New Microsoft Word Document

Click here to load reader

  • date post

    04-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    452
  • download

    0

Embed Size (px)

Transcript of New Microsoft Word Document

Gawat, Di Depan Mata Ancaman Menganga Rabu, 28 April 2010, 00:01:26 WIB Jakarta, RMOL. BKKBN Tumpul, Jumlah Penduduk Naik Secara Drastis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dinilai sudah tumpul, sehingga jumlah penduduk membengkak. Memang belum ada angka yang pasti. Biro Pusat Statistik (BPS) akan melakukan sensus penduduk Mei mendatang. Tapi berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus 2005, jumlah penduduk Indonesia pada 2010 diperkirakan 231,4 juta. Sedangkan Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning pernah menyatakan bahwa penduduk Indonesia melonjak naik sekitar 235 juta jiwa. Andaikan hasil sensus yang dilakukan BPS mencapai kisaran 230 sampai 240 juta jiwa, ini berarti penambahan penduduk naik drastis. Untuk itu, peran BKKBN perlu ditingkatkan. Apa penyebab kinerjanya melemah. Apa gara-gara kurang dana atau kurang mendapat dukungan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terlepas apa penyebabnya, kinerja BKKBN juga terpuruk di mata Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN dan RB) bahwa BKKBN mendapat ranking 33 dari 72 instansi pemerintah. Penilaian ini berdasarkan evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) tahun 2009. Padahal, tahun 2008 BKKBN menempati urutan 15 dari 74 instansi pemerintah. Ini berarti turun 18 peringkat Untuk itu, kinerja BKKBN perlu ditingkatkan demi menghalau penambahan jumlah penduduk. Begitu disampaikan pengamat kebijakan publik, Amir Hamzah, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin. Gawat, di depan mata ancaman menganga. Sebab, jumlah penduduk naik secara drastis. Ini tentu berdampak terhadap ekonomi, pengangguran, kesehatan, dan keamanan. Beginilah akibat kinerja BKKBN tumpul sejak 2003, saat pemerintah daerah ikut menangani Keluarga Berencana, ujarnya.

Minimal kenaikan jumlah pertumbuhan penduduk Indonesia berada di sekitar 1 persen. Sekarang ini pertumbuhannya mencapai 2,5 persen, tambahnya. Namun begitu, menurut Direktur Eksekutif Metropolitan Cabin For Watch and Empowerment (McWe) itu, untuk mengurangi jumlah tingkat penduduk, tidak hanya bisa dibebankan kepada BKKBN. Tapi juga kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dikatakan, program KB sangat bermanfaat untuk menekan jumlah pertumbuhan penduduk. Ini seharusnya terus disosialisasikan. BKKBN harus meningkatkan kembali sosialisasi dan revitalisasi program KB, namun dengan beberapa penyesuaian kondisi sekarang, dengan melibatkan pemerintah daerah sesuai dengan era otonomi daerah, paparnya. Programnya harus lebih dipertajam dan melibatkan masyarakat, seperti kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang ada di kelurahan-kelurahan. Sebab program KB juga sangat berpengaruh pada tingkat pertumbuhan ekonomi, tambahnya. Anggaran BKKBN, lanjutnya, harus ditingkatkan. Soalnya lembaga ini mempunyai tugas yang sangat penting untuk menahan laju pertumbuhan penduduk. Sementara Direktur Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjajarta mengatakan, pelayanan BKKBN saat ini kendor, tidak seperti dulu lagi. Fungsi penyuluhan yang menjadi ujung tombak lemah. Jadi, sosialisasi harus diperkuat, katanya. Ke depan, lanjutnya, BKKBN harus menggiatkan kembali mengenai pentingnya keluarga berencana dan kualitas hidup yang baik. Penyuluhan dengan cara door to door harus kembali digalakkan. Mengerikan Jika Tak Dapat Dikendalikan Sugiri Syarief, Kepala BKKBN Akses dan layanan Keluarga Berencana (KB) di masyarakat tidak maksimal gara-gara terkendala minimnya informasi yang akurat dan faktor kultural. Demikian disampaikan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief, dalam sebuah seminar, di Jakarta, belum lama ini. Menurutnya, hal itu ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah masyarakat yang ingin mengikuti program KB, tetapi tidak terlayani mencapai 9,1 persen (2007) dari 8,6 persen (2002-2003).

Untuk itu pemerintah akan merevitalisasi program KB pada tahun 2010 dengan target melayani sedikitnya 7,1 juta peserta (akseptor) KB yang baru. Kebijakan ini akan masuk ke dalam Instruksi Presiden yang akan segera dikeluarkan, katanya. Layanan KB diberikan dengan memperhatikan hak-hak reproduksi. Program KB bukan hanya pengendalian penduduk saja, namun yang terpenting adalah menjaga kuantitas dan kualitas SDM, tambahnya. Dikatakan, dari proyeksi Penduduk Indonesia 2005-2025 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dengan parameter dari Survei Penduduk Antar Sensus 2005, jumlah penduduk Indonesia pada 2010 diperkirakan 231,4 juta dan menjadi 249,7 juta pada 2015. Pertumbuhan penduduk yang pesat akan menjadi ancaman mengerikan jika tak dapat dikendalikan dan jika pertumbuhan ekonomi tidak kunjung meningkat. Koordinasi Dengan Pemda Sangat Lemah Sih... Irgan Chairul Mahfiz, Wakil Ketua Komisi IX DPR Kalau kondisi begini terus, masyarakat Indonesia miskin dan miskin terus, katanya. Kinerja BKKBN hendaknya terus ditingkatkan demi mengendalikan laju pertumbuhan penduduk di negeri ini. Kelemahan BKKBN terletak pada koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah daerah (pemda). Ini perlu terus ditingkatkan, kata Wakil Ketua Komisi IX DPR, Irgan Chairul Mahfiz, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin. Untuk mengendalikan ledakan penduduk, kata dia, BKKBN harus mensinkronisasikan dengan program Millenium Development Goals (MDGs) yang pencapainnya pada 2015. Tujuan pembangunan millennium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota PBB. BKKBN harus mengintensifkan ini, paparnya. Dikatakan, minimnya tenaga penyuluh bisa dikoordinasikan dan dikomunikasikan dengan pemerintah daerah setempat. Walaupun terlihat mudah, ini juga menjadi faktor penghambat kelancaran program, sehingga terjadi miss koordinasi. BKKBN harus melakukan penguatan lembaga ke bawah dengan kooordinasi pemda. Selama ini koordinasi dengan pemda sangat lemah sih, ucapnya. Soal dana, kata dia, jangan menjadi alasan tidak maksimalnya pekerjaan. Komisi IX juga akan memperhatikan peningkatan kebutuhan lembaga ini, katanya. Sebelumnya Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning mengatakan, kinerja BKKBN kian

merosot. Makanya penduduk Indonesia kini melonjak naik sekitar 235 juta jiwa. BKKBN, lanjutnya, juga sangat berperan dalam membentuk karakter bangsa dengan mensuksekan program keluarga kecil merupakan keluarga bahagia. BKKBN di daerah-daerah carut marut, tidak bekerja secara maksimal, katanya. Ribka memaklumi kinerja BKKBN tidak optimal. Sebab, dari Anggarannya hanya sebesar Rp 600 miliaar- Rp 1,6 triliunan. Anak Jalanan Semakin Membengkak Tuh... Roostien Ilyas, Anggota Komnas Perlindungan Anak Pemerintah harus menambah anggaran untuk BKKBN, sebab tugas utamanya untuk mengurangi jumlah penduduk sangatlah berat, ujar anggota Komisi Nasional Perlindungan Anak ( Komnas PA), Roostien Ilyas, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin. Menurutnya, sekarang Indonesia sedang mengalami baby boom, jumlah kelahiran sudah sangat tinggi, dan itu terjadi pada masyarakat bawah. Hal ini jelas akan berdampak pada tingkat pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Efek dari baby boom ini adalah anak jalanan semakin membengkak tuh, karena orang tua mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi. Jika hal ini dibiarkan maka akan mengkhawatirkan, paparnya. Ke depan, kata dia, pemerintah harus mengutamakan kinerja BKKBN dalam menekan jumlah penduduk. Caranya menghidupkan kembali kegiatan ibu PKK, Posyandu dan Puskesmas dalam melakukan sosialisasi mengenai KB. Belum Kelihatan Hasilnya Deh... Kartono Mohamad, Bekas Ketua IDI BKKBN yang dikomandoi Sugiri Syarief belum menorehkan prestasi. Bahkan gaungnya semakin redup, sehingga tidak heran kalau jumlah penduduk kian bertambah pesat. Belum kelihatan hasilnya deh, ujar bekas Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kartono Mohamad, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin. Dikatakan, sekarang ini pertumbuhan penduduk di daerah-daerah kian pesat. Ini tentunya mengkhawatirkan. Disinggung soal Sensus Penduduk yang Mei mendatang mulai dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), Kartono mengatakan, ini momentum melihat jumlah penduduk Indonesia.

Kita tunggu hasil kerja BPS. Sekarang ini kita belum tahu di daerah mana yang pesat pertumbuhan penduduknya. Jika sudah diketahui maka BKKBN tinggal menunggu perintah dari Presiden, apa yang harus dilakukannya, tuturnya. Menurutnya, BKKBN hendaknya menggalakkan kembali program KB sebagai andalan untuk mengatasi pertumbuhan penduduk. Jika ini dilakukan maka kinerja BKKBN akan berhasil secara maksimal, tandasnya. Prestasinya Melorot Iskandar Sitorus, Direktur LBH Kesehatan Keberadaan BKKBN sekarang sudah terdegradasi, sehingga lembaga itu sulit melakukan pengendalian laju penduduk. Demikan disampaikan Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus, kepada Rakyat Merdeka, di Jakarta, kemarin. Sebagai gambaran, kata dia, BKKBN ketika dipegang Hayono Suyono, perannya cukup signifikan. Saat itu publikasi mengenai KB seakan-akan menjadi santapan penduduk sehari-hari. Sekarang malah sebaliknya, yang terjadi justru sepi. Jadi, prestasinya melorot , katanya. Problem lain, lanjutnya, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah kurang menganggap penting fungsi BKKBN. Padahal, kegagalan lembaga ini akan berdampak luas terhadap jumlah penduduk, ekonomi, dan keamanan. Kalau BKKBN gagal dipastikan Menteri Keuangan akan kebingungan mengeluarkan anggaran karena jumlah penduduk terus naik. Kemenakertrans juga akan pusing mencarikan lapangan pekerjaan, kelakarnya. Untuk itu, BKKBN harus segera berbenah diri, dan melakukan koordinasi dengan dinas kependudukan. BKKBN juga harus menghidupkan kembali program-program yang bagus seperti Posyandu dan juga penyuluhan yang lain. [RM]

Home

Boediono Waspadai Terjadinya Ledakan Penduduk

18 Feb 2010

Nasional Republika

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Boediono mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai terjadinya ledakan penduduk di Indonesia. Hal ini berdasarkan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia yang masih tinggi, yaitu sebesar 1,3 persen per tahun atau sekitar 3,5 juta jiwa. Menurut Boediono, jumlah tersebut menyamai jumlah total penduduk Singapura saat ini. "Jadi, tiap tahun ada tambahan sejumlah penduduk Singapura," kata Boediono dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana di Istana Wapres, Rabu (17/2). Karena itu, Boediono meminta banyak pihak untuk mencermati tingkat pertumbuhan penduduk. Menurutnya, Indonesia pernah mengalami ledakan penduduk yang pada akhirnya menimbulkan masalah sosial, seperti keterbatasan lapangan kerja, keterbatasan pangan, peningkatan pengangguran, serta kemiskinan. Karena itu, Boediono menganggap, program KB cukup penting untuk terus ditingkatkan perannya. Menurutnya, sejak pencanangan KB, Indonesia sudah mengalami kemajuan yang cukup berarti dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk nasional sepanjang kurun waktu 1971-1980 bisa ditekan hanya sebesar 2,3 persen. Periode 1980-2000 mencapai 1,4 persen per tahun dan kini menurun lagi 1,3 persen pada 2005-2010. Angka kesuburan wanita (total fertility rate) usia produktif di Indonesia juga hampir mencapai stabilitas. Dari angka 5,61 persen pada tahun 1971 menjadi 2,35 persen pada 2007. "Menurut Badan Pusat Statistik, total fertility rate kita sudah rendah dari angka tersebut, tidak sampai 2,2 persen," kata Boediono. Namun, lanjutnya, total fertility rate yang bisa menjaga stabilitas kependudukan adalah 2,1 persen. Karena itu, kata wapres, sekalipun Indonesia mengalami kemajuan, tapi jangan lengah. Program KB akan tetap menjadi prioritas nasional dan memberikan peran dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Program KB ini, kata dia, sebaiknya tidak hanya disasar ke masyarakat miskin, tapi juga semua lapisan masyarakat. Wapres juga mengingatkan pentingnya koordinasi pusat dan daerah dalam memajukan program KB karena koordinasi itu sempat terhenti. "Mulai hari ini, saya ingin koordinasi pusat dan daerah bisa dilanjutkan lagi dan ditingkatkan," kata Boediono. Kebijakan satu anak Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Sugiri Syarief, menyatakan, Indonesia tidak bisa menerapkan kebijakan satu keluarga satu anak seperti yang dilakukan Cina dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk. "Kebijakan seperti yang telah dilakukan di Cina belum bisa dilakukan di sini karena masalah jumlah anak itu merupakan hak asasi reproduksi masyarakat Indonesia," katanya.

Menurutnya, sekalipun pemerintah belum bisa menerapkan kebijakan seperti di Cina, bukan berarti laju pertumbuhan penduduk di Indonesia tidak bisa dikendalikan. Pemerintah Cina, katanya, dengan adanya program tersebut memang mampu menekan angka laju pertumbuhan penduduk dari semula sebesar lima persen per tahun menjadi hanya 1,8 persen. Namun, BKKBN dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk akan terus mengampanyekan program KB secara nasional ke berbagai daerah dengan te-rus melakukan penyuluhan. Idealnya, kata Sugiri, untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang besar, rata-rata pertumbuhan pen-, duduk sebaiknya tidak lebih dari satu persen. Sugiri Syarief mengatakan, BKKBN pada 2010 mentargetkan peserta KB baru sekitar 7,1 juta, dimana 3,7 juta di antaranya adalah keluarga prasejahtera, sejahtera I, dan keluarga miskin. yasmina, ed maghfiroh

PERTUMBUHAN PENDUDUK: BKKBN AKAN MENEKAN HINGGA 1,14 PERSEN Jumat, 2 Februari 2007 Sukabumi, Kompas - Kendati terus turun, laju pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2006 masih 1,3 persen per tahun. Hingga akhir tahun lalu, sensus penduduk menunjukkan jumlahnya 225,5 juta jiwa. Padahal, tahun 2000 jumlah penduduk masih 203 juta orang. Pemerintah berencana menekan laju pertumbuhan penduduk hingga 1,14 persen pada 2009. Demikian dikatakan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Sugiri Syarief, seusai penutupan bakti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) 2006 dan pembukaan bakti IBI 2007 di Kecamatan/Kabupaten Sukabumi, Rabu (31/1). Salah satu strategi untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan menggalakkan kembali program keluarga berencana dan meningkatkan peran bidan desa. Dalam rangka menyelesaikan masalah kependudukan, baru-baru ini BKKBN mengikuti pertemuan di New York, Amerika Serikat. Dari pertemuan tersebut, diperoleh komitmen untuk meningkatkan capacity building antarnegara bagi para bidan yang bertugas di desadesa. Komitmen antarnegara tersebut juga menyangkut pemberian beasiswa bagi orangorang yang akan dikirim ke luar negeri untuk belajar. Ada beberapa kendala yang dihadapi pemerintah dalam menekan laju pertumbuhan penduduk. Salah satunya adalah tingkat fertilitas/kesuburan pasangan tidak miskin di Indonesia hingga tahun 2003 masih

2,6 atau rata-rata 2,6 anak yang dilahirkan oleh satu pasangan. Namun, tingkat fertilitas keluarga miskin lebih tinggi. Rata-rata pasangan miskin memiliki tiga anak. Masalah lain yang juga akan menjadi kendala dalam menekan laju pertumbuhan penduduk adalah ketersediaan bidan desa yang akan membantu program keluarga berencana. Hingga akhir 2006, IBI hanya memiliki anggota 68.772. Menurut Sugiri, jumlah bidan baru bisa melayani 50 persen desa di Pulau Jawa dan hanya 30 persen dari seluruh desa di luar Pulau Jawa. Melihat masalah ini, Kabupaten Sukabumi sebetulnya sudah melakukan terobosan dengan membiayai pendidikan bagi calon bidan desa bersama lembaga swadaya masyarakat. Dari 352 desa, masih dibutuhkan 170 bidan desa lagi. Idealnya, satu bidan melayani satu desa. (aha) Sumber: www.kompas.com, Jumat, 02 Februari 2006

Beberapa Teori kependudukan dalam Menunjang Suatu Analisa Kependudukan February 12, 2010Posted by isfaniy in AKK. trackback

Berdasarkan beberapa catatan kependudukan dunia, sejak tahun 1650 laju pertumbuhan penduduk dunia meningkat dengan cepat, terutama di negaranegara eropa, USA, Amerika Tengah dan Amerika Selatan, dalam 2 abad jumlah penduduk bertambah 3 kali lipat. Misalnya pada tahun 1650 jumlah penduduk berjumalah 113 juta jiwa dan pada tahun 1850 menjadi 325 juta jiwa. Untuk Asia dan Afrika dalam jangka waktu yang sama jumlah penduduk menkadi 2 kali lipat, misalnya pada tahun 1650 jumlah penduduk 430 juta dan pada tahun 1859 menjadi 844 juta jiwa. Dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dunia menyebabkan jumlah penduduk menigkat dengan cepat dan dibeberapa bagian dunia telah terjadi kemiskinan dana kekurangan pangan. Sehingga muncullah para ahli kependudukan yang membedakan dalam 3 kelompok aliran, yaitu :

A. ALIRAN MALTHUSIAN (Thomas Robert Malthus) Robert Malthus ini mengemukakan beberapa pendapat tentang kependudukan, yaitu :

Penduduk (seperti juga tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan akan berkembang biak dengan sangat cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi. Manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan makanan jauh lebih lambat (deret hitung) dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk (deret ukur)

Menurut aliran ini pembatasan pertumbuhan penduduk dapat dilakukan dengan 2 cara : 1. Preventif Checks (pengekangan diri) * Moral restraint (pengekangan diri) - mengekang nafsu seks - tunda kawin * Vice atau Kejahatan (pengurangan kelahiran) - pengguguran kandungan - homoseksual 2. Positive Checks (lewat proses kelahiran) * Vice atau kejadian (pencabutan nyawa) - bunuh anak-anak - bunuh orang cacat - bunuh orang tua * Misery (kemelaratan) - Epidemi - bencana alam - peperangan - kekurangan makanan

Kritik terhadap teori Malthus Malthus tidak memperhitungkan hal-hal sebagai berikut :

kemajuan bidang transportasi yang dapat menghubungkan satu daerah dengan daerah lain sehingga distribusi makana dapat berjalan kemajuan bidang teknologi, terutama bidang pertanian Usaha pembatasan kelahiran bagi pasangan yang sudah menikah fertilitas akan menurun apabila perbaikan ekonomi dan standar hidup penduduk dinaikkan.

B. ALIRAN MARXIST (Karl & F. Angel) Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan makanan). Menurut Marxist tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja (misalnya di negara kapitalis) Marxist juga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk. (kedua aliran ini memiliki pendukung yang sama banyak) negara2 yang mendukung teori Malthus umumnya adalah negara berekonomi kapitalis seperti USA, Inggrism Prancis, Australia, Canada, dll Sedangkan negara-negara yang mendukung teori Marxist umumnya adalah negara-negara berekon0mi Sosialist seperti Eropa Timur, RRC, Korea, Rusia dan Vietnam. C. ALIRAN NEO-MALTHUSIAN (Garreth Hardin & Paul Ehrlich) Pada abad 20 teori Malthus mulai diperdebatkan kembali. kelompok ini menyokong aliran Malthus, akan tetapi lebih radikal lagi dan aliran ini sangat menganjurkan untuk mengurangi jumlah penduduk dengan menggunakan cara-cara Preventif Check yaitu menggunakan alat kontrasepsi. Tahun 1960an dan 1970an foto-foto telah diambil dari ruang angkasa dengan menunjukkan bumi terlihat seperti sebuah kapal yang berlaya dengan persediaan bahan bakar dan bahan makanan yang terbatas. Pada suatu saat kapal ini akan kehabisan bahan bakar dan bahan makanan tersebut sehingga akhirnya malapetaka menimpa kapal tersebut.

DemografiDEMOGRAFI Pengertian dan definisi: Bhs Yunani DEMOS : Rakyat (penduduk) Grafein : Menulis. Demografi : Tulisan /karangan tentang rakyat /penduduk. Istilah I : Achille Guillard, 1885 Elements De statistique Humaine on demographic compares. Mempelajari segala sesuatu dari kead dan sikap manusia yg dapat diukur. Definisi Ilmu yang mempelajari secara statistik & mathematik ttg besar, komposisi dan distribusi penduduk dan perubahan- perubahan nya sepanjang masa mll bekerjanya 5 komponen demografi yaitu: kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas), perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial. (Donald J Boque) Demografi mempelajari ttg jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan perubahannya dan sebab sebab perubahan tersebut. (Philip M. Houser & Dudley Duncan). Jadi dapat disimpulkan. Demografi adalah Ilmu yang mempelajari persoalan dan keadaan perubahan penduduk, atau dengan kata lain segala hal ihwal yg berhub dgn komponen komponen perub tsb spt: Kelahiran, kematian, migrasi, sehingga menghasilkan suatu kead dan komposisi pddk menurut umur dan jenis kelamin ttt. Ruang lingkup John Graunt, bapak demografi, Dalam Bukunya natural and political observations.Made Upon the bill of mortality Menemukan batasan batasan umum tentang: kematian(mortality,)kelahiran (fertility), migrasi,dan perkawinan dalam hubungan dengan proses penduduk. Sehingga mencetuskan hukum hukum ttg pertumbuhan penduduk. Thn 1937ada kongres masalah kependudukan di Paris membuktikan scr matematik ada hub antar unsur demografi spt: kelahiran, kematian,jenis kelamin& umur - disebut PURE Demografi utk cabang Ilmu demografi yg sifatnya analitik-matematik. Pure demografi-menghasilkan tehnik menghitung data kependudukan,sehingga diperoleh perkiraan pddk dimasa yg akan dtg dan masa lampau. Mengapa proses tsb terjadi? Perlu social Demography/kependudukan sebagai penghubung antara penduduk dgn

sistem sosial. jadi determinant &konsekuensi dari pertambahan pddk harus dianalisa sehingga mengerti tentang dinamika penduduk Jadi yang dibahas dalam demografi adalah: Pure demografi & kependudukan. Data demografi, pengukuran,tehnik &model dan analisa determinant &konsekuensi dari pertambahan pddk tdk terlepas dari variabel non demografi (Ekonomi, sosiologi,geografi,psikolog,politik dsb. Merup interdiciplinary science Tujuan demografi 1.Mempelajari kuantitas & distribusi pddk dalam suatu daerah tertentu. 2.Menjelaskan pertbhan masa lampau, penurunan, persebarannya dg data yang tersedia. 3.Mengembangkan hubungan sebab akibat antara perkembangan penduduk dengan bermacam macam aspek organisasi sosial. 4.Mencoba meramalkan pertumbuhan pddk dimasa yad, kemungkinan2 dan konsekuensinya. Pengetahuan kependudukan berguna utk: Pemerintah& Swasta dlm merencana: Pendidikan,perpajakan,kemiliteran,kesejahteraan,sosial, perumahan, pertanian, Rs, pertokoan, pusat rehabilitasi. 2.Utk mengetahui berkembangnya perekonomian suatu negara( pertbhan lap kerja, prosentase pddk yg ada disektor pertanian,industri& jasa. 3. Untuk melihat peningkatan standar kehidupan : (tingkat harapan hidup rata rata pddk. Dinamika kependudukan Pertumbuhan penduduk menyebabkan perubahan jumlah penduduk. Merupakan keseimbangan yg dinamis. antara: Pertbhan pddkberpengaruh pada jumlah pddk dunia & susunannya. Pertbhan pddk dipengaruhi : Kelahiran (fertilitas)(bayi lahir +)(bayi Meninggal -) Kematian (mortalitas) Inmigration (imigrasi) Out migration (Emigration) Selisih antara kelahiran dan kematian disebut nature increase/ reprodutif change. Selisih antara inmigration & out migration net Migration. Imigration = Pendatang Out Migration = keluar. Jadi pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh : reproduktive change & net Migration. Mengetahui pertbhan pddk dgn membandingkan ant 2 sensus.

Slang waktu 5- 10 tahun. PT = P0 + (B D) + (M1 M0). P0 = jlh penduduk waktu terdahulu (tahun dasar) Pt = jlh pddk sesudah nya. B = Kelahiran antara 2 kejadian. D = jlh kematian ant 2 kejadian. M1 = migrasi masuk. M0 = migrasi keluar. Growth rate : CBR + CDR = menunjukkan jumlah kelahiran & kematian per 1000 pddk/thn. Kemungkinan yg dapat terjadi : 1. Tingkat kelahiran tinggi & kematian tinggi. 2. Tingkat kelahiran tinggi & kematian mulai menurun. 3. Tingkat kelahiran menurun & tingkat kematian rendah. 4. tingkat kelahiran rendah & kematian rendah. Model pertumbuhan penduduk M = mortalitas (kematian) F = fertilitas (kelahiran) N = naik. T = turun S = stabil teori kependudukan Dalam teori kependudukan dibahas: 1. Pertumbuhan penduduk dunia 2. Masalahn so-sek dan demografi 3. Teori Maltus Masalah yg ditemui: Masalah sosial dan ekonomi. Adanya perkembangan IPTEK dalam obat obatan angka kematian menurun dan angka kelahiran tetap tinggi(tiap tahun jlh penduduk +- 90 juta). negara berkembang jlh penduduk # terkendali-(timbul masalah : gizi,lap pekerjaan,tingkat kelahiran&kematian tetap tinggi. Oleh sebab itu dijalankan program kependudukan &kesehatan (KB,dll). Indonesia: masalah pddk yg besar. persebaran penduduk yg tidak merata. struktur umur muda. Negara maju jlh pddk terkendali.

Pertumbuhan pddk dunia besarnya pddk, ekonomi, dan distribusi pddk mempengaruhi kegiatan sosial ekonomi. Keadaan ekonomi dan lingkungan menentukan tingkat dan pola kelahiran,kematian dan migrasi. Teori Maltus: Pada abad ke 18 (thn 1798) fertilitas dan mortalitas sebanding. Kenaikan populasi terjadi secara eksponensial menurut waktu. Eksponensial : laju pertumbuhan mula cepat kemudian melambat sesuai dengan waktu. Teori Transisi demografi (menerangkan perubahan penduduk) Tahap Peralihan kead demografis: 1. Tingkat kelahiran dan kematian tinggi. Penduduk tetap/naik sedikit. anggaran kesehatan meningkat. Penemuan obat obatan semakin maju. Angka kelahiran tetap tinggi. 2. Angka kematian menurun,tingkat kelahiran masih tinggipertumbuhan pddk meningkat. Adanya Urbanisasi. usia kawin meningkat. Pelayanan KB > Luas. pendidikan meningkat. 3.Angka kematian terus menurun, angka kelahiran menurun- laju pertumbuhan penduduk menurun. 4.Kelahiran dan kematian pada tingkat rendah pertumbuhan penduduk kembali seperti kategori I mendekati nol. Keempat kategori ini akan didialami oleh negara yg sedang melaksanakan pembangunan ekonomi Struktur & persebaran penduduk Membahas : - komposisi pddk - Persebaran penduduk. Guna pengelompokan penduduk: 1. Mengetahui human resources yg ada menurut umur &jenis. 2. Mengambil suatu kebijakan yg berhub dengan penduduk. 3. Membandingkan kead satu penduduk dg pddk

lain. 4. Melalui gambaran piramid pddk dapat diket proses demografi yg telah terjadi pada pddk. http://profesionalnurse.blogspot.com/2009/05/demografi.html

Aris Ananta SEPUTAR INDONESIA, 15 Maret 2010 Sepintas judul di atas mungkin tampak aneh.Pertama,kenapa jumlah penduduk lanjut usia (lansia) meledak? Seperti balon yang terus mengembang dan terbang tinggi, akhirnya meledak dan kempes,jatuh ke bawah. Kedua, apa hubungannya dengan masalah keuangan,apalagi krisis keuangan? Bukankah para lansia tidak punya uang. Kalaupun punya, uangnya sudah tidak banyak. Bagaimana para lansia dapat menyebabkan krisis keuangan global? Pada era 1960-an,1970-an,hingga 1980-an, dunia dicemaskan dengan laju pertumbuhan penduduk yang meningkat cepat.Peningkatan ini akibat tingginya angka kelahiran. Jumlah anak-anak dan penduduk muda meningkat dengan cepat.

Mereka ini sudah bisa mengonsumsi tapi belum berproduksi. Negara- negara di dunia, termasuk Indonesia mencemaskan pembiayaan yang timbul akibat peledakan jumlah anak-anak dan penduduk muda ini. Akhirnya dunia memilih keluarga berencana sebagai salah satu cara untuk mengatasi peledakan penduduk, persisnya peledakan jumlah penduduk muda. Dengan program keluarga berencana, pemerintah memperkenalkan bahwa kelahiran dapat diatur dan bahwa keluarga kecil adalah keluarga bahagia. Di banyak negara program keluarga berencana telah berhasil menurunkan angka kelahiran.Bahkan, saat ini banyak negara telah mencapai below replacement level. Artinya, kalau angka kelahiran ini dipertahankan terus dalam waktu 3040 tahun, jumlah penduduk akan berkurang. Pertumbuhan jumlah penduduk menjadi negatif. Indonesia telah mencapai below replacement level pada awal 2000 atau mungkin saat ini, pada periode 2005-2010. Artinya, kalau angka kelahiran bertahan di below replacement level terus,jumlah penduduk Indonesia akan berkurang pada 2045 atau 2050. Apa artinya? Selain angka kelahiran yang rendah,angka kematian pun menurun. Angka harapan hidup semakin tinggi.Yang lahir makin sedikit yang hidup pun hidup lebih lama.Akibatnya,jumlah penduduk lansia meningkat dengan cepat dan makin cepat. Terjadilah peledakan jumlah penduduk lansia. Indonesia mungkin akan merasakan dampak peledakan jumlah penduduk lansia ini pada 2020 atau 2025. Saat itu di manamana kita akan berjumpa dengan penduduk lansia, seperti pada era 1960-an ketika era baby boom,jumlah anakanak yang banyak. Mengapa meledak? Seperti halnya dengan anak-anak dan penduduk yang masih muda, penduduk lansia ini juga mengonsumsi dan tidak berproduksi. Ini dapat menjadi beban generasi muda dan pemerintah untuk membiayai jumlah penduduk lansia yang terus meningkat dengan cepat. Konsumsi makan mereka mungkin hanya sedikit dibandingkan dengan yang muda.Tetapi,bila mereka sakit-sakitan dan hidup lama, maka biaya untuk mengurusi mereka akan jauh lebih besar daripada mengurusi yang anak-anak atau penduduk muda. Di negara yang sudah maju,para lansia telah diperhatikan oleh pemerintah. Di Belanda misalnya, terdapat sistem pensiun yang sangat bagus untuk para lansia.Uang diambil dari pajak yang dibayarkan oleh mereka yang masih bekerja,mereka yang masih muda. Ketika jumlah penduduk lansia belum banyak sistem ini dapat berlangsung lancar. Namun,ketika jumlahnya semakin banyak dan hidupnya makin lama, artinya jumlah pensiunan juga meningkat cepat.Pemerintah kesulitan mendapat uang untuk membiayai para lansia ini. Kesulitan dalam anggaran pemerintah ini telah dialami banyak negara, seperti negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang. Hal ini menyebabkan defisit anggaran pemerintah. Karena jumlah lansia ini terus meningkat dan hidup lebih lama,maka defisit ini bisa terus bertahan dan meningkat. Ini ditambah lagi dengan sistem keuangan dunia yang penuh

spekulasi. Defisit anggaran di negara maju akibat peledakan jumlah penduduk lansia ini menjadi salah satu penyebab utama krisis keuangan global jilid II. Dampak krisis ini dapat lebih parah dan terjadi pada waktu yang lebih lama. Sementara negara yang belum maju, seperti Indonesia, belum mempunyai sistem pensiun yang intensif seperti di negara maju.Para lansia di Indonesia harus membiayai hidup mereka sendiri. Hal ini menguntungkan pemerintah karena tidak menyebabkan ancaman yang serius akibat defisit anggaran gara-gara peledakan jumlah penduduk lansia. Oleh sebab itu, bagi negara seperti Indonesia, peledakan jumlah penduduk lansia tidak akan menjadi ancaman serius terhadap anggaran pemerintah. Saat ini kita menyaksikan betapa Yunani kesulitan dengan anggaran pemerintah.Apakah Yunani akan dibiarkan bangkrut atau akan ada pertolongan dari Uni Eropa atau IMF? Bagaimana dengan negara lain yang juga mengalami defisit anggaran yang serius,seperti Portugal, Spanyol,dan bahkan Inggris dan Jepang? Masalah utang Dubai juga belum terselesaikan. Bersamaan dengan itu, beberapa negara mengalami kepanasan ekonomi yang bila tidak segera didinginkan dapat meledak. China dan Vietnam adalah beberapa contoh negara yang sedang mengalami kepanasan ekonomi tersebut. Krisis ekonomi global jilid II tampaknya memang juga akan bermula dari negara maju, seperti krisis keuangan global 20072008 lalu. Walau begitu, negara berkembang, termasuk Indonesia akan terkena dampaknya. Itu sebabnya Indonesia perlu bersiap diri menghadapi kemungkinan krisis ekonomi tersebut. Tetapi, apakah negara berkembang seperti Indonesia dapat tetap lepas tangan pada kesejahteraan penduduk lansia yang juga akan segera meledak? Di Indonesia, penduduk lansia akan me-ledak sesudah 2020 atau 2025. Sebagai negara demokrasi, lepas tangannya pemerintah pada ke-sejahteraan para penduduk lansia akan dibayar dengan biaya politik yang mahal. Penduduk lansia pada 2020 ke atas adalah penduduk lansia yang makin berpendidikan dan memiliki aspirasi yang tinggi. Kalau mereka tidak puas, mereka akan menghukum pemerintah lewat pemilihan umum di tingkat nasional maupun lokal. Mereka pun akan melakukan demonstrasi: tidak harus turun ke jalan tapi bisa memanfaatkan media digital. Sudah saatnya mulai sekarang, pemerintah mempersiapkan diri menghadapi serbuan penduduk lansia. Dapatkan pemerintah memanfaatkan penduduk lansia sebagai aset pembangunan? Dapatkah yang muda dan yang tua bekerja sama untuk kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, tidak pandang usia? Kepandaian pemerintah untuk memanfaatkan serbuan para lansia ini akan sangat menentukan kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia setelah 2025.Kalau perhatian tidak dilakukan sejak saat ini, generasi yang sekarang muda akan merasakan dampaknya pada masa depan,ketika mereka menjadi lansia. Generasi yang baru lahir atau akan

dilahirkan akan menderita karena mereka harus menanggung beban berat karena meledaknya jumlah penduduk lansia.(*)

PendudukDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Jalanan yang penuh sesak penduduk di Jepang, negara dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi

Proyeksi pertumbuhan penduduk di dunia abad ini Penduduk atau warga suatu negara atau daerah bisa didefinisikan menjadi dua:

Orang yang tinggal di daerah tersebut Orang yang secara hukum berhak tinggal di daerah tersebut. Dengan kata lain orang yang mempunyai surat resmi untuk tinggal di situ. Misalkan bukti kewarganegaraan, tetapi memilih tinggal di daerah lain.

Dalam sosiologi, penduduk adalah kumpulan manusia yang menempati wilayah geografi dan ruang tertentu. Masalah-masalah kependudukan dipelajari dalam ilmu Demografi. Berbagai aspek perilaku menusia dipelajari dalam sosiologi, ekonomi, dan geografi. Demografi banyak digunakan dalam pemasaran, yang berhubungan erat dengan unit-unit ekonmi, seperti pengecer hingga pelanggan potensial.

Daftar isi[sembunyikan]

1 Kepadatan penduduk o 1.1 Piramida penduduk 2 Pengendalian jumlah penduduk 3 Penurunan jumlah penduduk 4 Transfer penduduk 5 Ledakan penduduk 6 Penduduk dunia 7 Referensi 8 Pranala luar

[sunting] Kepadatan penduduk

Laju pertumbuhan penduduk lebih tinggi di negara berkembang (merah) dibanding dengan negara maju (biru) Kepadatan penduduk dihitung dengan membagi jumlah penduduk dengan luas area dimana mereka tinggal. Beberapa pengamat masyarakat percaya bahwa konsep kapasitas muat juga berlaku pada penduduk bumi, yakni bahwa penduduk yang tak terkontrol dapat menyebabkan

katastrofi Malthus. Beberapa menyangkal pendapat ini. Grafik berikut menunjukkan kenaikan logistik penduduk. Negara-negara kecil biasanya memiliki kepadatan penduduk tertinggi, di antaranya: Monako, Singapura, Vatikan, dan Malta. Di antara negara besar yang memiliki kepadatan penduduk tinggi adalah Jepang dan Bangladesh.

[sunting] Piramida pendudukDistribusi usia dan jenis kelamin penduduk dalam negara atau wilayah tertentu dapat digambarkan dengan suatu piramida penduduk. Grafik ini berbentuk segitiga, dimana jumlah penduduk pada sumbu X, sedang kelompok usia (cohort) pada sumbu Y. Penduduk lak-laki ditunjukkan pada bagian kiri sumbu vertikal, sedang penduduk perempuan di bagian kanan. Piramida penduduk menggambarkan perkembangan penduduk dalam kurun waktu tertentu. Negara atau daerah dengan angka kematian bayi yang rendah dan memiliki usia harapan hidup tinggi, bentuk piramida penduduknya hampir menyerupai kotak, karena mayoritas penduduknya hidup hingga usia tua. Sebaliknya yang memiliki angka kematian bayi tinggi dan usia harapan hidup rendah, piramida penduduknya berbentuk menyerupai genta (lebar di tengah), yang menggambarkan tingginya angka kematian bayi dan tingginya risiko kematian.

[sunting] Pengendalian jumlah penduduk

Piramida penduduk yang menunjukkan tingkat mortalitas stabil dalam setiap kelompok usia Pengendalian penduduk adalah kegiatan membatasi pertumbuhan penduduk, umumnya dengan mengurangi jumlah kelahiran. Dokumen dari Yunani Kuno telah membuktikan adanya upaya pengendalian jumlah penduduk sejak zaman dahulu kala. Salah satu contoh pengendalian penduduk yang dipaksakan terjadi di Republik Rakyat Cina yang terkenal dengan kebijakannya 'satu anak cukup'; kebijakan ini diduga banyak menyebabkan terjadinya aksi pembunuhan bayi, pengguguran kandungan yang dipaksakan, serta sterilisasi wajib.

Indonesia juga menerapkan pengendalian penduduk, yang dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB), meski program ini cenderung bersifat persuasif ketimbang dipaksakan. Program ini dinilai berhasil menekan tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia.

[sunting] Penurunan jumlah pendudukBerkurangnya jumlah penduduk menyebabkan turunnya jumlah populasi pada sebuah daerah. Hal ini disebabkan oleh perpindahan daerah kesuburan atau oleh emigrasi besarbesaran. Juga oleh penyakit, kelaparan maupun perang. Namun seringkali oleh gabungan faktor-faktor tersebut. Di masa lampau penurunan jumlah penduduk disebabkan terutama sekali oleh penyakit. Pada tahun-tahun belakangan ini populasi penduduk Rusia dan tujuh belas bekas negara komunis lainnya mulai menurun (1995-2005). Kasus Black Death di Eropa atau datangnya penyakit-penyakit dari dunia lama ke Amerika merupakan faktor penyebab turunnya jumlah penduduk.

[sunting] Transfer pendudukTransfer penduduk adalah istilah untuk kebijakan negara yang mewajibkan perpindahan sekelompok penduduk pindah dari kawasan tertentu, terutama dengan alasan etnisitas atau agama. Hal ini terjadi di India dan Pakistan, antara Turki dan Yunani, dan di Eropa Timur selama Perang Dunia Kedua. Kebijakan transmigrasi oleh pemerintah Indonesia selama orde baru bisa dikategorikan transfer penduduk. Perpindahan penduduk lainnya dapat pula karena imigrasi, seperti imigrasi dari Eropa ke koloni-koloni Eropa di Amerika, Afrika, Australia, dan tempat-tempat lainnya.

[sunting] Ledakan penduduk

Peta kepadatan penduduk dunia per 1994 Buku berjudul The Population Bomb (Ledakan Penduduk) pada tahun 1968 oleh Paul R. Ehrlich meramalkan adanya bencana kemanusiaan akibat terlalu banyaknya penduduk dan ledakan penduduk. Karya tersebut menggunakan argumen yang sama seperti yang dikemukakan Thomas Malthus dalam An Essay on the Principle of Population (1798), bahwa laju pertumbuhan penduduk mengikuti pertumbuhan eksponensial dan akan melampaui suplai makanan yang akan mengakibatkan kelaparan.

[sunting] Penduduk duniaArtikel utama untuk bagian ini adalah: populasi penduduk dunia Berdasarkan estimasi yang diterbitkan oleh Biro Sensus Amerika Serikat, penduduk dunia mencapai 6,5 milyar jiwa pada tanggal 26 Februari 2006 pukul 07.16 WIB. Dari sekitar 6,5 milyar penduduk dunia, 4 milyar diantaranya tinggal di Asia. Tujuh dari sepuluh negara berpenduduk terbanyak di dunia berada di Asia (meski Rusia juga terletak di Eropa). Sejalan dengan proyeksi populasi, angka ini terus bertambah dengan kecepatan yang belum ada dalam sejarah. Diperkirakan seperlima dari seluruh manusia yang pernah hidup pada enam ribu tahun terakhir, hidup pada saat ini.

Populasi dunia 1950-2000

Kecepatan pertumbuhan 1950-2000

Pada tanggal 19 Oktober 2012 pukul 03.36 WIB, jumlah penduduk dunia akan mencapai 7 milyar jiwa. Badan Kependudukan PBB menetapkan tanggal 12 Oktober 1999 sebagai tanggal dimana penduduk dunia mencapai 6 milyar jiwa, sekitar 12 tahun setelah penduduk dunia mencapai 5 milyar jiwa. Berikut adalah peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk (2005): 1. Republik Rakyat Cina (1.306.313.812 jiwa) 2. India (1.103.600.000 jiwa) 3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa) 4. Indonesia (241.973.879 jiwa) 5. Brasil (186.112.794 jiwa) 6. Pakistan (162.419.946 jiwa) 7. Bangladesh (144.319.628 jiwa) 8. Rusia (143.420.309 jiwa) 9. Nigeria (128.771.988 jiwa) 10. Jepang (127.417.244 jiwa)

[sunting] Referensi

(en) Proceedings of the United Nations Expert Meeting on World Population to 2300

Laju Pertumbuhan Penduduk Papua Tertinggi di IndonesiaRabu, 18 Agustus 2010 08:23 WIB | Peristiwa | Umum | Dibaca 1338 kali Jayapura (ANTARA News) - Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) di Provinsi Papua dalam sepuluh tahun terakhir (2000-2010) rata-rata sebesar 5,55 persen per tahun atau merupakan angka tertinggi di Indonesia. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua Djarot Soetanto di Jayapura, Rabu mengatakan, dalam sepuluh tahun terakhir, LPP Papua memang yang tertinggi di Indonesia bahkan bisa dikatakan tertinggi di dunia. "Padahal LPP secara nasional hanya tercatat 1,49 persen," jelas Djarot Soetanto. Penyebab pasti meningkat tajamnya LPP Papua belum bisa diungkapkan secara jelas, karena sampai saat ini pihaknya masih melakukan penghitungan terhadap hasil Sensus Penduduk (SP) 2010. "Namun bisa dikatakan salah satu indikatornya adalah, semakin banyaknya penduduk luar Papua yang datang di bumi Cenderawasih itu," ujarnya. Djarot Soetanto menambahkan, Kabupaten di Papua dengan LPP tertinggi adalah Kabupaten Deiyai sebanyak 18.91 persen, kemudian disusul Kabupaten Nduga (14.43 persen). "Sementara Kabupaten Mamberamo Raya merupakan kabupaten dengan LPP paling lambat di Papua yaitu sebesar 0.02 persen per tahun," terang Djarot Soetanto. Menyinggung jumlah sementara Penduduk Papua hasil SP 2010, Djarot Soetanto mengatakan, hasil penghitungan Sementara sebesar 2,8 juta jiwa, dengan penduduk Lakilaki sebesar 1.51 juta jiwa dan perempuan 1,34 juta jiwa. Ia menjelaskan, Kota Jayapura merupakan daerah terpadat penduduknya yaitu 278 jiwa/km2, disusul Kabupaten Biak (58 jiwa/km2), dan daerah yang paling jarang penduduknya adalah Kabupaten Mamberamo Raya dengan kepadatan penduduk 1 jiwa/km2. (KR-MBK/B013)

Turun, Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Rabu, 17 Maret 2010 | 01:16 WIB

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA Seorang anak menunggu orangtuanya yang mengikuti program Keluarga Berencana (KB) dengan memasang alat kontrasepsi gratis di kampung nelayan, Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (11/10). Selain mengendalikan pertumbuhan penduduk, program KB berperan mengurangi kemiskinan. TERKAIT:

Warga Pedalaman Papua Mulai Pahami Program KB Tahun 2009 Terjadi 3.231 Perceraian Di NTB Kawin Siri dan Poligami Hambat Program KB Wapres Ingatkan Pentingnya KB KB Tidak Jadi Prioritas Daerah

MAMUJU, KOMPAS.com - Program Keluarga Berencana (KB) nasional hingga akhir Desember 2009, telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,14 persen/tahun. Hal ini dikatakan Direktur Pelaporan dan Statistik Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Rachmat Santoso, di Mamuju, pada rapat kerja daerah

pembangunan kependudukan dan KB tahun 2010 di Mamuju, Selasa (16/3/2010). Menurut dia, 2010 merupakan tahun pertama pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Menegah Nasional (RPJMN) yang dijabarkan dalam strategis (Renstra) BKKBN untuk tahun 2010-2015. Ia mengatakan, beberapa indikator penting dalam RKP 2009, sehingga target pencapaian program BKKBN berhasil melampaui dari target yang ada karena partisipasi semua pihak termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri dan berbagai mitra yang telah giat melakukan gerakan untuk menyukseskan kegiatan KB tersebut. "Pencapaian peserta KB baru tahun 2009 sebesar 7,67 juta pasangan usia subur (PUS) atau 117 persen terhadap perkiraan permintaan masyarakat (RPM) sebesar 6,51 juta peserta KB baru pria termasuk peserta KB baru pria dari keluarga prasejahtera dan sejahtera sebesar 2,9 juta penduduk," jelasnya. Hal ini, kata dia, menunjukkan bahwa program KB telah menjangkau seluruh keluarga miskin yang direncanakan mendapat alat kontrasepsi gratis yang rata-rata tingkat pencapaian di seluruh provinsi melebihi seratus persen. "Tingkat pencapaian diatas rata-rata 100 persen itu menunjukkan bukti bahwa program KB dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk telah tercapai secara optimal yang harus dijalankan untuk menghindari ancaman ledakan penduduk di tanah air," ungkapnya. Berkaitan dengan partisipasi peserta KB pria, kata Rachmat, hal itu juga mulai memperlihatkan hasil yang menggembirakan yang telah mencapai angka sebesar 2,9 persen atau sedikit lebih rendah dari sasaran peserta KB aktif pria yang ditargetkan sebesar 3,6 persen. "Ini pun juga salah satu tantangan tersendiri agar tetap termotivasi bagi kaum pria agar tetap berpartisipasi dalam program KB," tuturnya. Selain itu, kata dia, salah satu jalan yang harus ditempuh adalah memberikan perhatian kepada pembinaan ketahanan keluarga melalui BKKBN karena pada hakekatnya kegiatan ini merupakan salah satu wadah pembinaan kesertaan KB sekaligus untuk mendidik keluarga agar tetap mampu membina tumbuh kembang bagi anak dan remaja dengan baik.

1 Votes Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Turun 1,14 Persen

Jurnal Nasional | Wed 17 Mar 2010 14:07:53 PROGRAM Keluarga Berencana (KB) nasional hingga akhir Desember 2009, telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,14 persen/tahun. Hal ini dikatakan Direktur Pelaporan dan Statistik Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Rachmat Santoso, di Mamuju, pada rapat kerja daerah pembangunan kependudukan dan KB tahun 2010 di Mamuju, Selasa (16/3). Menurutnya, 2010 merupakan tahun pertama pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Menegah Nasional (RPJMN) yang dijabarkan dalam strategis (Renstra) BKKBN untuk tahun 2010-2015. Ia mengatakan, beberapa indikator penting dalam RKP 2009, sehingga target pencapaian program BKKBN berhasil melampaui dari target yang ada karena partisipasi semua pihak termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri dan berbagai mitra yang telah giat melakukan gerakan untuk menyukseskan kegiatan KB tersebut. Pencapaian peserta KB baru tahun 2009 sebesar 7,67 juta pasangan usia subur (PUS) atau 117 persen terhadap perkiraan permintaan masyarakat (RPM) sebesar 6,51 juta peserta KB baru pria termasuk peserta KB baru pria dari keluarga pra sejahtera dan sejahtera sebesar 2,9 juta penduduk, katanya. Hal ini, katanya, menunjukkan bahwa program KB telah menjangkau seluruh keluarga miskin yang direncanakan mendapat alat kontrasepsi gratis yang rata-rata tingkat pencapaian di seluruh provinsi melebihi seratus persen. Tingkat pencapaian diatas rata-rata 100 persen itu menunjukkan bukti bahwa program KB dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk telah tercapai secara optimal yang harus dijalankan untuk menghindari ancaman ledakan penduduk di tanah air, katanya. (Ant) Filed under: Indikator

Menekan Laju Pertumbuhan Penduduk IndonesiaJumat, 03 September 2010 08:55Dalam pidato kenegaraan di gedung DPR RI beberapa minggu lalu, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan hasil Sensus Penduduk 2010. Menurut Presiden, jumlah penduduk Indonesia saat ini adalah sebesar 237, 6 juta jiwa. Jumlah ini bertambah 32,5 juta dari tahun 2000. Menurut Presiden, dengan jumlah penduduk tersebut, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia, setelah Tiongkok, India, dan Amerika

Serikat. Angka pertumbuhan penduduk yang besar ini menyadarkan pemerintah dan tokoh politik negeri ini untuk menggalakkan kembali program Keluarga Berencana (KB). Presiden SBY mengatakan jumlah penduduk yang semakin besar itu membawa tantangan bagi Indonesia untuk bekerja lebih keras dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan kesempatan kerja, menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, infrastruktur, dan memberikan pelayanan publik. Pemerintah berkomitmen akan mengelola pertumbuhan penduduk Indonesia secara baik. Program Keluarga Berencana untuk menciptakan keluarga sehat dan sejahtera harus benar-benar berhasil, kata SBY. Kepala BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Prof Dr Sugiri Syarief menyatakan, jumlah penduduk 237,6 juta jiwa adalah wajar karena selama masa reformasi, program KB terabaikan. Pemerintah mulai perhatian lagi terhadap program KB setelah 2007. Sugiri Syarif menambahkan, saat ini yang perlu digalakkan lagi adalah komitmen para bupati atau walikota untuk secara konsisten menjalankan UU No 52 tahun 2009 yang berisi "instruksi" untuk segera mengimplementasikan program kependudukan dan KB nasional. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional(BKKBN) juga akan meluncurkan program KB Pedesaan guna menekan jumlah penduduk. Program tersebut akan mulai diluncurkan tahun depan. Melalui program KB Pedesaan tersebut, BKKBN akan memberikan pelatihan masal kepada aparat pemerintah daerah serta kader-kadernya. Fraksi Partai Demokrat di Komisi IX DPR mengusulkan pemerintah membentuk Klinik Keharmonisan Keluarga untuk menahan laju pertumbuhan penduduk. Klinik ini nanti tidak hanya bertugas untuk membagikan alat kontrasepsi atau penyuluhan tentang KB saja. Namun, juga memberikan bimbingan tentang masalah seksualitas, kesehatan organ tubuh dan kelamin, gizi, serta pendidikan. Selain itu, klinik juga bisa memberikan fasilitas konsultasi tentang masalah-masalah rumah tangga. Kegagalan KB disebabkan karena rendahnya pengetahuan tentang kesehatan dan seksualitas, kata Subagyo Partodihardjo, anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Demokrat, beberapa waktu lalu. Subagyo optimis, bila klinik ini berjalan, laju pertumbuhan penduduk bisa diatur. Selain itu, juga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Brg-Ike(3/9)fks

Beranda Berita Artikel Publikasi & Unduh Lowongan MDGs NEWS Program Foto Taut

Kendalikan Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Pertumbuhan penduduk yang besar disertai kualitas yang rendah adalah tantangan berat yang masih dihadapi bangsa Indonesia. Hal ini disebabkan berbagai persoalan yang terjadi di dalam masyarakat, di antaranya masih tingginya penduduk miskin, tingginya angka kematian ibu dan bayi, rendahnya tingkat dan kualitas pendidikan, merebaknya berbagai penyakit menular, sering terjadinya bencana alam akibat kerusakan lingkungan hidup, serta makin merosotnya moral dan etika bangsa secara keseluruhan. Kepala Badan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief dalam berbagai kesempatan mengingatkan bahwa angka kelahiran di Indonesia masih mencapai 2,6 per tahun. Padahal, jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah sekitar 226 juta. Terkait dengan itu, para tokoh umat beragama sepakat mengambil bagian dalam mengatasi persoalan tersebut, terutama dalam persoalan kesejahteraan keluarga dan kependudukan. Demikian beberapa poin dari isi kesepakatan bersama pemuka lintas agama di Indonesia untuk mendukung pembangunan keluarga sejahtera melalui gerakan nasional pengendalian laju pertumbuhan penduduk. Kesepakatan itu ditandatangani di Jakarta, baru-baru ini. Kesepakatan bersama tersebut ditandatangani para tokoh agama-agama di Indonesia, yakni KH Said Agil Siraj dan KH Tarmidzi Taher (Islam), Pdt AA Yewangoe (Kristen), Romo Benny Susetyo Pr (Katolik), Dr Made Gde Erata (Hindu), Hartati Murdaya (Buddha), dan Ws Budi Santoso (Khonghucu) di Jakarta baru-baru ini. Para pemuka agama juga bersepakat mendeklarasikan organisasi yang disebut Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan atau Fapsedu yang difasilitasi oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Departemen Agama. "Forum ini dibuat sebagai wadah perjuangan untuk membangun masyarakat yang sejahtera melalui peningkatan kualitas keluarga. Diharapkan forum ini menjadi pionir dalam mengamalkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial masyarakat, karena tokoh agama memiliki peranan strategis dalam membangun pondasi moral bangsa Indonesia. Saya bersyukur dan mendukung adanya kesepakatan ini," tutur Said Agil. Dia mengatakan, di tengah keadaan bangsa yang menyedihkan saat ini di mana reformasi dan globalisasi yang tidak jelas, adanya kerusakan dan kemerosotan budaya yang luar biasa, kebijakan pemerintah yang makin membingungkan, masalah politik dan ekonomi

tidak karuan, maka diharapkan forum ini dapat mengisi kekurangan-kekurangan tersebut. Ke depan, ujar mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, diharapkan para pemuka agama membangun kerja sama dan meningkatkan hubungan spiritual. Menurutnya, dengan hubungan demikian, bentuk ancaman apa pun, siapa pun, dimana pun, dan kapan pun tidak dapat dikalahkan dan dihancurkan. Peran Keluarga Senada dengan itu, Romo Benny Susetyo Pr mengatakan, sangat mendukung kesepakatan ini, karena keluarga merupakan sokoguru dalam membangun umat yang berkualitas dan memiliki martabat. Menurutnya, tidak akan tercipta suatu bangsa yang bermartabat jika keluarga tidak sehat dan kehidupan keluarga tersebut serba kekurangan. "Keluarga juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam menghadapi keadaan global saat ini. Kami berharap, kesepakatan ini bukan hanya di atas kertas tapi dengan tindakan nyata dari semua pihak untuk mengimplementasikannya," ucap Romo Benny. Sementara itu, tokoh Khonghucu, Budi Santoso, mengatakan, menekan laju penduduk tidak bisa dilepaskan dari program Keluarga Berencana (KB). Menurutnya, anak bukan hanya sebagai penerus keturunan dan pemenuhan kebutuhan biologis, namun merupakan tanggung jawab moral terhadap anak dan Tuhan, oleh karena itu pihaknya mendukung kesepakatan ini. Untuk mengatasi berbagai permasalahan yang ada, para pemuka mengajak seluruh otoritas agama untuk berperan lebih efektif dan aktif dalam mengimplementasikan kesepakatan tersebut melalui rencana dan aksi yang dilakukan di lingkungan agama masing-masing. Laju pertumbuhan penduduk harus dikendalikan, dan keluarga harus disejahterakan. [DMF/M-16]Sumber: Suara Pembaruan, www.suarapembaruan.com

Laju Pertumbuhan Penduduk Indonesia Turun 1,14 Persen Jurnal Nasional | Wed 17 Mar 2010 14:07:53 PROGRAM Keluarga Berencana (KB) nasional hingga akhir Desember 2009, telah berhasil menurunkan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1,14 persen/tahun.

Hal ini dikatakan Direktur Pelaporan dan Statistik Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat, Rachmat Santoso, di Mamuju, pada rapat kerja daerah pembangunan kependudukan dan KB tahun 2010 di Mamuju, Selasa (16/3). Menurutnya, 2010 merupakan tahun pertama pelaksanaan Rencana Jangka Panjang Menegah Nasional (RPJMN) yang dijabarkan dalam strategis (Renstra) BKKBN untuk tahun 2010-2015. Ia mengatakan, beberapa indikator penting dalam RKP 2009, sehingga target pencapaian program BKKBN berhasil melampaui dari target yang ada karena partisipasi semua pihak termasuk pemerintah daerah, TNI, Polri dan berbagai mitra yang telah giat melakukan gerakan untuk menyukseskan kegiatan KB tersebut. Pencapaian peserta KB baru tahun 2009 sebesar 7,67 juta pasangan usia subur (PUS) atau 117 persen terhadap perkiraan permintaan masyarakat (RPM) sebesar 6,51 juta peserta KB baru pria termasuk peserta KB baru pria dari keluarga pra sejahtera dan sejahtera sebesar 2,9 juta penduduk, katanya. Hal ini, katanya, menunjukkan bahwa program KB telah menjangkau seluruh keluarga miskin yang direncanakan mendapat alat kontrasepsi gratis yang rata-rata tingkat pencapaian di seluruh provinsi melebihi seratus persen. Tingkat pencapaian diatas rata-rata 100 persen itu menunjukkan bukti bahwa program KB dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk telah tercapai secara optimal yang harus dijalankan untuk menghindari ancaman ledakan penduduk di tanah air, katanya. (Ant)

BPS: Jumlah Penduduk NTB 4,4 Juta JiwaDitulis oleh Blog Berita Terkini pada 03/09/2010 di Nasional | 0 Komentar

BPS: Jumlah Penduduk NTB 4,4 Juta Jiwa Mataram (ANTARA) Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat mencatat jumlah sementara penduduk di wilayah itu mencapai 4,4 juta jiwa, yang terdiri atas 2,1 juta lakilaki dan 2,3 juta perempuan. Dari total jumlah penduduk tersebut, sebanyak 70,42 persen tersebar di Pulau Lombok, sedangkan di Pulau Sumbawa sebesar 29,58 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB) H Soegarenda di Mataram, Jumat. Dari hasil Sensus Penduduk (SP) 2010, kata dia, kabupaten/kota di NTB yang memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu Kabupaten Lombok Timur sebanyak 1.1 juta jiwa lebih, disusul Kabupaten Lombok Tengah 859.309 jiwa, Lombok Barat 306.486 jiwa. Selanjutnya Kabupaten Bima sebanyak 438.522 jiwa, Sumbawa 415.363 jiwa, Kota Mataram 402.296 jiwa, Kabupaten Dompu 218.984 jiwa, Lombok Utara 199.904 jiwa, Kota Bima 142.443 jiwa dan Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 114.754 jiwa. Soegarenda menambahkan, tingkat kepadatan penduduk rata-rata di NTB yang memiliki luas wilayah sekitar 20.153,15 kilometer persegi, yakni sebanyak 223 orang per kilometer persegi. Kabupaten/kota yang paling tinggi tingkat kepadatan penduduknya adalah Kota Mataram yakni sebanyak 6.563 orang per kilometer persegi, sedangkan yang paling rendah adalah Kabupaten Sumbawa Barat sebanyak 62 orang per kilometer persegi, katanya. Ia menjelaskan, laju pertumbuhan penduduk NTB per tahun selama sepuluh tahun terakhir 2000-2010 sebesar 1,17 persen. Laju pertumbuhan penduduk Pulau Sumbawa mencapai 1,29 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk di Pulau Lombok yang mencapai 1,10 persen. Laju pertumbuhan penduduk tertinggi terjadi di Kabupaten Sumbawa Barat yakni sebesar 2,71 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Lombok Timur 0,78 persen.

Meskipun Kabupaten Lombok Timur memiliki jumlah penduduk paling banyak di NTB, tapi laju pertumbuhan penduduknya paling rendah dibandingkan dengan sembilan kabupaten/lainnya, katanya. Berdasarkan hasil sementara SP2010, kata Soegarenda, sex ratio penduduk NTB sebesar 94,11 persen. Artinya, jumlah penduduk perempuan enam persen lebih banyak dibandingkan dengan penduduk laki-laki, atau dengan kata lain dari 100 penduduk perempuan terdapat sekitar 94 penduduk laki-laki. Sex ratio tertinggi di Kabupaten Sumbawa yakni sebesar 103,70 persen dan terkecil di Kabupaten Lombok Timur sebesar 86,98 persen, katanya. SP2010, kata dia, juga mendata jumlah rumah tangga di NTB, yang mencapai 1,2 juta lebih rumah tangga. Dengan jumlah penduduk NTB sebanyak 4,4 juta jiwa lebih, rata-rata anggota rumah tangga mencapai 3,59 orang. Artinya banyaknya penduduk yang menempati satu rumah tangga di NTB rata-rata sebanyak 3,59 orang. Rata-rata anggota rumah tangga di setiap kabupaten/kota berkisar antara 3,35 orang yang terdapat di Kabupaten Lombok Tengah, sampai 4,13 orang yang terdapat di Kabupaten Dompu. Penyelenggaraan SP2010 merupakan hajat besar bangsa yang hasilnya sangat penting. Salah satu di antaranya untuk menyusun perencanaan pembangunan, kata Soegarenda.

Presiden: Jumlah Penduduk Indonesia 237,6 Juta JiwaDitulis oleh Blog Berita Terkini pada 16/08/2010 di Nasional | 0 Komentar

Jakarta (ANTARA) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengungkapkan, jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 mencapai 237,6 juta jiwa atau bertambah 32,5 juta dari tahun 2000. Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, katanya saat menyampaikan Pidato Kenegaraan dalam rangka HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI di depan Sidang Bersama DPR dan DPD di Gedung MPR/DPR Jakarta, Senin. Presiden mengatakan, jumlah penduduk yang makin besar tersebut tentunya membawa tantangan untuk bekerja lebih keras meningkatkan kesejahteraan rakyat, menciptakan kesempatan kerja, menghilangkan kemiskinan, meningkatkan pendidikan dan kesehatan, meningkatkan infrastruktur, dan memberikan pelayanan publik. Kita harus bekerja lebih keras mencapai sasaran Millennium Development Goals (MDGs) yang telah disepakati, mengelola pertumbuhan penduduk, dan harus benar-benar berhasil menciptakan keluarga sehat dan sejahtera melalui program keluarga berencana, ujarnya. Ia mengatakan, melalui anggaran yang berkelanjutan, dalam lima tahun ke depan sampai 2014, pemerintah menyediakan dana Rp100 triliun atau Rp20 triliun setiap tahunnya bagi program kredit usaha rakyat (KUR). Kita berharap, kebijakan ini dapat menjadi langkah terobosan yang secara fundmental dapat menurunkan kemiskinan, katanya. Presiden mengatakan, pada 2014 pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi mencapai target sebesar 7-7,7 persen, penciptaan 10,7 juta lapangan kerja baru, dan menurunkan tingkat kemiskinan menjadi sekitar 8-10 persen. Target tersebut, tambahnya, dapat tercapai dengan meningkatkan investasi baik lokal maupun asing. Kita akan berikan jaminan kepada investor memperoleh kemudahan. Kita harus memastikan bahwa investasi itu dapat menggerakkan perekonomian nasional yang mampu menyejahterakan rakyat kita, ujarnya. Presiden juga mengatakan, pemerintah akan melakukan upaya percepatan penyerapan anggaran terutama melalui penyeimbangan rasio di antara anggaran rutin dan pembangunan. Penyerapan APBN dan APBD akan lebih ditujukan bagi stimulus pertumbuhan seperti infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat dan bukan pada biaya rutin, biaya administrasi, dan belanja barang yang kurang produktif.

www.google.com/publicdata

id.wikipedia.org/wiki/Penduduk - Tembolok - Mirip

www.antaranews.com/.../laju-pertumbuhan-penduduk-papua-tertinggi-di-indonesia Tembolok

nasional.kompas.com/.../Turun..Laju.Pertumbuhan.Penduduk.Indonesia. - Tembolo wartawarga.gunadarma.ac.id/.../laju-pertumbuhan-penduduk-indonesia-per-tahun/

indonesiacompanynews.wordpress.com/.../laju-pertumbuhan-penduduk-indonesiaturun-114-persen/ - Tembolok