Stres menyebabkan gatalStres merupakan sebuah terminologi yang sangat populer dalam percakapan sehari-hari. Stres adalah salah satu dampak perubahan sosial dan akibat dari suatu proses modernisasi yang biasanya diikuti oleh proliferasi teknologi, perubahan tatanan hidup serta kompetisi antar individu yang makin berat.[1]Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995)mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.[1]Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3 golongan yaitu:[1]a.Stresor fisikbiologik: dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.b.Stresor psikologis: takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta dan lain-lain.c.Stresor sosial budaya: menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain.Stres dapat mengenai semua orang dan semua usia. Wheaton (1983) membedakan stres akut dan kronik sedangkan Holmes dan Rahe (1967) menekankan pembagian pada jumlah stres(total amount of change)yang dialami individu yang sangat berpengaruh terhadap efek psikologiknya. Ross dan Viowsky (1979) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa bukan jumlah stres maupun beratnya stres yang mempunyai efek psikologik menonjol akan tetapi apakah stres tersebut diinginkan atau tidak diinginkan (undesirable) yang mempunyai potensi besar dalam menimbulkan efek psikologik. Stres baik ringan, sedang maupun berat dapat menimbulkan perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku.[1]Stresor pertama kali ditampung oleh pancaindera dan diteruskan ke pusat emosi yang terletak di sistem saraf pusat. Dari sini, stres akan dialirkan ke organ tubuh melalui saraf otonom. Organ yang antara lain dialiri stres adalah kelenjar hormon dan terjadilah perubahan keseimbangan hormon, yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan fungsional berbagai organ target. Beberapa peneliti membuktikan stres telah menyebabkan perubahan neurotransmitter neurohormonal melalui berbagai aksis seperti HPA(Hypothalamic-Pituitary Adrenal Axis), HPT(Hypothalamic-Pituitary-Thyroid Axis)dan HPO(Hypothalamic-Pituitary-Ovarial Axis).HPA merupakan teori mekanisme yang paling banyak diteliti.[1]Aksislimbic-hypothalamo-pitutary-adrenal(LHPA) menerima berbagaiinput, termasuk stresor yang akan mempengaruhi neuron bagian medialparvocellular nucleus paraventricular hypothalamus(mpPVN). Neuron tersebut akan mensintesiscorticotropin releasing hormone(CRH) danarginine vasopressin(AVP), yang akan melewati sistem portal untuk dibawa ke hipofisis anterior. Reseptor CRH dan AVP akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensintesisadrenocorticotropin hormon(ACTH) dari prekursornya, POMC (propiomelanocortin)serta mengsekresikannya. Kemudian ACTH mengaktifkan proses biosintesis dan melepaskan glukokortikoid dari korteks adrenal kortison pada roden dan kortisol pada primata. Steroid tersebut memiliki banyak fungsi yang diperantarai reseptor penting yang mempengaruhi ekspresi gen dan regulasi tubuh secara umum serta menyiapkan energi dan perubahan metabolik yang diperlukan organisme untuk prosescopingterhadap stresor.[1]Pada kondisi stres, aksis LHPA meningkat dan glukokortikoid disekresikan walaupun kemudian kadarnya kembali normal melalui mekanisme umpan balik negatif. Peningkatan glukokortikoid umumnya disertai penurunan kadar androgen dan estrogen. Karena glukokortikoid dan steroid gonadal melawan efek fungsi imun, stres pertama akan menyebabkan baik imunodepresi (melalui peningkatan kadar glukokortikoid) maupun imunostimulasi (dengan menurunkan kadar steoid gonadal). Karena rasio estrogen androgen berubah maka stres menyebabkan efek yang berbeda pada wanita dibanding pria. Pada penelitian binatang percobaan, stres menstimulasi respon imun pada betina tetapi justru menghambat respon tersebut pada jantan. Suatu penelitian menggunakan 63 tikus menunjukkan kadar testosteron serum meningkat bermakna dan berahi betina terhadap pejantan menurun.[1]Peningkatan stimulasi respon imun dapat meningkatkan sensitivitas respon imun. Hal ini menyebabkan sistem imun akan bekerja secara berlebihan dan melepaskan mediator inflamasi secara berlebihan pula.Mediator inflamasi klasik, antara lain prostaglandin, bradikinin, leukotrien, serotonin, pH yang rendah dan substansi P, dapat mensensitisasi nosiseptor secara kimiawi. Mediator inflamasi tersebut menurunkan ambang rangsang reseptor terhadap mediator lain seperti histamin dan capsaicin, sebagai akibatnya terjadi induksi rasa gatal.[2]Aktivitas nosiseptor kimia pada penderita gatal kronis menimbulkan sensitisasi sentral sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap rasa gatal. Terdapat dua tipe peningkatan sensitivitas terhadap rasa gatal, salah satunya adalah aloknesis yang analog dengan alodinia terhadap rangsang nyeri. Alodinia artinya rabaan atau tekanan ringan yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan rasa nyeri oleh penderita dirasakan nyeri, sedangkan aloknesis adalah rabaan atau tekanan ringan yang dalam keadaan normal tidak menimbulkan rasa gatal oleh penderita dirasakan gatal. Aloknesis sering dijumpai, bahkan pada penderita dermatitis atopik aloknesis merupakan gejala utama. Aloknesis dapat menerangkan keluhan rasa gatal yang berhubungan dengan berkeringat, perubahan suhu mendadak, serta memakai dan melepas pakaian. Seperti halnya alodinia,fenomena ini memerlukan aktivitas sel saraf yang terus berlangsung(ongoing activity).[2]Referensi:1) Gunawan B, Sumadiono. Stress dan sistem imun tubuh: suatu pendekatan psikoneuroimunologi. [Online]. 2007 [cited 2012 March 29; 4 screens].Available from:URL:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/154_08_Stresimunitastubuh.pdf/154_08_Stresimunitastubuh.html2) Elvina PA. Hubungan rasa gatal dan nyeri. [Online]. 2011 May-June [cited 2012 March 29; 2 screens].Available from:URL:http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/09_185Hubunganrasagatal.pdf/09_185Hubunganrasagatal.pdf

2. Apa yang menyebabkan bintik-bintik merah bersisik pada wajah, punggung, dada? Pada penyelidikan ternyata hampir 80% tidak diketahui penyebabnya. Diduga penyebab bercak-bercak merah bermacam-macam, antara lain: a. ObatBermacam-macam obat dapat menimbulkan bercak-bercak merah, baiksecaraimunologikmaupun non-imunologik. Obatsistemik (penisilin, sepalosporin, dandiuretik) menimbulkan bercak-bercak merah secara imunologik tipe I atau II.Sedangkan obat yang secara non-imunologik langsung merangsang sel mast untuk melepaskan histamin, misalnya opium dan zat kontras. Ada juga obat yang umumnya dapat menyebabkan residif ialah beta-adrenergic blocking agents, litium, antimalaria, dan penghentian medadak kortikosteroid sistemik. Karena kortikosteroid merupakan obat bermata dua. Pada permulaan, kortikosteroid dapat menyembuhkan psoriasis, tetapi apabila obat ini dihentikan, penyakit akan kambuh kembali, bahkan lebih berat daripada sebelumnya menjadi psoriasis pustulosa atau generalisata. Erupsi obat Erupsi obat alergi atau allergic drug eruption ialah reaksi alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat dengan cara sistemik. Pada pemeriksaan fisik, hampir di seluruh tubuh tampak papul eritematous diskret. Pengobatannya dengan terapi sistemik berupa kortikosteroid dan antihistamin dan topikal.b. MakananPeranan makanan ternyata lebih penting, umumnya akibat reaksi imunologik. Makanan yang sering menimbulkan bercak-bercak merah adalah telur, ikan, kacang, udang, coklat, tomat, arbei, babi, keju, bawang, vetsin.

c. Gigitan atau sengatan seranggaGigitan atau sengatan serangga dapat menimbulkan bercak-bercak merah setempat, hal ini lebih banyak diperantarai oleh IgE (tipe I) dan tipe seluler (tipe IV).d. Bahan fotosenzitiserBahan semacam ini, misalnya griseofulvin, fenotiazin, sulfonamid, bahankosmetik, dan sabungermisid sering menimbulkanbercak-bercak merah.e. Inhalan Inhalan berupa serbuk sari