No. 08 z Desember 2004-Januari 2005 MK Batalkan UU · PDF fileListrik Negara. Putusan MK...

Click here to load reader

  • date post

    24-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    225
  • download

    4

Embed Size (px)

Transcript of No. 08 z Desember 2004-Januari 2005 MK Batalkan UU · PDF fileListrik Negara. Putusan MK...

  • Berita Mahkamah Konstitusi (BMK) merupakan salah satu wujud pelaksanaan amanat Pasal 13 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003tentang Mahkamah Konstitusi yang mewajibkan MK memberikan laporan berkala kepada masyarakat.

    MK Batalkan UU Ketenagalistrikan

    Editorial Kawasan Bebas Korupsi ....... 3

    Warga Menulis ................................. 4

    Ruang Sidang .................................. 6

    Aksi MK ........................................... 12

    Catatan Panitera ........................... 18

    Perspektif Achmad Roestandi ......... 20

    Cakrawala MK Austria ..................... 24

    UU Pemerintahan Daerah.................. 30

    No. 08 Desember 2004-Januari 2005

    Sidang Majelis Hakim MK akhirnya mengabulkanpermohonan pengujian Undang-Undang Nomor 20Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang diajukanoleh Asosiasi Penasehat Hukum Indonesia (APHI),Serikat Pekerja PLN, dan Ikatan Keluarga PensiunanListrik Negara. Putusan MK menyatakan tidakberlakunya Pasal 16 dan Pasal 17 UU No. 20/2002,juga membatalkan isi UU tersebut. Selengkapnya dihlm. 16.

    Suasana MK seusai pembacaan hasilpengujian UU Ketenagalistrikan.

    Siapa Mengapa,Achmad Roestandi,Janedjri M. GaffarYuni Sandrawati ................ 28

    Daftar Isi

  • BMK NO. 08, DESEMBER 2004-JANUARI 20052

    Satu tahun lebih Mahkamah Konstitusi(MK) RI telah berdiri. Setahun lebih pulaBerita Mahkamah Konstitusi (BMK) hadirdalam semarak penegakan konstitusi yangdikomandoi oleh kesembilan hakim konsti-tusi.

    Sejarah mencatat peran dan sepak terjangMK yang telah merubah atmosfer dunia per-adilan di Indonesia, terutama peradilan tatanegara. Sebagai sebuah lembaga peradilantata negara yang ke-78 di dunia, MK RI sudahberupaya membuktikan diri sebagai theguardian of constitution. Dan pantas kiranyabila MK sebagai lembaga negara ditunjangpula dengan perangkat-perangkat pen-dukung.

    BMK, sebuah media yang tentu saja tidakcukup menjadi satu-satunya corong MKdalam mensosialisasikan segala yang berke-naan dengan MK. Namun, spirit yang melekatsebagai dasar filosofi BMK patut dijadikaninspirasi dalam setiap kesempatan terbit.

    Kalo gua dingin, kenapa lu yang panas,mengutip jargon dari salah satu iklan dibanyak media massa. Bila sepintas kita baca,jargon ini sekedar bermakna seperti kalimatyang ada. Tapi, sesungguhnya makna yangterkandung cukup dalam. Keberadaan BMK

    SALAM

    selama 8 kali terbit tidak lepas dari kritik dansaran dari pembaca, juga para pegawai danstaf yang bekerja di lingkungan MK sendiri.Walhasil, memang BMK sebagai sebuah ma-jalah merupakan benda mati. Namun, kruyang membidani BMK adalah juga manusia,yang punya hati dan pikiran.

    Di BMK terjadi pergeseran pengurus yangtelah disetujui Penanggung Jawab BMK/Sekjen MK, yaitu Wakil Pemimpin RedaksiRofiqul-Umam Ahmad menggantikan WasisSusetio sebagai Redaktur Pelaksana danjabatan Wakil Pemimpin Redaksi ditiadakan.Pergantian tersebut dikarenakan kesibukanMas Wasis yang sekarang menjadi AsistenHakim.

    BMK edisi ke-8 terbit dengan menyajikanrubrik baru, yaitu siapa dan mengapa jugadisajikan ke hadapan pembaca, yang kali iniberisi tentang profil 3 (tiga) orang, yaituLetjen (Purn) Achmad Roestandi, S.H.,Drs. Janedjri M. Gaffar, dan Yuni Sandra-wati.

    Akhirnya, semua kru BMK mengucapkanbelasungkawa setinggi-tingginya atas musi-bah yang menerjang tidak sedikit anak negeridi Aceh dan Sumut.

    Wallahualam bishawab.

    Kartun

  • BMK NO. 08, DESEMBER 2004-JANUARI 2005 3

    Umam Ahmad. Sidang Redaksi: Janedjri M. Gaffar, H. Ahmad Fadlil Sumadi, Winarno Yudho, Rofiqul-Umam Ahmad, Bambang Suroso, Ali Zawawi, MustafaFakhri, Munafrizal, Zainal A.M. Husein, Bisariyadi, Ahmad Edi Subianto, WS. Koentjoro. Sekretaris Redaksi: Budi Hari Wibowo. Fotografer: Denny Faishal.Tata Usaha/Distribusi: Nanang Subekti. Alamat Redaksi/TU: Kantor MK, Jl. Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat. Telp. (021) 352-0173, 352-0787.Faks. (021) 352-2058. Diterbitkan oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. e-mail: [email protected]

    Dewan Pengarah: Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., Prof. Dr. Mohamad Laica Marzuki, S.H., Prof. Abdul Mukthie Fadjar,S.H., MS., Letjen TNI (Purn) H. Achmad Roestandi, S.H., Prof. H. Ahmad Syarifudin Natabaya, S.H., LL.M., Dr. Harjono, S.H.,MCL., I Dewa Gede Palguna, S.H., M.H., Maruarar Siahaan, S.H., Soedarsono, S.H. Penanggung Jawab: Janedjri M. Gaffar,Wakil Penanggung Jawab: H. Ahmad Fadlil Sumadi. Pemimpin Redaksi: Winarno Yudho. Redaktur Pelaksana: Rofiqul-

    EDITORIAL

    Pada akhir tahun 2004, beriringan dengan AcaraRefleksi Akhir Tahun, MK juga menyelenggarakandeklarasi Anti Korupsi. Deklarasi ini adalahpernyataan dan komitmen dari seluruh jajaran stafSekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK untuktidak melakukan korupsi.

    Korupsi merupakan patologi dalam birokrasi,dan berbagai pihak menganggap Indonesia telahmengidap penyakit ini hingga tahap kronis. Indonesiatermasuk dalam negara-negara papan atas yangmengidap kasus korupsi tertinggi. Korupsi diIndonesia telah menghalangi kemajuan negara danmemperlambat terwujudnya kesejahteraan dankemakmuran. Karena korupsi berarti telahmengambil milik negara untuk digunakan demikepentingan pribadi. Korupsi tidak hanya mengambillebih dari negara akan apa yang telah menjadihaknya, tetapi lebih dari itu, mengurangi hak negarauntuk pemenuhan tugas dan tanggung jawab-nyajuga merupakan korupsi. Kewajiban yang harusdilakukan oleh warga negara adalah untuk meme-nuhi hak negara. Dan hak warga negara harusdijamin dan dipenuhi oleh negara. Hak dankewajiban antara negara dan warga negara harusdipenuhi secara proporsional. Mengambil apa yangbukan haknya serta mengurangi hak orang lainmerupakan korupsi.

    Yang menjadi kekhawatiran paling utamaadalah bahwa korupsi itu telah mendarah daging danmenjadi bagian keseharian masyarakat Indonesia,terutama dalam birokrasi. Ada anggapan bahwasetiap urusan tidak akan selesai atau akan menjadilambat pelayanannya bilamana tidak diselesaikandulu urusan biaya administrasi ekstra. Anggapanini seolah telah menyatu dengan pola pikirmasyarakat Indonesia sehingga dalam setiap urusanadministrasi seakan ada kesepahaman antarakedua belah pihak yang harus diselesaikan terlebihdahulu. Yang lebih parah adalah bahwa anggapantersebut juga melanda dunia peradilan Indonesia.Dunia peradilan yang seharusnya menjadi unsuryang menegakkan keadilan telah terkontaminasioleh judicial corruption. Seolah nilai keadilan itusetara dengan nilai materi yang diberikan.

    Di samping faktor lain, kasus korupsi sangaterat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhanekonomi masyarakat. Di negara-negara berkembangyang tingkat kesejahteraan antara golongan kayadengan miskin sangat njomplang, termasuk diIndonesia, kecemburuan sosial masyarakatnya jugasangat tinggi. Hal ini memicu keinginan sebagianorang untuk kaya mendadak dengan menghalalkansegala cara. Selain itu, sindromatik kekuasaan yangdimiliki juga memancing seseorang untuk melakukankorupsi. Sebagaimana parafrase yang pernahdiungkapkan oleh Lord Acton (1834-1902) bahwaPower tends to corrupt, absolute power corruptabsolutely. Di kalangan birokrasi, kasus korupsiamat rentan terjadi karena berangkat dari indikasibahwa aparat birokrasi memiliki tingkat penghasilanrendah akan tetapi memiliki kekuasaan yang besardalam hal memberikan pelayanan administrasikepada masyarakat.

    Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MKadalah pegawai yang berada di dunia peradilan.Sehingga staf Sekretariat Jenderal dan KepaniteraanMK merupakan aparat yang paling rentan untukterkontaminasi dengan kasus korupsi. DeklarasiAnti Korupsi yang dinyatakan oleh SekretarisJenderal MK dan mengikat seluruh jajaran stafSekretariat Jenderal dan Kepaniteraan MK adalahsebuah tekad luhur yang harus diejawantahkandengan perbuatan yang jujur. Tekad luhur daripernyataan anti korupsi itu diharapkan dapatdirealisasikan dengan perbuatan nyata, baik secarakolektif maupun dalam sikap individu. Secarakolektif, perbuatan anti korupsi dilakukan denganmemberikan teladan, baik dari para Hakim Konsti-tusi maupun para pejabat tinggi di Sekretariat Jen-deral dan Kepaniteraan, maupun dengan cara mem-bangun sistem yang transparent dan accountable.

    Pernyataan anti korupsi dan penetapan MKsebagai kawasan bebas korupsi adalah sebuah simbolakan keluhuran tekad dan awal dari keinginan yangkuat dari seluruh jajaran MK untuk memulai sebuahlembaran baru dan membangun MK sebagai institusiperadilan tata negara dan pengawal konstitusi yangmandiri dan merdeka.

    Kawasan Bebas Korupsi

  • BMK NO. 08, DESEMBER 2004-JANUARI 20054

    WARGA MENULIS

    Beberapa pengujian undang-undang yangdikabulkan MK adalah putusan tentang hak politikeks-PKI untuk memilih dalam pemilihan umum(UU Pemilu), kasus bom Bali (UU Antiterorisme)yang menegaskan tindakan kejahatan tersebuttidak tergolong tindakan pelanggaran HAM berat,putusan terhadap UU Ketenagalistrikan dan UUPenyiaran. Penilaian publik menyatakan,putusan-putusan MK pantas dipuji bagi prosesdinamika demokrasi di Indonesia.

    Hingga kini masih banyak pengujian UU yangdimohonkan ke MK dan harus diselesaikan. Diantaranya, pengujian UU Kadin, Sumber DayaAir, Pengadilan HAM, dan UU Pemerintah Daerahyang dimohonkan KPUD-KPUD provinsi terhadappasal-pasal penyelenggaraan Pemilihan KepalaDaerah Langsung (Pilkada).

    Soal judicial review UU Pemerintahan Daerahini menjadi pekerjaan yang cukup berat bagi MKmengingat Pilkada Langsung secara serentak diseluruh wilayah Indonesia, baik di tingkat provinsimaupun kabupaten/kota, akan diselenggarakanpada Juni 2005. Banyak tekanan diarahkan padaMK untuk memperhatikan jadwal pelaksanaanPilkada Langsung tersebut. Ini karena berkaitandengan kesiapan-kesiapan yang harus dilakukanKPUD-KPUD untuk menggelar Pilkada Langsungdi daerahnya masing-masing. Oleh karena itu,ekpose isu seputar Pilkada Langsung adalahberkenaan dengan hal-hal yang nega