p2eh vicky

download p2eh vicky

of 32

  • date post

    14-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    211
  • download

    5

Embed Size (px)

description

peh

Transcript of p2eh vicky

PENDAHULUAN

Latar Belakang Di Indonesia dikenal beberapa tipe ekosistem hutan. Jenis-Jenis Hutan di Indonesia Berdasarkan Iklim : Hutan Hujan Tropika, adalah hutan yang terdapat didaerah tropis dengan curah hujan sangat tinggi. Hutan jenis ini sangat kaya akan flora dan fauna. Di kawasan ini keanekaragaman tumbuh-tumbuhan sangat tinggi. Luas hutan hujan tropika di Indonesia lebih kurang 66 juta hektar Hutan hujan tropika berfungsi sebagai paru-paru dunia. Hutan hujan tropika terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dan hutan Monsun, disebut juga hutan musim. Hutan monsun tumbuh didaerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi, tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Pada musim kemarau, tumbuhan di hutan monsun biasanya menggugurkan daunnya. Hutan monsun biasanya mempunyai tumbuhan sejenis, misalnya hutan jati, hutan bambu, dan hutan kapuk. Hutan monsun banyak terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Idriyanto, 2008). Hutan sebagai bagian dari sumber daya alam nasional memiliki arti dan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan sosial, pembangunan dan lingkungan hidup. Telah diterima sebagai kesepakatan internasional, bahwa hutan yang berfungsi penting bagi kehidupan dunia, harus dibina dan dilindungi dari berbagai tindakan yang berakibat rusaknya ekosistem dunia serta hutan memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan yaitu: berupa manfaat langsung yang dirasakan dan manfaat yang tidak langsung. Manfaat hutan tersebut diperoleh apabila hutan terjamin eksistensinya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Fungsi-fungsi

1

ekologi, ekonomi dan sosial dari hutan akan memberikan peranan nyata apabila pengelolaan sumber daya ala m berupa hutan seiring dengan upaya pelestarian guna mewujudkan pembangunan nasional berkelanjutan (Zain, 1998). Hutan Pendidikan Gunung Barus yang dimanfaatkan mahasiswa untuk kegiatan P2EH berada pada kawasan hutan konservasi Tahura Bukit Barisan. Hutan Pendidikan Gunung Barus merupakan hutan tropika dataran rendah. Hutan ini berupa hutan alam yang heterogen yang merupakan hutan milik negara. Hutan memiliki memiliki kekayaan alam berupa kelimpahan tumbuhan dan juga satwa. Untuk itu perlu diadakan analisis vegetasi pohon pada Hutan Pendidikan Gunung Barus USU agar dapat diketahui jenis vegetasi yang ada pada kawaan tersebut, kekayaan jenisnya atau analisis data lain yang menunjukkan nilai keberadaan vegetasi tersebut. Selain itu juga perlu diketahui jenis-jenis satwa yang ada pada kawasan tersebut agar hutan dapat dikelola secara lestari. Selain pepohonan dan satwa, hasil hutan lain yaitu jasa lingkungan dan potensi wisata(daerah ekowisata) serta hasil hutan bukan kayu. Untuk pengelolaan hutan secara berkelanjutandiperlukan strategi khusus untuk mengelolanya. Hutan bukan hanya berbicara mengenai pohon, tapi sejauh mana hutan tersebut dapat berguna bagi kehidupan masyarakat. Peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan sangat dibutuhkan. Hutan lindung juga harus dikelola dengan baik agar bukan hanya memberimanfaat ekologi tapi juga manfaat ekonomi. Keberadaan hutan bukan hanya dipandang sebagai kayu,banyak potensi lain yang dimiliki seperti potensi ekowisata dan jasa

lingkungan.keberadaan hutan juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Dengan menggali potensi ekowisata suatu hutan

2

diharapkan dapat memenuhi tujuan keberadaan hutan dlam memberi manfat ekologi maupun ekonomi.daerah ekowisata dapat memberi kesempatan

padamasyarakat untuk menambah penghasilan dengan membuat usaha dan tidak lagi merusak hutan. Untuk itu pada daerah hutan ini perlu diteliti potensi ekowisatanya agar pengelolaan hutan secara berkelanjutan dapat terlaksana (Arief, 20010 )

Tujuan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) ini bertujuan untuk : 1. Mengenal potensi ekowisata sebagai bagian dari ekosistem hutan beserta komponen-komponen penyusun ekosistem hutan tersebut, baik ekosistem hutan alam maupun buatan. Komponen penyusun ekosistem hutan antara lain flora, fauna, tempat tumbuh dan faktor fisik lainnya 2. Memahami perilaku, interaksi, proses-proses dan peranan masing-masing ekosistem hutan bagi kehidupan. 3. Mengetahui ekosistem hutan berdasarkan status, kepemilikan dan

pengelolaannya. 4. 5. Memahami aspek-aspek pengelolaan hutan beserta manfaatnya Mengenal potensi jasa Lingkungan khususnya ekowisata (baik berupa jasa penyediaan/provisioning services, pengaturan/ regulating services, maupun budaya/ cultural services) yang diberikanoleh fungsi ekosistem hutan 6. Memahami interaksi sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan dengan kawasan hutan

3

KONDISI UMUM KAWASAN TAHURA BUKIT BARISAN KABUPATEN KARO

Tahura bukit barisan yang terletak di kawasan gunung berapi sinabung dan sibayak ini, dibangun dalam satu unit pengelolaan yang berintikan kawasan hutan lindung dan kawasan konservasi. Keadaan lapangan tahura bukit barisan ini pada umumnya terjal hingga puncak gunung berapi sinabung yang tingginya 2451 meter dan sibayak setinggi 2211 meter, dan sebagian kecil bergelombang dan landai. di kaki perbukitan bukit barisan merupakan berupa tanah datar, curam dan berbukit-bukit

Flora dan Fauna Tipe habitat utama adalah hutan pegunungan bawah yang menutupi sebagian besar lereng gunung. Kawasan hutan ini didominasi oleh jenis-jenis pohon pegunungan baik jenis lokal maupun yang berasal dari luar. Jenis pohonnya antara lain Pinus merkusii, Altingia exelsa, Schima walichii, Pinus caribae, Pinus insularis, Eucaliptus sp, Alseodaphne sp, Podocarpus sp, Toona surei, Pinus akasia, Agathis sp dan jenis yg lain seperti durian, dadap, rambutan, pulai, aren, rotan dan lain-lain. Beberapa fauna yang hidup di kawasan ini antara lain monyet, harimau, siamang, babi hutan, ular, elang, burung hantu, kancil, katak, kalong, mawas, anjing, dan lain-lain. Selain itu jenis-jenis burung yang dijumpai

Arborophila orientalis, Arborophila rubriostris,

Polyplectron chalcurum,

4

Otus brooki, Batrachostomus poliolophus, Caprimulgus pulchelus, Pitta venusta, Cochoa beccari dan Zosterops atricapilla, Niltava sumatrana,

Pericrocotus miniatus.

Wisata Tahura bukit barisan di tongkoh memiliki oyek wisata berupa kawasan hutan seluas lebih kurang 7 hektar yang ditemui berbagai jenis kayu-kayuan hutan tropis berusia diatas 60 tahun dan didalamnya berkembang berbagai jenis kupukupu langka taman itu pnya koleksi binatang jalan setapak menuju hutan untuk pengunjung yang ingin meneliti ataupun sekedar melihat tumbuhan hutan, angrekangrek liar, pakis-pakis besar, berbagai tumbuhan kayu liar berselimut lumut dan jamur, burung-burung, monyet, kera dan flora-flora lainnya. Dahulu di objek wisata ini dipelihara kuda dan gajah yang dapat dimanfaatkan sebagai transportasi wisatawan mengelilingi hutan. Bagi yang berminat di dunia penelitian (riset), tahura bukit barisan juga dapat dijadikan gudang ilmu pengetahuan. Penelitian tidak terbatas pada bidang flora dan fauna saja tetapi juga mencakup hidrologis serta sosial budaya. Sejak tahun 1920 pada masa penjajahan belanda,sebangian dari kawasan ini,terutama sekitar Tongkoh dan Brastagi,telah berkembang menjadi salah satu tujuan wisata baik domestik maupun mancanegara yang vital dan ramaidikunjungi wisatawan. Sebagian dari kawasan tahura, terutama sekitar tongkoh dan berastagi telah berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang penting di sumatera utara.

5

PENGENALAN EKOSISTEM HUTAN DI TAHURA BUKIT BARISAN DAN HUTAN PENDIDIKAN USUA. Pengenalan Ekosistem Hutan dan Analisis Vegetasi Hutan Pegunungan Analisis vegetasi Hutan Pegunungan pada kegiatan PEH dilakukan di dua tempat, yaitu di kawasan Gunung Barus dan di kawasan Air Terjun. Hasil analisis dari kedua tempat tersebut masing-masing akan disajikan sebagai berikut. a. Analisis Vegetasi Hutan di Kawasan Hutan Gunung Barus Nama Kegiatan Hari/Tanggal Waktu Lokasi Kegiatan Alat : Analisis Vegetasi : Selasa/28 Juni 2011 : 08.30-14.00 Wib : Gunung Barus : Meteran, pita ukur, tali plastik, christeen meter, kompas, parang, plastik 20 kg, kamera digital, tali tambang. Bahan Metode Kegiatan : Hutan Gunung Barus : Petak berjalur dengan line transect Tingkat semai ukuran plot 2 x 2 m Tingkat pancang ukuran plot 5 x 5 m Tingkat tiang ukuran plot 10 x 10 m Tingkat pohon ukuran plot 20 x 20 m Hasil dan Pembahasan Analisis Vegetasi dilakukan pada tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon, hasil analisis pada tiap tingkatan hidup pohon dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

6

Tabel 1. Indeks Nilai Penting Tingkat Semai di Kawasan Hutan Barus Jumlah K Nama No. Nama Latin Lokal Individu (ind/ha) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Meranti Waru Keruing Shorea spp. Hibiscus tiliaceus Polyathia rumphie Dipterocarpus retusus Endandra kingiana Peterardia anisophilia Arytera littoralis Altingia excelsa Abangium javanicum Kinema perserices Endospermum diadenum Total () 7 4 3 2 6 3 7 5 2 2 1 6 48 583.33 333.33 250.00 183.33 500.00 250.00 583.33 416.67 166.67 166.67 83.33 500.00 5,183.32

KR (%) 13.20 7.54 5.66 13.22 11.32 5.66 13.22 9.44 3.77 3.77 1.88 11.32 100.00

F (ind/ha) 0.10 0.13 0.10 0.17 0.13 0.07 0.17 0.10 0.07 0.03 0.03 0.10 1.20

FR (%) 8.33 11.08 8.33 13.89 11.08 5.55 13.89 8.33 5.56 2.75 2.75 8.33 100.00

INP (%) 21.53 18.62 14.00 27.10 22.40 11.21 27.10 17.76 9.33 6.52 4.63 19.66 200.00

H'

RI

E

Rasamala Wuru

2.38

2.84

0.96

Berdasarkan hasil analisis vegetasi di kawasan Hutan Gunung Barus, jumlah petak yang di analisis adalah 30 petak seluas 1,2 Ha. Pada tingkat semai ditemukan 12 jenis dengan nilai INP tertinggi pada jenis Keruing

(Dipterocarpus retusus ) yaitu sebesar 27,10 % dan nilai INP terendah adalah Kinema perserices yang nilai INP-nya sebesar 4,63 %. Nilai keanekaragaman untuk tingkat semai adalah sebesar 2,38 dan indeks kemerataannya adalah