pangan fungsional (kedelai)

download pangan fungsional (kedelai)

If you can't read please download the document

  • date post

    08-Dec-2014
  • Category

    Documents

  • view

    116
  • download

    2

Embed Size (px)

Transcript of pangan fungsional (kedelai)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hidup yang baik dan bermakna hanya dapat diwujudkan dengan hidup yang sehat. Pepatah mengatakan bahwa kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam hidup ini. Untuk mendapatkan hidup yang sehat dapat dilakukan dengan pola makan atau kebiasaan makan yang baik dan benar. Makanan merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup. Tanpa makanan, makhluk hidup tidak bisa untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, tua muda, sakit sehat selalu membutuhkan makanan, dalam jenis dan porsi yang berbeda. Kebutuhan akan makanan mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Berawal dari istilah empat sehat lima sempurna, dimana setiap orang disarankan untuk memenuhi kebutuhan gizi melalui sumber karbohidrat (beras, ubi, gandum), lauk sebagai sumber protein dan lemak (ikan, tempe, tahu, daging dsb), sayur sebagai sumber vitamin, serat dan mineral, buah sebagai sumber vitamin dan mengonsumsi susu agar menjadi 5 sempurna. Namun demikian, empat sehat lima sempurna tidaklah harus dipenuhi, mengingat kebutuhan masingmasing orang akan berbeda misalnya orang yang megalami kegemukan (obese) tidak disarankan mengkonsumsi berbagai makanan yang berlemak. Kebutuhan makanan bagi setiap orang kemudian bergeser menjadi menu seimbang, dalam artian, bahwa kebutuhan tiap individu tidak harus mengikuti empat sehat lima sempurna, namun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Pergeseran kebutuhan makanan terjadi lagi, mengingat terjadi peningkatan penyakit seperti kanker, diabetes mellitus, jantung dan sebagainya. Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran pangan masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga semakin bergeser. Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta kenampakan dan cita rasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis tertentu bagi tubuh. Saat ini banyak dipopulerkan bahan pangan yang mempunyai fungsi fisiologis tertentu di dalam tubuh, misalnya untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol, menurunkan kadar gula darah, meningkatkan penyerapan kalsium, dan lain-lain. Saat ini telah banyak diketahui bahwa di dalam bahan pangan terdapat senyawa yang mempunyai peranan penting bagi kesehatan. Senyawa tersebut mengandung komponen aktif1

yang mempunyai aktivitas fisiologis yang memberikan efek positif bagi kesehatan tubuh orang yang mengkonsumsinya. Istilah pangan fungsional merupakan nama yang paling dapat diterima semua pihak untuk segolongan makanan dan atau minuman yang mengandung bahan-bahan yang diperkirakan dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah timbulnya penyakitpenyakit tertentu. Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat pengobatan (kuratif), maka pangan fungsinal hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit (preventif). Sedangkan suplemen makanan adalah bahan pangan dengan tujuan untuk memberikan tambahan bagi diet normal yang merupakan sumber gizi. Kelompok senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar (karbohidrat, protein, dan lemak) yang terkandung dalam pangan yang bersangkutan, yaitu: serat makanan (dietary fiber), oligosakarida, gula alkohol (polyol), asam lemak tidak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acids = PUFA), peptida dan protein tertentu, glikosida dan isoprenoid, polifenol dan isoflavon, kolin dan lesitin, bakteri asam laktat, phytosterol, vitamin dan mineral tertentu (Tarigan, 1986). B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dalam uraian di atas, dapat penulis rumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut. 1. Bagaimanakah peran kedelai sebagai pangan fungsional? 2. Bagaimakah peran kedelai untuk mencegah penyakit jantung? 3. Bagaimakah peran kedelai untuk mencegah osteoporosis? 4. Bagaimakah peran kedelai pada kejadian menopause? 5. Bagaimakah peran kedelai untuk mencegah kanker? 6. Bagaimakah peran kedelai untuk mencegah penyakit ginjal? 7. Bagaimakah peran kedelai untuk mencegah diabetes mellitus? C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Mendeskripsikan peran kedelai sebagai pangan fungsional. 2. Mendeskripsikan peran kedelai untuk mencegah penyakit jantung. 3. Mendeskripsikan peran kedelai untuk mencegah osteoporosis.2

4. Mendeskripsikan peran kedelai pada kejadian menopause. 5. Mendeskripsikan peran kedelai untuk mencegah kanker. 6. Mendeskripsikan peran kedelai untuk mencegah penyakit ginjal 7. Mendeskripsikan peran kedelai untuk mencegah diabetes mellitus D. Manfaat Penulisan Penulisan makalah ini bermanfaat bagi semua kelompok masyarakat agar lebih mengetahui jenis - jenis bahan pangan yang bersifat fungsional dan memiliki peran yang baik dalam mencegah berbagai penyakit. Makalah ini membahas tentang kedelai sebagai contoh pangan fungsional. Kedelai yang telah dikenal sehari-hari oleh masyarakat Indonesia sejak lama ternyata memiliki berbagai manfaat akan dibahas dalam makalah ini. Dengan mengetahui kandungan zat gizi dan senyawa lainnya didalam kedelai akan membuat masyarakat mengetahui peranan kedelai sebagai pangan fungsional. Penulisan makalah ini juga bermanfaat bagi penulis agar lebih mengembangkan pengetahuan tentang bahan pangan yang bersifat fungsional dengan harapan ditemukannya berbagai manfaat dari bahan pangan lainnya yang sudah tidak asing lagi bagi kita.

3

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Pangan Fungsional Pangan fungsional adalah pangan yang karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, diluar manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalammya (The First Internasional Conferensi East- West Perspective on Fungsional Foods 1996 ). Pangan fungsional adalah pangan olahan yang mengandung bahan-bahan yang berdasarkan kajian ilmiah mempunyai fungsi fisiologis tertentu, tidak membahayakan, dan bermanfaat bagi kesehatan (Wildman 2001). Pangan fungsional adalah pangan yang dapat memberikan Information). Pangan fungsional adalah pangan yang secara alamiah maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan dikonsumsi kajian-kajian ilmiah dianggap bagi kesehatan. Serta mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang bermanfaat manfaat kesehatan diluar zat-zat gizi dasar (The International Food

sebagai mana layaknya makanan atau minuman, mempunyai karakteristik

sensori berupa penampakan, warna dan tekstur dan cita rasa yang dapat diterima oleh konsumen, tidak memberikan kontraindikasi dan tidak memberikan efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat gizi lainnya (Badan POM, 2001). Pangan Fungsional adalah pangan yang kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan di luar manfaat yang diberikan zat gizi yang terkandung di dalamnya. Dikenal dengan nutraceutical, designer food, medicinal food, therapeutic food, food ceutical dan medifood. Pangan fungsional adalah pangan yang memiliki tiga fungsi yaitu fungsi primer, artinya makanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral); fungsi sekunder artinya makanan tersebut dapat diterima oleh konsumen secara sensoris dan fungsi tersier artinya makanan tersebut memiliki fungsi untuk4

menjaga kesehatan, mengurangi terjadinya suatu penyakit dan menjaga metabolisme tubuh. Jadi pangan fungsional dikonsumsi bukan berupa obat (serbuk) tetapi dikonsumsi berbentuk makanan. Contoh makanan fungsional yaitu makanan yang mengandung bakteri yang berguna untuk tubuh: yoghurt, yakult, makanan yang mengandung serat, misalkan bekatul, tempe, gandum utuh, makanan yang mengandung senyawa bioaktif seperti teh (polifenol) untuk mencegah kanker, komponen sulfur (bawang) untuk menurunkan kolesterol, daidzein pada tempe untuk mencegah kanker, serat pangan (sayuran, buah, kacang-kacangan) untuk mencegah penyakit yang berkaitan dengan pencernaan.

2.

Syarat - Syarat Pangan Fungsional Menurut para ilmuwan Jepang, beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh suatu

produk agar dapat dikatakan sebagai pangan fungsional adalah. 1. Harus merupakan produk pangan (bukan berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk) yang berasal dari bahan (ingredient) alami 2. Dapat dan layak dikonsumsi sebagai bagian dari diet atau menu sehari - hari 3. Mempunyai fungsi tertentu pada saat dicerna, serta dapat memberikan peran dalam proses tubuh tertentu, seperti: memperkuat mekanisme pertahanan tubuh, mencegah penyakit tertentu, membantu mengembalikan kondisi tubuh setelah sakit tertentu, menjaga kondisi fisik dan mental, serta memperlambat proses penuaan

3.

Klasifikasi Pangan Fungsional Klasifikasi penggolongan pangan fungsional menurut Juvan et al. 2005 adalah

sebagai berikut. 1. Berdasarkan golongan dari pangan tersebut (produk susu dan turunannya, minuman, produk sereal, produk kembang gula, minyak, dan lemak) 2. Berdasarkan penyakit yang akan dihindari atau dicegah (diabetes, osteoporosis, kanker kolon)5

3. Berdasarkan efek fisiologis (imunologi, ketercernaan, aktivitas anti-tumor) 4. Berdasarkan kategori komponen bioaktif (mineral, antioksidan, lipid, probiotik) 5. Berdasarkan sifat organoleptik dan fisikokimia (warna, kelarutan,tekstur) 6. Berdasarkan proses produksi yang digunakan (kromatografi, enkapsulasi, pembekuan). 4. Kedelai Tanaman kedelai telah diusahakan di Indonesia sejak tahun 1970. Sebagai bahan makanan kedelai banyak mengandung protein, lemak dan vitamin, sehingga tidak mengherankan bila kedelai mendapat julukan : gold from the soil/ emas yang muncul dari tanah (Ditjen Pertanian Tanaman Pangan, 1991). Berdasar warna kulitnya, kedelai dapat dibedakan atas kedelai puti