NILAI TAMBAH MINERBA.doc

download

of 26

  • date post

    26-Dec-2015
  • Category

    Documents
  • view

    18
  • download

    0

Embed Size (px)

transcript

PENINGKATAN NILAI TAMBAH PERTAMBANGAN

PENINGKATAN NILAI TAMBAH PERTAMBANGAN(HULU HILIR DAN PENGEMBANGAN

WILAYAH/MASYARAKAT)

A. Latar Belakang

Kondisi pengelolaan sumber daya alam, khususnya sumber daya mineral dan batu bara, di Indonesia saat ini masih umum banyak diekspor masih dalam bentuk bahan mentah, tanpa diolah terlebih dahulu. Sedangkan beberapa industri pengolahan yang menggunakan sumber daya mineral sebagai bahan baku utama ataupun penunjang masih merupakan produk impor. Kondisi tersebut berakibat tidak menghasilkan nilai tambah (value-added) secara langsung maupun tidak langsung sebagaimana yang diharapkan.

Di sisi lain, negara-negara industri selalu berusaha untuk memperoleh keuntungan nilai tambah dari negara-negara pengeskpor melalui proses pengolahan lebih lanjut di negaranya ataupun di kelompok usahanya. Hal ini terjadi karena ilmu pengetahuan dan teknologi pengolahan dapat dikatakan masih dikuasai sepenuhnya oleh mereka atau belum tertransformasikan, di samping itu strategi dan jaringan pemasaran secara umum masih berada di tangan mereka.

Menjelang pelaksanaan globalisasi bidang pertambangan, isu Peningkatan Nilai Tambah (PNT) menjadi sangat penting mengingat selama ini peran Indonesia hanya sebagai produsen atau penjual bahan galian tambang yang sebagian besar tanpa diolah terlebih dahulu sementara industri dalam negeri yang berbasis tambang masih mengimpor bahan baku tersebut dari negara lain yang bahan bakunya berasal dari Indonesia. Peningkatan usaha dari produsen atau penjual bahan baku mentah meningkat menjadi produsen bahan baku setengah jadi yang bertujuan untuk dapat menghasilkan nilai tambah dan bermanfaat secara langsung bagi kepentingan nasional umumnya dan khususnya bagi pengembangan suatu wilayah dimana bahn galian tersebut berada.Pada era otonomi daerah sekarang ini, pengembangan wilayah dan masyarakat merupakan sesuatu yang tidak dapat dikesampingkan mengingat pemerintah daerah dan masyarakat lokal se bagai stakeholder yang paling menentukan dalam pengambilan keputusan bagi kelangsungan suatu usaha pertambangan, di mana pemerintah hanya merupakan fasilitator dalam pengambilan keputusan.

B. Konsep Dasar Kebijakan1. Arahan kebijakan Pembangunan Nasional

Kebijakan nasional tentang pengolahan sumber daya alam, termasuk sumber daya mineral, batubara dan panas bumi, pada dasarnya diarahkan kepada peningkatan kesejahteraan rakyat dengan memperhatikan aspek konservatif, rehabilitasi dan penghematan di dalam pemanfaatannya melalui teknologi yang akrab lingkungan. Hal ini memberi pengertian bahwa:

Pemanfaatan terhadap sumber daya mineral batu bara dan panas bumi harus memperhatikan keseimbangan antara keungungan komunitas dengan keuntungan bisnis perusahaan; industri mineral, batu bara dan panas bumi yang baik dapat menjadi katalisator pertambangan bagi pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat,

Pembangunan pertambangan juga harus tetap berpegang pada prinsip pemerataan antar generasi, didasari pola pikir pembangunan pertamnbangan yang berkelanjutan dan berwawasan jangka panjang. Harus didasari kepada perencanaan yang matang dan efisiensi tinggi serta penerapan prinsip good mining practice dengan mengacu pada teknologi yang efektif dan efisien yang aman dan ramah lingkungan.

Koordinasi sejak dini diperlukan untuk melakukan sosialisasi secara transparan segala sesuatu yang berkaitan dengan seluruh proses kegiatan pertambangan (hulu-hilir) berikut dampak-dampaknya dengan melibatkan segenap unsur terkait baik dari pemerintah, swasta dan komponen masyarakat.2. Tuntutan globalDeklasari Rio de Janeiro sebagai hasil dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi 1992 telah melahirkan tata cara baru untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (sustainable development) secara global di abad 21. Rekomendasi yang diajukan mencakup cara baru dalam mendidik, perhatian akan sumber daya alam dan rancangan ekonomi berkelanjutan. Kemudian dipertegas dengan Deklarasi Yohanesburg, hasil KTT 2002, yang mendukung tanggung jawab kolektif untuk memajukan dan memperkuat soko guru pembangunan berkelanjutan dan action plan yang aktual.Pola pikir pembangunan berkelanjutan didasari oleh social justice and equity, pendekatan yang holistik dan integratif, menghargai keanekaragaman serta berwawasan jangka panjang. Tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan antar generasi (inter-temporal).3. Pembangunan berkelanjutan sektor PertambanganPembangunan berkelanjutan dalam konteks usaha pertambangan adalah transformasi sumber daya tidak terbarukan (non renewable resources) menjadi sumber daya pembangunan terbarukan (renewable resources). PNT Pertambangan harus berbasis sumber daya setempat atau nasional (community based), dan berkelanjutan (sustainable). Manfaatnya bukan saja dirasakan karena sedang ada pertambangan, tetapi juga karena pernah ada kegiatan pertambangan.

PNT Pertambangan merupakan action plan actual sektor energi dan sumber daya mineral, khususnya di bidang pertambangan umum, untuk menjawab tantangan global yang menjadi kesepakatan Indonesia di dunia internasional sebagai implementasi pembangunan berkelanjutan pertambangan.C. Peningkatan Nilai Tambah Pertambangan1. Pemahaman

PNT Pertambangan sebagai action plan actual pembangunan pertambangan yang berkelanjutan, pada dasarnya merupakan implementasi kegiatan konservasi pertambangan, yaitu dalam hal keberlanjutan manfaat ekonomi dan lingkungan sosial kemasyarakatan yang diperolehnya semenjak perencanaan, selama berlangsungnya kegiatan pertambangan sampai dengan pasca tambang.

Dengan demikian PNT adalah upaya optimalisasi atas pengelolaan proses hulu-hilir kegiatan pertambangan serta pengembangan wilayah dan pengembangan masyarakat di sekitar kegiatan pertambangan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam rangka mewujudkan pembangunan berkelanjutan.2. Pola pikirPola pikir kebijakan PNT Pertambangan adalah sejalan dengan paradigma pembangunan berkelanjutan kegiatan pertambangan, yaitu transformasi sumber daya tidak terbarukan menjadi sumber daya pembangunan terbarukan. Implementasinya adalah dengan menginternalkan aspek dasar pembangunan berkelanjutan ke dalam setiap komponen kegiatan pertambangan sebagai berikut.

Transformasi sosial

Empowerment, mendorong masyarakat untuk dapat kesempatan dan berperan aktif lebih besar.

Cooperation, mendorong terciptanya kerja sama di masyarakat sehingga merasa sebagai bagian dari kelompok.

Equity, di samping masyarakat mendapatkan kesempatan financial juga dalam mendapatkan pelayanan sosial.

Sustainability, pemenuhan kebutuhan sekarang tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang.

Security, masyarakat merasa bebas atas ancaman dan ketidak-pastian harapan hidup.

Desentralisasi dan dekonsentrasi pengelolaan

Memungkinkan daerah untuk lebih banyak terlibat dalam kegiatan pertambangan dan mendapatkan manfaat, sehingga kegiatan tersebut menjadi lebih terarah, efektif dan efisien.

Adanya koordinasi antara pusat dengan daerah yang lebih efektif dan mengurangi rantai birokrasi.

Adanya koordinasi di antara daerah pengelola pertambangan dengan stakeholders lainnya.

Pengakuan hak-hak masyarakat

Makna kemakmuran adalah secara utuh, di samping secara ekonomis juga makmur secara batiniah dan spiritual.

Hak atas tanah.

Hak untuk hidup dalam habitat sosial budaya asal secara berkelanjutan.

Hak untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan aman.

Hak untuk menikmati dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

Hak untuk turut menjaga kebutuhan generasi mendatang.

Integrasi pengelolaan

Pengelolaan sumber daya mineral secara terintegrasi dari hulu-hilir pertambangan; meliputi setiap tahapan kegiatan dari eksplorasi, konstruksi, eksploitasi, pengolahan/pemurnian, handling dan pemasaran.

Keterlibatan masyarakat

Masyarakat berhadapan dan berinteraksi langsung dengan perusahaan.

Masyarakat sebagai penyandang resiko.

Masyarakat sebagai penilai kelaikan berusaha.

Pemanfaatan sumber daya alam inter temporal

Pertambangan bersifat sementara, sumber daya alam tidak terbarukan.

Transformasi sosial perlu waktu, tidak dapat dipaksakan, kecepatan tiap daerah berbeda.

Setiap wilayah di Indonesia mempunyai ciri khas; kondisi dan taraf sosial, ekonomi dan budaya berbeda.

Ratio rate of depletion vs rate of transformation harus optimal. Good governance and good corporate governanceKelompok-kelompok yang terlibat di dalam pengelolaan sumber daya alam harus menjalankan kewajiban masing-masing secara bertanggung jawab, transparan, partisipatif dan public accountable.

Gambar Pola Pikir Peningkatan Nilai Tambah Pertambangan3. Strategi peningkatan nilai tambah

a. Pengembangan teknologi dan inovasi

Pengembangan teknologi terutama teknologi tepat guna dan melakukan inovasi-inovasi yang harus diprioritaskan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: perusahaan pertambangan selain disibukkan oleh kegiatan rutinitas yang berkaitan dengan aspek bisnisnya, juga harus memperhatikan aspek penelitian dan pengembangan / research and development (R&D) teknologi terapan yang berdasarkan kebutuhan pasar agar perusahaan dapat berupaya untuk memproduksi kebutuhan tersebut. Perusahaan pertambangan harus memperkuat kerja sama dengan pihak Perguruan Tinggi dan Lembaga Riset untuk melakukan penelitian terapan pada bidang-bidang tertentu berdasarkan kebutuhan pengembangan perusahaan (company development needs).Pengembangan dan penerapan teknologi harus tetap mengacu pada prinsip-prinsip ekonomi, konservasi dan lingkungan hidup. Di samping itu, adanya upaya untuk memproduksi produk-produk baru sesuai dengan dinamika perminta