Membangun independensi dan profesionalitas wartawan melalui kajian holistik peran serta pemerintah

Click here to load reader

Embed Size (px)

description

Sebuah tulisan, refleksi atas gambaran peran-media wartawan saat ini

Transcript of Membangun independensi dan profesionalitas wartawan melalui kajian holistik peran serta pemerintah

  • 1. 1Membangun Independensi dan Profesionalitas Wartawanmelalui Kajian Holistik Peran serta PemerintahKarta tulis ini disusun guna memberikan wacana baruMengenai Independensi dan Profesionalitas Wartawan di IndonesiaDisusun oleh :Winda Efanur Fajriyatus S10210002JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAMFAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASIUNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNANKALIJAGAYOGYAKARTA2013

2. 2BAB IPENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahMembincang tentang media dan pers memang tidak ada habisnya.Selalu patriotisme Mei 1998 menjadi tonggak sejarah yang takterlupakan. Bukan hanya sekadar melahirkan pers baru tetapi juga negaraIndonesia baru (Reformasi). Hal itu tidak terlalu berlebihan mengingaturgenitas aspirasi rakyat terakumulasi dan termanifestasikan dalamkeperkasaan pilar demokrasi ke empat ini.Euforia kebebasan pers dari kerangkeng Orde Baru membuat persdikatakan liar dalam pemberitaannya. Layaknya seorang bayi yang barulahir- pribadi pers kita masih belajar berproses untuk berjalan. Isu-isuindependensi, kode etik jurnalistik dan sekat-sekat ranjau kapital-politikmenjadi nutrisi utama bagi si bayi (baca : pers) ini. Kajian pers selama inijuga melulu membahas soal pribadi pers. Pers dijadikan objek percobaanmencari-cari baju yang cocok untuk iklim tropis demokrasi Indonesia.Sehingga maraknya kasus-kasus seputar pers, sudah menjadi hal yanglumrah terjadi. Tak jarang dari kelumrahan ini mengekor ke persoalanyang lebih besar. Tataran massif itu secara langsung memang menyerangpada unit terkecil dari pers, wartawan. Di mana pers adalah universitasbesar dengan wartawan sebagai mahasiswanya. Pihak yang menjadi teamdari operasional pers ini yang sebenarnya melukis wajah pers kita. 3. 3Wartawan ibarat sopir angkot, kebebasan pers adalah jalan raya dan kodeetik jurnalistik adalah sabuk pengaman yang wajib dipakai untukkeselamatan wartawan. 1Wartawan sering disudutkan dengan istilah amplop dan bodrex.Tema-tema independensi dan profesionalitas seorang wartawan terhimpittangan-tangan kapital dan politik. Citra wartawan yang beredar kinisemakin minus hingga mengekalkan stigma negatif kepada insan media ini.Adanya legitimasi kode etik jurnalistik dan undang-undang no. 40/ 1999tentang pers sedikitnya menjadi landasan dan pedoman kemana arahwartawan melangkah. Namun saat di lapangan ulah usil wartawan jugakerap terjadi. Rendahnya pengamalan ke dua kitab suci ini cukup mem-blur-kan realisasi visi dan misi pers.Berangkat dari uraian di atas penulis tertarik membahasindependensi dan profesionalitas wartawan. Pasalnya citra baik atau punburuk pers Indonesia dipegang oleh para stakeholder ini. Kesanggupanwartawan mengemban amanahnya akan membawa Indonesia ke ruangdemokrasi yang utuh dan bermartabat.A. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskanmasalah, Bagaimana membangun independensi dan profesionalitasseorang wartawan ?B. Tujuan Penelitian1 1 Masduki, Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik, ( Yogyakarta : UII Press, 2003 ),hlm. vi. 4. 4Berdasarkan rumusan masalah di atas tujuan penelitian yanghendak dicapai yaitu mengetahui cara independensi dan profesionalitasseorang wartawan.C. Manfaat Penelitian1. Manfaat Teoritisa. Menambah literatur kualitatif mengenai wacana dunia perspada umumnya2. Manfaat Praktisa. Penelitian ini berguna untuk bahan rujukan penelitianselanjutnya terkait wacana wartawan dan pers padaumumnyab. Menambah wawasan baru terkait independensi seorangwartawanD. Kerangka Teoritik1. Memahami Isi MediaDalam pemahaman sempit media diartikan sebagai saranamenyalurkan dan menumpahkan berita dan informasi. Di sisi lain,dalam pemahaman yang lebih jauh. Produksi media diartikan sebagaisebuah proses panjang yang melibatkan konstruksi realitas yangdipadukan dengan ideologi dan kepentingan tertentu hinggamenghasilkan produk berupa berita. Untuk penjabaran yang lebihmendalam, ada tiga pendekatan studi media, yaitu :a. Pendekatan Politik-Ekonomi 5. 5Menegaskan bahwa isi media lebih ditentukan olehkekuatan-kekuatan ekonomi dan pollitik. Aktor yang muncul danberperan yang aktif di sini adalah pemilik media, modal, danpendapatan media. Ditangan ketiga aktor tersebut berita di seleksi,mana berita yang layak dan tidak layak dimuat. Dalam pendekatanini berita diposisikan integral dengan relasi ekonomi dalam strukturproduksi. Pola dan jenis pemberitaan ditentukan oleh kekuatan-kekuatanekonomi. 2b. Pendekatan OrganisasiPengelola media sebagai pihak yang aktif dalam proses danpembentukan berita. Berita dilhat sebagai proses dari ruang redaksi.praktik kerja, profesionalisme dan tata aturan dalam ruangorganisasi adalah unsur-unsur yang dinamik yang mempengaruhipemberitaan. Proses produksi berita adalah mekanisme keredaksianyang bersifat internal. Media dianggap otonom dalam menentukantidak atau bolehnya yang diberitakan. 3 Nilai berita tidak sematadipandang dari sisi ekonomi atau pun politik tetapi lebih padabobot berita itu sendiri.Sekilas pendekatan organisasi menitikberatkan pada kinerjainternal di mana nilai profesionalisme sangat dijunjung tinggi dan2 Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, (Yogyakarta: LKIS, 2001), hlm.2-5.3 Ibid,. hlm.3. 6. 6rapat di meja redaksi adalah eksekusi mutlak berita yang layak ataupun tidak layak cetak.c. Pendekatan KulturalisPendekatan ini merupakan gabungan dai kedua pendekatantersebut. Proses produksi dilihat sebagai proses yang rumit yangmelibatkan faktor internal dan eksternal media. Kerumitan inisangat kentara saat perdebatan di meja redaksi. Media padadasarnya memang mempunyai mekanisme untuk menentukan poladan aturan organisasi. Tetapi pola organisasi media tersebut tidakbisa luput dari kekuatan eksternal (ekonomi-politik) yangmelingkupinya.4Kembali pada perbincangan pendekatan kulturalis, pengaruhpihak ekstenal media mempunyai posisi yang berbeda dibandingkandengan pendekatan ekonomi-politik. Dalam pendekatan ekonomipolitik. Pengaruh eksternal itu digambarkan bersifat langsung dankoersif. Misal pengaruh pengiklan, kekuatan modal, atau partai politiksangat bisa mempengaruhi isi media berupa pola penulisan dankonteks berita yang dituliskan. 5Dalam pendekatan kulturalis, intervensi kekuatan ekonomipolitik dalam suatu pemberitaan tidak bersifat langsung. Misal sebuahkasus, seorang wartawan merasa beritanya berimbang dan objektif4 Ibid,. hlm. 4.5 Ibid,. hal. 5. 7. 7padahal sebenarnya berita itu telah menguntungkan pihak ekonomitertentu. Contoh aplikatifnya pemberitaan mengenai antara petani,pemilik kebun dan pemerintah. Pemilihan narasumber wartawanpemilik kebun dan pemerintah serta meminggirkan porsi petani, tanpasadar telah menguntungkan pihak kapital politik (pemilik kebun danpemerintah).6Gambaran pendekatan kulturalis bisa dilihat pada pers paskaorde baru. Sebagai katalisator gonjang-ganjingnya situasi negara akibatreyotnya pilar perekonomian negara. Hingga berujung padapembebasan Mei 1998.Persoalannya kemudian apakah pada perkembanganselanjutnya pers dapat mempraktikan ide-ide profesionlaisme dan etikajurnalistik yang ideal ? Pers telah masuk dalam industri kapiltalismeglobal, dan ada batasan-batasan struktural yang membuat tidak semuanilai-nilai ideal pers dapat diwujudkan.7 Bersandingnya pers denganpihak eksternal tidak diharamkan, bagaimana pun juga kekuatan modalatau politik secara langsung memang turut berperan dalam kehidupanpers. Tantangan ke depan bukan memisahkan antara idealitas persdengan kekuatan eksternal tersebut melainkan mengawinkannya.Pasalnya guna mewujudkan iklim demokrasi yang utuh semua elemen6 Ibid,. hal. 5.7 Ibid,. hlm. 5. 8. 8kebangsaan saling menguatkan baik kekuatan eksternal maupun perssecara internalnya.2. Urgensi Kode Etik JurnalistikSemua profesi memiliki aturan main yang disebut kode etikprofesi begitu juga dengan wartawan. Dalam kiprahnya di lapanganterikat dengan kode etik profesinya. Ada beberapa organisasiwartawan : Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi JurnalisIndependen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi (IJT), dan lain-lain. Merekamasing-masing memiliki kaidah aturan sendiri-sendiri. Namun DewanPers bersama dengan 29 organisasi wartawan telah menyepakati KodeEtik Jurnalistik Indonesia pada tahun 1999 yang memuat 11 pasal dandirevisi pada ahun 2006. 8Selain peraturan dasar di atas, secara universal Lembaga PersIndonesia menerapkan kaidah kejurnalistikan 9 yang berlaku kepadapara wartawan, yakni :a. Standar / konvensi jurnalistik yang sifatnya universal.Berupa materi dasar di mana setiap wartawan harusmemahami dan menerapakan standar kewartawanan dankonvensi jurnalistik yang telah disepakati.b. Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Yang dijadikan rujukan insanpers adalah yang disusun oleh dewan Pers tahun 2006 .8 Sirikat Syah, Rambu-Rambu Jurnalistik dari Undang-Undang Hingga Hati Nurani,( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 1.9 Ibid,. hlm. 2. 9. 9c. Undang-Undang Pers No 40/ 1999d. Undang-Undang Penyiaran No 32/ 2002 dan PedomanPerilaku Penyiaran dan Program Standar Siaran (P3-SPS).e. Delik Pers dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana(KUHP), UU Informasi dan Transaksi (ITE), dan aturanhukum lainnya.f. Norma masyarakat dan hati nurani. Berupa rambu-rambutidak tertulis, yang mana harus melekat dalam diriwartawan.Masyarakat profesional jurnalis meyakini bahwa tujuanjurnalisme adalah untuk menyajikan kebenaran. 10Sehingga cuplikanprinsip etis di atas harus diamalkan sebagaimana mestinya. Selebihnya,etika bagi pengelola pers merupakan rumusan perspektif moral yangdiacu dalam setiap mengambil keputusan peliputan dan pemuatansuatu fakta menjadi berita. 11 Etika memiliki dua wilayah, subtantif danoperasional. Subtantif adalah wilayah moral yang dianut wartawansecara personal misalnya prioritas atas kasus publik ketimbang privat.Sedangkan etika operasional lebih memuat panduan etis dan teknisseputar balance narasumber, akurasi, dan menolak sogokan. 1210 Masduki, Kebebasan pers dan Kode Etik Jurnalistik, (Yogyakarta : UII Pers, 2003),hlm. 48.11 Ibid,. hlm. 48.12 Ibid,. hlm. 48. 10. 10Maka penjabaran dari kedua aspek etika tersebut, urgensi kodeetik jurnalistik yang universal 13 bisa dirumuskan sebagai berikut : Ia akan membawa manfaaat yang obyektif pada masing-masingorang dan masyarakat pada waktu yang lama. Memiliki validitas moral yang terhimpun dalam pertanyaan apakahbaik kalau semua orang melakukan hal itu ? Setiap nilai universal menuntut kesadaran diri, apa yang dianggapbetul akan selalu sesuai dengan perasaan dan penalaran individu. Nilai universal akan melahirkan kebudayaan dan tindakankepahlawanan yang dihargai.Benang merahnya, pengakuan atas nilai-nilai universal adalahinti ajaran kode etik jurnalistik.E. Metode Penelitian1. Pendekatan PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metodologikualitatif. Berperan sebagai prosedur penelitian yang mengahasilkandata-data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orangdan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini mengarah padalatar dan individu tersebut seacara holistik (Bogdan dan Taylor, 1975 :5).2. Jenis Penelitian13 Ibid,. hlm. 50. 11. 11Penelitian ini bersifat deskriptif. Suatu penelitian yang bertujuanuntuk menampilkan gambaran situasi, setting sosial dan hubungan.Penelitian ini memusatkan pada bagaimana dan siapa (Wimmer danDominick, 1991:140) dengan demikian peneliti tidak akan memandangmemang sesuatu itu memang demikian adanya.143. Unit Observasi dan Unit AnalisisUnit observasi penelitian ini adalah nilai independensi danprofesionalitas wartawan. Sementara unit analisis penelitian ini adalahlingkup nilai independensi dan profesionalitas wartawan dalamperannya membangun demokrasi yang bermartabat.3. Jenis Sumber DataMenurut Lofland dan Lofland (1984: 47) sumber data utamadalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnyaadalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.15Berdasarkan pemahaman Lofland data yang diambil seputarwacana tentang independensi dan profesionalitas wartawan sertasumber artikel, dokumentasi terkait kajian yang dibahas.4. Teknik Pengumpulan DataSesuai dengan jenis penelitian kualitatif dan sumber data yangdigunakan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan dalampenelitian ini adalah studi kepustakaan. Studi dengan menggali14 Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2012), hlm. 615Ibid,. hlm. 157. 12. 12informasi dari berbagai literatur, bacaan, artikel, dan sumber lain yangrelevan terkait permasalahan yang dibahas.F. Metode Analisis DataMenurut Bogdan, analisis data adalah proses mencari dan menyusunsecara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatanlapangan dan bahan-bahan lain sehingga mudah dipahaami oleh oranglain.16Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pencarian data berdasarkananalisis studi pustaka. Meliputi proses resume materi, mengkomparasikanwacana-wacana, menganalisisnya dengan teori-teori yang ada lalumenyimpulkan hasil analisis.16 Prof.Dr.Sugiyono, Metode Penelitan Kuantitatatif dan Kualitatif dan R &D, (Bandung:Alfabeta, 2008), hlm. 244. 13. 13BAB IIPEMBAHASANA. Membangun Konsep Baru MediaStudi tentang media merupakan persoalan yang rumit dan komplek.Media selalu menjadi pergulatan wacana yang menyangkut sisi kehidupanvital manusia, ekonomi, politik, bahkan bagian ideologi tersempit darimasyarakat. Memahami keadaan tersebut perlu adanya pandangan yangsecara menyeluruh menampung kajian media ini, jangan hanyamemusatkan kajian pada efek dan rapuhnya independensi wartawansebagaimana yang sering terjadi di masyarakat. Setidaknya ada tiga halyang perlu dipahami tentang studi media, yaitu :171. Menyadarkan bahwa kajian media harus menjadi kajianmasyarakat atau teori-teori media harus menjadi teori-teorimasyarakat.2. Kajian media tida hanya terkotak soal efek media. Yang lebihmendesak adalah kajian holistik yang mampu menawarkanrekomendasi kebijakan lebih menyeluruh, makro dan mampu pulamenyadarkan dan memberdayakan publik dalam persoalan seputaroperasi media di ranah publik. Kajian media perlu menggelutimengapa masalah simbolik media terasa tidak aman di kalanganpublik.17 Agus Sudibyo, Kebebasan Semu Penjajahan Baru di Jagat Media, (Jakarta : PT.Kompas Media Nusantara, 2009), hlm. xi. 14. 143. Kajian media tidak bisa terlepas dari masyarakat. Di mana mediabersikap respect terhadap perubahan sosial yang terjadi dimasyarakat. Peran media di sini lebih mengarah pada kekuatanmandiri dalam menjaga sikapnya ketika bersinggungan denganoperasi modal yang mana- bagian awal perubahan sosial terjadi.Melalui ulasan di atas, sedikitnya telah memberikan tawaran solusidalam menyelesaikan masalah terkait media. Pandangan holistik terhadapmedia akan mengarahkan kita pada dunia pers yang paripurna. Bahwamedia yang memuat pers di dalamnya bukan lah sepenggal tema yang bisadiselesaikan dengan satu penyelesaian yang bersifat temporal. Pemahamanyang utuh terhadap media, lebih mengarahkan kita pada titik penyelesaianyang lebih bermakna. Karena media bukan sebatas kontemplasi maknaberita dan kebebasannya.Lalu terkait dengan wartawan, meyakini adanya media adalah milikbagian dari masyarakat- sebuah fakta yang dituturkan tentu tidak denganmudah meremehkan perhatian masyarakat. Porsi keaktifan masyarakat-yangdinamis melanggengkan wacana bahwa pengaruh independensiwartawan dalam beritanya turut mempengaruhi struktur sosial yang telahdibangun sebelumnya. Sehingga wartawan dituntut menjunjungprofesionalismenya, berita yang dikonsumsi juga merupakan hakmasyarakat yang haus akan informasi. Lantas nilai berita yang bersifatpenting dan mendesak lebih berarti daripada sekedar cuplikan peristiwayang bombastis. 15. 15B. Profesioanalisme WartawanUntuk mengawali kajian ini, lebih dahulu kita memahami arti dariwartawan. Wartawan dipandang dalam dua sudut pandang. Pertama,definisi operasional. Menjelaskan bahwa wartawan adalah orang yangselalu berhubungan dengan warta/ berita. Dalam UU No 40 tahun 1999,wartawan diartikan orang yang secara teratur melaksanakan kegiatanjurnalistik (Subur, 2001). Kedua, definisi filosofis. Menurut Adinegorowartawan berperan sebagai juru berita, ahli berita. 18Memahami definisi di atas dalam diri wartawan bersifat aktifbahkan hiperaktif merespon terjadinya peristiwa penting. Partisipasinyapada suatu peristiwa membawa wartawan pada dua sikap yang berbeda,yakni wartawan bersikap meneruskan berita di mana dia berperanselayaknya sebuah cermin (netral) ; yang memantulkan fakta secara apaadanya. Dan di sisi lain wartawan juga bisa berperan sebagai wakil publik,pengkritik pemerintah, pendukung kebijakan dan penentang kebijakan.Dalam arah yang lebih jauh, ketika memasuki kerangka isi media.Wartawan akan menghadapi tipologi pendekatan isi media sebagaimanatelah dijelaskan di atas (kerangka teori). Suara hati nurani yangtermanifestasikan dalam bentuk independensi wartawan ini menjadilandasan hidup ideal. Dan kebebasan pers juga tidak diartikan sepihak dimana masyarakat bebas untuk memperoleh informasi serta18 Masduki, Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik, (Yogyakarta : UII Pers, 2003),hlm. 30. 16. 16mengungkapkan pendapatnya. 19 Inilah wujud yang sebenarnya, kebebasanpers merupakan sosok yang esensial dalam masyarakat demokratis.Untuk isu klasik seperti intervensi politik atau modal meruntuhkankemandirian (profesionalitas) wartawan jika kesadaran kebebasan pers inidisadari oleh awak media, pemerintah dan masyarakat. Ada tiga prasyaratyang melandasinya yakni :1. Hapusnya ketimpangan sosial dalam masyarakat berupa pemilikankekayaan2. Terbentuknya kesadaran tentang keutamaan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi3. Demokrasi membutuhkan sistem komunikasi politik yang efektif19 Ibid,. hlm. 9. 17. 17C. Kebebasan Pers Vs Intervensi Politik PemerintahSeorang wartawan yang tersentuh sistem politik ekonomi. Saatmerekam realitas akan membelitkan dirinya pada ikatan framing yangbertendensi tinggi. Tentu sistem penyeleksian alami bermotif personaltertentu turut mempengaruhi tangannya dalam menuliskan realitas.Akumulasi fakta merupakan bahan informasi yang (pasti) direkonstruksiagar tercipta makna berita tertentu sesuai penafsiran wartawan tersebut,yang mana hal itu merupakan wujud terkecil wartawan melayanikepentingan elite kekuatan eksternal.Tentu wartawan bukan pendongeng yang membariskan beritadengan romantisme istana negeri dongeng lalu menyempilkan ruas-ruaskesalahan raja (penguasa) pada bagian yang dianggap hilang. Lebih dariitu, wartawan yang menyandang insan pers adalah agen operasional utamapers- melalui profesionalitasnya sebuah fakta diteruskan bukan direkabahkan dibentuk.Hal itu merupakan contoh kecil, di mana menjadi sebuahkonsekuensi dari demokrasi keterwakilan yang harus kita terima. Adanyakebebasan pers harus berhimpitan dengan supremasi pemerintah. Tetapihal itu bukanlah hambatan pasalnya atas restu demokrasi lah pemerintahberperan dalam percaturan media dan pers. Walaupun disadari dalampemaknaan ruang publik pemerintah belum tentu mempresentasikanaspirasi publik tersebut. Persepsi pemerintah mengenai pers masihterdeterminasi phobia masa lalu (Orde Baru). 18. 18Kebebasan pers yang disandang oleh wartawan bukan semata labelkeblabasan ilegal yang biasa didengungkan oleh pihak subordinat politikmedia melainkan hak kodrati yang melekat kepada diri wartawan danpengelola media pada umumnya.Ancaman intervensi terbesar kebebasan pers di Indonesia berasaldari kekuatan elite politik di pemerintahan dan partai politik. Bila diantaranya merasa gerah terkait pemberitaannya di media. Hadiah kecilakan menyambangi wartawan yang berujung pada ancaman bahkanpenutupan media terkait. Bahkan disinyalir upaya pemerintah dalammenjinakan pers telah memasuki ranah sistemik pada tiga aspek : pertama,perundang-undangan yang dibuat elastik seperti UU No 40 tahun 1999dengan tanpa law enforcement yang memadai. Kedua, oknum wartawanmelalui berbagai fasilitas dan anggaran khusus periodik. Ketiga, elitepengelola media yang bersangkutan.20 Adanya pers adalah milik bersamabegitu pun, adminstrasi hukum (tat aturan ) yang ada harus diposisikanbalance anatara porsi pemerintah, pers, dan masyarakat. Tarik ulurkepentingan dalam penggodokan aturan harus berlandaskan kepentinganbersama.Nah, untuk konsep kebebasan pers Indonesia mengalur padademokrasi Pancasila. Yang mana hal itu disimilarkan oleh Dewan Pers diera orde Baru sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab.21 Dalam20 Ibid,. hlm. 21.21 Ibid,. hlm. 14. 19. 19arti yang luas istilah bertanggung jawab didasari pemikiran bahwakebebasan pers memegang tanggung jawab kepada masyarakat dalammenjalankan fungsinya. Penegasannya terletak pada tanggung jawabkepada publik-. Sebuah berita yang dikonstruk oleh wartawan harusdijiwai kesadaran dari amanahnya kepada publik ini. Sekalipun terjamahtangan politik, bukan menjadi ancaman melainkan tantangan sejauh manawartawan menjunjung independensinya ? 20. 20BAB IIIPENUTUPA. KesimpulanBerdasarkan pembahasan terdahulu dapat disimpulkan bahwaterkait independensi wartawan setidaknya memiliki tiga aspek yang perlumendapat perhatian. Pertama, media diapandang sebagai fakultaspemikiran yang besar di mana wartawan sebagai unit kecil dari media.Perlu pemahaman yang menyeluruh (holistik) dalam menangani masalahmedia. Peran media tidak terfokuskan pada wartawan (produsen berita)atau campur tangan pihak lain. Tetapi muara final, yakni masyarakatpubliklah yang dijadikan fokus utama. Memang sejatinya, target daripublikasi berita adalah konsumen/ masyarakat. Dari pandangan inilahnantinya tercipta kesadaran bersama bahwa media bukan lagi milik siapa,permainan siapa melainkan untuk siapa. Sehingga pola dan bentukpemberitaan adalah milik bersama, yanag mana kualitas dan bobot isiberita dapat diandalkan kebermanfaatannya.Kedua, pemaknaan dari profesioalitas wartawan adalah suatu sikapwartawan meneruskan berita di mana dia berperan selayaknya sebuahcermin (netral) ; yang memantulkan fakta secara apa adanya. Dan di sisilain wartawan juga bisa berperan sebagai wakil publik, pengkritikpemerintah, pendukung kebijakan dan penentang kebijakan. Kesadarankebebasan pers ini disadari oleh awak media, pemerintah dan masyarakat.yang mana hal itu bersandar pada tiga prasyarat : (1) Hapusnya 21. 21ketimpangan sosial dalam masyarakat berupa pemilikan kekayaan. (2)Terbentuknya kesadaran tentang keutamaan kepentingan bersama di ataskepentingan pribadi. (3) Demokrasi membutuhkan sistem komunikasipolitik yang efektif.Ketiga, bagi negara demokrasi peran pemerintah terhadapkeberlangsungan pers memang tidak bisa diabaikan. Mengingat, baik persdan pemerintah keduanya merupakan elemen kebangsaan yangmenguatakan satu sama lain. Adanya pers adalah milik bersama begitupun, adminstrasi hukum (tat aturan ) yang ada harus diposisikan balanceanatara porsi pemerintah, pers, dan masyarakat. Tarik ulur kepentingandalam penggodokan aturan harus berlandaskan kepentingan bersama.Pada persoalan kebebasan pers berpatokan pada alur-alurdemokrasi Pancasila. kebebasan pers memegang tanggung jawab kepadamasyarakat dalam menjalankan fungsinya. Penegasannya terletak padatanggung jawab kepada publik-. Sebuah berita yang dikonstruk olehwartawan harus dijiwai kesadaran dari amanahnya kepada publik ini. 22. 22DAFTAR PUSTAKAAgus Sudibyo, Kebebasan Semu Penjajahan Baru di Jagat Media, Jakarta :PT. Kompas Media Nusantara, 2009.Agus Sudibyo, Politik Media dan Pertarungan Wacana, Yogyakarta: LKIS,2001.Lexy J. Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. RemajaRosdakarya, 2012.Masduki, Kebebasan Pers dan Kode Etik Jurnalistik, Yogyakarta : UII Pers,2003.Prof.Dr.Sugiyono, Metode Penelitan Kuantitatatif dan Kualitatif dan R &D,Bandung: Alfabeta, 2008.Sirikat Syah, Rambu-Rambu Jurnalistik dari Undang-Undang Hingga HatiNurani, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011.