Meningitis Anak

download Meningitis Anak

of 33

  • date post

    17-Jul-2016
  • Category

    Documents

  • view

    84
  • download

    1

Embed Size (px)

description

Meningitis Anak

Transcript of Meningitis Anak

  • MENINGITIS BAKTERIALMeningitis bakterial adalah suatu peradangan pada selaput otak ditandai dengan peningkatan jumlah sel polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya bakteri penyebab infeksi dalam cairan serebrospinal.Salah satu dari infeksi yang kemungkinan paling serius pada bayi dan anak yang lebih tua.Infeksi ini disertai dengan frekuensi komplikasi akut dan risiko morbiditas kronis yang tinggi. Pola meningitis bakteri dan pengobatannya selama masa neonatus biasanya berbeda dengan polanya pada bayi yang lebih tua dan anak-anak.

  • ETIOLOGI

  • ETIOLOGIBakteri lain yang dapat menyebabkan meningitis bakterial adalah kuman gram negatif seperti Proteus, Enterobacter dan Klebsiela sp.

  • PATOGENESISInfeksi dapat mencapai selaput otak melalui :-Aliran darah (hematogen) oleh karena infeksi ditempat lain seperti faringitis, tonsilitis, endokarditis, pneumonia, infeksi gigi. Pada keadaan ini sering didapatkan biakan kuman yang positif pada darah, yang sesuai dengan kuman yang ada pada cairan otak.-Perluasan langsung dari infeksi (perkontinuitatum) yang disebabkan oleh infeksi dari sinus paranasalis, mastoid, abses otak, sinus kavernosus.

  • -Implantasi langsung: trauma kepala terbuka, tindakan bedah otak, pungsi lumbal dan mielokel.-Meningitis pada neonatus dapat terjadi oleh karena :Aspirasi dari cairan amnion yang terjadi pada saat bayi melalui jalan lahir atau oleh kuman-kuman yang normal ada pada jalan lahir. -Infeksi bakterial secara transplasental terutama listeria Sebagian besar infeksi susunan saraf pusat terjadi akibat penyebaran hematogen.

  • Proses terjadinya meningitis bakterialis melalui jalur hematogen mempunyai tahap-tahap sebagai berikut:Bakteri melekat pada sel epitel mukosa nasofaring (kolonisasi) menembus rintangan mukosa bakteri memperbanyak diri dalam aliran darah (menghindar dari sel fagosit dan aktivitas bakteriolitik) dan menimbulkan bakteriemia masuk ke dalam cairan serebrospinal memperbanyak diri menimbulkan peradangan pada selaput otak (meningen) dan otak.

  • Bakteri yang menimbulkan meningitis adalah bakteri yang mampu melampaui semua tahap tersebut. Terjadinya meningitis bakterial dipengaruhi oleh interaksi beberapa faktor, yaitu: host yang rentan, bakteri penyebab dan lingkungan yang menunjang.

  • GEJALA KLINISbayi baru lahir dan prematur sangat sulit didiagnosis, gambaran klinis sangat kabur dan tidak khas.demam pada meningitis bayi baru lahir hanya terjadi pada 1/2 dari jumlah kasus. tampak lemah dan malastidak mau minummuntah-muntahkesadaran menurunubun-ubun besar tegang dan membonjolleher lemasrespirasi tidak teraturkadang-kadang disertai ikterus kalau sepsis

  • Bayi berumur 3 bulan - 2 tahunDemamMuntahGelisahkejang berulangkadang-kadang didapatkan pula high pitched cry (pada bayi)Tanda fisik yang tampak jelas: ubun-ubun tegang dan membonjol, sedangkan tanda Brudzinski dan Kernig sulit dievaluasi.

  • anak besar dan dewasaDemamMenggigilmuntah dan nyeri kepalaKadang-kadang gejala pertama ialah kejang, gelisah, gangguan tingkah laku. Penurunan kesadaran seperti delirium, stupor, dan koma dapat juga terjadi.Tanda klinis yang biasa didapatkan ialah kaku kuduk, tanda Brudzinski dan Kernig. Nyeri kepala timbul akibat inflamasi pembuluh darah meningen, sering disertai dengan fotofobia dan hiperestesi, kaku kuduk disertai rigiditas spinal disebabkan iritasi meningen.

  • DIAGNOSISPemeriksaan CSS dengan pungsi lumbalIndikasi: Kejang, koma, ubun-ubun besar menonjol, kaku kuduk dengan kesadaran menurun, mastoiditis kronik yang dicurigai meningitis, sepsis dan demam yang tidak diketahui sebabnya.Kontraindikasi:1. Adanya kenaikan tekanan intrakranial (oleh tumor, hidrosefalus).2. Gangguan kardiopulmonal berat yang memerlukan cara-cara resusitasi segera untuk syok atau pada penderita yang padanya posisi untuk PL akan menggangu fungsi kardiopulmonal.3. Infeksi kulit yang menutupi tempat PL.

  • Penemuan-penemuan CSS pada Berbagai Infeksi Sistem Saraf Sentral*Mungkin PMN dominan pada beberapa jam pertama infeksi

  • PENATALAKSANAANCairan intravenaKoreksi gangguan asam-basa dan elektrolitAtasi kejangKortikosteroid. Berikan deksametason 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari, 15-20 menit sebelum pemberian antibiotikAntibiotik. Terdiri dari 2 fase, yaitu empirik dan setelah ada hasil biakan dan uji resistensi. Pengobatan empirik pada neonatus adalah kombinasi ampisilin dan aminoglikosida atau ampisislin dan sefotaksim. Pada umur 3 bulan-10 tahun kombinasi ampisilin dan kloramfenikol atau sefuroksim/sefotaksim/seftriakson. Pada usia lebih dari 10 tahun digunakan penisilin. Pada neonatus pengobatan selama 21 hari, pada bayi dan anak 10-14 hari.

  • ANTIBIOTIK UNTUK MENINGITIS BAKTERIAL

  • DOSIS ANTIBIOTIK

  • MENINGITIS TUBERKULOSAMeningitis Tuberculosis adalah peradangan selaput otak yang terjadi akibat komplikasi Tuberculosis primer.Fokus primer yang terpenting berasal dari paru, walaupun juga dapat berasal dari organ lain seperti kelenjar getah bening dan tulang.

  • ETIOLOGI

    Mycobacterium Tuberculosa varian hominis

  • PATOLOGI1.Disseminated Miliary Tubercles, seperti pada TB primer.2.Fokal Caseous Plaques, contohnya tuberculoma yang sering menyebabkan meningitis yang difus.3.Acute Inflamatory Caseous Meningitis-Terlokalisasi, disertai perkijuan dan tuberkel, biasanya dikorteks.-Difus, dengan eksudat gelatinosa di ruang subarachnoid.4.Meningitis Proliferatif- Terlokalisasi pada selaput otak- Difus dengan gambaran tak jelas

  • PATOFISIOLOGIMeningitis Tuberkulosa pada umumnya sebagai penyebaran tuberkulosis primer dengan fokus infeksi di tempat lain. Dari fokus infeksi primer, basil masuk ke sirkulasi darah melalui duktus torasikus dan kelenjar limfe regional,dapat menimbulkan infeksi berat berupa tuberkulosis milier atau hanya menimbulkan beberapa fokus metastase yang biasanya tenang.Rich (1951) yakin bahwa terjadinya Meningitis Tuberkulosa adalah mula-mula terbentuknya tuberkel di otak, selaput otak dan atau medula spinalis akibat penyebaran secara hematogen, menimbulkan meningitis akibat terlepasnya basil dan antigennya dari tuberkel yang pecah karena rangsangan mungkin berupa trauma atau faktor imunologis, kemudian basil langsung masuk ke ruang subaraknoid atau ventrikel dan menimbulkan reaksi peradangan yang menyebabkan perubahan dalam cairan serebrospinal.

  • Reaksi peradangan ini mula-mula timbul disekitar tuberkel yang pecah, kemudian tampak jelas diselaput otak pada dasar otak dan ependim. Akan menimbulkan komplikasi neurologis, berupa paralisis saraf kranial, infark karena penyumbatan arteri dan vena serta hidrosefalus karena aliran serebrospinal tersumbat.Perlengketan yang sama dalam kanalis sentralis medula spinalis akan menyebabkan spinal blok dan paraplebia.

  • GEJALA KLINIS1.Stadium I (Prodormal)Berupa iritasi selaput otak, dengan gejala yang tidak khas berupa kenaikan suhu yang ringan, anak mudah terangsang atau anak menjadi apatis, penurunan prestasi sekolah, tidak nafsu makan, mual, muntah, obstipasi, serta sakit kepala ringan, tidak mau main-main, tidur terganggu. Stadium ini dijumpai pada 20,78% kasus. Pada bayi = iritabel, ubun-ubun besar menonjol.Pada anak besar = mungkin tanpa demam dan timbul kejang intermiten.Kejang bersifat umum (10-15%), kadang terdapat tanda-tanda TIK meningkat mendahului rangsangan meningeal. Stadium ini berlangsung 1-3 minggu.Bila tuberkelnya pecah ke dalam ruang sub arachnoid maka fase ini berlangsung singkat dan langsung ke stadium 3.

  • 2.Stadium II (Transisi)/stadium meningitisKelumpuhan saraf kranial (30 %) mula-mula unilateral kemudian jadi bilateral, paling sering mengenai saraf kranial VI, kemudian saraf II, III, IV, VII.Dimulai dengan timbulnya tanda dan gejala neurologis. Dari hasil pemeriksaan didapatkan tanda rangsang meningeal. Seluruh tubuh dapat menjadi kaku, refleks tendon menjadi lebih tinggi, terjadi peninggian tekanan intrakranial dan kelumpuhan syaraf otak, disamping itu sering ditemukan gangguan bicara, disorientasi, hemiplegia, ataksia, gerakan involunter dan kejang-kejang. Ubun-ubun menonjol dan umumnya terdapat kelumpuhan urat syaraf mata sehingga timbul gejala nistagmus. Sering tuberkel terdapat dikoroid. Suhu tubuh menjadi lebih tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor.Stadium ini dijumpai pada 54,55% kasus.

  • 3.Stadium III (Terminal) Ditandai dengan meningkatnya disfungsi serebraldifus, penderita mengalami penurunan kesadaran hingga koma, postur deserebrasi atau dekartikasi, pernafasan tidak teratur (Cheyne stokes), serta pupil yang berdilatasi dan tidak bereaksi sama sekali. Hyperpireksia timbul dan anak meninggal tanpa kesadaran pulih kembali, karena infark batang otak akibat lesi pembuluh darah/strengulasi oleh eksudat yang mengalami organisasi.Stadium ini dijumpai pada 24,6 % kasus.Ketiga stadium di atas biasanya tidak mempunyai batasan yang jelas antara satu dengan lainnya. Namun jika tidak diobati umumnya berlangsung selama 3 minggu sebelum anak meninggal

  • DIAGNOSISGambaran klinis terdapatnya kontak dengan penderita Tuberculosis dewasaUji tuberkulinFoto Roentgen ParuDiagnosa pasti hanya dapat dibuat berdasarkan bila ditemukannya kuman basil tahan asam dalam sediaan hapus dan biakan likuor serebrospinal. CT-Scan kepala untuk mendeteksi tuberkuloma, hidrosefalus, dan kelainan anatomis lainnya.

  • Interpretasi CSS

  • KOMPLIKASIParesisParalisisDeserebrasiHidrosefalus akibat sumbatan, resorpsi berkurang atau produksi yang berlebihan dari likuor serebrospinalButa atau tuliGangguan sensibilitas

  • PENATALAKSANAANBed restKombinasi OAT (INH, Rifampisin, dan Pirazinamid)INH=10-20 mg/kgBB/hari, dosis max 300 mg/hari (oral) Pemberian bersama B6 50mg/hari untuk mence