Mengejar Kere Minggat

download Mengejar Kere Minggat

of 14

Embed Size (px)

Transcript of Mengejar Kere Minggat

1. Mengejar Kere Minggat Oleh: Nody Arizona Situsweb: pindai.org | Surel: redaksi@pindai.org Twitter: @pindaimedia | FB: facebook.com/pindai.org 2. PINDAI.ORG Mengejar Kere Minggat / 6 April 2015 H a l a m a n 2 | 14 Mengejar Kere Minggat Oleh : Nody Arizona Bagaimana peraturan yang menyangkut industri hasil tembakau mematikan pabrik rokok dan membuat petani khawatir tak bisa lagi menanam tembakau di ladang-ladangnya? PAK guru, pak guru Bd tamoy! Seorang perempuan tua yang tengah menyortir daun tembakau menghentikan pekerjaanya. Dia memberi kabar kepada si pemilik rumah bila ada seseorang yang hendak bertemu. Setelahnya, dia masuk ke musala berdinding keramik hijau yang terdapat tumpukan daun tembakau, dan di sana perempuan itu kembali bekerja. Di pelataran rumah, ada lebih banyak lagi tumpukan daun tembakau; beberapa tumpuk telah dikemas dan siap dikirim ke gudang. Beberapa alat seperti kayu, gergaji, dan untaian tali tergeletak di lantai. Di atasnya terpal biru dihampar, menaungi para pekerja dari terpaan matahari. Sore itu, 28 September 2014, hanya ada dua pekerja di rumah Hendro Handoko. Nanti setelah mandi dan melaksanakan salat Magrib, para pekerja akan datang kembali, katanya. Hendro Handoko lebih dikenal seorang guru di lingkungan rumah. Dia mengajar sejak 1990, dua tahun sebelum lulus kuliah. Kebetulan diminta mengajar terus, katanya. Dia berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, sempat pula mendirikan Sekolah Menengah Tinggi Pertanian (SMTP). Tapi sifatnya membantu, saya enggan menerima bayaran. Kini dia mengajar Bahasa Indonesia dan ekstrakulikuler pertanian di SMP Ledokombo, kecamatan dia tinggal. Orangtua ingin saya menjadi guru. Bapak saya hanya pesuruh sekolah. Hendro berulangkali membenarkan bila pekerjaannya adalah petani, Selingannya guru. Asli petani, tapi bekerja sambilan sebagai guru. Begitu mendapatkan gelar sarjana pendidikan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan di Universitas Muhammadiyah Jember, dia memutuskan kembali ke desa. Tak ada niatan untuk menetap di kota. Dia mengaku, enggan bekerja ikut orang, tak ingin diperintah. Begitu kembali ke desa, hampir tak ada yang diliriknya untuk mendapatkan penghasilan kecuali bertani. Semasa menjadi mahasiswa, dia sering mendapatkan uang dari membantu dosen. Dia juga mendapatkan beasiswa dari Yayasan Supersemar, satu yayasan pendidikan yang didirikan Soeharto pada 1974. Dari sana, 3. PINDAI.ORG Mengejar Kere Minggat / 6 April 2015 H a l a m a n 3 | 14 rupiah demi rupiah berhasil disisihkan. Begitu kembali ke desa, tabungannya dipakai untuk menyewa sebidang tanah seluas 1.500 m. Dan di lahan itu dia mulai bertani. Tanaman pertamanya ialah tembakau. Dia mengenang masa-masa awal menjadi petani. Mulanya dia mengira, dengan memberikan pupuk sebanyak-banyaknya, membuat tanaman makin subur. Dugaannya keliru. Tanaman tembakau justru layu, lantas mati. Dia menceritakan ini kepada tetangga serta orangtua, dan disambut dengan tawa. Tetapi tekadnya sudah bulat. Kegagalan panen pertama justru bikin dia terpacu belajar. Dia menggali ilmu pertanian dari orangtua serta para tetangga. Setiap ada penyuluhan, dia berusaha ikut. Dia mendaftar pula jadi anggota setiap organisasi petani. Dengan begitu dia terus bersinggungan dalam dunia pertanian, dan secara alamiah, dia lebih banyak belajar. Hingga sekarang menanam tembakau tak bisa ditinggalkannya. Setiap tahun dia menyempatkan untuk menanam tembakau. Terlebih di desanya, petani yang tak menanam tembakau tidak dianggap sebagai laki- laki. Karena anggapan ini, seseorang yang tak memiliki modal untuk tanam tembakau, berusaha keras mencari modal walau harus berutang. Kalau kebiasannya sudah tanam tembakau, enggak tanam, enggak bisa, katanya. Terlebih, ada alasan sosial yang membuat petani tembakau seperti dirinya tak bisa melewatkan begitu saja musim tanam tembakau. Dari sejumlah komoditas di pasaran, hanya komoditas tembakau yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jika tak menanam tembakau, dia jadi memikirkan para tetangga yang ikut bekerja dengannya saban tahun. Engkok tanem mbako, alako! katanya dalam Bahasa Madura. Artinya, saya menanam tembakau, ayo kerja! Pemberitahuan itu dikabarkan kepada para tetangga agar mereka datang ke ladang tembakau. Dari masa awal tanam, tembakau telah melibatkan banyak orang. Dan proses itu terus berlangsung sampai empat bulan. Baik laki-laki maupun perempuan terlibat. Proses menyiangi rumput satu hektar lahan membutuhkan 30 tenaga kerja. Dan proses memupuk, saya membutuhkan tenaga kerja perempuan. Belum lagi mencari ulat daun. Begitu memasuki tahap akhir, prosentase tenaga kerja laki-laki dan perempuan seimbang. Lelaki dan perempuan bekerja semua, cerita Hendro. Ketika panen berlangsung, para lelaki bekerja memetik daun dari pagi sampai sore. Adapun para perempuan bertugas melaksanakan proses jemur, meletakkan daun tembakau di bawah terik matahari sejak pagi dan menyimpan di gudang ketika sore menjelang. Di sela waktu itu dilakukan proses memilah daun tembakau berdasarkan kualitas. Pekerjaan ini dilakukan hingga malam hari supaya daun tembakau yang dipanen tidak menumpuk secara bertahap. 4. PINDAI.ORG Mengejar Kere Minggat / 6 April 2015 H a l a m a n 4 | 14 Proses kerjanya panjang, membutuhkan tenaga kerja lumayan banyak. Setiap minggunya, ketika berlangsung panen seperti sekarang, saya menyiapkan setidaknya Rp 4 juta untuk membayar pekerja. Pada masa seperti itu suasana hati Hendro gundah kalau belum menengok tanaman tembakaunya. Selalu ada keinginan untuk datang ke kebun setiap pagi dan malam. Dia senang bila tanamannya tumbuh dengan subur, bebas hama atau penyakit tanaman lain. Banyak hikmahnya bekerja di dunia pertanian. Kata kuncinya: tekun. Kedua, selalu ada komoditas yang bisa dipanen, ujarnya. SARIDIN menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah pohon mangga di halaman Pabrik Rokok Sukun, Kudus, pada akhir 2012. Dia duduk-duduk sambil mengisap kretek. Terkadang bila badannya terasa pegal, dia akan membersihkan halaman. Ada pekerja pabrik yang melihatnya dan memberikan sebungkus kretek tapi ditolaknya. Pekerja lain mengingatkan agar tak usah di sana. Saridin bilang, dia sedang berjaga. Dia akhirnya ditanya meminta kompensasi berapa atas kerjanya berjaga dan membersihkan halaman pabrik. Saridin bingung dengan kosakata kompensasi dan bertanya, apa itu artinya? Setelah tahu, dia menolak. Kulo iki ora dikenken wis jaga. Sampean iki dulur kula. Sampean ora gelem diakoni dulur ya rapapa. Dulur Islam ya iya.. Dulur Bangsa Indonesia ya iya. Yen soal kebersihan kui sebagian dari iman. Maksudnya, dia tak mengharapkan apapun dari apa yang dia lakukan; dia sudah berjaga tanpa perlu diminta. Barangkali kesal dengan ulahnya, Saridin diminta datang ke kantor saat akhir bulan. Kepadanya diberi amplop, yang tanpa dibukanya dia masukkan ke dalam saku. Dia diminta untuk berjaga, dengan waktu jaga terserah kepadanya. Dia juga bertugas membersihkan halaman pabrik. Sampai yang punya Pabrik Rokok Sukun ingin bertemu dan mengajak mengobrol. Ketika berada di luar negeri, dia sering menghubungi untuk didoakan, katanya, Tidak usah diminta, sudah saya doakam. Wal muslimin wal muslimat, dan seterusnya... Iku ngelu-ngelune, aku metu edan, kisah Saridin tentang usaha pabrik rokoknya bangkrut lantaran tak sanggup mengikuti peraturan yang berlaku. Rumah Saridin bersisian dengan lokasi Pabrik Rokok Sukun. Ada foto dia berjenggot panjang tergantung di dinding. Di sampingnya ada tongkat menyerupai ular. Tak ada kursi di ruang tamu. Hanya karpet merah. 5. PINDAI.ORG Mengejar Kere Minggat / 6 April 2015 H a l a m a n 5 | 14 Dulu di rumah ini jadi tempat produksi kretek dengan merek Jabal Rum dan Joyo Mulyo yang dikelolanya. Dia mulai menjalankan usaha pabrik rokok sejak 2003, mengikuti apa yang telah menjadi kebiasaan di kampungnya. Terlebih sejak kecil dia telah terbiasa memperhatikan kakeknya membungkus rajangan tembakau dengan daun jagung, kemudian mengedarkan dari desa satu ke desa lainnya. Di kota ini, Kudus, kretek kali pertama diciptakan antara 1870-1880. Seorang bernama Haji Djamhari, untuk menyembuhkan sesak napas, mencoba mengusap dadanya dengan minyak cengkeh. Dia merasakan ada khasiat, lalu dia coba mengiris daun cengkeh jadi rajangan kecil-kecil dan membubuhkan pada lintingan tembakau. Ternyata makin meringankan sakit yang dideritanya, hingga kemudian sembuh. Sebutan kretek mengacu pada bunyi lintingan tembakau dan cengkeh saat dibakar. Beberapa orang yang mengetahui kisah ini mulai memproduksi apa yang dilakukan Haji Djamhari. Praktiknya masih rumahan dan, pada masa dulu, kretek dijual di toko obat, atau zaman sekarang mengenalnya apotek, sebagai pereda bengek. Pada tahun-tahun Saridin mendirikan pabrik rokok, belum ada peraturan ketat. Pembuatan kretek bisa dilakukan di rumah, meski menempati bangunan seluas 60 m. Ada duabelas orang yang bekerja di pabrik. Empat bertugas menggiling tembakau, empat orang merapikan kedua ujung batang kretek (batil), dan empat orang lagi mencampur tembakau dan mencontong. Saridin bercerita, dia mendapatkan produk kretek yang cacat dari produksi pabrikan, lalu diambil tembakau dan cengkehnya; diracik kembali. Tak ada masalah, setiap jenis rokok akan laku apapun mereknya, katanya. Setiap harinya, usaha yang dijalankan Saridin memproduksi 4 bal kretek, atau 9.600 batang. Dia tak berani memproduksi lebih dari empat bal dalam sehari. Alasanya, jika lebih dari itu, produk kreteknya dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Tiada kendala berat baginya menjalankan usaha. Pita cukai mudah didapatkan. Satu-satunya persoalan ialah pemasaran karena harus bersaing dengan perusahaan besar. Tetapi pabrik rumahan punya kebiasaan bahu- membahu. Setiap berjalan memasarkan kretek, Saridin juga membawa kretek yang diproduksi perusahaan rumahan lain. Begitu pula sebaliknya. Tapi arah angin berubah. Rokok diklaim sebagai sumber panyakit. Pelbagai penyakit, dari jantung, paru- paru, kanker, impotensi, dan ganguan janin, dianggap bersumber dari rokok. Pe