PBL Blok 6 Kejang2

download PBL Blok 6 Kejang2

of 25

  • date post

    24-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    21
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of PBL Blok 6 Kejang2

Seorang anak usia 6 tahun menderita kejang-kejang

Adatya Stevani P Putuhena102010253E - 6Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaAlamat korespondensi : Jln. Tanjung Duren Timur III, Jakarta Barat

Pendahuluan Jaringan saraf merupakan salah satu jaringan dasar pembentuk tubuh manusia yang mengatur seluruh aspek yang berkaitan dengan fungsi-fungsi tubuh yang diperlukan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Melalui jaringan saraf kita dapat melakukan berbagai aktivitas yang tak terhingga banyaknya mulai dari yang paling sederhana seperti membuka mata hingga proses yang sangat kompleks seperti proses penalaran, analisa dan sintesa maupun membuat kesimpulan dan memutuskan suatu masalah.. Daerah tempat fungsi-fungsi tersebut berada adalah korteks serebri. Dengan adanya sistem saraf pula kita dapat menggerakkan otot, merangsang kelenjar untuk bersekresi, dan mempengaruhi kerja sistem endokrin sehingga keseimbangan homeostasis badan kita dapat tercapai. Rusaknya jaringan saraf di bagian tubuh tertentu akibat suatu penyakit akan mengakibatkan terganggunya fungsi bagian tubuh tersebut. Rusaknya sel-sel saraf di medula spinalis dapat berakibat kejang akan mengakibatkan tanda-tanda infeksi pada lumbal punksi. KejangKejang mencerminkan gangguan sistem saraf yang terjadi akibat lepas muatan listrik abnormal, mendadak, dan berlebihan. Pada keadaan kejang, aliran darah ke otak dapat terganggu. Kejang yang terjadi pada kenaikan suhu badan (suhu rektal di atas 38 derajat Celsius) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kenaikan suhu badan 1 derajat Celsius akan menyebabkan peninggian metabolisme basal sebanyak 10-15% serta peningkatan keperluan O2 sebanyak 20%. Sirkulasi darah otak anak 65% dari seluruh tubuhnya sedangkan pada orang dewasa hanya 15%. Kejang yang lama akan menyebabkan iskemia otak sehingga neuron-neuron korteks serebrum, serebelum, talamus, amigdala dan hipokampus akan mengalami kerusakan yang diikuti poliferasi sel-sel neuroglia. Kejang mempunyai insidens yang tinggi pada anak, yaitu 3-4%. Kejang biasanya singkat, dan berhenti sendiri. Biasanya kejang timbul dalam 24 jam setelah naiknya suhu badan akibat infeksi di luar susunan saraf pusat.1Mekanisme kejangCairan serebrospinalis dibentuk terutama oleh plekus koroideus yang ditemukan didaerah-daerah tertentu rongga ventrikel otak. Pleksus koroideus terdiri dari massa jaringan pia meter seperti kembang kol yang kaya akan pembuluh darah yang masuk ke dalam kantung-kantung yang dibentuk oleh sel-sel ependimal. Setelah terbentuk, CSS mengalir melalui empat ventrikel yang saling berhubungan di dalam bagian interior otak dan kanalis sentralis korda spinalis yang sempit, yang berhubungan dengan ventrikel terakhir. Cairan serebrospinalis keluar melalui lubang-lubang kecil dari ventrikel keempat di dasar otak memasuki ruang subaraknoid dan akhirnya mengalir diantara lapisan-lapisan menings di seluruh permukaan otak dan korda spinalis. Sewaktu mencapai bagian atas otak, SSP direabsorpsi dari ruang subaraknoid ke dalam darah vena melalui vilus araknoidalis.Aliran CSS melalui system ini dipermudah oleh factor-faktor sirkulasi dan postural yang menimbulkan tekanan SSP sebesar 10 mmHg. Penurunan tekanan akibat pengeluaran hanya beberapa milliliter (ml) CSS selama pungsi lumbal untuk analisis laboratorium dapat menimbulkan nyeri kepala hebat.Melalui proses pembentukan, sirkulasi, dan reabsorpsi yang terus menerus, seluruh volume CSS yang sekitar 125 sampai 150 ml digantikan lebih dari tiga kali sehari. Hidrosefalus (air di dalam otak) terjadi apabila salah satu dari proses-proses tersebut terganggu sehingga penimbunan CSS yang berlebihan. Peningkatan tekanan CS yang terjadi dapat menimbulkan kerusakan otak dan menyebabkan retardasi mental apabila tidak terapi. Terapi berupa pembuatan pirau (shunt) secara bedah untuk mengalirkan kelebihan CSS ke vena lain ditubuh.Densitas CSS hampir serupa dengan densitas otak itu sendiri, sehingga pada dasarnya otak terapung didalam lingkungan cair yang khusus ini . fungsi utama CSS adalah sebagai cairan peredam getaran (shock-absorbing atau bantalan) untuk mencegah otak membentur bagian dalam tengkorak sewaktu kepala mendapat gerakan yang mendadak dan menggetarkan.Selain melindungi otak yang lembut tersebut dari trauma mekanis, CSS melaksanakan peran penting yang berkaitan dengan pertukaran bahan antara cairan tubuh dan otak. Di semua jaringan tubuh, ruang antara sel-sel diisi oleh sejenis cairan ekstrasel yang dikenal sebagai cairan iterstisium. Yang berkontak langsung dengan neuron dan sel-sel glia adalah cairan intestisium otak dan bukan plasma darah atau CSS. Karena cairan interstisium otak secara langsung membasahi sel-sel saraf, komposisinya sangat penting. Komposisi cairan interstisium otak lebih di pengaruhi oleh perubahan dalam plasma darah karena antara ciran interstisium otak lebih dipengaruhi oleh perubahan dalam komposisi CSS dari pada oleh perubahan dalam plasma darah karena antara cairan interstisium otak dan CSS terjadi pertukaran zat yang cukup bebas sedangkan antara cairan iterstisium otak dan darah hanya terjadi pertukaran yang terbatas. Dengan demikian komposisi CSS perlu diatur dalam rentang yang sempit.Cairan serebrospinalis dibentuk memalui mekanisme transportasi selektif melintasi membrane pleksus koroideus. Komposisi CSS berbeda dari komposisi plasma. Sebagai contoh, CSS memiliki kadak K+ lebih rendah dari NA+ lebih tinggi, sehingga CSS merupakan lingkungan yang ideal untuk perpindahan ion-ion tersebu menurut garadien konsentrasi suatu proses yang penting untuk hantaran implus saraf. 2 Tiap neuron yang aktif melepaskan muatan listriknya. Fenomena elektrik ini adalah wajar. Manifestasi biologiknya ialah merupaka gerak otot atau suatu modalitas sensorik, tergantung dari neuron kortikal mana yang melepaskan muatan listriknya. Bilamana neuron somatosensorik yang melepaskan muatannya, timbulah perasaan protopatik atau propireseptif. Demikian pula akan timbul perasaan panca indera apabila neuron daerah korteks pancaindera melepaskan muatan listriknya.Secara fisiologi, suatu kejang merupakan akibat dari serangan muatan listrik terhadap neuron yang rentan didaerah focus epileeptogenik. Diketahui bawha neuron-neuron ini sangat peka dan untuk alasan yang belum jelas tetap berada dalam keadaan terdepolarisasi. Neuron-neuron disekitar focus epilogenetik bersifat GABA-nergik dan hiperpolarisasi, yang menghambat neuron epileptogenik. Pada suatu saat ketika neuron-neuron epileptogenik melebihi pengaruh penghambat di sekitarnya, menyebar ke struktur korteks sekitarnya dan kemudian ke subkortikal dan struktur batang otak.3Dalam keadaan fisiologik neuron melepaskan muatan listriknya oleh karena potensial membrannya direndahkan oleh potensial postsinaptik yang tiba pada dendrite. Pada keadaan patologik gayang yang bersifat mekanik atau toksik dapat menurunkan potensial membrane neuron, sehingga neuron melepaskan muatan listriknya dan terjadi kejang.4Meskipun mekanisme kejang yang tepat belum diketahui, tampak ada beberapa factor fisiologi yang menyebabkan perkembangan kejang. Untuk memulai kejang, harus ada kelompok neuron yang mampu menimbulkan ledakan discharge (rabas) yang berarti dan system hamabatan GABA-nergik. Perjalanan discharge (rabas) kejang akhirnya tergantung pada eksitasi sinaps glutamaterik. Bukti baru-baru ini menunjukkan bahwa eksitasi neurotransmitter asam amini (glutamate,aspartat) dapat memainkan peran dalam menghasilkan eksitasi neuron dengan bekerja pad reseptor sel tertentu. Diketahui bahwa kejang dapat berasal dari derah kematian neuron dan bahwa daerah otak ini dapat meningkatkan perkembangan sinaps hipereksitable baru yang dapat menimbulkan kejang. Misalnya, lesi pada lobus temporalis (termasuk glioma tumbuh lambat, hematoma, gliosis dan malformasi anteriovenosus) menyebabkan kejang. Dan bila jaringan abnormal diambil cara bedah, kejang mungkin berhenti. Lebih lanjut konvulsi dapat ditimbulkan pada binatang percobaan dengan fenomena membangkitkan. Pada model ini, stimulasi otak subkonvulsif menyeluruh. Pembangkitan dapat menyebabkan terjadinya epilepsy pada manusia pascacedera otak. Pada manusia telah diduga bahwa aktivitas kejang berulang dari lobus temporalis normal kontralateral dengan pemindahan stimulus melalui korpus kollusum.5

Selaput otakSerabut saraf yang bergerak ked an dari berbagai bagian otak dikelompokan menjadi berkas-berkas aluran tertentu dalam sumsum tulang belakang.Pia mater yang menyelipkan dirinya ke dalam celah yang ada pada otak dan sumsum tulang belakang, dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat tadi menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.Araknoid merupakan selaput halus yang memisahkan pia mater dari dura mater.Dura mater yang padat dank eras, terdiri atas dua lapisan. Lapisan luar yang melapisi tengkorak, dan lapisan dalam yang bersatu dengan lapisan luar, kecil pada bagian tertentu, tempat sinus venus terbentuk, dan tempat dura mater membentuk bagian-bagian berikut : falks serebri yang terletak di antara kedua hemisfer otak. Tepi atas falks serebri membentuk sinus longitudinalis superior atau sinus sagitalis superior yang menerima darah ceba dari otak, dan tepi bawah falks serebri membentuk sinus longitudinalis inferior atau sinus sagitalis inferior yang menyalurkan darah keluar falks serebri. Tentorium serebeli memisahkan serebelum dari serebrum.Diagfragma selae adalah sebuah lipatan berupa cincin dalam dura mater dan yang menutupi sela tursika, yaitu sebuah lekukan pada tulang sphenoid yang berisi hipofisis.6

Medula spinalisKorda jaringan saraf yang terbungkus dalam kolumna vertebra yang memanjang dari medulla batang otak sampai ke area vertebra lumbal pertama disebut medulla spinalis.Bagian-bagian dari spinal cord, yaitu:1) Bagian tengkuk yang disebut saraf C (cervical), merupakan spinal cord yang berada di bagian leher dan berfungsi dalam pergerakan tangan, leher dan tubuh bagian atas.2) Bagian dada ya