Pawiwahan Agung

download Pawiwahan Agung

of 30

  • date post

    07-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    172
  • download

    6

Embed Size (px)

Transcript of Pawiwahan Agung

LAPORAN PENGAMATAN PAWIWAHAN AGUNG GKR BENDARA DAN KPH YUDANEGARA DI KRATON YOGYAKARTALaporan ini Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah Busana Jawa Dosen: Prof. Dr. Suharti

Oleh: 1. Zamsi Indriarwati 2. Yacobus Cahyadi 3. Dwi Yuni Astuti 4. Nur Hanifah Insani 5. Nur Afif Wibowo 6. Dani Ari Wahyuni 7. Fitria Wulandari 8. Rista Sapta Perwitasari 9. Muhammad Al Maarif Kelas : B2 10205241060 10205241061 10205241062 10205241063 10205241065 10205241070 10205241073 10205241074 10205241077

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap daerah memiliki adat istiadat dan tradisi yang berbeda-beda dalam setiap bagian kehidupannya. Salah satu tradisi yang berkembang di daerah-daerah adalah mengenai tradisi dalam tata upacara pernikahan. Ada banyak variasi penyelenggaraan tata upacara pernikahan. Salah satu daerah yang memiliki kekhasan dalam penyelenggaraan tradisi pernikahan adalah Yogyakarta. Yogyakarta memiliki tradisi upacara pernikahan yang berbeda dengan daerah-daerah lainnya. Keraton Yogyakarta merupakan tempat munculnya simbol-simbol adat di daerahnya. Perlangsungan upacara pernikahan yang diselenggarakan di keraton Yogyakarta tentu dilangsungkan dengan berbagai tahapan upacara di dalamnya. Rangkaian upacara yang dilangsungkan selama prosesi pernikahan pun sangat beragam dan sarat akan makna. Oleh karena itu, untuk menjaga kelestarian budaya, adat tradisi yang ada di daerah-daerah, termasuk di daerah Yogyakarta ini alangkah baiknya jika kita mempelajari seluk-beluk yang berkenaan dengan tata upacara pernikahan, tepatnya adat tradisi pernikahan di keraton Yogyakarta.

B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana tata urutan upacara pawiwahan agung? 2. Bagaimana tata busana yang digunakan saat upacara pawiwahan agung? 3. Bagaimana tata rias yang digunakan saat upacara pawiwahan agung?

2

BAB II PEMBAHASAN

A. Tata Urutan Pawiwahan Agung 1. Upacara Nyantri

Upacara nyantri merupakan suatu tradisi yang harus dilakukan oleh calon pengantin pria. Menurut tradisi, upacara nyantri dilaksanakan satu sampai tiga hari sebelum upacara ijab dilaksanakan. Dalam satu sampai tiga hari itu, calon pengantin pria harus sudah diserahkan kepada orang tua calon pengantin putri. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk mengenalkan semua hal yang berkaitan dengan kraton. Alasan utama diselenggarakan upacara ini adalah demi kelancaran jalannya upacara pernikahan sehingga tidak akan merepotkan pihak calon pengantin putri dan semua acara dapat berjalan tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Pukul 09.00 WIB, calon pengantin pria (Achmad Ubaidillah

3

yang bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhanegara) sudah berada di Ndalem Mangkubumen Keraton bersama keluarga yang didampingi KRT Pujaningrat. Pukul 10.00 WIB, kerabat keraton KRT Jatiningrat atau Romo Tirun Marwito dan KRT Yudahadiningrat berangkat menjemput calon pengantin pria di Ndalem Mangkubumen untuk nyantri di keraton dengan menaiki kereta berkuda yaitu kereta Kangjeng Kyai Puspo Manik. Pukul 11.00 WIB, calon pengantin pria tiba di Regol Magangan lalu menuju Bangsal Kasatriyan untuk upacara nyantri dan beristirahat di Gedhong Srikaton. Dalam prosesi ini busana yang dikenakan oleh calon temanten kakung, yaitu atela putih, bebetan batik dan menggunakan iket batik.

2. Upacara Plangkahan

Upacara plangkahan dilakukan sebagai penghormatan bagi kakak dari calon pengantin putri (GRAy Nurabra Juwita) yang belum menikah. Calon pengantin putri Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni atau Jeng Reni yang berganti gelar Gusti Kanjeng Ratu Bendara mengadakan upacara plangkahan di Pendopo Keraton Kilen dan Ngabekten di Keraton Kilen, tempat tinggal Sultan HB X bersama keluarga. Syarat plangkahan berupa perhiasan seperti kalung, cincin,

4

anting dan gelang serta perlengkapan wanita seperti tas, pakaian, dan sepatu. Selain itu juga diserahkan satu paket pisang sanggan. Pisang sanggan yang diberikan hanyalah menjadi simbol tebusan. Tebusan ini memberi makna agar kakak bersedia memberi restu. Pada prosesi ini melibatkan calon temanten putri GKR Bendara, kakaknya yang dilangkahi yaitu GRAy. Nurabra Juwita, serta orang tua calon temanten putri. Busana yang dikenakan GKR Bendara dan GRAy. Nurabra Juwita sama yaitu kebaya broklat warna coklat, dengan nyamping batik. 3. Upacara Siraman

Upacara siraman dilaksanakan satu hari sebelum upacara ijab. Siraman mengandung arti memandikan calon pengantin disertai niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan murni / suci lahir batin. Perlengkapan dan sajen upacara siraman: a. Air dari tujuh sumber b. Kembang setaman (bunga sritaman) c. Konyoh manca warna d. Landha merang, santan kanil, air asem e. Dua butir kelapa yang sudah tua f. Alas duduk g. Sehelai mori h. Motif grompol i. Sabun dan handuk j. Kendi k. Sajen siraman

5

Pukul

09.00

WIB, siraman calon pengantin putri di Bangsal Sekar

Kedaton. Sementara calon pengantin pria mengadakan siraman di Gedong Pompa (kesatriyan) sekira pukul 11.00 WIB. Pada saat upacara siraman calon pengantin putri menggunakan kain mori putih dengan kain batik dalam roncean sebagai dan pakaian memakai melati

bunga

menutupi dada sampai perut. Calon pengantin putra memakai mori putih dengan kain batik sebagai pakaian dalam.

4. Upacara Tantingan

Upacara tantingan merupakan upacara untuk menanting

6

(menanyakan kesanggupan untuk menikah).

Sekitar pukul 18.00

WIB, upacara tantingan Sri Sultan HB X terhadap putri bungsunya di Emper Prabayeksa. Pada saat tantingan calon temanten putri memakai kebaya broklat warna coklat dengan nyamping batik motif truntum. Ayah temanten putri, Sri Sultan HB X mengenakan surjan warna hijau kembang-kembang, iket, keris dan jarik motif truntum, sedangkan GKR Hemas memakai kebaya broklat warna orange dan jarik sarimbit dengan Sri Sultan.

5. Upacara Midodareni

Upacara midodareni dilaksanakan pada sore hari menjelang upacara ijab. Upacara midodareni ini dilakukan oleh calon pengantin putri. Dalam upacara ini calon pengantin putri tidak diperkenankan tidur dan tidak diperkenankan keluar dari kamar pengantin sampai jam 24.00 serta tidak diperkenankan bertemu dengan calon pengantin pria. Selanjutnya, sekira pukul 19.30 WIB, dilakukan prosesi midodareni di Bangsal Sekar Kedaton. Sekira pukul 21.00 WIB. Pada saat midodareni calon temanten putri memakai kebaya broklat warna coklat dengan nyamping batik motif truntum. Ayah

7

temanten putri, Sri Sultan HB X mengenakan surjan warna hijau kembang-kembang, iket, keris dan jarik motif truntum, sedangkan GKR Hemas memakai kebaya broklat warna orange dan jarik sarimbit dengan Sri Sultan.

6. Upacara Ijab Upacara ijab merupakan upacara inti atau pokok dari upacara perkawinan. Upacara ijab merupakan upacara sakral atau religius dan administratif, dalam arti bahwa upacara ini dilaksanakan atas dasar hukum yang berlaku baik hukum agama maupun hukum negara.

Pada

pukul 06.00 WIB, calon pengantin pria beserta

rombongan menuju Bangsal Srimanganti untuk menunggu waktu akad nikah. Pukul 06.30 WIB, Sultan HB X menuju Masjid Panepen. Pukul 06.45 WIB, rombongan calon pengantin pria menuju Masjid Panepen. Pukul 07.00 WIB, prosesi ijab kabul dilakukan di masjid tersebut. Setelah upacara ijab kabul, KPH Yudanegara melakukan sungkem ngabekti kepada Sri Sultan HB X. Pukul 08.00 WIB atau usai ijab

8

kabul, pengantin pria dan rombongan kembali ke Bangsal Kesatriyan. Pengantin kakung memakai atela putih, jarik batik truntum, iket dan keris. Ayah pengantin perempuan (Sri Sultan) memakai jarik truntum, surjan warna hijau kembang-kembang, iket dan keris.

7. Upacara Panggih

Upacara panggih upacara yaitu saat

bertemunya pengantin pria

dengan pengantin wanita. Upacara ini melambangkan bahwa usaha untuk mencari tingkatan kehidupan yang sempurna itu banyak rintangannya. Dalam upacara panggih ini terdapat upacara edan-edanan yaitu upacara yang dimaksudkan untuk tolak bala.

Selain ada

itu

upacara

balang-balangan gantal, gantal (daun sirih) berjumlah

tujuh buah. Balangbalangan gantal ini sebagai lambang

saling melemparkan cinta. Setelah balang-balangan gantal dilanjutkan

9

dengan upacara memecah telur yaitu pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kiri, tindakan ini mengandung arti bahwa pengantin pria mempunyai sikap yang tegas untuk menurunkan keturunannya melalui seorang wanita yang menjadi istrinya dan menerimanya dengan segala kesucian hati.

Kemudian dilanjutkan upacara ranupada yaitu pengantin wanita mencuci kaki pengantin pria dengan air bunga sritaman. Upacara ini melambangkan pelayanan dan kesetiaan pengantin wanita terhadap pengantin pria.

Upacara selanjutnya adalah pondhongan, yaitu pengantin wanita dipondhong oleh pengantin pria dibantu oleh paman dari

10

pengantin wanita. Upacara ini dilakukan karena pengantin wanita berstatus lebih tinggi dari pengantin pria. Upacara panggih dilaksanakan di Bangsal Kencono.

Setelah upacara panggih dilanjutkan

upacara tampa kaya yaitu upacara di mana pengantin menuangkan laki-laki biji-

bijian, beras kuning dan uang logam

kepada pengantin wanita. Upacara ini melambangkan pemberian nafkah suami kepada istri untuk melestarikan hidup rumah tangganya. Upacara tampa kaya dilaksanakan di Bangsal Purworukmi

(Kasatriyan). Setelah tampa kaya dilanjutkan dahar klimah yaitu di mana penganti pria mengepalkan tiga buah kepalan nasi kuning kemudian dimakan oleh pengantin wanita. ini bahwa kelak

Tindakan melambangkan kedua saling pengantin

bantu-membantu

dalam menghadapi se