Pariwara Vol 55 tahun IPB Vol 055...orang tua baik dari debitur yang sudah mempunyai KPR di BTN,...

download Pariwara Vol 55 tahun IPB Vol 055...orang tua baik dari debitur yang sudah mempunyai KPR di BTN, debitur

of 8

  • date post

    02-Mar-2019
  • Category

    Documents

  • view

    213
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of Pariwara Vol 55 tahun IPB Vol 055...orang tua baik dari debitur yang sudah mempunyai KPR di BTN,...

Media Komunikasi InternalInstitut Pertanian Bogor

Penanggung Jawab: Yatri Indah Kusumastuti Pimpinan Redaksi: Siti Nuryati Redaktur Pelaksana: D Ramdhani

Editor : Aris Solikhah, Siti Zulaedah, Rio Fatahillah CP Reporter : Dedeh H, Awaluddin Fotografer: Cecep AW, Bambang A Layout : D Ramdhani Sirkulasi: Agus Budi P, Endih M, Untung Alamat Redaksi: Humas IPB Gd. Andi Hakim Nasoetion, Rektorat Lt. 1, Kampus IPB Dramaga Telp. : (0251) 8425635, Email: humas@apps.ipb.ac.id

Volume 055/ Tahun 2018PARIWARA IPB

Terbit Harian

Program Kredit Pendidikan, Bantu Mahasiswa Selesaikan Studi

Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi

bersama Bank Tabungan Negara (BTN) meluncurkan

program Kredit Pendidikan BTN yang dilaksanakan

di Gedung Kemenristek Dikti, Jakarta (10/4). Program ini

merupakan tindak lanjut dari amanat Presiden Jokowi pada

perbankan untuk menghadirkan produk keuangan dalam

sektor pendidikan. Hal ini dalam rangka untuk

meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Menurut data BPS tahun 2017, hanya 8,15 persen dari

penduduk Indonesia yang berumur 15 tahun ke atas yang

berhasil menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang

perguruan tinggi. Dalam era perkembangan teknologi yang

cukup drastis saat ini dibutuhkan berbagai inovasi dalam

berbagai bidang.

Menristekdikti, Mohamad Nasir menyampaikan bahwa

inovasi bisa dilakukan apabila anak Indonesia memiliki

kualitas sumberdaya manusia yang tinggi. Daya saing

Indonesia saat ini masih sangat rendah yaitu pada posisi 36

dari 137 negara menurut World Economic Forum Global

Competitiveness Index Indonesia.

Nasir mengungkapkan, permasalahan saat ini banyak

mahasiswa yang tidak bisa mencapai titik terakhir karena

kasus Drop Out atau ketidakmampuan orang tua

menyekolahkan anaknya. Dengan kerjasama ini harapannya

mahasiswa yang tadinya hampir gagal dapat menyelesaikan

studinya.

Meskipun demikan ia berharap agar BTN dapat memberikan

grace periode (masa tenggang) agar pokok pinjaman dapat

dibayarkan setelah mendapatkan pekerjaan. Ia juga

berharap bunga kredit ini nantinya adalah nol persen untuk

mahasiswa, sesuai dengan Undang-undang No 12 tahun

2012.

Jangan sampai terjadi kredit membelenggu mahasiswa,

kami ingin membantu mahasiswa untuk memperoleh

pendidikan yang lebih baik, ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Maryono selaku Direktur Utama Bank

BTN menyampaikan bahwa program Kredit Pendidikan BTN

yang diperuntukkan bagi mahasiswa ini merupakan

partisipasi dalam meningkatkan SDM Indonesia.

Plafon ini kita berikan dengan jumlah maksimal 200 juta

rupiah dengan bunga 6,5 persen. Ini bisa dinikmati oleh

orang tua baik dari debitur yang sudah mempunyai KPR di

BTN, debitur yang non KPR maupun yang belum menjadi

debitur BTN. Kita sudah melakukan perjanjian kerjasama

dengan 80 perguruan tinggi dan akan kita tingkatkan sampai

kurang lebih 120 perguruan tinggi yang berada dibawah

Kemenristek, tuturnya.

2

Menanggapi hal ini, Dr Arif Satria Rektor Institut Pertanian

Bogor (IPB), kampus yang disebut-sebut sebagai kampus

rakyat menyampaikan bahwa kredit pendidikan tersebut

dapat membantu mahasiswa yang akan menyelesaikan

studinya.

Mengingat kondisi di IPB dimana mahasiswa yang

membayar penuh uang UKT itu kurang dari 10 persen.

Dengan kondisi mahasiswa IPB yang memiliki daya beli

yang relatif tidak terlalu tinggi, maka kredit ini menjadi

solusi membantu mahasiswa untuk bisa masuk dan

meneruskan kuliahnya di IPB, ujarnya.

Mengenai UU No 12 tahun 2012 yang disampaikan

Menrsitekdikti pada pidatonya, Dr. Arif mengatakan bahwa

itu menjadi dorongan perusahaan swasta untuk mendukung

program pemerintah pada sektor pendidikan.

Sudah saatnya pihak swasta membantu mahasiswa

dengan memberikan kredit yang sangat lunak yang akan

dibayar setelah mereka lulus dan mendapatkan pekerjaan.

Saya berharap para mahasiswa bisa melunasi, ungkapnya.

Kegiatan ini dilanjutkan dengan penandatanganan

perjanjian kerjasama program Kredit Pendidikan BTN oleh

Direktur Utama Bank BTN dengan 24 perguruan tinggi

negeri yang disaksikan oleh Menristekdikti. Selain itu

dilaksanakan juga simbolisasi penandatanganan dokumen

akad kredit kepada enam mahasiswa penerima fasilitas

Kredit Pendidikan BTN. (IR/Zul)

Fahutan IPB Sepakat Susun Naskah Akademik Sawit sebagai Tanaman Hutan

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB)

bekerjasama dengan Pusat Kajian dan Advokasi

Konservasi Alam, Kementerian Koordinator Bidang

Perekonomian RI dan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan

Kelapa Sawit menggelar Focus Group Discussion (FGD)

dengan mengusung tema Sawit dan Deforestasi Hutan

Tropika. FGD ini digelar di IPB International Convention

Center (IPB ICC) kampus Baranangsiang Bogor, (12/4). Di

FGD ini ada banyak pendapat mengenai perkebunan kelapa

sawit dan deforestasi hutan.

Menurut Dekan Fakultas Kehutanan, Dr. Ir. Rinekso

Soekmadi, MSc, komoditas perkebunan merupakan salah

satu andalan dari pendapatan nasional dan devisa negara

Indonesia. Dari catatan Direktorat Jenderal Perkebunan

Kementerian Pertanian RI, luasan perkebunan kelapa sawit

terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016,

luasannya mencapai 11, 9 juta ha dan tahun 2017

meningkat menjadi 12, 3 juta ha. Dari luasan tersebut

menurut sebaran wilayahnya, yang terbesar berada di pulau

Sumatera sekitar 7,4 juta ha dan Kalimantan sekitar 4.3 juta

ha.

Hutan itu sendiri merupakan suatu kesatuan ekosistem

berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang

d idominas i pepohonan da lam komuni tas a lam

lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara satu

dengan yang lain. Itu semua harus dijaga kelestariannya.

Sementara kebun sawit memberi pemasukan dan nilai

ekonomi yang tinggi dan berarti bagi masyarakat selain

sangat efisien dari segi hasil untuk lahan yang terbatas. Saat

ini ada kekhawatiran menstigmatisasi seluruh tanaman

padahal bukan tanamannya yang menjadi masalah, tetapi di

mana kita menanamnya, ujarnya.

Sementara itu Pembina Pusat Kajian Advokasi dan

Konservasi Alam yang juga dosen di Fakultas Kehutanan IPB,

Prof. Dr. Yanto Santoso menyampaikan semoga rumusan

FGD ini menghasilkan rumusan penting bagi pemerintah,

pengusaha, peneliti, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga dan

mengawal perkembangan perkebunan kelapa sawit

Indonesia yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Sebagaimana hukum yang berlaku di Indonesia,

deforestasi itu merupakan alih fungsi atau perubahan fungsi

dari kawasan hutan menjadi peruntukan non hutan. Dari

hasil survei ke lapangan tersebut, saya berani memastikan

bahwa sawit bukan merupakan penyebab deforestasi di

Indonesia. Lahan perkebunan kelapa sawit yang ada di

Indonesia tidak berasal dari kawasan hutan, ujarnya.

Selain itu Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian

Kemenko Perekonomian RI , Dr . I r . Wistra Danny

menyampaikan kelapa sawit Indonesia terus berkembang

pesat dan menjadi salah satu komoditi yang strategis dalam

menunjang perekonomian nasional. Keberadaan industri

3

kelapa sawit yang disertai dengan berbagai produk

turunannya, harus diakui masih menjadi unggulan utama

produk komoditas Indonesia.

Perkebunan kelapa sawit yang menghasilkan minyak

kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) masih menjadi

salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Hingga

tahun 2017, Indonesia masih tercatat sebagai eksportir

terbesar di dunia untuk komoditas tersebut. Berdasarkan

data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI).

Perkebunan kelapa sawit juga bukan penyebab deforestasi

h u t a n t r o p i k a , b u k a n p e n y e b a b p e n u r u n a n

keanekaragaman hayati dan bukan penyebab kebakaran

hutan. Sebaliknya kelapa sawit adalah promotor dari

pelindung benang alam yang bernilai konservasi hutan

yang tinggi, yang senantiasa memberikan manfaat bagi

kehidupan, katanya.

Dari hasil diskusi di FGD ini, saran dan solusi yang disepakati

bersama adalah perlu segera disusun naskah akademik

sebagai dasar pertimbangan usulan tanaman sawit menjadi

salah satu tanaman kehutanan. Sehingga dimungkinkan

sawit ditanam pada kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR)

dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Sesuai pengaturan tata

ruang mikro hutan tanaman, hutan tanaman sawit ini

merupakan lanskap mozaik dengan jenis-jenis tanaman

lainnya.

Perlu adanya ketegasan pemerintah terhadap para pelaku

deforestasi dan pihak-pihak yang secara sistematis

menyebabkan isu deforestasi tanpa data yang akurat dan

valid. Juga diperlukan keberanian semua pemangku

kepentingan terkait untuk memperkarakan secara hukum

pihak-pihak yang secara sistematis menyebarkan isu-isu

deforestasi tanpa d