Na Pasar Tradisional

Click here to load reader

  • date post

    12-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    7
  • download

    0

Embed Size (px)

description

naskah akademik fh unsur

Transcript of Na Pasar Tradisional

  • 11

    NASKAH AKADEMIK RAPERDA KABUPATEN CIANJUR

    RAPERDA TENTANG

    Pasar tradisional

    FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SURYAKANCANA CIANJURTAHUN 2011

    JL. Pasir Gede Raya Telp. (0263) 262773 Fax. (0263) 262773 Cianjur43216

  • 22

    BAB IPENDAHULUAN

    A. Latar Belakang.1. Landasan Filosifis.

    Indonesia adalah negara berdasarkan atas hukum. Menurut

    Soedjono Dirdjosisworo yang mengutip Theory of Legislation JeremyBentham menekankan bahwa hukum harus bermanfaat.1 Bagir Mananmenyatakan agar dalam pembentukan undang-undang dapat

    menghasilkan suatu undang-undang yang tangguh dan berkualitas,

    undang-undang tersebut harus berlandaskan pada pertama landasan

    yuridis (juridische gelding); kedua landasan sosiologis (sociologische

    gelding); ketiga landasan filosofis (philosophical gelding).2

    Dalam menghadirkan hukum yang berkualitas tersebut perlu

    dipahami politik hukum nasional yang mempengaruhi sistem hukum

    nasional seperti yang diisyaratkan Philippe Nonet dan Philip Selznickdalam bukunya Law and Society in Transition : Toward Responsive Law,

    politik hukum nasional bertujuan menciptakan sebuah sistem hukum

    nasional yang rasional, transparan, demokratis, otonom, dan responsif

    terhadap perkembangan aspirasi dan ekspektasi masyarakat, bukan

    sebuah sistem hukum yang bersifat menindas, ortodoks, dan

    reduksionistik.3

    Pembentukan peraturan perundang-undangan, haruslah mengacu

    pada landasan pembentukan peraturan perundang-undangan atau ilmu

    perundang-undangan (gesetzgebungslehre), yang diantaranya landasan

    yuridis. Setiap produk hukum, haruslah mempunyai dasar berlaku secara

    yuridis (juridische gelding). Dasar yuridis ini sangat penting dalam

    1 Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, Rajagrapindo Persada, Jakarta 2009, hlm.13

    2 Bagir Manan, Dasar-dasar Konstitusional Peraturan Perundang-undangan Nasional, FakultasHukum Universitas Andalas, Padang, 1994, hlm. 13-21

    3 Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1984, hlm. 49

  • 33

    pembuatan peraturan perundang-undangan khususnya Peraturan

    Daerah.4

    Peraturan Daerah merupakan salah satu unsur produk hukum,

    maka prinsip-prinsip pembentukan, pemberlakuan dan penegakannya

    harus mengandung nilai-nilai hukum pada umumnya. Berbeda dengan

    niali-nilai sosial lainya, sifat kodratinya dari nilai hukum adalah mengikat

    secara umum dan ada pertanggungjawaban konkrit yang berupa sanksi

    duniawi ketika nilai hukum tersebut dilanggar.

    Oleh karena itu Peraturan Daerah merupakan salah satu produk

    hukum, harus dapat mengikat secara umum dan memiliki efektivitas dalam

    hal pengenaan sanksi. Dalam pembentukan Peraturan Daerah sesuai

    pendapat Bagir Manan harus memperhatikan beberapa persyaratanyuridis. Persyaratan seperti inilah yang dapat dipergunakan sebagai

    landasan yuridis, yang dimaksud disini adalah :

    a. Dibuat atau dibentuk oleh organ yang berwenang, artinya suatu

    peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh pejabat atau badan

    yang mempunyai kewenangan untuk itu. Dengan konsekuensi apabila

    tidak diindahkan persyaratan ini, maka konsekuensinya undang-undang

    tersebut batal demi hukum (van rechtswegenietig).

    b. Adanya kesesuaian bentuk/jenis peraturan perundang-undangan

    dengan materi muatan yang akan di atur, artinya ketidaksesuaian

    bentuk/jenis dapat menjadi alasan untuk membatalkan peraturan

    perundang-undangan yang dimaksud.

    c. Adanya prosedur dan tata cara pembentukan yang telah ditentukan

    adalah pembentukan suatu peraturan perundang-undangan harus

    melalui prosedur dan tata cara yang telah ditentukan.5

    4 Hamzah Halim dan Kemal Redindo Syahrul Putera, Cara Praktis Menyusun & MerancangPeraturan Daerah; Suatu Kajian Teoritis & Praktis Disertai Manual; Konsepsi Teoritis MenujuArtikulasi Empiris, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010, Hlm. 23; Krems,mengatakan gesetzgebungslehre mempunyai tiga sub bagian disiplin, yakni prosesperundang-undangan gesetzgebungsverfahren (slehre); metode perundang-undangangesetzgebungsmethode (nlehre); dan teknik perundang-undangan gesetzgebungstechnik(lehre).

  • 44

    d. Tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang

    lebih tinggi tingkatannnya adalah sesuai dengan pandangan stufenbau

    theory, peraturan perundang-undangan mengandung norma-norma

    hukum yang sifatnya hirarkhis. Artinya suatu peraturan perundang-

    undangan yang lebih tinggi tingkatannya merupakan grundnorm (norma

    dasar) bagi peraturan perundang-undangan yang lebih rendah

    tingkatannya.6

    Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan di atas, dapat diketahui

    bahwa landasan yuridis merupakan ketentuan hukum yang menjadi

    sumber hukum/dasar hukum untuk pembentukan suatu peraturan

    perundang-undangan, demikian juga Peraturan Daerah. Seperti landasan

    yuridis dibuatnya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang

    Pemerintahan Daerah , dan Pasal 18 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

    Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 menjadi landasan yuridis

    dibentuknya Peraturan Daerah yang menjabarkan undang-undang

    tersebut.

    Selanjutnya A.Mukhtie Fadjar menyatakan bahwa negara hukumialah negara yang susunannya di atur dengan sebaik-baiknya dalam

    undang-undang, sehingga segala kekuasaan dari alat-alat

    pemerintahannya didasarkan pada hukum.7 Rakyat tidak boleh bertindak

    secara sendiri-sendiri menurut kemampuannya yang bertentangan dengan

    hukum. Negara hukum itu ialah negara yang diperintah bukan oleh orang-

    orang tetapi oleh undang-undang (the states not governed by men, but by

    law).

    Sesuai dengan amanat UUD 1945 dan Pancasila, penyelenggaraan

    pemerintahan negara didasarkan dan di atur menurut ketentuan-ketentuan

    konstitusi, maupun ketentuan hukum lainnya, yaitu undang-undang,

    peraturan pemerintah, peraturan daerah, maupun ketentuan-ketentuan

    5 Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945 dan lihat pula Pasal 136 Ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 tentangPemerintahan Daerah.

    6 Bagir Manan, Op Cit, Hlm. 14-157 A. Mukhtie Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, 2005, hlm. 7

  • 55

    hukum lainnya yang ditentukan secara demokratis dan konstitusional.8 Hal

    ini mengandung makna bahwa penyelenggaraan pemerintahan negara

    dilakukan melalui berbagai kebijakan pemerintahan negara senantiasa

    didasarkan dan dicernakan melalui ketetapan-ketetapan hukum yang

    dikelola secara demokratis.

    Menurut Sri Soemantri bahwa Demokrasi mempunyai dua macampengertian yaitu formal dan material. Realisasi pelaksanaan Demokrasi

    dalam arti formal, yaitu terlihat dalam UUD 1945 yang menganut faham

    indirect democracy, yaitu suatu demokrasi dimana pelaksanaan

    kedaulatan rakyat tidak dilaksanakan oleh rakyat secara langsung

    melainkan melalui lembaga-lembaga perwakilan rakyat, seperti Dewan

    Perwakilan Rakyat (DPR), Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan

    Dewan Perwakilan Daerah (DPD); dan demokrasi dalam arti pandangan

    hidup atau demokrasi sebagai falsafah bangsa (democracy in

    philosophy).9 Dalam sistem demokrasi semua perubahan tatanan sosial

    dalam kontek demokrasi, harus didasari oleh landasan normatif maka

    melalui Law making process sebagai salah satu tugas parlemen.10

    8 Surachmin, 225 Asas Dan Prinsip Hukum Serta Penyelenggaraan Negara, Yayasan GemaYustisia Indonesia, Jakarta, hlm. 14 15.

    9 Sri Soemantri, Perbandingan Antar Hukum Tata Negara, Alumni, Bandung, 1971, hlm. 2610 Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jilid II, Sekretariat Jenderal

    Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2006, hlm. 170-174 dan 240; Landasankeberlakuan dari undang-undang harus terpancar dari konsideran yang terdiri dari : Pertama,landasan filosofis undang-undang selalu mengandung norma-norma hukum yang diidealkan(ideal norms) oleh suatu masyarakat kearah norma cita-cita luhur kehidupan bermasyarakatbernegara hendak diarahkan; Kedua, landasan sosiologis bahwa setiap norma hukum yangdituangkan dalam undang-undang haruslah mencerminkan tuntutan kebutuhan masyarakatsendiri akan norma hukum yang sesuai dengan realitas kesadaran hukum masyarakat;Ketiga, landasan politis bahwa dalam konsideran harus pula tergambar adanya sistemrujukan konstitusional menurut cita-cita dan norma dasar yang terkandung dalam UUD 1945sebagai sumber kebijakan pokok atau sumber politik hukum yang melandasi pembentukanundang-undang yang bersangkutan; Keempat, landasan yuridis dalam perumusan setiapundang-undang landasan yuridis ini haruslah ditempatkan pada bagian konsideranMengingat; Kelima, landasan administratif dasar ini bersifat faktual (sesuai kebutuhan),dalam pengertian tidak semua undang-undang mencerminkan landasan ini, dalam teknispembentukan undang-undang, biasanya landasan ini dimasukan dalam konsideranMemperhatikan, landasan ini berisi pencantuman rujukan dalam hal adanya perintahuntuk mengatur secara administratif.

  • 66

    Penyelenggaraan negara yang demokratis dilaksanakan dengan

    mengutamakan keseimbangan antara tugas, wewenang, tanggung jawab,

    dan kewajiban, dalam mengurus dan menjalankan pemerintahan. Secara

    teoritis sistem pemerintahan ini dikenal dengan sistem desentralisasi,

    yang mengandung dua unsur pokok yaitu terbentuknya daerah otonom

    dan otonomi daerah.

    Pembentukan daerah yang otonom melahirkan status otonomi yang

    didasarkan pada aspirasi dan kondisi objektif dari masyarakat di

    daerah/wilayah tertentu, yang kemudian menjelma menjadi pemerintahan

    di daerah. Pemerintahan Daerah dapat mengatur dan mengurus sendiri

    urusan pe