PARADIGMA PROFETIK

download PARADIGMA PROFETIK

of 50

  • date post

    12-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    221
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of PARADIGMA PROFETIK

  • makalah sarasehan februari 2011

    PARADIGMA PROFETIK

    - MUNGKINKAH ? PERLUKAH ? -

    Heddy Shri Ahimsa-Putra Antropologi Budaya

    Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

  • 1

    Makalah disampaikan dalam Sarasehan Profetik 2011, diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana UGM, di Yogyakarta, 10 Februari 2011

    DAFTAR ISI I. PENGANTAR II. ILMU (SOSIAL) PROFETIK : PANDANGAN KUNTOWIJOYO 1. Asal-Muasal Gagasan Ilmu (Sosial) Profetik, Transformatif di UGM 2. I lmu Sosial Profetik, I lmu Sosial Transformatif 3. Wahyu : Basis Epistemologis dan Implikasinya a. Sumber Pengetahuan : Wahyu - Akal b. Pendekatan : Strukturalisme Transendental c. Analisis / Tafsir : Sintetik - Analitik 4. Etika: Humanisme-Teosentris 5. Tujuan : Humanisasi / Emansipasi, Liberasi / Pembebasan, Transendensi 6. Telaah Kritis atas Pandangan Kuntowijoyo III. PARADIGMA PROFETIK : APA ITU ? 1. Paradigma : Sebuah Definisi 2. Unsur-unsur (komponen-komponen) Paradigma a. Asumsi-asumsi/Anggapan-anggapan Dasar (Basic Assumptions) - (1) b. Etos / Nilai-nilai (Ethos / Values) - (2) c. Model-model (Models) - (3) d. Masalah Yang Ditelit i /Yang Ingin Dijawab - (4) e. Konsep-konsep Pokok (Main Concepts, Key Words) - (5) f . Metode-metode Penelitian (Methods of Research) - (6) g. Metode-metode Analisis (Methods of Analysis) - ( 7 ) h. Hasil Analisis / Teori (Results of Analysis / Theory) - (8) i . Representasi (Etnografi) - (9) 3. Skema Paradigma 4. Paradigma Profetik dan Islam a. Al Quran dan Sunnah Rasul b. Rukun Iman

  • 2

    c. Rukun Islam IV. BASIS EPISTEMOLOGIS PARADIGMA PROFETIK 1. Asumsi Dasar tentang Basis Pengetahuan a. Indera b. Kemampuan Strukturasi dan Simbolisasi (Akal) c. Bahasa (Pengetahuan Kolektif) d. Wahyu - I lham e. Sunnah Rasulullah s.a.w. 2. Asumsi Dasar tentang Obyek Material 3. Asumsi Dasar tentang Gejala Yang Ditelit i 4. Asumsi Dasar tentang Ilmu Pengetahuan 5. Asumsi Dasar tentang Ilmu Sosial dan/atau Alam Profetik 6. Asumsi Dasar tentang Disiplin Profetik V. ETOS PARADIGMA PROFETIK 1. Basis Semua Etos : Penghayatan 2. Etos : Pengabdian a. Pengabdian kepada Allah s.w.t. b. Untuk Pengetahuan (Ilmu) c. Untuk Diri Sendiri d. Untuk Sesama e. Untuk Alam 3. Etos Kerja Keilmuan a. Pengembangan Unsur Paradigma b. Pengembangan Paradigma Baru 4. Etos Kerja Kemanusiaan a. Kejujuran b. Keseksamaan / Ketelitian c. Kekritisan d. Penghargaan VI. MODEL PARADIGMA PROFETIK 1. Model (Struktur) Rukun Iman dan Transformasinya 2. Model (Struktur) Rukun Islam dan Trasformasinya VII. IMPLIKASI EPISTEMOLOGI PROFETIK 1. Implikasi Permasalahan 2. Implikasi Konseptual

  • 3

    3. Implikasi Metodologis Penelitian 4. Implikasi Metodologis Analisis 5. Implikasi Teoritis 6. Implikasi Representasional (Etnografis) VIII. IMPLIKASI PARADIGMA PROFETIK 1. Transformasi Individual 2. Transformasi Sosial (Kolektif) IX. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

    ooooo

  • 4

    PARADIGMA PROFETIK - MUNGKINKAH ? PERLUKAH ? -

    Heddy Shri Ahimsa-Putra

    Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya

    Universitas Gadjah Mada I. PENGANTAR Kira-kira sembilan tahun yang lalu, tepatnya 2 Nopember 2002, sebuah sarasehan ilmu-ilmu profetik digelar di UGM di gedung Pascasarjana. Sejumlah makalah dari ber-bagai disiplin dipresentasikan, di antaranya dari bidang Ilmu Humaniora, Ilmu MIPA dan Teknik, Ilmu Sosial, Ilmu Pertanian dan Ilmu Kesehatan. Tidak semua makalah be-rupa makalah yang ditulis secara rinci dan jelas. Ada yang hanya berisi butir-butir pemi-kiran yang juga tidak mudah dimengerti maksudnya; ada yang ditulis dengan panjang lebar, tetapi isi dan arah pembicaraan juga tidak sepenuhnya jelas, sehingga setelah membaca makalah-makalah tersebut saya tidak memperoleh gambaran yang cukup je-las tentang apa yang dimaksud dengan ilmu-ilmu profetik itu sendiri. Singkatnya kelemahan-kelemahan dalam berbagai makalah tersebut dapat diring-kas sebagai berikut. Pertama, makalah-makalah itu belum memaparkan dengan jelas, mengapa ilmu profetik perlu dibangun. Kedua, belum memaparkan secara sistematis apa yang dimaksud dengan profetik, dan bagaimana mewujudkannya dalam kegiatan keilmuan, agar kemudian dapat terbangun ilmu-ilmu yang profetik. Ketiga, belum me-maparkan dengan cukup jelas kerangka pemikiran tentang ilmu pengetahuan dengan berbagai unsurnya, sehingga ilmu profetik yang ingin dibangun juga tidak dapat diketa-hui sosoknya secara jelas. Meskipun demikian, hal itu tidak berarti bahwa pemikiran tentang ilmu profetik tidak ada. Seingat saya, gagasan mengenai ilmu profetik di Indonesia ini pada mulanya ber-asal dari Prof. Dr. Kuntowijoyo, guru besar sejarah dari Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Gagasan ini dituangkan lebih lengkap oleh beliau dalam bukunya yang berjudul Islam sebagai Ilmu: Epistemologi, Metodologi dan Etika, yang diterbitkan pada tahun 2004. Jadi belum begitu lama. Meskipun demikian, pemikiran-pemikiran Kuntowijoyo -yang selanjutnya akan saya sebut Mas Kunto, sapaan akrab saya untuk beliau- mengenai il-mu profetik tersebut bibit-bibitnya sudah ditebar lebih awal dalam bukunya Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (Mizan, 1991). Saya tidak tahu apa persisnya reaksi pu-

  • 5

    blik cendekiawan Indonesia ketika buku-buku tersebut terbit, karena saat itu saya mash di Amerika Serikat, menyelesaikan s-3. Saya sendiri pada awalnya tidak banyak menaruh perhatian pada pemikiran-pemi-kiran mas Kunto, yang lebih saya kenal sebagai sejarawan. Apalagi perhatian saya se-dang saya curahkan pada persoalan bagaimana strategi yang tepat dan mudah untuk dapat mengembangkan antropologi sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan. Topik ini tentu saja membawa saya pemikiran-pemikiran dari Thomas Kuhn mengenai revolu-si ilmu pengetahuan, yang dituangkan dalam bukunya yang memicu perdebatan pan-jang di kalangan ilmuwan di Barat, The Structure of Scientific Revolutions. Kemudian suatu hari saya di-sms oleh mas Indra Bastian dari fakultas Ekonomika dan Bisnis, UGM. Dia minta saya menulis makalah tentang Strukturalisme Transenden-tal. Saya agak terkejut. Memang saya banyak menulis tentang paradigma Strukturalis-me dalam antropologi, tetapi bukan strukturalisme transendental. Akhirnya setelah sa-ya bertemu dengan mas Indra dan pak Edimeyanto dari fakultas Farmasi, dan mereka menjelaskan kepada saya mengapa mereka menghubungi saya, barulah saya mema-hami apa yang mereka inginkan dari saya 1). Hasil dari pertemuan tersebut adalah sa-ya sepakat untuk membahas kembali masalah ilmu-ilmu profetik, yang pernah dibahas oleh mas Kunto, tetapi dengan perspektif saya sendiri tentu saja. Dalam makalah ini saya mencoba memaparkan kembali secara ringkas pandangan-pandangan mas Kunto mengenai ilmu sosial profetik -karena mungkin tidak banyak yang tahu dengan cukup mendalam pandangan-pandangan tersebut-, dan kemudian membahasnya dengan agak kritis. Atas dasar beberapa kelemahan yang masih terda-pat dalam pemikiran mas Kunto, saya mencoba untuk mengembangkan lebih lanjut ga-gasan mas Kunto untuk membangun paradigma profetik yang lebih jelas komponennya lebih kokoh dasarnya, dan juga lebih jelas sosoknya. Tentu saja, karena terbatasnya ruang di sini, tidak semua komponen paradigma profetik akan saya ulas. Bagian yang akan saya ulas terutama adalah bagian tentang epistemologi. II. ILMU (SOSIAL) PROFETIK : PANDANGAN KUNTOWIJOYO Di Indonesia, pandangan mengenai ilmu sosial profetik -dan ini bisa juga kita artikan sebagai ilmu alam profetik- yang cukup komprehensif terdapat pada tulisan-tulisan mas Kunto, karena beliaulah yang secara sadar bermaksud membangun sebuah paradigma baru ilmu pengetahuan, yakni ilmu pengetahuan yang profetik, dengan agama Islam sebagai landasannya. Apa yang digagas oleh mas Kunto pada dasarnya bukanlah hal yang sama sekali baru dalam jagad pemikiran Islam. Dari tulisan-tulisannya kita dapat menemukan tokoh-tokoh pemikir Islam yang banyak mempengaruhi dan memberikan inspirasi pada mas Kunto. 1. Asal-Muasal Gagasan Ilmu (Sosial) Profetik, Transformatif di UGM Kata profetik berasal dari bahasa Inggris prophet, yang berarti nabi. Menurut Ox-ford Dictionary prophetic adalah (1) Of, pertaining or proper to a prophet or prophe-cy; having the character or function of a prophet; (2) Characterized by, containing, or

    ) ) Alhamdulillah, saya dipertemukan oleh Allah s.w.t. dengan mas Indra Bastian dan pak Edimeyanto, sehingga saya terlibat dalam membangun pemikiran mengenai ilmu (sosial) profetik, transformatif. Saya berterimakasih kepada mas Indra dan pak Edimeyanto yang telah mengajak saya terlibat dalam pergulatan pemikiran mengenai ilmu profetik ini.

  • 6

    of the nature of prophecy; predictive. Jadi, makna profetik adalah mempunyai sifat atau ciri seperti nabi, atau bersifat prediktif, memrakirakan. Profetik di sini dapat kita terjemahkan menjadi kenabian. Akan tetapi, adakah ilmu sosial kenabian? Ilmu sosial seperti apa ini? Mas Kunto menulis bahwa Asal-usul dari pikiran tentang Ilmu Sosial Profetik itu da-pat ditemukan dalam tulisan-tulisan Muhammad Iqbal dan Roger Garaudy. Muham-mad Iqbal adalah tokoh pemikir Islam, sedang Roger Garaudy adalah ahli filsafat Pran-cis yang masuk Islam. Mas Kunto banyak mengambil gagasan dua pemikir untuk me-ngembangkan apa yang diangan-angankannya sebagai ilmu-ilmu profetik, lebih khusus lagi ilmu sosial profetik, karena mas Kunto adalah seorang sejarawan, seorang ilmu-wan sosial. Dikatakan oleh mas Kunto bahwa gagasan mengenai ilmu sosial profetik yang dike-mukakannya dipicu antara lain oleh perdebatan yang terjadi di kalangan cendekiawan Islam meng