Mx Magazine 8 - 13 Feb.pdf

download Mx Magazine 8 - 13 Feb.pdf

of 6

  • date post

    17-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    11
  • download

    0

Embed Size (px)

description

majalah mesin

Transcript of Mx Magazine 8 - 13 Feb.pdf

  • 13/02

  • Dikdasmen, Dikti, RistekSebuah Terobosan dalam Kancah Pendidikan dan Teknologi

    Oleh: Coby Saputra & Adi Widya

    Pencerminan Aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi

    Penggabungan Dikti dengan Ristek bertujuan utama untuk memberikan ruang lebih dalam koordinasi antara pendidikan tinggi dengan bidang riset dan teknologi. Kementerian baru yang diperkirakan mulai bekerja efektif akhir tahun 2014 ini diharapkan dapat meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih lagi perguruan tinggi merupakan institusi yang tidak pernah terlepas dari kegiatan riset. Hal ini dicerminkan dalam Tri Dharma perguruan tinggi yang salah satu isinya mengandung nilai penelitian (riset). Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPII, Laksono Tri Handoko, sejumlah negara, salah satunya adalah Jerman, telah melakukan penggabungan antara bidang pendidikan dan riset agar diurus oleh satu kementerian. Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengatakan bahwa perguruan tinggi harus bersama-sama dengan riset untuk mengembangkan teknologi.

    Tujuan lain dipisahkannya Dikti dari Kemendikbud adalah agar Kemenbuddikdasmen dapat fokus pada

    Pada kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dilantik bulan Oktober tahun 2014 terjadi perombakan susunan kementerian, termasuk pada bidang pendidikan. Presiden terpilih memutuskan untuk mengoper Dikti (Pendidikan Tinggi) dari Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Budaya) ke Kemenristek (Kementrian Riset dan Teknologi), sehingga muncul dua kementerian dengan nama baru yakni Kemenbuddikdasmen (Kementrian Budaya Pendidikan Dasar dan Menengah) dan Kementrian Ristek-Dikti.

    Keputusan untuk reorganisasi ini tentu terjadi bukan tanpa alasan dan pertimbangan yang matang. Namun, apakah reorganisasi ini akan memperbaiki kualitas pendidikan dan ristek di Indonesia?

  • pembentukan dasar karakter bangsa melalui pendidikan dasar dan menengah. Pendidikan 12 tahun tersebut merupakan tahap penting dalam pembentukan fondasi intelektual dan moral generasi muda. Menurut Prof. Dr. Soedijarto, pemisahan Dikti dengan Dikdasmen bukan suatu masalah asal kedua kementrian tersebut mendapat dukungan, seperti alokasi dana.

    Pakar Anggaran Terpilih Sebagai Menteri

    Pada bulan Oktober tahun 2014, M. Nasir dilantik sebagai Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk Kabinet Kerja 2014-2019. Beliau adalah pakar anggaran dari Universitas Diponegoro. Hal ini dinilai tepat oleh beberapa orang, karena salah satu masalah umum dalam kementrian adalah pengelolaan anggaran.

    Sebelum dipilih menjadi menteri, beliau ditunjuk sebagai Rektor Universitas Diponegoro dan baru akan menjalankan tugasnya 18 Desember mendatang. Sebagai rektor, pria kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini bercita-cita membuat universitasnya berkembang sebagai perguruan tinggi yang berbasis riset. Beliau juga berkeinginan untuk membentuk komunitas peneliti mahasiswa. M. Nasir memiliki gelar doktorat dari University of Science di Penang, Malaysia. Sebelumnya beliau juga menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro (S-1) dan Universitas Gajah Mada (S-2). Berbeda dengan periode-periode sebelumnya, menteri yang menangani riset dan teknologi ini memiliki latar belakang di bidang ekonomi dan berpengalaman sebagai pakar anggaran.

    Pro dan Kontra

    Berbagai opini muncul terkait perubahan struktur kementerian ini. Penggabungan Dikti dan Ristek dalam satu kementerian dianggap dapat semakin memajukan pengembangan teknologi di Indonesia. Kementerian akan memiliki akses langsung ke perguruan tinggi dengan SDM serta fasilitas riset yang memadai, sehingga riset-riset yang lebih besar dapat dilaksanakan guna meningkatkan daya saing industri teknologi Indonesia.

    Tidak sedikit pula yang menyangsikan perubahan ini. Perubahan ini dikhawatirkan beberapa pihak akan membuat Perguruan Tinggi terlalu memfokuskan diri pada aspek ristek dan mengabaikan dua aspek Tri Dharma Perguruan Tinggi yang lain, yakni pendidikan dan pengabdian masyarakat. Penggabungan Dikti dan Ristek dalam satu kementerian

    juga dianggap tidak tepat sasaran untuk dapat menjamin kemajuan dan menjawab permasalahan di bidang riset, yaitu keterbatasan dana.

    Pemisahan kelembagaan itu tidak akan membawa perubahan signifikan terhadap relasi antara perguruan tinggi dan industri karena masing-masing akan berjalan menurut iramanya sendiri, tambah Darmaningtyas, seorang pengamat pendidikan. Menurutnya, yang terjadi pada ristek lebih ke soal politik, bukan kelembagaan. Beliau juga mengkhawatirkan dengan adanya penggabungan tersebut akan terjadi pendangkalan dan pragmatisme perguruan tinggi. Sebab, universitas didirikan bukan sekadar untuk memasok tenaga kerja industri.

    Perubahaan dalam kementerian terkait pendidikan dan ristek teknologi ini tentunya tidak terlepas dari visi Presiden Jokowi yang ingin melakukan optimalisasi pemanfaatan teknologi dalam berbagai masalah nasional. Dari pro dan kontra yang muncul, tercapainya semua tujuan di atas sangat bergantung pada usaha pemerintah dalam memanfaatkan keadaan yang ada untuk mencapai hasil yang lebih baik. Bagaimana kerjasama Dikti dan Ristek dapat meningkatkan potensi penelitian, bagaimana anggaran harus bisa diatur seefektif mungkin, dan bagaimana kinerja kementerian akan sangat mempengaruhi keberhasilan reorganisasi ini. Kita sebagai rakyat Indonesia harus selalu memberikan dukungan serta kritik dan saran dalam keberjalanannya. Jika dalam 5 tahun ke depan membuahkan hasil yang positif, bukankah ini adalah sebuah kesuksesan untuk kita bersama?

    Referensi:http://sains.kompas.com/read/2014/10/26/20101931/M.Nasir.Sosok.yang.Diculik.Jokowi.Jadi.Menteri.Ristek.dan.Diktihttp://www.republika.co.id/berita/koran/didaktika/14/09/10/nbobga28-evaluasi-diktikemenristekhttp://palingaktual.com/1131622/pemisahan-kemendikbud-amp-dikti-tak-menjadi-masalah/read/http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20141027132053-199-8301/penggabungan-ristek-dan-dikti-dinilai-tepat/

  • Bagaimana seorang insinyur bisa beralih profesi menjadi businessman? Mx Magazine memiliki kesempatan untuk berbincang lebih jauh men-genai motivasi dan peluang menjadi pengusaha pada bidang teknik di dunia industri dengan Pak Rudy Andriya-na, salah satu founder PT Daun Biru Engineering. Perlu diketahui, PT Daun Biru Engineering adalah perusahaan yang berfokus pada jasa Predictive Maintenance. Selain itu, PT Daun Biru Engineering juga menyediakan jasa pada bidang Performance Analysis, Vibration Analysis, Thermodynamics Analysis, Advanced System Trouble-shooting. Ditemui di kediamannya pada bulan November tahun 2014 kemarin, alumnus Teknik Mesin ITB angkatan 1994 ini tidak keberatan untuk berbagi cerita dan tipsnya kepada kami.

    Memang seberapa pentingkah pre-dictive maintenance di dunia industri? Predictive maintenance adalah jenis perawatan mesin dengan cara mem-perhatikan perilaku-perilaku khusus yang ditunjukkan mesin seperti tingkat getaran, temperatur, cairan pelumas, dan lain-lain. Tentu hal ini berkaitan erat dengan kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang menjadi klien PT Daun Biru Engineer-ing. Dengan kegiatan ini, kerusakan tak terduga yang terjadi pada mesin-mesin di suatu industri dapat diperkirakan dengan baik sehingga perubahan per-encanaan produksi bisa direncanakan jauh-jauh hari demi menekan kerugian sebesar mungkin. Sebagai gambaran, bila terjadi kegagalan pada kegiatan produksi, dalam satu periode, peru-sahaan klien kami bisa rugi 23 Milyar. Sedangkan dengan menggunakan jasa kami, waktu itu kami dibayar 1,8 Milyar yang notabene hanya 10 persen dari potensi kerugian yang dapat terjadi, ujar beliau dengan raut wajah ramah.

    Keinginan beliau untuk menjadi pen-gusaha terinspirasi oleh Bapak beliau yang berprofesi sebagai pedagang. Dengan berbisnis, memberi kesem-patan untuk punya waktu kapanpun, jam berapapun, di manapun masyar-akat membutuhkan dia ujar beliau. Keinginan ini bertambah saat beliau diajak oleh Bapak Djoko Suharto (salah satu dosen KK Perancangan) untuk melihat Aeromovel hasil rancangan alumnus Teknik Mesin angkatan 1983, Bapak Ontoseno, di Taman Mini Indo-nesia Indah dalam rangkaian kuliah lap-angan bersama teman-teman kuliah. Alih-alih memahami bagaimana produk

    PAK RUDY ANDRIYANA, BUSINESSMAN DUNIA TEKNIK

    Oleh: M Rifky Akbar, Niken NTMV, & Ika K

  • tersebut dirancang beserta cara kerjanya, Pak Rudy, demikian beliau akrab disapa, berpikir Enak berbisnis ya, bukan teknologinya.

    Begitu lulus dari perguruan tinggi, beliau tidak langsung mendirikan perusahaan. Pria yang pernah menjadi ketua TPB Games ini bekerja di perusahaan orang lain terlebih da-hulu untuk menimba pengalaman dan mem-pelajari sistem sebuah perusahaan. Setelah bekerja selama empat tahun, walaupun telah berpangkat direksi, beliau memutuskan untuk resign dari perusahaan tersebut demi mewujudkan cita-citanya menjadi pengusaha. Akhirnya, dengan bermodalkan uang pinja-man dari teman kuliah, pada November 2004 beliau mendirikan perusahaan penyedia jasa perawatan mesin serta pembangkit energi terbarukan, PT Daun Biru Engineering, bersa-ma senior kuliahnya, Bapak Furqon.

    Empat tahun pengalaman bekerja di peru-sahaan orang lain rupanya tidak menjamin kelancaran bisinis Pak Rudy. Selama setahun saya pontang-panting naik motor keliling Jakarta. Anak-anak saya titipkan dulu ke istri, dia kan juga bekerja., kenang beliau. Bahkan selama periode itu pendapatan yang diperoleh Pak Rudy hanya cukup untuk biaya operasional. Karena gaji yang kecil, pendap-atan karyawan pun masih underpaid, lanjut beliau. Barulah selama setahun setelah cash-flow perusahaan lancar, keadaan ekonomi beliau menjadi lebih stabil.

    Selama 10 tahun lebih PT Daun Biru Engineering berdiri, perusahaan ini telah ber-pengalaman menangani proyek-proyek terkait perawatan mesin berbasis prediksi. Dengan semangat para pendirinya untuk