Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

of 12 /12
Baru (Orba). Ia menambahkan, jika saat ini terjadi hal-hal yang anarkis, seharusnya rektorat tidak boleh serta-merta menyalah- kan sistem SG. “Rektorat harus introspeksi apakah su- dah membina mahasiswa secara matang atau belum, begitu juga mahasiswanya, apakah sudah siap untuk berdemokrasi? Misalkan ada kecurangan saat Pemilihan Umum Raya (Pemira), sehingga memicu ketegangan antar mahasiswa, itu adalah hal lumrah. Namun, hal tersebut jangan sam- pai mengotori nilai luhur demokrasi,” kata alumni UIN angkatan 2000 yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR-RI Fraksi Golkar, Kamis (2/5). Tb. Ace mengaku heran dengan peru- bahan SG ke Senat, pasalnya rektorat de- ngan mudah mengintervensi mahasiswa. Hal tersebut menandakan mahasiswa tidak mempunyai semangat kemandirian. “Sep- ertinya mahasiswa sekarang lebih suka dis- uapi rektorat,” ujarnya. Terkait perubahan SG ke Senat, mantan anggota Majelis Permusyawaratan Maha- siswa Institut (MPMI) era SG, Andi Syafra- ni enggan memberikan penilaian. Pasalnya sistem Senat saat ini masih baru dan belum menunjukkan bentuk yang mapan. Ia me- ngungkapkan, setiap zaman memiliki tan- tangan dan persoalan yang berbeda, maka harus disikapi dengan cara dan pola yang berbeda pula. Mantan Ketua KPU FSH 2012 dari PMII Cabang Ciputat, Ahmat Farhan Subhi me- nuturkan, tahun ini UIN tidak memakai sistem kedaulatan mahasiswa (SG) atau- pun Senat. Hal itu terlihat dari Pemira yang tidak ada keseragaman antara fakultas yang menggunakan sistem one man one vote dan universitas yang menggunakan sistem rep- resentatif. “Ini bukan sistem Senat murni, kalau menggunakan Senat seharusnya tidak ada istilah one man one vote dalam Pemira. Lalu sistem apa yang dipakai UIN saat ini?” ka- tanya, Selasa (22/4). Senada dengan Farhan, salah satu maha- siswa semester 8 aktivis HMI Cabang Ciput at, Khaerul Saleh mengatakan sistem yang dipakai UIN saat ini masih mengambang. Ia mengharapkan sistem pemilihan dari tingkat fakultas hingga universitas meng- gunakan sistem one man one vote. Pria yang akrab disapa Iyung tersebut mengatakan lebih memilih SG ketimbang Senat. “Jika berbicara sistem ya SG lagi lah” ujarnya, Selasa (22/4). Bersambung ke halaman 11 Bingkai yang diharapkan rektorat, men- urut Sudarnoto adalah kembalinya ma- hasiswa kepada dinamika akademik. Ia menilai, sistem SG membuat mahasiswa haus akan kekuasaan dan bertindak anarkis demi membela partainya. “Lembaga kemahasiswaan seharusnya menjadi tempat edukasi atau pembelaja- ran, jadi dibentuklah lembaga SEMA dan DEMA itu yang arahnya bukan kekuasaan, melainkan sarana membangun karakter mahasiswa yang akademis,” ungkap Sudar- noto, Senin (29/4). Menanggapi hal tersebut, presiden perta- ma SG tahun 1999, Tb. Ace Hasan Syadzili mengungkapkan, lahirnya SG bertujuan untuk menegakkan kebebasan setiap ma- hasiswa yang sebelumnya terkekang Orde Edisi Pemira WWW.LPMINSTITUT.COM Sistem Pemilu tak Sesuai POK Laporan Utama > 4 Penggelembungan Suara di Pemilu DEMA Laporan Khusus > 6 Wakil Mahasiswa Untuk Perubahan Sosok > 7 REKTORAT HAPUS STUDENT GOVERNMENT INSTITUT NEWSLETTER Sistem Senat yang digunakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun ini menandai terhapusnya sistem Stu- dent Government (SG) yang digulir- kan sejak 1999. Menurut Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim, sistem ke- daulatan mahasiswa (SG) dianggap tak lagi sesuai dengan bingkai yang diha- rapkan rektorat.

description

 

Transcript of Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Page 1: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Baru (Orba). Ia menambahkan, jika saat ini terjadi hal-hal yang anarkis, seharusnya rektorat tidak boleh serta-merta menyalah-kan sistem SG.

“Rektorat harus introspeksi apakah su-dah membina mahasiswa secara matang atau belum, begitu juga mahasiswanya, apakah sudah siap untuk berdemokrasi? Misalkan ada kecurangan saat Pemilihan Umum Raya (Pemira), sehingga memicu ketegangan antar mahasiswa, itu adalah hal lumrah. Namun, hal tersebut jangan sam-pai mengotori nilai luhur demokrasi,” kata alumni UIN angkatan 2000 yang saat ini menjabat sebagai anggota DPR-RI Fraksi Golkar, Kamis (2/5).

Tb. Ace mengaku heran dengan peru-bahan SG ke Senat, pasalnya rektorat de- ngan mudah mengintervensi mahasiswa. Hal tersebut menandakan mahasiswa tidak mempunyai semangat kemandirian. “Sep-ertinya mahasiswa sekarang lebih suka dis-uapi rektorat,” ujarnya.

Terkait perubahan SG ke Senat, mantan anggota Majelis Permusyawaratan Maha-siswa Institut (MPMI) era SG, Andi Syafra-ni enggan memberikan penilaian. Pasalnya sistem Senat saat ini masih baru dan belum menunjukkan bentuk yang mapan. Ia me-

ngungkapkan, setiap zaman memiliki tan-tangan dan persoalan yang berbeda, maka harus disikapi dengan cara dan pola yang berbeda pula.

Mantan Ketua KPU FSH 2012 dari PMII Cabang Ciputat, Ahmat Farhan Subhi me-nuturkan, tahun ini UIN tidak memakai sistem kedaulatan mahasiswa (SG) atau-pun Senat. Hal itu terlihat dari Pemira yang tidak ada keseragaman antara fakultas yang menggunakan sistem one man one vote dan universitas yang menggunakan sistem rep-resentatif.

“Ini bukan sistem Senat murni, kalau menggunakan Senat seharusnya tidak ada istilah one man one vote dalam Pemira. Lalu sistem apa yang dipakai UIN saat ini?” ka-tanya, Selasa (22/4).

Senada dengan Farhan, salah satu maha-siswa semester 8 aktivis HMI Cabang Ciput at, Khaerul Saleh mengatakan sistem yang dipakai UIN saat ini masih mengambang. Ia mengharapkan sistem pemilihan dari tingkat fakultas hingga universitas meng-gunakan sistem one man one vote.

Pria yang akrab disapa Iyung tersebut mengatakan lebih memilih SG ketimbang Senat. “Jika berbicara sistem ya SG lagi lah” ujarnya, Selasa (22/4).

Bersambung ke halaman 11

Bingkai yang diharapkan rektorat, men-urut Sudarnoto adalah kembalinya ma-hasiswa kepada dinamika akademik. Ia menilai, sistem SG membuat mahasiswa haus akan kekuasaan dan bertindak anarkis demi membela partainya.

“Lembaga kemahasiswaan seharusnya menjadi tempat edukasi atau pembelaja-ran, jadi dibentuklah lembaga SEMA dan DEMA itu yang arahnya bukan kekuasaan, melainkan sarana membangun karakter mahasiswa yang akademis,” ungkap Sudar-noto, Senin (29/4).

Menanggapi hal tersebut, presiden perta-ma SG tahun 1999, Tb. Ace Hasan Syadzili mengungkapkan, lahirnya SG bertujuan untuk menegakkan kebebasan setiap ma-hasiswa yang sebelumnya terkekang Orde

EdisiPemira

WWW.LPMINSTITUT.COM

Sistem Pemilu tak Sesuai POK

Laporan Utama > 4

Penggelembungan Suara di Pemilu DEMALaporan Khusus > 6

Wakil Mahasiswa Untuk Perubahan

Sosok > 7

REKTORAT HAPUS STUDENT GOVERNMENT

INSTITUT NEWSLETTER

Sistem Senat yang digunakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun ini menandai terhapusnya sistem Stu-dent Government (SG) yang digulir-kan sejak 1999. Menurut Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim, sistem ke-daulatan mahasiswa (SG) dianggap tak lagi sesuai dengan bingkai yang diha- rapkan rektorat.

Page 2: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

2

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Universitas Islam Negeri (UIN) Sya-rif Hidayatullah Jakarta 2013, Mughni Labib, setelah dikonfirmasi ternyata ada beberapa fakultas yang tidak sanggup untuk mencari delegasi SEMA. Semisal, tutur Labib, BEM-F Psikologi kesulitan untuk mencari sosok yang mempunyai pengalaman berorganisasi dan In-deks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,00. “Kebanya-kan, orang yang IPK 3,00 hanya kuliah pulang saja,” jelasnya, Selasa (30/5).

Menyoal SEMA, Ketua BEM Fakultas Sains dan Tekhnologi (FST), Nur Ikhsan menerang-kan, FST hanya mengirimkam 2 orang dele-gasi. Menurutnya, syarat yang diajukan KPU UIN Jakarta 2013 terlalu memberatkan karena susah mendapatkan IPK 3,00 di FST. Diakui Nur Ikhsan, mahasiswa FST jarang yang ber-organisasi. “Ada yang mau aja sudah bersyu- kur,” jelasnya, Senin (29/5).

Sementara itu, tak adanya delegasi dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) untuk SEMA, menurut Wakil Ketua BEM-F FIDIKOM, Muhammad Damar Yudhistira, terjadi karena BEM-F telat me-nyerahkan berkas ke KPU UIN Jakarta 2013. “Ya, saat itu BEM-F juga lagi sibuk mengurus pelantikan dan rapat kerja. Selain itu, ada per-syaratan yang kurang, seperti surat rekomen-dasi BEM-F dan tanda tangan Wakil Rektor (Warek) III. Ini memang kelalaian dari pihak BEM-F,” jelasnya.

Terkait persyaratan, Labib menerangkan, hal itu telah melalui banyak pertimbangan. SEMA sebagai fungsi legislatif mempunyai peranan yang sangat penting dalam lembaga kemahasiswaan tingkat universitas. “Syarat DEMA saja IPK harus 3,25. Masak, SEMA kurang dari 3,00. Kalau misalkan akademis mereka kurang, sulit juga. Harus seimbang antara akademis dan organisasi,” ujarnya.

“Go ahead, lanjutkan saja,” ujar Warek III, Sudarnoto Abdul Hakim saat dimintai tang-gapan mengenai anggota SEMA yang kurang dari 55 orang. Labib pun mengatakan, pada ra-pat SEMA nanti akan dibahas mengenai struk-tur organisasi, seperti penentuan ketua dan wakil ketua. “Jika mereka (SEMA) merasa 20 orang itu kurang karena perwakilan beberapa fakultas lain belum ada, itu tergantung dari hasil keputusan rapat SEMA, mau ditambah atau tidak anggotanya,” jelasnya.

(Anastasia Tovita)

Pemilihan Anggota Senat Mahasiswa (SEMA) tingkat universitas tahun ini meng-gunakan sistem distrik, di mana setiap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM-F) mengirimkan delegasinya sebanyak 5 orang. Namun, sampai batas akhir pendaftaran, jum-lah anggota baru sekitar 20 orang.

Jumlah Anggota SEMA Tak Mencapai 55

Hal ini diungkapkan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Dimas Juniarto, yang sempat menjabat sebagai sekre-taris KPU UIN Jakarta 2013. Setelah beberapa kali mengikuti rapat, ia akhirnya mengundur-kan diri lantaran tidak setuju dengan sistem final yang ditetapkan KPU UIN Jakarta 2013.

Senin (8/4), Dimas tidak menyangka bila ia dan rekan-rekannya di KPU UIN Jakarta 2013 sudah harus menandatangani draft final sistem pemilihan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) dan Senat Mahasiswa (SEMA) ting-kat universitas. Bila merunut jadwal, waktu penandatangan ini mendadak maju satu hari dari yang telah disepakati.

Saat datang ke sekret KPU UIN Ja-karta 2013 pada hari itu (8/4), Dimas awalnya masih berharap bisa merubah sistem pemilih an DEMA dan SEMA yang menurutnya bukan sistem representatif. Namun nyatanya sudah tidak ada kompromi tentang sistem. Untuk itu, Dimas bersama rekannya sesama anggota KPU yang mewakili FISIP akhirnya sepakat hengkang dari KPU UIN Jakarta 2013.

Menurut Dimas, sistem di mana DEMA dipilih oleh Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang diambil dari BEM-F terpilih deng an presentasi 1% dari jumlah mahasiswa aktif itu sudah terlalu jauh dengan sistem represen-tatif yang sebenarnya. Sistem pemilihan calon anggota SEMA yang diusung dari BEM-F juga sama ganjilnya. “Sistem seperti ini tidak per-nah ada di dalam aturan sistem representatif

manapun,” ujarnya, Minggu (28/4) Lebih lanjut, Dimas menjelaskan,

bila kita ingin menggunakan sistem represen-tatif yang benar seharusnya diadakan pemili-han one man one vote terlebih dahulu di setiap fakultas untuk memilih SEMA universitas. Lalu, SEMA yang akan menentukan DEMA universitas.

“Bayangkan ketika SEMA sebagai legislatif harus dipilih langsung oleh BEM-F. Walaupun alasannya ketua BEM-F telah di- pilih mahasiswa, pada akhirnya BEM-F lah yang menentukan wakilnya di SEMA. Lantas anggota SEMA ini mewakili BEM-F atau ma-hasiswa? Konsep keterwakilannya tidak jelas. Saya sudah sampaikan ini berkali-kali namun, pendapat mereka selalu sulit untuk dipatah-kan,” ujar Dimas.

Tak berhenti sampai di situ, Dimas pun juga berusaha menawarkan opsi lain. Ia pernah memperjuangkan agar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) diberikan hak pilih resmi. Sebagaimana yang tercantum dalam pe-tunjuk pelaksanaan yang diberikan rektorat, HMJ merupakan salah satu organisasi resmi kampus yang berhak mewakili suara mahasi-wa untuk memilih DEMA.

Namun, lagi-lagi pendapat ini di- sangkal dengan alasan terdapat sejumlah or-ganisasi kemahasiswaan tingkat jurusan yang nama atau sebutan redaksionalnya tidak sesuai dengan Surat Keputusan (SK).

“Kalau ditilik lebih dalam, sebenar nya rektorat kan ingin sistem yang baru. Ka-rena itu, semestinya sah saja bila kita membuat terobosan baru selama sistem yang dibuat itu baik,” jelas Dimas.

Anggota KPU lainnya, Muhammad Hanifuddin, perwakilan dari BEM-F Dirasat Islamiyah (FDI) mengungkapkan hal serupa. Hanif pun memperjuangkan agar setiap HMJ atau lembaga setara dilibatkan secara resmi se-bagai DPT pemilu DEMA. Adapun perbedaan nama, menurutnya KPU seharusnya memiliki hak prerogatif untuk membuat aturan.

“Usulan itu sudah sering ia ajukan, namun kalau melihat model rapat yang seperti itu saya mengakui memang masih selalu ada

NEWSLETTER EDISI PEMIRALAPORAN UTAMA

Keputusan Rektor No. Un.01/R/HK.005/20/2013 Tentang KPU (Komisi Pemilihan Umum) Universitas Islam Ne- geri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Ta-hun 2013 awalnya menetapkan 22 nama mahasiswa dari 11 fakultas, sebagai KPU Lembaga Kemahasiswaan Tingkat Uni-versitas. Namun selang beberapa minggu, jumlah tersebut mengerucut menjadi 17 mahasiswa melalui Keputusan Rektor No. Un.01/R/HK.005/20/2013. Sejumlah nama mengundurkan diri lantaran sis-tem ini dianggap cacat.

Sistem Dianggap Cacat, Sejumlah Anggota KPU Hengkang

Anggota KPU dan Panwaslu sedang melakukan perhitungan suara di Aula Madya, Senin (29/04).

Page 3: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

3

yang mendominasi dan selalu ada yang dibantah. Ini sudah berlebihan, kita tidak berusaha mencari titik temu tapi saling me-nafikan,” tutur Hanif, Minggu (28/4).

Ketua KPU UIN Jakarta 2013, Mughni La-bib membenarkan adanya sejumlah anggota yang mengundurkan diri. Namun, ia me-nyangkal tentang silang pendapat mengenai sistem yang menjadi pemicu beberapa anggota memutuskan untuk hengkang.

“Anggota KPU (UIN Jakarta 2013) dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) itu bukan keluar lantaran masalah sistem, na-mun mereka memiliki persoalan internal de- ngan BEM-F mereka. Karena itu, mereka me-mutuskan untuk keluar dari KPU (UIN Jakarta 2013),” tegas Labib, Selasa (30/4).

Selain dua delegasi BEM FISIP yang heng-kang lantaran persoalan sistem, salah satu de-legasi dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) mengundurkan diri lantaran persoalan priba-di. Labib pun menambahkan, selain yang me-ngundurkan diri, berkurangnya anggota KPU juga disebabkan dua delegasi BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) yang diberhentikan lantaran tidak pernah menghadiri rapat. “KPU (UIN Jakarta 2013) sepakat memberhentikan delegasi BEM FEB itu,” ujar Labib.

Menanggapi hal diatas, Wakil Rek-tor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Su-darnoto Abdul Hakim mengatakan bahwa baik atau buruknya KPU UIN Jakarta 2013 sudah merupakan pilihan mahasiswa sendiri.

“Yang memutuskan membentuk KPU (UIN Jakarta 2013) itu kan mahasiswa, yang mem-bentuk pun juga mahasiswa. Karena itu kalau-pun ada dominasi, itu menjadi kesalahan mahasiwa sendiri. Saya di sini hanya untuk mengontrol dan memfasilitasi mahasiswa,” pa-parnya, Senin (29/4).

(Adea Fitriana)

NEWSLETTER EDISI PEMIRALAPORAN UTAMA

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Dj.I/253/2007, tentang Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan (POK) Pergururan Tinggi Agama Islam (PTAI), sistem pemilihan yang digunakan PTAI harus melalui sistem musyawarah, baik di tingkat jurusan, fakultas maupun univer-sitas.

Namun, dalam penerapannya, Pemilihan Umum (Pemilu) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta tidaklah sesuai dengan putusan Dirjen Pendidikan Is-lam (Diktis) tersebut. Di tingkat universitas, Pemilu diselenggarakan dengan sistem repre-sentatif. Sedangkan Pemilu di fakultas, meng-gunakan sistem one man one vote.

Menurut Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN Jakarta 2013 Fakultas Ilmu So-sial dan Ilmu Politik (FISIP), Ahmad Takdir, sistem yang digunakan untuk Pemilu tahun ini didasarkan pada Surat Keputusan (SK) rektorat bukan POK. Perihal adanya aturan Pemilu dalam POK, ia pun mengaku tidak mengetahuinya.

Di pihak lain, Ketua KPU UIN Jakarta 2013, Mughni Labib mengaku tahu tentang sistem POK, namun menurutnya sistem yang dijalankan berdasarkan hasil keputusan KPU UIN Jakarta 2013 (sistem representatif) lebih relevan bagi mahasiswa. “Sistem seperti itu, memanglah bukan yang terbaik, tapi beru-saha untuk meredam konflik,” ujarnya, Selasa (30/4).

Diakui juga oleh Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim, sistem yang diterapkan saat ini, me-mang tidak sesuai dengan POK. Namun, ia merasa keputusan itu diambil dari keinginan mahasiswa. “Nggak apa-apa nggak sesuai de- ngan POK, yang penting sekarang jalani dulu saja sistem yang telah ditetapkan,” ucapnya,

Senin (29/4).Selain sistem yang harus digunakan dalam

Pemilu, POK juga mengatur agar setiap fakul-tas memiliki Senat Mahasiswa (SEMA). Ke-nyataanya, hanya Fakultas Sains dan Teknolo-gi (FST) saja yang menerapkannya.

Fungsi SEMA Di dalam POK, ada enam fungsi dari

SEMA, antara lain mengawasi Dewan Ekse-kutif Mahasiswa (DEMA), mengakomodir as-pirasi mahasiswa, memperjuangkan hak-hak mahasiswa, merumuskan norma-norma yang berlaku dalam melaksanakan kegiatan maha-siswa, merumuskan Anggaran Dasar/Angga-ran Rumah Tangga (AD/ART) dan menetap-kan Garis-garis Besar Program Kerja SEMA.

Maka dari itu, menurut Ketua SEMA FST, Dimas Istanto, keberadaan SEMA di fakultas adalah penting. Ia merasa, jika pengawasan hanya dilakukan pihak dekanat kurang efek-tif.

Bagaimana dengan SEMA tingkat universi-tas yang baru terpilih? Ketika ditanya menge-nai program apa saja yang akan mereka rea- lisasikan, perwakilan SEMA dari FST, Amzar Fadiatma mengaku sampai saat ini belum ada pertemuan antara angota SEMA.

Namun, ia mengatakan ketika pihak rek-torat sudah mengeluarkan SK pengangkatan dirinya dan anggota SEMA yang lain. Ia akan langsung mengadakan pertemuan seluruh anggota SEMA untuk membicarakan tugas mereka ke depan. (Karlia Zainul)

Sistem Pemilu tak Sesuai POK

“Walaupun alasannya ketua BEMF telah dipilih mahasiswa, pada akhirnya BEMF lah yang menentukan wakilnya

di SEMA. Lantas anggota SEMA ini mewakili BEMF atau mahasiswa? “ ujar

Dimas

AKHIRNYA KALIAN TIDAKMAMPU

KARIKATUR

* STUDENT GOVERNMENT

FOTO: UMAR/INSTITUT

ROHMAN

Page 4: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Salam Redaksi

4 LAPORAN UTAMA Empat Fakultas Tidak Ikut Pendelegasian Calon DEMA

Pada Pemilihan Umum Raya (Pemira) tingkat universitas tahun ini, ada em-pat fakultas yang tidak mengirimkan delegasinya untuk maju sebagai calon Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA). Keempat fakultas yang tidak berpartisipasi itu yakni, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), dan Fakultas Psikologi.

Menurut Ketua Badan Eksekutif Maha-siswa (BEM) FDI Bung Ulinnuha, dari jum-lah Daftar Pemilih Tetap (DPT) FDI—yang hanya 3 orang—tidak memungkinkan untuk ikut dalam pertarungan pemilihan DEMA. “Melihat DPT hanya 3 orang, kemungkinan menang pun sangat kecil,” jelasnya, Selasa (30/5). Lagipula, menurut Ulin angkatan 2009/2010 tidak mempunyai minat untuk ikut dalam pemilihan.

Wakil Ketua BEM FEB, Fikri Ismail me- ngatakan pascapemira fakultas yang ber-langsung ricuh, selama beberapa minggu be-lum ada kejelasan siapa yang menjadi Ketua BEM-F. Surat Keputusan (SK) penentuan ketua baru keluar dua hari sebelum pendaf-taran DEMA ditutup. “Jadi, kami bingung mau memilih siapa untuk calon DEMA,” jelasnya, Kamis (2/5). Ia menyayangkan in-terval waktu yang sempit membuat BEM-F kurang melakukan persiapan.

Sementara itu, FST yang memiliki jumlah DPT sebanyak 18 orang juga tidak men-girimkan delegasinya. Ketua DEMA FST, Nur Ikhsan Ramdhani Yusuf mengatakan FST memang mempunyai peluang dalam pemilihan, namun dari hasil musyawarah ternyata tidak ada yang mampu dan siap untuk didelegasikan menjadi calon DEMA Universitas.

Ia pun tak setuju dengan sistem represen-tatif yang diberlakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) UIN Syarif Hidayatullah Ja-karta 2013. Menurutnya, sistem one man one vote adalah yang paling adil dibanding dengan sistem representatif proporsional di mana jumlah DPT ditentukan dari 1% jum-lah mahasiswa fakultas.

Di sisi lain, calon pasangan DEMA no-mor urut dua dari Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FIDIKOM) Khaerul Saleh dan dari Fakultas Ushuluddin (FU) Munajat Adi mengundurkan diri sehari se-belum acara debat kandidat DEMA Univer-sitas pada 25 Mei lalu.

Khaerul yang akrab disapa Iyung ini menyatakan, ia mengundurkan diri karena kurang setuju dengan sistem Pemira yang representatif. Walaupun sistem representatif bagian dari demokrasi, menurutnya, DPT yang hanya berjumlah 169 orang kurang

mewakili mahasiswa UIN Jakarta yang ber-jumlah hampir 20.000 orang.

Selama tenggat waktu beberapa minggu, ujarnya, masih banyak pihak yang memper-tanyakan dan menolak sistem tersebut. Ia mengira, sistem itu masih dapat berubah. “Ya sudah, saya taruh berkas dulu saja ke KPU,” katanya.

Namun, saat technical meeting pada 24 Mei ternyata sistem itu tidak dapat diubah lagi. Iyung mengatakan, dalam forum tersebut ia pun secara resmi memutuskan untuk me- ngundurkan diri.

Menanggapi hal tersebut, Ketua KPU UIN Jakarta 2013, Mughni Labib menyatakan, sis-tem representatif adalah sistem yang paling relevan untuk dilaksanakan. Menurutnya,

Pembaca yang budimanSalam sejahtera bagi kita semua.

Semoga kita semua selalu dicurahkan kesejahteraan. Musim PEMIRA selalu kami tunggu-tunggu. Ada anggapan di antara kami, belum sah jadi anak IN-STITUT kalau belum pernah meliput event PEMIRA.

Di terbitan sebelumnya, sudah be-berapa kali kami membahas tentang student government. Barangkali ini edi-si terakhir kami menyajikan berita yang berkaitan dengan student government.

Kami tak lagi membahas student government pada edisi berikutnya. Na-mun, jika student goverment kembali diterapkan di universitas ini, kami akan sambut.

Meskipun kami tak bisa memastikan sambutan kami akan baik. Kami akan menyambut isu-isu yang berkaitan den-gan civitas akademika. Apalagi yang merugikan civitas akademika.

Selain itu, kami juga menyambut sis-tem yang baru ini, POK. Tak baik rasan-ya jika tidak mengikuti perkembangan pemerintahan mahasiswa di UIN Sya-hid ini.

Maka dari itu, kami harap pambaca sekalian juga menyambut sajian kami ini. Kami tak menginginkan apa-apa dari pembaca budiman. Kalau pun pembaca budiman memberi apresiasi dalam bentuk apapun, pasti kami sangat bersenang hati.

Selamat menikmati

hal tersebut bisa meredam konflik yang selalu terjadi saat Pemira. Terkait beberapa fakultas yang tak mengirimkan delegasinya, Labib me-negaskan, hal itu merupakan hak prerogratif dari Ketua BEM-F.

(Anastasia Tovita)

?Majalah INSTITUT

Edisi 40, Juni 2013Kirimkan artikel Anda sebanyak 5000 karakter tanpa spasi ke [email protected] dengan tema: -Beragama di era postmodernisme-Mahasiswa dan transformasi sosial-Kiprah UIN Jakarta merawat multikulturalisme Indonesia-Peran perempuan dalam pilpres 2014Deadline 15 Juni 2013iklan majalah: Aprilia, 081932276534

coming soon

Page 5: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Dari hasil Penyelenggaraan Pemilu Raya (Pemira) tingkat fakultas akhir Maret lalu, hanya Fakultas Sains dan Teknologi (FST) yang memiliki Senat Mahasiswa Fakultas (SEMA-F) sebagai lembaga legislatif dan Dewan Mahasiswa Fakultas (DEMA-F) sebagai lembaga eksekutif. Sedangkan Fakultas lain hanya memiliki lembaga eksekutif mahasiswa.

NEWSLETTER EDISI PEMIRALAPORAN KHUSUS 5

Tak Ada SEMA-F, Wadek kemahasiswaan Turun Tangan

Pembentukan SEMA FST sendiri dipilih secara langsung pada saat Pemira Fakultas dengan memilih ketua SEMA-F dan DEMA-F. “Pemira tingkat Fakultas kemarin, KPU Fakul-tas memilih DEMA dan SEMA” ujar ketua SE-MA-F FST Dimas Istanto, Rabu, (1/5). Menu-rutnya, Keberadaan SEMA-F sendiri sangat

tersebut tidak menjadi masalah, “go ahead. Berapapun jumlah SEMA lanjutkan saja, asal jangan 2 orang,” ujarnya, senin (29/4).

Senada dengan Sudarnoto, salah satu an ggota SEMA Universitas, Amzar Fadliatama tidak mempermasalahkan jumlahnya. “yang paling penting SEMA Universitas berjalan terlebih dahulu dan jika dirasa perlu penam-bahan anggota SEMA Universitas yang kurang, nanti akan ditambah dengan syarat yang sama dengan KPU atau syarat yang kita buat sendiri, jadi tidak asal narik lima orang. Kalau tidak kompeten ya kita tidak ambil,” kamis (2/5).

Sedangkan untuk pemilihan ketua SEMA Universitas dan jajarannya, menurutnya, akan ditentukan oleh tiap anggota terpilih untuk selanjutnya melakukan rapat pemili-han. Ia juga mengatakan, rapat pemilihan tersebut belum diketahui waktunya dan masih menunggu koordinasi dengan Warek III.

(Adi Nugroho & Slamet Widodo)

penting untuk mengawasi DEMA-F karena jika pengawasan dilakukan oleh Dekanat, ia menganggap kurang efektif.

Jika mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan Organisasi Kemahasiswaan (POK) di Pergu-ruan Tinggi Agama Islam (PTAI) 2011. Salah satu wewenang SEMA-F adalah mengontrol kinerja DEMA-F, HMJ/HM-PS dalam me laksanakan Garis-garis Besar Program Kerja (GBPK).

Salah satu fakultas yang tidak menerapkan SEMA-F adalah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Ketua DEMA FITK, Arif Nur mengatakan, perihal tugas dan wewenang SEMA-F yang tidak ada di FITK, nantinya akan dialihkan kepada Wakil Dekan Bagian Kemahasiswaan. “ketika tidak ada SEMA-F, pengawasan dilakukan Wakil Dekan Kemaha-siswaan” tambahnya, kamis (2/5).

Tidak adanya pemilihan SEMA-F karena KPU FITK mengikuti garis intruksi yang di-berikan Wakil Dekan Kemahasiswaan. “Pada saat Pemira Fakultas kemarin, Wakil Dekan menginstrusikan untuk memilih ketua DE-MA-F seperti tahun kemarin,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini, rektorat mem-berikan kebijakan sepenuhnya kepada fakul-tas. Kebijakan seperti itu, menurutnya, pasti menimbulkan perbedaan. “Jadi tiap fakultas ada yang menggunakan SEMA-F dan ada yang ngga.” Kedepannya ia mengharapkan rektorat memberikan ketegasan. “kalo jelas menjalan-kannya enak, ngga seperti ini.”

Kurangnya anggota SEMA universitas Berdasarkan peraturan KPU Universitas, se-

tiap fakultas diwakili 5 mahasiswa untuk men-jadi anggota SEMA Universitas. Sampai saat ini jumlah anggota SEMA Universitas masih berjumlah 20 orang. Menggapai hal itu, Wakil Rektor (Warek) III bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, hal

Berapa-pun jumlah SEMA lan-jutkan saja,

asal jangan 2 orang,” ujar Sudarnoto

Anggota KPU saat melakukan verifikasi surat suara di Aula Madya, Senin (29/04).

FOTO: JAFFRY/INSTITUT

FOTO: KALACITRA

Page 6: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

6 NEWSLETTER EDISI PEMIRALAPORAN KHUSUS

Pemilihan Ketua dan Wakil Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) tingkat uni-versitas telah usai pada 29 Mei lalu. Namun dalam proses verifikasi surat suara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidaya- tullah Jakarta 2013 harus melakukan penghitungan sampai dua kali karena jum-lah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang hadir tak sama dengan jumlah surat suara.

Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwa slu) Muhbib Abdul Wahab menjelaskan, DPT yang hadir saat pemilihan berjumlah 166 dari 169 DPT, tetapi surat suara berjumlah 199 lembar. Setelah diperiksa, lanjut Muhbib, ada perbedaan tanda tangan pada 33 surat suara tersebut. “Sebagian besar surat suara palsu mengarah pada pasangan calon urut nomor tiga,” ujarnya.

Terkait hal itu, calon urut nomor tiga Irpan dari Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) yang tidak hadir saat penghitungan suara mengaku kaget dan terkejut mendapat kabar seperti itu dari salah seorang temannya.

Secara hitungan matematis jumlah DPT, kata dia, pihaknya sudah berada pada po-sisi kalah. “Jangan-jangan ini black campaigne (kampanye hitam) dari pihak lain untuk men-jatuhkan kami,” jelasnya.

Berdasarkan hasil rapat evaluasi Pemira Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemaha-siswaan, Sudarnoto Abdul Hakim, Panwaslu, dan KPU, ujar Muhbib, ada indikasi bahwa seseorang dalam tubuh KPU yang juga ikut bermain dalam penggelembungan suara, ka-rena kertas suara dan stempel sama, yang ber-beda hanya tanda tangan. Namun, masih men-cari bukti-bukti dan motif pelaku melakukan penggelembungan suara.

“Dugaan sementara, ada dua motif pelaku. Pertama, untuk mengacaukan pemilu. Kedua, skenarionya yang menang menjadi tidak me-nang. Tujuannya agar lembaga kemahasiswaan universitas kembali dibekukan,” jelasnya.

Muhbib pun menjelaskan, jika kasus penggelembungan suara ini terbongkar, pelakunya akan dikenai sanksi berdasarkan kode etik berkaitan dengan pemalsuan surat suara dan melakukan tindakan inkonstitu-sional terkait penggelembungan suara. “Sank-sinya bisa mendapat skorsing satu hingga dua semester,” ungkapnya.

Ketua KPU UIN Jakarta 2013, Mughni La-bib menjelaskan, kemungkinan orang inter-nal KPU terlibat itu ada, namun hal tersebut masih prediksi, karena belum ada bukti yang kuat. “Ini kesalahan kami secara lembaga, ka-rena kurang teliti,” ujarnya, Jumat (3/05).

Senada dengan Muhbib, Labib mengatakan, kasus penggelembungan suara ini bukan un-tuk mencari kemenangan, tujuannya agar per-olehan suara dianggap tidak sah dan dilaku-kan pemilihan ulang. “Atau yang lebih parah, lembaga kemahasiswaan kembali dibekukan,” jelasnya.

Menggugat Aturan KPUPemilihan Ketua dan Wakil DEMA Uni-

versitas dimenangkan pasangan dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Didin Sirojudin dan dari Fakultas Adab dan Hu-maniora (FAH), Tutur Ahsanil Mustofa de- ngan memperoleh 89 suara. Terkait dengan hasil kemenangan itu, 1 Mei lalu pasangan calon urut nomor tiga Irpan-Aisyah melaku-kan gugatan kepada warek III dan KPU.

KPU UIN Jakarta 2013, menurut Irpan, di-anggap melakukan tindakan ilegal dan inkon-stitusional karena telah meloloskan kandidat

dua pasangan calon yang mendapat surat re-komendasi dari BEM-F yang belum mendapat Surat Keputusan (SK) dari dekanat.

Irpan memaparkan, pada 30 April ia me-minta transparansi data tentang surat reko-mendasi BEM-F dari dua calon pasangan lainnya. “Ternyata SK BEM FITK yang me-ngusung kandidat Didin Sirojudin dan Tutur baru keluar pada 20 April,” ujar Irpan.

Sedangkan penyerahan berkas adminis-trasi calon DEMA Universitas pada 18 April, SK Fakultas Ilmu Kesehatan dan Kedokteran

(FKIK) yang mengusung kandidat Sadam dan Randy sampai 30 April belum mendapat SK dari dekanat.

Menurut Irpan, setiap BEM-F terpilih boleh bertindak dan mengeluarkan kebijkan jika telah mendapat SK dari dekanat. “Secara hukum, dua pasangan calon yang batal ka-rena BEM-F mereka belum boleh mengelu-arkan surat rekomendasi,” jelasnya. Sedang-kan, Irpan menjelaskan, ia dan pasangannya, Aisyah yang diusung oleh FSH sah secara hukum, karena BEM FSH telah mendapat SK dekanat tertanggal 1 April.

Sementara itu, Ketua Panwaslu, Muhbib Abdul Wahab menjelaskan, jika merujuk pada pedoman KPU UIN Jakarta 2013, pa-sangan calon cukup mendapatkan surat re-komendasi dari BEM-F terpilih. Lagipula, lanjut dia, semua saksi sudah menandata-ngani berita acara Pemira. “Kecuali, kalau ada saksi yang belum tanda tangan, berarti masih ada masalah,” jelasnya.

Muhbib mengungkapkan, sesuai kesepa-katan hasil rapat, tak perlu ada forum dalam bentuk sidang untuk membahas masalah ini, karena aturan KPU UIN Jakarta 2013 pun sudah jelas. “Jadi, hanya akan dijawab mela-lui surat dan ditandatangani oleh warek III,” ujarnya.

Senada dengan Muhbib, Ketua KPU UIN Jakarta 2013, Labib menjelaskan dalam pedoman aturan KPU UIN Jakarta 2013 tidak tertulis bahwa surat rekomendasi harus berasal dari BEM-F yang telah mendapat SK dari dekanat. BEM-F terpilih mengacu pada Berita Acara Perkara (BAP) Pemira fakultas yang menyatakan, orang tersebut menang dalam pemilihan fakultas.

Meski begitu Irpan menegaskan, jika rek-torat masih tetap melantik Didin Sirojudin dan Tutur sebagai Ketua dan Wakil DEMA, “Saya menilai, mungkin ada desain besar di balik itu semua dan pihak rektorat dan panwaslu sudah tidak lagi menghargai kebe-naran dan keadilan,” tegasnya.

(Anastasia Tovita)

Penggelembungan Suara di Pemira DEMA

“Dan sebagian besar surat suara palsu mengarah pada pasangan calon urut nomor

tiga,” ujar Muhbib.Anggota KPU dan Panwaslu sedang melakukan perhitungan suara di Aula Madya, Senin (29/04).

FOTO: AZIZAH/INSTITUT

Page 7: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Bagi Didin, dari menulis akan banyak wa-wasan, luas pemikiran, dan rapi dalam me nempatkan kosa kata. Kini, minat baca maha-siswa dapat dilihat dari berkurangnya jumlah toko buku di Jalan Pesanggrahan. Akibatnya, budaya kajian juga semakin berkurang.

Jika budaya baca, tulis, dan kajian dapat

berkembang di kalangan mahasiswa, tak ayal salah satu misinya membantu UIN Jakarta menjadi World Class University (WCU) akan tercapai. Menurutnya, masih ada hal-hal yang kurang sehingga UIN tidak bisa menjadi no-mor satu. “Dari artikel mahasiswanya, artikel

dosennya, skripsinya, dan penghargaan-peng-hargaan yang belum bisa dipublikasikan,” ujar Didin, Selasa (30/4).

Langkah awal yang dilakukan untuk men-capai WCU, menurut Didin dan Tutur dengan menjadikan UIN Jakarta unggul di antara Per-

guruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Selanjutnya, UIN akan unggul pula di kancah nasional. Meski Didin mendengar dari Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim bahwa UIN baru akan berjaya pada 2020, tapi Didin menga-takan, “Impian yang besar harus diayomi de ngan usaha-usaha yang cukup.”

Hal yang ditekankan oleh Didin yang juga mantan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (BEM FITK), manusia tidak tahu mengenai apa yang terjadi di masa depan, karena masa

“Kita sebagai maha-siswa harus menjaga

amanah ini, agar tidak timbul lagi

pemikiran rektorat yang menganggap mahasiswa tidak bisa dipercaya”

depan akan berbeda dengan hari ini. Maka dengan perbuatan baik di masa kini, akan membuat perubahan baik di masa depan, tam-bahnya.

Pada periode kepemimpinannya, Didin dan Tutur ingin membuat Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO) guna membentuk sistem kelembagaan mahasiswa yang lebih profesio- nal sebagai program kerjanya. Ini terlihat saat tidak adanya keseragaman lembaga kemaha-siswaan di tingkat fakultas.

Bagi mereka, ini merupakan amanah kali kedua yang diberikan rektorat kepada maha-siswa, setelah hampir tiga tahun dibekukan. “Kita sebagai mahasiswa harus menjaga ama- nah ini, agar tidak timbul lagi pemikiran rek-torat yang menganggap mahasiswa tidak bisa dipercaya,” harapnya.

Menurut Didin dan Tutur, amanah Ke- tua dan Wakil DEMA, yakni sebagai tanda Allah menyayangi mereka. Didin menjelaskan, ketika Allah menyayangi makhluknya maka Allah akan terus memberikan proses-proses yang harus dicapai berupa amanah. “Kalau mengatakan ini adalah beban berarti kita tidak bersyukur dan ini merupakan jalan untuk be-lajar lebih baik lagi,” ujarnya.

Selarasnya Ketua dan WakilMeski mereka mendapatkan suara terba-

nyak dalam Pemira, tapi mereka tidak mera-sa besar kepala. Selain visi, misi, serta kerja sama yang baik antara Didin dan Tutur, hal lain seperti pengalaman mereka sebagai ketua BEM-F dan aktif dalam beberapa organisasi membuat mereka dikenal hingga banyak men-dulang suara.

Selain itu Didin merasa masih harus ba- nyak belajar dari Tutur, karena menurut Di-din Program Kerja (Proker) BEM Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) sangat baik saat kepemimpinan Tutur sebagai ketua. Hal seru-pa juga diucapkan Tutur melihat sosok Didin.

Sebagai pasangan DEMA terpilih, mereka berpesan kepada mahasiswa UIN. Baginya, keberadaan mereka bukanlah siapa-siapa jika mahasiswa lain tidak membantu dan tidak menjadi bagian dari masa kepemimpinan Di- din dan Tutur. “Kami bukanlah siapa-siapa dan tidak akan menjadi apa-apa tanpa duku-ngan teman-teman,” ujar Didin.

Bukan hanya itu, pesan lain yang tidak kalah pentingnya yang dialamatkan kepada tim sukses Didin dan Tutur yaitu mereka tidak ingin ditinggalkan setelah memenang-kan Pemira ini. Mereka ingin terus didukung, dikawal dalam menyukseskan program kerja. Karena bagi mereka, kemenangan ini bukan-lah akhir tapi adalah sebuah langkah awal un-tuk satu tahun ke depan. (Dewi Maryam)

Wakil Mahasiswa untuk Perubahan

7SOSOK

Langkah Didin Sirojudin dan Tutur Ahsani Mustofa untuk melakukan perubahan bagi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ja-karta kini berada di posisi yang tepat, yaitu sebagai Ketua dan Wakil De-wan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas. Visinya menjadikan ma-hasiswa UIN Jakarta yang beriman, berilmu, dan beramal. Dengan misi mendorong mahasiswa agar memi-liki minat baca, tulis, serta mening-katkan kembali budaya kajian, yang juga bagian dari hobi mereka.

NEWSLETTER EDISI PEMIRA

FOTO: DOK.PRIBADI

Page 8: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

8WAWANCARA

Apa tanggapan Anda sebagai warek kema-hasiswaan tentang kegiatan kemahasiswaan saat ini?

Kegiatan mahasiswa saat ini beraneka ragam tapi memang butuh perspektif atau bingkai. Hemat saya secara personal, ada kegiatan kemahasiswaan yang sudah ke-hilangan bingkainya. Saya menginginkan se-tiap kegiatan mahasiswa itu ada bingkainya.

Bingkai seperti apa yang Anda inginkan?Bingkainya itu harus sejalan dengan mim-

pi UIN untuk menjadi universitas Islam ne- geri yang kompetitif, disegani, dihormati, dan diakui secara nasional dan internasional. Ini pekerjaan yang harus diseriusi dan me-mang tidak gampang.

Mahasiswa itu kan sifatnya dinamis, menu-rut pengamatan Anda dinamika seperti apa yang terjadi?

Pada waktu itu, lembaga kemahasiswaan kan dalilnya kedaulatan mahasiswa (SG). Suasana kampus ramai sekali, hiruk-pikuk. Mahasiswa yang kuliah bingung, dosen tidak dapat mengajar dengan baik, dan banyak bendera partai. Apalagi kalau sudah Pemira, tek-tok antar pihak terus ricuh, banyak orang yang tidak nyaman.

Saat saya menjadi warek sudah tidak se-perti itu lagi. Tidak ada lagi bendera-ben-dera, keliling-keliling (konvoy) menggu-nakan sepeda motor, tidak banyak accident yang terjadi karena tidak puas dengan hasil Pemira. Sepenglihatan saya dan beberapa rekan dosen, situasi Pemira sudah berubah. Bahkan, ada yang bertanya pada saya, “Sebe-narnya sekarang itu ada Pemira atau tidak sih pak? Dulu kok ramai, sekarang tidak?”.

Sistem sekarang ini kan sudah rasional

Seperti halnya masyarakat, mahasiswa juga bersifat dinamis. Perubahan terus terja-di, mulai dari intern mahasiswa hingga lingkungan di sekitar mahasiswa. Begitu pula dengan sistem lembaga kemahasiswaan saat ini, sistem Senat telah menggeser Student Government (SG).

Setelah memantau kinerja Komisi Pemilihan Univesitas (KPU) saat pemungutan suara, Senin (29/4), Wakil Rektor (Warek) III Bidang Kemahasiswaan, Sudarnoto Abdul Hakim kembali ke ruangannya. Tak lama kemudian, Azizah Nida Ilyas/IN-STITUT diperbolehkan masuk ke dalam ruang kerja Sudarnoto untuk wawancara mengenai pergeseran sistem kemahasiswaan dan dinamikanya.

Sebagai warek bidang kemahasiswaan, tentu Sudarnoto memiliki pandangan tersendiri tentang dinamika kemahasiswaan saat ini. Bagaimana pandangan tersebut? Dan mengapa SG bisa bergeser menjadi Senat? Berikut petikan hasil wawancara.

dengan suasana pesta demokrasi yang ber-beda. Sudah tidak ada lagi orasi verbal dengan pengeras suara dan arak-arakan keliling kam-pus. Perubahan itu terasa sekali. Itulah yang sering saya sebut restrukturisasi atau penataan kembali lembaga supaya lebih rasional dan be-rada di bingkai yang sesuai.

Apa nilai minus SG yang identik dengan Partai Politik (Parpol) di mata Anda?

Kampus itu bukan tempat partai politik dan bendera-bendera organisasi ekstra. Kampus itu tempat bagi sivitas akademika, bukan un-tuk sivitas politika. Sejak awal, istilah SG be-tul-betul istilah politik, karena memang hal itu hidup atas nama kedaulatan. Itu sangat tidak sehat.

Dulu SG itu pernah dijadikan contoh lem-baga kemahsiswaan oleh kampus-kampus lain, apa tanggapan Anda?

Sudahlah, di kampus ini tempat latihan dan edukasi . Mungkin saja dulu SG seperti itu tapi bangsa ini kan berubah, ada dinamikanya.

Di Indonesia saja partai mengalami devisit. Coba kalian pikirkan, mana yang tidak ber-masalah di bangsa ini karena politik? Politik itu ruwet. Jangan sampai keruwetan ini di-tiru mahasiswa. Jadi Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) itu arahnya bukan kekuasaan, tapi tempat untuk membangun karakter. Belajar kepemimpinan bukan kekuasaan.

Apakah penerapan SEMA dan DEMA saat ini sudah mengurangi aktifitas politik di kampus?

Sangat. Sebelum Sema dan Dema juga su-dah tidak ada partai. Saya memang tidak ber-hak membubarkan partai, tapi mereka tidak boleh masuk kampus. Begitu juga dengan or-ganisasi ekstra.

Bagaimana dengan kemandirian mahasiswa dalam mengola keuangannya, saat SG berlaku?

Mungkin mereka merasa mandiri, tapi tidak sehat dan bermasalah. Makanya, saya katakan harus ada penataan lembaga.

Dulu, mahasiswa merasa punya uang di kampus. Mereka undang band-band yang luar biasa, tokoh partai politik untuk pidato, bikin heboh, ini yang saya sebut hiruk-pikuk. Karena mereka merasa punya uang, jadi seakan-akan dengan uang mereka bisa me-lakukan segalanya.

Apa penataan lembaga tersebut menjadi visi dan misi Anda sebagai warek?

Ya, itu tugas kelembagaan untuk mencapai mutu yang bagus. Semua lembaga di UIN Ja-karta itu harus bermutu. Saya kebetulan men-dapat amanah di lembaga kemahasiswaan ini tentu punya pikiran apa yang mau saya ker-jakan, agar bisa jadi bagian penting untuk kemajuan UIN Jakarta.

Pada tahun 2010 dan 2011, sempat ada demo untuk mempertahankan SG, bagaimana Anda menyikapinya saat itu?

Kalau ditanya capek, ya pasti capek. Namanya bekerja pasti melelahkan. Tapi tidak apa-apa, biarkan saja. Mau saya diteri-akan atau apa, saya tidak punya beban. Dulu, sewaktu saya menjabat sebagai warek kema-hasiswaan, saya sudah pernah bilang pada mahasiswa, partai tidak boleh masuk kampus dan sistem Pemiranya juga sudah berubah. Kemudian mereka para mahasiswa demo.

Jika nanti saat sistem Senat ini berjalan, masih ada yang mendemo menuntut untuk mempertahankan SG, bagaimana sikap Anda?

Demo itu urusan biasa. Yang tidak boleh itu memfitnah dan merusak. Kalau demonya seperti itu tentu ada tindak lanjutnya. Pasti dikejar dan dikenakan sanksi.

Seberapa yakin Anda dengan sistem Senat yang telah menggantikan SG ini?

Saya sanga t optimis meneruskan sistem Senat ini. Saya optimis lembaga ini akan be-sar. Niatnya sudah ada, langkah-lagkahnya sudah ada, meskipun belum sempurna.

Penataan kelembagaan ini akan diarahkan agar lembaga kemahasiswaan berada dalam bingkai yang pas. Yaitu sebagai bingkai dari proses pendidikan, bukan untuk kekuasaan dan senang-senang. Itulah pentingnya ada perspektif atau bingkai.

FOTO: KARLIA/INSTITUT

Sudarnoto Optimis Senat Dapat Meng-gatikan SG

Page 9: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

9NEWSLETTER EDISI PEMIRAHasil Pemira

Data Hasil Pemilu Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas

Nomor Urut NamaPasangan Perolehan Suara

1 Didin Sirojudin (FITK/PAI/8) dan Tutur Ahsanil Mustofa (FAH/BSA/8)

89

2 Khaerul Saleh (FIDIKOM/KPI/8) dan Munajat Adi Saputra (FU/TH/8) *

-

3 Irpan (FSH/HUKUM/8) dan Aisyah (FISIP/Ilmu Poltik/6) 404 Sadam Husen Falahuddin (FIDIKOM/KPI/6)dan Randy Septian-

sah (FKIK/KESMAS/6)17

Abstain 20Tidak Sah 33 **

Total DPT yang Memilih

166

DPT yang Tidak Memilih

3 ***

Total DPT Keselu-ruhan

169

Keterangan: *) Nomor urut 2 mengundurkan diri pada 23 April 2013

**) Terjadi penggelembungan hingga 33 suara dengan kategori tanda tangan dan cap surat yang berbeda.

***) DPT yang tidak memilih dari FU, FIDIKOM, dan FKIK.

021-93721249

Page 10: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

OPINIEDITORIAL

Berbicara tentang peranan mahasiswa dalam proses perubahan masyarakat menuju tatanan demokratis, maka benak kita akan melayang pada peristiwa di tahun 1966, 1978, dan 1998, dimana pada waktu itu peranan mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, me nunjukkan eksistensinya. Aktifitas dan gera-kan mahasiswa kala itu memiliki kesamaan isu dan musuh, yaitu rezim yang otoriter dan eks- ploitatif. Kondisi tersebut menjadikan maha-siswa sebagai sebuah gerakan, mampu muncul menjadi kekuatan besar, sehingga mengutip Arief Budiman, bahwa cuma ada satu kata un-tuk menyebut gerakan mahasiswa waktu itu (1998), yaitu fantastis!

Pertanyaannya kemudian, bagaimana pe ranan mahasiswa dalam agenda suksesi, baik di tingkat daerah maupun nasional? Dalam konteks peranan mahasiswa, jika dibanding-kan dengan gerakan-gerakan yang bersifat spektakuler, adalah tetap sama, yakni menjaga atau mengawal proses demokratisasi, hanya saja mungkin caranya yang berbeda. Kondisi ini disebabkan agenda suksesi kepemimpi-nan pemerintah seperti Pemilu, Pilpres dan Pilkada, mahasiswa tidak berhadapan dengan rezim yang otoriter atau yang kesewenang-wenangan. Mahasiswa yang dihadapkan pada situasi ini, relatif tidak memiliki “musuh” ber-sama. Oleh karena itu mahasiswa memiliki peran tersendiri yang berbeda ketika maha-siswa berhadapan dengan penguasa.

Ada beberapa peran yang dapat dijalankan oleh mahasiswa dalam proses Pilkada lang-sung di Bangka Belitung contohnya, baik itu sebagai individu maupun organisasi. Peran tersebut adalah:

Mengawal Proses Pelaksanaan Pilkada Lang-sung

Mahasiswa mempunyai peran strategis dalam pengawalan proses pelaksanaan Pilka-da bersama aktivis-aktivis masyarakat sipil lainnya, seperti: LSM, Akademisi, Pers, dan Ormas/ OKP. Peran ini diambil, karena ma-hasiswa merupakan kekuatan masyarakat sipil yang bersifat independen, objektif, dan berlan-daskan pada aspek moralitas. Oleh karena itu, pengawalan terhadap proses Pilkada langsung merupakan peran yang strategis untuk dijalan-kan oleh mahasiswa.

Peran pengawalan terhadap proses pilkada

dapat dimainkan oleh mahasiswa sebagai in-dividu maupun oleh lembaga-lembaga maha-siswa, seperti: lembaga intern kampus, lemba-ga ekstern kampus, dan organisasi mahasiswa kedaerahan. Adapun jalan yang bisa ditem-puh oleh mahasiswa dan organisasi kemaha-siswaan dalam melakukan peranannya dalam mengawal proses pilkada, antara lain: diskusi, seminar, opini publik, artikel/tulisan di media massa, penyataan sikap, dan demonstrasi.

Pendidikan Politik Kepada MasyarakatPendidikan politik pada masyarakat dilaku-

kan sebagai wujud tanggung jawab mahasiswa kepada masyarakat. Adapun wujud dari peran ini adalah adanya agenda mahasiswa seperti: bedah visi dan misi calon kepala daerah, me lakukan kajian terhadap kapasitas dan inte-gritas calon kepala daerah, membuat krite-ria calon kepala daerah versi mahasiswa atau membuat nota kesepakatan dalam bentuk kontrak politik kepada calon kepala daerah.

Target dari agenda-agenda ini adalah, masyarakat dapat menentukan pilihannya ber-dasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional, bukan berdasarkan kharismatik se-mata. Dalam pelaksanaan peran ini, etika yang harus dibangun oleh setiap organisasi maha-siswa adalah sikap objektifitas dan akunta-bilitas. Objektifitas yang dimaksud ialah pem-bedahan visi/misi, pembuatan kriteria calon kepala daerah, dilakukan dengan tanpa disu-supi oleh kepentingan politik praktis.

Hal ini penting, sebab mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, mesti bersikap netral dan berpihak kepada masyarakat luas. Se-dangkan akuntabilitas, adalah penilaian yang diberikan oleh sebuah organisasi mahasiswa, yang harus bisa dipertanggungjawabkan ke-sahihannya. Artinya, bila mahasiswa menilai seorang kepala daerah yang terindikasi me-lakukan tindak penyelewengan kekuasaan maka data dan fakta yang disampaikan harus dapat dibuktikan, bukan sekedar isu belaka, sehingga kepercayaan masyarakat tetap besar terhadap gerakan mahasiswa.

Masuk sebagai Tim Pemenangan Calon Kepa-la Daerah

Keterlibatan mahasiswa dalam tim peme-nangan calon kepala daerah, bukanlah sebuah hal yang baru dalam dinamika kemahasiswaan. Contoh yang paling dekat adalah pada Pemilu

Peranan Mahasiswa Dalam Pemilu 2014Oleh: Ery Chandra

Pemimpin Umum: Muhammad Umar | Sekretaris: Rahayu Oktaviani | Bendahara Umum: Trisna Wulandari | Pemimpin Redaksi: Rahmat

Kamaruddin | Redaktur Cetak: Makhruzi Rahman | Redaktur Online: Jaffry Prabu | Web Master: Rizqi Jong | Pemimpin Perusahaan:

Aprilia Hariani | Iklan & Sirkulasi: Muji Hastuti | Marketing & Promosi: Ema Fitriani | Pemimpin Litbang: Aditia Purnomo | Riset: Aam

Maryamah | Kajian: Aditya Putri

Koordinatur Liputan: Rahmat Kamaruddin Reporter: Abdurrohim Al Ayubi, Adi Nugroho, Adea Fitriana, Anastasia Tovita, Azizah Nida Ilyas, Dewi Maryam, Karlia Zainul, Selamet Widodo Fotografer & Editor: INSTITUTERS Desain Visual & Tata Letak: Makhruzi Rahman Karikaturis: Azizah

Nida Ilyas & Rohman

Alamat Redaksi: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Gedung Student Center Lt. III Ruang 307, Jln. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat Tangerang SelatanKode Pos 15419. Telp: 0856-9214-5881

Web: www.lpminstitut.com Email: [email protected].

Setiap reporter INSTITUT dibekali tanda pengenal serta tidak dibenarkan memberikan insentif dalam bentuk apapun kepada wartawan INSTITUT yang sedang bertugas.

Selamat Jalan, SG

Tahun 1998, setelah bercokol lebih dari tiga dasawarsa, rezim Orde Baru (Orba) akhirnya lengser. Pelbagai elemen masyarakat Indonesia, terutama maha-siswa, bersuka cita merayakan peristiwa bersejarah Indonesia tersebut. Angin refor-masi pun berhembus ke antero Nusantara.

Di tahun-tahun sebelumnya, pergerakan mahasiswa, tak terkecuali mahasiswa IAIN, menurut Orba, mengganggu ‘stabilitas’ na-sional. NKK/BKK lahir untuk mengata-sinya. Ternyata ia cukup ampuh meredam gerakan-gerakan mahasiswa.

Pasca reformasi, mahasiswa IAIN, kala itu, turut meraih tuah. Melalui MKBMI (Musyawarah Keluarga Besar Mahasiswa IAIN), 29 November 1998, mahasiswa IAIN sepakat membubarkan SMI (Senat Mahasiswa Institut). SMI mengungkung otoritas kedaulatan lembaga mahasiswa di bawah rektorat. Senafas NKK/BKK.

Pra-pemberlakuan Student Government (SG), beberapa mahasiswa pencetus mel-akukan studi banding ke UNPAD, ITB, UGM dan UNDIP, terkait pemahaman dan penerapan SG di kampus tersebut. Bebera-pa waktu setelahnya, Musyawarah Luar Bi-asa pada 9-16 Desember 1998 melahirkan AD/ART dan peraturan Pemilu. SG harap-kan menjadi sistem organisasi dengan tikat independensi tinggi dari siapa pun, baik pemerintah, apalagi rektorat.

12 April 1999 Tb. Ace Hasan Syadzili terpilih menjadi presiden pertama ma-hasiswa BEMI dalam pemilu perdana di IAIN. Menurutnya, yang kini sebagai anggota DPR-RI, basis filosofis SG adalah demokrasi sebagai pegangan utama ma-hasiswa dalam berorganisasi, menunjung tinggi nilai kebebasan akademik, dan pros-es pembelajaran kemandirian serta trans-formasi sosial.

Jaman mengamini takdirnya, peruba-han. 2010 menjadi tahun kelam SG di UIN. Kado reformasi ’98 tersebut tercederai oleh ekses dan perilaku ahistoris mahasiswa yang berseberangan dengan nilai-nilai SG. Tahun 2011 dan 2012 lembaga kema-hasiswaan meregang eksistensinya. April 2013, pemilihan raya berlangsung den-gan sistem lembaga kemahasiswaan dan undang-undang pemilu yang, meminjam istilah Sudarnoto, “masih masa transisi”.

Barangkali, kita semua memang tak sanggup lagi memangkuh nilai-nilai luhur SG, seperti kemandirian dan kedewasaan. Atau, kita memang mahasiswa yang perlu dididik, dibimbing, dan didikte rektorat dalam berorganisasi, bak di era Orde Baru yang dulu berkuah darah kita runtuhkan.

Selamat jalan, SG.

10

Page 11: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

11dan Pilpres 2004, di mana banyak ditemui

aktivis mahasiswa yang menjadi tim sukses dari calon anggota DPR/DPRD, DPD maupun calon presiden. Ada beberapa pertimbangan dasar ketika mahasiswa mengambil peran ini:

a) Mahasiswa, sebagai individu masyarakat memiliki hak untuk berpartisipasi dalam setiap proses politik, baik saat pencoblosan maupun dalam menentukan sikap untuk mendukung pasangan calon kepala daerah tertentu.

b) Ikut dalam tim pemenangan calon kepala daerah merupakan political proces bagi ma-hasiswa itu sendiri. Political proces ini adalah bentuk pengaktualisasian kemampuan diri dari mahasiswa itu sendiri sekaligus wadah pembelajaran dalam ruang lingkup politik praktis.

Munculnya mahasiswa dalam arena tim pemenangan calon kepala daerah menimbul-kan kekhawatiran dari berbagai pihak bahkan dari kalangan mahasiswa itu sendiri.

Pertama, mahasiswa akan mudah diper-alat dan ditunggangi oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Kedua, saling mendukung calon kepala daerah akan memperlemah gera-kan mahasiswa. Karena kemungkinan akan terjadi suatu keadaan di mana sekelompok mahasiswa menyatakan dukungannya kepada calon si A, sementara kelompok mahasiswa yang lain menyatakan mendukung si B, si C dan seterusnya. Hal ini tentu memperlemah persatuan di kalangan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa akan terkotak-kotak dan mudah untuk diadu domba dan dipecah belah.

Beberapa poin kekhawatiran di atas besar peluangnya untuk terjadi. Namun, keikutser-taan mahasiswa dalam tim pemenangan calon kepala daerah, tetap memiliki aspek positif bagi mahasiswa tersebut. Oleh karena itu perlu dirumuskan etika bersama sebagai panduan normatif, menyikapi adanya ambivalensi terse-but, yaitu:

1. Hendaknya kapasitas mahasiswa yang ikut dalam tim pemenangan adalah sebagai individu, bukan mengatasnamakan organisasi kemahasiswaan tertentu.

2. Individu mahasiswa yang ikut dalam tim pemenangan, hendaknya bukanlah mahasiswa yang dalam struktur organisasinya berperan sebagai decision maker, seperti ketua umum, ketua bidang/divisi/departemen. Hal ini un-tuk menjaga netralitas organisasi mahasiswa tersebut.

3. Individu-individu mahasiswa yang ter-gabung dalam tim pemenangan calon kepala daerah hendaknya tidak terjebak ke dalam praktik-praktik politik yang tidak bermoral, seperti money politic dan politik dagang sapi.

* Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah

Substansi SGAndi Syafrani menjelaskan, SG adalah se-

buah sistem yang dibangun untuk memberi-kan ruang gerak dan partisipasi yang lebih baik, terbuka, setara, dan kuat bagi maha-siswa dalam mengelola dan mengatur dirinya sendiri (self governing). Relasi dengan pihak rektorat dan dekanat hanya sebatas konsultasi, pertanggungjawaban moral, administrasi, dan sebagai “orang tua” di kampus.

Ia menjelaskan, ketika dirinya menjabat MPMI dulu, rektorat memberikan keper-cayaan kepada mahasiswa untuk mandiri. Dengan demikian, ujarnya, komunikasi baik dengan orang tua dan sesama mahasiswa lebih terbuka, karena SG memberikan kanal bagi semua untuk bisa saling kritik, koreksi, dan memberikan nasihat.

“Nah, dengan kelembagaan SG, kita men-coba membuat kanal-kanal tersebut se- hingga semua persoalan diharapkan dapat di sele-

saikan secara terbuka, komunikatif, dan transparan dengan mengedepankan logika dan ide, bukan otot, apalagi kekerasan,” pa-parnya, Kamis (2/5).

Adapun tiga dasar filosofis yang melan-dasi berdirinya SG menurut TB Ace adalah, demokrasi sebagai pegangan utama ma-hasiswa dalam berorganisasi, menjunjung tinggi nilai kebebasan akademik, dan proses pembelajaran transformasi sosial.

Pada masa kepemimpinannya, Tb. Ace membuat partai-partai politik mahasiswa dengan tujuan menciptakan kelembagaan politik yang terbuka. Ia berharap, mahasiswa tidak menghilangkan semangat untuk ber-pikir demokratis, terbuka, dan mandiri.

(Adi Nugroho/ Selamet Widodo).

Sambungan...Rektorat Hapus SG

Bang PekaNEWSLETTER EDISI PEMIRA

*NIDA

Page 12: Newsletter INSTITUT Edisi Pemira 2013

Testimoni Pemira DEMA 2013

Muhbib Abdul Wahab, Ketua Panitia Pengawas Pemira“Saya merasa senang para ma-hasiswa bisa menggunakan hak suaranya.”

Dani Ramdhany, mahasiswa FU jurusan Aqidah Filsafat“Bagi saya sistemnya “mem-perkosa” kedaulatan dan hak mahasiswa.”

Natasha Nur Afifah, mahasiswi FST jurusan Teknik Informasi“Beritanya kurang sampai, apalagi FST letaknya paling be-lakang.”

Anggit Rahmadi Triatmojo, ma-hasiswa FEB jurusan Manaje-men“Seolah ada nepotisme buat satu golongan doang. Jadi, nggak demokrasi.”

Tasvia Tur Rahmah, mahasiswi FITK jurusan Pendidikan IPS“Nggak semua orang tahu siapa kandidatnya.”

Hasan, mahasiswa FAH jurusan Bahasa Sastra Arab“Saya kurang begitu tahu. Saya kan bukan aktivis, saya hanya mahasiswa biasa yang kuliah pulang.”

Imung, mahasiswa FSH jurusan Perbankan Syari’ah“Sistem representatif ini lebih aman untuk mahasiswa. Na-mun, mahasiswa tidak bisa merasakan pemilihan lang-sung.”

Siti Nurmalita Sari, mahasiswi FIDIKOM jurusan Manajemen Dakwah“Bagi saya, ini sistem yang buruk.”

Farah Dina Fitria, mahasiswi FISIP jurusan Hubungan Inter-nasional“Saya harapkan sistem seka-rang lebih terbuka.”

Aksa Dewangga, mahasiswa Fakultas Psikologi“Pemira DEMA (Universitas) kemarin sangat tidak demok-ratis. Perwakilan suara itu sangat tidak mengaspirasikan mahasiswa UIN Jakarta.”

Muhammad Noer Tondo .W, mahasiswa FDI“Mudah-mudahan dengan adanya perubahan sistem ini UIN Jakarta semakin bagus dan bisa termanajemen.”

Erwin Prawi Rodiharjo, maha-siswa FKIK jurusan Farmasi“Saya kaget, kok bisa sistemnya perwakilan.”