Mengenal Lebih Dekat Anak Tunarungu

download Mengenal Lebih Dekat Anak Tunarungu

of 30

  • date post

    19-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    61
  • download

    6

Embed Size (px)

description

Mengenal Lebih Dekat Anak Tunarungu

Transcript of Mengenal Lebih Dekat Anak Tunarungu

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar belakang Anak tunarungu adalah anak yang mengalami kehilangan fungsi pendengaran, baik sebagian maupun seluruhnya yang berdampak kompleks dalam kehidupannya. Anak tunarungu secara fisik terlihat seperti anak normal, tetapi bila diajak berkomunikasi barulah terlihat bahwa anak mengalami gangguan pendengaran. Anak tunarungu tidak berarti anak itu tunawicara, akan tetapi pada umumnya anak tunarungu mengalami ketunaan sekunder yaitu tunawicara. Penyebab anak menjadi tunawicara adalah anak sangat sedikit memiliki kosakata dalam sistem otak dan anak tidak terbiasa berbicara.Anak tunarungu memiliki tingkat intelegensi bervariasi dari yang rendah hingga jenius. Anak tunarungu yang memiliki intelegensi normal pada umumnya tingkat prestasinya di sekolah rendah. Hal ini disebabkan oleh perolehan informasi dan pemahaman bahasa lebih sedikit bila dibandingkan dengan anak yang mampu dengar. Anak tunarungu mendapatkan informasi dari indra yang masih berfungsi, seperti indra penglihatan, perabaan, pengecapan dan penciuman.Anak tunarungu mendapatkan pendidikan khusus di lembaga informal dan formal. Pendidikan formal yang menangani anak tunarungu yaitu LSM, organisasi penyandang cacat, posyandu dan klinik-klinik anak berkebutuhan khusus. Lembaga pendidikan formal yang menangani anak tunarungu adalah home schooling, sekolah inklusi, dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Penyelenggaraan pendidikan khusus tersebut termuat dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 32 ayat 1 yang menyatakan bahwa pendididkan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengkuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Pendidikan khusus yang dimaksud yaitu pemberian layanan sesuai kebutuhan anak tunarungu.Pendidikan khusus dilaksanakan secara sistematis. Pelaksanaan pembelajaran bagi anak tunarungu harus dimulai dari hal-hal yang dialami anak dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip pembelajaran bagi anak tunarungu mulai dari hal-hal yang mudah kemudian berangsur-angsur ke tingkat yang lebih sulit. Pembelajaran bagi anak tunarungu dapat dilakukan dengan cara memberikan pengalaman-pengalaman nyata dan berulang-ulang.Anak tunarungu kurang memiliki pemahaman informasi verbal. Hal ini menyebabkan anak sulit menerima materi yang bersifat abstrak, sehingga dibutuhkan media dan metode yang tepat untuk memudahkan pemahaman suatu konsep pada anak tunarungu. Pemahaman terhadap anak tunarungu juga sangat diperlukan guna memberikan pelayanan yang tepat bagi anak. Pemahaman pelayanan tidak hanya harus diketahui oleh guru, akan tetapi juga wajib diketahui oleh orang tua. Guru dan orang tua harus saling bekerjasama dalam membuat program pembelajaran baik di sekolah maupun di rumah.

B. Rumusan MasalahUntuk membantu anak tunarungu agar berkembang dengan optimal dan maksimal, kita perlu mengenal lebih dekat anak tunarungu. Untuk itu dirumuskanah beberapa rumusan masalah sebagai berikut:1. Siapakah anak tunarungu itu?2. Bagaimana ciri-ciri dan karakteristik anak tunarungu?3. Bagaimana cara menditeksi dini anak yang mengalami ketunarunguan?4. Apa pendidikan yang tepat bagi anak tunarungu?5. Apa terapi yang tepat guna membantu anak tunarungu agar berkembang dengan optimal?6. Bagaimana meningkatkan rasa percaya diri anak tunarungu?C. TujuanTujuan dari penulisan makalah ini agar kita sebagai orang tua maupun sebagai pendidik dapat:1. Mengetahui siapa-siapa yang disebut sebagai anak tunarungu 2. mengetahui ciri-ciri dan karakteristik anak tunarungu sehingga dapat membantu anak berkembang dengan optimal.3. Mengetahui cara menditeksi dini anak yang mengalami ketunarunguan sehingga dapat memberikan stimulasi dini dan pelayanan yang tepat bagi anak.4. Mengetahui pendidikan yang tepat bagi anak tunarungu agar anak berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.5. Memberikan terapi yang tepat guna membantu anak tunarungu agar berkembang dengan baik6. Dapat meningkatkan rasa percaya diri anak tunarungu dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat.

BAB IIPEMBAHASAN

A. Pengertian TunarunguTunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengaran yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai rangsangan, terutama melalui indra pendengarannya. Andreas Dwidjosumarto (1990:1) mengemukakan bahwa Tunarungu adalah seseorang yang tidakatau kurang mampu mendengar suara dikatakan tunarungu.Mufti Salim (1984:8) menyimpulkan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar yangdisebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengaran sehingga ia mengalami hambatan dalam perkembangan bahasanya, Memperhatikan batasan-batasan diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa tunarungu adalah mereka yang kehilangan pendengaran baik sebagian (hard ofhearing) maupun seluruhnya (deaf) yang menyebabkan pendengarannya tidakmemiliki nilai fungsional didalam kehidupan sehari-hari.

B. Ciri-Ciri Tunarungu1. Ciri-Ciri Fisik Anak Tunarungu Cara berjalan anak kaku dan membungkuk disebabkankarena terganggunya alat pendengaran. Gerakan mata cepat dan agak beringas menunjukkan bahwa anak ingin menangkap keadaan yang ada di sekitarnya. Gerakan kaki dan tangannya sangat cepat atau kidal tampak pada saat berkomunikasi dengan gerak/bahasa isyarat. Pernafasannya pendek dan agak terganggu.

2. Ciri-Ciri Intelegensi Anak TunarunguIntelegensi anak tunarungu umumnya seperti anak normal namun karena tingkat kemampuan bahasa, keterbatasan informasi dan daya abstraksi yang mengakibatkan menghambatnya proses pencapaian yang lebih luas. Maksudya karena memiliki keterbatasan dalam kemampuan berbahasa maka anak lebih sulit untuk memahami sesuatu.

3. Ciri-Ciri Sosial Anak Tunarungu Merasa rendah diri dan merasa diasingkan dari keluarga dan masyarakat. Merasa diperlakukan tidak adil oleh orang-orang disekitarnya. Pergaulan terbatas antara sesama tunarungu. Memiliki sifat egosentris melebihi anak normal.

4.Ciri-Ciri Emosi Anak Tunarungu Mudah marah dan mudah tersinggung. Merasa takut pada lingkungan sekitar sehingga anak merasa was-was atau kuatir.

C. Klasifikasi Anak Tunarungu1.Klasifikasi berdasarkan etiologis yaitu pembagian berdasarkan sebab- sebab, tunarungu disebabkan oleh beberapa faktor yaitu a.Faktor Sebelum Lahir (Prenatal) : Salah satu atau kedua orang tua tunarungu sehingga memiliki gen pembawa tunarungu. Karena penyakit misalnya sewaktu ibu mengandung terserang suatu penyakit, terutama penyakit- penyakit yang di derita pada saat kehamilan tri semester pertama yaitu pada saat pembentukan ruang telinga. Penyakit itu ialah rubella, moribili, dan lain-lain Karena keracunan obat- obatan : pada suatu kehamilan ibu meminum obatan terlalu banyak, atau ibu meminum obat pengugur kandungan, hal ini menyebabkan ketunarunguan pada anak yang lahir.b.Faktor Pada Saat Lahir (Natal) : Prematuritas yaitu bayi yang lahir sebelum waktunya. Proses Kelahiran yang sulit hingga persalinan dibantu dengan penyedotan (tang) .c. Faktor Sesudah lahir (post natal) : Karena kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan alat pendengaran bagian dalam, misalnya jatuh. Ketulian yang terjadi karena infeksi , misalnya infeksi pada otak (meningitis)atau infeksi umum seperti difteri , morbili, dan lain-lain. Pemakaian obat-obatan ototoksi pada anak-anak.

2.Klasifikasi berdasarkan Penyebabnya Conductive loss Sensorineural loss Central auditory processing disorder

3.Klasifikasi Berdasarkan Keberfungsian Pendengaran Ketunarunguan ringan : masih mampu mendengar dengan intensitas 20-40 dB Ketunarunguan sedang : masih mampu mendengar dengan intensitas 40-65 dB Ketunarunguan berat : masih mampu mendengar dengan intensitas 65-95 dB Ketunarunguan parah : masih mampu mendengar dengan intensitas diatas 95 dB.

D. Penyebab Tunarungu1. Faktor Keturunan (Heredity)2. Faktor Ibu yang terkena Rubella (Maternal Rubella)3. Ketidaksesuaian anatara Darah Ibu dan Anak4. Meningitis (Radang Selaput Otak)5. Prematuritas

E. Deteksi KetunaarunguanMendeteksi kehilangan pendengaran merupakan persoalan teknis dimana mengenali anak tuli lebih mudah daripada mengenali anak kurang dengar. Gejala umum anak kurang dengar ringan diantaranya yaitu; Anak yang acuh tak acuh, kebingungan atau penurut, Anak yang mengahayal secara berlebihan, Anak yang prestasinya rendah, Anak yang mengalami sedikit gangguan bicara, Anak yang malas, Anak yang nampak bodoh.Akan tetapi ada beberapa cara yang bisa digunakan untuk mendeteksi ketunarunguan yang lain, yaitu: Tes dengan alat sederhana (tradisional); pada bayi yang mulai meraban dapat dilakukan tes karena pendengaran anak sudah mulai memegang peran. Dengan mengetukkan sendok pada piring atau dengan panggilan dari sisi belakang atau samping anak. Jika anak merespon, maka pendengaran anak normal Tes dengan detik jam (watch tick test); pelaksanaan test dilakukan di ruang sunyi, anak berdiri disamping tester dengan menutup telinga yang tidak di tes, jam ditempatkan dekat dengan telinga dan sedikit demi sedikit dijauhkan secara horizontal sampai anak tidak dapat mendengar. Menurut praktek jika anak tidak dapat mendengar detik jam pada jarak 48 inci sampai 16 inci maka ia dianggap kurang dengar.

F. Kebutuhan Pembelajaran TunarunguKebutuhan pembelajaran anak tunarungu, secara umum tidak berbeda dengan anak pada umumnya. Tetapi mereka memerlukan perhatian dalam kegiatan pembelajaran antara lain: Tidak mengajak anak untuk berbicara dengan cara membelakanginya. Anak hendaknya ditempatkankan paling depan, sehingga memiliki peluang untuk mudah membaca bibir guru. Perhatikan postur anak yang sering memiringkan kepala untuk mendengarkan Dorong anak untuk selalu memperhatikan wajah guru, bicaralah dengan anak dengan posisi berhadapan dan bila memungkinkan kepala guru sejajar dengan kepala