Pbl Blok 13

download Pbl Blok 13

of 1

  • date post

    04-Nov-2015
  • Category

    Documents

  • view

    28
  • download

    0

Embed Size (px)

description

pbl 13

Transcript of Pbl Blok 13

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku RemajaSiska Rahmawati102013191Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No.06 Jakarta 11510. Telepon : (021)5694-2051Email : siska.r_050596@yahoo.com

AbstrakRemaja adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, yang mana akan terjadi banyak perubahan pada dirinya. Perubahan-perubahan itu menyangkut aspek psikososial, psikoseksual, kognitif, dan moral, serta aspek penting lainnya seperti faktor biologi, psikologi, dan sosial. Pada masa remaja ini terbentuk tingkah laku atau kepribadian yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kognitif, perasaan, dan perilaku. Gangguan jiwa yang terjadi pada anak-anak maupun remaja ternyata dipengaruhi oleh adanya ketidak normalan pada salah satu atau beberapa faktor tersebut. Kata kunci: remaja, faktor biologi, faktor psikologi, faktor sosial

AbstractAdolescence is a transition phase from childhood to adulthood, which would have been many changes in her. The changes were related to psychosocial aspects, psychosexual aspects, cognitive aspects, and mora aspectsl, as well as other important aspects such as biology, psychology, and social. In adolescence was formed in behavior or personality is influenced by several factors, namely cognitive, mood, and behavior. Mental disorder that occurs in children and adolescents is influenced by the presence of abnormalities in one or several of these factorsKeywords: adolescence, biological factors, psychological factors, social factors

PendahuluanRemaja adalah tahap peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, di mana akan terjadi beberapa perubahan dalam dirinya. Perubahan-perubahan pada remaja berlangsung secara terus-menerus dan ditandai oleh adanya perubahan dalam aspek biologis, kognitif, psikologis, sosial serta moral dan spiritual (Geldard & Geldard, 2000).1 Masa remaja merupakan masa-masa pencarian jati diri, sehingga tidak jarang remaja mengalami perubahan pada kepribadiannya. Seperti kasus remaja perempuan 16 tahun yang malu bergaul dengan teman-temannya sejak masuk SMA. Hal tersebut tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Dari sekedar malu bergaul, bisa berkembang menjadi gangguan kejiwaan yang serius, yang memiliki gejala-gejala tersendiri, dan harus ditangani secara cepat dan tepat agar tidak mempunyai prognosis yang buruk.Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan keterangan mengenai aspek yang mengalami perubahan dalam siklus kehidupan, faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak, dan beberapa gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan faktor-faktor tersebut. Sehingga hal-hal yang akan diuraikan yaitu definis dan ciri-ciri remaja, perkembangan psikososial, psikoseksual, kognitif, dan moral, faktor biologi, sosial, dan psikologi, serta beberapa gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan faktor-faktor tersebut. Dengan harapan setelah membaca makalah ini, pembaca akan lebih mengerti tentang hal-hal yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Definisi RemajaRemaja berasal dari kata latinadolensenceyang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Pada masa inisebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.2

Ciri-Ciri Masa RemajaMasa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja, yaitu : peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh pada konsep diri remaja. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya. lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.2

Perkembangan PsikososialPerkembangan psikososial adalah proses perkembangan mental emosional seseorang dalam usaha penyesuaian dirinya dengan lingkungan dan pengalamannya.3Erik H. Erikson dalam bukunya Childhood and Society (1963) dan Identity, Youth and Crisis (1968), menggambarkan siklus manusia itu sebagai suatu proses yang terdiri atas delapan fase dari bayi hingga usia lanjut. Pandangannya bertolak dari prinsip epigenetik yang menganggap bahwa segala sesuatu yang berkembang, mempunyai suatu pola dasar, dan dari pola dasar itu akan berkembang bagian-bagian yang masing-masing menurut waktunya yang spesifik hingga mencapai titik yang tertinggi dan kemudian membentuk suatu kesatuan fungsional yang menyeluruh. Masing-masing fase itu memiliki krisisnya sendiri yang khas. Berhasil tidaknya seorang individu menyelesaikan konflik-konflik yang terkait krisis di satu fase, akan menentukan apakah seseorang akan siap untuk menghadapi krisis di fase yang berikutnya, untuk selanjutnya mencapai maturasi kepribadian yang sesuai dengan harapan budaya atau masyarakatnya.3Masa remaja merupakan masa saat pencapaian keberhasilan atau kegagalan fase-fase sebelumnya akan melebur dan membentuk suatu landasan menuju masa dewasa dengan kepribadian mantap dalam identitas dan kehidupan emosionalnya.3Erikson melihat perkembangan manusia dalam konteks individu di dalam matriks sosial-nya; suatu proses yang terjadi melalui interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya, antara nature dan nurture. Krisis perkembangan menurut Erikson bersumber pada krisis yang terjadi dalam usaha individu mencapai tujuan-tujuan pribadinya agar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat sosialnya dan bukan sekedar hambatan atau tidak terpuaskannya dorongan-dorongan seksual.3Erikson menganggap bahwa perkembangan psikososial manusia adalah suatu proses seumur hidup. Krisis-krisis yang tidak terselesaikan akan berakibat pada timbulnya psikopatologi kepribadian yang dapat menetap di masa dewasa dan usia lanjut.3

Perkembangan PsikoseksualPerkembangan psikoseksual adalah perkembangan emosional kearah maturasi dari instink seksual.3Menurut Sigmund Freud, manusia memiliki empat instink dasar yaitu: 1) instink vital (lapar, haus, bernapas), 2) instink seksual (libido), 3) instink agresi, dan 4) instink mati (thanatos). Freud menekankan pentingnya instink seksual bagi perkembangan kepribadian di atas instink-instink lainnya, karena instink seksual itu sangat kuat berada di bawah taboo umat manusia (manusia dalam hidupnya dibatasi oleh nilai-nilai, baik kultur maupun agama) sehingga cenderung untuk disangkal dan ditekan ke bawah sadar (menggunakan mekanisme defense denial dan repression); fenomena psikologik ini akan sangat berpengaruh dalam menentukan pola perilaku seseorang. Menurutnya, instink seksual sudah ada sejak bayi dilahirkan. Sebelum pemuasannya bermanifestasi dalam bentuknya yang dewasa seperti pada umumnya dikenal (dalam bentuk seksual genital klimaktik), instink ini berada dalam bentuk yang difus dan tidak terdiferensiasi. Ia kemudian berkembang melalui fase-fase pre-genital (manifestasi pemuasannya terpusat pada daerah-daerah tubuh tertentu di luar genital) sampai mencapai bentuknya yang dewasa yaitu fase genital (manifestasi pemuasannya secara dominan terpusat pada genital).3Freud membagi fase perkembangan psikoseksual menjadi beberapa tahap: 1) fase oral (usia 0-18 bulan), kenikmatan dan kepuasan dari berbagai pengalaman di sekitar mulut. Aktivitas utama menghisap dan menggigit. Dasar perkembangan mental yang sehat sangat tergantung dari hubungan ibu-anak. 2) fase anal (antara 1-3 tahun), tugas utama anak seperti latihan kebersihan atau toilet training. 3) fase falik (usia 3-5/6/7 tahun), pengenalan anak akan bagian tubuhnya sendiri, terjadi proses identifikasi seksual. 4) fase laten (antara usia 5/6/7 tahun-12 tahun), anak harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan sosial, rangsangan-rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi moral/agama/adat.Menurut Freud, banyak masalah psikologik (mental emosional) di masa dewasa berakar kegagalan individu menyelesaikan konflik-konflik seksual di fase-fase dini perkembangannya. Penyelesaian yang baik, memungkinkan individu untuk mencapai maturitas kepribadian, identitas seksual, dan kehidupan emosional yang mantap.3

Perkembangan KognitifPerkembangan kognitif meliputi perkembangan proses pikir atau nalar dan kemampuan intelegentif lainnya.3Jean Piaget menggambarkan siklus kehidupan dari sudut perkembangan kognitif/intelektual. Bagaimana seorang bayi yang boleh dikatakan hanya memiliki refleks-refleks, gerakan-gerakan otom