Metode dcf dalam penilaian aktiva tak berwujud untuk tujuan transfer pricing (draf kasar)

of 97/97
www.futurumcorfinan.com Page 1 Metode Discounted Cash Flow dalam Penilaian Aktiva Tidak Berwujud untuk Tujuan Transfer Pricing (dari sudut pandang pembayar) DRAF KASAR Kesepakatan Arm’s-length principle : prinsip kewajaran dan kelaziman usaha Intangible : aktiva tidak berwujud, barang tidak berwujud, harta tidak berwujud, mencakup HAKI/IP HAKI/IP : hak kekayaan intelektual/intangible properties Associated companye : perusahaan-perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa Associated companye : perusahaan-perusahaan yang mempunyai tidak hubungan istimewa Sukarnen DILARANG MENG-COPY, MENYALIN, ATAU MENDISTRIBUSIKAN SEBAGIAN ATAU SELURUH TULISAN INI TANPA PERSETUJUAN TERTULIS DARI PENULIS Untuk pertanyaan atau komentar bisa diposting melalui website www.futurumcorfinan.com

Embed Size (px)

Transcript of Metode dcf dalam penilaian aktiva tak berwujud untuk tujuan transfer pricing (draf kasar)

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 1

    Metode Discounted Cash Flow dalam

    Penilaian Aktiva Tidak Berwujud untuk

    Tujuan Transfer Pricing (dari sudut

    pandang pembayar) DRAF KASAR

    Kesepakatan

    Arms-length principle : prinsip kewajaran dan kelaziman usaha

    Intangible : aktiva tidak berwujud, barang tidak berwujud, harta

    tidak berwujud, mencakup HAKI/IP

    HAKI/IP : hak kekayaan intelektual/intangible properties

    Associated companye : perusahaan-perusahaan yang mempunyai

    hubungan istimewa

    Associated companye : perusahaan-perusahaan yang mempunyai tidak

    hubungan istimewa

    Sukarnen

    DILARANG MENG-COPY, MENYALIN,

    ATAU MENDISTRIBUSIKAN

    SEBAGIAN ATAU SELURUH TULISAN

    INI TANPA PERSETUJUAN TERTULIS

    DARI PENULIS

    Untuk pertanyaan atau komentar bisa

    diposting melalui website

    www.futurumcorfinan.com

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 2

    BAB I

    Pendahuluan

    Dengan terbitnya PER-43/PJ/2010 tanggal 6 September 2010 tentang Penerapan

    Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam Transaksi antara Wajib Pajak

    dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa (untuk selanjutnya disebut

    sebagai PER-43), pihak Dirjen Pajak Indonesia telah menggariskan bahwa wajib

    pajak wajib menerapkan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha dalam melakukan

    transaksi-transaksi tertentu dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan

    istimewa.

    PER-43 pada intinya mengatur mengenai:

    bagaimana prinsip kewajaran dan kelaziman usaha serta analisis

    kesebandingan dilakukan;

    metode penentuan harga wajar atau laba wajar yang diakui;

    kondisi-kondisi yang tepat bagi pemilihan metode penentuan harga transfer;

    harga wajar atau laba wajar baik berupa harga atau laba tunggal (single price)

    atau dalam bentuk rentang harga wajar atau laba wajar (arms length range);

    transaksi jasa, transaksi pemanfaatan dan pengalihan harta tidak berwujud;

    dokumen dan kewajiban pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan; dan

    kewenangan Direktur Jenderal Pajak dan hak-hak wajib pajak.

    Diharapkan dari diterbitkannya Peraturan Direktur Jenderal Pajak di atas akan dapat

    memberikan kepastian dan kelancaran dalam penerapan kewajaran dan kelaziman

    usaha1.

    Khusus untuk transaksi pemanfaatan harta tidak berwujud, PER-43 mengaturnya

    dalam Pasal 17, yang akan kita dalami lebih lanjut dalam Bab II. Dalam tahun yang

    sama, the Organization for Economic Co-operation and Development menerbitkan

    OECD Transfer Pricing Guidelines for Multinational Enterprises and Tax

    Administrators (July 2010) yang merupakan revisi besar atas OECD Report Transfer

    Pricing and Multinational Enterprises (1979). OECD Transfer Pricing Guideline 2010

    (untuk selanjutnya diacu sebagai OECD TP Guideline) terdiri dari 9 bab, mencakup

    1 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-43/PJ/2010 tanggal 6 September 2010

    tentang Penerapan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha Dalam Transaksi antara Wajib Pajak dengan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 3

    juga bab VI Special Consideration for Intangible Property dan Bab IX Transfer

    Pricing Aspects of Business Restructurings.

    OECD TP Guideline ditujukan untuk memberikan petunjuk mengenai salah satu isu

    yang paling sulit dalam penerapan prinsip perpajakan internasional terhadap

    perusahaan multinasional, yaitu penentuan transfer price yang tepat untuk tujuan

    perpajakan.

    Transfer prices are the prices at which an enterprise transfers physical goods and

    intangible assets or provide services to associated enterprises.

    Terjemahan bebas:

    Transfer price adalah harga yang digunakan oleh suatu perusahaan dalam

    pengalihan barang fisik dan aktiva tidak berwujud atau menyediakan jasa kepada

    perusahaan terkait.

    Di belakang penentuan transfer price terdapat prinsip kewajaran dan kelaziman

    usaha. Dalam bagian Glossary OECD TP Guideline disebutkan bahwa:

    The international standard that OECD member countries have agreed should be

    used for determining transfer prices for tax purposes. It is set forth in Article 9 of the

    OECD Model Tax Convention as follows: where

    conditions are made or imposed between the two enterprises in their commercial or

    financial relations which differ from those which would be made between

    independent enterprises, then any profits which would, but for those conditions, have

    accrued to one of the enterprises, but, by reason of those conditions, have not so

    accrued, may be included in the profits of that enterprise and taxed accordingly.

    Terjemahan bebas:

    Standard internasional yang telah disetujui oleh para negara anggota OECD wajib

    digunakan untuk menentukan transfer price untuk tujuan perpajakan. Hal ini

    disebutkan dalam Artikel 9 dari OECD Model Tax Convention sebagai berikut:

    dimana

    kondisi dalam mana terjadi atau dibebankan antara dua perusahaan dalam

    hubungan komersial atau keuangan yang berbeda dari kondisi yang akan terjadi

    antara pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa, maka laba apapun

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 4

    yang akan, untuk kondisi tersebut, telah diberikan kepada salah satu pihak, tetapi,

    karena alasan kondisi-kondisi tersebut, tidak diberikan, dapat termasuk dalam laba

    perusahaan dan dengan demikian dikenakan pajak.

    Dalam PER-43 sendiri, yang dimaksud dengan prinsip kewajaran dan kelaziman

    usaha adalah sebagai berikut2:

    Yang dimaksud dengan Prinsip Kewajaran dan Kelaziman Usaha (arms length

    principle) adalah prinsip yang mengatur bahwa apabila kondisi dalam transaksi yang

    dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa sama atau

    sebanding dengan kondisi dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang

    tidak mempunyai hubungan istimewa yang menjadi pembanding, maka harga atau

    laba dalam transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan

    istimewa harus sama dengan atau berada dalam rentang harga atau laba dalam

    transaksi yang dilakukan antara pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan

    istimewa yang menjadi pembanding.

    Secara singkat, harga yang dianggap memenuhi prinsip kewajaran dan kelaziman

    usaha (arms-length price) adalah:

    price applied or proposed to be applied by unrelated enterprises under uncontrolled

    conditions

    Apabila digambarkan, prinsip kewajaran dan kelaziman usaha sebagai berikut:

    2 PER-43 halaman_________

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 5

    Apakah proses di atas dapat dilihat, baik antara pihak-pihak yang mempunyai

    hubungan istimewa dan tidak mempunyai hubungan istimewa?

    Secara umum, antara pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan istimewa,

    proses negosiasi merupakan proses untuk mencapai kata sepakat yang akan

    membawa manfaat bagi kedua belah pihak (win-win solution), sebagaimana

    tergambar di bawah ini.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 6

    OECD TP Guidelines banyak menggunakan konsep atau analisa kesebandingan

    (comparability).

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 7

    Begitu kita menyentuh analisa kesebandingan dengan mengacu ke market, maka

    kita akan dihadapkan pada banyak segi yang harus dipertimbangkan dan

    disesuaikan, antara lain:

    karakteristik dari item yang dialihkan (jasa yang diberikan)

    FAR oleh masing-masing entitas

    Isi perjanjian (contractual terms), baik menyangkut adanya option fee, up-

    front fee dan pembayaran royalti minimum.

    Kondisi yang ada di pasar menyangkut:

    o Lokasi geografis

    o Ukuran pasar

    o Hukum dan peraturan

    o Modal yang ditanamkan

    o Tingkat kompetisi, dan lain-lain

    Tingkat rentabilitas/profitabilitas

    Tingkat resiko

    Kesadaran (awareness) dan kekuatan merek

    Tingkat perlindungan merek

    Eksklusivitas

    Jangkauan pemasaran (lokal, regional atau global)

    Kondisi industri

    Ukuran dan karakteristik pasar

    Gambaran ekspektasi pertumbuhan produk yang bersangkutan

    Jalur distribusi

    Hambatan untuk masuk ke industry (barriers to entry)

    Timing

    Lamanya perjanjian

    Cakupan dan status perlindungan hukum

    Isi perjanjian (misalnya pembatasan penggunaan, struktur pembayaran, dan

    lain-lain)

    Kaitan dengan IP yang lain

    Fungsi-fungsi dalam perusahaan

    o Penelitian dan pengembangan

    o Pabrikasi, produksi dan engineering proses

    o Pembuatan dan penyusunan (fabrication and assembly) produk

    o Pembelian dan manajemen bahan baku

    o Fungsi pemasaran dan distribusi, termasuk manajemen persediaan,

    administrasi warranty, dan kegiatan periklanan.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 8

    o Transportasi dan pergudangan

    o Manajemen, legal, akuntansi dan keuangan

    Dalam Glossary OECD TP Guideline3, menyebutkan bahwa:

    Two enterprises are associated if one of the enterprises participates directly or

    indirectly in the management, control, or capital of the other or if the same persons

    participate directly or indirectly in the management, control, or capital of both

    enterprises (i.e. if both enterprises are under common control).4

    Terjemahan bebas:

    Dua perusahaan dikatakan terkait jika satu dari perusahaan-perusahaan tersebut

    berpartisipasi secara langsung atau tidak langsung dalam manajemen, pengendalian,

    atau modal pada perusahaan lainnya atau jika orang yang sama berpartisipasi

    secara langsung atau tidak langsung atas manajemen, pengendalian, atau modal

    dari kedua perusahaan tersebut (dengan kata lain, kedua perusahaan berada pada

    pengendalian yang sama.

    Enterprises

    Seksi 92F (iii) memberikan definisi enterprise sebagai any person (including

    Permanent Establishment) engaged in:

    any activity relating to production, storage, supply, acquisition or control of

    articles, goods or specified intangibles.

    any activity pertaining to provision of services or carrying out any work in

    pursuance of a contract

    any investment or financing activity

    Istilah Permanent Establishment telah didefinisikan menjadi istilah inklusif mencakup

    a fixed place of business through which the business of the enterprise if wholly or

    partly carried on [S.92F(iiia)].

    Associated Enterprises telah diberikan definisi mencakup:

    3 OECD page ________

    4 OECD page ____

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 9

    1. Participation in Management / Control or Capital [Section 92A(1)(a)]

    participation criterion

    2. Common persons in Management/Control or Capital [Section 92A(1)(b)]

    common control criterion

    3. 13 Categories of deeming fictions for enterprises to qualify as Associated

    Enterprises [Section 92 (2)] deeming fictions

    Terkait dengan kriteria partisipasi, dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Associated Enterprise for an enterprise means an enterprise which participates :

    Directly or indirectly or

    Through one or more intermediaries

    in management or control or capital of other enterprise [Section 92A (1) (a)]

    Terkait dengan kriteria dalam pengendalian bersama (common control), dapat

    dijelaskan sebagai berikut:

    Associated Enterprise for an enterprise means an enterprise in respect of which :

    one or more persons who participate

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 10

    directly or indirectly or

    through one or more intermediaries

    in its management or control or capital ARE THE SAME PERSONS WHO

    PARTICIPATE

    directly or indirectly or

    through one or more intermediaries

    in its management or control or capital of the other enterprise

    Terkait dengan Deeming Fictions adalah sebagai berikut:

    Enterprises deemed to be Associated Enterprises [Section 92 A (2)]:

    a) one has direct or indirect shareholding carrying not less than 26% voting

    power in the other

    b) common parent / person holds 26% of voting power in both enterprises

    c) one advances loan constituting not less than 51% of book value of total

    assets of the other enterprise

    d) one provides guarantees of not less than 10% of total borrowings of the other

    enterprise

    e) more than half of board of directors of one enterprise are appointed by the

    other enterprise

    f) more than half of the board of directors of both enterprises are appointed by

    the same person or persons

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 11

    g) one enterprise is wholly dependent on use of IPRs of the other enterprise

    h) At least 90% of raw materials and consumables required by an enterprise are

    supplied by the other enterprise, or by persons specified by the other

    enterprise, and prices and conditions relating to supply are influenced by

    such other enterprise

    i) Goods or articles manufactured or processed by one enterprise, are sold to

    the other enterprise or to persons specified by the other enterprise, and

    prices and conditions relating thereto are influenced by such other

    enterprise

    j) Both enterprises controlled by same the same individual singly or jointly with

    relatives

    k) One enterprise controlled by HUF and other controlled by member of HUF or

    his relative or jointly

    l) One enterprise being a firm, association of persons or body of individuals, the

    other enterprise holds not less than 10% interest therein

    m) There exists between the two enterprises, any relationship of mutual interest,

    as may be prescribed

    Deeming fictions dapat mencakup transaksi-transaksi pihak ketiga terkait dengan:

    Ventura Bersama/Joint Ventures [Section 92 A (2) (a)]

    Pendanaan ekstensif oleh bank kepada perusahaan [Section 92 A (2)

    (c)]

    Pengaturan global untuk suplai bahan baku dalam jumlah besar

    [Section 92 A (2) (h)]

    Penggunaan teknologi eksklusif oleh suatu perusahaan yang

    seluruhnya mempunyai ketergantungan [Section 92 A (2) (g)]

    Bandingkan dengan pemahaman Hubungan Istimewa menurut PER-43 yang

    mengacu kepada hubungan antara Wajib Pajak dengan pihak lain sebagaimana

    dimaksud dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-undang PPh atau Pasal 2 ayat (2)

    Undang-undang PPN.

    Secara umum, pengertian hubungan istimewa yang didapatkan dalam ketentuan

    perpajakan di Indonesia adalah sebagai berikut:

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 12

    1. Hubungan istimewa karena kepemilikan saham/penyertaan sebagaimana

    diatur oleh Pasal 18 ayat (4) huruf a UU PPh.

    Wajib Pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak

    langsung paling rendah 25% (dua puluh lima persen) pada Wajib

    Pajak lain;

    hubungan antara Wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25%

    (dua puluh lima persen) pada dua Wajib Pajak atau lebih;

    atau hubungan di antara dua Wajib Pajak atau lebih yang disebut

    terakhir;

    2. Hubungan istimewa karena penguasaan sebagaimana diatur oleh Pasal 18

    ayat (4) huruf b UU PPh.

    3. Hubungan istimewa karena hubungan keluarga sebagaimana diatur oleh

    Pasal 18 ayat (4) huruf c UU PPh.

    4. Hubungan istimewa karena pengendalian sebagaimana diatur oleh Pasal 9

    ayat (1) Perjanjian Penghindaran Pajak Berganda (tax treaty) antara

    Indonesia dengan negara domisili pihak yang mempunyai hubungan istimewa

    dengan Wajib Pajak

    Banyak isu yang dicakup dalam OECD TP Guideline cukup relevan untuk transaksi-

    transaksi terkait aktiva tidak berwujud. Terutama:

    bab II memberikan petunjuk atas seleksi metode transfer pricing yang paling

    tepat (paragraph 2.1-2.11);

    petunjuk lebih lanjut untuk penerapan profit-split method di mana kedua-belah

    pihak dalam suatu transaksi memberikan kontribusi aktiva tidak berwujud

    yang unik dan berharga (paragraph 2.108 2.145);

    bab IX memberikan petunjuk baru atas resiko (paragraph 9.10-9.47) dan

    pengalihan atas aktiva tidak berwujud (paragraph 9.80-9.92);

    bab II terkait aplikasi metode laba bersih transaksional (transactional net

    margin method);

    bab III terkait dengan analisa kesebandingan; dan

    bab IX terkait dengan restrukturisasi bisnis.

    Namun demikian, beberapa isu yang spesifik terhadap transaksi-transaksi terkait

    aktiva tidak berwujud belum tercakup dalam OECD TP Guideline, yang kemudian

    menimbulkan kesulitan yang signifikan, baik bagi wajib pajak dan pemerintah,

    tentang perlakuan atas aktiva tidak berwujud untuk tujuan transfer pricing. Ini

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 13

    mengarah ke banyak sengketa pajak menyangkut transfer pricing yang secara

    jumlah cukup signifikan dan adanya resiko pemajakan ganda atas suatu transaksi.

    Contoh timbulnya pemajakan ganda atas suatu transaksi pembayaran royalti:

    OECD TP Guideline juga belum memberikan definisi mengenai apa yang dimaksud

    dengan aktiva tidak berwujud, meskipun terdapat satu bab (Bab VI) yang

    didedikasikan untuk pembahasan aktiva tidak berwujud. Sedangkan paragraph 6.2

    OECD TP Guideline hanya memuat daftar ilustrasi beberapa intangibles.

    Berangkat dari permasalahan-permasalahan di atas, OECD melalui The Committee

    on Fiscal Affairs telah memulai pada tahun 2011 suatu proyek baru tentang aspek

    transfer pricing dari aktiva tidak berwujud. Diharapkan proyek tersebut akan

    menghasilkan suatu pembaharuan (update) atas Bab VI dari TP Guideline dan

    kemungkinan Bab VIII juga 5 . Jadual dari penyelesaian proyek ini per Mei 2011

    adalah sebagai berikut:

    5 OECD, Transfer Pricing and Intangibles : Scope of the OECD Project, Document approved

    by The Committee on Fiscal Affairs on 25 Januari 2011.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 14

    Sumber : OECD website

    Tujuan proyek ini adalah terkait pemeriksaan atas aspek transfer pricing transaksi

    melibatkan intangibles 6 , transaksi mana dilakukan antar perusahaan yang

    mempunyai hubungan istimewa (associated enterprises)7.

    Area spesifik yang dicakup dalam proyek OECD ini adalah mengenai:

    1. Kerangka untuk analisis isu-isu transfer pricing yang berkait intangible;

    2. Aspek definisi;

    3. Kategori spesifik dari intangible mencakup kegiatan riset dan

    pengembangan (R&D), perbedaan antara penyerahan (transfer)

    intangible dan jasa, intangible pemasaran (marketing intangible), intangible

    dan atribut bisnis lainnya;

    6

    Intangible digunakan dan bukan aktiva tidak berwujud, karena aktiva tidak berwujud terkesan tercatat di laporan keuangan perusahaan licensor. 7 Associated enterprises yang dimaksud adalah dalam konteks Pasal 9 dari The OECD Model

    Tax Convention. Untuk Intangible terkait atribusi kepemilikan ekonomis (economic ownership) intangible kepada bentuk usaha tetap (permanent establishment) dalam konteks Pasal 7 telah dicakup dalam July 2008 dan July 2010 Reports on the Attribution of Profits to Permanent Establishments.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 15

    4. Transfer intangible mencakup identifikasi transfer intangible dan bentuknya,

    isu-isu re-karakterisasi (tolong diperjelas);

    5. Hak dari suatu perusahaan untuk ikut dibagi atas imbal hasil dari suatu

    intangible yang tidak dia miliki8;

    6. Pengaturan kontribusi biaya (Cost Contribution Arrangement); dan

    7. Penilaian (valuation) mencakup petunjuk umum atas pemilihan metode

    transfer pricing yang paling tepat, atas aplikasi lima metode yang diakui

    OECD dan atas kesebandingan (comparability), metode penilaian

    keuangan, agregasi intangible untuk tujuan penilaian, penilaian dengan

    ketidakpastian yang tinggi, dan aspek-aspek lain.

    (masukkan soal revisi Chapter I III OECD 2010) yang relevan untuk

    intangible.

    Bab VI Special Consideration for Intangible Property dalam OECD TP Guideline

    memberikan konfirmasi bahwa semua lima (5) metode yang diakui OECD secara

    teori dapat diterapkan pada intangible, tergantung pada fakta dan keadaan dari

    kasus yang ada, sementara pada saat yang sama menunjukkan berulang kali

    kepada kesulitan yang timbul dari aplikasi metode-metode tersebut, terutama terkait

    isu kesebandingan dimana intangible unik yang berharga terlibat.

    Paragraf 6.20 dari TP Guideline:

    6.20 In applying the arms length principle to controlled transactions involving

    intangible property, some special factors relevant to comparability between the

    controlled and uncontrolled should be considered. These factors include the

    expected benefits from the intangible property (possibly determined through a net

    present value calculation)9.

    Terjemahan bebas:

    6.20 Dalam menerapkan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha (arms length

    principle) atas transaksi-transaksi yang dikendalikan melibatkan aktiva tidak

    berwujud, beberapa faktor special yang relevan kepada kesebandingan antara

    transaksi-transaksi yang dikendalikan dan tidak dikendalikan, wajib dipertimbangkan.

    8 Lihat paragraph 6.36 6.39 dari TP Guideline yang menjelaskan mengenai aktivitas

    pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan yang tidak memiliki trademark atau trade names. 9 Kata-kata net present value sengaja ditebalkan untuk tujuan penekanan.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 16

    Faktor-faktor ini mencakup manfaat yang diharapkan dari aktiva tidak berwujud

    (kemungkinan ditentukan melalui perhitungan nilai kini bersih).

    OECD telah memberikan penjelasan bahwa walaupun paragraph 6.20 OECD TP

    Guideline mencakup suatu acuan ke perhitungan nilai kini bersih, ini lebih

    dimaksudkan sebagai faktor kesebandingan (comparability factor) dan bukan

    sebagai metode penilaian (pricing method)10.

    Proyek OECD ini akan mempertimbangkan seberapa jauh metode-metode penilaian

    keuangan dan terutama metode Arus Kas Diskonto (Discounted Cash Flow method)

    dapat diberikan pengakuan yang lebih besar dalam TP Guideline.

    Dalam buku ini, 3 hal yang terkait:

    (1) Esensi pembayaran royalti itu sendiri? Apa sudut pandang perpajakan? Ini

    secara tidak langsung mempertanyakan : definisi intangible itu sendiri untuk

    tujuan transfer pricing.

    Empat point yang diurai oleh OECD cukup menjelaskan permasalahan ini:

    a. Arti dan kegunaan terkait dengan pembayaran untuk transfer something

    of value (sesuatu yang berharga) dalam konteks transaksi yang

    melibatkan intangibles.

    b. Relevansi dan kegunaan definisi intangible yang diambil dari berbagai

    sumber (akuntansi, penilaian keuangan, dan literatur-literatur hukum).

    c. Faktor-faktor relevan yang wajib dipertimbangkan dalam menentukan ada

    tidaknya suatu intangible itu digunakan atau ditransfer, dan jika ada,

    bagaimana menentukan imbalan atau harganya menggunakan prinsip

    kewajaran dan kelaziman usaha (at arms length).

    Faktor-faktor yang dibicarakan termasuk, antara lain,

    kemampuan mendatangkan manfaat ekonomis masa depan kepada

    kegiatan bisnis,

    10

    OECD, Transfer Pricing and Intangibles : Scope of the OECD Project Document approved by The Committee on Fiscal Affairs on 25 January 2011, Centre for Tax Policy and Administration, halaman 7.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 17

    ketersediaan proteksi hukum, dan

    apakah suatu intangible yang spesifik dapat memiliki nilai jika ia tidak

    dapat di-alihkan secara terpisah.

    d. Relevansi dan kegunaan analitis dari pengelompokkan intangible yang

    disebut dalam OECD TP Guideline atau yang umum disebutkan dalam

    analisa transfer pricing, antara lain, istilah marketing dan trade

    intangibles, routine dan non-routine intangibles11.

    (2) Tarif royalty yang dibayar penentuan tarif yang dapat diterima untuk tujuan

    transfer pricing atau dapat diterima dari sudut perpajakan.

    (3) Pihak penerima royalti dipertanyakan apakah memang sebagai beneficial

    owner atau legal owner?

    Dalam transaksi-transaksi dengan perusahaan-perusahaan yang mempunyai

    hubungan istimewa (associated enterprise or related party?), pada umumnya adalah

    mungkin untuk meng-identifikasi perusahaan terkait mana yang adalah pemilik legal

    dari suatu asset yang dilindungi hukum (misalnya suatu paten atau trademark).

    Bagaimanapun, mungkin saja suatu perusahaan yang bukan pemilik legal dari suatu

    intangible, selayaknya memperoleh bagian, berdasarkan prinsip kewajaran dan

    kelaziman usaha, untuk turut ambil bagian dalam imbal hasil tambahan yang berasal

    dari pengembangan atau eksploitasi suatu intangible, misalnya, perusahaan tersebut

    telah ambil bagian dalam menanggung resiko dan biaya-biaya sehubungan dengan

    pengembangan suatu intangible atau peningkatan nilainya.

    Dari Paragraf 6.36 6.39, TP Guideline memberikan beberapa contoh:

    Terkait dengan contoh-contoh tersebut, Pasal 9 dari OECD Model Tax Convention

    dan OECD TP Guideline tidak secara umum menyarankan untuk mengabaikan

    kepemilikan legal dari intangible12, tetapi lebih kepada memastikan bahwa setiap

    perusahaan terkait turut memperoleh bagian berdasarkan prinsip kewajaran dan

    kelaziman usaha (an arms-length share) dari manfaat-manfaat yang berasal dari

    intangible, berdasarkan apa yang akan disepakati oleh para pihak-pihak yang tidak

    11

    OECD, Transfer Pricing and Intangibles : Scope of the OECD Project Document approved by The Committee on Fiscal Affairs on 25 January 2011, Centre for Tax Policy and Administration, halaman 4. 12

    TP Guideline 1.64 1.69 memberikan beberapa keadaan yang bersifat pengecualian.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 18

    mempunyai hubungan istimewa (independent parties) dalam keadaan yang dapat

    diperbandingkan.

    Masukkan 1 contoh GlaxoKlien vs Smith

    Untuk dapat menganalisa secara tepat apakah suatu transaksi transfer pricing

    menyangkut intangibles telah dilakukan sesuai prinsip kewajaran dan kelaziman

    usaha, perlu dipahami 4 hal:

    1. Apa yang dimaksud dengan intangible dan termasuk dalam kategori yang

    mana suatu intangible yang dibicarakan

    2. Menganalisa kepemilikan intangible

    3. Memeriksa cara pengalihan dilakukan

    4. Pihak-pihak yang melakukan transaksi

    Dengan demikian, kita akan membahas beberapa hal yang penting:

    1. Menyinggung soal definisi Intangible.

    Kita akan mencoba melihat apa yang dijelaskan oleh IFRS dan US GAAP.

    Transaksi-nya?

    2. Penggunaan Discounted Cash Flows dalam penilaian

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 19

    Bab II

    Mendefinisikan Intangibles

    Satu hal yang jelas bahwa adalah relatif sulit untuk memberikan definisi pada istilah

    intangible. Oleh karena itu, beberapa perspektif akan kita lihat:

    1. International Valuation Standards Council

    2. Otoritas Perpajakan Amerika Serikat

    3. OECD TP Guideline

    4. US GAAP

    5. International Accounting Standards

    6. ??

    Mendefinisikan Intangibles: Perspektif International Valuation Standards

    Council

    International Valuation Standards Council (IVSC) telah menerbitkan Guidance Note 4

    Valuation of Intangible Assets (Revised 2010) pada bulan Februari 2010.

    Guidance Note ini dapat kita gunakan sebagai referensi mengingat IVSC

    menyebutkan bahwa penilaian aktiva tidak berwujud (intangible assets) diperlukan

    untuk tujuan yang berbeda-beda termasuk, tetapi tidak terbatas pada:

    akuisisi, penggabungan usaha dan penjualan bisnis atau bagian dari bisnis;

    pembelian dan penjualan aktiva tidak berwujud;

    pelaporan kepada otoritas perpajakan;

    litigasi dan insolvensi; dan

    pelaporan keuangan.

    Definisi Intangible Asset adalah:

    A non-monetary asset that manifests itself by its economic properties. It does not

    have physical substance but grants rights and economic benefits to its owner or the

    holder of an interest. (pasal 2.3)

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 20

    Disebutkan bahwa suatu aktiva tidak berwujud dapat diidentifikasi (identifiable) atau

    tidak dapat diidentifikasi (unidentifiable) dalam konteks penilaian.

    Suatu aktiva dapat diidentifikasi jika memenuhi SALAH SATU di bawah ini:

    1. dapat dipisahkan (separable) 13 , yaitu kemampuan untuk dipisahkan

    (separated) atau dikeluarkan (divided) dari entitas dan dijual (sold), dialihkan

    (transferred), dilisensikan (licensed), disewakan (rented) atau dipertukarkan

    (exchanged), baik secara individual atau bersama-sama dengan kontrak

    terkait, aktiva atau kewajiban yang dapat diidentifikasi, terlepas apakah

    entitas tersebut berkeinginan untuk melakukan demikian; atau

    2. timbul dari hak-hak kontraktual atau hukum lainnya, terlepas apakah hak-hak

    tersebut dapat dialihkan (transferable) atau dipisahkan (separable) dari

    entitas atau dari hak-hak dan kewajiban lainnya.

    Aset tidak berwujud yang tidak dapat diidentifikasi terkait dengan bisnis atau

    sekelompok aset pada umumnya dikenal sebagai goodwill.

    Aset tidak berwujud yang dapat diidentifikasi dapat kontraktual atau non-kontraktual,

    yang dapat dibagi ke dalam empat (4) kelompok utama, sebagai berikut:

    1. Aset tidak berwujud terkait dengan pemasaran (marketing-related intangible

    assets) digunakan terutama dalam pemasaran atau promosi produk atau jasa.

    Contoh berikut ini mencakup, tetapi tidak terbatas pada:

    Trademarks, trade names, service marks, collective marks dan

    certification marks;

    Trade dress (warna, bentuk atau desain kemasan yang unik);

    Newspaper mastheads;

    Internet domain names; atau

    Perjanjian tidak bersaing (non-compete agreement).

    13

    Ini merupakan karakteristik pendukung dalam konteks US GAAP dan bukan karakteristik penentu. Syarat terpisahkan diajukan berkaitan dengan ketertukaran (exchangeability). Untuk dapat ditukarkan suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik yang lain atau berdiri sendiri. Syarat ini telah dikesampingkan oleh FASB sebagai kriteria untuk mendefinisi aset (Kam 1990, halaman 108) dengan argumen bahwa ketertukaran dan keterpisahan hanyalah merupakan syarat untuk memperoleh manfaat suatu aset.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 21

    2. Aset tidak berwujud terkait dengan pelanggan atau pemasok (customer or

    supplier-related intangible assets) terdiri dari hubungan dengan atau

    pengetahuan mengenai pelanggan atau pemasok. Contoh-contoh di bawah

    ini termasuk, tetapi tidak terbatas pada:

    perjanjian iklan, konstruksi, manajemen, jasa/pelayanan atau penawaran

    (supply);

    perjanjian lisensi dan royalti;

    kontrak servicing (servicing contracts);

    buku pemesanan (order books);

    kontrak ketenagakerjaan (employment contracts);

    hak-hak penggunaan (use rights), seperti pengeboran (drilling), air, udara,

    pemotongan papan (timber cutting) dan slot pendaratan pelabuhan udara

    (airport landing slots);

    perjanjian franchise;

    hubungan pelanggan; atau

    daftar pelanggan.

    3. Aset tidak berwujud terkait dengan teknologi (technology-related intangible

    assets) timbul dari hak-hak kontraktual atau non-kontraktual untuk

    menggunakan teknologi (baik dipatenkan dan tidak dipatenkan), database,

    formula, desain, software, proses atau resep;

    4. Aset tidak berwujud terkait dengan seni (artistic-related intangible assets)

    yang timbul dari hak-hak untuk memperoleh manfaat seperti royalti dari

    pekerjaan seni, seperti drama (plays), buku, film dan music, dan dari

    perlindungan hak cipta (copyright) non-kontraktual.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 22

    Disebutkan juga bahwa aset tidak berwujud tertentu didefinisikan dan dijelaskan oleh

    karakteristik atau atribut seperti fungsi, posisi di pasar, jangkauan global, profil pasar,

    kapabilitas dan image. Karakteristik-karakteristik ini membedakan satu aset tidak

    berwujud dari lainnya. Sebagai contoh:

    Brand makanan (food brands) dapat dibedakan melalui perbedaan rasa

    (taste), sumber bahan (source of ingredients) dan mutu; atau

    Produk software computer dapat dibedakan untuk mengacu kepada

    spesifikasi fungsional.

    Karakteristik atau atribut dari suatu aset tidak berwujud termasuk, tetapi tidak

    terbatas pada hak-hak kepemilikan, hak istimewa dan kondisi-kondisi yang terkait

    dengan aset tersebut. Hak-hak kepemilikan pada umumnya diuraikan dalam

    dokumen-dokumen legal dan termasuk, menurut juridiksi yang terlibat, paten,

    trademark, dan hak cipta. Hak-hak kepemilikan dan kondisi-kondisi dapat dalam

    suatu perjanjian atau korespondensi dan dapat atau tidak dapat dialihkan kepada

    pemilik baru. Bagaimanapun juga, terdapat aset tidak berwujud yang memberikan

    hak istimewa tanpa eksistensi hak-hak kepemilikan aktual, misalnya hubungan

    pelanggan atau rahasia dagang. Intangible tidak perlu harus memiliki kontrak yang

    mendasarinya, namun suatu perusahaan atau individu dapat menjadi pemilik dari

    intangible semacam ini dan memperoleh manfaat ekonomis. Identifikasi dan

    pelaporan karakteristik dari suatu aset tidak berwujud adalah bagian yang penting

    dari suatu penilaian.

    Meskipun kadang kala tepat dan mungkin untuk menilai suatu aset tidak berwujud

    secara individual (stand-alone basis), dapat pula tidak mungkin atau tidak praktis

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 23

    dalam kasus lain untuk menilai suatu aset tidak berwujud selain menilainya terkait

    dengan aset [berwujud atau] tidak berwujud. Adalah mungkin atau praktis untuk

    mengestimasi nilai aset tidak berwujud secara individual.

    Mendefinisikan intangible : perspektif Amerika Serikat

    Di Amerika Serikat, untuk tujuan seksi 482 dari regulasi final, istilah intangible

    mengacu pada item apapun yang termasuk dalam satu diantara enam kategori yang

    dispesifikasi dalam regulasi, asalkan item tersebut memiliki nilai substansial

    terlepas dari jasa dari masing-masing item (sebagai properti independen)14.

    Kategori-kategori intangible property termasuk:

    Paten, ciptaan (invention), formula, proses, desain, pola-pola (patterns) atau

    know-how;

    Hak cipta (copyrights) dan kesustraan (literary), musik, atau komposisi seni

    (artistic compositions);

    Trademarks, trade names, atau brand names;

    Franchise, lisensi, atau kontrak-kontrak;

    Metode, program, sistem, prosedur, kampanye (campaign), survei, studi,

    ramalan, estimasi, daftar pelanggan, atau data-data teknis; dan

    Item lain yang sama yang memperoleh nilainya dari isi intelektual lebih dari

    atribut fisiknya.

    Regulasi seksi 482 final tidak mencakup pembatasan, dan bahwa wajib pajak

    diwajibkan untuk mengenakan imbalan berdasarkan prinsip kewajaran dan

    kelaziman usaha hanya ketika terdapat pengalihan dari suatu kepentingan yang

    secara komersial dapat dialihkan (a transfer of a commercially transferable interest).

    Definisi di atas tidak menetapkan adanya enforceable property rights?

    Terdapat perbedaan antara aset tidak berwujud (intangible asset) dan intellectual

    property (HAKI), terutama dalam konteks lisensi. HAKI adalah suatu kategori aset

    tidak berwujud yang memperoleh perlindungan hukum (misalnya trademarks),

    sehingga dimungkinkan untuk dialihkan hak-haknya melalui lisensi. Tidak semua

    aset tidak berwujud masuk dalam kategori ini: prosedur perusahaan dan estimasi

    14

    Treasury Regulations Section 1.482-4(b).

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 24

    berdasarkan pengalaman manajemen diakui sebagai aset tidak berwujud, tetapi

    akan terbukti sulit untuk dilisensikan kepada pihak ketiga (?).

    Salah satu masalah yang timbul15

    Dalam kasus Merck, IRS (Internal Revenue Service otoritas perpajakan di Amerika

    Serikat) memberikan argumentasi bahwa Merck seharusnya diberikan imbalan

    sehubungan dengan memasok anak perusahaannya dengan intangible property

    yang terdiri dari struktur afiliasi, struktur mekanisme penetapan harga, dan struktur

    perencanaan keseluruhan grup. Pengadilan Pajak menolak argumen tersebut

    dengan pertimbangan bahwa struktur-struktur tersebut bukan merupakan

    enforceable property rights

    Kalangan penilai di Amerika Serikat secara umum menggolongkan aset tidak

    berwujud ke dalam 10 kelompok16:

    1. Marketing-related intangible assets (misalnya, trademarks, trade names,

    brand names, logos);

    2. Technology-related intangible assets (misalnya, proses, paten, aplikasi paten,

    dokumentasi teknis, seperti laboratory notebooks, technical know-how);

    3. Artistic-related intangible assets (misalnya, karya dan hak cipta

    kesusasteraan dan hak cipta, komposisi musik, peta, ukuran (engravings));

    4. Data processing-related intangible assets (misalnya, proprietary computer

    software, software copyrights, automated databases, integrated circuit masks

    and masters);

    5. Engineering-related intangible assets (misalnya, desain industrial, paten

    produk, rahasia dagang, engineering drawings and schematics, blueprints,

    proprietary documentation);

    6. Customer-related intangible assets (misalnya, daftar pelanggan, kontrak

    pelanggan, hubungan pelanggan, open purchase orders);

    7. Contract-related intangible assets (misalnya, kontrak pemasok yang

    menguntungkan, perjanjian lisensi, perjanjian franchise, perjanjian non-

    kompetisi);

    15

    D.M. McGavock et al, n 74, 41-2, referring to Merck & Co., Inc. vs United States 24 Cl. Ct. 73 (1991), dikutip dari Markham, Michelle, The Transfer Pricing of Intangibles, 2005, Kluwer Law International, halaman 39.

    16 R.F. Reilly dan R.P. Schweihs, Valuing Intangible Assets (McGraw-Hill, New York, 1999),

    halaman 19-20.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 25

    8. Human capital-related intangible assets (misalnya, trained and assembled

    workforce, perjanjian ketenagakerjaan, kontrak serikat pekerja);

    9. Location-related intangible assets (misalnya, leasehold interests, hak-hak

    eksploitasi mineral, easements, hak-hak pemanfaatan udara, hak-hak

    pemanfaatan air);

    10. Goodwill-related intangible assets (misalnya, institutional goodwill,

    professional practice goodwill, personal goodwill of a professional, celebrity

    goodwill, general business going-concern value).

    Mendefinisikan Intangibles : Perspektif OECD TP Guideline

    OECD TP Guideline mempunyai satu bab khusus yaitu bab VI Special

    Considerations for Intangible Property yang membicarakan pertimbangan-

    pertimbangan khusus yang timbul pada saat akan menetapkan apakah (1) kondisi-

    kondisi (? isi agreement itu sendiri atau nature transaction yang dilakukan?) yang

    terjadi atau dibebankan dalam transaksi-transaksi antara associated enterprises

    melibatkan intangible property mencerminkan prinsip kewajaran dan kelaziman

    usaha. Perhatian khusus diberikan kepada (2) transaksi intangible property karena

    transaksi-transaksi sering kali sulit untuk dievaluasi untuk tujuan perpajakan

    (maksudnya apa?).

    Jadi di sini isu:

    Tidak adanya transaksi (atau adanya transaksi menurut sudut discus) yang

    melibatkan intangible property dalam aktivitas komersial.

    Istilah intangible property termasuk :

    Rights (penekanan adalah hak ? apa yang harus dibuktikan?) to use

    industrial assets (? jelas disebutkan mengenai asset?) such as patents,

    trademarks, trade names, designs or models.

    includes literary and artistic property rights,

    intellectual property such as know-how and trade secrets.

    Jelas yang dibicarakan oleh OECD adalah business rights, that is intangible property

    associated for commercial activities, including marketing activities - profit seeking

    activities.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 26

    Diakui oleh OECD bahwa intangibles ini adalah aset yang that may have

    considerable value even though they may have no book value in the companys

    balance sheet jadi OECD jelas mengambil posisi bahwa terlepas apakah dicatat

    atau tidak dicatat dalam laporan keuangan perusahaan aset itu tetap diakui?

    Aset itu dapat pula melekat resiko yang besar, misalnya kewajiban kontrak atau

    produk dan kerusakan lingkungan.

    Commercial intangibles business rights

    OECD TP Guideline untuk mudahnya mengelompokkan dua yaitu:

    Trade intangible includes

    patents,

    know-how,

    designs, and

    models that are used for the production of a good or the provision of a service,

    intangible rights that are themselves business assets transferred to

    customers or used in the operation of business (e.g. computer software).

    Beberapa ciri trade intangibles:

    Trade intangibles ini sering kali timbul tercipta melalui aktivitas penelitian dan

    pengembangan yang mahal dan beresiko (apakah ini berarti bahwa trade

    intangible tidak bisa timbul dari non-R&D?).

    Pengembang (developer) pada umumnya berusaha mendapatkan kembali

    pengeluaran-pengeluaran yang ada melalui imbal hasil melalui penjualan

    produk, kontrak jasa, atau perjanjian lisensi.

    Kegiatan penciptaan trade intangible dapat dilakukan:

    1. Dilakukan sendiri

    Marketing intangible

    Marketing intangible termasuk:

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 27

    trademarks and trade names that aid in the commercial exploitation of a

    product or service,

    customer lists,

    distribution channels, and

    unique names,

    symbols, or

    pictures that have an important promotional value for the product concerned.

    Beberapa hal mengenai marketing intangibles:

    marketing intangibles (e.g. trademarks) dapat diproteksi oleh hukum di

    negara-negara tertentu (berarti tidak selalu legally protected?)

    nilai dari marketing intangibles tergantung pada banyak faktor, termasuk :

    o reputasi dan kredibilitas dari trade name atau trademark yang

    dikembangkan oleh kualitas barang dan jasa yang disediakan oleh

    nama atau mark tersebut di masa lalu;

    o tingkat pengendalian kualitas dan keberlangsungan penelitian dan

    pengembangan;

    o distribusi dan ketersediaan barang atau jasa yang sedang dipasarkan;

    o cakupan sejauh mana dan tingkat keberhasilan pengeluaran

    promosional yang timbul untuk supaya calon pelanggan mengenali

    produk atau jasa (terutama pengeluaran iklan dan pemasaran yang

    timbul untuk mengembangkan jaringan hubungan dengan distributor,

    agen, atau agensi facilitating lainnya);

    o nilai pasar kemana marketing intangibles akan menyediakan akses;

    dan,

    o sifat dari hak yang tercipta dalam intangible di bawah hukum.

    Hybrid intangibles

    Intellectual property seperti know-how dan rahasia dagang dapat berupa trade

    intangibles atau marketing intangibles.

    Know-how dan rahasia dagang adalah proprietary information or knowledge yang

    membantu atau meningkatkan aktivitas komersial, tetapi tidak diregistrasi untuk

    proteksi dengan cara seperti paten atau trademark.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 28

    Diakui oleh OECD bahwa istilah know-how sendiri kemungkinan adalah konsep yang

    kurang tepat (less precise).

    Paragraf 11 dari Commentary on Article 12 of the OECD Model Tax Convention

    memberikan definisi sebagai berikut:

    Know-how is all the divulged technical information, whether capable of being

    patented or not, that is necessary for the industrial reproduction of a product or

    process, directly and under the same conditions; in as much as it is derived from

    experience, know-how represents what a manufacturer cannot know from mere

    examination of the product and mere knowledge of the progress of technique.

    Know-how dapat termasuk proses rahasia atau formula atau informasi rahasia

    lainnya menyangkut pengalaman sains, komersial atau industrial, yang tidak dicakup

    oleh paten.

    Disebutkan pula bahwa pengungkapan apapun atas know-how atau rahasia dagang

    dapat secara substansial mengurangi nilai dari property yang ada.

    Ditambahkan pula bahwa perlu kehati-hatian untuk menentukan apakah atau

    Mendefinisikan Intangibles : Perspektif US GAAP

    Kembali ke awal-awal pembahasan intangible dalam dunia akuntan di Amerika

    Serikat, kita dapatkan beberapa hal:

    Kohler mendefinisikan intangibles sebagai aset modal (capital assets) yang tidak

    memiliki eksistensi fisik dimana nilainya tergantung pada hak-hak dan manfaat-

    manfaat yang diberikan dari kepemilikannya kepada pemilik17.

    Paton sendiri telah mengingatkan bahwa dengan hanya mengandalkan pada uji

    eksistensi fisik tidak terlalu bermanfaat dan menyarankan bahwa intangibles adalah

    aset yang lebih terkait pada perusahaan secara keseluruhan dari pada satu atau

    beberapa komponen-nya18.

    17

    Kohler, Eric L. A Dictionary for Accountants, 3rd

    ed. (Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1963), halaman 269. 18

    Paton, William A., dan William A. Paton, Jr., Asset Accounting (New York: Macmillan, 1952), halaman 485-490.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 29

    Satu hal yang jelas dari aset tidak berwujud (intangible asset) adalah mereka

    memperoleh nilai mereka lebih signifikan dari hak-hak dan privilese yang spesial

    (special rights and privileges) yang mereka berikan, daripada eksistensi fisik mereka,

    kalau ada.

    Accounting Principles Board di Amerika Serikat dalam mengatasi masalah definisi

    intangible, lebih pada kemudian mengelompokkan aset tak berwujud berdasarkan

    beberapa hal:

    Identifikasi (identifiability) apakah dapat diidentifikasi secara terpisah

    atau kesulitan untuk melakukan identifikasi secara spesifik.

    Cara memperolehnya (manner of acquisition) diperoleh secara tersendiri,

    dalam kelompok, atau dalam kombinasi bisnis, atau dikembangkan secara

    internal.

    Periode manfaat yang diharapkan (expected period of benefit) dibatasi

    oleh hukum atau kontrak, terkait dengan faktor manusia atau ekonomi,

    atau memiliki masa waktu yang tidak dapat ditentukan19.

    Pemisahan dari perusahaan (separability from an entire enterprise) hak-

    hak yang dapat dialihkan tanpa title, dapat dijual, atau tidak terpisahkan

    dari perusahaan atau bagian yang signifikan darinya20.

    Lebih lanjut, US GAAP membicarakan mengenai

    intangibles yang diklasifikasikan menurut apakah mereka diperoleh

    dari pihak external (externally acquired/purchased) atau

    dikembangkan secara internal (internally developed).

    intangibles yang dapat diidentifikasi (identifiable) atau tidak dapat

    diidentifikasi (unidentifiable).

    Melihat perjalanan bagaimana US GAAP memberikan definisi kepada aktiva, kiranya

    kita dapat belajar sesuatu dari sana.

    19

    Bahasa Inggris indefinite tidak sama artinya dengan infinite. Indefinite = indeterminate. 20

    Accounting Principles Board, APB Opinion No. 17, Intangible Assets (New York: AICPA, 1970).

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 30

    Sebelum 1950 : Barang yang kita miliki (Things we own)

    Ini merupakan pemahaman paling fundamental tentang aktiva. Walaupun sederhana,

    terdapat beberapa kekurangan yang menyolok:

    aktiva tidak harus merupakan barang/things, ia dapat juga berupa

    intangible.

    Kata things lebih mengandung konotasi bahwa ia memiliki bentuk fisik

    Aktiva tidak harus dimiliki. Sepanjang perusahaan dapat memiliki kendali,

    misalnya barang sewa leasing. Kepemilikan legal tidak merupakan

    persyaratan yang benar untuk definisi aktiva. Yang dibutuhkan perusahaan

    adalah memiliki kendali atasnya dan akses eksklusif atasnya.

    1950-an : Sesuatu dengan saldo debit (Something with a debit balance)

    Something represented by a debit balance that is or would be properly carried

    forward upon a closing of books of account on the basis that it represents either

    a property right or value acquired or expenditure made whichis applicable to the

    future21.

    21

    American Institute of Certified Public Accountants, Accounting Terminology Bulletin No. 1, New York: AICPA, 1953 paragraf 26.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 31

    1960-an : Manfaat ekonomis masa datang (Future economic benefits)

    Asset represents expected future economic benefits, rights to which have been

    acquired by the enterprise as a result of some current or past transaction22.

    1. Manfaat suatu aktiva adalah diharapkan, atau ada di masa mendatang, yang

    berarti ada ketidakpastian dalam derajat tertentu yang terlibat dalam

    aktiva tersebut (elaborate lebih jauh dalam konteks royalti).

    2. Manfaat adalah bersifat ekonomis karena mereka langka dan untuk itu

    mempunyai nilai.

    3. Kejadian yang membawa aktiva kepada eksistensi-nya dalam perusahaan

    adalah adanya transaksi, baik terjadi di masa lampau atau terjadi saat ini.

    Inti suatu aktiva ada empat:

    1. Aktiva mendatangkan manfaat kepada pemilik

    2. Manfaat ekonomis tersebut ada di masa depan

    3. Perusahaan/pemilik mempunyai hak (right) atas manfaat tersebut, dan tidak

    perlu harus memilikinya.

    4. Hak di atas diperoleh oleh perusahaan melalui suatu transaksi, baik di masa

    lalu atau saat ini (jadi tidak bisa melalui transaksi di masa mendatang!).

    1970-an : Sumber-daya ekonomi atau bukan? (Economic resources, or not?)

    Economic resources of an enterprise that are recognized and measured in

    conformity with generally accepted accounting principles.. Assets also include

    certain deferred charges that are not resources..23

    Penggunaan economic resources karena ia merupakan faktor yang jarang jumlah

    (scarce) dengan nilai ekonomis.

    1985 : Manfaat ekonomi masa depan yang mungkin (Probable future economic

    benefits)24

    Definisi aktiva dalam the Conceptual Framework in SFAC No. 6:

    22

    Moonitz, dan Sprouse, Accounting Research Study #3, 1962, halaman 20. 23

    Accounting Principles Board, Statement No. 4, Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements of Business Enterprises, New York: AICPA, 1970, paragraph 132. 24

    Evans, Thomas G., Accounting Theory, Contemporary Accounting Issues, Thomson South-Western, 2003, bab 10.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 32

    Assets are probable future economic benefits, rights to which have been acquired by

    the enterprise as a result of some current or past transactions or events.

    Ada tiga karakteristik yang penting dimana ketiga-tiganya harus ada supaya suatu

    aktiva dapat diakui:

    1. Probable future economic benefits in cash flows

    Esensi dari suatu aktiva adalah mendatangkan manfaat ekonomis masa

    depan atau potensi pelayanan (potential service) bagi perusahaan. Manfaat

    spesifik akan memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung

    kepada arus kas masuk perusahaan, baik secara sendiri-sendiri atau melalui

    kombinasi dengan aktiva-aktiva yang lain.

    Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang dimaksud dengan probable.

    Kata ini digunakan untuk menyampaikan pemahaman bahwa ada

    ketidakpastian yang terkait dengan manfaat-manfaat tersebut. FASB sendiri

    dalam Standard Dictionary Definition, mengartikan probable sebagai:

    reasonably expected or believed on the basis of available evidence or logic

    but is neither certain nor proved25.

    Tidak ada arti yang lebih jelas, misalnya dengan probabilitas di atas 50%?

    2. Controlled by the firm

    Perusahaan telah memperoleh manfaat dan dapat mengendalikan akses

    perusahaan lain terhadap manfaat tersebut. Perusahaan harus memiliki klaim

    atas hak-hak atau pelayanan-pelayanan (services) tersebut dan dapat

    mencegah pihak lain dari menggunakan aktiva tersebut atau membagi bagian

    atas manfaat dengan pihak lain. Dengan kata lain, perusahaan tidak harus

    secara legal memiliki suatu item untuk dapat memiliki kendali atas item

    tersebut.

    25

    Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No. 6, Elements of Financial Statements. Norwalk, CT: Financial Accounting Standards Board, 1985, paragraph 26.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 33

    3. Past transaction or event has created the benefit

    Aktiva timbul dari transaksi atau kejadian yang telah terjadi, atau

    ditransaksikan. Jadi, terjadinya kejadian atau transaksi adalah trigger untuk

    terjadinya pengakuan aktiva.

    Dari ketiga karakteristik yang esensial di atas, karakteristik yang pertama

    yaitu, adanya manfaat ekonomis di masa mendatang, adalah yang paling

    penting, dan ini membawa kepada pembahasan lebih lanjut atas sifat dari

    manfaat tersebut.

    Darimana ia berasal dan dalam bentuk apa ia ada? Bagaimana kita dapat

    yakin bahwa manfaat tersebut riil?

    Sumber dan bukti dari manfaat

    Untuk menekankan arti dari manfaat ekonomis masa depan, sumber dari

    manfaat harus dipertimbangkan. Menurut SFAC No. 6, manfaat ekonomis

    masa depan dari suatu aktiva dapat terwujud dalam 3 nilai berikut ini26:

    1. Exchange value perusahaan dapat menerima sesuatu untuk ditukarkan

    untuk aktiva tersebut.

    2. Production value perusahaan dapat menggunakan aktiva tersebut

    untuk memproduksi sesuatu yang mengandung nilai.

    3. Acceptance value perusahaan dapat menggunakan aktiva untuk

    menyelesaikan kewajiban.

    Bukti apa yang ada menunjukkan bahwa manfaat tersebut ada? Menurut

    SFAC No. 6, bukti keberadaan manfaat dapat didasarkan pada tiga faktor27:

    1. Market value aktiva pada umumnya dibeli dan dijual di suatu pasar.

    Aktiva dapat dibeli dan dijual secara individual atau dalam gabungan

    dengan aktiva yang lain, yang biasanya disebut sebagai pembelian atau

    penjualan gabungan (basket purchase or sale).

    26

    SFAC No. 6, paragraph 172. 27

    SFAC No. 6, paragraph 173

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 34

    2. Acceptability aktiva dapat digunakan untuk menyelesaikan kewajiban

    atau hutang; aktiva tersebut pada umumnya dapat diterima oleh kreditor

    atau pemberi pinjaman untuk pembayaran hutang.

    3. Productivity aktiva tersebut dapat digunakan untuk memproduksi

    barang dan jasa baik berwujud atau tidak berwujud, dengan nilai pasar

    atau yang dapat diterima secara umum (common acceptability).

    Schuetzes concerns28

    Salah satu kritik yang cukup menarik atas definisi aktiva SFAC No. 6 di atas, datang

    dari W. Schuetze pada tahun 1993, yang kemudian menjadi kepala akuntansi SEC.

    Dia memberikan kesimpulan bahwa definisi aktiva dalam SFAC No. 6 adalah so

    complex, abstract, so open-ended, so all-inclusive, and so vague that we cannot use

    it to solve problems. Lebih lanjut, ia menyamakan definisi tersebut sebagai an

    empty box. A large empty box. A large empty box with sideboards. Almost everything

    or anything can fit into it.

    Dalam tulisannya, ia menyatakan kekuatiran dia bahwa definisi tidak secara jelas

    membedakan antara aktiva dan biaya-biaya, yang dapat mengakibatkan bahwa

    pengakuan suatu item sebagai aktiva, yang dapat juga dilihat sebagai biaya menurut

    pihak lain. (Note : apakah suatu pembayaran royalti, sebetulnya pembagian biaya

    yang disharing dengan licensee berupa pembayaran royalti? - terutama

    perusahaan-perusahaan yang merugi, tetapi tetap membayar royalty?)

    Schuetze menekankan pada adanya exchangeability dari suatu aktiva, dengan kata

    lain, untuk dapat diperhitungkan sebagai aktiva, item tersebut harus dapat dijual

    (secara terpisah) oleh perusahaan.

    Apakah ini berarti kita harus mengatur bahwa royalty harus terkait dengan intangible

    yang dapat dijual?

    Masalah tertukarkan (exchangeability) sudah menjadi gagasan atau argumen yang

    diajukan untuk memenuhi syarat sebagai aset, yaitu suatu sumber ekonomik harus

    dapat dipertukarkan dengan sumber ekonomik lainnya. Syarat ini diajukan dengan

    alasan bahwa manfaat ekonomik akan menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu

    28

    Schuetze, W. What is an Asset? Accounting Horizons (September 1993), halaman 66-70.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 35

    sumber ekonomik mempunyai daya atau nilai tukar. Dengan kata lain, manfaat

    eknomik diturunkan dari daya tukar.

    Syarat dan argumen ini disanggah karena manfaat ekonomik tidak hanya terletak

    pada daya tukar tetapi juga dari daya guna suatu objek untuk produksi. Misalnya,

    mesin mungkin sekali tidak mempunyai daya tukar tetapi dapat digunakan untuk

    menghasilkan produk. Bahkan hamper sebagian besar aset manfaatnya didapat dari

    penggunaan daripada dari pertukaran. Sebagaimana dikutip Kam (1990, halaman

    107-108)29, Moonitz menyatakan bahwa exchange does not make values, it merely

    reveals them.

    Samuelsons Concerns30

    Richard Samuelson, seorang professor akuntansi, pada tahun 1996 menyatakan

    bahwa, definisi aktiva mempunyai dua komponen fundamental:

    1. Komponen ekonomi, yang mengakui karakteristik ekonomi atau teknis dari

    aktiva, dan

    2. Komponen hukum/legal, yang mengidentifikasi karakteristik legal atau

    proprietary.

    Dalam definisi FASB untuk aktiva, kedua komponen, ada, namun komponen

    ekonomi lebih menonjol. Ini menimbulkan tiga kelemahan dalam definisi yang

    membatasi kegunaan dalam setting standar akuntansi:

    1. Definisi mencampur-adukan antara definisi aktiva dengan pengukuran aktiva.

    2. Definisi mencampur-adukan antara ide waktu dengan mendefinisikan aktiva,

    (yang adalah stocks), sebagai manfaat ekonomis di masa depan (yang

    adalah flows). Pada umumnya, stocks adalah pada saat ini, sedangkan flows

    terjadi di masa depan. Namun demikian, kedua hal tersebut dimasukkan

    dalam definisi FASB mengenai aktiva.

    3. Definisi menekankan komponen ekonomis di atas komponen legal.

    29

    Kam, Vernon, Accounting Theory, New York: John Wiley & Sons, 1990, halaman 107-108. 30

    Samuelson, Richard, The Concept of Assets in Accounting Theory Accounting Horizons (September 1996), halaman 147 157.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 36

    Apakah ini berarti bahwa penekanan pada kejadian masa depan, dimana tentu saja

    ini tidak dapat diamati (observable), sehingga tidak dapat dikonfirmasi secara empiris

    (empirically confirmed).

    Apakah royalty dapat dikoreksi setelah beberapa tahun ke depan?

    Beberapa hal terkait:

    1. Probable

    FASB mendefinisikan probable sebagai that which can reasonably be

    expected or believed on the basis of available evidence or logic but is neither

    certain nor proved.31

    Amer dan teman-teman mendapatkan bahwa dalam sample sejumlah auditor

    professional, sebagian besar menginterpretasikan bahwa kata probable akan

    berarti adanya probabilitas sebesar 0.79 (mean) atau 0.80 (median)32.

    Banyak pihak yang menginginkan bahwa kata probable dispesifikasi lebih

    jelas, misalnya, dengan menyatakan bahwa itu berarti sekurang-kurangnya

    65% kesempatan terjadinya.

    2. Fokus definisi aktiva yang mengharuskan adanya transaksi atau kejadian

    yang sudah terjadi.

    Keharusan adanya suatu transaksi dalam definisi akan membatasi

    perusahaan dari mengakui aktiva yang telah berkembang sepanjang waktu

    tanpa adanya transaksi yang spesifik.

    Misalnya, logo Nike mengalami peningkatan nilai disebabkan produk dan

    pemasaran Nike, atau Mickey Mouse dan Donald Duck sekarang secara

    universal diakui sebagai symbol Disney. Di sini tidak ada transaksi spesifik

    yang telah terjadi.

    31

    Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Concepts No. 6, Elements of Financial Statements. Norwalk, CT: Financial Accounting Standards Board, 1985, paragraph 25. 32

    Amer dan teman-teman, sebagaimana dikutip dalam Johnson, T., dan Kimberly Petrone, The FASB Cases on Recognition and Measurement, Second Edition, Norwalk, CT: Financial Accounting Standards Board, 1995, halaman 85.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 37

    Terkait dengan biaya riset dan pengembangan (R&D), perusahaan-perusahaan

    besar secara kontinyu berusaha untuk meningkatkan lini produk mereka,

    mengembangkan produk-produk baru, meningkatkan metode manufaktur dan

    mengembangkan fasilitas pabrikasi yang telah ditingkatkan. Biaya-biaya terkait

    kegiatan R&D dapat merupakan biaya-biaya yang tidak akan pernah memberikan

    manfaat di masa mendatang. Banyak akuntan melihat bahwa menentukan apakah

    ketidakpastian di sekitar penentuan apakah biaya-biaya R&D akan memberikan

    manfaat di masa mendatang dan kapan manfaat-manfaat itu akan terealisasi,

    menjadi terlalu subyektif dan tidak dapat diandalkan.

    SFAS No. 2 mewajibkan semua biaya-biaya R&D untuk dibebankan pada saat

    terjadinya.

    Untuk membedakan biaya-biaya R&D dari biaya-biaya lainnya, FASB memberikan

    definisi sebagai berikut:

    research is planned search or critical investigation aimed at discovery of

    new knowledge with the hope that such knowledge will be useful in

    developing a new product or service or new process or technique or in

    bringing about a significant improvement to an existing product or process.

    development is the translation of research findings or other knowledge

    into a plan or design for a new product or process or for a significant

    improvement to an existing product or process whether intended for sale or

    use. It includes the conceptual formulation, design and testing of product

    alternatives, construction of prototypes, and operation of pilot plants. It

    does not include routine or periodic alterations to existing products,

    production lines, manufacturing processes, and other ongoing operations

    even though these alterations may represent improvements and it does not

    include market research or market testing activities33.

    Karena banyak biaya-biaya yang mempunyai karakteristik sama dengan biaya R&D,

    FASB juga mencantumkan daftar aktivitas yang termasuk dan tidak termasuk di

    dalam kategori biaya R&D sebagai berikut:

    33

    Financial Accounting Standards Board, Statement of Financial Accounting Standards No. 2, Accounting for Research and Development Costs (Stamford, CT: FASB, 1974) paragraph 8.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 38

    Kegiatan Riset dan Pengembangan Kegiatan yang bukan merupakan riset

    dan pengembangan

    Riset laboratorium yang ditujukan untuk

    menemukan pengetahuan baru (new

    knowledge)

    Lanjutan engineering dalam tahap yang

    awal dari kegiatan komersial

    Mencari penerapan dari temuan riset

    yang baru

    Pengendalian kualitas selama produksi

    komersial termasuk pengujian rutin

    Penyusunan konseptual dan desain dari

    produk yang mungkin atau alternatif

    proses

    Mengatasi gangguan (breakdown)

    selama produksi

    Pengujian dalam mencari atau evaluasi

    alternative produk atau proses

    Usaha-usaha rutin dan sedang

    berlangsung untuk memperbaiki,

    memperkaya, atau meningkatkan

    kualitas suatu produk yang ada

    Modifikasi desain suatu produk atau

    suatu proses

    Menyesuaikan suatu kapabilitas yang

    ada ke dalam persyaratan tertentu atau

    kebutuhan tertentu pelanggan

    Desain, konstruksi, dan pengujian

    prototype pre-produksi dan model

    Perubahan design secara periodic

    terhadap produk-produk yang ada

    Desain peralatan, jigs, cetakan, dies

    melibatkan teknologi baru

    Desain rutin atas peralatan, jigs, cetakan,

    dan dies

    Desain, konstruksi, dan operasional dari

    pabrik contoh (pilot plant) yang tidak

    berguna untuk produksi komersial

    Kegiatan, termasuk desain dan

    konstruksi engineering, terkait dengan

    konstruksi, relokasi, pengaturan ulang,

    atau start-up fasilitas atau peralatan

    Aktivitas engineering yang dibutuhkan

    untuk memajukan desain suatu produk

    memasuki tahap produksi

    Ijin kerja atas aplikasi patent, penjualan,

    lisensi, atau litigasi

    IAS No. 38, Intangible Assets diterapkan kepada semua aktiva tidak berwujud yang

    tidak diatur secara khusus oleh International Accounting Standards yang lain. IAS No.

    38 secara khusus berlaku atas pengeluaran yang berhubungan dengan iklan,

    pelatihan, start-up, dan kegiatan-kegiatan riset dan pengembangan (R&D).

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 39

    Secara khusus, IAS No. 38 menunjukkan bahwa suatu aktiva tidak berwujud wajib

    diakui mula-mula pada biaya perolehan (at cost), dalam laporan keuangan, jika ia

    memenuhi 3 persyaratan :

    1. Aktiva tersebut memenuhi definisi aktiva tidak berwujud. Terutama, terdapat

    aktiva yang dapat diidentifikasi (identifiable) yang dikendalikan (controlled)

    dan dapat secara jelas dibedakan (distinguishable) dari goodwill perusahan.

    2. Adalah mungkin bahwa manfaat ekonomis di masa mendatang (future

    economic benefits) yang timbul (attributable) dari aktiva tersebut akan

    mengalir kepada perusahaan.

    3. Biaya aktiva dapat diukur secara andal.

    Persyaratan di atas berlaku apakah suatu aktiva tidak berwujud diperoleh secara

    eksternal (externally acquired) atau dihasilkan secara internal (internally generated).

    Jika suatu item intangible tidak memenuhi baik definisi maupun kriteria untuk

    pengakuan aktiva tidak berwujud, biaya-biaya yang timbul akan dibebankan pada

    laporan laba rugi. Semua pengeluaran atas riset akan dibiayakan langsung sebagai

    beban tahun berjalan, dan intangible yang dihasilkan secara internal seperti goodwill

    tidak dapat diakui sebagai aktiva (? - cek lagi).

    Sesudah pengakuan awal dalam laporan keuangan, IAS No. 38 menunjukkan bahwa

    suatu aktiva tidak berwujud wajib diukur menggunakan satu dari dua perlakuan:

    1. Perlakuan benchmark : biaya historis dikurangi amortisasi dan kerugian

    penurunan nilai.

    2. Perlakuan alternative yang diperbolehkan : nilai revaluasi (berdasarkan nilai

    wajar (fair value)) dikurangi amortisasi dan kerugian penurunan nilai

    selanjutnya.

    Perbedaan utama perlakuan revaluasi aktiva tetap sebagaimana diatur dalam IAS

    No. 16, _________________ adalah bahwa revaluasi aktiva tidak berwujud

    diperbolehkan hanya jika nilai wajar dapat ditentukan dengan mengacu kepada

    pasar aktif (active market), dan pasar aktif sendiri diharapkan jarang ditemukan

    untuk aktiva tidak berwujud.

    Apakah intangible atas mana royalti dibayar wajib tercatat di laporan keuangan

    licensor?

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 40

    Bagaimana kalau aktiva tersebut mengalami penurunan nilai, apakah ini berakibat

    pada royalti? Mengingat IAS No. 39 (?) mewajibkan bahwa kerugian penurunan nilai

    diakui untuk aktiva keuangan (?) yang nilai yang dapat dipulihkan (recoverable

    amount) kurang dari nilai tercatat (carrying amount).

    Contoh:

    A Ltd. di Negara AAA berhasil me-paten-kan (?) karton plastik, yang telah diproduksi

    dan dipasarkan untuk 5 tahun dan menghasilkan laba. Paten yang satu mencakup

    proses produksi dan paten yang lain mencakup produk yang terkait.

    Paten tersebut mewakili terobosan yang signifikan dalam industry dalam 20 tahun

    terakhir. Produk-produk yang dihasilkan telah dipasarkan menggunakan trademark

    teregistrasi (registered trademark) menggunakan nama Technoc, Bauxnoc dan

    Dealnoc.

    Lisensi atas paten tersebut telah diberikan ke beberapa pabrikan di berbagai negara

    dan A Ltd. memperoleh royalti yang besar dari lisensi tersebut.

    Apakah paten dapat dicatat menggunakan metode discounted value of expected net

    royalty receipts (metode nilai diskonto dari penerimaan royalti bersih)?

    Paten tidak dapat dicatat menggunakan metode di atas, dengan demikian, royalti

    tidak dapat dikaitkan dengan pencatatan? Dapat dalam konteks untuk transfer?

    Definisi aktiva

    Ketika akuntan telah memastikan bahwa suatu aktiva telah diakui berdasarkan

    definisi di atas, isu berikutnya adalah bagaimana menilai aktiva tersebut.

    Model-model valuasi

    Sejalan waktu, dua model (school of thoughts) valuasi yang berbeda, mengenai nilai

    apa yang akan diasosiasikan dengan suatu aktiva telah berkembang, yaitu:

    1. Model input

    2. Model output

    Model Input

    Model input mendukung penilaian aktiva yang mencerminkan ukuran jumlah

    pembayaran yang digunakan atau penting untuk memperoleh aktiva (misalnya, untuk

    mencerminkan harga input atau akuisisi).

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 41

    Dua pendekatan untuk menerapkan model input adalah sebagai berikut:

    Biaya historis

    Aktiva dinilai pada harga original yang perusahaan bayar untuk memperoleh

    aktiva pada transaksi atau pertukaran berdasarkan prinsip kewajaran dan

    kelaziman usaha (arms-length). Pada umumnya, nilai awal terkait dengan

    aktiva tidak berubah sampai aktiva tersebut dilepas (disposed) atau

    dikeluarkan (removed) dari perusahaan. Keunggulan yang utama terhadap

    pendekatan ini adalah bahwa ia obyektif, dapat diperiksa dan mencerminkan

    nilai perolehan kepada perusahaan. Kelemahannya adalah bahwa biaya

    dapat menjadi outdated seiring dengan perubahan di pasar untuk aktiva.

    Replacement cost atau current cost

    Aktiva dinilai menurut apa yang diperlukan hari ini untuk memperoleh aktiva

    atau jasa tersebut. Keunggulan pendekatan ini adalah ia mencerminkan

    ukuran terbaik dari nilai kini untuk perusahaan.

    Model Output

    Model output mendukung konsep penilaian didasarkan nilai pertukaran atau konversi

    yang mencerminkan ukuran pembayaran yang akan diterima di masa mendatang

    dari aktiva. Pendekatan ini mem-fokuskan pada manfaat yang terkait dengan aktiva.

    Empat pendekatan yang dapat diimplementasikan:

    Nilai kini (present value)

    Pendekatan ini menilai aktiva pada nilai kini dari penerimaan arus kas di

    masa mendatang yang terkait dengannya. Ia mencerminkan penyederhanaan

    (abstraksi) yang berguna, tetapi sering tidak praktis untuk banyak aktiva34.

    Current Selling Price

    Pendekatan ini menilai aktiva pada harga dimana aktiva tersebut pada saat

    ini ditawarkan di pasar. Jika nilai jual dikurangi untuk biaya menyelesaikan

    34

    SFAC No. 7, Using Cash Flow Information and Present Value in Accounting Measurements. SFAC No. 7 memberikan prinsip umum mengenai penggunaan nilai kini dalam akuntansi, terutama pada saat ketidakpastian ada, dan pemahaman yang umum mengenai tujuan penggunaan nilai kini sebagai pengukur akuntansi.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 42

    penjualan, ini akan dinamakan current net realizable value. Namun demikian,

    current selling price hanya berlaku untuk aktiva-aktiva yang akan dijual (held

    for sale) atau ditawarkan di pasar. Pendekatan ini bermanfaat karena ia

    mempunyai fokus ke depan (future focus). Current selling price hanya relevan

    kalau aktiva tersebut tidak akan dimiliki atau dikendalikan sampai dengan

    masa akhirnya(?).

    Liquidation Value

    Pendekatan ini mengukur aktiva berdasarkan pada apa yang perusahaan

    dapat terima dari penjualan yang dipaksakan (forced sale) pada harga yang

    lebih rendah dari harga pasar. Harga ini dapat jadi tidak relevan bagi

    perusahaan-perusahaan yang memiliki kelangsungan usaha (going

    concerns).

    Expected Value

    Johnson dan teman-teman menyarankan penggunaan nilai yang diharapkan

    dalam akuntansi untuk memenuhi tujuan penyediaan informasi yang berguna

    tentang jumlah, timing, dan ketidakpastian dari arus kas bersih prospektif

    dalam beberapa situasi35.

    Nilai yang diharapkan mempertimbangkan semua hasil yang mungkin terkait dengan

    kejadian dan memberikan bobot pada masing-masing kejadian berdasarkan

    probabilitas terjadinya. Pendekatan ini tidak sering digunakan dalam akuntansi.

    Apakah adanya pasar sekunder akan mempengaruhi jawaban?

    Jawabannya adalah tidak. Kecuali aktiva dibeli untuk dijual lagi di pasar sekunder,

    adanya harga di pasar sekunder tidak relevan dalam situasi ini karena tujuannya

    bukan untuk dijual kembali (resell). Keberadaan nilai pasar tidak dengan sendirinya

    menyebabkan sesuatu itu menjadi aktiva.

    Probabilitas adalah juga kata kunci, jika tingkat probabilitas-nya sedemikian rendah,

    maka dapat juga diartikan bahwa tidak tepat untuk menilai aktiva pada harga yang

    lebih tinggi dari nihil.

    35

    Johnson, T., Barry Robbins, Robert Swieringa, dan Roman Weil, Expected Values in Financial Reporting. Accounting Horisons (December 1993): hal 77-90.

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 43

    Kalau ada perbandingan harga:

    1. Biaya historis (US$150)

    2. Current selling price di pasar sekunder (nilai pasar wajar) US$90

    3. Nilai yang diharapkan US$100 (probabilitas x hadiah utama)

    4. Tidak ada nilai, nihil

    Kalau diasumsikan aktiva akan dimiliki/dikendalikan hingga masa akhirnya, maka

    ada dua kemungkinan, hadiah utama atau nihil.

    Nilai yang diharapkan dapat merupakan pilihan yang dipertimbangkan karena ia

    memperhitungkan jumlah yang diharapkan dari hasil arus kas dan probabilitas setiap

    outcome dapat ditentukan secara andal (masukkan contoh perhitungan nilai yang

    diharapkan). Apakah probabilitas dapat ditentukan secara andal atau akurat?

    Kalau ya dan fokus memang ke depan (future focus) maka nilai yang diharapkan

    layak diperhitungkan.

    INTM467200 - Establishing the arm's length price: gathering your own evidence -

    Discounted cash flow models

    Introduction

    A discounted cash flow model is one of the many ways in which third parties might

    attempt to value intangible property.

    (terjemahan bebas: Model DCF adalah satu dari banyak cara dimana pihak ketiga

    berusaha untuk menilai aktiva tidak berwujud.)

    Dalam dunia komersial, metode yang sangat umum dalam menilai merek (brands)

    adalah menggunakan model matematis untuk menghitung alir pendapatan yang

    dapat diharapkan dari eksploitasi brand. Model ini sering digunakan untuk mencoba

    menilai brand untuk tujuan penjualan (outright sale), angka yang dihasilkan wajib

    memperhitungkan nilai uang sepanjang waktu (time value of money).

    Contoh, Bodgit & Scarper (Plastic Tat) telah memproduksi dan menjual model rel

    kereta api selama tahunan. Aktivitas tersebut selalu membawa keuntungan bagi

    divisi perusahaan, tetapi, untuk mengumpulkan dana untuk membiayai suatu new

    venture, diputuskan untuk menjual divisi model rel kereta. Perusahaan mengestimasi

    bahwa divisi akan memproduksi laba yang tetap sebesar 10 million selama 10

    tahun ke depan. Dengan demikian perusahaan akan melepaskan arus laba sebesar

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 44

    100 million. Namun demikian, 10 juta yang diperoleh di tahun 1 akan lebih

    berharga daripada 10 juta di tahun 10. Dengan mengestimasi bahwa 10juta tahun

    depan berharga 5% lebih rendah daripada 10juta tahun ini, dan berikutnya, estimasi

    dari nilai kini bersih 100juta adalah 77juta.

    Kalkulasi ini dapat dilakukan menggunakan model DCF, juga dikenal sebagai model

    NPV. Selain menilai brands, model DCF juga dapat digunakan untuk menghitung

    royalti yang terhutang berdasarkan perjanjian lisensi.

    Bagian berikut ini membicarakan bagaimana model DCF dapat digunakan dan

    dihitung dan mempertimbangkan juga kerugian dari menggunakan model ini.

    Informasi yang digunakan untuk menyusun model DCF

    Dasar model DCF adalah product line laporan laba rugi untuk brand atau produk36.

    Metode ini dapat digunakan untuk produk atau brand single atau a basket products

    asalkan produknya sama.

    Model menggunakan :

    Proyeksi penjualan

    Biaya-biaya yang terkait

    Informasi di-supply oleh perusahaan (?)

    Berdasarkan informasi yang tersedia pada saat perjanjian lisensi diberikan

    Model dibangun di sekitar product line income statement yang memperhitungkan

    semua kegiatan untuk memproduksi suatu produk, termasuk biaya-biaya terkait:

    Bahan baku

    Biaya produksi

    Pemasaran dan promosi

    Penjualan

    Distribusi

    Administrasi

    Biaya-biaya R&D yang dikeluarkan terkait langsung dengan produk

    36

    see INTM467160 on product line income statements

    http://www.hmrc.gov.uk/manuals/intmanual/INTM467160.htm

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 45

    Biaya-biaya untuk menemukan dan mengembangkan produk pada umumnya tidak

    dimasukkan.

    Secara alternative, model dapat juga berfokus pada satu aktivitas (katakan

    manufaktur atau distribusi), mengalokasikan biaya-biaya dan laba yang dapat di-

    atribusikan pada aktivitas lain, menggunakan metode-metode OECD misalnya resale

    minus atau cost plus.

    Lamanya perjanjian lisensi

    Tidak ada periode minimum untuk perjanjian lisensi dimana model DCF dapat

    digunakan untuk menentukan tarif royalti. Tentu saja, semakin panjang periode yang

    dicakup oleh model, proyeksi penjualan dan biaya-biaya menjadi lebih terbuka untuk

    dipertanyakan. Namun demikian, model DCF menjadi lebih berat ke tahun-tahun

    awal, supaya proyeksi menjadi lebih andal.

    Misalkan, mempertimbangkan perjanjian lisensi untuk 10 tahun diproyeksikan untuk

    menghasilkan 10juta laba setiap tahun. Total laba selama periode 10 tahun adalah

    100 juta. Namun demikian, tarif diskon 10%, nilai kini bersih adalah 61.45juta.

    Jika laba tahun untuk tahun 5-10 diperkirakan 12juta, maka total laba untuk periode

    10 tahun 110juta, tetapi nilai kini bersih adalah hanya 66.15juta.

    Untuk produk baru, atau brand yang ada sedang diluncurkan di pasar baru, akan

    menjadi pertanyaan apakah suatu perjanjian lisensi yang panjang akan diberikan,

    tanpa suatu break clause.

    Masalah dengan tarif royalti yang sama

    Model DCF didesign untuk memberikan tarif royalti yang sama sepanjang periode

    model. Tapi pada umumnya, produk atau brand baru membutuhkan promosi awal

    yang lebih tinggi dan usaha-usaha/pengeluaran pemasaran dan laba kemungkinan

    akan rendah atau bahkan tidak ada pada tahun-tahun awal. Berdasarkan prinsip

    kewajaran (kesebandingan) dan kelaziman usaha, tidak realistis untuk

    mengharapkan royalti untuk dibayar selama fase start-up.

    Jika model ini di-split, kemungkinan bahwa unsur untuk tahun-tahun pertama, akan

    menunjukkan royalti yang minimal atau bahkan tidak ada, dan unsur untuk tahun-

    tahun berikutnya akan menunjukkan tarif yang sedikit lebih tinggi daripada tarif yang

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 46

    seragam. Ini akan menggambarkan apa yang akan terjadi berdasarkan prinsip

    kewajaran dan kelaziman usaha. Secara keseluruhan licensor dan licensee

    seharusnya memperoleh alokasi laba yang sama licensor akan mendapat

    bagiannya sedikit lebih lama dalam siklus perjanjian lisensi.

    Mengalokasikan laba

    Menggunakan model DCF akan memberikan kita suatu nilai untuk suatu brand,

    basket produk, berdasarkan laba yang kemungkinan akan dihasilkan. Bagian yang

    lebih sulit adalah mengupayakan bagaimana laba seharusnya dialokasikan (at arms-

    length?)

    Umpamakan dimana suatu perusahaan induk memberikan suatu lisensi 10 tahun

    kepada suatu anak perusahaan berbasiskan di Singapura untuk memproduksi dan

    menjual suatu obat baru. Obat ini ditemukan oleh perusahaan induk. Pekerjaan

    pengembangan dilakukan oleh perusahaan induk dan dua anak perusahaan di

    Perancis dan Amerika Serikat. Bahan aktif obat diproduksi di Singapura dan

    kemudian dijual kepada perusahaan grup berbasis di Swiss. Perusahaan Swiss

    kemudian menjual bahan aktif kepada perusahaan distributor grup yang melakukan

    produksi sekunder (mengubah bahan aktif menjadi tablet) dan kemudian menjual

    obat tersebut.

    Model DCF akan menghasilkan laba system untuk obat. Laba butuh untuk

    dialokasikan di antara:

    Perusahaan induk (sebagai licensor)

    Anak perusahaan Amerika Serikat dan Perancis (untuk bagian mereka dalam

    mengembangkan obat)

    Anak perusahaan Singapore (untuk melaksanakan produksi primer)

    Anak perusahaan Swiss (untuk acting sebagai clearing house)

    Distributor group (untuk melaksanakan produksi dan distribusi sekunder)

    Perusahaan induk harus dialokasikan pada an arms length profit.

    Secara praktik, prinsip-prinsip yang sama perlu diterapkan sama seperti

    menggunakan metode profit-split.

    (see INTM467160).

    http://www.hmrc.gov.uk/manuals/intmanual/INTM467160.htm

  • www.futurumcorfinan.com

    Page 47

    Reservasi OECD

    The OECD Transfer Pricing Guidelines mempertimbangkan model DCF mungkin

    berguna dalam situasi start-up, dimana proyeksi dapat diestimasi dengan tingkat

    kepastian yang wajar. Mereka mengingatkan bahwa angka diskonto, yang harus

    sama dengan apa yang pihak ketiga akan setuju, akan membantu seberapa andal

    model tersebut. Premi resiko industry-wide digunakan untuk menghitung angka

    diskonto, adalah industry-wide. Mereka tidak membedakan antara perusahaan-

    perusahaan yang berbeda, apalagi segmen segmen bisnis. Guideline juga

    memperingatkan bahwa kita akan dapat menemukan masalah-masalah dalam

    mengestimasi timing relative penerimaan yang akan dimasukkan ke dalam model.

    The OECD Transfer Pricing Guidelines menganjurkan bahwa model DCF

    seharusnya digunakan dengan hati-hati, dan seharusnya ditambah kalau mungkin

    dengan informasi yang diperoleh dari metode yang lain.

    Secara khusus NPV yang dimaksud adalah NPV yang ada digunakan dalam formula

    EXCEL.

    Perhitungan dilakukan dengan mengambil nilai sebagai snap shot pada akhir tahun.

    Dalam ringkasan berikut ini dari spreadsheet Excel, kalkulasi memperlakukan

    pe