MEKANISME GEJALA

download MEKANISME GEJALA

of 22

  • date post

    06-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    61
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of MEKANISME GEJALA

MEKANISME GEJALA 1. Nyeri dada Aterosklerosis Ruptur plak Pembentukan thrombus Penyempitanpembuluhdarah Kurangnya suplai O2 Iskemik Apabilaterjadiaterosklerosispadapembuluhdarah,semakinbanyakakanmenyebabkan rupturpadaplakakibatnyaterbentuktrombus.Apabilatrombusiniberkumpulsemakinb anyak,makadapatmenyebabkanobstruksipadaarterikoroner.Apabilaterjadiobstruksi, makadarahkekurangansuplaioksigenyangakanmenyebabkaniskemik.Iskemikinilahy angakanmenimbulkanrasanyeripadadaerahdada.GangguanhemodinamikVasokonstr iksiPembentukantrombusPenyempitanpembuluhdarahKurangnyasuplaioksigenMek anismeanaerobPenumpukanasamlaktatMenekanreseptornyeriNyeridada Apabilaterjadigangguanhemodinamikpadajantung,akanmenimbulkanvasokonstriksi padapembuluhdarahyanglamakelamaanmenyebabkantrombus.Trombusyangterbent ukdanbertambahbesar,akanmenyebabkanobstruksipadaarterikoronersehinggadapat terjadipenyempitan.Akibatnya,suplaioksigenuntukjaringandanarterikoronerkhususn yaakanberkurang.Halinimengakibatkanmekanismeanaerobmeningkatsebagaimekan ismekompensasidaritubuh.Namun,akibatnyaakanterbentukasamlaktatyangsangatba nyaksehinggamenekanujungujungsarafataureseptornyeripadadaerahdadayangakanmenimbulkanresponnyeri 2. Batuk dengan dahak kuning kental 3. Mengi 4. Gelisah

Sitologi sputum: Pemeriksaan sitologi ditujukan untuk mengidentifikasi adanya keganasan (karsinoma) pada paru-paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel. Sitologi sputum Sitologi sputum adalah prosedur yang paling tidak invasive untuk mendapatkan diagnosis pasien dengan kecurigaan kanker paru. Keakuratan diagnosis tergantung pada ketelitian sampling penelitian (paling tidak 3 spesimen) dan teknik yang tepat. Sayangnya masih banyak institusi yang tidak mempunyai program yang standard untuk

proses sitologi sputum, sehingga kesensitivannya lebih rendah daripada pemeriksaan lainnya. Sputum sitologi terutama berguna pada kanker paru yang terletak di sentral (missal SCLC atau karsinoma sel skuamous) dan pada penderita dengan keluhan hemoptisis. Pengambilan sampel sputum merupakan langkah pertama pada pasien dengan lesi sentral dengan atau tanpa bukti radiografik atau kecurigaan metastase, dimana prosedur invasif seperti bronkoskopi atau TTNA mempunyai resiko yang tinggi. (diagnosis of lung cancer in primary care2004) Petty TL. The early identification of lung carcinoma by sputum cytology. Cancer 2000; 89 (11 Suppl):24612564. 81 Murray KL, Duvall E, Salter DM, Monaghan H. Efficacy and pattern of use of sputum cytology as a diagnostic test. Cytopathology 2002; 13: 350354. KAPAN DILAKUKAN PEMERIKSAAN ANALISIS GAS DARAH DAN SPIROMETRI Spirometri adalah pemeriksaan fungsi paru yang berguna untuk membedakan antara penyakit paru restriktif dan untuk menentukan tingkat (ringan, sedang, atau berat), dari kelainan paru obstruktif atau restriktif. Klasifikasi gangguan asam basa primer dan terkompensasi: 1. Normal bila tekanan CO2 40 mmHg dan pH 7,4. Jumlah CO2 yang diproduksi dapat dikeluarkan melalui ventilasi. 2. Alkalosis respiratorik. Bila tekanan CO2 kurang dari 30 mmHg dan perubahan pH, seluruhnya tergantung pada penurunan tekanan CO2 di mana mekanisme kompensasi ginjal belum terlibat, dan perubahan ventilasi baru terjadi. Bikarbonat dan base excess dalam batas normal karena ginjal belum cukup waktu untuk melakukan kompensasi. Kesakitan dan kelelahan merupakan penyebab terbanyak terjadinya alkalosis respiratorik pada anak sakit kritis. 3. Asidosis respiratorik. Peningkatan tekanan CO2 lebih dari normal akibat hipoventilasi dan dikatakan akut bila peninggian tekanan CO2 disertai penurunan pH. Misalnya, pada intoksikasi obat, blokade neuromuskuler, atau gangguan SSP. Dikatakan kronis bila ventilasi yang tidak adekuat disertai dengan nilai pH dalam batas normal, seperti pada bronkopulmonari displasia, penyakit neuromuskuler, dan gangguan elektrolit berat.

4. Asidosis metabolik yang tak terkompensasi. Tekanan CO2 dalam batas normal dan pH di bawah 7,30. Merupakan keadaan kritis yang memerlukan intervensi dengan perbaikan ventilasi dan koreksi dengan bikarbonat. 5. Asidosis metabolik terkompensasi. Tekanan CO2 < 30 mmHg dan pH 7,30--7,40. Asidosis metabolik telah terkompensasi dengan perbaikan ventilasi. 6. Alkalosis metabolik tak terkompensasi. Sistem ventilasi gagal melakukan kompensasi terhadap alkalosis metabolik ditandai dengan tekanan CO2 dalam batas normal dan pH lebih dari 7,50 misalnya pasien stenosis pilorik dengan muntah lama. 7. Alkalosis metabolik terkompensasi sebagian. Ventilasi yang tidak adekuat serta pH lebih dari 7,50. 8. Hipoksemia yang tidak terkoreksi. Tekanan oksigen kurang dari 60 mmHg walau telah diberikan oksigen yang adekuat 9. Hipoksemia terkoreksi. Pemberian O2 dapat mengoreksi hipoksemia yang ada sehingga normal. 10. Hipoksemia dengan koreksi berlebihan. Jika pemberian oksigen dapat meningkatkan tekanan oksigen melebihi normal. Keadaan ini berbahaya pada bayi karena dapat menimbulkan retinopati of prematurity, peningkatan aliran darah paru, atau keracunan oksigen. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemeriksaan yang lain seperti konsumsi dan distribusi oksigen. Analisa Gas Darah 2.1 Pengertian Analisa gas darah adalah salah satu tindakan pemeriksaan laboratorium yang ditujukan ketika dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keseimbangan asam basa pasien (Wilson, 1999). Hal ini berhubungan untuk mengetahui keseimbangan asam basa tubuh yang dikontrol melalui tiga mekanisme, yaitu system buffer, sistem respiratori, dan sistem renal (Wilson, 1999). Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan ASTRUP,yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.

2.2 Manfaat Pemeriksaan Analisa Gas Darah

Analisa gas darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basanya. Manfaat dari pemeriksaan analisa gas darah tersebut bergantung pada kemampuan dokter untuk menginterpretasi hasilnya secara tepat. Pemahaman yang mendalam tentang fisiologi asam basa memiliki peran yang sama pentingnya dengan pemahaman terhadap fisiologi jantung dan paru pada pasien-pasien kritis. Telah banyak perkembangan dalam pemahaman fisiologi asam basa, baik dalam suatu larutan maupun dalam tubuh manusia. Pendekatan tradisional dalam menganalisa kelainan asam basa adalah dengan menitik beratkan pada rasio antara bikarbonat dan karbondioksida, namun cara tersebut memiliki beberapa kelemahan. Saat ini terdapat pendekatan yang sudah lebih diterima yaitu dengan pendekatan Stewart, dimana pH dapat dipengaruhi secara independent oleh tiga faktor, yaitu strong ion difference (SID), tekanan parsial CO2, dan total konsentrasi asam lemah yang terkandung dalam plasma. Kelainan asam basa merupakan kejadian yang sering terjadi pada pasien-pasien kritis. Namun, pendekatan dengan metode sederhana tidak dapat memberikan gambaran mengenai prognosis pasien. Pendekatan dengan metode Stewart dapat menganalisa lebih tepat dibandingkan dengan metode sederhana untuk membantu dokter dalam menyimpulkan outcome pasien. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi oksigenasi sel atau jaringan adalah jumlah oksigen yang terkandung dalam darah. Tekanan gas darah tersebut dapat diukur dengan menganalisa darah arteri secara langsung atau melalui pulse oksimetri dengan melihat saturasi hemoglobin. Analisa gas darah (AGD) telah banyak digunakan untuk mengukur pH, PaO2, dan PCO2. Akan tetapi, makna dari hasil pengukuran tersebut tergantung pada kemampuan dokter untuk menginterpretasikannya. AGD biasanya diambil dari arteri radialis, meskipun dapat juga dari arteri lainnya seperti arteri femoralis. Pengambilan darah arteri dapat berakibat spasme, kloting intralumen, perdarahan, dan hematoma yang pada akhirnya akan menimbulkan obstruksi arteri bagian distal. Hal ini tidak terjadi jika arteri yang ditusuk memiliki kolateral yang cukup. Arteri radialis lebih dipilih karena memiliki cukup kolateral untuk menghindari terjadinya obstruksi dibandingkan dengan arteri brakhialis atau femoralis. Selain itu, letak arteri radialis lebih superfisial, mudah diraba dan difiksasi. Darah arteri diambil sebanyak 3 ml pada spuit yang sebelumnya telah diberikan heparin 0,2 ml. Sampel darah yang telah diambil harus terbebas dari gelembung udara dan dianalisa secepatnya. Hal ini disebabkan komponen seluler pada sampel masih aktif bermetabolisme, sehingga akan mempengaruhi tekanan gas.

2.5

Interpretasi Pemeriksaan Analisa Gas Darah

Sampel darah yang akan dianalisis dengan menggunakan tes ini merupakan darah arteri yang biasa digunakan yaitu arteri radialis karena mudah terambil. Tes PO2 Rentang Normal Dewasa 80-100 mmHg

Interpretasi Meningkat: menandakan pemberian O2 yang berlebihan Menurun: mengindikasikan penyakit CAL, bronkhtis kronis, Ca. bronkus dan paru-paru, cystic fibrosis, RDS, anemia, atelektasis, atau penyebab lain yang mengakibatkan hipoksia Meningkat: mengindikasikan kemungkinan CAL, pneumonia, efek anestesi, dan penggunaan opioid (asidosis respiratori) Menurun: mengindikasikan hiperventilasi / alkalosis respiratori Meningkat: menandakan alkalosis metabolisme atau respiratori Menurun: menandakan asidosis metabolisme atau respiratori Meningkat: mengindikasikan kemungkinan asidosis respiratori sebagai

PCO2

35-45 mmHg

Ph

7,35-7,45

HCO3-

21-28 mEq/L

SaO2

95-100%

kompensasi awal dari alkalosis metabolisme Menurun: mengindikasikan kemungkinan alkalosis respiratori sebagai kompensasi awal dari asidosis metabolisme Menurun: mengindikasikan kerusakan kemampuan hemoglobin untuk mengantarkan O2 ke jaringan

2.6

Peran Perawat dalam Pemeriksaan Analisa Gas Darah