Menjaga Kebersihan Hati

Click here to load reader

  • date post

    06-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    94
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of Menjaga Kebersihan Hati

Menjaga Kebersihan HatiDitulis oleh Mujtahid Selasa, 11 Oktober 2011 11:14

TUHAN menurunkan kepada manusia dua sifat, yaitu sifat hasanah (baik) dan sifat sayyi'ah (jelek). Kedua sifat ini selalu melekat pada diri manusia sepanjang hayatnya. Tetapi, sifat yang bertolak belakang secara diametral tersebut, masih sangat ditentukan oleh eksistensi hati (kalbu), sebagai potensi (al-quwwah, fakultas) yang menentukan pilihan dan tindakan (action) manusia.

Eksistensi kalbu merupakan pusat penalaran dan kehendak, yang berfungsi untuk berfikir, memahami sesuatu, dan

bertugas atas aktualisasi terhadap segala sesuatu. Kalbu dapat dikategorikan intuisi atau pandangan yang dalam, yang mempunyai rasa keindahan, dan kehidupannya dari sinar mentari yang membawa manusia pada kebenaran, dan sebagai alat untuk mengenal kebenaran ketika pengindraan tidak memainkan peranannya.

Menurut Ibnu Athaillah Al- Sakandari, seorang sufi terkemuka, menyatakan bahwa kalbu merupakan bagian esensi kehidupan manusia. Sebagai tokoh ulama yang zahid, wara' serta sebagai duta orangorang arif dan imam para sufi, Athaillah mengemukakan pentingnya kalbu sebagai mata batin dan nurani manusia. Bahkan, ia menegaskan bahwa untuk meraih derajat

tinggi dan tempat mulia di hadapan Allah, diperlukan kedalaman pengetahuan pada diri Muhammad Saw, sebagai utusan Allah. Bagi kaum Muslim, figur utama yang perlu diikuti dan dihormati adalah Rasulullah, kata Athailah dengan nada semangat. Dengan mengikuti sunnah Rasul, secara pasti kehidupan ini akan terbimbing ke arah jalan yang diridhai Allah.

Muhammad Saw adalah orang yang senantiasa terjaga kesucian hatinya. Nabi benar-benar menjadi publik figur yang sangat disegani, dihormati karena hatinya yang sangat mulia. Dengan nada dan gaya yang fulgar, Athaillah sampai membuka kartu rahasia, bahwa salah satu kesuksesan dirinya menjalani seorang sufi,

yaitu karena ia telah mengikuti Rasulullah baik secara lahir maupun bathin.

Adapun metode untuk menjaga kesucian kalbu adalah dengan taubat. Secara bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali lari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridha'i-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, dan seterusnya.

Jalan taubat sengaja di buka oleh Allah agar jika seorang Muslim melakukan kesalahan, baik yang besar maupun kecil, ia wajib segera kembali kepada jalan Allah.

Dengan mengutip ayat al-Qur'an, Athaillah menyerukan: "Kembalilah kamu sekalian kepada jalan Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung". Mengapa manusia perlu bertaubat? Karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Allah. Sehingga modal untuk kembali kepada Allah hanyalah dengan keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat, yang menentang kemahakuasaan Allah. Kiat untuk menundukkan kalbu juga bisa dengan muhasabah (introspeksi diri).

Manusia seharusnya punya kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah di manapun ia berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, manusia akan terdorong untuk melakukan

muhasabah (introspeksi diri, perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap kalbunya sendiri. Lagi-lagi, menurut Athailah, Muhasabah dapat direncanakan sebelum melakukan sesuatu dengan secara tepat dan matang. Mempertimbangkan terlebih dahulu baikburuk dan manfaat perbuatannya itu. Satu hal lagi yang menjadi catatan agar Kalbu tetap suci adalah sikap ikhlas.

Secara etimologis, ikhlas berakar dari khalasha yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang didasarkan bukan kepada Allah.

Ikhlas mengajarkan kepada manusia agar berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah. Karenanya, setiap perbuatan harus diawali dengan kata niat. Seperti yang dianjurkan Nabi: "Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya."

Sebagaimana yang terpaparkan di atas, tulisan ini merupakan salah kunci untuk menjaga kebersihan hati (kalbu). Jika hal ini memang benar, tentu semata-mata karena hidayah dan ilmu Allah yang diturunkan melalui hamba-Nya.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Bagaimana cara memelihara kebersihan hati kita? 1) Selalu berzikir kepada ALLAH. Dengan berzikir, hati terus-menerus mendapat kekuatan sehingga hati menjadi senantiasa jernih. Hati yang senantiasa berzikir dipelihara kejernihannya sehingga suara hati yaitu suara fitrah menguasai perasaan dan emosi. 2) Hendaklah hati ini senantiasa kita gunakan untuk merenung dan mengkaji ayat-ayat ataupun tanda-tanda kekuasaan ALLAH dalam segala hal. Biarkanlah hati ini menterjemahkan hikmah dari segala sesuatu di sekeliling kita. Dengan hikmah yang kita dapat, hati kita senantiasa hidup dan bebas dari segala penyakit hati. 3) Berusaha memperbaiki diri untuk terus beribadah dengan ibadah yang terbaik, kerana

ibadah yang khusyuk menghasilkan kekuatan yang begitu besar untuk keteguhan dan kebersihan hati. Hati adalah tempat tersimpannya iman. Apabila hati kita besih, pasti iman dapat kekal di dalamnya. Keimanan tidak bertahan lama dan tidak hadir pada hati yang kotor. Keimanan hanya kekal pada hati yang bersih. Selalu menjaga kebersihan hati kita. Inilah modal awal untuk membuktikan bahwa kita orang Muslim. ALLAH menjelaskan di dalam Al-Quran surah alAhzaab ayat 41 yang artinya hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) ALLAH, dengan zikir yang sebanyakbanyaknya

BAGAIMANA CARA UNTUK MENJAGA KEBERSIHAN HATI Alhamdulillah..kembali mengawali hari dengan membersihkan hati dan meniti keimanan bersama Aa Hadi dalam program tausiyah Titian Iman di OChannel yang episode kali ini membahas mengenai Menjaga Kebersihan Hati. Hendaknya dalam setiap apa yang kita lakukan setiap langkah yang kita pijakkan senantiasa diiringi dengan kebersihan hati karena hanya amalan yang disertai dengan kebersihan hati, hati yang selamat (qalbun Salim) yang diterima oleh Allah Subhanahu wa taala . Bagaimanakah cara kita untuk menjaga kesucian hati? Hanya dengan pertolongan dari Allah, setiap diri bisa mensucikan hati sehingga hati menjadi bening. Jika ingin dekat dengan pertolongan Allah harus ada

ikhtiar. Ketika hati dekat dengan sombong, fitnah, ghibah, dan berbagai penyakit lainnya hendaknya mensegerakan diri untuk bertaubat kembali ke jalan Allah. Setelah taubatan nasuhah, penjagaan kesucian hati dilanjutkan dengan melaksanakan apa-apa yang diperintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang-Nya dengan sungguh-sungguh. Senantiasa menjaga kemurnian ibadah ikhlas lillahi taala. Jangan sampai amalan-amalan kita bukan membuat hati kita semakin suci namun semakin mengotori hati kita karena di antara amalan kita tidak diniatkan lillahi taala namun sebagai upaya untuk sombong dan merendahkan orang lain. Sebagai contoh, ketika dikaruniai kelebihan dalam hal ilmu bukan untuk berbagi namun untuk saling menghinakan satu sama lain. Sedekah bukan untuk membahagiakan dan memuliakan orang lain namun dijadikan sarana untuk riya.

Semoga kita terhindar dari amalan-amalan yang bukan karena Allah. Untuk menjaga kesucian hati, hendaknya semakin menyibukkan hati dengan menyebut nama Allah, dzikrullah, jangan biarkan hati dipenuhi urusan dunia. Ketika kita ingin mengajarkan bagaimana menaga kesucian hati kepada buah hati kita sedini mungkin, awali dengan senantiaa memberikan makan, minum, pakaian, dan sekolah dengan makanan, minuman, dan rezeki yang halal. Dengan demikian Allah akan menuntun buah hati kita untuk berupaya menjaga kebersihan hati. Karena bisa jadi anak yang bandel dan jauh dari hidayah terjadi akibat dari kesalahan orang tua yang memberikan sesuatu yang tidak didapat dengan jalan yang halal kepada anaknya. Ingatlah, anak adalah amanah Allah kepada kita, sudah seharusnya kita menjaga amanah Allah dengan sebaik-baiknya. Tanamkan selalu

dalam hati, bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat atas apa yang kita lakukan. Karenanya, perbaiki terus kualitas ibadah kita, jaga kesucian ibadah kita, dan yakin berdoa kepada Allah agat memberikan taqdir terbaik-Nya untuk kita. Belajarlah menjadi manusia yang senantiasa bersabar dan bersyukur Ada kalanya niatan untuk menjaga kesucian hati sudah ada, namun kadang perasaan iri, dengki tiba-tiba muncul kembali. Segeralh istighfar bukan hanya di lisan namun istighfarkan hati kita. Teruslah berikhtiar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari waktu ke waktu dan jangan berputus asa dalam ikhtiar. Sesuai dengan sabda Rasulullah, manusia yang celaka/binasa adalah mereka yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, manusia merugi adalah mereka yang hari ini sama dengan hari ekmarin, dan manusia beruntung adalah mereka yang hari ini

lebih baikdari hari kemarin. Semoga kita senantiasa termasuk ke dalam golongan yang beruntung. Lebih sungguh-sungguh mengingat Allah, lebih fkcus kepada Allah yang Maha Agung, Maha Pemberi Ilmu, dan yakini bahwa Allah tidak pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh kembali kepada-Nya Sesungguhnya, kebersihan hati adalah pangkal dari kebersihan diri. Dari kebersihan diri akan memunculkan kebersihan akal, perilaku, dan lisan. Hati yang selamat akan tercermin dalam akhlak sehari-hari yang senantiasa menjaga kesucian ibadah dan tidak pula ternodai saat bersosialisasi. Intinya, jika kita ingin mengetahui apakah ibadah kita sudah sungguh-sungguh karena Allah, lihatlah kepada akhlak kita sehari-hari. Ketika kita bersungguh-sungguh dalam ibadah niscaya akhlak yang tercermin adalah akhlak yang mulia. Ke