Mbs implikasi manajemenkurikulum_sistem

download Mbs implikasi manajemenkurikulum_sistem

of 22

  • date post

    22-Jun-2015
  • Category

    Education

  • view

    3.114
  • download

    2

Embed Size (px)

description

Manajemen Berbasis Sekolah dan Manajemen Kurikulum, Sistem Penilain

Transcript of Mbs implikasi manajemenkurikulum_sistem

  • 1. 1 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH: IMPLIKASINYA TERHADAP MANAJEMEN KURIKULUM DAN SISTEM PENILAIAN PENDIDIKAN DASAR MAKALAH Diseminarkan dalam mata kuliah Manajemen Pendidikan, diampu oleh Prof. Dr. H. E. Mulyasa Oleh Denny Kodrat NPM: 4103810413007 Rudiana NPM: 4103810413016 Yahya Amir Saepudin NPM: 4103810413034 PROGRAM DOKTOR ILMU PENDIDIKAN/MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA 2013 MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH:

2. 2 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar IMPLIKASINYA TERHADAP MANAJEMEN KURIKULUM DAN SISTEM PENILAIAN PENDIDIKAN DASAR BAB I. PENDAHULUAN Sebagaimana yang diamanahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Amandemen ke empat pasal 31 (2) dinyatakan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak hanya itu, dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 dipertegas bahwa Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mewujudkan amanah UUD 1945 dan UU no. 20 tahun 2003 ini, Komite Reformasi Pendidikan (KRP) memuat penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah (School-Based Management, MBS) dalam proses pengambilan keputusan pendidikan dasar dan menengah. Dipilihnya MBS untuk pendidikan dasar dan menengah ini dilandasi keyakinan bahwa model ini akan mempermudah pencapaian tujuan pendidikan nasional. Ciri utama MBS adalah adanya otonomi yang kuat pada tingkat sekolah, peran serta aktif masyarakat dalam pendidikan, proses pengambilan keputusan yang demokratis dan berkeadilan, menjunjung tinggi akuntabilitas dan transparansi dalam kegiatan pendidikan (Nurkolis, 2002). Munculnya MBS pada mulanya karena didorong oleh keinginan daerah untuk memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengatur daerahnya sendiri. Undang-undang no. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang disahkan pada 7 Mei 1999, yang diganti oleh UU no. 32 tahun 2004 telah menetapkan kewenangan dengan mengutamakan asas 3. 3 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar desentralisasi, termasuk dalam urusan pendidikan. Pasal 14 ayat (1) UU no. 32 tahun 2004 mengisyaratkan bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah otonomi meliputi: pekerjaan umum, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan, pertanian, perhubungan, industri dan perdagangan, penanaman modal, lingkungan hidup, pertanahan, koperasi, dan tenaga kerja. Dengan demikian, berdasarkan aturan tersebut jelaslah bahwa pengelolaan masalah pendidikan secara luas menjadi kewenangan daerah. Apabila dilacak dari periode sebelumnya, sebenarnya pemberian kewenangan tertentu kepada daerah dalam bidang pendidikan telah diberlakukan sejak tahun 1951, setelah pemerintah mengeluarkan PP no. 65 tahun 1951 (Bafadal, 1999). Peraturan tersebut memuat pelimpahan sebagian urusan pemerintah pusat dalam bidang pendidikan, pengajaran dan kebudayaan kepada pemerintah daerah. Peraturan tersebut merekomendasikan bahwa pemerintah pusat memberikan sebagian wewenang kepada pemerintah daerah dalam menyelenggarakan sekolah dasar. Salah satu sebab yang mendorong pemberian otonomi tersebut adalah tuntutan pembangunan pendidikan SD yang semakin meningkat dan semakin kompleks yang mempersyaratkan adanya partisipasi dan pendayagunaan potensi masyarakat daerah secara efektif dan efisien. Pengelolaan pendidikan yang sentralistik dianggap kurang aspiratif, kurang partisipatif dan birokrasi yang terlalu panjang sehingga memberikan peluang bagi terjadinya pemborosan dan kebocoran anggaran (Bafadal, 1999). Konsep dasar MBS adalah mengalihkan pengambilan keputusan dari pusat ke level sekolah. Oleh karena itu, ada beberapa pakar yang memberi istilah school based management dengan school based decision making and management. Dengan pengalihan kewenangan pengambilan keputusan ke level sekolah diharapkan sekolah akan lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangan yang sesuai dengan kondisi dan tuntutan lingkungan masyarakatnya. Dalam bahasa lain, sekolah mampu mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam MBS ini peran birokrasi pendidikan lebih banyak 4. 4 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar memberikan guiding (tuntunan) bukan tuntutan. Memberikan pelayanan, bukan meminta dilayani. Istilah MBS ini pertama kali muncul di Amerika Serikat (AS) ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat. MBS merupakan paradigm baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (pelibatan masyarakat) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional (Mulyasa, 2007). Gagasan MBS di Indonesia dewasa ini sedang menjadi perhatian para pengelola pendidikan, mulai tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai dengan tingkat sekolah. Gagasan ini semakin mengemuka setelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan seperti diisyaratkan UU no. 22 tahun 1999 yang diganti oleh UU no. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP no. 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai Daerah Otonom. Regulasi ini mengatur terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikan dan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Gagasan MBS perlu dipahami dengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam menyelenggarakan pendidikan, khususnya sekolah, karena implementasi MBS tidak sekadar membawa perubahan dalam kewenangan akademik sekolah dan tatanan pengelolaan sekolah, tetapi akan membawa perubahan pula dalam pola kebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaan sekolah. Desentralisasi pengelolaan pendidikan menunjukkan adanya pelimpahan wewenang dalam pengelolaan pendidikan dari pemerintah pusat ke daerah otonom, yang menempatkan kabupaten/kota sebagai daerah desentralisasi. Pergeseran kewenangan ini berkaitan erat dengan konsentrasi perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan. Artinya, adanya wewenang yang diberikan kepada hierarki lebih bawah dalam perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan merupakan ciri penting adanya desentralisasi. Desentralisasi dalam tatanan pemerintahan mengandung arti adanya pelimpahan kewenangan pemerintahan 5. 5 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar daerah kepada masyarakat. Dalam pengelolaan pendidikan di sekolah, hal ini berarti adanya pelimpahan wewenang kepada masyarakat atau pihak-pihak yang berkepentingan dengan pendidikan (stakeholder) untuk ikut serta bertanggung jawab dalam memajukan sekolah. Apabila dihubungkan dengan praktik MBS, maka terkandung adanya pelimpahan wewenang untuk perumusan kebijakan dan penetapan keputusan kepala sekolah dan stakeholdernya. Oleh karenanya, gagasan tersebut mengarah pada praktik otonomi pengelolaan sekolah. Tentunya, praktik otonomi pengelolaan sekolah ini membawa pula pengaruh kepada manajemen kurikulum dan sistem evaluasi pendidikan. Kepentingan utama format otonomi sekolah adalah tampilnya kemandirian sekolah untuk meningkatkan kinerja sendiri, dengan mengakomodasi berbagai potensi sumber daya sekolah, yang pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan mutu pendidikan sebagaimana yang diamanahkan dalam PP no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam konteks mikro sekolah, kurikulum sebagai salah satu komponen dalam proses pendidikan di sekolah menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan dalam pencapaian mutu pendidikan. Saat kewenangan pusat diberikan kepada sekolah, khususnya dalam pemberian penetapan kurikulum sekolah (KTSP) maka manajemen kurikulum yang dilakukan oleh sekolah menjadi sangat penting karena sekolah memiliki kewenangan dalam menyusun KTSP yang tentu saja dapat memunculkan kekhasan atau kearifan lokal serta keunggulan daerah yang satu sama lain akan berbeda. Tentu saja, untuk menjamin mutu dan menjaga proses pelaksanaan, hal lain yang menjadi penting adalah bagaimana sekolah bisa memformulasikan sistem penilaian sebagaimana yang diisyaratkan dalam PP no. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Bab X tentang Standar Penilaian Pendidikan. Dari uraian di atas, makalah ini akan membahas mengenai MBS dan implikasinya terhadap manajemen kurikulum dan sistem evaluasi pendidikan dasar. BAB II. ISI 6. 6 Makalah MBS: Implikasinya terhadap Manajemen Kurikulum dan Sistem Penilaian Pendidikan Dasar Pengertian MBS Manajemen berbasis sekolah berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis dan sekolah (Mulyasa, 2007). Manajemen adalah pengkoordinasian dan penyerasian sumber daya melalui sejumlah input manajemen untuk mencapai tujuan atau untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Berbasis berarti berdasarkan pada atau berfokus pada. Sekolah adalah suatu organisasi terbawah dalam jajaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yang bertugas memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik atas dasar ketentuan- ketentuan yang bersifat legalistik (makro, meso dan mikro) dan profesionalistik (kualifikasi, untuk sumber daya manusia; spesifik untuk barang/jasa, dan prosedur-prosedur kerja). MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan, yang menawarkan kepada sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi peserta didik. Mulyasa (2007) mengatakan bahwa dalam manajemen pendidikan dikenal dua mekanisme pengaturan, yaitu sistem sentrali