PBL BLOK 22

download PBL BLOK 22

of 31

  • date post

    13-Oct-2015
  • Category

    Documents

  • view

    68
  • download

    0

Embed Size (px)

description

pbl untuk blok 22

Transcript of PBL BLOK 22

Stroke Iskemik pada Lansia

Eifraimdio Paisthalozie10-2011-384Kelompok E7

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaAlamat Korespondensi :Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510No. Telp (021) 5694-2061, e-mail : eternaldoom_10@yahoo.co.idTahun Ajaran 2011/2012BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangStroke, bukanlah suatu istilah yang familiar akhir-akhir ini, begitu banyak orang di Indonesia, bahkan di dunia sudah mulai mencoba untuk mengenali jenis penyakit yang satu ini. Ketenaran stroke bisa jadi disebabkan oleh karena betapa berbahayanya penyakit ini pada pasien-pasien yang sudah terdiagnosis stroke. Stroke sudah menjadi penyebab kematian nomor 3 di negara-negara berkembang (setelah penyakit jantung dan kanker). Penyakit ini merupakan penyakit yang menyerang otak (bukan jantung) dan disebabkan oleh karena blokade atau rupturnya suplai darah yang sangat esensial untuk keberlangsung sel-sel otak. Transient Ischemic Attack atau TIA seringkali disebut pula sebagai mini-stroke merupakan peringatan besar untuk terjadinya stroke di kemudian hari dan harus ditanggapi secara serius. Walaupun stroke dapat menyerang seluruh kelompok usia, namun penyakit ini memang lebih sering ditemukan pada usia tua. Stroke mengenai setidaknya 1 dari 600 pasien per tahun dan sekitar 5% populasi berusia di atas 65 tahun mengalami stroke. Pada 85% kasus, penyebabnya iskemik, 10% disebabkan oleh perdarahan intraserebral, dan sisanya sebanyak 5% disebabkan oleh perdarahan subaraknoid. Stroke telah berhasil menjadi penyebab dari 12% kematian di negara industri. Oleh karena itu, pengenalan dini terhadap gejala stroke, dan evaluasi tanda-tanda awal serangan sangat penting untuk dapat mencegah serangan dan meminimalisir efek yang ditimbulkan pasca serangan stroke.1,2 1.2 Rumusan MasalahSeorang laki-laki berusia 62 tahun merasa lengan dan tungkai kanannya lemah sejak 3 hari yang lalu, bicara mulai pelo secara tiba-tiba. Sejak kemarin pagi, lengan dan tungkai kanannya sama sekali tak bisa digerakkan dan pasien tidak bisa bicara. Mulai semalam, pasien nampak tidur terus, tak bisa dibangunkan, tidak bisa makan maupun minum. Pasien memiliki riwayat DM dan hipertensi yang jarang dikontrol dengan tekanan darah mencapai 180/90 mmHg.1.3 HipotesisLaki-laki tersebut menderita stroke disertai dengan hipertensi derajat 2.1.4 TujuanMakalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan stroke, dimulai dari cara-cara mendiagnosis stroke beserta dengan aturan tatalaksana yang tepat untuk pasien yang diduga mengalami stroke.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 AnamnesisSerangan stroke seringkali terjadi secara mendadak, dan dicerminkan dengan defisit neurologis akibat gangguan suplai darah ke sistem saraf pusat. Stroke secara umum dapat terjadi akibat perdarahan atau akibat tromboemboli. Apabila defisit neurologis yang terjadi hilang sepenuhnya dalam 24 jam, pertimbangkan TIA yang merupakan tanda dini dari serangan stroke terutama stroke tipe iskemik. Anamnesis dilakukan terutama untuk menggali informasi seputar gejala yang terjadi dan apakah pasien sudah mengalami TIA sebelumnya. Beberapa gejala TIA yang perlu ditanyakan pada pasien, antara lain: Kelemahan pada tungkai atau lengan di sisi kiri atau kanan Kesulitan berbicara, tidak sefasih biasanya Kesulitan berjalan akibat tungkai yang lemah atau karena adanya gangguan keseimbangan Penderita seperti orang kebingungan tanpa sebab yang jelas Tiba-tiba tidak dapat melihat pada salah satu atau kedua matanya Penderita merasakan nyeri kepala yang sangat kuatHal-hal penting yang sebaiknya ditanyakan pada pasien yang diduga mengalami stroke, antara lain: Apakah gejala yang muncul bersifat mendadak? Apakah gejala yang terjadi mencakup rasa lemas, baal, diplopia, disfasia, atau jatuh? Adakah gejala penyerta seperti nyeri kepala, mual, muntah atau kejang? Apakah pasien pernah mengalami jatuh atau trauma kepala sebelumnya? (untuk mencari tahu apakah terjadi hematoma subdural/ekstradural) Sejauh mana disabilitas yang terjadi dan apakah ada efek pada gangguan fungsi sehari-hari? Kapan pertama kali terjadi defisit neurologis dan apakah defisit terjadi secara mendadak atau justru bertahap? Apakah pasien memiliki faktor risiko stroke? (kebiasaan merokok, alkohol, penyalahgunaan narkotika, riwayat hipertensi dan diabetes mellitus) Apakah serangan stroke terjadi saat beristirahat atau justru saat beraktivitas? (stroke hemoragik seringkali muncul saat penderita beraktivitas, sedangkan stroke tipe tromboemboli seringkali terjadi saat penderita beristirahat atau setelah bangun tidur) Apakah ada anggota keluarga lain yang menderita stroke sebelumnya?3,42.2 Pemeriksaan FisikPemeriksaan fisik pada pasien stroke dilakukan dengan tujuan untuk: Mendeteksi penyebab ekstrakranial dari gejala stroke Membedakan stroke dengan penyakit yang menyerupai stroke Hasil pemeriksaan digunakan untuk perbandingan derajat defisit pada pasien di kemudian hari Melokalisasi lesi Mengidentifikasi ko-morbiditas Mengindentifikasi kondisi yang dapat mempengaruhi keputusan terapi, seperti trauma, perdarahan aktif, dan infeksi yang sedang aktifPemeriksaan fisik yang dilakukan harus dapat mewakili seluruh sistem organ mayor, dimulai dengan memeriksa jalur napas, pernapasan dan sirkulasi pasien serta tanda vital. Pasien dengan kesadaran yang menurun perlu secepatnya dilakukan pemeriksaan jalur napas, untuk mengetahui apakah jalur napas pasien masih baik. Pasien dengan stroke, terutama yang tipe hemoragik dapat mengalami perburukan klinis yang cepat. Stroke iskemik, kecuali menyerang batang otak, biasanya tidak menyebabkan masalah yang bersifat darurat, sebaliknya pasien stroke perdarahan intraserebral maupun subaraknoid umumnya memerlukan intervensi proteksi jalur napas dan ventilasi bantuan.5Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk pasien stroke, antara lain:Pemeriksaan Fisik UmumPemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan kesadaran umum penderita dan tanda-tanda vital pasien, yaitu denyut nadi, tekanan darah, suhu tubuh dan frekuensi pernapasan pasien. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah pasien juga sebelumnya memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol yang ditandai dengan tekanan darah yang tinggi. Penilaian kesadaran penderita stroke didasarkan pada Glasgow Coma Scale. Aspek penilaian GCS terdiri dari tiga komponen utama, yaitu kesadaran penderita, orientasi penderita terhadap lingkungan sekitarnya, serta kemampuan penderita mengikuti perintah dokter. Penilaian GCS ini selanjutnya dilakukan dengan sistem skoring, yakni dengan rentang skor antara 3-15. Melalui penilaian skoring GCS ini, maka penderita dapat dikategorikan dalam 3 kelompok kesadaran: Sadar dan orientasi terhadap lingkungan sekitarnya baik serta dapat mengikuti perintah dokter dengan baik, skornya ialah 15 yang merupakan skor tertinggi dari GCS. Somnolen, sopor, sopor-koma (mengantuk hingga koma), ditandai dengan rentang skor antara 4-14. Koma (pasien tidak sadarkan diri), ditandai dengan skor terendah yaitu 3.Penilaian kesadaran ini sekaligus untuk dapat membantu klinisi untuk membedakan jenis stroke. Penderita stroke tipe perdarahan biasa datang dengan penurunan tingkat kesadaran yang lebih nyata, dari mengantuk hingga koma. Sebaliknya penderita stroke tipe infark, baik oleh karena tromboemboli atau karena aterotrombotik biasanya datang dengan kondisi tetap sadar.Pemeriksaan denyut nadi bertujuan untuk menilai apakah ada kemungkinan aterosklerosis pada arteri, ketidakteraturan denyut nadi biasanya dikaitkan dengan gangguan irama jantung atau aritmia yang berpotensi untuk mencetuskan serangan stroke iskemik tipe tromboemboli. Pemeriksaan tekanan darah seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, berguna untuk menilai adanya hipertensi sebagai salah satu faktor risiko terjadinya stroke. Namun, hal yang perlu diperhatikan ialah adanya peningkatan darah sesaat setelah terjadinya stroke tipe perdarahan, yang disebut sebagai hipertensi freaktif. Hipertensi reaktif ini merupakan bentuk kompensasi tubuh untuk menjaga agar pasokan oksigen, glukosa dan berbagai nutrisi penting bagi otak tetap optimal pasca serangan stroke.4Pemeriksaan Leher, Kepala, Jantung dan EkstremitasPemeriksaan kepala dan leher secara teliti bersifat penting. Kontusio, laserasi dan deformitas dapat mengindikasikan adanya trauma sebagai etiologi dari gejala yang dialami oleh pasien. Auskultasi dari leher dapat mendeteksi adanya bruit, yang mengindikasikan adanya kelainan pada karotid sebagai penyebab stroke.Aritmia jantung, seperti atrial fibrilasi umum ditemukan pada pasien dengan stroke. Stroke juga dapat muncul dengan ikut menemani beberapa kondisi akut jantung lainnya seperti infark miokard akut dan gagal jantung akut, oleh karena itu pemeriksaan auskultasi untuk mendengarkan murmur dan gallop sebaiknya dilakukan.Diseksi karotis atau vertebrobasiler, dan yang lebih jarang lagi yaitu diseksi aorta thorasika dapat menjadi penyebab stroke iskemik. Tekanan darah atau denyut nadi yang tidak sama (unequal) pada ekstremitas dapat mencerminkan keberadaan diseksi aorta.5Pemeriksaan Fungsi Saraf Pusat / Pemeriksaan NeurologisPemeriksaan fungsi SSP ini ditujukan untuk menentukan gangguan saraf yang terjadi, mengetahui lokasi kerusakan saraf dan memperkirakan terapi yang akan dijalankan nantinya oleh pasien. Sebagai contoh, apabila penderita stroke mengalami gangguan fungsi kognitif, misalnya kehilangan kemampuan menghitung angka-angka yang sederhana, maka lokasi kerusakan sarafnya berada di daerah korteks otak, yang bisa jadi disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah dari arteri karotis interna. Jika penderita mengalami gangguan keseimbangan, yakni tidak mampu mempertahankan posisi tubuh ketika berdiri atau gangguan koordinasi ketika berjalan, kondisi ini mungkin disebabkan oleh gangguan fungsi otak kecil atau gangguan sirkulasi pada daerah kapsula interna.Pemeriksaan neurologis lain yang patut dilakukan antara lain pemeriksaan saraf kranialis, fungsi motorik, fungsi sensorik, fungsi otak kecil, gait