PBL S3 Muskulo

download

of 9

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents
  • view

    37
  • download

    1

Embed Size (px)

transcript

Farah Eryanda1102011097Skenario 3-Nyeri dipanggul karena jatuh1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Regio Femur dan articulatio coxaeA. Anatomi MakroskopisKaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber, yaitu a. sirkumfleksia femoralis medialis, a. sirkumfleksa femoralis lateralis dan a. abturator.Arteri sirkumfleksa femoralis lateralis menghidupi arteri metafisis inferior melalui cabang ascendens dan menyuplai sebagian besar aspek inferoanterior kaput femur.Kontributor terbesar aliran darah ke kaput femur adalah a. sirkumfleksa femoralis medialis, cabang-cabang terminalnya terletak intrakapsuler sehingga disrupsi atau distorsinya akibat pergeseran fraktur kolum femur berperan terhadap terjadinya osteonekrosis.

B. Kinesiologi Art. Coxae

T Tulangpenyusun : tulang antara caput femoris dan acetabulumJenis sendi : Enarthrosis spheroidea (ball and socket)Penguat sendi : Tulang rawan pada facies lunata Lig. iliofemorale : mempertahankan art. coxae tetap ekstensi, menghambat rotasi femur, mencegah batang badan berputar ke belakang pada waktu berdiri sehingga mengurangi kebutuhan kontraksi otot untuk mempertahankan posisi tegak. Lig. ischiofemorale : mencegah rotasi interna Lig. pubofemorale : mencegah abduksi, ekstensi dan rotasi externa Lig. transversum acetabuli dan Ligamentum capitisfemoris

Gerak sendi : Fleksi : M.iliopsoas, M.pectineus, M.rectus femoris, M.adductor longus, M.adductor brevis, M.adductor magnus pars anterior tensor fasciae latae. Ekstensi : M.gluteus maximus, M.semitendinosis, M.semimembranosus, M.biceps femoris caput longum, M.adductor magnus pars posterior. Abduksi : M.gluteus medius, M.gluteus minimus, M.piriformis, M.sartorius, M.tensor fasciae latae. Adduksi : M.adductor magnus, M.adductor longus, M.adductor brevis, M.gracilis, M.pectineus, M.obturator externus, M.quadratus femoris. Rotasi medialis : M.gluteus medius, M.gluteus minimus, M.tensor fasciae latae, M.adductor magnus (pars posterior). Rotasi lateralis : M.piriformis, M.obturator internus, Mm.gamelli, M.obturator Externus, M.quadratus femoris, M.gluteus maximus dan Mm.adductores.

C. Anatomi MikroskopisPenampang tulang memanjang dan melintang

Tahap pembentukan tulang :1. Tahap pembentukan hematomDalam 24 jam pertama terbentuk bekuan darah dan fibrin yang masuk ke area fraktur. Suplasi darah meningkat, terbentuk hematom yang akan berkembang menjadi jaringan granulasi sampai hari ke lima.

2. Tahap proliferasiTerbentuk benang-benang fibrin dalam hematom, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast yang akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada fragmen tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrosa dan tulang rawan.

3. Tahap pembentukan kalus

Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah terhubungkan. Fragmen tulang digabungkan oleh jaringan fibrosa, tulang rawan dan tulang serat immatur, diperlukan 3-4 minggu agar fragmen tulang bergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrosa.

4. OsifikasiKalus mengalami penulangan dalam 2-3 minggu pasca fraktur melalui proses penulangan endokondral. Mineral terus-menerus ditimbun sampai tulang benar-benar bersatu dalam kurun waktu 3-4 bulan.kiri : kalsifikasi tulangkanan : mineral terus ditimbun setelah tulang bersatu

5. RemodellingDilakukan dengan pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya oleh osteoklas.

2. Memahami dan Menjelaskan FrakturA. DefinisiFraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau tulang rawan sendi. Umumnya lebih dikenal dengan patah tulang.B. Etiologi TraumaTrauma seperti jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, kecelakaan domestik dan cedera olah raga. Langsung : Benturan langsung menghantam tulang dan mengakibatkan fraktur di lokasi tersebut. Tidak langsung : Terjadi apabila titik tumpu benturan dengan lokasi fraktur berjauhan. Fraktur karena keletihan, patah tulang karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi, seperti karena berjalan kaki terlalu jauh. PatologisFraktur disebabkan oleh proses penyakit seperti : osteogenesis imperfecta, osteoporosis, penyakit metabolik atau penyakit-penyakit lain seperti infeksi tulang dan tumor tulang.C. Klasifikasi Garis fraktur tulang : Komplit : garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang. Inkomplet : garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti Hairline fracture : patahan seperti retak rambut Buckle fracture atau torus fracture : terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa dibawahnya. Fraktur ini umumnya terjadi pada distal radius anak-anak. Greenstick fracture : fraktur tungkai dahan muda. Mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak. Bentuk garis fraktur dan hubungannya dengan mekanisme trauma Garis patah melintang ; trauma angulasi atau langsung Garis patah oblique ; trauma angulasi Garis patah spiral ; trauma rotasi Fraktur kompresi ; trauma axial-flexi pada tulang spongiosa Fraktur avulsi ; trauma traksi (tarikan) otot atau tendon pada tulang, misalnya : fraktur patella. Jumlah garis fraktur Fraktur kominutif : garis fraktur lebih dari satu dan saling berhubungan. Fraktur segmental : garis fraktur lebih dari satu tapi tidak berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal. Fraktur Butterfly (kupu-kupu) : Fraktur multipel : garis fraktur lebih dari satu tapi pada tulang yang berlainan tempatnya, contoh : fraktur femur, fraktur cruris dan fraktur tulang belakang. Displaced-Undisplaced (Bergeser-Tidak bergeser) Fraktur Undisplaced (Tidak bergeser)Garis fraktur komplit tapi kedua fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh. Fraktur displaced (Bergeser)Terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga disebut dislokasi fragmen. Dislokasi ad latitudinem : pergeseran ke arah lintang (bergeser ke arah berlawanan) Dislokasi ad longitudinam cum contractionum : pergeseran searah sumbu dan overlapping Dislokasi ad axim : pergeseran yang membentuk sudut Dislokasi ad latus : pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi Dislokasi ad peripheram : bergeser akibat rotasi, pergeseran ke poros yang saling berlawanan. Hubungan fraktur tulang dengan dunia luar Fraktur tertutupBila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit. Fraktur terbukaBila terdapat luka yang menghubungkan fraktur langsung dengan udara luar atau permukaan kulit. Fraktur potensial terbukaBila terdapat luka melalui kulit dan subkutis tetapi fascia masih utuh. Fraktur impaksi : fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

3. Memahami dan Menjelaskan Fraktur Kolum FemurA. DefinisiAdalah fraktur intrakapsuler yang terjadi di femur proksimal pada daerah yang berawal dari distal permukaan artikuler caput femur hingga berakhir di proksimal daerah intertrokanter.

B. Etiologi Trauma langsung dan tidak langsung Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma Gaya meremuk Gerakan puntir mendadak Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit Faktor risiko Usia : fraktur kolum femoris lebih sering terjadi pada orang dengan lanjut usia Jenis kelamin : perempuan berisiko 10 kali lebih besar daripada laki-laki Kondisi tulang Sudut inklinasi : yaitu sudut antara aksis collum femoris dan aksis corpus femoris. Sudut inklinasi yang normal kurang lebih 126 derajat. Bila sudut lebih kecil (coxa vare) maka akan lebih sering terjadi fraktur collum femoris dibandingkan pada sudut yang lebih besar (coxa volga)

C. PatofisiologiKesalahan pelatihan adalah faktor-faktor risiko yang paling umum untuk patah tulang leher femur, termasuk peningkatan mendadak dalam jumlah atau intensitas pelatihan dan pengenalan aktivitas baru.Faktor lainnya yaitu kepadatan tulang yang rendah, komposisi tubuh normal, kekurangan makanan, kelainan biomekanik, dan ketidak teraturan menstruasi. Faktor predisposisi, seperti variasi anatomi, osteopenia relatif, kondisi fisik yang buruk, kondisi medis sistemik(demineralisasi tulang), atau tidak aktif sementara, dapat membuat tulang lebih rentan terhadap patah tulang stres. Perempuan cenderung untuk mengarahkan gaya aksial pada bantalan berat di sepanjang sumbu yang berbeda dari tulang panjang dibandingkan dengan pria.Perempuan juga memiliki massa otot