MP3EI Dan Eksploitasi Masif Rakyat Pekerja Indonesia

download MP3EI Dan Eksploitasi Masif Rakyat Pekerja Indonesia

of 13

Embed Size (px)

description

MP3EI telah resmi dicanangkan sebagai inisiatif rezim SBY-Boediono untuk melakukantransformasi ekonomi politik Indonesia. Diharapkan, MP3EI dapat mendorong pertumbuhantinggi serta menciptakan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Bagi rezim SBYBoedionosendiri, MP3EI bukanlah satu proyeksi pembangunan yang bersifat business as usual(bisnis seperti biasa). MP3EI adalah upaya radikal Negara untuk mendorong pertumbuhanekonomi nasional. Tidak heran jika MP3EI adalah sebuah proyeksi pembangunan yang palingambisius dalam rentang waktu 2011-2025 untuk menciptakan Indonesia sebagai salah satuNegara ekonomi maju di Dunia.

Transcript of MP3EI Dan Eksploitasi Masif Rakyat Pekerja Indonesia

  • MP3EI dan Eksploitasi Masif Rakyat Pekerja Indonesia Oleh: Muhammad Ridha, Partai Rakyat Pekerja (PRP)

    MP3EI telah resmi dicanangkan sebagai inisiatif rezim SBY-Boediono untuk melakukan transformasi ekonomi politik Indonesia. Diharapkan, MP3EI dapat mendorong pertumbuhan tinggi serta menciptakan kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. Bagi rezim SBY-Boediono sendiri, MP3EI bukanlah satu proyeksi pembangunan yang bersifat business as usual (bisnis seperti biasa). MP3EI adalah upaya radikal Negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tidak heran jika MP3EI adalah sebuah proyeksi pembangunan yang paling ambisius dalam rentang waktu 2011-2025 untuk menciptakan Indonesia sebagai salah satu Negara ekonomi maju di Dunia.

    Walau terdengar mengesankan, satu yang pasti mengenai MP3EI adalah bahwa inisiatif ini tidak lebih sebagai upaya intensifikasi serta ekstensifikasi relasi ekonomi politik kapitalisme yang telah beroperasi lama dalam Negara Indonesia. Konsekuensi logis dari relasi ekonomi politik kapitalisme adalah kontradiksi internal antara kelas-kelas social dalam upaya mengapropriasi keuntungan yang dihasilkan selama proses produksi kapitalisme itu sendiri. Untuk itu saya akan berargumen bahwa dalam hal ini, MP3EI sebagai suatu inisiatif pembangunan nasional hanya akan melayani segelintir kelas social di Indonesia sembari mengekslusi kepentingan mayoritas rakyat Indonesia yang merupakan rakyat pekerja. Suatu hal yang tentu saja bertentangan dengan semangat dasar UUD 45 yang mengharapkan satu bentuk pembangunan yang menyejahterakan semua kalangan masyarakat.

    Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, makalah ini akan mempresentasikan bagaimana MP3EI adalah suatu mekanisme ekonomi politik kapitalisme Indonesia untuk memperluas serta memperdalam eksploitasi kekuatan produktif rakyatnya. Eksploitasi massif atas kekuatan produksi rakyat ini akan menciptakan banyak problem social ekonomi yang akan semakin memperdalam kontradiksi dalam relasi ekonomi politiknya. Tidak heran jika bagi saya, MP3EI hanya akan menciptakan masalah baru bagi struktur ekonomi politik nasional.

    MP3EI sebagai Konektifitas Spasial Ekonomi Nasional

    Ide dasar pembangunan dalam MP3EI adalah mengenai pembangunan infrastruktur dengan menciptakan keterhubungan (konektivitas) antar wilayah di Indonesia. hal ini dilakukan dengan Merealisasikan sistem yang terintegrasi antara logistik nasional, sistem transportasi nasional, pengembangan wilayah, dan sistem komunikasi dan informasi; Identifikasi simpul-simpul transportasi (transportation hubs) dan distribution centers untuk memfasilitasi kebutuhan logistik bagi komoditi utama dan penunjang; Penguatan konektivitas intra dan antar koridor dan konektivitas internasional (global connectivity); Peningkatan jaringan komunikasi dan teknologi informasi untuk memfasilitasi seluruh aktifitas ekonomi, aktivitas pemerintahan, dan sektor pendidikan nasional.

    Konektivitas ini bukan berarti tanpa dasar. Terdapat enam koridor ekonomi dalam MP3EI adalah yang menjadi prakondisi spasial yang harus dihubungkan antara satu dengan yang lain. Dalam hal ini Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dilakukan dengan mengembangkan klaster industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pengembangan pusat-

  • pusat pertumbuhan tersebut disertai dengan penguatan konektivitas antar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan antara pusat pertumbuhan ekonomi dengan lokasi kegiatan ekonomi serta infrastruktur pendukungnya. Secara keseluruhan, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan konektivitas tersebut diharapkan menciptakan Koridor Ekonomi Indonesia. Pemerintah untuk itu dapat memberikan perlakuan khusus untuk mendukung pembangunan pusat-pusat tersebut, khususnya yang berlokasi di luar Jawa, terutama kepada dunia usaha yang bersedia membiayai pembangunan sarana pendukung dan infrastruktur. Adapun enam koridor ini meliputi:

    1. Koridor Ekonomi Sumatera, sebagai sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung energy nasional.

    2. Koridor ekonomi Jawa, sebagai pendorong industry dan jasa nasional. 3. Koridor Ekonomi Kalimantan, sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan

    lumbung energy nasional. 4. Koridor Ekonomi Sulawesi, sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian,

    perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional. 5. Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara, sebagai pintu gerbang pariwisata dan pendukung

    pangan nasional. 6. Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku, sebagai pusat pengembangan pangan,

    perikanan, energy, dan pertambangan nasional.

    Tabel 1. Peta Enam Koridor MP3EI

    Adapun tujuan pemberian perlakuan khusus tersebut adalah agar dunia usaha memiliki perspektif jangka panjang dalam pembangunan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Perlakuan khusus tersebut antara lain meliputi: kebijakan perpajakan dan kepabeanan peraturan ketenagakerjaan, dan perijinan sesuai kesepakatan dengan dunia usaha. Untuk menghindari terjadinya enclave dari pusat-pusat pertumbuhan tersebut, Pemerintah Pusat dan Daerah mendorong dan mengupayakan terjadinya keterkaitan (linkage) semaksimal mungkin dengan pembangunan ekonomi di sekitar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Pusat-pusat pertumbuhan

  • ekonomi baru tersebut dapat berupa KEK dalam skala besar yang diharapkan dapat dikembangkan disetiap koridor ekonomi disesuaikan dengan potensi wilayah yang bersangkutan.

    Tabel 2. Skema Konektivitas Koridor Ekonomi

    Proyeksi utama dari konektivitas koridor ekonomi ini adalah untuk terbangunnya visi konektivitas nasional yaitu Terintegrasi secara local, terhubung secara global (locally integrated, globally connected). Yang dimaksud Locally Integrated adalah pengintegrasian system konektivitas untuk mendukung perpindahan komoditas, yaitu barang, jasa, dan informasi secara efektif dan efisien dalam wilayah NKRI. Oleh karena itu, diperlukan integrasi simpul dan jaringan transportasi, pelayanan inter-moda tansportasi, komunikasi dan informasi serta logistik. Simpul-simpul transportasi (pelabuhan, terminal, stasiun, depo, pusat distribusi dan kawasan pergudangan serta bandara) perlu diintegrasikan dengan jaringan transportasi dan pelayanan sarana inter-moda transportasi yang terhubung secara efisien dan efektif. Jaringan komunikasi dan informasi juga perlu diintegrasikan untuk mendukung kelancaran arus informasi terutama untuk kegiatan perdagangan, keuangan dan kegiatan perekonomian lainnya berbasis elektronik.

    Selain itu, sistem tata kelola arus barang, arus informasi dan arus keuangan harus dapat dilakukan secara efektif dan efisien, tepat waktu, serta dapat dipantau melalui jaringan informasi dan komunikasi (virtual) mulai dari proses pengadaan, penyimpanan/ pergudangan, transportasi, distribusi, dan penghantaran barang sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki produsen dan konsumen, mulai dari titik asal (origin) sampai dengan titik tujuan (destination). Visi ini mencerminkan bahwa penguatan konektivitas nasional dapat menyatukan seluruh wilayah Indonesia dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara inklusif dan berkeadilan serta dapat mendorong pemerataan antar daerah.

  • Sedangkan yang dimaksud globally connected adalah sistem konektivitas nasional yang efektif dan efisien yang terhubung dan memiliki peran kompetitif dengan sistem konektivitas global melalui jaringan pintu internasional pada pelabuhan dan bandara (international gateway/exchange) termasuk fasilitas custom dan trade/industry facilitation. Efektivitas dan efisiensi sistem konektivitas nasional dan keterhubungannya dengan konektivitas global akan menjadi tujuan utama untuk mencapai visi tersebut. Kerangka kerja Konektivitas Nasional. Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan penguatan konektivitas secara terintegrasi antara pusatpusat pertumbuhan dalam koridor ekonomi dan juga antar koridor ekonomi, serta keterhubungan secara internasional terutama untuk memperlancar perdagangan internasional maupun sebagai pintu masuk bagi para wisatawan mancanegara.

    Dalam MP3EI dapat ditemukan bagaimana 6 koridor yang dilihat sebagai lokus ekonomi yang unik dihubungkan untuk memastikan bahwa ditiap koridor mampu berakumulasi secara local, nasional bahkan global. Dengan kata lain akumulasi keuntungan dalam proyeksi infrastruktur MP3EI adalah akumulasi yang berlangsung terus menerus yang difasilitasi oleh keberadaan restrukturisasi geografis dari tingkat local sampai global.

    Dalam pelaksanaannya, MP3EI akan beroperasi berdasar pada prinsip berikut: 1) meningkatkan arus barang, jasa dan informasi, 2) menurunkan biaya logistic, 3) mengurangi ekonomi biaya tinggi, 4) mewujudkan akses yang merata di seluruh wilayah, dan 5) mewujudkan sinergi antar pusat-pusat pertumbuhan daerah. Focus dari penguatan konektifitas dalam MP3EI adalah sebagai berikut:

  • MP3EI dan Struktur Ekonomi Politik Nasional

    Lalu apa yang sebenarnya implikasi MP3EI terhadap struktur ekonomi politik nasional? Kita harus mengakui bahwa pola produksi dan konsumsi di Indonesia pasca 1998 sangat dipengaruhi oleh integrasi Indonesia ke pasar global. Fase yang disebut dengan fase neoliberal ini ditandai dengan transformasi yang pesat dalam struktur ekonomi nasional yang dikarakterisasi dengan restrukturisasi, deregulasi, dan liberalisasi melalui program penyesuaian struktural (SAP) oleh IMF. Oleh karena itu, rezim kapitalis di Indonesia sangat tergantung pada proses global. Dengan demikian, kebutuhan akumulasi dimaksimalkan demi daya saing global dan untuk mengoptimalkan pertumbuhan adalah keharusan dan tidak dapat dihindari. Itulah sebabnya, setelah reformasi 1998, banyak kebijakan negara selalu mempertimbangkan pasar global sebagai prioritas utama mereka.

    Konsekuensi logis dari hal proses integrasi ini adalah perdagangan internasional menjadi memiliki peranan yang krusial dalam proses ekonomi. Data BPS yang dirilis pada tanggal 7 Januari 2012 menunjukan bahwa laju pertumbuhan menurut penggunaan ekonomi Indonesia pada Triwulan III tahun 2011 yang mencapai 6,5% yang secara signifikan dikontribusikan oleh adanya surplus perdagangan (dalam artian nilai ekspor indonesia melebihi nilai impor, red). Kontribusi surplus perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi mencapai angka 3,3% Disini dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional menjadi dasar bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

    Tabel 3. Laju Pertumbuhan PDB menurut Penggunaan1

    1 Dapat diunduh dari laman www.bps.go.id/getfile.php?news=888

  • Walau secara tradisional Indonesia masih melakukan ekspor migas, namun besaran nilai ekspor migas relative kecil jika dibandingkan dengan nilai ekspor nonmigas. Menurut Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, kontribusi ekspor industri nonmigas adalah 61% terhadap total ekspor 2011 mencapai angka USD 208 miliar.2 Dalam Neraca Laporan Pembayaran Bank Indonesia Realisasi triwulan III 2011, setidaknya sampai dengan November 2011, terdapat tiga komoditas utama yang berkontribusi besar terhadap nilai ekpor adalah batubara sebesar 15.5%, minyak sawit 10.2% dan karet 9.1%. menariknya, tiga komoditas ini adalah komoditas yang berbasiskan pada industri ekstraksi yang tergantung pada sumber daya alam.

    Tabel 4. Perkembangan Ekspor Komoditas Nonmigas Utama3

    Data-data resmi yang ditunjukan dapat menunjukan bahwa Integrasi ekonomi nasional terhadap pasar global berimplikasi pada rekonfigurasi relasi produksi serta konsumsi ekonomi Indonesia yang tersubordinasi oleh kebutuhan pasar global. Konsekuensinya, produksi Indonesia tidak secara otonom ditentukan oleh kebutuhan sosial rakyat Indonesia itu sendiri, namun lebih kepada pemenuhan kebutuhan pasar global. Data-data tersebut menunjukan bahwa ada penyesuaian sekaligus reorganisasi pembagian kerja secara global dimana Indonesia ditempatkan bukan lagi sebagai negara yang memproduksi komoditas yang mempunyai nilai tambah (baca: industri manufaktur), namun lebih sebagai negara penyuplai bahan mentah. Tidak heran jika kita menemukan pada rentang waktu 14 tahun terjadi deindustrialisasi pada beberapa jenis Industri sektor manufaktur, namun kita mengalami booming di sector industri komoditas ekstraksi seperti batu bara, kelapa sawit, karet, dll, yang pada dasarnya adalah komoditas-komoditas favorit di pasar global.4

    2 Ekspor Ea Kooditi Idustri UD 77.9 M, dikutip dari laa

    http://www.sindonews.com/read/2012/01/03/452/551177/ekspor-enam-komoditi-industri-usd77-9-m 3 Dapat diunduh dari laman m.bi.go.id/NR/rdonlyres/B81E97C8.../Laporan_NPI_tw311.pdf

    4 Mengenai tesis rekonfigurasi ekonomi nasional terhadap pasar global, dapat dilihat dari riset Ridha dan Daeng mengenai

    kebohongan mekanisme safeguard untuk melindungi industri selama proses perdagangan bebas. Argumentasi dari

    rekonfigurasi ekonomi nasional adalah terkait dengan keuntungan komparatif tiap negara yang terlibat dalam relasi

    perdagangan untuk menuntukan komoditas apa yang harus diprioritaskan untuk dijual di pasar. Konsekuensi dari hal ini adalah,

    negara yang industrinya tidak kompetitif harus melakukan deindustrialisasi. Dalam riset ini, industri yang dipaksa untuk

  • Melihat pada integrasi lebih luas dan lebih dalam ekonomi nasional terhadap ekonomi global, maka MP3EI tidak lain adalah bentuk teritorialisasi kapitalisme dalam strateginya yang baru. MP3EI adalah mekanisme untuk melakukan produksi dan reproduksi ruang kapitalisme di Indonesia. Konsekuensinya terjadi restrukturisasi geografis aktifitas kapitalis. Tidak heran jika kita menemukan dalam infrastruktur MP3EI, terjadi pembagian fungsi spasial tertentu dalam 6 koridor yang telah ditetapkan. Dalam infrastruktur MP3EI dapat ditemukan bagaimana 6 koridor yang dilihat sebagai lokus ekonomi yang unik dihubungkan untuk memastikan bahwa ditiap koridor mampu berakumulasi secara local, nasional bahkan global. Dengan kata lain akumulasi keuntungan dalam proyeksi infrastruktur MP3EI adalah akumulasi yang berlangsung terus menerus yang difasilitasi oleh keberadaan restrukturisasi geografis dari tingkat local sampai global.

    Dalam hal inilah kita dapat melihat MP3EI akan memberikan intensifikasi serta ekstensifikasi struktural atas modus utama dari proses akumulasi kapitalisme yang terjadi di Indonesia. Akumulasinya sendiri akan berlangsung dengan apa yang disebut dengan akumulasi melalui perampasan (accumulation by dispossession). Akumulasi seperti ini dimungkinkan dalam kontradiksi relasi spasial yang muncul dalam proyeksi infrasturktur MP3EI. Kontradiksi ini dapat dilihat pada bagaimana restrukturisasi ruang geografis ala MP3EI berbenturan dengan pengalaman keseharian masyarakat yang menempatkan ruang bukan sebagai fasilitas akumulasi, namun sebagai bagian reproduksi social keseharian. Konsekuensinya kemudian adalah terjadi akumulasi selalu mensyaratkan adalah dimensi kekerasan untuk memastikan bahwa relasi spasial yang diatur harus tunduk dibawah logika keuntungan dan modal. Disini kemudian akumulasi melalui perampasan menjadi nayata. Karakteristik utama dari akumulasi melalui perampasan adalah pengambilalihan serta marketisasi atas seluruh aspek kemanusiaan yang belum terkomodifikasi.5 Secara lebih terperinci, akumulasi melalui perampasan adalah sebuah proses dimana komodifikasi dan privatisasi tanah serta pengusiran melalui kekerasan populasi petani; pengalihan berbagai bentuk kepemilikan (kepemilikan bersama, kolektif, Negara, dsb) ke dalam kepemilikan pribadi yang ekslusif; penindasan atas hak-hak bersama (commons); komodifikasi tenaga kerja dan perepresian atas bentuk produksi dan konsumsi alternative (yang biasanya berdasarkan pengalaman masyarakat local dan adat); proses pengambilalihan asset (termasuk juga sumber daya alam) yang berkarakterkan kolonialisme, neo kolonialisme dan imperialisme; dan yang paling mutakhir adalah penggunaan hutang nasional dan pada akhirnya system kredit sebagai alat radikal untuk perampasan.6 Dari kasus Alas Tlogo sampai dengan kasus Mesuji dan insiden Pelabuhan Sape, Bima adalah kasus-kasus yang memiliki basis material dari bentuk modus akumulasi ini.

    Spesifik dalam pengalaman infrastruktur MP3EI, akumulasi melalui perampasan dapat dilihat pada bagaimana operasionalisasi infrastruktur yang akan selalu didominasi oleh kepentingan kelas kapitalis, baik nasional maupun internasional. Hal ini dapat dilihat pada skema pembiayaan proyek infrastruktur MP3EI yang dikenal sebagai Private Public Partnership (PPP, Kerjasama Public Privat). Walau terlihat bagus karena ada relasi kerjasama yang seimbang antara dua entitas tersebut, namun skema ini pada dasarnya memberikan ruang yang sangat besar mengalami deindustrialisasi adalah industri turunan baja besi yaitu industri paku-kawat. Lih. Muhammad Ridha dan Salamuddin

    Daeng,, Dampak ACFTA dan Kebohongan Safeguard (Jakarta: IGJ, 2010) tidak dipublikasikan.

    5 Bill Du, Auulatio y Dispossesio or Auulatio of Capital? The Case of Chia dala Joural of Australia Politial Economy vol. 60 (2007).

    6 David Harvey, The New Imperialism (New York: Oxford University Press, 2003), hal. 145

  • bagi entitas privat untuk mengapropriasi tanpa batas ruang yang disediakan oleh entitas public (Negara). Adapun Negara disini muncul tidak lebih sebagai regulator yang tidak memiliki daya intervensi apapun selama proses apropriasi ini dilakukan. Disini kemudian ruang spasial social akan menjadi objek dari proses akumulasi lanjutan yang secara potensial akan banyak menciptakan ketidakadilan dilapangan.

    Tabel 5. Peta Investasi Sumber Bahan Baku

    Selain itu, akumulasi melalui perampasan dalam skema konektivitas ekonomi akan mengkondisikan terjadinya kerentanan dalam struktur ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Konektivitas ekonomi ini akan menjadi insentif agar proses akumulasi capital akan terjadi terus menerus yang pada titik tertentu akan menciptakan akumulasi berlebih (over-accumulation). Masalah akumulasi berlebih ini menjadi prakondisi dasar bagi terjadinya krisis. Dalam jangka pendek, masalah akumulasi berlebih ini dapat diatasi melalui eksportasi kelebihan produksi ke lokus ekonomi yang lain diluar lokus yang mengalami masalah kelebihan tersebut. Akan tetapi dalam jangka panjang, skema konektivitas ekonomi yang diusung justru menjadi kondisi dasar bagi perluasan krisis karena akumulasi berlebih akan relative mudah berpindah antara satu tempat ke tempat yang lain. Dalam contoh yang sederhana, krisis yang terjadi Negara lain akan berpotensi untuk terjadi di Indonesia karena fasilitas konektivitas ekonomi yang dimunculkan dalam politik infrasturktur MP3EI. Bahkan kita juga dapat membayangkan bahwa krisis dapat terjadi antar koridor nasional dimana krisis yang terjadi di koridor Sulawesi dapat diperluas hingga di Koridor Sumatera.

  • MP3EI dan Eksploitasi Rakyat Pekerja

    Konsekuensi lain dari akumulasi seperti ini adalah bagaimana eksploitasi akan menciptakan proletarisasi secara massif. Perampasan tanah yang dilakukan atas nama akumulasi menyebabkan terjadinya pengusiran kekuatan produktif dalam ruang produksi tersebut. Dalam hal ini mereka yang selama berproduksi secara subsisten ketika memiliki tanah tersebut harus terusir dari tanah mereka dan mengalami proses proletarisasi atau menjadi bagian dari pekerja-bebas (free labour). Akan tetapi tidak serta merta proletarisasi ini akan membuat mereka yang diusir dari tanah mereka akan menjadi bagian dari kelas pekerja. Kegagalan mereka yang diusir untuk masuk kedalam relasi produksi kapitalisme membuat mereka akan menjadi pengagguran. Dalam pengalaman kita sekarang ini dapat kita rasakan pada bagaimana masifnya fenomena pengagguran diseluruh pelosok-pelosok kota di Indonesia.7 Secara ekonomi, Tingginya angka pengangguran akan berimplikasi pada tekanan atas tingkat upah karena dalam pasar tenaga kerja penawaran (supply) atas pekerja yang tersedia sangat banyak berbanding terbalik dengan permintaan (demand) pekerja oleh industri.8 Mekanisme spontan yang biasanya dilakukan oleh para pengaggur untuk dapat bertahan hidup adalah dengan membuka inisiatif ekonomi baru yang sifatnya informal. Namun upaya paling sistematis untuk mengatasi pengangguran sekaligus tetap memastikan bahwa proses akumulasi melalui apropirasi serta eksploitasi sumber daya manusia tetap dimungkinkan adalah dengan menciptakan rezim pasar tenaga kerja fleksibel. Mekanisme ini tetap memastikan bahwa penganggur-penganggur yang ada memiliki akses ke dalam relasi ketenagakerjaan, namun sekaligus mereka tidak akan dapat mempengaruhi tingkat upah yang ada karena jika ada tuntutan untuk kenaikan upah, para kapitalis dapat secara mudah mengganti mereka dengan penganggur yang lain.

    Dengan penjelasan ini kita dapat melihat bagaimana politik upah murah dimungkinkan dalam rezim kapitalisme-neoliberal sekarang. Tidak mengejutkan jika kemudian dimungkinkan biaya pekerja Indonesia dapat ditekan serendah mungkin untuk mendapatkan keuntungan maksimum untuk industri. Seperti yang disajikan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia dalam pamflet promosi investasinya yang berjudul Invest in Remarkable Indonesia,9 upah pekerja Indonesia adalah yang terendah antara lain. Upah per jam di Indonesia adalah sekitar USD 0,6, dibandingkan dengan negara lain seperti India (USD 1,03), Filipina (USD 1,04), Thailand (USD 1,63), China (USD 2,11), dan Malaysia (USD 2,88).

    7 Bagi beberapa kalangan argumentasi ini akan sangat problematic karena jika dikaitkan dengan rilis data resmi BPS tentang

    pengangguran, Indonesia telah mampu untuk menurunkan angka pengangguran serta meningkatkan angka yang bekerja. Akan

    tetapi penulis berpendapat bahwa kerja yang dimaksud adalah dalam yang seharusnya dimaktub dalam pendataan adalah kerja

    yang layak. Argumentasi penulis mengenai hal ini adalah jika bekerja berarti adalah bekerja yang layak dan bermartabat, maka

    status pekerjaan haruslah memiliki kepastian kesejahteraan serta masa depan bagi pekerja itu sendiri. dalam hal ini maka

    penulis secara sengaja hanya akan mengakui bahwa mereka yang bekerja adalah mereka yang secara sistemik terserap dalam

    status pekerja formal. Jika argumentasi ini menjadi posisi metodologis dalam melihat statistic angkatan kerja yang bekerja,

    maka dari seluruh angkatan kerja yang ada, hanya 31.01% yang dapat dikategorikan bekerja atau hanya sekitar 34.5 juta orang.

    Hal ini sendiri bagi penulis tidak mencukupui, karena dalam pekerja formal sekarang, status pekerjaan sebagai karyawan tetap

    atau tidak juga menjadi bagian dari kerja layak itu sendiri. namun demi koherensi argumentasi, penulis akan mengabaikan

    argumentasi tersebut. Untuk data Angkatan kerja dan pengangguran lihat Data Strategis Badan Pusat Statistik 2011. Dapat

    diunduh dari laman http://www.bps.go.id/aboutus.php?65tahun=1 8 Mengenai pengaruh tingkat pengagguran terhadap tingkat upah pekerja, lihat karya Mihael Kaleki, Politial Aspet of Full

    Eployet, dala Political Quarterly Vol 14 (4), 1943, hal. 322-30 9 Pamflet BKPM dapat diunduh dari laman http://embassyofindonesia.it/wp-content/uploads/2010/07/Invest-in-Remarkable-

    Indonesia.pdf

  • Masalah lain yang muncul dari politik upah murah adalah terjadinya stagnasi tingkat upah riil jika dibandingkan dengan tingkat upah nominal. Upah nominal yang diterima pekerja bisa saja selalu naik, tapi nilai riil dari upah tersebut tidak naik karena harga-harga barang. Data IHK dan Rata-rata Upah per Bulan Buruh Industri di Bawah Mandor (Supervisor) Indonesia dari tahun 2007 sampai dengan 2011 menunjukan bahwa tingkat upah riil dibandingkan dengan tingkat upah nominal adalah stagnan bahkan cenderung turun.

    Tabel 6. Tingkat Upah per Bulan Buruh Industri dibawah Mandor 2007-201110

    Bulan Tahun Indeks Harga

    Konsumen

    Upah Nominal

    (000) Upah Riil

    2007 100.0 1 019.0 1 019.0 Maret

    2008

    105.3 1 093.4 1 038.0 Juni 110.1 1 091.0 991.1 September 113.3 1 098.1 969.6 Desember 113.9 1 103.4 969.1 Maret

    2009

    114.3 1 134.7 993.0 Juni 114.1 1 148.6 1 006.7 September 116.5 1 160.1 996.1 Desember 117.0 1 172.8 1 002.1 Maret

    2010

    118.2 1 182.4 1 000.4 Juni 119.9 1 222.2 1 019.7 September 123.2 1 386.4 1 125.2 Desember 125.2 1 386.7 1 107.6 Maret*)

    2011 126.1 1 353.5 1 073.8

    Juni **) 126.5 1 284.7 1 015.6 September**) 128.9 1 246.3 966.9

    *angka sementara *angka sangat sementara

    Dalam hal ini kita bisa menemukan bahwa upah nominal per bulan buruh sektor industri di bawah mandor (supervisor) menurut Survei Upah Buruh (SUB) BPS, naik dari Rp1.148.600 di bulan Juni 2009 menjadi Rp1.160.100 di bulan September 2009. Secara nominal, ada kenaikan Rp11.500 atau 1% dari upah yang lama. Namun, saat itu, harga barang konsumsi menurut Indeks Harga Konsumen (IHK) BPS, naik juga sebesar 2,4%. Artinya, barang-barang yang tadinya bisa dibeli dengan Rp1.148.600, tidak bisa dibeli lagi oleh buruh. Pasalnya, sekalipun upah nominal buruh naik menjadi Rp1.160.100, tetapi harga-harga barang yang tadinya bisa dibeli dengan upah Juni 2009 juga naik menjadi Rp1.176.166. Kita bisa lihat bahwa upah riil buruh mengalami penurunan dari Rp1.019.000 di tahun 2007 menjadi Rp969.100 di bulan Desember 2008. Upah riil itu kemudian cenderung stagnan dan baru berhasil mencapai angka yang mirip dengan tahun 2007 pada bulan Juni 2010, yaitu sebesar Rp1.019.700. Ia kemudian naik lagi di bulan September 2010 menjadi Rp1.125.200, tapi kemudian turun terus sampai menjadi Rp966.900 di 10

    Data Resmi Badan Pusat Statistik

  • bulan September 2011. Cukup kentara perbedaannya dengan upah nominal yang cenderung naik, meski juga mengalami penurunan sejak Maret 2011.

    Masalah utama dari paparan data ini adalah bagaimana konsumsi dapat dimungkinkan jika upah riil tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para pekerja? Data statistic resmi BPS justru menunjukan bahwa konsumsi rumah tangga berkontribusi sangat besar dalam struktur PDB atas dasar harga yang berlaku menurut penggunaan. Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB pada kuartal III tahun 2011 mencapai 54.2%.

    Tabel 7. Struktur PDB atas Dasar Harga Berlaku 2010-2011

    Tekanan atas tingkat upah pekerja menghasilkan kurangnya permintaan efektif di antara para pekerja di Indonesia. Cara yang paling mungkin untuk dapat bertahan sekaligus tetap memastikan bahwa roda ekonomi secara keseluruhan masih dapat bekerja melalui konsumsi rumah tangga adalah para pekerja harus mengambil hutang untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka. Sebuah survei termutakhir yang dilakukan oleh tim peneliti INKRISPENA (Institut Studi Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif) pada tahun 2010 telah menunjukkan bahwa pola konsumsi pekerja perempuan ditandai dengan sejumlah besar utang. Tiap bulan, pekerja perempuan dalam rangka memenuhi kebutuhan rumah tangganya harus memiliki hutang beban akumulatif sampai Rp.5.056.693.11 menariknya, jika dikaitkan dengan tingkat kucuran kredit perbankan pada tahun 2011 yang dirilis resmi oleh BI, Pertumbuhan kredit perbankan hingga Oktober 2011 tembus 25,7% di mana salah satu faktor pendorongnya adalah kredit konsumsi yang tumbuh cukup besar hingga 23,8%. Pertumbuhan kredit hingga akhir Oktober 2011 mencapai 25,7% (yoy, year on year) dengan kredit investasi sebesar 31,1% (yoy), kredit modal kerja sebesar 24,7% (yoy), dan kredit konsumsi sebesar 23,8% (yoy).12

    11

    Ayudya Fajri, Irwansyah, Muhammad Ridha, Ruth Indiah Rahayu, Tommy Ardian Pratama dan Y. Wasi Gede Purwaka, Pola

    Konsumsi dan Pendapatan Buruh Perempuan: Sebuah Kajian atas Dampak Perlindungan Sosial, INKRISPENA bekerja sama

    dengan Institut for Global Justice (IGJ), 2011. 12

    Kredit Kosusi Bak Maki Moer, dikutip dari laa http://beritadaerah.com/berita/national/51012

  • Kesimpulan

    Tidak ada yang baru dibawah matahari, begitu juga inisiatif pembangunan seperti MP3EI. Apa yang dapat disimpulkan pembongkaran mitos pertumbuhan ekonomi disini adalah modus akumulasi keuntungan dalam fase kapitalisme sekarang dilakukan melalui eksploitasi massif atas dua sumber utama nilai kesejahteraan, yakni sumber daya alam serta sumber daya manusia indonesia. Kapitalisme yang berlaku sekarang memang menciptakan pertumbuhan, tapi pertumbuhan ini dilakukan melalui penghisapan nilai yang terkandung dari alam dan juga pekerja. MP3EI menjadi cara yang paling baru untuk mempertahankan relasi eksploitatif ini.

    Walau begitu, MP3EI juga menciptakan satu potensi yang cukup krusial bagi penciptaan relasi ekonomi politik yang baru dan alternative. Ekstensifikasi serta intensifikasi melalui MP3EI memungkinkan untuk terjadinya pertemuan serta penyatuan kekuatan rakyat pekerja dari berbagai sector ekonomi yang ada. Dari buruh, petani, penganggur, miskin kota, dan seluruh rakyat pekerja yang dieksploitasi dalam system ekonomi yang ada. Hal ini tentu saja adalah suatu tantangan sekaligus peluang yang sangt baik untuk mengembalikan politik kelas di Indonesia, bentuk politik yang sempat ada dalam pengalaman kesejarahan kita sebagai bangsa namun dihancurkan secara bengis oleh kekuatan kapitalis nasional di masa lampau. Yang diperlukan sekarang untuk ditanyakan sekaligus dijawab adalah bagaimana bentuk pengorganisiran politik yang harus didorong dengan basis material yang tersedia seperti sekarang ini. keberhasilan dari menjawab pertanyaan krusial ini akan sangat menentukan bentuk politik kelas seperti apa yang akan muncul. Dalam hal ini, penulis tidak memiliki preskripsi atau resep generic tertentu. Untuk itu, pertanyaan ini hanya dapat dijawab dengan praktik serta aktifitas perlawanan bersama dalam rakyat pekerja itu sendiri.

    Referensi

    Buku

    Harvey, David. The New Imperialism. New York: Oxford University Press, 2003.

    Jurnal

    Dunn, Bill. Accumulation by Dispossesion or Accumulation of Capital? The Case of China dalam Journal of Australian Political Economy vol. 60 (2007).

    Kalecki, Michael. Political Aspect of Full Employment, dalam Political Quarterly Vol 14 (4), 1943, hal. 322-30

    Hasil Riset

    Fajri, Ayudya; Irwansyah; Ridha, Muhammad; Rahayu, Ruth Indiah; Pratama, Tommy Ardian dan Purwaka, Y. Wasi Gede. Pola Konsumsi dan Pendapatan Buruh Perempuan: Sebuah Kajian atas Dampak Perlindungan Sosial, INKRISPENA bekerja sama dengan Institut for Global Justice (IGJ), 2011.

  • Ridha, Muhammad dan Daeng, Salamuddin. Dampak ACFTA dan Kebohongan Safeguard. Jakarta: IGJ, 2010. tidak dipublikasikan.

    Laman

    www.bps.go.id/getfile.php?news=888 http://www.sindonews.com/read/2012/01/03/452/551177/ekspor-enam-komoditi-industri-usd77-

    9-m m.bi.go.id/NR/rdonlyres/B81E97C8.../Laporan_NPI_tw311.pdf http://www.bps.go.id/aboutus.php?65tahun=1 http://embassyofindonesia.it/wp-content/uploads/2010/07/Invest-in-Remarkable-Indonesia.pdf http://beritadaerah.com/berita/national/51012