METODE KWL

download METODE KWL

of 39

  • date post

    10-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.146
  • download

    5

Embed Size (px)

Transcript of METODE KWL

Pendahuluan 1. Latar belakang Meskipun dewasa ini ada puluhan teknik pengajaran bahasa dilontarkan dan dikenalkan oleh para pakar pendidikan dan pengajaran bahasa, tampaknya elemen dasar pendidikan bahasa secara tradisional tetap tidak dapat dibuang begitu saja. Elemen dasar seperti mendengarkan, berbicara, membaca, menulis dan seringkali juga menerjemahkan, tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dalam teknik pengajaran bahasa yang mana saja.

Para guru, instruktur, dosen, dan bahkan guru besar boleh saja menggunakan pendekatan dan teknik terbaru dalam pengajaran bahasa, tetapi tetap saja pengenalan kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan kemudian wacana tidak dapat melepaskan diri dari elemen dasar dan pendekatan tradisional di atas. Begitu juga dengan penilaian yang akan dilakukan untuk menentukan keberhasilan sebuah teknik pembelajaran. Pada dasarnya penilaian yang dilakukan pun tidak dapat dilepaskan dari penilaian empat (atau bahkan lima) faktor di atas. Bagaimana sebuah pendekatan dapat dikatakan berhasil dan berdaya guna kalau unjuk kerja siswa (atau mahasiswa) yang menggunakan pendekatan tersebut tidak mencerminkan kemampuan dasar dalam ranah kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, menulis? Berikut ini akan dibicarakan salah satu aspek elemen dasar kegiatan pembelajaran bahasa, khususnya yang berhubungan dengan kegiatan membaca, yaitu membaca menggunakan pendekata SAVI 1. Rumusan masalah a. Apa yang dimaksud dengan membaca dengan pendekatan SAVI? b. Bagaimana cara melakukan Cara membaca dengan pendekatan SAVI? 1. Tujuan a. mengetahi apa yang dimaksud dengan membaca dengan pendekatan SAVI b. mengetaui cara membca dengan menggunakan pendekatan SAVI

B. Kajian Teori Membaca dengan pendekatan SAVI diperkenalkan oleh Meier. Membaca dengan pendekatan SAVI merupakan cara baru dalam belajar. SAVI adalah akronim dari Somatis ( bersifat Raga ), Auditori ( bersifat suara ), Visual ( bersifat gambar ), dan Intelektual ( bersifat merenungkan ). Menurut Meier, apabila sebuah pembelajaran dapat melibatkan seluruh unsur SAVI ini, pembelajaran akan berlangsung efektif sekaligus atraktif. Sebagai contoh kasus apabila kita membaca sebuah buku. Pertama, membaca secara Somatis. Ini berate bahwa saat membaca, diperlukan melibatkan fisik kita. Membaca akan efektif apabila posisi tubuh kita dalam keadaan yang relaks, tidak tegang. Apabila selama membaca mengalami rasa jenuh, pembaca disarankan mencoba untuk menghentikan proses pembacaan sejenak dan menggerakkan seluruh tubuh. Hal ini bertujuan untuk menyegarkan kembali pikiran dan perasaan kita. Kedua, membaca dengan cara Auditoris. Membaca auditoris dipakai ketika menemukan kalimat (yang kita baca) yang sulit sekali dicerna, atau, pada saat membaca menemukan barisbaris kalimat yang menarik, tetepi sulit untuk berkonsertrasi untuk memahaminya. Membaca secara auditoris dalam hal ini maksudnya membaca dengan keras kalimat-kalimat tersebut sehingga telinga pembaca itu sendiri mendengar secara jelas. Hal itu dimaksudkan untuk mempercepat dan lebih menambah keakuratan dalan memahami kalimat tersebut. Ketiga, membaca secara visual. Seorang pakar pendidikan bernama Eric Jensen mengemukakan bahwa benak pembaca akan merasa fun apabila pada saat pertama kali menyerap informasi, benak kita tersebut diberi informasi dalam bentuk Gambar (ikon, symbol, atau ornamen) dan informasi itu memiliki kekayaan warna. Buku yang mampu membuat para pembacanya merasa senang, sebaiknya memang diber sentuhan visual atau dalam bahasa lainmenggunakan bahasa rupa. Apabila membaca buku-buku yang tanpa gambar, misalnya buku-buku fiksi, kita layak berhenti sejenak untuk membayangkan tokoh-tokoh yang dilukidkan oleh sang pengarang lewat kata-kata. Proses membayangkan ini, jelas, akan mengefektifkan pembacaan buku tersebut. Juga,

kadang-kadang ada pengarang buku nonfiksi (ilmiah) yang tidak menyertakan gambar. Pembaca dapat memanfaatkan potensi visual kita untuk menggambarkan sendiri apa-apa yang diuraikan oleh sang pengarang di benak pembaca agar pemahaman pembaca lebih efektif. Keempat, membaca secara Intelektual. Kata Intelektual yang digunakan di dini perlu diberi catatan khusus. Intelektual disini menunjukkan apa yang dilakukan oleh pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan pengalaman dan menciptakan hubungan, makana, rencana, dan nilai pengalamn tersebut. Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan masalah, dan membangun makana. Dalam proses membaca buku, potensi intelektual ini berkaitan erat dengan menulis. Apabila setiap kali selesai membaca sebuah buku (baik itu hanya satu halaman, satu bab, atau sekian bagian buku) kita lalu berhenti sejenak untuk memberikan catatan-catatan atau merumuskan secara tertuls apa pun yang kita peroleh dari pembacaan tersebut, tentulah kita akan memperoleh manfaat lebih besar ketimbang membiarkan saja materi yang kit abaca tanpa proses penulisan. Teori Meier tersbut terlatar belakangi oleh belajar yang menurutnya akan selalu terhambat jika memisahkan tubuh dan pikiran. Perumpamaan lain ia kemukakan. Mengapa banyak orang yang mengantuk atau tertidur lelap saat seseorang tengah berceramah? Lemahnya materi ceramah adalah salah satu sisi. Tapi sisi lain yang memberi sumbangan penting, kata Meier, karena peserta ceramah tidak diperbolehkan (atau tidak terbiasa) menggerakkan badan. Banyak peserta kesulitan berkonsentrasi tanpa melakukan sesuatu secara fisik, katanya. Pemisahan tubuh dan pikiran dalam kebudayaan Barat sangat keliru. Penelitian neurologis telah membongkar keyakinan kebudayaan Barat yang salah bahwa pikiran dan tubuh adalah dua entitas yang berbeda. Temuan mereka menunjukkan bahwa pikiran tersebar ke seluruh tubuh. Tubuh adalah pikiran, begitu juga sebaliknya, ungkap Meier. Direktur Center for Accelerated Learning di Lake Geneva, Wisconsin itu menyoroti secara khusus budaya auditori atau budaya mendengar dan melafalkan dengan suara. Mengutip

cerita Dr Seuss, penulis Hooray for Diffendoofer Day, Meier mengisahkan salah seorang penjaga perpustakaan paling aneh di kampus Seuss. Tak seperti penjaga perpustakaan pada umumnya yang merasa terganggu dengan suara berisik atau justru memberi larangan berbicara keras saat orang membaca di perpustakaan, nona Loon, penjaga perpustakaan itu, justru melakukan sebaliknya. Nona Loon adalah penjaga perpustakaan kami. Dia bersembunyi di balik rak, dan sering berteriak, Bicaralah lebih keras! ketika kami sedang membaca dalam hati, ucap Meier menirukan Seuss. Dalam posisi itu, kata Meier, penjaga perpustakaan itu yakin akan pentingnya mengembalikan cara auditori dalam kegiatan belajar. Strategi dalam menerapkan SAVI Belajar akan Efektif dalam Keadaan Fun (menyenangkan). Secara meyakinkan, kalimat ini tertera pada halaman judul dalam buku The Learning Revolution. Ini mencerminkan keinginan kuat pengarangnya agar kalimat revolusi ini benar-benar diperhatikan dan diterapkan dalam pembelajaran. Apa alasannya? Ada berbagai teori tentang otak manusia. Salah satu teori tentang otak yang banyak dikupas dalam pendidikan adalah apa yang disebut oleh Dave Meier dalam bukunya, The Accelerated Learning Hand Book (Kaifa, 2004), sebagai Teori Otak Triune. Teori ini menyatakan bahwa otak manusia terdiri tiga bagian, yaitu otak reptil, otak tengah (sistim limbik), dan otak berpikir (neokorteks). Jika perasaan pembelajaran (siswa) dalam keadaan positif (gembira, senang), maka pikiran siswa akan naik tingkat dari otak tengah ke neokorteks (otak berpikir). Inilah yang dimaksud dengan belajar akan efektif. Sebaliknya, manakala perasaan siswa dalam keadaan negative (tegang, takut) sebagaimana yang dikisahkan pada awal tulisan ini pembelajaran meliteristik- maka pikiran siswa akan turun tingkat dari otak tengah menuju otak reptile. Pada situasi ini belajar tidak akan berjalan atau berhenti sama sekali. Belajar adalah Berkreasi, Bukan Mengkonsumsi. Sudah bukan zamannya lagi anak disuapi, tetapi ia harus menciptakan sendiri. Pembelajaran harus berpusat pada siswa, bukan berpusat pada guru. Oleh karena itu, pada saat merancang pembelajaran, guru harus memikirkan apa yang akan dilakukan siswa, bukan apa yang dilakukan guru. Apabila guru masih mempertahankan pembelajaran konsumtif dengan metode unggulannya ceramah, maka kemampuan siswa menurut

Winarno Surakhmad (Fasilitator, Edisi I Tahun 2003), akan sedikit lebih tinggi dari kemampuan seekor monyet yang pandai. Belajar yang Baik itu Bersifat Sosial. Tak perlu diragukan lagi manfaat yang akan dirasakan jika belajar dilakukan dalam kelompok. Berkali-kali riset dilakukan untuk membuktikan keefektifan belajar kelompok. Hasilnya memang selalu menunjukkan bahwa belajar akan lebih berhasil, bahkan keberhasilannya berlipat-lipat, jika dilakukan secara kelompok ketimbang belajar secara individual. Belajar yang Baik Juga Bersifat Multi Inderawi. Siswa belajar dengan gayanya masing-masing. Kita tidak dapat memaksakan suatu gaya belajar yang bukan gayanya kepada seorang siswa. Setidaknya ada tiga gaya belajar, yaitu gaya visual, gaya auditorial dan gaya kinestik. Dengan melibatkan seluruh indera dalam pembelajaran, semua gaya belajar itu akan terlayani. Kalau semua siswa terlayani, belajar akan berjalan efektif Belajar Terbaik dalam Keadaan Alfa. Sebagaimana stasiun pemancar radio atau televisi, otak manusia juga bekerja pada gelombang atau frekuensi tertentu. Ketika kita dalam keadaan terjaga atau sadar penuh, otak bekerja pada gelombang Beta. Manakala kita sedang waspada relaks, otak bekerja pada gelombang Alfa. Otak kita akan bekerja pada gelombang Theta jika kita mengangguk atau hamper tertidur. Dan pada saat tertidur pulas, otak kita bekerja pada frekuensi Delta. Mengapa belajar terbaik itu pada frekuensi Alfa? Karena sebagian besar memori kita disimpan di pikiran bawah sadar. Dan yang dapat menghantarkan memori ke pikiran bawah sadar adalah gelombang Alfa. Lalu bagaimana mencapai kondisi Alfa? Dengan meditasi at