Pbl Blok 23

download Pbl Blok 23

of 21

  • date post

    20-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    46
  • download

    8

Embed Size (px)

description

PBL 23

Transcript of Pbl Blok 23

Diagnosis dan Penatalaksanaan pada Otitis Eksterna MalignaEUNIKE102010203Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

Pendahuluan Telinga terdiri dari 3 bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Masing-masing bagian memiliki fungsi yang berbeda namun akan saling berhubungan untuk satu mekanisme yaitu sebagai alat pendengaran. Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. Faktor yang mempermudah radang telinga luar adalah perubahan pH di liang telinga yang biasanya normal atau asam. Bila pH menjadi basa, proteksi terhadap infeksi menurun. Pada keadaan udara yang hangat dan lembab, kuman dan jamur mudah tumbuh. Predisposisi otitis eksterna yang lain adalah trauma ringan ketika mengorek telinga.1Otitis eksterna dibagi menjadi otitis eksterna akut, kronis, dan maligna. Otitis eksterna maligna merupakan infeksi yang disertai dengan gangguan di jaringan sekitarnya yaitu lapisan subkutis, tulang, dan tulang rawan.2Tujuan penulisan makalah ini adalah agar para pembaca dapat mengetahui tentang penyakit otitis eksterna maligna dan cara menanganinya. Anamnesis Pada setiap pemeriksaan harus diawali dengan anamnesis atau tanya jawab dengan pasien, agar dapat mengetahui keluhan apa yang sedang dirasakan oleh pasien. Hal ini sangat membantu untuk mengetahui penyakit pasien selain dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang terarah diperlukan untuk menggali lebih dalam dan lebih luas keluhan utama pasien. Keluhan utama telinga dapat berupa:3Alamat Korespondensi : Universitas Kristen Krida Wacana Fakultas Kedokteran (Kampus II) Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat ; Website : www.ukrida.ac.id ; NIM : 102010203; Email : eunikeharnadi@gmail.com1. Gangguan pendengaran/pekak (tuli),2. Suara berdenging/berdengung (tinnitus),3. Rasa pusing yang berputar (vertigo),4. Rasa nyeri di dalam telinga (otalgia), dan5. Keluar cairan dari telinga (otore).

Beberapa hal yang dapat ditanyakan pada pasien dengan keluhan pada telinga:1. Keluhan utama pasien2. Apakah ada nyeri telinga?3. Apakah ada cairan dari telinga?4. Adakah telingan berbunyi?5. Adakah gangguan pendengaran? Jika ada apakah tiba-tiba atau perlahan?6. Apakah ada trauma kepala sebelumnya?7. Apakah meminum obat yang bersifat ototoksik?8. Apakah bekerja di lingkungan bising?9. Apakah berhubungan dengan usia?10. Apakah ada perasaan berputar (vertigo)? 11. Riwayat penyakit dahulu (diabetes mellitus, hipertensi).12. Riwayat penyakit keluarga.Pemeriksaan Fisik3,4Untuk pemeriksaan telinga, alat yang diperlukan adalah lampu kepala, corong telinga, otoskop, pelilit kapas, pengait serumen, pinset telinga, dan garputala. Pada pemeriksaan ini pasien diminta untuk duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membran timpani. 1. Pemeriksaan daun telinga dan bagian-bagiannya:a. Lakukan inspeksi pada setiap daun telinga (kanan dan kiri) dan bagian-bagiannya, apakah terdapat deformitas, benjolan, atau lesi kulit. Deformitas dapat ditemukan apabila terdapat trauma. Benjolan yang dijumpai pada saat inspeksi dapat berupa keloid, kista, basal cell carcinoma, tophi.b. Lihat kesimetrisan kedua daun telinga.c. Lihat apakah ada Battles sign pada bagian belakang telinga, yaitu suatu kondisi dimana terdapat echymosis pada tulang mastoid dan merupakan indikator adanya fraktur pada basis cranii. d. Apabila terdapat nyeri pada telinga, adanya discharge atau proses inflamasi maka lakukan pemeriksaan dengan cara menggerakan daun telinga secara lembut ke atas dan ke bawah (tug test) serta berikan tekanan lembut pada bagian belakang telinga dari atas ke bawah. Saat dilakukan tug test akan dijumpai adanya rasa nyeri pada kondisi Otitis Eksterna Akut (inflamasi pada kanal auditorius) namun tidak pada kondisi Otitis Media.2. Pemeriksaan kanal auditorius dan membran timpani:a. Lakukan pemeriksaan dengan menggunakan otoskop. Pada kondisi otitis eksterna akut dapat dijumpai tanda inflamasi pada kanal auditorius berupa adanya pembengkakan, penyempitan, lembab, dan tampak pucat atau bahkan kemerahan. Pada otitis eksterna kronis permukaan kulit pada kanal auditorius tampak menebal, merah, dan terasa gatal.b. Periksa ada tidaknya serumen (warna, konsistensinya), benda asing, discharge, kemerahan, dan atau edema.c. Inspeksi membran timpani, perhatikan dan catat warna dan konturnya (ada tidaknya perforasi, sklerosis). Warna normal pada membran timpani adalah merah muda keabu-abuan. Pada otitis media akut purulenta dapat dijumpai warna merah membesar pada membran timpani yang disertai adanya pengeluaran cairan. Pada kondisi sklerosis maka akan dijumpai area pada membran timpani yang berwarna keputihan dengan batas tidak rata. Perhatikan gambar 1.

Gambar 1. Membran Timpani Normal Telinga Kanan (sumber: http://otitismedia.hawkelibrary.com/normal/tm_2)3. Tes pendengaran sederhana/klasik (tes alorji, tes berbisik, tes garpu tala):a. Berfungsi untuk menentukan derajat ketulian secara kasar.b. Lakukan pemeriksaan dalam kondisi ruangan yang betul-betul tenang.c. Pemeriksaan dilakukan dari jarak 1-2 feet = 30,5-61 cm = 0,3-0,6 .d. Pada tes berbisik: Semi kuantitatif. Lakukan pemeriksaan dari samping. Tutup telinga lain yang belum diperiksa dengan jari dan pastikan pasien tidak membaca gerakan bibir pemeriksa. Gunakan angka atau kata yang tediri dari 2 suku kata yang beraksen sama tiga-lima, bola-bata, dan seterusnya. Minta pasien untuk mengulangi kata atau angka yang telah disebutkan.e. Tes garputala: Semi kualitatif. Menggunakan garpu tala yang memiliki frekuensi 512 Hz, diletakkan pada tulang mastoid telinga yang diperiksa selama 2-3 detik, kemudian dipindahkan ke depan liang telinga selama 2-3 detik. Pasien menentukan mana yang terdengar lebih keras. Jika bunyi terdengar lebih keras bila garputala diletakkan di depan liang telinga berarti telinga yang diperiksa normal atau menderita tuli sensorineural (rinne +). Bila bunyi yang terdengar lebih keras di tulang mastoid, maka telinga yang diperiksa menderita tuli konduktif (rinne-). Tes rinne, membandingkan hantaran tulang (BC) dengan hantaran udara (AC) pada telinga yang diperiksa. Perhatikan gambar 2.

Gambar 2. Tes Rinne (sumber: http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK%20TELINGA_NEW.pdf) Tes weber, membandingkan hantaran tulang telinga kiri dengan telinga kanan. Ditanyakan pada telinga mana yang terdengar lebih keras. Pada keadaan normal pasien mendengar suara di tengah atau tidak dapat membedakan telinga mana yang terdengar lebih keras. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga sehat (lateralisasi ke telinga sehat) berarti telinga yang sakit mengalami tuli sensorineural. Bila pasien mendengar lebih keras pada telinga yang sakit (lateralisasi ke telinga yang sakit) berarti telinga yang sakit mengalami tuli konduktif. Perhatikan gambar 3.

Gambar 3. Tes Weber (sumber: http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP_PEMERIKSAAN%20FISIK%20TELINGA_NEW.pdf) Tes schwabach, membandingkan hantaran tulang telinga orang yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal.Pemeriksaan PenunjangUntuk memastikan suatu diagnosis selain dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, harus dilakukan pemeriksaan penunjang untuk membantu menegakkan diagnosis penyakit tersebut. Beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk penyakit otitis eksterna adalah:51. Jumlah leukosit, biasanya normal atau sedikit meningkat.2. Laju endap darah (LED), dapat meningkat pada otitis eksternal akut, dan menetap pada keganasan telinga.3. Kimia darah, pada pasien dengan diabetes perlu dilakukan pemeriksaan ini untuk menentukan intoleransi glukosa basal, sedangkan pada pasien tanpa riwayat diabetes perlu diperiksa toleransi glukosanya.4. Kultur dan tes sensitivitas dari liang telinga. Kultur dari drainase telinga perlu dilakukan sebelum pemberian antibiotik. Organisme penyebab utama otitis eksterna maligna adalah Pseudomonas aeruginosa (95%), merupakan organisme anaerobik, gram negatif, mempunyai lapisan mukoid untuk fagositosis, eksotoksin dapat menyebabkan nekrosis jaringan, dan beberapa strain menghasilkan neurotoksin yang menyebabkan neuropati kranial.5. Radiologi, pemeriksaan ini penting untuk menentukan adanya osteomielitis, perluasan penyakit, dan respon terapi. CT-scan dan MRI, keduanya berguna untuk memeriksa perluasan inflamasi terhadap anatomi jaringan lunak, pembentukan abses, dan komplikasi intrakranial.Diagnosis Banding 1. Herpes zoster otikus, adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Virus ini menyerang satu atau lebih dermatom saraf kranial. Dapat mengenai saraf trigeminus, ganglion genikulatum, dan radiks servikalis bagian atas. Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsay Hunt. Tampak lesi kulit vesikuler pada kulit di daerah muka sekitar liang telinga, otalgia, dan terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada keadaan berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensorineural.12. Otitis media supuratif kronik (OMSK), adalah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kentalm bening atau berupa nanah. Otitis media akut (OMA) dengan perforasi membran timpani menjadi OMSK apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, disebut otitis media supuratif subakut. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK adalah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau higiene buruk.OMSK dapat dibagi menjadi 2 jenis, yaitu OMSK tipe aman (tipe mukosa) dan OMSK tipe bahaya (tipe tulang). Proses peradangan OMSK tipe aman terbatas pada mukosa saja, dan biasanya tidak mengenai tulang, umumnya tidak menimbulkan komplikasi yang berbahaya dan tidak terdapat kolesteatom