NIFAS Adaptasi Orang Tua

of 40 /40
ASUHAN KEBIDANAN MASA NIFAS TERHADAP Ny.”S” DENGAN KASUS ADAPTASI MENJADI ORANG TUA DI BPS SRI LESTARI MARGODADI METRO SELATAN Disusun Oleh: AYU SYLVIA 06 242 048

Transcript of NIFAS Adaptasi Orang Tua

Page 1: NIFAS Adaptasi Orang Tua

ASUHAN KEBIDANAN MASA NIFAS TERHADAP Ny.”S” DENGAN KASUS ADAPTASI MENJADI ORANG

TUA DI BPS SRI LESTARI MARGODADI

METRO SELATAN

Disusun Oleh:

AYU SYLVIA 06 242 048

POLITEKNIK KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN TANJUNG KARANG

PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO TAHUN 2007

Page 2: NIFAS Adaptasi Orang Tua

LANDASAN TEORI ADAPTASI MENJADI ORANG TUA

A. PENDIDIKAN MENJADI ORANG TUA

Kehamilan mempengaruhi seluruh anggota keluarga. Setiap anggota

memerlukan proses adalah adaptasi yang bergantung pada budaya dan

lingkungan. Wanita segala umur selama masa kehamilannya beradaptasi berperan

sebagai ibu. Pada kehamilan awal tidak ada yang berbeda. Ketika futusnya mulai

bergerak pada trimester ke-2, wanita tersebut mulai menaruh perhatian pada

kehamilannya dan menjalin percakapan dengan ibunya atau teman-taman yang

lain yang pernah hamil.

Kehamilan suatu krisis yang mematangkan dan dapat menimbulkan stress,

tetapi imbalannya adalah wanita tersebut siap menghadapi fase baru untuk

tanggung jawab dan perawatan (Olsen, 1999). Konsep darinya berubah, siap

menjadi orang tua, dan menyiapkan peran barunya. Secara bertahap ia berubah

dari memperhatikan dirinya sendiri dan punya kebebasan menjadi komitmen

untuk Bertanggung jawab kepada makhluk lainnya.

Perkembangan ini membutuhkan tugas perkembangan yang pasti dan

tuntas yang meliputi penerima kehamilan, mengidentifikasi peran sebagai ibu,

membangun kembali hubungan dengan ibunya, dengan suaminya, dengan bayi

yang dikandungnya, serta menyiapkan kelahiran anaknya (Wayland dan Tate,

1993, Zachariah, 1994). Dukungan suami secara emosional adalah faktor yang

penting untuk keberhasilan tugas perkembangan ibu.

1. Identifikasi peran ibu

Peran ibu dimulai pada kehidupan seorang perempuan menjadi

seorang ibu dari anaknya. Persepsi lingkungan sosialnya tentang aturan-aturan

peran wanita dapat mempengaruhi pilihannya antara menjadi ibu atau

perempuan karir, menikah atau tetap membujang, atau menjadi bebas dari

Page 3: NIFAS Adaptasi Orang Tua

pada tergantung orang. Bermain peran dengan boneka, mengasuh bayi dan

mengasuh saudara dapat meningkatkan pengertian seperti apa peran ibu.

Perempuan yang menyukai bayi atau anak-anak mempunyai motivasi untuk

menerima kehamilan dan menjadi ibu.

2. Hubungan interpersonal Ibu

Kedekatan hubungan membuat ibu hamil lebih siap untuk berperan

sebagai ibu. Pada saat anggota keluarga menyadari peran baru mereka bisa

terjadi konflik dan ketegangan. Diperlukan komunikasi yang efektif antara ibu

dengan suami dan keluarganya. Komponen-komponen yang penting seputar

ibu hamil adalah: ibunya sendiri, reaksinya terhadap kehamilan anaknya,

menghargai kemandirian anaknya, keberadaannya di masa lampau dan

sekarang, dan keinginan untuk mengenangnya (Mercer, 1995)

3. Hubungan ibu dengan janin

Hubungan ibu dengan anak dimulai selama hamil, ketika ibu

mengkhayal dan memimpikan dirinya sebagai ibu (Rubin,1975). Ibu ingin

mendekat, menghangatkan, atau bercerita kepada bayinya, dan mencoba

membayangkan adanya tangisan bayi, memeriksakan adanya gangguan

terhadap kurangnya kebebasan dan kegiatan mengasuh anak. Hubungan ibu

dan anak berkembang dalam 3 fase selama hamil:

Fase I (Lumley, 1982). Ia menerima kenyataan biologis tentang kehamilan

dengan pernyataan “saya hamil” dan menyatakan ide tentang anak didalam

tubuhnya dan gambaran dirinya sebagai berikut:

a. Pikiran terpusat pada dirinya

b. Menyadari kenyataan dirinya hamil

c. Fetus adalah bagian dari dirinya

d. Fetus seolah-olah tidak nyata

Page 4: NIFAS Adaptasi Orang Tua

Fase II pada saat ini ibu merasakan sebagai berikut :

a. Menerima tubuhnya fetus yang merupakan makhluk yang berbeda dengan

dirinya (pada bulan ke-5)

b. Timbulnya pernyataan :”Saya akan mempunyai seorang bayi”

c. Tumbuhnya kesadaran bahwa bayinya adalah makhluk lain yang terpisah

dari tubuhnya.

d. Terlibat dalam hubungan Ibu-Anak, asuhan dan tanggung jawab

e. Mengembangkan pelekatan (attachment). Perempuan yang menyukai

kehamilan dan merencanakannya akan senang dengan kehamilannya,

mereka dekat dengan bayinya yang dirasakan lebih awal dari pada

perempuan lain (Koniak Griffin, 1988)

f. Menerima kenyataan, mendengar denyut jantung janin dan merasakan

gerakan anak menempatkan perempuan tersebut pada kondisi yang tenang,

sehingga dapat lebih berintrospeksi diri dan berfantasi tentang anaknya. Ia

akan senang dengan anak kecil.

Fase III ini adalah proses attachment dan ibu merasakan sebagai berikut:

a. Merasa realistik

b. Mempersiapkan kelahiran

c. Mempersiapkan menjadi orang tua

d. Spekulasi mengenai jenis kelamin anak

e. Keluarga berinteraksi dengan menempelkan telinganya ke perut ibu dan

berbicara dengan fetus.

B. Reaksi Wanita Terhadap Bayinya dan kegiatan menyusui

Reaksi wanita terhadap kelahiran bayinya dan terhadap pengurangan hak-

hak ego itu sangat bervariasi. Yang terutama sekali ialah: reaksi mekanisme

Page 5: NIFAS Adaptasi Orang Tua

pembelaan diri yang otomatis menentang bertambahnya macam-macam tugas

baru guna merawat dan mengasuh bayinya.

Tugas-tugas baru tadi dinyatakan sebagai suatu “Bahaya bisa menghambat

dan memiskinkan ego sendiri”. Lalu timbul reaksi : merasa sangat dirugikan,

karena semua tingkah laku ibu muda tersebut menjadi sangat terbatas dan

terhambat oleh kehadiran bayinya. Perasaan semacam itu terutama sekali banyak

kita jumpai pada ibu-ibu yang sangat muda yang belum siap secara mental untuk

menjadi ibu, dan ibu-ibu yang memiliki sifat maskulinitas sangat kuat.

Banyak ibu muda yang merasa takut kalau-kalau kelangsingan tubuh dan

kemolekan badannya menjadi lenyap, terutama payudaranya akan menjadi rusak,

kempis dan longgar, karena harus menyusui bayinya. Ditambah timbulnya

macam-macam konflik antara aspirasi-aspirasi intelektual untuk aktif bergiat di

luar, melawan tugas-tugas keibuan di rumah.

Bentuk reaksi negatif lain yang bisa membahayakan kepribadian wanita

berupa : beraneka mekanisme pelarian diri dan mekanisme pembelian diri yang

semula berhasil dipertahankan, kini menjadi goyah, disebabkan oleh kelahiran

bayinya, dan munculnya tugas-tugas keibuannya, dan mereaksi terhadap “bahaya-

bahaya” (yaitu tugas keibuan) dengan rasa ketakutan serta kecemasan, lalu

berusaha menghindarkan diri dari semua tugas merawat dan mengasuh bayinya.

Juga terdapat wanita-wanita yang merasa tidak mampu mencintai

anaknya, padahal umur cinta kasih mutlak perlu bagi kesejahteraan dan

kelestarian bayinya. Semua perasaan negatif atau perasaan dirugikan itu pada

umumnya adalah kelanjutan dari perasaan-perasaan yang dikembangkan sejak

periode kehamilan.

Apalagi ada hal-hal tersebut di atas, bentuk khas dari sifat keibuan itu

sangat bergantung pada keseimbangan antara macam-macam konflik yang saling

bertentangan tadi. Ketakutan yang berlebih-lebihan pada berkurangnya hak-hak

ego sendiri berakibat munculnya:

a. Usaha untuk melarikan diri dari bayinya

Page 6: NIFAS Adaptasi Orang Tua

b. Tidak mau bertanggung jawab terhadap perawatan dan nasib anaknya.

c. Berbareng dengan peristiwa tadi, terjadi pula kegagalan pada fungsi-fungsi

jasmaniah dari reproduksi, terutama fungsi kelenjar-kelenjar susu menjadi

terhalang dan macet, sehingga air susu tidak mau keluar.

d. Sebagai akibat jauhnya, wanita tadi tidak mau menghayati fungsi keibuan

sejati.

Sebaliknya, jika terdapat ketakutan yang ekstrem terhadap nasib bayinya atau

muncul rasa takut kehilangan bayinya, maka hal ini akan mengakibatkan :

a. Devosi atau pengorbanan diri yang berlebih-lebihan

b. Juga minat sosial lainnya tidak di perhatikan

c. Bahkan mungkin bisa muncul disposisi kecemasan-kecemasan yang neurotis

terhadap anaknya

Ada kalanya kita jumpai proses penguatan cinta-dini yang narsistis pada

seorang wanita, sebagai suatu reaksi - kompensasi dari kecenderungan -

kecenderungan mesokhistis ekstrem sesudah kelahiran bayinya. Penguatan unsur

narsisme sekunder semacam ini khususnya terjadi pada wanita yang kehidupan

emosionalnya kaku-beku dingin, sehingga ia tidak mampu menghayati

kebahagiaan mengandung bayinya, dan tidak bisa mencintai anaknya. Peristiwa

tadi merupakan bentuk :

a. Kekacauan emosional disertai perasaan-perasaan kosong hampa

b. Dan pemiskinan sifat kewanitaannya yaitu merupakan bentuk gangguan

afektif yang schizoid sifatnya.

Wanita-wanita tadi mengharapkan, bahkan sering menuntut, agar

bayi/anaknya mencintai dirinya, tetapi dia sendiri tidak sanggup mencintai

anaknya. Atau agar bayinya bisa membebaskan ibunya dari derita batin penuh

kekosongan dan kehambaran hati. Namun dengan sendirinya ibu tadi merasa

kecewa, karena harapannya tidak pernah terpenuhi, sebab sumber penyebabnya

ialah: ibu itu sendiri tidak mampu mengembangkan perasaan afeksi yang hangat

terhadap anak/bayinya.

Page 7: NIFAS Adaptasi Orang Tua

Ada pula wanita-wanita yang ingin hamil dan melahirkan anaknya karena

didorong oleh rasa kesepian atau oleh perasaan kepedihan ditinggalkan kekasih

atau suami.

Untuk mengurangi kecenderungan-kecenderungan negatif tadi, perlu

kiranya wanita yang bersangkutan dialihkan kepada interest-interest atau macam-

macam kegiatan rekreatif sebagai terapi penyembuhannya.

Tipe wanita yang dihinggapi perasaan-perasaan bersalah dan dosa-dosa

misalnya: yang cenderung memberikan reaksi-reaksi depresif dan reaksi neurotis-

obsesif. Pada umumnya membiarkan anaknya sejak awal kehadirannya

mentiranisir dirinya dengan macam-macam tuntutan dan kemanjaan. Di kemudian

hari, jika perbuatan dan kenakalan anaknya sudah keterlaluan disebabkan oleh

salah asuh dan salah didik dari sang ibu maka secara mati-matian ibu tadi

membebaskan diri dari tiranisasi anaknya. Biasanya ia menjadi putus asa atau

justru menjadi sangat maskulin dan agressif sekali, lalu bersikap kasar dan kejam

terhadap anaknya.

Pada beberapa wanita lainnya, secara paradoksal kelahiran anaknya justru

menambah kreatifitasnya diluar lingkungan keluarga. Adapun motivasi-motivasi

penunjang yang memperbesar dorongan kreatifitas mereka adalah : kekecewaan

menjadi seorang ibu, ingin melarikan diri dari tugas-tugas keibuan.

Ibu-ibu yang bersifat sangat maskulin ini mirip dengan gadis-gadis cilik

yang mencoba memuaskan dorongan aktifnya dengan bermain-main dengan

bonekanya. Lalu dengan ciri-ciri maskulinitas tadi ia mencoba-coba memelihara

serta mengurus bayinya, dan di kemudian hari mendidik anaknya, maka dengan

semakin menonjol kuat kecenderungan-kecenderungan maskulinnya atau tendens

kelaki-lakiannya, akan semakin kuat pula usahanya untuk melarikan diri dari

tugas-tugasnya sebagai seorang ibu.

Sebaliknya juga, semakin pasif dia dan semakin banyak ia dihinggapi

dorongan-dorongan masokhistis, akan semakin bergantunglah ia pada pribadi

anaknya. Ada kecemasan berbentuk dependensi pada diri anaknya dan semakin

Page 8: NIFAS Adaptasi Orang Tua

kuatlah usahanya untuk melarikan diri dari macam-macam aktivitas yang

maskulin.

Hal ini menjelaskan, bahwa khususnya pada wanita yang sangat pasif, bisa

terjadi pernguatan dan penonjolan kecenderungan-kecenderungan maskulin

sesudah kelahiran bayinya.

Macam-macam gejala yang telah kita bahas pada periode kehamilan itu

bisa berlangsung terus pada masa menyusui dan periode post partum. Misalnya

saja, kesenangan menjadi hamil terus menerus, berupa obsesi jadi hamil tanpa

disertai emosi-emosi afeksi terhadap anak sendiri itu banyak kita jumpai pada

wanita-wanita infantil (kekanak-kanakan, dewasa secara jasmaniah, namun

memiliki ciri kekanak-kanakan secara jiwani) . pola tersebut akan dilanjutkan

dalam bentuk relasi infantil dengan anaknya. Ibu-ibu macam ini biasanya tidak

mampu mengembangkan sikap yang dewasa, tidak bisa menyesuaikan diri dengan

tuntutan realitas yang ada, dan tidak bisa meninggalkan pola relasi-relasi dengan

anaknya yang sifatnya sangat kekanak-kanakan lalu ia memainkan peranan

keibuannya bagaikan gadis pra puber yang asik menimang-nimang bonekanya.

Sebernarnya, bahwa wanita semacam ini belum siap siaga untuk menjadi

seorang ibu. Ketika ia melahirkan bayinya secara spontan ia diliputi rasa senang

dan suka memamerkan pada teman-temannya. Ketika ia melahirkan anaknya.

Semua ini berlangsung selama beberapa minggu saja. Akan tetapi ketika tiba saat

yang lebih serius, dimana sang bayi menuntut pengorbanan dari ibunya berupa

tuntutan pemeliharaan dan asuhan, maka mulailah timbul kesulitan dan konflik-

konflik batin pada dirinya.

C. ADAPTASI ORANG TUA DALAM PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

ANAK

Ketika seorang ibu melahirkan anak, suatu hal yang ingin diketahui ialah:

seperti apakah atau seperti siapakah anak saya? Ini suatu keingin tahuan yang

biasa, wajar. Namun sebenarnya ada satu hal yang lebih penting lagi ialah, akan

Page 9: NIFAS Adaptasi Orang Tua

seperti apakah kelak anak saya ini? Suatu pertanyaan dengan rentangan panjang,

memakan waktu lama untuk bisa menjawabnya dan sulit untuk bisa diramalkan

antara apa yang ada dan apa yang akan terjadi, antara yang terlihat dan apa yang

akan diperlihatkan.

Anak yang baru lahir berada dalam keadaan lemah, tidak berdaya, tidak

bisa apa-apa, tidak bisa mengurus diri sendiri, tidak bisa memenuhi kebutuhan-

kebutuhannya sendiri. Jadi ia tergantung sepenuhnya pada lingkungannya,

lingkungan hidupnya, terutama orang tua dan lebih khusus lagi ialah ibunya.

Mengenai lingkungan hidup yang menjadi tokoh pusat ialah orang tua. Merekalah

yang berperan besar, langsung atau kadang-kadang tidak langsung, berhubungan

terus-menerus dengan anak, memberikan perangsang (stimulasi) melalui berbagai

corak komunikasi antara orang tua (terutama ibu) dengan anak.

Berdasarkan pada hal-hal tersebut diatas, orang tua jelas berperan besar

dalam perkembangan dan memperkembangkan kepribadian anak. Orang tua

menjadi faktor penting dalam menanamkan dasar kepribadian yang ikut

menentukan corak dan gambaran kepribadian seprang setelah dewasa, jadi

gambaran kepribadian yang terlihat dan diperlihatkan seseorang setelah dewasa,.

banyak banyak ditentukan oleh keadaan dan proses-proses yang ada dan terjadi

sebelumnya.

Dalam usaha atau tindakan aktif orang tua untuk mengembangakan kepribadian

anak, perlu memperhatikan aspek-aspek perkembangan sebagai berikut :

1. Dalam kaitan dengan pertumbuhan fisik anak

Perlakuan dan pengasuhan yang baik disertai dengan lingkungan yang

memungkinkan anak hidup sehat, jauh dari keadaan yang mempermudah

timbulnya sakit dan penyakit perlu sekali di perhatikan. Pengetahuan praktis

mengenai kadar gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan anak

perlu diketahui orang tua. Juga diperlukan pengetahuan- pengetahuan praktis

mengenai kebutuhan- kebutuhan anak, kebutuhan dasar dan mineral, untuk

memungkinkan anak berkembang sebaik-baiknya.

Page 10: NIFAS Adaptasi Orang Tua

2. Dalam kaitannya dengan perkembangan sosial anak

Pergaulan adalah juga merupakan suatu kebutuhan untuk memperkembangkan

aspek sosial anak. Seorang anak membutuhkan anak lain atau kelompok yang

kira-kira sebaya. Melalui hubungan dengan lingkungan sosialnya, anak

sengaja atau tidak sengaja, langsung atau tidak langsung terpengaruh

pribadinya. Peniruan menjadi salah satu faktor yang sering terjadi dalam

proses pembentukan pribadi anak. Maka penting diperhatikan siapa atau

dengan kelompok mana anak boleh, dianjurkan atau sebaliknya menghindari

atau sesedikit mungkin bergaul.

3. Dalam kaitannya dengan perkembangan mental anak

Komunikasi verbal antara orang tua dengan anak, khususnya pada tahun-

tahun pertama kehidupan anak, besar pengaruhnya untuk perkembangan

mentalnya. Anak memahami arti sesuatu mulai dari yang kongkrit sampai

yang abstrak, Kecuali dari usaha anak sendiri, yang bereksplorsi didalam

lingkungannya, mendengar, mengamati dan mengolah menjadi pengetahuan-

pengetahuan, juga berasal dari perangsangan- perangsangan yang diberikan

oleh orang-orang yang ada di sekeliling hidup anak. Mengajak anak berbicara

sambil membimbing lebih lanjut mempunyai dampak positif bagi

perkembangan aspek mentalnya.

4. Dalam kaitannya dengan perkembangan rohani anak

Pengetahuan anak mengenai perbuatan baik atau tidak batik, boleh atau tidak

boleh dilakukan, diperoleh dari usaha anak sendiri yang secara aktif

memperhatikan, meniru dan mengolah dalam alam pikirannya dan lebih lanjut

menjadi sikap dan perilakunya. Namun dalam banyak hal peranan dari orang

tua juga cukup besar dalam mempengaruhi perkembangan aspek moral dan

rohani anak.

Orang tua sedikit demi sedikit membimbing dan mengarahkan sikap dan

perilaku anak sesuai dengan patokan atau ukuran orang tua, sesuai dengan

kitab suci dan ajaran- ajaran agama.

Page 11: NIFAS Adaptasi Orang Tua

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

TERHADAP NY. S DENGAN KASUS ADAPTASI MENJADI ORANG TUA

DI BPS SRI LESTARI MARGODADI METRO SELATAN

TAHUN 2007

I. PENGUMPULAN DATA DASAR

Tanggal 25 Januari 2007

1. Identitas

Nama Istri : Supriatun

Umur : 24 th

Agama : Islam

Suku : Padang

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : IRT

Alamat : Jln. Jendral Suprapto

No. 27 Margodadi

Metro Selatan

Nama Suami : Bayu Pamungkas

Umur : 28 th

Agama : Islam

Suku : Padang

Pendidikan : SLTA

Pekerjaan : Wirasuasata

Alamat : Jln. Jendral Suprapto

No. 27 Margodadi

Metro

2. Keluhan Utama

Ibu dengan G1P0A0 post partum tanggal 20 Januari 2007. dari vagina keluar

darah (lochea rubra). Ibu merasa cemas dan gelisah dengan anaknya yang

menangis terus-menerus. Ibu merasa takut dan khawatir kalau ia tidak bisa

mengasuh bayinya. Ibu merasa letih dan sulit tidur, perut masih terasa mulas.

3. Riwayat Persalinan

Anak lahir spontan : tanggal 20 Januari 2007, jam 02.45 WIB

Jenis kelamin : perempuan

BB : 3000 gr PB : 50 cm

Apgar score : 9/10

Page 12: NIFAS Adaptasi Orang Tua

Jumlah perdarahan : Kala I : Blood Slym

Kala II : 100 cc

Kala III : 150 cc

Kala IV : 100 cc

Jumlah : 350 cc

Lama persalinan Kala I : 12 jam

Kala II : 2 jam

Kala III : 15 menit

Kala IV : 2 jam

Jumlah : 16 jam 15 menit

4. Riwayat Kesehatan Dasar

Mobilitas : Ibu dapat miring ke kanan dan ke kiri, duduk dan

berjalan perlahan-lahan

5. Pola Kebutuhan Dasar

a. Eliminasi

BAB Sebelum melahirkan : 1-2 x/hari

Sesudah melahirkan : 1 x/hari

BAK Sebelum melahirkan : 5-6 x/hari

Sesudah melahirkan : 2 x/hari

b. Nutrisi

Sebelum melahirkan : Ibu makan 3x sehari dengan porsi sedang, 1

piring nasi, 1 mangkuk sayur, lauk-pauk, buah

dan susu

Sesudah melahirkan : Ibu makan dengan porsi kecil ½ piring nasi,1 ,

mangkuk sayur, lauk-pauk, buah dan susu

Page 13: NIFAS Adaptasi Orang Tua

c. Istirahat

Sebelum melahirkan : ibu tidur 7-8 jam sehari

Sesudah melahirkan : ibu tidur 6 jam sehari tetapi malam agak sulit

tidur karena bayi sering menangis

d. Aktivitas

Sebelum melahirkan : ibu bisa melakukan aktivitas/kegiatan rumah

tangga sendiri tanpa bantuan orang lain .

Sesudah melahirkan : ibu hanya bisa berjalan pelan-pelan dan

dibantu .

e. Personal hygiene

Sebelum melahirkan : ibu mandi 2x sehari, menggosok 3x sehari, ibu

mencuci tangan sebelum dan sesudah BAK/BAB, ibu mengganti pakaian

setiap kali habis mandi

Sesudah melahirkan : ibu mandi 2x sehari, menggosok 3x sehari, ibu

mencuci tangan sebelum dan sesudah BAK/BAB, ibu mengganti pakaian

setiap kali habis mandi, ibu mengganti doek 3x sehari .

6. Riwayat Sosial Ekonomi

a. Respon ibu dan keluarga : Ibu sangat mengharapkan serta

menerima kehamilan dan persalinan

ini.

b. Peran anggota keluarga : Keluarga sering membantu cara

merawat bayi dan ibu setelah

bersalin tetapi bayi sering menangis

tiap malam

c. Pembuat keputusan : Suami adalah orang yang paling

dalam mengambil keputusan

Page 14: NIFAS Adaptasi Orang Tua

d. Kebiasaan-kebiasaan kesehatan : Keluarga masih menganut upacara

dan tata cara adat lama, dimana ibu

harus tidur bersandar dan minum

jamu-jamuan

7. Riwayat Kesehatan Keluarga

Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular atau menurun

8. Keadaan Psikososial

Ibu merasa senang dengan kelahiran anaknya, keluarga juga ikut bahagia,

tetapi ia merasa khawatir jika anaknya sering menangis. Ibu juga takut kalau

ia tidak bisa merawat anaknya, karena belum memiliki pengalaman tentang

merawat bayi dan selama ini ibu dibantu oleh keluarga dan suami.

9. Pemeriksaan

1) Pemeriksaan umum

a. Keadaan umum : Baik

Kesadaran : composmentis

BB sebelum hamil : 56 kg

BB hamil aterm : 68 kg

BB setelah melahirkan : 67 kg

Tinggi badan : 157 cm

b. Tanda-tanda vital

TD :120/80 mmHg

Nadi : 80x/menit

Suhu : 360C

RR : 22x/menit

2) Pemeriksaan fisik

Rambut : berminyak, lembab, sedikit ketombe

Page 15: NIFAS Adaptasi Orang Tua

Mata : konjungtifa pucat, sclera sedikit icterik, fungsi

penglihatan normal

Muka : tidak ada oedema, tidak ada kelainan

Hidung : simetris, tidak ada polip, fungsi penciuman

normal

Mulut : bersih tidak ada carises gigi, tidak ada gigi

berlubang

Telinga : simetris, bersih, fungsi pendengaran baik

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, dan tidak

ada pembesaran vena jugularis

Payudara : simetris kanan-kiri, putting susu menonjol,

terdapat hiperpigmentasi pada areola mammae,

tidak ada nyeri, abses dan pembengkakan,

pengeluaran kolostrum masih sedikit dan belum

terlalu lancar.

Abdomen : ada bekas striae

Palpasi : TFU 3 jari bawah pusat

Kontraksi uterus baik, tidak ada nyari

Keadaan vesika urinaria : kosong

Ekstremitas atas : simetris kanan-kiri, jari-jari lengkap dan

berfungsi normal, kuku jari tangan putih (tidak

biru) tetapi terlihat kurang bersih

Ekstremitas bawah : simetris kanan-kiri, jari-jari lengkap, kuku

kurang bersih, tidak ada oedema, tidak ada

varises, tidak ada tanda-tanda tromboplebitis,

reflek patella (+) dan berfungsi normal.

Genitalia : lochea rubra, vulva dan vagina tidak ada varises,

tidak ada oedema, bersih dan kering.

Page 16: NIFAS Adaptasi Orang Tua

II. INTERPRESTASI DATA DASAR

Diagnosa :

Ibu post partum dengan adaptasi menjadi orang tua

Dasar : a. Ibu post partum, partus tanggal 20 Januari 2007 02.45 WIB

b. Lochea rubra

c. Ibu merasa letih dan suit tidur

d. Menurut suaminya ibu mudah tersinggung

e. Ibu juga takut tidak bisa merawat anaknya.

Masalah : gangguan psikologis

Dasar : a. cemas terhadap anaknya

b. Ibu khawatir tidak bisa merawat anaknya

c. Ibu tidur kurang dari 5 jam

d. Ibu sering terbangun pada malam hari, untuk mengganti popok

dan menyusui.

Kebutuhan : a. Dukungan lingkungan dalam keluarga

b. Perhatikan dan cinta kasih dari suami dan anggota keluarga yang

lain

c. Pemenuhan cairan dan nutrisi

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL

Potensi terjadinya depresi post partum yang berlanjut

IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA DAN KOLABORASI

Untuk sementara ibu belum memerlukan tindakan segera dan kolaborasi

Page 17: NIFAS Adaptasi Orang Tua

V. RENCANA MANAJEMEN

1. Jelaskan keadaan ibu saat ini dan jelaskan tentang proses adaptasi yang

terjadi pada bayi baru lahir.

a. Beritahu ibu tentang kondisinya saat ini

b. Jelaskan pada ibu tentang cara perawatan BBL

c. Beritahu ibu tentang cara melakukan personal hygiene pada bayi

2. Jelaskan pada keluarga bahwa dukungan, perhatian dan cinta kasih sangat di

perlukan saat ini.

a. Beri tahu keluarga bahwa ibu sangat membutuhkan dukungan, perhatian

dan cinta kasih

b. Anjurkan pada keluarga agar selalu memberikan perhatian kepada ibu

c. Menjauhkan ibu dari hal-hal yang membuat ia mudah tersinggung serta

takut dan khawatir akan masa depan anaknya

3. Libatkan suami dan keluarga dalam setiap kegiatan ibu

a. Anjurkan kepada suami dan keluarga untuk membantu ibu dalam

merawat anaknya

b. Anjurkan pada suami dan keluarga untuk tetap mendukung setiap

kegiatan yang dilakukan ibu

4. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya ibu nifas dengan

gangguan psikologis yang berat

a. Anjurkan pada suami dan keluarga untuk menjauhi ibu dari hal-hal yang

membuat ibu stress

b. Beritahu suami dan keluarga tentang cara yang tepat yang dapat

membuat ibu merasa rileks

5. Berikan konseling tentang perawatan bayi sehari-hari

a. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang perawatan bayi sehari-hari

b. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang menjaga kebersihan diri pada

bayi

Page 18: NIFAS Adaptasi Orang Tua

6. Berikan konseling tentang ASI eksklusif

a. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang ASI eksklusif

b. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang manfaat ASI Eksklusif

c. Beritahu suami, ibu dan keluarga tentang cara menyusui yang efektif dan

benar

VI. IMPLEMENTASI LANGSUNG

1. a. Memberitahu ibu tentang kondisinya saat ini. Bahwa ibu masih dalam

masa nifas

b. Menjelaskan pada ibu tentang cara merawat serta membersihkan tali

pusat yang belum puput

c. Memberitahu ibu tentang cara membersihkan daerah kemaluan

2. a. Memberitahu keluarga tentang perhatian dan cinta kasih yang di

butuhkan ibu seperti misalnya selalu berada di dekat ibu bila ibu

membutuhkan sesuatu.

b. Menganjurkan keluarga untuk selalu memberikan perhatian berupa

kenyamanan yang dapat membangkitkan rasa percaya diri ibu dalam

mengasuh anaknya.

c. Memberitahu keluarga agar menjauhkan dari hal-hal yang membuat ibu

tersinggung serta khawatir dan takut akan masa depan anaknya seperti

tidak membiarkan ibu merawat bayinya seorang diri yang menyebabkan

timbulnya rasa takut serta tidak percaya diri pada diri ibu.

3. a. Memberi tahu suami dan keluarga agar membantu ibu dalam merawat

anaknya tanpa mengambil peranannya sebagai ibu seperti membantu ibu

mengawasi bayinya, membantu ibu menenangkan bayi bila menangis

atau mengganti pakaian bayi bila bayi BAK atau BAB.

b. Memberitahu suami dan keluarga agar tetap mendukung setiap kegiatan

ibu dan berusaha untuk tetap memberi motivasi terhadap kegiatan yang

di lakukan.

Page 19: NIFAS Adaptasi Orang Tua

4. a. Memberi tahu keluarga tentang cara yang tepat untuk membuat ibu tidak

stress seperti selalu memberi dukungan dan motivasi kepada ibu jika ibu

mengalami kesulitan dalam merawat bayi.

b. Memberitahu keluarga tentang cara yang dapat membuat ibu merasa

rileks seperti mengajak ibu berjalan-jalan bersama bayinya, dalam satu

kesempatan.

5. a. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang perawatan tali pusat,

pencegahan iritasi kulit, dan menjaga suhu tubuh bayi agar tetap hangat.

b. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang menjaga kebersihan diri

pada bayi seperti memandikan bayi 2x sehari, mengganti balutan kasa

pada tali pusat, serta mengganti pakaian bayi setiap kali kotor.

6. a. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang ASI eksklusif yaitu suatu

cara pemberian makan pada bayi dalam 6 bulan pertama setelah

kelahiran tanpa didampingi makanan tambahan lainnya.

b. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang manfaat ASI eksklusif

yaitu dapat memberikan kekebalan serta dapat meningkatkan kecerdasan

pada bayi, karena kandungan-kandungan yang ada di dalamnya

merupakan unsur-unsur penting yang dibutuhkan oleh bayi.

c. Memberitahu suami, ibu dan keluarga tentang cara menyusui yang

efektif dan benar yaitu dengan cara menyusui bayi pada posisi yang baik

dan benar, memberikan ASI secara bergantian antara payudara yang

kanan dan kiri, menyendawakan bayi setelah diberi ASI.

VII. EVALUASI

1. Ibu mengatakan akan mencoba memerankan peran barunya dengan baik,

dengan tidak menangis bila anaknya menangis

2. Keluarga terlihat mencoba memberikan perhatian lebih pada ibu dan bayinya

3. Nenek mulai mengerti dengan keadaan anaknya, dengan cara membantu

menangani cucunya yang menangis

Page 20: NIFAS Adaptasi Orang Tua

4. Ibu menjelaskan kembali tentang tanda bahaya yang akan terjadi

5. Ibu dapat menjelaskan kembali tentang perawatan bayi sehari-hari

6. Ibu mengatakan akan mencoba menyusui bayinya secara eksklusif selama 6

bulan.

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal 26 Januari 2007, 6 hari post partum

S : a. Ibu mengatakan senang dengan keadaan saat ini

b. Ibu mengatakan ASI nya sudah keluar / lancar

c. Ibu mengatakan bahwa bayinya sudah tidak sering menangis

O : a. Keadaan umum ibu baik

TD : 120/80 mmHg

RR : 21 x/ menit

Pols : 80x/menit

Temp : 36,50C

b. Ibu sudah mulai mau menyusui bayinya

c. Ibu nampak tenang

d. Ibu nampak bahagia menjalani perannya sebagai ibu

e. ASI sudah keluar

f. TFU pertengahan pusat sympisis

g. Lochea serosa, perdarahan normal 2x ganati softex, luka heating tidak ada

h. BAB : 1x sehari BAK : 3-4 x/hari

A : 1. Diagnosa :

Ibu post partum hari ke-6

2. Masalah :

Untuk sementara tidak ada

Page 21: NIFAS Adaptasi Orang Tua

3. Kebutuhan :

a. Penyuluhan tentang nutrisi ibu nifas

b. Penyuluhan tentang perawatan bayi sehari-hari

c. Penyuluhan tentang senam nifas

P : 1. Observasi keadaan umum ibu :

a. Keadaan umum baik

b.Tanda- tanda vital

TD : 120/80 mmHg

RR : 21 x/ menit

Pols : 80x/menit

Temp : 36,50C

c. ASI sudah keluar

2. Observasi kontraksi uterus

a. TFU pertengahan pusat symphisis

b. Kontraksi uterus baik

c. Kandung kemih kosong

d. Perdarahan biasa atau normal

3. Anjurkan ibu untuk tetap menyusui bayinya

a. Memberikan ASI dini (dalam satu jam pertama bayi lahir) dan

persentuhan ibu dan bayi

b. Menjelaskan manfaat ASI, yang dapat memberikan kekebalan pasif

yang segera kepada bayi melalui kolostrum

c. Meyakinkan ibu untuk menyusukan anaknya dengan melakukan rawat

gabung ibu dan bayi

d. Tidak menganjurkan ibu memberi dot atau kemperng pada bayi

4. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi dan

penting untuk ibu nifas

a. Mengkonsumsi zat besi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin

Page 22: NIFAS Adaptasi Orang Tua

b. Mengkonsumsi sayuran hijau dengan diet berimbang

c. Menambah asupan makanan sebagai pemenuhan kebutuhan dalam

memberikan ASI yaitu mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

5. Anjurkan pada ibu agar melakukan senam nifas / otot-otot pert dan

panggul :

a. Mengajarkan ibu senam nifas

b. Memberitahu ibu manfaat senam nifas yang dapat mengurangi rasa

sakit pada punggung

6. Libatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatan ibu

a. Memberi tahu suami agar selalu mendampingi ibu

b. Memberi tahu suami agar mau membantu ibu dalam melakukan setiap

kegiatan.

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal 03 Februari 2007 2 Minggu Post Partum

S : a. Ibu merasa badannya pegal-pegal

b. Ibu merasa bahagia dengan kelahiran bayinya

c. Ibu mengatakan sudah tidak mengeluarkan darah lagi dari kemaluannya,

hanya berwarna kuning kecoklatan

O : a. Keadaan umum ibu baik

b. Tanda-tanda vital

TD : 120/70 mmHg

RR : 20 x/ menit

Pols : 80x/menit

Temp : 36,50C

c. Ibu sudah mulai terbiasa dengan aktivitas barunya

d. Ibu terlihat lebih tenang dan lebih bahagia dengan peran barunya

Page 23: NIFAS Adaptasi Orang Tua

e. Lochea seorosa

f. BAB : 1x/sehari

g. BAK : 3-4x/hari

A : 1. Diagnosa

Ibu post partum minggu ke-2

2. Masalah :

Kekurangan exercise / latihan

3. Kebutuhan :

a. Penyuluhan tentang senam nifas

b. Penyuluhan tentang gizi ibu menyusui

P : 1. Jelaskan kondisi ibu saat ini

a. Ibu terlihat letih dengan keluhan pegal-pegal

b. Ibu mengatakan badannya sering merasa pegal-pegal terutama di malam

hari

2. Lakukan senam nifas dan jelaskan fungsi dari senam nifas

a. Mengajarkan ibu senam nifas

b. Memberitahu ibu manfaat senam nifas

c. Menganjurkan ibu agar terus latihan senam nifas dengan bimbingan

3. Berikan penyuluhan tentang gizi ibu menyusui

a. Memberitahu ibu tentang gizi yang baik untuk menyusui

b. Menganjurkan ibu agar mengkonsumsi vitamin A (200000 unit) dan pil

zat besi setidaknya 40 hari paska bersalin

4. Berikan konseling KB dimana ibu dianjurkan ber-KB setelah 6 minggu

post partum dan beri penjelasan tentang KB apa yang baik untuk ibu

a. Menjelaskan kepada ibu bahwa metode ini dapat mencegah kehamilan

b. Menjelaskan tentang kelebihan / keuntungan serta kekurangannya

Page 24: NIFAS Adaptasi Orang Tua

c. Menjelaskan efek samping dari penggunaan metode ini serta cara

menggunakan metode ini

d. Memberitahu ibu kapan metode ini dapat mulai digunakan untuk wanita

pascasaliln yang menyusui.

CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal 04 Maret 2007 6 Minggu Setelah Persalinan

S : a. Ibu mengatakan sudah sehat dan stabil

b. Ibu selalu mendapat dukungan dari suami dan keluarga

c. Ibu mengatakan bahwa bayinya sudah mulai tidur nyenyak dan tidak

rewel

O : a. Keadaan umum baik

b. Tanda-tanda vital

TD : 120/80 mmHg

RR : 20 x/ menit

Pols : 80x/menit

Temp : 36,50C

c. TFU tidak teraba dan tidak terasa nyeri

d. Pengeluaran pervaginam lochea alba sedikit

e. BAB : 1x/sehari

f. BAK : 3-4x/hari

g. ASI keluar lancar, tidak ada tanda-tanda bendungan ASI maupun infeksi

A : 1. Diagnosa

Ibu post partum minggu ke-6

2. Masalah :

Untuk sementara tidak ada

Page 25: NIFAS Adaptasi Orang Tua

3. Kebutuhan :

a. Pemenuhan alat kontrasepsi

b. Konseling hubungan perkawinan dan keluarga sesudah post partum

P : 1. Jelaskan tentang kondisi ibu saat ini

a. Ibu mengatakan sudah sehat dan stabil

b. Ibu mengatakan mendapat dukungan dari suami dan keluarga

c. Ibu mengatakan bayinya sudah mulai tidur nyenyak dan tidak rewel

2. Anjurkan ibu untuk selalu mengkosumsi makanan yang bergizi

a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari

b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan

vitamin yang cukup

c. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap

kali menyusui)

d. Minum pil zat besi untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari

pasca bersalin

e. Minum kapsul vitamin A (200000 unit) agar bisa memberikan vitamin

A kepada bayinya melalui ASI-nya

3. Pemberian alat kontra sepsi berupa KB suntik 3 bulan sekali

a. Menjelaskan pada ibu bahwa metode KB merupakan metode yang paing

efektif meskipun mengandung resiko, dan menggunakan kontra sepsi

tetap lebih aman, terutama apabila ibu sudah haid

b. Memberitahu ibu kapan metode itu dapat mulai dilakukan

4. Anjurkan ibu agar kontrol ulang KB 3 bulan untuk mengetahui apakah

terjadi efek samping atau tidak.

a. Menganjurkan ibu atau pasangan untuk kontrol ulang dalam 2 minggu

setelah pemasangan untuk mengetahui apakah KB bekerja dengan baik

atau tidak

b. Memberi kesempatan ibu atau pasangan untuk mengetahui apakah ada

yang ingin ditanyakan oleh ibu/pasangan itu dan untuk melihat apakah

metode tersebut bekerja dengan baik.

Page 26: NIFAS Adaptasi Orang Tua

DAFTAR PUSTAKA

Kartono, Kartini.1992. Psikologi Wanita Jilid II Mengenal Wanita Sebagai Ibu Dan Nenek. Mandar Maju : Bandung

Salmah, Rusmiati, dkk. Asuhan kebidanan antenatal. Jakarta : EGC

Gunarsa Singgih dkk, 2001, Psikologi Praktis ; Anak, Remaja dan Keluarga, Jakarta; PT. BPK Gunung Mulya

Prawirohardjo, Sarwono, 2005, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta, JNPKKR-POGI Berkerjasama Dengan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo