PBL Blok 14 Ruptur Tendon Achiles

download PBL Blok 14 Ruptur Tendon Achiles

of 14

  • date post

    04-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    83
  • download

    22

Embed Size (px)

description

Makalah PBL BLOK 14 Ruptur Tendon Achiles

Transcript of PBL Blok 14 Ruptur Tendon Achiles

Ruptur Tendon AchilesPriscilia LewerissaF8102011093Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731priscilia.lewerissa@gmail.com

BAB IPENDAHULUANKini ilmu di bidang kedokteran sudah semakin maju dengan adanya pemeriksaan laboratorium dapat menegakan diagnosis lebih akuran dan tepat. Seperti contohnya pemeriksaan pada Ruptur tendon Achilles dengan cara X-ray, ultrasonografi dengan menggunakan gelombang suara bahkan MRI yg menggunakan scan 3D. dengan adanya banyak metode yang sudah mutakhir ini kida dapat dengan mudah mengetahui sekaligus belajar bagaimana mendapatkan diagnosis yang tepat agar tidak terjadi kesalahan dalam praktek.Pada pembahasan kali ini kita akan membahas apa saja yang bersangkutan untuk pemeriksaan Ruptur tendon Achilles mulai dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang sampai pengobatan dan tatalaksananya. Rupture tendon Achilles ini terutama di sebabkan oleh aktifitas dan kontraksi berlebih, biasanya terjadi pada atlit-atlit olahraga yang memiliki kemungkinan terbesar terkena cidera rupture tendon Achilles.

BAB IIPEMBAHASAN

1. AnamnesisDalam kasus ini hal pertama yang harus di lakukan adalah melakukan anamesa, hal-hal yang perlu di perhatikan dalam melakukan anamesa adalah menanyakan hal yang harus kita ketahui untuk melakukan diagnose penyakitBerikut adalah hal-hal yang harus ditanyakan : Identitas PasienJenis kelamin (laki-laki); Usia (25 tahun) Keluhan UtamaNyeri pada kaki regio calcaneus Riwayat Penyakit SekarangNyeri hebat terjadi setelah pasien tersebut jatuh dari ketingian dengan menumpu pada kaki kananya rasa nyeri yang seakan-akan terbentur sesuatu pada saat bermain bulutangkis sampai ia tidak bisa berdiri dengan tungkai kananya. Anamnesis Susunan SistemPemeriksaan pada daerah regio calcaneus dan terdapat nyeri

2. Pemeriksaan FisikKeadaan umum pasien yang perlu di ketahui adalah bagaimana keadaan pasien saat di lakukan pemeriksaan fisik dalam keadaan sadar atau tidak.Pasien dalam keadaan sadar, kemudian di lakukan inspeksi pada region yng calcaneus yang di keluhkan pasien, serta di lakukan palpasi pada daerah region calcaneus tersebut dan terdapatnya gap sigh dan rasa nyeri tekan pada daerah tersebut. Berikut adalah pemeriksaan fisik untuk benar-benar mengetahui bahwa rasa nyeri pada region calcaneus setelah lompat dari ketinggian adalah karena Rupture tendon achiles :1. Test Thompson (Test Simmond) Tes ini dilakukan untuk mengetahui kelainan tendon yang terjadi di tulang calcaneus. Cara melakukan tes ini, penderita tidur dengan posisi tengkurap, dengan kedua kaki dipinggir tempat tidur, lalu dilakukan kompresi pada otot betis. Pada otot yang normal, setelah dilakukan kompresi maka akan terjadi flexi plantar, sebaliknya jika setelah dilakukan flexi plantar dan tidak terjadi flexi plantar, maka telah terjadi ruptur tendon achilles.12. Test fleksi Lutut Pasien diminta untuk aktif melenturkan lutut sampai 90 derajat sambil berbaring rawan di meja periksa. Selama gerakan ini, jika kaki pada sisi yang terkena jatuh ke netral atau dorsofleksi, diagnosis ruptur tendon achilles dapat ditegakkan.13. Test jarum Sebuah jarum suntik dimasukkan melalui kulit pada betis, dari medial ke garis tengah, dan 10 cm proksimal terhadap masuknya tendon. Jarum dimasukkan sampai ujungnya ada di dalam substansi tendon. Pergelangan kaki kemudian bergantian melakukan plantar fleksi dan dorso fleksi. Jika, pada dorsofleksi, titik jarum distal, bagian dari tendon distal jarum dianggap utuh. Jika titik jarum proksimal, diduga hilangnya kontinuitas antara jarum dan tempat penyisipan dari tendon.1

3. Pemeriksaan PenunjangAda pula pemeriksaan penunjang untuk memantapkan diagnosis bahwa di sebabkan oleh Ruptur tendon Achilles yang berupa foto scan radiologi :1. Plain Radiografi Merupakan suatu pemeriksaan sederhana menggunakan sinar Roentgen (sinar X) dengan berbagai posisi pemeriksaan. Dapat dilakukan dengan menggunakan kontras atau tanpa kontras.1 Keunggulan : Mudah, cepat, dan biaya relatif lebih murah. Kesulitan : Terkadang gambaran yang dihasilkan tidak terlalu jelas, karena superposisi (tumpang-tindih) dengan organ lain. Untuk beberapa jenis pemeriksaan, harus dilakukan dengan mengubah posisi pasien, agar diperoleh gambaran yang jelas.1 Pemakaian klinis : Pemeriksaan tanpa kontras, dapat dilakukan pada jantung dan paru, serta tulang-tulang pada seluruh bagian tubuh. Pemeriksaan dengan kontras, lebih lanjut dapat digunakan untuk memeriksa saluran cerna, saluran kemih, organ kandungan, saluran kelenjar liur, pembuluh darah, saluran getah bening, dan sumsum tulang belakang.1 Dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara tidak langsung robekan tendon Achilles. Radiografi menggunakan sinar-X untuk menganalisis titik cedera. Hal ini tidak efektif untuk mengidentifikasi cedera pada jaringan lunak. Sinar-X umumnya dipakai untuk mengoptimalkan visualisasi benda padat seperti tulang, sementara jaringan lunak masih relatif tidak dapat dibedakan di latar belakang nya. Radiografi memiliki peran kecil dalam penilaian cedera tendon Achilles dan lebih berguna untuk mengesampingkan cedera lain seperti patah tulang kalkanealis.2 Temuan radiografi pada ruptur tendon Achilles meliputi : Penggelapan tendon Perdarahan, edema dan hilangnya tendon mengakibatkan penggelapan margin anterior tendon Achilles pada tampak lateral. Gangguan posterior pada Kager pad lemak Darah dan edema mengganggu Kager pad lemak. Pad lemak dipersempit oleh edema. Lekukan kulit pada bagian robekan lesung pipit kecil dapat dilihat pada bagian robekan. Biasanya tertutup oleh pembengkakan dan perdarahan. Gumpalan jaringan lunak di ujung tendon ujung ruptur tendon menarik kembali dan bergelung, mengakibatkan bengkak pada ujung tendon. Mengidentifikasi ujung yang terputus Ujung proksimal biasanya dikaburkan oleh pembengkakan dan perdarahan, tetapi ujung distal dapat dipisahkan dari lemak sekitarnya dalam 50% kasus.2

Gambar 1.1 Gambaran yang Lebih Putih Menunjukan Bahwa Rupture hasil dari Pemeriksanan Plain Radiografi1

2. Ultrasonografi Merupakan salah satu alat pemeriksaan diagnostik yang menggunakan gelombang suara ultrasonik untuk menghasilkan gambaran mengenai bentuk, gerak, ukuran suatu organ tubuh.1 Keunggulan : Tidak menggunakan radiasi sinar X, sehingga aman bagi wanita hamil. Penyulit : Tidak dapat digunakan untuk melihat bagian tubuh seperti tulang atau ruangan berongga yang berisi gas, seperti usus. Pemakaian klinis : Digunakan untuk menemukan dan menentukan letak massa dalam rongga perut / panggul, membedakan kista dengan massa padat, mempelajari pergerakan organ maupun pergerakan dan pertumbuhan janin.Dapat digunakan untuk menentukan ketebalan tendon, karakter, dan adanya robekan. Bekerja dengan mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi dari suara melalui tubuh pasien. Beberapa suara dipantulkan kembali dari ruang antara cairan interstisial dan jaringan lunak atau tulang. Gambar-gambar yang tercermin ini dapat dianalisis dan dihitung ke dalam suatu gambar. Gambar-gambar ditangkap secara nyata dan dapat membantu dalam mendeteksi pergerakan tendon dan memvisualisasikan kemungkinan cedera atau robek.2 Perangkat ini membuat pemeriksaan menjadi sangat mudah untuk menemukan kerusakan struktural jaringan lunak, dan metode yang konsisten untuk mendeteksi jenis cedera. Alat modalitas gambar ini tidak mahal, tidak melibatkan radiasi pengion dan di tangan ultrasonographer ahli, bisa diandalkan.2

Gambar 1.2 Gambaran USG dari Ruptur Tendon Achilles1

3. Computerized Tomography (CT) Merupakan pemeriksaan sinar X yang lebih canggih dengan bantuan komputer, sehingga memperoleh gambaran yang lebih detail. Dapat dilakukan dengan kontras dan tanpa kontras.1 Keunggulan: Dapat memberikan gambaran penampang tubuh yang tidak mungkin dilihat dengan menggunakan alat Rontgen biasa. Dengan menggunakan sistem komputer, maka dapat juga dibuat gambaran secara 3 dimensi. Dapat menghitung perkiraan jumlah perdarahan pada kasus - kasus tertentu. Penyulit: Radiasi yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan radiologi konvensional, biaya yang harus dikeluarkan pun relatif lebih mahal, sulit diterapkan pada pasien yang memiliki fobia pada tempat sempit (Klaustrofobi). Pemakaian klinis : Dapat digunakan untuk melihat berbagai organ tubuh seperti tulang- tulang kepala, otak, jantung dan paru, perut, pada berbagai kasus seperti kecelakaan (trauma), tumor, infeksi, dan lain-lain.

4. MRI (Magnetic Resonance Imaging) Merupakan suatu alat diagnostik mutakhir untuk memeriksa dan mendeteksi tubuh dengan menggunakan medan magnet yang besar dan gelombang frekuensi radio, tanpa sinar X ataupun zat radioaktif.1 Keunggulan: Memberikan gambaran yang dapat menunjukkan perbedaan sangat jelas dan lebih sensitif untuk menilai anatomi jaringan lunak, terutama otak, sumsum tulang belakang, dan susunan saraf dibandingkan dengan pemeriksaan sinar X biasa. Penyulit: Tidak dapat digunakan (kontraindikasi) pada pasien dengan alat pacu jantung, alat dengar implan, pasien dengan pen-logam, pasien fobia ruangan sempit (Klaustrofobia). Pemakaian klinis: Digunakan untuk menilai anatomi jaringan lunak, seperti otak, sumsum tulang belakang, susunan saraf. Selain itu, dapat juga untuk menilai jaringan lainnya seperti otot, ligamen, tendon, tulang rawan, ruang sendi. Dapat digunakan untuk membedakan ruptur tidak lengkap dari degenerasi tendon Achilles, dan MRI juga dapat membedakan antara paratenonitis, tendinosis, dan bursitis. Teknik ini menggunakan medan magnet yang kuat untuk menyelaraskan jutaan proton berjalan melalui tubuh. Proton ini kemudian dibombardir dengan gelombang radio yang merubuhkan beberapa dari proton tsb keluar dari garis (alignment). Ketika proton kembali mereka (proton) memancarkan gelombang radio mereka sendiri yang unik yang dapat dianalisis oleh komputer dalam 3D untuk membuat gambar tajam penampang silang dari area penting.