MODEL PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS KEARIFAN … · 2020. 1. 18. · pengembangan desa wisata...

of 9 /9
MODEL PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI STRATEGI PENGENTASAN KEMISKINAN DI KABUPATEN ROTE NDAO NUSA TENGGARA TIMUR Maria C.B Manteiro Abstrak: Pulau Rote adalah salah satu pulau di wilayah Nusa Tenggara Timur yang memiliki obyek dan potensi wisata alam dan budaya yang unik dan menarik. Pengentasan kemiskinan melalui pengembangan pariwisata yang berorientasi potensi setempat penting guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat miskin melalui pendekatan dan penyadaran masyarakat diperlukan agar mereka dapat menggunakan dan memiliki akses control dalam pengembangan desa wisata. Pulau Rote adalah salah satu pulau di wilayah Nusa Tenggara Timur yang memiliki obyek dan potensi wisata alam dan budaya yang unik dan menarik yang dapat mendatangkan banyak wisatawan baik local maupun mancanegara. Tetapi hal ini sangat disayangkan dengan potensi alam yang begitu kaya tetapi masyarakat local masih hidup dalam kemiskinan. Berbagai upaya pengentasan kemiskinan telah dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalah pengembangan desa wisata berbasisi kearifan lokal. Populasi penelitian ini adalah semua kepala rumah tangga yang terlibat dalam kegiatan pengembangan Desa Feapopi, Desa Kuli, dan Desa Sotimori. Sampel penelitian ditentukan secara purposive, di masing-masing desa wisata ditentukan jumlah sampel penelitian sebanyak 60 orang responden. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa belum adanya pengembangan desa wisata berbasis kearifan local yang maksimal sebagai upaya pengentasan kemiskinan untuk mengatasi ketidakberdayaan masyarakat miskin yang disebabkan oleh keterbatasan akses, kurangnya pengetahuan dan keterampilan, terperangkap dalam kemiskinan (poverty trap) dan ketidakberdayaan masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk mewujudkan kemandirian masyarakat di 3 (tiga) Desa tersebut, terutama meningkatkan keterlibatan dan peran serta secara aktif masyarakat pada berbagai kegiatan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan serta adanya pemanfaatan Desa wisata oleh masyarakat maupun pemerintah setempat. Strategi pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rote Ndao perlu memperhatikan hal-hal antara lain Pemasaran paket desa wisata yang menunjukkan nilai jual desa tersebut, pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan dan menjaga kelestarian desa wisata itu sendiri sebagai bagian dari potensi desa wisata tersebut. Desa Wisata Feapopi dapat dijadikan alternatif model pengembangan desa wisata alam dan budaya, Desa Wisata Kuli dijadikan alternatif model pengembangan desa wisata alam dan Desa Wisata Sotimori dijadikan alternatif model pengembangan desa wisata alam dan budaya. Saran bagi pemerintah setempat perlu adanya master plan untuk penyusunan sinergi antara pemerintah tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa dalam penyusunan strategi pengembangan desa wisata yang berkelanjutan. Kata Kunci: Desa Wisata, Kearifan Lokal, Kemiskinan. Manteiro, Adalah Dosen Jurusan Administrasi Politeknik Negeri Kupang 93

Embed Size (px)

Transcript of MODEL PENGEMBANGAN DESA WISATA BERBASIS KEARIFAN … · 2020. 1. 18. · pengembangan desa wisata...

  • MODEL PENGEMBANGAN DESA WISATABERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI STRATEGI

    PENGENTASAN KEMISKINANDI KABUPATEN ROTE NDAO NUSA TENGGARA TIMUR

    Maria C.B Manteiro

    Abstrak:

    Pulau Rote adalah salah satu pulau di wilayah Nusa Tenggara Timur yang memiliki obyek danpotensi wisata alam dan budaya yang unik dan menarik. Pengentasan kemiskinan melaluipengembangan pariwisata yang berorientasi potensi setempat penting guna peningkatan pendapatandan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat miskin melalui pendekatan dan penyadaranmasyarakat diperlukan agar mereka dapat menggunakan dan memiliki akses control dalampengembangan desa wisata. Pulau Rote adalah salah satu pulau di wilayah Nusa Tenggara Timuryang memiliki obyek dan potensi wisata alam dan budaya yang unik dan menarik yang dapatmendatangkan banyak wisatawan baik local maupun mancanegara. Tetapi hal ini sangat disayangkandengan potensi alam yang begitu kaya tetapi masyarakat local masih hidup dalam kemiskinan.Berbagai upaya pengentasan kemiskinan telah dilakukan oleh pemerintah salah satunya adalahpengembangan desa wisata berbasisi kearifan lokal.

    Populasi penelitian ini adalah semua kepala rumah tangga yang terlibat dalam kegiatanpengembangan Desa Feapopi, Desa Kuli, dan Desa Sotimori. Sampel penelitian ditentukan secarapurposive, di masing-masing desa wisata ditentukan jumlah sampel penelitian sebanyak 60 orangresponden.

    Hasil penelitian ini menunjukan bahwa belum adanya pengembangan desa wisata berbasiskearifan local yang maksimal sebagai upaya pengentasan kemiskinan untuk mengatasiketidakberdayaan masyarakat miskin yang disebabkan oleh keterbatasan akses, kurangnyapengetahuan dan keterampilan, terperangkap dalam kemiskinan (poverty trap) danketidakberdayaan masyarakat. Oleh sebab itu diperlukan pengembangan lebih lanjut untukmewujudkan kemandirian masyarakat di 3 (tiga) Desa tersebut, terutama meningkatkan keterlibatandan peran serta secara aktif masyarakat pada berbagai kegiatan peningkatan pendapatan dankesejahteraan serta adanya pemanfaatan Desa wisata oleh masyarakat maupun pemerintah setempat.Strategi pengembangan desa wisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rote Ndao perlumemperhatikan hal-hal antara lain Pemasaran paket desa wisata yang menunjukkan nilai jual desatersebut, pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan dan menjaga kelestarian desa wisata itusendiri sebagai bagian dari potensi desa wisata tersebut. Desa Wisata Feapopi dapat dijadikanalternatif model pengembangan desa wisata alam dan budaya, Desa Wisata Kuli dijadikan alternatifmodel pengembangan desa wisata alam dan Desa Wisata Sotimori dijadikan alternatif modelpengembangan desa wisata alam dan budaya. Saran bagi pemerintah setempat perlu adanya masterplan untuk penyusunan sinergi antara pemerintah tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, dandesa dalam penyusunan strategi pengembangan desa wisata yang berkelanjutan.

    Kata Kunci: Desa Wisata, Kearifan Lokal, Kemiskinan.

    Manteiro, Adalah Dosen Jurusan Administrasi Politeknik Negeri Kupang93

  • PENDAHULUANPertumbuhan ekonomi Indonesia yang kuat

    telah membantu menurunkan kemiskinan, tetapitingkat penurunan melambat. Pulihnyapertumbuhan ekonomi pasca krisis finansialAsia pada tahun 1997-1998 telah membawapergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian kejasa, serta terciptanya lapangan kerja di kota-kota. Tren ini telah berkontribusi padaberkurangnya kemsikinan dari 24% pada 1999menjadi 11,4% pada wal 2013. Namun, tingkatpenurunan kemiskinan mulai melambat. Padatahun 2012 dan 2013, kemiskinan turun hanyasebesar 0,5% tiap tahun – terkecil dalam dekadeterahir. Riset mengenai kemiskinan danpengentasan kemiskinan mencakup banyakbidang, seperti tren kemiskinan, bantuan sosial,jaminan sosial, program berbasis masyarakat,serta penciptaan lapangan kerja yang lebihbanyak dan lebih baik. Kumpulan penelitiantersebut berfungsi sebagai dasar memberikanrekomendasi kebijakan serta dukungan lain dariBank Dunia kepada Pemerintah Indonesia. BankDunia juga memberikan dukungan teknis untukmenerapkan program-program pemerintah.Misalnya, PNPM Support Facility memberikandukungan analitis dan implementasi bagiProgram Nasional Pemberdayaan Masyarakat.Pengentasan kemiskinan melalui pengembanganpariwisata yang berorientasi potensi setempatpenting guna peningkatan pendapatan dankesejahteraannya (Biggs, 2008). Pemberdayaanmasyarakat miskin melalui pendekatan danpenyadaran masyarakat diperlukan agar merekadapat menggunakan dan memiliki akses controldalam pengembangan desa wisata. Kegiatanpariwisata dengan memanfaatkan sumberdayasetempat mulai dikembangkan mendasarkanpada tujuan ekonomi berkelanjutan, mendukungupaya-upaya pelestarian lingkungan, danpeningkatkan kesejahteraan masyarakat setem-pat (Fandeli, 2001). Kemiskinan terjadi karenabelum dilibatkannya kelompok masyarakat mis-kin secara komprehensif dalam setiap prosespengembangan wilayah, pembangunan danpemanfaatan sumberdaya yang tersedia diwilayah tersebut. Desa wisata merupakan salah

    satu potensi yang dapat dijadikan alternatifsumber pendapatan bagi masyarakat. Manusiasebagai mikrokosmos dan lingkungannya seba-gai makrokosmos merupakan satu kesatuandalam harmoni kehidupan, kearifan ekologidengan masyarakat setempat untuk mewujudkankesejahteraan diperlukan harmonisasi antarakeduanya (Amsikan, 2006; Nasrudin Anshoriy,2008). Dukungan secara berkelanjutan potensiwilayah menjadi modal penting dalampengentasan kemiskinan melalui pengembangandesa wisata berbasis kearifan lokal.

    Berdasarkan permasalahan tersebut diper-lukan penelitian secara mendalam tentangpengentasan kemiskinan melalui pengembangandesa wisata berbasis kearifan local agar mampumenjadi stimulus untuk peningkatan kegiatanekonomi, sosial, dan perbaikan lingkungan gunamewujudkan kesejahteraan masyarakat yangberkelanjutan.

    TINJAUAN PUSTAKAPenduduk miskin di perdesaan, yaitu sebe-

    sar > 69% tergolong miskin dan bekerja di sektorpertanian (BPS, 2010). Upaya pengentasankemiskinan sesuai dengan program dari BankDunia dilakukan melalui tiga strategi pengen-tasan kemiskinan (UNDP, 2006). Tiga strategipengentasan kemiskinan meliputi: (1) Mem-perluas kesempatan (promoting opportunity)kegiatan ekonomi masyarakat miskin, (2) Mem-perlancar proses pemberdayaan (facilitatingempowerment) dengan pengembangankelembagaan untuk masyarakat miskin melaluipenghapusan hambatan sosial bagi pengentasankemiskinan, (3) Memperluas dan memperdalamjaring pengaman (enhancing security) agarmasyarakat miskin memiliki kemampuan dalampengelolaan resiko efek negatif dari penguatankebijakan stabilitasi makro ekonomi. Chambers(1983) menyampaikan konsep perangkapdeprivasi (concept ofdevrivation trap) yangmenganalisis penyebab kemiskinan sebagaihubungan sebab akibat yang saling kait-meng-kait bak lingkaran setan (vicious circle) antaraketidakberdayaan (powerless), kemiskinan(poverty), kerapuhan (vulnerability), kelemahan

    94 BISMAN Jurnal Bisnis & Manajemen Volume 2 Nomor 2 Desember 2016

  • fisik (physical weakness), dan keterasingan(solution). Memisahkan mata rantai merupakanupaya yang dianggap dapat membebaskanmasyarakat miskin dari ketidakberdayaansehingga menumbuhkan kekuatan dan memilikikemandirian. Philippe, et al., (2008) mengemu-kakan bahwa pemberdayaan dilakukan bukankarena tidak memiliki kekuatan sama sekali,tetapi semata karena belum tercipta organisasisosial dari kelompok marjinal. Keterbatasanpengetahuan, pendidikan, keterampilan, modal,dan sistem nilai di perdesaan menjadi kendalautama masyarakat miskin dalam akses dankontrol terhadap sumber daya yang adatermasuk sumberdaya untuk pengembangandesa wisata. Kemauan yang keras untuk mampumelepaskan diri dari belenggu kemiskinan, kegi-gihan, kesungguhan, dan keuletan masyarakatmiskin menjadi salah satu modal dasar bagimasyarakat miskin di perdesaan. Ketersediaanlahan yang masih luas dengan penggunaan lahanpengelolaan pertanian, peternakan, dan sumber-daya belum optimal, maka diperlukan partisipasimasyarakat miskin secara aktif untuk mengelolapotensi tersebut. Potensi dalam proses produksiakan terkait dengan faktor alam dan faktormanusia. Secara eksplisit sumberdaya alamberupa tanah, mineral, air, batuan, relief, bahanbakar. Potensi di suatu wilayah akan bermanfaatapabila dapat dikelola oleh manusia (Weaver,Robert D, 1996; Suparmoko,1999). Potensiagrowisata agar dapat dimanfaatkan secaraberkelanjutan memerlukan perhatian seriusmengingat penduduk Indonesia lebih dari sepa-ruhnya bertempat tinggal diperdesaan. Pening-katan kesejahteraan penduduk perdesaanmemerlukan peran serta masyarakat dandidukung kebijakan yang memihak pada masya-rakat dan berkelanjutan.

    Salah satu model pengembangan pariwisatadengan pendekatan geografi mengadopsi pemi-kiran Whynne dan Hammond (1979) sebagaiberikut:1. Mengkaji variasi dan distribusi unsur-unsur

    fisik pada suatu wilayah tertentu yang dapatdijadikan potensi pariwisata meliputi unsur

    topografi wilayah, unsure geologi, tanah,iklim, air, flora, fauna

    2.Mengkaji variasi dan distribusi unsur non fisikmeliputi manusia dan hasil ciptarasa karsanyameliputi atraksi, kesenian, budaya, hasilteknologi atau buatan dan rekayasa manusia.

    3.Mendasarkan pada identifikasi atas variasi,distribusi, interaksi, interelasi, interdepen-densi unsur fisik dan non fisik sebagai dasaryang dapat dikaji dan dikembangkan sebagaidaerah tujuan wisata melalui pendekatangeografi yang memperhatikan tentang lokasi,tempat, interaksi manusia dengan lingkungan,pergerakan, dan wilayah.

    4.Mendasarkan langkah-langkah tersebut kemu-dian dilakukan upaya untu perencanaan,pelaksanaan, evaluasi apabila dikembangkanuntuk pariwisatasehingga dapat diprediksiatas rangkaian kajian tersebut mengenai jeniswisataapa yang dapat dikembangkan sehinggamampu memberikan kontribusi yang optimaluntuk kesejahteraan manusia dilihat darikesempatan kerja yang dapat dimunculkan,peningkatan pendapatan masyarakat danpeningkatan ekonomi dalam sekala mikro,meso dan makro, perbaikan lingkungan danenvironmentsustainable, pelestarian budayaatau kearifan lokal, dan peningkatan kesejah-teraan meliputi kesehatan, sosial, pendidikan,mata pencaharian.

    5.Pariwisata dikembangkan untuk memperolehmanfaat positif sehingga kajian pengem-bangan pariwisata agar sekecil mungkin mem-beri dampak negative terhadap keselarasanhubungan manusia dan lingkungannya (terja-ganya kemanfaaatan unsur fisik dan non fisiksebagai sumberdaya pariwisata).

    Alur pengembangan model melalui analisisprofil masyarakat miskin, profil akses dankontrol terhadap kegiatan yang dikembangkandi desa wisata, analisis faktor penyebab terjadi-nya ketidakberdayaan masyarakat miskin; ana-lisis program berorientasi pada peningkatanpartisipasi masyarakat miskin dalam pengem-bangan desa wisata berbasis kearifan lokal danmerancang pemberdayaan masyarakat miskin;mengembangkan model, review, revisi, uji coba,

    95Manteiro, Model Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Strategi PengentasanKemiskinan Di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur

  • analisis, revisi, dan implementasi model. Modelpengembangan desa wisata berbasis kearifanlocal sebagai upaya pengentasan kemiskinanpenting untuk mengatasi ketidakberdayaanmasyarakat miskin yang disebabkan olehketerbatasan akses, kurangnya pengetahuan danketerampilan, terperangkap dalam kemiskinan(poverty trap) dan ketidakberdayaan masya-rakat. Diperlukan pengembangan lebih lanjutuntuk mewujudkan kemandirian masyarakatmiskin, terutama meningkatkan keterlibatan danperan serta secara aktif masyarakat miskin padaberbagai kegiatan peningkatan pendapatan dankesejahteraan. Model pengembangan desawisata berbasis kearifan lokal yang disajikandalam Gambar 1 berikut:

    1.Desa Feapopi, Kecamatan Rote Tengah,Kabupaten Rote Ndao

    2.Desa Kuli, Kecamatan Lobalain, KabupatenRote Ndao

    3.Desa Sotimori Kec. Rote Timur, KabupatenRote Ndao

    Populasi dan Sampel Penelitian

    Populasi penelitian ini adalah semua kepalarumah tangga yang terlibat dalam kegiatanpengembangan Desa Feapopi, Desa Kuli, danDesa Sotimori. Sampel penelitian ditentukansecara purposive, di masing-masing desa wisataditentukan jumlah sampel penelitian sebanyak60 orang responden.

    Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data yang digunakan,meliputi:1). Studi pustaka, 2). Observasi dan penjajaganwilayah penelitian, 3). Wawancara mengguna-kan instrumen penelitian untuk menjaringpotensi nonfisik, 4). Wawancara mendalam(indepth interview) dengan pendekatan masya-rakat. Partisipatif, 5). Focus Group Discussion(FGD).

    Teknik Analisis Data

    Analisis data penelitian dibedakan menjadianalisis deskriptif kuantitatif dan analisis des-kriptif kualitatif. Analisis data bersifat deskriptifkuantitatif digunakan untuk menganalisis dataprimer dan data sekunder berkaitan denganvariabel umur, pendidikan, mata pencaharian,penguasaan lahan, pendapatan, investasi terkaitpariwisata, kegiatan sosial kemasyarakatan,kegiatan pertanian, kegiatan produktif, danpotensi desa wisata. Dalam hal ini digunakantabel frekuensi untuk menjelaskan mengenaipola dan distribusi karakteristik variabel-variabel tersebut. Analisis deskriptif kuantitatifdilakukan mendasarkan pada asosiasi untukmengetahui pola dan distribusi fenomena, yangdiperkuat dari hasil observasi di lapangan.Analisis deskriptif kualitatif ditujukan untukanalisis data yang diperoleh dengan cara indepth

    Gambar 1. Kerangka Pemikiran PengembanganDesa Wisata Berbasis Kearifan Lokal Sebagai

    Strategi Pengentasan Kemiskinandi Kabupaten Rote Ndao

    Pengembangan desa wisataberbasisi kearifan local

    Pengentasan kemiskinan

    Pemberdayaan masyarakatFisik Non Fisik

    METODE PENELITIANTempat dan Waktu Penelitian

    Pemilihan lokasi penelitian dilakukandengan memanfaatkan informasi dari kajian petatematik dengan melihat keadaan dan distribusipenduduk maupun potensi desa wisata. Langkahselanjutnya menentukan lokasi yang represen-tative sesuai topik penelitian terkait pengentasankemiskinan dan pengembangan desa wisata,maka dipilih sebagai lokasi penelitian kawasanwisata di Kabupaten Rote Ndao Nusa TenggaraTimur. Pemilihan sampel dilakukan secarapurposive. Pemilihan sampel wilayah penelitiandilakukan setelah melakukan observasi. Berda-sarkan hasil observasi ditentukan 3 (tiga)wilayah yang dijadikan sampel penelitian,meliputi:

    96 BISMAN Jurnal Bisnis & Manajemen Volume 2 Nomor 2 Desember 2016

  • interview/wawancara mendalam. Tujuananalisis deskriptif kualitatif disini untuk lebihmenjelaskan hal-hal terkait dengan fenomenapenelitian dari wawancara mendalam. Analisisdata kualitatif dilakukan sejak wawancaradilapangan sampai peneliti menuangkan dalambentuk narasi.

    HASIL DAN PEMBAHASANPotensi Wilayah

    1. Potensi Fisik

    a.Desa Feapopi, Kecamatan Rote Tengah,Kabupaten Rote NdaoDi desa ini terdapat obyek wisata berupapanorama guratan-guratan alam akibatabrasi gelombang laut yang terlihat jelaspada bagian tepian curam pada BatuTermanu ini makin memperindah panoramaBatu Termanu ini. Terdapat 2 buah BatuTermanu, yaitu Batu Hun dan Batu Suelay,perairan yang berada di sekitar kawasanBatu Termanu ini, sering dijadikan sebagaitempat penyelaman. Hal ini dikarenakananeka terumbu karangnya yang memilikibanyak variasi, selain itu daya tarik wisatayang dimiliki Batu Termanu ini, kawasan disekitar Batu Termanu ini juga menjaditempat berkembang biaknya populasi ikankarapu.

    b.Desa Kuli, Kecamatan Lobalain, KabupatenRote NdaoDi Desa ini terdapat obyek Wisata PanoramaAlam. Untuk sampai ke lokasi dibutuhkanwaktu tempuh ± 35 menit dari kota Ba’adengan menggunakan kendaraan bermotor.Obyek Wisata yang dapat dinikmati adalahpanorama alam indah dan fantastis. Untukmencapai puncak lokasi tersebut harusmenaiki 300-an Anak Tangga. Obyek wisataini mempunyai luas 30000 m2, terletak diDesa Kuli, Kecamatan Lobalain. Obyekwisata ini menyuguhkan pesona pantai danwisata alam yang sangat indah serta deretantangga-tangga dan lopo.

    c.Desa Sotimori Kec. Rote Timur, KabupatenRote NdaoJarak yang ditempuh dari ibukota Kabu-paten ke daerah ini memakan waktu 90menit dengan menggunakan kendaraan ber-motor. Laut Mati merupakan Obyek DayaTarik Wisata yang sangat menyenangkanapabila kita menggunakan jet ski mengelili-ngi pulau-pulau kecil yang berada didalamnya. Obyek Wisata ini memilikikeunikan antara lain pasirnya berasal darikulit kerang (keong). Ikan yang hidup didalamnya adalah ikan mujair (ikan airtawar). Berjarak ± 65 km dari kota Ba’a dandapat ditempuh dalam waktu ± 1 jam 30menit.

    2. Potensi Non Fisik

    Berikut ini diuraikan potensi non fisik wila-yah yang berupa karakteristik responden dimasing-masing desa wisata sebagai berikut:

    a.Karakteristik responden menurut umurUmur responden di ketiga desa meliputi ber-bagai kelompok umur. Hal ini menunjukkanbahwa peluang keterlibatan dalam pengem-bangan kepariwisataan dapat untuk berbagaikelompok umur. Di Desa Wisata Feapopididominasi kelompok umur 50-59 yaitu39,2% dan Desa Wisata Kuli didominasikelompok umur 40-49 tahun yaitu sebesar40,5%, sedangkan di Desa Wisata Sotimorididominasi kelompok umur 60-69 tahun yaitumasing-masing sebesar 37,4%.

    b.Karakteristik responden menurut pendidikanMenurut pendidikan di Desa Wisata Feapopididominasi tamatan SMP yaitu masing-masingsebesar 53,2% sedangkan di Desa WisataDesa Kuli didominasi tamatan SMA yaitusebesar 42,0%, sedangkan di Desa Sotimorisebesar 48% didominasi tingkat pendidikanSMP dan diikuti oleh SD 35%. Perbedaantingkat pendidikan responden tentunya akanberpengaruh terhadap pengelolaan danpengembangan desa wisata, yang diasumsikanbahwa dengan semakin tingginya tingkatpendidikan responden maka pengelolaan danpengembangan desa wisata akan lebih baik.

    97Manteiro, Model Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Strategi PengentasanKemiskinan Di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur

  • c.Mata pencaharian pokok respondenMata pencaharian pokok responden di DesaWisata Feapopi adalah nelayan (45,5%) danDesa Wisata Desa Kuli adalah petani (48,3%)didominasi Petani yaitu masing-masingsebesar 50,0% dan 35,0%, sedangkan di DesaWisata Sotimori didominasi petani (40,0%).

    d.Pendapatan utama rumah tangga respondenPendapatan total rumah tangga respondentertinggi di Desa Feapopi dan Desa Desa Kulisebesar > Rp 1.500.000/bulan-2.000.000/bulan yaitu masing-masing sebesar 53,5% dan47,3%, sedangkan di Desa Wisata Sotimoripendapatan total rumah tangga respondentertinggi adalah < Rp 500.000- 1.000.000/bulan yaitu sebesar 50,5%.

    Strategi Pengembangan Desa WisataBerbasis Kearifan Lokal

    Strategi pengembangan desa wisata berbasiskearifan lokal mengacu pada potensi fisik dannon fisik yang terdapat pada masing-masingdesa yang akan dikembangkan, hal ini berkaitandengan kekhasan masing-masing desa dalammenjual potensinya untuk dijadikan modal dasarsebagai desa wisata.

    Pengembangan desa wisata berbasiskearifan lokal merupakan kegiatan yang tidakmudah untuk dilakukan apabila tidak didukungoleh seluruh komponen masyarakat yang ada didalam desa tersebut. Sebagai contoh adalahpotensi kearifan lokal yang ada seperti kegiatanpanen padi yang diawali menggunakan upacaratertentu, ritual miminta hujan dan sebagainya.Hal ini tidak akan menjadi suatu potensi kearifanlokal jika hanya dilakukan secara insidental olehmasing-masing pribadi pemilik lahan. Potensiyang seharusnya muncul di permukaan sebagaikegiatan budaya tidak terlihat karena tidakdilakukan secara komunal dan hanya bersifatpribadi, akan tetapi jika upacara tersebutdilakukan secara komunal dan dikemas,diagendakan oleh seluruh pemilik lahan sawahataupun masyarakat tertentu maka akan menjadisebuah atraksi wisata menarik.

    Strategi pengembangan desa wisata berbasiskearifan lokal perlu memperhatikan hal-halseba-gai berikut:1.Pemasaran paket desa wisata yang menun-

    jukkan nilai jual desa tersebut.2.Pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan

    dan menjaga kelestarian desa wisata itusendiri.

    3.Pemberdayaan masyarakat desa wisata itusendiri sebagai bagian dari potensi desa wisatatersebut.

    4.Kemasan desa wisata yang tidak monotonsehingga tidak memberikan kesan biasa sajakepada pengunjung.

    5.Menghindari adanya konflik kepentingan diantara desa-desa wisata yang berdekatan.

    6.Dapat meningkatkan perekonomian masya-rakat desa yang dijadikan desa wisata.

    Konflik kepentingan pengelolaan desawisata merupakan hal yang biasa yang terjadidalam sebuah kegiatan yang pariwisata, karenahal ini menyangkut tentang uang dan keun-tungan. Konflik tersebut dapat muncul di antaraanggota masyarakat di dalam desa wisata mau-pun dari luar desa wisata tersebut. Keputusanuntuk mendeklarasikan diri sebagai desa wisatamempunyai arti bahwa seluruh komponenmasyarakat setuju, paham, mengerti apa desawisata tersebut. Masyarakat sadar akan keber-adaan mereka dalam sebuah desa wisata, terma-suk sadar untuk menerima orang lain sebagaitamu/wisatawan di desa mereka dan merekaharus melayani. Oleh karena itu, keberadaandesa wisata harus disadari betul oleh seluruhkomponen masyarakat desa bersangkutan mulaidari yang bersifat individu maupun kelompok.Dalam suatu desa wisata umumnya terdapatpotensi fisik maupun non fisik, potensi fisikdapat diatur dengan mudah sedemikian rupa,akan tetapi potensi non fisik perlu adanya pende-katan sosial budaya yang mendalam. Potensisosial budaya yang akan dikembangkan sebagaikearifan lokal dapat menjadi bumerang bagidesa wisata dalam pengembangannya apabilatidak dilakukan pendekatan dengan baik,misalnya jika masyarakat di desa wisata tersebutadalah masyarakat heterogen maka dapat timbul

    98 BISMAN Jurnal Bisnis & Manajemen Volume 2 Nomor 2 Desember 2016

  • kelompok-kelompok berdasar agama, ras,silsilah keluarga, status ekonomi, dan lain-lain.Namun demikian jika ada pendekatan yangcukup baik, justru keheterogenan tersebut dapatdijadikan potensi yang menguntungkan untukpengembangan desa wisata. Konflik kepen-tingan bisa terjadi karena adanya saling rebutandalam pengelolaan desa wisata, baik antaraPamong desa, masyarakat, maupun pihak ketiga.Hal ini tidak boleh terjadi karena sangat tidakmenguntungkan bagi pengembangan desawisata. Pemberdayaan masyarakat setempatyang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraanatau peningkatan ekonomi tidak akan tercapaidengan adanya konflik kepentingan tersebut.

    Pemberdayaan masyarakat sangat diper-lukan dalam pengembangan desa wisata. Pem-berdayaan adalah peran aktif masyarakat yangdituntut untuk maju atau tidaknya desa wisatatersebut. Peran aktif disini adalah dalam mem-persiapkan diri untuk menerima dan melayanitamu/wisatawan yang berkunjung dengankekhasan yang akan disuguhkan kepada mereka.Tanpa peran aktif masyarakat maka tidak akantercapai slogan pengembangan desa wisatatersebut. Peran aktif masyarakat juga diperlukandalam pengembangan desa wisata berkelanjutandan kelestarian sumber daya alam yang ada didesa wisata tersebut. Dengan membuka diriterhadap dunia luar maka konsekuensi yangharus diterima selain peningkatan kesejahteraanjuga pengaruh yang dibawa oleh para tamu/wisatawan yang berkunjung. Oleh karena itustrategi pengembangan desa wisata yangberkelanjutan dengan memperhatikan kelesta-rian sumber daya alam sangat diperlukan untukmenjaga stabilitas kualitas lingkungan. Apabilakualitas lingkungan meningkat setelah dijadikandesa wisata maka pengembangan desa wisatatersebut termasuk berhasil dalam pengelo-laannya, dan sebaliknya apabila kualitas ling-kungan menurun setelah dijadikan desa wisatamaka pengembangan desa wisata tersebuttermasuk gagal dalam pengelolaannya.

    Berdasarkan tujuan akhir dari pengem-bangan desa wisata yaitu untuk meningkatkanperekonomian masyarakat setempat, maka

    pengembangan desa wisata harus dikelolasecara profesional dengan tidak mengesamping-kan kelestarian sumberdaya alam yang ada.Pengemasan dan paket wisata perlu direncana-kan dan dikelola dengan baik agar suatu desawisata mempunyai nilai jual terhadap wisa-tawan. Paket-paket yang ditawarkan diharapkanmampu memberikan sebuah tantangan yangtidak dapat ditemukan di desa wisata lainnya.Hal inilah yang perlu dipikirkan dalam pengem-bangan desa wisata, karena masa sekarang desawisata sangat banyak ragamnya dan jumlahnyadi Kabupaten Sleman. Apabila tidak ditawarkankekhasan desa wisata yang dikembangkan makanasibnya akan sama dengan desa wisata lainnya,yaitu hanya slogan sebagai desa wisata akantetapi tidak ada kegiatan wisata di desa tersebut.Kerjasama dengan berbagai pihak dan dinasterkait diperlukan untuk pengembangan desawisata, misalnya tour and travel,dinas pari-wisata daerah, pengembangan promosi melaluiweb/internet, media komunikasi, dan pemasaranyang lain. Hal ini akan mendukung terciptanyaiklim wisata yang kondusif yang tidak menim-bulkan konflik kepentingan yang merugikandesa wisata.

    Model Pengembangan Desa Wisata BerbasisKearifan Lokal

    Berdasarkan analisis potensi wilayah baikpotensi fisik maupun non fisik serta analisiskegiatan wisata dan kearifan lokal maka dapatdibuat model pengembangan desa wisatasebagai berikut:

    a. Desa Wisata Desa Feapopi, Kecamatan RoteTengah, Kabupaten Rote Ndao

    Desa Wisata Desa Feapopi, Kecamatan RoteTengah, Kabupaten Rote Ndao, dapat dijadi-kan alternatif model pengembangan desawisata alam dan budaya. Hal yang mendasariadalah kondisi alam yang cukup menunjang,dimana Di desa ini terdapat obyek wisataberupa panorama guratan-guratan alam akibatabrasi gelombang laut yang terlihat jelas padabagian tepian curam pada Batu Termanu inimakin memperindah panorama Batu Termanu

    99Manteiro, Model Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Strategi PengentasanKemiskinan Di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur

  • ini. Terdapat 2 buah Batu Termanu, yaitu BatuHun dan Batu Suelay, perairan yang beradadi sekitar kawasan Batu Termanu ini, seringdijadikan sebagai tempat penyelaman. Hal inidikarenakan terumbu karangnya yang memi-liki banyak variasi selain daya tarik wisatayang dimiliki Batu Termanu ini, kawasan disekitar Batu Termanu ini juga menjadi tempatberkembang biaknya populasi ikan karapu.Kondisi alam di Desa ini sangat cocok untukpara wisatawan baik lokal maupun manca-negara yang mempunyai hobby menyelamuntuk menikmati terumbu karang dan ber-bagai jenis ikan.Pengembangannya sebagaipotensi bisnis mungkin menjadi daya tariklain, selain sebuah lokasi pemancingan yangmemiliki banyak peminat, baik pemancinglokal, atau pendatang yang mungkin memilikihobby memancing. Selain itu dapat dijadikanwisata budaya karena menurut legenda rakyatyang berkembang dikalangan masyarakat RoteNdao, yang menceriterakan asal usul BatuTermanu ini diyakini bhwa Batu Termanuadalah sebuah batu besar yang berasal dariKepulauan Di Maluku, yang dapat berpindah-pindah lokasinya sampai suatu ketika batu initiba di Rote dan menetap ditempatnya seka-rang. Keyakinan tentang riwayat Batu Ter-manu sebagai sesuatu yang sakral danmengandung nilai magic tergambar denganadanya ritual meminta hujan yang diadakandi sekitar kaki Batu Termanu.

    b.Desa Kuli, Kecamatan Lobalain, KabupatenRote Ndao

    Di Desa ini cocok untuk dijadikan desa wisataalam karena panorama alam indah danfantastis. Untuk mencapai puncak lokasi terse-but harus menaiki 300-an anak tangga. Obyekwisata ini mempunyai luas 30000 m2. Obyekwisata ini menyuguhkan pesona pantai danwisata alam yang sangat indah serta deretantangga-tangga dan lopo. Dari ketinggian anaktangga ke 300 ini para wisatawan dapatmelihat pemandagan alam yang indah DesaKuli dengan hamparan sawah dan pepohonan

    nan hijau membuat desa ini cocok untukdijadikan desa wisata alam. Tempat ini sangatcocok untuk kegiatan-kegiatan outbon dantracking bagi remaja, anak-anak, dewasa danorang tua dengan menaiki anak tangga danmelewati rindangnya berbagai jenis tanamankehutanan. Namun demikian pengembanganseni budaya juga tidak boleh dibiarkan begitusaja untuk mendukung pengembangan DesaWisata Alam .

    c.Desa Sotimori Kecamatan Rote Timur,Kabupaten Rote Ndao

    Jarak yang ditempuh dari ibukota kabupatenke daerah ini memakan waktu 90 menitdengan menggunakan kendaraan bermotor.Laut Mati merupakan Obyek Daya TarikWisata yang sangat menyenangkan apabilakita menggunakan jet ski mengelilingi pulau-pulau kecil yang berada di dalamnya. ObyekWisata ini memiliki keunikan antara lainpasirnya berasal dari kulit kerang (keong).Ikan yang hidup di dalamnya adalah ikanmujair (ikan air tawar). Di desa ini masyarakatlebih banyak bermata pencaharian sebagainelayan. Hal ini menarik untuk dijadikan salahsatu desa wisata di Kabupaten Rote Ndaoyaitu dimana pemerintah dapat memberikanbantuan-bantuan untuk mendirikan UKMuntuk membuat cendramata berbahan dasarkulit kerang. Hal ini juga dapat menarikwisatawan yang datang ke Desa Sotimori yaituselain untuk menikmati wisata alamnyamereka juga dapat terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat setempat sepertimemelihara ikan air tawar, memancing ,menenun kain, membuat kerajinan dan menaridengan tarian tradisional.

    KESIMPULAN DAN SARANA. Kesimpulan

    Berdasarkan potensi wilayah baik potensifisik maupun non fisik serta kegiatan desa wisatadan kearifan lokal yang ada di daerah penelitianmaka dapat dibuat 3 (tiga) model pengembangandesa wisata, yaitu:

    100 BISMAN Jurnal Bisnis & Manajemen Volume 2 Nomor 2 Desember 2016

  • 1.Desa Wisata Feapopi dijadikan alternatifmodel pengembangan desa wisata alam danbudaya.

    2.Desa Wisata Kuli dijadikan alternatif modelpengembangan desa wisata alam

    3.Desa Wisata Sotimori dijadikan alternatifmodel pengembangan desa wisata alam danbudaya.

    B. Saran

    1.Bagi pemerintah setempat perlu adanyamaster plan untuk penyusunan sinergi antarapemerintah tingkat provinsi, kabupaten,kecamatan, dan desa dalam penyusunanstrategi pengembangan desa wisata yangberkelanjutan.

    2.Bagi pemerintah setempat perlu adanya per-timbangan kemungkinan munculnya konflikkepentingan antara pemerintah desa danpengelola desa wisata (pihak ketiga).

    3. Bagi pemerintah setempat perlu adanya Perdayang mengatur tentang penyelenggaraan desawisata dengan parameter tertentu untukmenghindari munculnya desa-desa wisatayang tidak sesuai kaidah desa wisata itusendiri.

    DAFTAR PUSTAKA

    Fandeli, C. 2001. Perencanaan KepariwisataanAlam. Yogyakarta: Fakultas KehutananUGM.

    Hastuti dan Dyah Respati SS. 2009. ModelPemberdayaan Perempuan Miskin BerbasisPemanfaatan Sumberdaya Perdesaan UpayaPengentasan Kemiskinan di PerdesaanLereng Merapi Selatan. Journal HumanioraVol 14, Nomor 1, April 2009, ISSN 1412 –4009.

    Johnston, R.J et. al., 2000. The Dictionary ofHuman Geography . London: OxfordBlackwell.

    Nasruddin Anshoriy dan Sudarsono. 2008.Kearifan Lingkungan: dalam PerspektifBudaya Jawa . Jakarta: Yayasan OborIndonesia.

    Peet, Richard. 1998. Modern GeographycalThought. USA: Blackwell Publisher.

    Philippe Fleury, et. Al. 2008. Implementing Sus-tainable Agriculture and Rural Developmentin The European Alps. Mountain Researchand Development; Aug-Nov 2008; 28, 3/4;Agriculture Journals, pg. 226.

    Stephen Biggs. 2008. Learning from The Positi-veto Reducerural Poverty and IncreaseSocial Justice: Institutional Innovations inAgricultural and Natural ResourcesResearch and Development. Journal ExplAgric. (2008), volume 44, pp. 37–60.

    Suparmoko. 1994. Ekonomi Sumberdaya Alamdan Lingkungan. Yogyakarta: BPFE UGM.

    UNDP. 2006. Era Baru Dalam PengentasanKemiskinan. Jakarta: The World BankOffice.

    Vidhyandika Moeljarto. 1996. PemberdayaanKelompok Miskin Melalui IDT dalam OnnyS Priyono dan AMW Pranarka, Pemberda-yaan Konsep, Kebijakan dan Implementasi,Jakarta: CSIS.

    101Manteiro, Model Pengembangan Desa Wisata Berbasis Kearifan Lokal Sebagai Strategi PengentasanKemiskinan Di Kabupaten Rote Ndao Nusa Tenggara Timur