PBL BLOK 17

download PBL BLOK 17

of 38

  • date post

    13-Feb-2015
  • Category

    Documents

  • view

    116
  • download

    11

Embed Size (px)

description

pbl

Transcript of PBL BLOK 17

Makalah PBL Hepatits Akut ec Drug InducedDisusun oleh : Olivia Ekaputri 10-2009-077 / B5 Email : freakingreen_lilhot@yahoo.com Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510

Bab I PendahuluanLatar BelakangHati merupakan pusat metabolisme obat, terutama obat yang diberikan peroral. Dan organ hati sendiri adalah organ terbesar di tubuh dan mempunyai aliran darah yang cukup sehinga hati sanggup melaksanakan metabolisme obat dan bahan makanan yang masuk peroral.1 Organ hati sendiri dapat mengalamai berbagai kelainan, dari yang primer sampai sekunder. Kelainan hati adalah radang hati atau yang dikenal dengan hepatitis, hepatoma. Dengan adanya kelainan hati maka tugas metabolisme yang diembannya sebagai pusat metabolisme baik obat-obatan dan makanan akan terganggu. Kelainan ini dapat terjad dari ringan hingga berat, dari akut kronis, bahkan tidak dipungkiri kadang kelainan hati dapat berujung pada gagal hati, dan kematian si empunya organ tersebut.

1

TujuanDengan adanya makalah ini, para pembaca dapat memahami apa yang terjadi, mekanisme, dan terapi apa yang sesuai bagi kelainan hati tertama radang hepar (hati) yang kita sering sebut dengan hepatitis. Tak hanya itu, para pembaca pun dapat menambah wawasan mengenai hepatitis yang selama ini sering disalah-artikan oleh masyarakat awam.

2

BAB II PembahasanSkenarioNn. A, 25 tahun, datang ke UGD dengan keluhan demam mendadak, sejak 4 hari yang lalu, disertai rasa mual dan muntah 3-5x/hari berisi makanan. Pasien sedang menjalani pengobatan TBC sejak 3 bulan yang lalu. Riwayat minum alkohol sejak 2 tahun yang lalu, kira-kira 34 botol bir/ bulan. Pemeriksaan fisik KU : Tampak sakit sedang, kesadaran : Compos Mentis, Nadi : 98x/menit, Frekuensi napas : 24x/menit, TD : 120/90 mmHg, Suhu : 38,6C, Mata : konjungtiva ikterik +/+, Anemis -/-, Hati teraba 1 jari dibawah arcus costae, 2 jari bawah processus xiphoideus, Lien tidak teraba, nyeri tekan regio epigastrium (+).

AnamnesisPada anamnesis berkaitan dengan penyakit pada hepar, tanyakan : 1. Apakah kulit kuning : ikterus / jaundice? 2. Apakah pasien demam, merasa fatigue, myalgia, malaise, sakit kepala, cepat lelah, lemas, anoreksi, nausea atau bahkan vomit? 3. Apakah pasien mengalami hematemesis melena? 4. Adakah sakit perut di kuadran kanan atas? 5. Adakah bengkak-edema di kaki, perut yang mebuncit (Ascites), berat badan menurun, gatal-gatal? 6. Apakah warna urin pasin gelap seperti air teh dan warna tinja apakah seperti dempul atau pucat? Gejala non spesifik (prodromal) yaitu anoreksia, mual, muntah dan demam. Dalam beberapa hari-minggu timbul ikterus, tinja pucat dan urin yang berwarna gelap. Saat ini, gejala prodromal berkurang. Perlu ditanyakan riwayat kontak dengan penderita hepatitis sebelumnya dan riwayat pemakaian obat-obat hepatotoksik.

3

PemeriksaanPemeriksaan yang dilakukan dalam 2 cara, yaitu : 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dengan 4 cara yakni, Inspeksi, Palpasi, Perkusi, dan Auskultasi. Inspeksi Inspeksi dilakukan dengan melihat pasien. 1. Pada pasien dengan hepatitis ditemukan kulit yang kuning (ikterus), selain dari kulit, ikterus juga dapat terlihat dari konjungtiva. 2. Abdomen pasien, apabila hepatitis sudah berlanjut ditemukan bentuk perut yang membuncit (asites) 3. Apakah ditemukannya pembuluh darah kolateral pada abdomen, Caput Medusa, tanda ini merupakan tanda dari kelainan hati. 4. Tampaknya benjolan/massa di abdomen (misal Hepatoma) Palpasi Palpasi Umum Pada palpasi umum, pemeriksa melakukan palpasi superficial dan palpasi dalam yang dilakukan secara sistematis sesuai kuadran dan apabila ditemukan bagian yang sakit, bagian tersebut dipalpasi paling terakhir. Apabila menemuka benjolan / massa (hepatoma) pastikan dengan Carnett sign. Carnett sign adalah suatu cara untuk memastikan benjolan terletak di superficial atau berada didalam. Dilakukan dengan mengangkat kepala pasien untuk melihat benjolan yang ada semakin jelas/ semakin menghilang. Palpasi Khusus 1. Palpasi Hati Pemeriksaan palpasi hati bertujuan untuk mencari perbesaran hati dari RLQ menuju ke arah inferior arcus costae dextra saat pasien inspirasi. Selain itu, dilakukan juga dari regio Suprapubic menuju ke Processus Xyphoideus saat pasien inspirasi. Pemeriksaan khusus ini dilakukan dengan pinggir tangan.

4

Bila terdapat perbesaran hati, pastikan pemeriksa mengetahui ukuran perbesaran (jari/cm) di bawah arcus costae kanan / dibawah processus xyphoideus, tepi hati (tajam pada hepatitis akut dan tumpul pada hepatitis kronis), konsistensi hepar (lunak/ kenyal (normal), atau keras pada tumor), permukaan hepar (normal licin, berbenjol-benjol), dan ada nyeri atau tidak. Bila terdapat nyeri kemungkinan terdapat abses hati.2 2. Palpasi Limpa Palpasi dilakukan berdasarkan garis Schuffner I-VIII. Apabila ditemukan perbesaran dari limpa , pastikan letak berdasarkan garis Schuffner, konsistensi limpa, dan ada nyeri atau tidak. 3. Ascites Pemeriksaan ascites dilakukan apabila pada inspeksi, ada indikasi asites yang terlihat dari bentuk abdomen yang membuncit. Pemeriksaan dilakukan dengan 2 cara yakni Undulasi, dan Shifting Dulness. Perkusi Dengan perkusi, kita dapat meencari batas paru-hati yang diperiksa dengan melakukan perkusi di linea midclavicula kanan ke arah bawah di bagian intercostalis. Selain batas antara paru dan hati, kita juga dapat mengetahui peranjakkan hati. Ukur rentang vertikal pekak hati pada linea midklavikularis kanan. Dimulai pada ketinggian di bawah umbilikus (pada daerah timpani, bukan pada daerah redup), lakukan perkusi ringan ke arah atas menuju daerah hati. Pastikan lokasi bunyi redup yang menunjukkan tepi bawah hati (margo inferior hepar) pada linea midklavikularis tersebut. Selanjutnya, kenali tepi atas daerah pekak hati pada linea midklavikularis. Lakukan perkusi ringan mulai dari daerah sonor paru ke bawah menuju daerah pekak hati. Jika perlu, sisihkan payudara pada pasien wanita secara hati-hati agar pemeriksa 5

merasa yakin bahwa perkusi benar-benar dimulai di daerah sonor. Lalu, ukur dalam satuan sentimeter jarak antara dua titik yang ditemukan-jarak ini adalah rentang vertikal pekak hati. Rentang hati yang normal, umumnya berukuran lebih besar pada pria daripada wanita dan pada orang bertumbuh tinggi dibandingkan dengan orang yang bertubuh pendek. Rentang pekak hati (liver dullness) akan bertambah apabila hepar membesar. Auskultasi Pada dasarnya, hati adalah organ padat dan tidak berongga, jadi tidak dapat ditemukan bunyi yang pasti. Akan tetapi apabila ditemukan bunyi Bruit Hepar, yaitu bunyi seperti murmur( turbulensi air) dalam abdomen kanan atas, hal ini mengindikasikan terdapat Hepatoma. 2. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang pada hepar meliputi : Pemeriksaan Radiologi 1. Plain Film

Gambar 1. Plain film Hepatomegaly3 2. Ultrasound Pemeriksaan ultrasound adalah pemeriksaan yang cepat, relatif terjangkau, dan memiliki sensitifitas yang tinggi, pada kista 100%. akan tetapi, penggunaan ultrasound sangat tergantung pada operator yang menjalankan. 6

Pemeriksaan jenis ultrasound sering digunakan pada pemeriksaan awal karena sifatnya yang non-invasive dan murah. Sensitifitasnya sangat tinggi terutama pada fluid filled lesion seperti kista atau abses. Akan tetapi, kurang kaurat untuk solid lesion dibandingkan dengan CT Scan.

Gambar 2. Ultrasound scan menunjukkan massa (panah) di hati yang leih gelap dari jaringan hati sekitarnya.4 3. CT SCAN CT atau Computed Tomogrpahy, merupakan pemeriksaan radiologi yang akurat untuk lokalisasi anatomi dan karakteristik massa seperti kistik, fat, dan kalsifikasi. Dengan pemberian kontras teknik tertentu dapat melihat berbagai fase pada seluruh liver. Pemeriksaan menggunakan CT sangat spesifik dan sensitif, akan tetapi biayanya relatif mahal. CT menggunakan metode 3 fase, yakni : Tanpa kontras Arteri hepatica Vena portal

7

Gambar 3. Hasil CT scan hati4 4. MRI MRI atau Magnetic Resonance Imaging, sekarang ini sering digunakan untuk deteksi dan karakteristik. MRI sama halnya dengan CT dapat memeriksa berbagai fase. MRI tidak mengandung radiasi, menggunakan bahan aktif GADOLINEUM. MRI sendiri lebih superior dibanding dengan CT. hal ini dimungkinkan karena MRI membantu memberi informasi karakteristik tambahan bagi pemeriksaan CT atau USG, misalnya membedakan hemangioma dengan maligna. Khusus untuk pemeriksaan Hepar dengan MRI diperlukan kontras khusus. 5. Invasif Terdiri atas : 5.1 Angiografi : visualisasi pembuluh darah 5.2 Portografi Direct dan Indirect : visualisasi vena porta 5.3 Retrograde Phlebography Kateter yang dipasang melalui Vena Femoralis ke Vena Cava ( retrograde). Dengan pemasangan ini dapat mengukur tekanan pada vena portal. Selain untuk rekam vena, dapat juga digunakan untuk

8

Portal Embolization. 5.4 Embolisasi : Tace dan Yirtium 5.5 TIPS Transjugular Intrahepatic Portosystemic Shunt, pemeriksaan ini dilakukan pada pasien dengan cirrhosis hepar. TIPS dilakukan bertujuan untuk mengurangi tekanan vena portal. Shunting vena hepatica dengan vena portal intrahepatik. 6. Pet Scan Positron Emission Tomography, memakai 5 FDG. Pemeriksaan PET sangat mahal. Pemeriksaan ini berdasar pada sintesa glukosa. Pemeriksaan PET sering dikombinasikan dengan modalitas lain : PET-CT / PET-MRI. 7. Spect Scan /Scintigraphy Single Positron Emission Tomography, adalah suatu jenis pemeriksaan yang sering dikombinasikan dengan CT atau MRI. Spect memakai Tc99m

(Technesium) dan dengan pembawa yaitu colloid. Bekerja pada retikuloendotelial. Spect sensitif namun kurang spesifik. Red cell Tc99 dapat memastikan Hemangioma. Sulfur colloid labelled Tc99 dapat memastikan fokal nodular hyperplasia yang mengandung sel Kupffer. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit hati terdiri dari : 1. Darah tepi : dapat ditemukan pansitopenia: infeksi virus, eosinofilia : infestas