Materi advokasi STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2012

Click here to load reader

  • date post

    02-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    2.998
  • download

    9

Embed Size (px)

description

Buklet ini berisi materi untuk yang berminat melakukan advokasi program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM). Disusun oleh WSP, 2012.

Transcript of Materi advokasi STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 2012

  • aLebih Bersih, Lebih Sehat

  • PenyusunBuklet ini dikembangkan oleh tim Water and Sanitation Program yang terdiri dari Nilanjana Mukherjee, Deviariandy Setiawan, Djoko Wartono, Amin Robiarto, Ari Kamasan, Wano Irwantoro dan Effentrif dengan kontribusi editorial Yosa Yuliarsa. Tim mengucapkan terima kasih atas kontribusi berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan TSSM (Total Sanitation and Sanitation Marketing) di Provinsi Jawa Timur.

    Peer reviewers: Zainal Ilyas Nampira dari Direktorat Penyehatan Lingkungan - Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Maraita Listyasari dari Direktorat Permukiman dan Perumahan - Bappenas.

    Kontak kamiUntuk informasi lebih lanjut hubungi:[email protected]@stbm-indonesia.org

  • 1Kita tidak bisa mentoleransi

    sanitasi yang buruk

  • 2Indonesia kehilangan US$6,3 miliar atau Rp56 triliun per tahun akibat buruknya sanitasi dan kebersihan.

    Setiap tahun tercatat sekitar 121.100 kasus diare yang memakan korban lebih dari 50.000 jiwa akibat kondisi sanitasi yang buruk.

    Biaya kesehatan per tahun akibat sanitasi buruk mencapai Rp139.000 per orang atau Rp31 triliun secara nasional.

    Air limbah yang tidak diolah menghasilkan 6 juta ton kotoran manusia per tahun yang dibuang langsung ke badan air, sehingga biaya pengolahan air bersih menjadi semakin mahal.

    Enam puluh persen penduduk perdesaan tidak mempunyai akses terhadap sanitasi yang layak dan menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi

  • 3Lebih Bersih, Lebih Sehat

    Apakah kita sudah peduli pada kondisi higiene dan sanitasi

    yang buruk?Pemutakhiran data global pada tahun 2010 mengungkapkan bahwa 63 juta penduduk Indonesia masih buang air besar sembarangan (BABS) di sungai, kali, danau, laut atau di daratan. Mayoritas pelaku praktik buang air besar sembarangan tinggal di desa-desa.

    Hanya 38,4% dari penduduk perdesaan yang memiliki akses pada sanitasi yang layak. Akses sanitasi di perdesaan tidak bertambah secara berarti selama 30 tahun terakhir. Pemerintah Indonesia telah mengindikasikan bahwa target Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goal MDG) untuk sanitasi sebagai suatu sasaran yang memerlukan perhatian khusus karena tidak berada pada jalur yang benar. Dengan hanya tersisa tiga tahun lagi sampai tahun 2015, kita harus menemukan metode-metode yang lebih cepat, murah dan berkelanjutan untuk meningkatkan akses sanitasi yang layak di Indonesia.

  • 4 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

    Dapatkah provinsi dan kabupaten Anda memperkirakan kerugian yang diderita akibat sanitasi buruk?

    Suatu perhitungan sederhana menunjukkan bahwa kerugian karena higiene dan sanitasi yang buruk mencapai US$191 juta (Rp1,75 triliun) untuk tingkat provinsi per tahun, atau US$15,75 juta (Rp145 miliar) untuk kabupaten per tahun, diukur dengan nilai tukar tahun 2006.

    Sebaliknya, tahukah Anda betapa menguntungkannya investasi dalam perbaikan sektor sanitasi?

    Kajian Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization - WHO) tahun 2005 menyebutkan bahwa setiap US$1 yang diinvestasikan untuk perbaikan sanitasi memberikan imbal hasil (return) paling sedikit sebesar US$8. Analisis ekonomi lainnya menunjukkan fakta yang sama, meskipun angka-angka imbal hasil bervariasi. Tentu saja imbal hasil tersebut tidak langsung, melainkan diperoleh dari penghematan biaya, produktivitas yang meningkat, lebih sedikit kerugian, dan sebagainya.

  • 5Lebih Bersih, Lebih Sehat

    Higiene dan sanitasi yang baik di kabupaten atau provinsi berarti:

    bayi-bayi lebih sehat, yang pertumbuhannya tidak terganggu oleh penyakit yang disebabkan oleh lingkungan;

    pekerja lebih produktif; anak-anak lebih sehat, dan mempunyai lebih banyak waktu dan energi untuk

    belajar serta berkembang secara optimal; air sungai berkualitas lebih baik, dengan biaya pengolahan yang lebih rendah

    bagi konsumsi manusia; lokasi yang lebih menarik bagi para investor industri; usaha pariwisata yang lebih menguntungkan karena adanya pantai-pantai,

    hutan-hutan, dan sungai-sungai yang bersih dan bebas polusi.

  • 6 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

    Dana pemerintah dan

    donor terlalu kecil untuk menutup kesenjangan

    akses sanitasi yang layak di perdesaan, atau untuk memenuhi sasaran-sasaran

    MDG.

    Dibutuhkan investasi lebih dari US$600 juta setiap tahun selama tahun 2005-2015 agar Indonesia dapat mencapai tar-get MDG di bidang sanitasi. Diband-ingkan dengan kebutuhan, investasi pemerintah di sektor sanitasi, termasuk dana-dana dari donor, rata-rata hanya US$27 juta per tahun. Sebagian besar dana investasi digunakan untuk pem-

    bangunan prasarana kota. Dengan jumlah sedemikian kecil dan hanya bergantung pada

    investasi sektor publik, kemungkinan diperlu-kan lebih dari 100 tahun untuk mencapai target

    MDG!

    Untuk mencapai target MDG di bidang sanitasi, harus ditemu-kan cara-cara untuk mempercepat dan memperluas investasi, terutama dari sektor rumah tangga dan swasta.

    Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pengadaan jamban bersubsidi untuk be-berapa rumah tangga terpilih di masyarakat sebenarnya menghambat kemajuan sebab rumah lainnya kemudian akan memutuskan untuk tidak menginvestasikan dana mer-eka sendiri, karena berharap akan memperoleh bantuan subsidi sejenis dari pemer-intah. Kita tidak dapat meneruskan pendekatan lama seperti menyebarkan beberapa jamban bersubsidi, kalau berjuta-juta rumah tangga masih kekurangan akses terhadap sanitasi. Anggaran pemerintah yang terbatas harus digunakan lebih bijaksana, dan secara inovatif, untuk memancing investasi yang jauh lebih besar dari sumber-sumber non pemerintah, seperti rumah tangga dan sektor swasta domestik. Hal ini membu-tuhkan strategi untuk membebaskan daya pengeluaran konsumen dan kekuatan pasar sambil meyakinkan bahwa pasar sanitasi lokal berkembang dengan mekanisme yang mempertimbangkan kelompok masyarakat.

    Strategi baru Pemerintah Indonesia yang dirancang untuk tujuan tersebut adalah San-itasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang diluncurkan pada tahun 2008, untuk meningkatkan cakupan nasional secara cepat menuju SANITASI TOTAL.

  • 7Lebih Bersih, Lebih Sehat

    Pendekatan baru untuk perluasan cakupan sanitasi perdesaan - Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

    Institusionalisasi

    Peningkatanpenyediaansanitasi

    Peningkatankebutuhansanitasi

    Peningkatanlingkungan

    yang kondusif

  • 8 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

    STBM merupakan ke-

    sempatan untuk mem-bebaskan kabupaten Anda

    dari BAB sembarangan dalam beberapa tahun kedepan. TETAPI, hal ini akan terwujud bila Anda mendukung dengan strategi yang tepat, seperti dipapar-kan di dalam dokumen

    strategi STBM.

    Dengan dukungan pengembangan kapasitas STBM dari pemerintah pusat, Anda dapat meningkatkan permintaan konsumen akan sanitasi yang layak di provinsi atau kabupaten Anda, dan mendorong pasar lokal untuk menawarkan lebih banyak opsi kepada rumah tangga miskin untuk mendapatkan akses terhadap sanitasi yang layak. Bila hal ini terjadi, masyarakat lokal akan tampil ke depan menginvestasikan sumber daya mereka sendiri untuk memperbaiki fasilitas sanitasi, dan dengan cepat menuju dusun, desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi yang bebas dari BAB sembarangan.

    Sebagai tambahan, jika terbangun kebijakan yang mendukung dan lingkungan kelem-bagaan yang menunjang STBM di kabupaten, maka manfaat sanitasi akan menjadi permanen. Masyarakat akan melakukan lebih dari sekedar menjadi suatu masyarakat yang bebas dari buang air besar sembarangan, namun menjadi masyarakat SANITASI TOTAL dimana setiap rumah tangga melaksanakan perilaku higiene dan sanitasi sebagai kunci untuk menjaga kesehatan, produktivitas, dan kemakmuran masyarakat terhadap aktivitas ekonomi, termasuk pariwisata.

  • 9Lebih Bersih, Lebih Sehat

    OD

    ODF

    SANITASITOTAL

    - Adanya proses pemicuan

    - Adanya Komite/Natural leaders

    - Adanya Rencana Aksi

    - Adanya peman-tauan terus menerus

    - Tersedianya paso-kan

    - 100% masyarakat sudah berubah perilakunya dengan status ODF (terverikasi)

    - Adanya rencana untuk merubah perilaku higiene lainnya

    - Ada aturan dari masyarakat untuk menjaga status ODF

    - Adanya peman-tauan dan verikasi secara berkala

    - Terjadinya peningkatan kualitas sarana sanitasi

    - Terjadinya perubahan perilaku higiene lainnya di masyarakat

    - Adanya upaya pemasaran dan promosi aktif

    - Adanya peman-tauan dan evalu-asi

    Masyarakat sudah mempraktikkan perilaku higiene sanitasi secara berkelanjutan

    Rangka

    ian Pe

    rubaha

    n Peri

    laku

    Pening

    katan

    Kualitas

    Sanit

    asi Lin

    gkunga

    n

    Diterbitkan oleh Sekretariat STBM

    TANGGA PERUBAHAN PERILAKUVisi STBM

    Perbaikan Sarana+ Perilaku Higiene

    lainnya

  • 10 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat

    Semua ini bukanlah fiksi. Hal ini sudah terjadi di provinsi Jawa Timur, tempat Pemerintah Indonesia

    menguji coba operasionalisasi STBM pada skala provinsi selama tahun 2008-2010. Silakan lihat apa yang terjadi di kabupaten-kabupaten provinsi Jawa Timur ketika

    diterapkan pendekatan STBM

    Lebih dari 1,5 juta masyarakat miskin dapat akses jamban layak dalam periode 2008 - 2011,

    tanpa subsidi

    Sejak tahun 2009, kabupaten yang sudah melaksanakan STBM sesuai dengan kapasitas mereka, melembagakan prinsip dan pendekatan STBM dengan baik, mendapatkan hasil yang nyata serta pembiayaan program yang lebih efektif, seperti terlihat pada grafik penilaian kinerja. Kabupaten Bojonegoro memenangkan JPIP award pada tahun 2011, Kabupaten Jombang pada tahun 2010 dan Kabupaten Lumaj