pak muhlis

download pak muhlis

of 26

  • date post

    13-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    171
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of pak muhlis

Tugas Kelompok

PENINGKATAN CAKUPAN PENGELOLAAN SAMPAH KOTA MAKASSAR TAHUN 2012

OLEH KELOMPOK 1 A.IKA MUHARDIANTI AMAL A.DARAMUSENG ANA UTAMI ZAINAL FITRIASTUTI MAULANA HIJRAH DARWIS IKA HANDAYANI NURHIKMAH RATNAWATY 70200108001 70200108005 70200108012 70200108033 70200108038 70200108041 70200108067 70200108072

PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alamnya. Sumber daya alam di Indonesia adalah segala potensi alam yang dapat dikembangkan untuk proses produksi, namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi aktivitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang dianggap sudah tidak berguna lagi sehingga diperlakukan sebagai barang buangan, yaitu sampah. Sampah merupakan masalah bagi semua orang, sehingga manusia menyingkirkan sampah sejauh mungkin dari aktivitas manusia. Di kota-kota besar untuk menjaga kebersihan sering kali menyingkirkan sampah ke tempat yang jauh dari pemukiman atau yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pertambahan jumlah penduduk yang semakin besar di kota-kota besar, sampah pun menjadi suatu masalah yang harus mendapatkan banyak perhatian. Dengan jumlah penduduk lokal mencapai sekitar 1,3 juta jiwa, kota Makassar menghasilkan sekitar 3800 m3 sampah perkotaan setiap harinya. Kota Makassar yang merupakan ibu kota dari Sulawesi Selatan juga mengalami masalah yang sama dengan kota-kota besar lainnya mengenai masalah persampahan. Kota Makassar membutuhkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah karena kondisi TPA Tamangappa Antang dinilai sudah tidak layak kapasitas maksimum dari TPA Tamangapa hanya sekitar 2,800 m3 sampah perkotaan setiap harinya. Lahan TPA tambahan akan diperlukan untuk pembuangan sisa sampah. Sebagian besar sampah berasal dari aktivitas penduduk seperti di pasar, pusat perdagangan, rumah makan, dan hotel. Sekitar 76,98% sampah di Makassar merupakan sampah organik dan sekitar 9,68% adalah sampah plastik (Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makasar, 2010) Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar didesak mencari terobosan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Pengamat tata ruang perkotaan

Nadjamuddin Nawawi menjelaskan, TPA yang ada sekarang ini sudah tidak layak digunakan. Selain kapasitas sampah yang cukup tinggi setiap hari, sampah yang dibuang sudah mencapai permukiman penduduk dan menyebarkan bau tak sedap. Kondisi tersebut harusnya menjadi perhatian Pemkot. Melihat kondisi TPA Tamangappa di Antang saat ini, Makassar membutuhkan TPA baru yang tidak bersentuhan langsung dengan permukiman masyarakat. Di samping itu, diperlukan upaya Pemkot dalam hal pengelolaan sampah yang ramah lingkungan. Saat ini sistem pengelolaan sampah di Kota Makassar belum maksimal. Berdasarkan data yang dihimpun, produksi sampah di Kota Makassar mencapai 3.680 meter kubik (m3) per hari. Akan tetapi, yang dapat terangkut oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan hanya 3.270 m3. Artinya, masih ada sekitar 410 m3 sampah yang tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA) dan hanya menumpuk di tempat pembuangan sementara (TPS). Dinas Kebersihan Kota Makassar senantiasa dihadapkan ketidakmampuan mengangkut sampah produk warga kota. Alasannya pun masih tetap sama dari masa ke masa, keterbatasan petugas kebersihan dan sarana pengangkutan. Saat ini misalnya, dari pihak Kantor Dinas Kebersihan Kota Makassar menyatakan dari sekitar 3.700 kubik produk sampah warga Kota Makassar setiap harinya, masih terdapat lebih 400 kubik sampah yang tak dapat diangkut dari TPS-TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh pihak petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar. Kota Makassar masih kekurangan sekitar 100-an unit mobil pengangkut sampah. Demikian pula masih dibutuhkan tambahan sekitar 200-an tenaga kebersihan untuk dapat mengatasi pengangkutan produk sampah warga Kota Makassar yang mencapai sekitar 3.700 kubik setiap hari. Kekuatan armada angkutan Dinas Kebersihan Kota Makasaar saat ini hanya lebih dari 130 unit, di antaranya ada yang sebenarnya sudah tak layak operasi. Sedangkan tenaga/petugas kebersihan yang dimiliki lebih dari 400-an orang (Mahaji Noesa, 2011). Dengan perkiraan jumlah penduduk 2,2 juta jiwa pada tahun 2015, dan rata-rata produksi sampah tiap orang sekitar 0.3 m3 per hari, diperkirakan akan

dihasilkan total 4,500 m3 sampah tiap hari. Ini akan menjadi masalah yang serius apabila tidak terdapat rencana dan pengelolaan sampah padat perkotaan yang memadai, untuk itu diperlukan program yang sesuai untuk dapat memaksimalkan pengelolaan sampah di Kota Makassar. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana permasalahan pengelolaan sampah yang ada di Kota Makassar? 2. Program apa yang dapat digunakan untuk memaksimalkan pengelolaan sampah di Kota Makassar? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui permasalahan pengelolaan sampah yang ada di Kota Makassar 2. Untuk mengetahui program apa yang dapat digunakan untuk memaksimalkan pengelolaan sampah di Kota Makassar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sampah Berdasarkan SK SNI tahun 1990, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (Subekti, 2009). Sampah adalah istilah umum yang sering digunakan untuk menyatakan limbah padat. Sampah adalah sisa-sisa bahan yang mengalami perlakuan-perlakuan, baik karena telah sudah diambil bagian utamanya, atau karena pengolahan, atau karena sudah tidak ada manfaatnya yang ditinjau dari segi sosial ekonomis tidak ada harganya dan dari segi lingkungan dapat menyebabkan pencemaran atau gangguan terhadap lingkungan hidup (Hadiwiyoto, 1983). Sampah adalah limbah yang berbentuk padat dan juga setengah padat, dari bahan organik atau anorganik, baik benda logam maupun benda bukan logam, yang dapat terbakar dan yang tidak dapat terbakar. Bentuk fisik benda-benda tersebut dapat berubah menurut cara pengangkutannya atau cara pengolahannya (Direktorat Jenderal Cipta Karya,1986). Sampah padat adalah semua barang sisa yang ditimbulkan dari aktivitas manusia dan binatang yang secara normal padat dan dibuang ketika tidak dikehendaki atau sia-sia (Tchobanoglous, 1993). Sedangkan yang dimaksud dengan sampah perkotaan adalah sampah yang timbul di kota (tidak termasuk sampah yang berbahaya dan beracun).

Klasifikasi Sampah Sampah dapat diklasifikasikan ke dalam berbagai golongan; dan pengklasifikasian sampah dapat dilakukan berdasarkan beberapa tinjauan, yaitu : 1. Berdasarkan Jenis

Sampah organik : Sampah yang sebagian besar tersusun oleh senyawa-

senyawa organik, dan berasal dari sisa-sisa tumbuhan (sayur, buah, daun, kayu, dll.), hewan (bangkai, kotoran, bagian tubuh seperti tulang, dll.). Sampah ini bersifat dapat terurai (degradable) sehingga dalam waktu tertentu akan berubah bentuk dan dapat menyatu kembali dengan alam Sampah an-organik : Sampah yang sebagian besar tersusun oleh senyawa-

senyawa an-organik, dan berasal dari sisa industri, seperti plastik, botol / kaca, kaleng, logam, dll.. Sampah an-organik umumnya bersifat sukar terurai / sukar lapuk dan tidak lapuk (non-degradable) sehingga akan selalu dalam bentuk aslinya di alam. 2. Berdasarkan Sumber Rumah tangga : Sampah rumah tangga dapat bersumber dari kamar mandi

dan dapur perumahan, rumah makan, dll. berupa limbah yang merupakan cairan bekas mencuci dan membersihkan sesuatu bahan keperluan seharihari. Industri : Sampah industri dapat bersumber dari pabrik, hotel, labratorium,

rumah sakit, dll. berupa limbah yang dibuang yang mengandung berbagai macam bahan bahan kimia. Pertanian : Sampah pertanian bersumber kawasan pertanian berupa sisa-

sisa insektisida dan pupuk, sisa-sisa produk pertanian (sisa sayuran, potongan daun / batang / akar, buah) atau sisa-sisa bekas penanaman. 3. Berdasarkan Tingkat Kelapukan Lapuk (garbage) : Sampah yang merupakan bahan-bahan organik; seperti

sayuran, buah, makanan. Pelapukan jenis sampah ini dapat terjadi dalam waktu tertentu, sehingga akan berubah bentuk dan dapat menyatu kembali dengan alam. Sampah susah lapuk dan tidak lapuk (rubbish) : Sampah yang merupakan

bahan organik maupun an-organik; seperti; kertas dan kayu (susah lapuk; pelapukan dapat terjadi tetapi dalam waktu yang lama, namun dapat dibakar); kaleng, kawat, kaca, mika (tidak lapuk dan tidak dapat dibakar), serta plastik (tidak lapuk tetapi dapat dibakar).

4. Berdasarkan Bentuk Padat : Sampah padat dapat berupa makhluk hidup (tumbuhan,

hewan) yang merupakan sampah organik, dan benda-benda tak hidup (besi, kaleng, plastik, dll.). Komposisi sampah padat sebagian besar merupakan sampah organik yang berasal dari berbagai sumber. Di Jakarta misalnya, sampah padat dapat melebihi 70 % berupa sampah organik. Sampah cair : Sampah cair dapat bersumber dari pabrik / industri,

pertanian / perikanan / peternakan / manusia, dan limbah rumah tangga. Gas : Sampah dalam bentuk gas dapat bersumber dari pabrik /

industri, alat transportasi, rumah tangga, pembakaran, dan efek lanjutan terurainya sampah padat dan cair.

B. Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara 30 garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan, 2007 dalam Faizah, 2008). Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan, yakni: pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Aboejoewono (1985) menggambarkan secara sederhan