PBL Blok 21

download PBL Blok 21

of 31

  • date post

    18-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    58
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Diabetes Mellitus tipe 2

Transcript of PBL Blok 21

Diabetes Melitus Tipe II

Alvivin

102011215/D4 - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universtas Kristen Krida Wacanaalvivinnnn@yahoo.com - Jalan Arjuna Utara Nomor 6, Jakarta 11510PendahuluanMenurut America Diabetes Association (ADA) 2005, diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolic dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sedangkan menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomic dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah factor dimana diapat defisiensi insulin absolute atau relative dan gangguan fungsi insulin.1Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidens dan prevalensi diabetes mellitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia.Berikut akan dibahas mengenai diabeter mellitus tipe II, dari gejala klinik, patofisiologi sampai ke penatalaksanaannya.

IsiAnamnesisPada anamnesis hal-hal yang perilu ditanyakan adalah : Identitas pasienNama: Tn.AUsia: 45 tahunSelain itu perlu juga ditanyakan alamat,pekerjaan,dan status. Keluhan utama Merasa semakin lemas sejak 2 minggu yang laluBerikut adalah pertanyaan untuk menggali keluhan utama : Lemasnya terus-menerus atau hilang timbul? Lemasnya sampai tidak bisa berjalan atau seperti apa? Semakin lemas saat melakukan apa? Lemas menghilang saat melakukan apa? Adakah gejala lain seperti lemas? Seperti pusing atau demam? Riwayat penyakit sekarangBerikut adalah pertanyaan yang dapat menggali RPS : Apakah terdapat gejala 3P (Poliuria, Polidipsi, dan Polifagia)? Apakah terjadi penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas? Apakah mata terlihat buram, atau penglihatan ganda? Apakah sering merasa kesemutan? Apakah terdapat luka di kaki dan penyembuhan yang lama? Riwayat Penyakit DahuluPasien menderita diabetes sejak 5 tahun yang lalu dan minum metformin dan glibenklamid secara teratur. Riwayat pengobatan Riwayat penyakit keluarga Riwayat kebiasaanTanyakan status nutrisi dan asupan makanannya Riwayat social dan ekonomiPemeriksaan Fisik1 Pengukuran tinggi badan dan berat badan. Pengukuran tekanan darah, termasuk pengukuran pengukuran tekanan darah dalam posisi berdiri untuk mencari kemungkinan terjadinya hipotensi ortostatik. Pemeriksaan funduskopi. Pemeriksaan rongga mulut dan kelenjar tiroid. Pemeriksaan jantung. Evaluasi nadi baik secara palpasi maupun dengan stetoskop. Pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah, termasuk jari. Pemeriksaan kulit (acantosis nigrican dan bekas tempat penyuntikan insulin) dan pemeriksaan neurologis. Tanda-tanda penyakit lain yang menimbulkan DM tipe lain.Pemeriksaan Penunjang1,2 Glukosa darah puasa dan 2 jam post prandialDiagnosis DM harus didasarkan atas pemeriksaan konsentrasi glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Untuk memastikan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang seyogyanya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya (yang melakukan program pemantauan kendali mutu secara teratur). Walaupun demikian sesuai dengan kondisi setempat dan juga dipakai bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Untuk pemantauan hasil pengobatan dapat diperiksa glukosa darah kapiler.Ada perbedaan antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik DM dilakukan pada mereka yang menunjukan gejala/ tanda DM, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan unutk mengidentifikasi mereka yang tidak bergejala, yang mempunyai resiko DM. Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan kemudian pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif, unutk memastikan diagnosis definitif. Pemeriksaan penyaring dikerjakan pada kelompok dengan salah-satu resiko DM sebagai berikut:1. Usia 45 tahun2. Usia lebih muda, terutama dengan indeks massa tubuh (IMT) > 23 kg/m2 yang disertai dengan faktor: Kebiasaan tidak aktif Turunan pertama dari orang tua dengan DM Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram, atau riwayat DM-gestasional Hipertensi ( 140/90 mmHg) Kolesterol HDL 35 mg/dL dan atau trigliserida 250 mg/dL Menderita policyctic ovarial sydrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang terkait dengan resistensi insulin Adanya riwayat toleransi glukosa yang terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelmnya. Memiliki riwayat penyakit kardiovaskularPemeriksan penyaring berguna untuk menjaring pasien DM, tolenransi gluksosa yang tepat untuk mereka. Pasien dengan TGT dan GDPT merupakan tahapan sementara menuju DM, setelah 5-10 tahun 1/3 kelompok TGT akan menjadi DM, 1/3 tetap TGT, dan 1/3 lainnya akan kembali normal. TGT sering berkaitan dengan resistensi insulin. TGT sering berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, hipertensi dan dislipidemia. TTGO (Tes Torelansi Glukosa Oral)Cara pelaksanaan TTGO (WHO 1994): Tiga hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari ( dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa. Berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air putih tanpa gula tetap diperbolehkan Diperiksa konsetrasi glukosa darah puasa Diberikan glukosa 75 gram (orang dewasa) atau 1,75 gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit Berpuasa kembali sampai pengambilan sampel darah unutk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai Diperiksa glukosa darah dua jam sudah beban glukosa Selama proses pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokokHasil pemeriksaan glukosa darah dalam 2 jam pasca pembebanan dibagi menjadi 3 yaitu: < 140 mg/dL normal 140 sampai < 200 mg/dL toleransi glukosa terganggu 200 mg/dL diabetesPemeriksaan penyaring dikerjakan pada semua individu dewasa dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) 25 kg/m2 dengan faktor resiko lain sebagai berikut: 1) aktivitas fisik kurang, 2) riwayat keluarga mengidap DM pada keturunan pertama (first degree relative), 3) masuk kelompok etnik resoko tinggi (African American, Latino, Native American, Asian American, Pasific Islander), 4) wanita dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat 4000 gram atau riwayat Diabetes Melitus Gestasional (DMG), 5) hipertesi ( tekanan darah 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi obat antihipertensi), 6) kolesterol HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida 250 mg/dL, 7) wanita dengan sindrom polikistik ovarium, 8) riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT), 9) keadan lain yang berhubungan dengan resistensi insulin (obesitas, akantosis nigrikans) dan 10) riwayat penyakit kardiovaskular. Pada tes penyaringan dapat dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa atau sewaktu atau TTGO. HbA1CPengukuran HbA1c adalah standar kriteria untuk pemantauan jangka panjang kontrol glukosa darah dan mencerminkan glikemia selama 3 bulan sebelumnya.Pengukuran HbA1c yang sebelumnya tidak dianggap berguna untuk diagnosis diabetes mellitus karena kurangnya standarisasi internasional dan ketidakpekaan untuk mendeteksi bentuk-bentuk intoleransi glukosa ringan.Dalam laporan 2009, sebuah komite ahli internasional yang ditunjuk oleh American Diabetes Association (ADA), Asosiasi Eropa untuk Studi Diabetes, dan International Diabetes Association merekomendasikan tes HbA1c untuk mendiagnosis tipe 1 dan tipe 2 diabetes mellitus.Rekomendasi komite untuk diagnosis diabetes mellitus adalah tingkat HbA1c sebesar 6,5% atau lebih tinggi, dengan konfirmasi dari tes ulang (kecuali gejala klinis yang hadir dan tingkat glukosa > 200 mg/dL). Profil lipid pada keadaan puasa (kolestrol total, HDL, LDL, trigliserida) Kreatinin serum Albuminuria Keton, sedimen dna protein dalam urin EKG Foto sinar-X dadaDifferential Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 1Pasien dengan DM-1 sering memperlihatkan awitan gejala yang eksplisof dengan polidipsia, poliura, turunnya berat badan, polifagia, lemah, somnolen yang terjadi selama beberapa hari atau beberapa minggu. Pasien dapat menjadi sakit berat dan timbul ketoasidosis, serta dapat meninggal kalau tidak mendapat pengobatan segera. Terapi insulin biasanya diperlukan untuk mengontrol metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap insulin.

Tes untuk membedakan tipe 2 dan tipe 1 DiabetesMengurkur konsentrasi insulin atau C-peptida (sebuah fragmen dari proinsulin yang berfungsi sebagai penanda untuk sekresi insulin) jarang diperlukan untuk mendiagnosis diabetes mellitus tipe 2 atau membedakan tipe 2 diabetes dari diabetes mellitus tipe 1. Kadar insulin umumnya tinggi di awal perjalanan tipe 2 diabetes mellitus dan secara bertahap berkurang dari waktu ke waktu. Tingkat C-peptida puasa lebih dari 1 ng / dL pada pasien yang telah menderita diabetes selama lebih dari 1-2 tahun adalah sugestif dari diabetes tipe 2 (yaitu, residu beta-fungsi sel). Dirangsang C-peptida konsentrasi (setelah tantangan makan standar seperti Sustacal atau setelah glukagon) agak dipertahankan sampai akhir dalam perjalanan diabetes mellitus tipe 2. Tidak adanya respon C-peptida untuk konsumsi karbohidrat mungkin menunjukkan jumlah sel beta kegagalan. Antibodi terhadap insulin, sel-sel islet, atau asam glutamat dekarboksilase (GAD) yang absen di tipe 2 diabetes mellitus. Diabetes autoimun laten dewasa (LADA) adalah bentuk-onset lambat diabetes tipe 1 yang terjadi di tengah baya (biasanya putih) orang dewasa. Hal ini dapat dibedakan dari diabetes tipe 2 dengan mengukur antibodi anti-GAD65. Pasien tersebut dapat merespon insulin secretagogues untuk jangka waktu singkat (bulan). Autoantibodi dapat berguna dalam membedakan antara