Media massa dan feminisme (tugas matakuliah prinsop dasar komunikasi dan manajemen)

download

of 15

Embed Size (px)

description

media massa dan feminisme sebagai tugas dari Profesor Deddy Mulyana pada mata kuliah Prinsip dasar dan manajemen Komunikasi

transcript

  • 1. Media Massa Dan Feminisme Oleh: Rina Aprina

2. Latar Belakang Feminisme berasal dari bahasa Latin, femina atau perempuan. Istilah ini mulai digunakan pada tahun 1890-an, Feminisme adalah sebuah pemikiran yang diserukan untuk menyuarakan persamaan hak dan kedudukan antara pria dan wanita dalam aspek kehidupan. Gerakan feminisme ini didorong karena kaum perempuan sebagai kelompok minoritas bahkan menerima perlakuan yang lebih tidak menyenangkan lagi karena mereka dianggap sebagai makhluk golongan kedua setelah lelaki. Feminisme berkembang menjadi beberapa bagian seperti feminisme liberal, feminisme radikal, feminisme anarkis, feminisme sosialis, feminisme postkolonial, feminisme postmodern, feminisme sosialis. 3. Beberapa tahun terakhir ini muncul fenomena maraknya tayangan isu-isu perempuan oleh media massa, baik surat kabar, majalah, televisi maupun film. Melalui media film kita juga pernah menyaksikan nilai-nilai feminisme dalam filmMulan. Di media internet fenomena tersebut lebih terlihat lagi dengan hadirnya situs-situs organisasi perempuan dengan wacana- wacana kritis yang dibangun oleh para aktivisnya. Media Massa bisa diibaratkan sebagai pedang bermata dua yang dapat membangun opini yang positif namun bisa juga membangun opini yang negatif terhadap sesuatu masalah, ide, atau seseorang. Pada makalah ini penulis ingin mengetahui bagaimana hubungan media massa dengan feminisme. 4. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, maka pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah 1. Bagaimana sejarah feminisme? 2. Bagaimana peran media massa terhadap feminisme? 5. Manfaat Pembahasan tentang media massa dan feminisme dalam makalah ini berguna untuk memberikan pengetahuan kepada kita semua tentang posisi atau derajat perempuan di mata media dan mengajak kaum perempuan untuk lebih mencintai dan menghargai diri agar dapat melepaskan diri dari stereotype bahwa perempuan hanyalah makhluk lemah yang tidak bisa berdiri sendiri. 6. Sejarah Feminisme Kata feminism dicetuskan pertama kali oleh aktivis Sosialis Utopis Charles, Forier pada tahun 1837. Feminisme berarti emansipasi wanita. Sedangkan menurut istilah adalah berbagai bentuk perlawanan terhadap berbagai bentuk diskriminasi sosial, personal dan ekonomi di mana perempuan sebagai pihak yang merasa menderita karena jenis kelaminnya. Sedangkan menurut Kamla dan Wight feminis adalah kesadaran akan menindas dan pemerasan terhadap kaum perempuan di dalam masyarakat dan tindakan sadar oleh perempuan untuk mengubah kondisi tersebut. Munculnya gerakan feminisme pada masyarakat Barat tidak terlepas dari sejarah masyarakat Barat yang memandang rendah terhadap kedudukan perempuan. 7. Feminisme dalam Islam Jika dalam masyarakat Barat terdapat sikap merendahkan derajat perempuan sehingga menimbulkan gerakan feminisme dan persamaan gender, maka berlainan dengan agama Islam yang sangat memuliakan perempuan. Kitab suci Al-Quran memberikan hak-hak perempuan dan menempatkan perempuan pada kedudukan terhormat yang sama dengan hak dan kedudukan lelaki. 8. Sejarah Feminisme Di Indonesia Di Indonesia juga memiliki seorang pejuang feminisme yang sangat terkenal sampai saat ini, RA Kartini. Bahkan, perjuangan Kartini untuk memajukan kaum wanita telah dimulai sejak abad ke-18. Kartini terkenal dengan bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, yang berisikan surat-suratnya kepada para sahabatnya tentang keinginan dan cita-citanya untuk memajukan kaum wanita di Indonesia. 9. Media Massa Dan Feminisme Media massa merupakan salah satu bentuk kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Melalui media massa yang semakin banyak berkembang memungkinkan informasi menyebar dengan mudah di masyarakat. Informasi dalam bentuk apapun dapat disebarluaskan dengan mudah dan cepat sehingga mempengaruhi cara pandang, gaya hidup, serta budaya suatu bangsa. Menurut teori feminis, perspektif feminis tentang media dan masyarakat tertarik kepada bagaimana media mengonstruksi pandangan-pandangan tentang perempuan. 10. Media secara tidak sadar sering membuat relasi-relasi tertentu yang bias gender, seperti menempatkan perempuan pada posisi yang lemah. Salah satu contoh yang paling mudah adalah film keluaran Walt Disney Cinderella yang mengangkat cerita tentang perempuan miskin yang menikahi seorang pangeran, lalu kehidupan si Cinderella menjadi lebih baik dan mengangkat derajatnya. Dalam film ini secara tidak langsung mengungkapkan bahwa Cinderella menanamkan ideologi patriarki dan menindas perempuan untuk berpikir bahwa mereka harus bergantung pada seorang pria. 11. Contoh lain adalah pengeksplotasian tubuh perempuan oleh media massa adalah Victorias Secret Fashion Show adalah sebuah tayangan peragaan lingerie yang modelnya wanita yang berbadan kurus dan luar biasa langsing. Para modelnya biasanya bisa dinamakan dengan Victoria Secret Angels. Sedangkan Angel memiliki arti sebagai bidadari, yang memiliki image sebagai wanita yang cantik. Jadi secara terang-terangan Victorias Secret menyampaikan pesan bahwa wanita yang cantik adalah wanita yang kurus dan pirang. 12. Namun, di lain pihak ada juga media massa yang menayangkan pesan positif tentang perempuan, dapat kita ambil sebagai contoh film Hunger Game yang dibintangi Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen. Katniss adalah salah satu contoh karakter feminis dalam film ini bukan karena dia memiliki kemampuan memanah seperti layaknya pria, tapi karena dia adalah seorang gadis muda yang mampu menghidupi ibu dan adiknya sejak usianya 11 tahun, dan serta Katniss dalam film tersebut berani menentang penindasan dari kalangan kapitalis. 13. Contoh lain dari iklan yang pro feminisme adalah iklan shampo Pantene iklan ini menggambarkan/ menceritakan tentang pria dan wanita menghadapi double standard di tempat kerja. Para pria dalam setelan jasnya disebut bos, tapi wanita dalam gaun hitam disebut bossy (suka memerintah). Ketika ia memberikan pidato, seorang pria dilabelkan sebagai persuasif, tapi wanita dilabelkan sebagai seorang yang memaksa. Ayah bekerja sampai telat karena dia berdedikasi, ibu bekerja telat karena dia egois. Lalu di akhir video muncul kata-kata di layar: "Jangan biarkan label menghambat Anda. Jadilah kuat dan bersinar." 14. KESIMPULAN Dapat kita simpulkan bahwa media massa telah sama-sama " served " agenda feminis dan "disserved" agenda feminis. Media massa masih beroperasi di bawah asumsi bahwa semua feminis berpikir sama - dan terlalu sering diperlakukan sebagai gerakan pinggiran yang terdiri dari sekelompok wanita marah yang berusaha untuk menempatkan perempuan dalam posisi kekuasaan yang setara dengan laki-laki. 15. PENUTUP Demikianlah makalah yang dapat kami sajikan. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Dan hanya Allah Swt. Yang memiliki kesempurnaan dan kekurangan itu milik kami. Kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif dari semua pihak untuk perbaikan makalah kami.