NILAI DAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS ... ... 870 ekor ternak terbunuh akibat konflik antara...

Click here to load reader

  • date post

    05-Sep-2020
  • Category

    Documents

  • view

    1
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of NILAI DAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS ... ... 870 ekor ternak terbunuh akibat konflik antara...

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 0

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    BOGOR

    2012

    NILAI DAN ETIKA KONSERVASI BIODIVERSITAS HARIMAU SUMATERA

    (Panthera tigris sumatrae)

    ETIKA DAN MORAL LINGKUNGAN

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 1

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    NILAI DAN ETIKA KONSERVASI HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae)

    I. PENDAHULUAN

    Konflik antara manusia dan harimau hingga awal tahun 2012 masih terus

    terjadi. Prediksi konflik antara harimau dan manusia pada 2012 ini akan terus terjadi

    karena perambahan kawasan hutan hingga kini masih saja berlangsung. Dalam tiga

    bulan terakhir BKSDA telah menyelamatkan dua ekor harimau sumatera, satu di

    antaranya terperangkap oleh jeratan yang dipasang warga. Data dari Dinas

    Kehutanan setempat bahwa sekitar 30 persen dari luas total 920 ha areal hutan

    produksi terbatas (HPT) telah mengalami rusak parah akibat perambahan dan telah

    berganti kebun kopi dan kelapa sawit. Sedangkan untuk kawasan konservasi yang

    luasnya sekitar 44.000 ha, sekitar 30 persen juga telah mengalami kerusakan

    (Antara News, 2012).

    Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satu dari enam

    sub-spesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam

    klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar

    merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Jumlah

    populasinya di alam bebas hanya diperkirakan sekitar 400 ekor (WWF Indonesia,

    2008). Harimau sumatera saat ini menghadapi dua jenis ancaman untuk bertahan

    hidup, mereka kehilangan habitat karena tingginya laju deforestasi dan terancam

    oleh perdagangan illegal bagian-bagian tubuhnya dengan harga tinggi di pasar

    gelap.

    Makalah ini bertujuan untuk memaparkan beberapa kondisi eksisting

    spesies harimau sumatera yang terancam kepunahan, tinjauan aspek hukum dan

    kebijakan serta nilai-nilai etika dan moral lingkungan dalam rangka upaya

    konservasinya.

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 2

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    II. KONDISI HARIMAU SUMATERA SAAT INI

    Harimau sumatera hanya ditemukan di Pulau Sumatera. Kucing besar ini

    mampu hidup di manapun, dari hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan,

    dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Wilayah penyebarannya pada

    ketinggian 0- 2.000 m dpl (O’Brien et al., 2003), tetapi kadang-kadang juga sampai

    ketinggian lebih dari 2.400 m dpl (Linkie et al., 2003).

    Pada pertemuan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun

    1992 di kota Padang, dinyatakan bahwa hanya tersisa 400 ekor harimau sumatra

    yang bertahan hidup di lima kawasan konservasi besar di Sumatera. Seratus individu

    lainnya diperkirakan hidup di hutan-hutan di luar kawasan konservasi (Faust and

    Tilson 1994; Seal et al., 1994). Sumber lain menyebutkan data sekitar 400 ekor

    harimau sumatera tinggal di cagar alam dan taman nasional, dan sisanya tersebar di

    daerah-daerah lain yang ditebang untuk pertanian, juga terdapat lebih kurang 250

    ekor lagi yang dipelihara di kebun binatang di seluruh dunia.

    Departemen Kehutanan (2007) menjelaskan bahwa hasil analisa terkini

    mengenai status harimau secara global menetapkan 12 bentang alam konservasi

    harimau (Tiger Conservation Landscape) di Sumatera dan hanya dua di antaranya

    yang dikategorikan sebagai prioritas global, yaitu bentang alam Kerinci Seblat dan

    Bukit Tigapuluh, serta dua bentang alam prioritas regional, yaitu Bukit Balai Rejang

    Selatan dan Kuala Kampar – Kerumutan (Gambar 1). Jika dipadukan dengan

    beberapa hasil kajian terkini, saat ini populasi harimau sumatera terdapat

    setidaknya di 18 kawasan konservasi dan kawasan hutan lain yang berstatus sebagai

    hutan lindung dan hutan produksi, yang terpisah satu sama lain. Berdasarkan data

    perkiraan antar waktu, populasi harimau sumatera cenderung menurun dari tahun

    ke tahun (Gambar 2). Apabila tidak dilakukan intervensi pengelolaan yang tepat,

    satu-satunya sub spesies harimau yang tersisa di Indonesia ini diyakini akan punah

    dalam waktu yang tidak terlalu lama.

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 3

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    Gambar 1. Bentang alam konservasi harimau yang dianggap perlu mendapat prioritas (Dinerstein et al. 2006)

    Gambar 2. Kecenderungan populasi harimau sumatera antara tahun 1978 – 2007

    Harimau sumatera mengalami ancaman akan kehilangan habitat karena

    daerah sebarannya seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan

    hutan hujan pegunungan terancam pembukaan hutan untuk lahan pertanian dan

    perkebunan komersial, juga perambahan oleh aktivitas pembalakan dan

    pembangunan jalan. Karena habitat yang semakin sempit dan berkurang, maka

    harimau terpaksa memasuki wilayah yang lebih dekat dengan manusia, dimana

    seringkali mereka dibunuh dan ditangkap karena tersesat memasuki daerah

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 4

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    pedesaan atau akibat perjumpaan yang tanpa sengaja dengan manusia (Dinata dan

    Sugardjito, 2008). Adanya aktivitas manusia pada suatu kawasan menyebabkan

    hidupan liar cenderung menghindar (Griffiths, 1994). Harimau cenderung

    menghindari suara gergaji mesin (chainsaw) para pembalak dan menghindari area

    di mana dilakukannya aktivitas perburuan oleh pemburu liar.

    Hutan dataran rendah merupakan habitat utama harimau sumatera dengan

    kepadatan 1-3 ekor per 100 km2, sedangkan daerah pegunungan 1 ekor per 100

    km2. Namun, tingginya kerusakan hutan dataran rendah di Sumatera (65-80%)

    menyebabkan harimau bergerak ke atas menuju hutan perbukitan dan pegunungan

    (Dinata dan Sugardjito, 2008).

    Daerah jelajah harimau sumatra jantan telah diketahui sekitar 110 km2 dan

    betinanya mempunyai kisaran daerah jelajah antara 50-70 km2 (Franklin et al.,

    1999). Daerah-daerah jelajah ini keberadaannya tumpang tindih antara individu

    harimau.

    Kajian yang dilakukan oleh Franklin et al. (1999) menunjukkan bahwa daerah

    jelajah harimau sumatera betina dewasa berkisar antara 40 – 70 km2, sedangkan

    Griffith (1994) dalam Tilson et al. (1994) memperkirakan bahwa daerah jelajah

    harimau sumatera jantan dewasa sangat bervariasi, yaitu antara 180 km2 pada

    kisaran ketinggian antara 100 – 600 meter di atas permukaan laut (mdpl.), 274 km2

    pada kisaran ketinggian antara 600 – 1.700 mdpl., dan 380 km2 pada ketinggian di

    atas 1.700 mdpl. Daerah jelajah satu harimau jantan dewasa dapat mencakup

    daerah jelajah dua betina dewasa (Franklin et al., 1999).

    Pada prinsipnya untuk mempertahankan hidup, harimau sumatra

    memerlukan tiga kebutuhan dasar yaitu ketersediaan hewan mangsa yang cukup,

    sumber air (Sunquist and Sunquist, 1989), dan tutupan vegetasi yang rapat untuk

    tempat menyergap mangsa (Lynam et al., 2000).

    Satwa predator ini setiap hari harus mengkonsumsi 5-6 kg daging yang

    sebagian besar (75%) terdiri atas hewan-hewan mangsa dari golongan rusa

    (Sunquist et al., 1999). Sebagai hewan pemangsa utama (top predator), harimau

    memerlukan wilayah habitat yang luas supaya dapat hidup dan berkembang biak.

  • E T I K A D A N M O R A L L I N G K U N G A N | 5

    – DEWI (P062110091) – RITA (P062110121) ritabulan.wordpress.com 2012

    Oleh karena itu, kepadatan hewan mangsa sebagai sumber pakan merupakan faktor

    yang sangat penting dalam mendukung keberlanjutan populasi harimau.

    Ketersediaan hewan mangsa ini juga memainkan peran penting dalam menentukan

    daerah jelajah individu harimau (Ahearns et al., 2001).

    Luas daerah jelajah harimau sumatera memang sangat dipengaruhi oleh

    ketersediaan satwa mangsa. Sebagai contoh, Santiapillai dan Ramono (1985)

    memperkirakan kepadatan rata-rata harimau sumatera dewasa berkisar antara 1

    individu/100km2 pada hutan dataran tinggi dan meningkat hingga 1 – 3

    individu/100 km2 pada hutan dataran rendah. Kajian lain memperkirakan

    kepadatan harimau sumatera adalah 1,1 individu/100 km2 pada hutan dataran

    tinggi dan meningkat tajam hingga 2,3 – 3 individu/100 km2 pada hutan dataran

    rendah (Borner, 1978).

    Habitat hutan dataran tinggi yang tersisa saat ini tidak dapat mendukung

    biomassa jenis-jenis ungulata besar sebagai hewan mangsa (Seidensticker, 1976).

    Sebaliknya, keberadaan hutan dataran rendah sangat penting karena dapat

    mendukung biomassa hewan ungulata besar seperti babi hutan (Sus scrofa), rusa

    (Cervus unicolor), dan kijang (Muntiacus muntjak) sebagai hewan mangsa. Namun,

    luasan hutan dataran rendah yang tersisa secara cepat menyusut akibat alih fungsi

    menjadi lahan pertanian.

    Harimau menyukai habitat pinggir sungai (riverine habitat). Sungai

    meru