maritim makalah

download maritim makalah

of 26

  • date post

    25-Jul-2015
  • Category

    Documents

  • view

    1.112
  • download

    27

Embed Size (px)

description

MAKALAH

Transcript of maritim makalah

KATA PENGANTAR Assalammualaikum .wr .wb Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmatNyalah makalah ini dapat disusun dan diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Makalah mengenai Hukum Pengangkutan (Maritim) : Penerapan Asas Cabotage dalam Industri Migas ini disusun atas dasar untuk memenuhi nilai tugas makalah yang diberikan oleh dosen mata kuliah Hukum Maritim. Pembahasan mengenai penerapan asas cabotage dalam industri

pengangkutan dan migas sangatlah penting maka dari itu, penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi para pembacanya yang ingin mengetahui mengenai penerapan asas cabotage dalam industri migas. Semoga makalah ini dapat menambah informasi bagi para pembacanya. Penulis juga memohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan makalah ini. Wassalammualaikum .wr .wb

Jakarta, 28 Mei 2012 Penulis

1

DAFTAR ISI Kata Pengantar ................................................................................................. 1 Daftar Isi ............................................................................................................ 2 Bab I : Pendahuluan 1. Latar Belakang ....................................................................................... 3 2. Pokok Permasalahan ............................................................................. 4 Bab II : ISI 2.1 Hukum Pengangkutan di Indonesia 2.1.1 Pengaturan di Indonesia............................................................ 5 2.1.2 Tentang Pengangkutan dengan Kapal ...................................... 6 2.2 Asas Cabotage ...................................................................................... 8 2.3 BP Migas.............................................................................................. 12 2.4 Penerapan asas Cabotage bagi Industri Migas 2.4.1 Kasus Posisi ............................................................................ 16 2.4.2 Penerapan asas cabbotage terhadap kapal-kapal dalam industri migas di Indonesia ........................................................................ 17 Bab III : Penutup.............................................................................................. 21 Daftar Pustaka................................................................................................. 23

2

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah suatu negara, dengan kekayaan alam yang melimpah, seperti bahan-bahan tambang emas, nikel, perak, minyak dan gas, juga di bagian perkebunan, seperti kopi, kelapa sawit dan karet. Sebuah Negara yang terdiri dari pulau-pulau, yang dihubungkan dengan laut yang begitu luas, maka dalam hal menyalurkan seluruh kekayaan alam tersebut, diperlukan suatu sistem pengangkutan laut yang memadai. Sekitar tahun 2009 lalu, dunia hukum mengenai pengangkutan laut dihebohkan dengan masalah penerapan asas Cabbotage, dengan dikeluarkannya Inpres No 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Perkapalan. Asas cabbotage adalah bahwa, setiap kapal yang melintas dikawasan Indonesia harus berbenderakan bendera Indonesia. Menurut PP tersebut, bahwa dengan menerapkan asas cabbotage maka kapal yang ada haruslah berbendera Indonesia dengan konsekuensi bahwa kepemilikan atas saham kapal tersebut, sebanyak 51% dipegang oleh Indonesia, badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. Pada makalah ini akan dibahas mengenai peran BP Migas dalam hukum pengankutan laut di bidang minyak dan gas bumi. BP Migas berperan sebagai Badan Pelaksana bagian Hulu dalam Penambangan Minyak dan Gas Bumi. BP Migas mengatur seluruh kegiatan yang berhubungan dengan bagian hulu dalam pertambangan Minyak dan Gas Bumi baik di darat maupun di laut. Mengenai isu asas cabbotage, BP Migas juga mengalami masalah. Masalah terdapat pada kapal-kapal yang digunakan untuk melakukan kegiatan hulu pertambangan minyak. Pada kegiatan hulu tersebut, sebenarnya sebanyak 90% kapal adalah berbendera Indonesia, jadi tidak terdapat masalah. Masalah timbul pada kapal jenis jack up rig dan 3D seismic vessel. Sebanyak 10% kapal adalah berbendera asing, termasuk jenis kapal tersebut, sedangkan jika diganti dengan bendera Indonesia, banyak dari pihak Indonesia, seperti badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia, mereka tidak mau mengambil resiko menanamkan modal pada jeniskapal tersebut, padahal jenis kapal itu adalah hal yang penting dalam pertambangan. Dikarenakan para pengusaha Indonesia tidak ingin mengambil resiko, kedua jenis kappa tersebut adalah digunakan hanya dalam

3

jangka waktu yang relatif pendek, sekitar 20 hari sampai dengan 3 bulan saja, dan hanya pada lokasi tertentu saja. Kemudian, tidak banyak industri galangan kapal di Indonesia yang mampu memproduksinya karena biaya yang mahal. Hal ini berakibat kepada berhentinya operasi drilling rig, maka produksi minyak pun terhenti. Ini berdampak pada berkurangnya produksi minyak mentah siap jual atau lifting pada tahun 2011. Pada APBN 2011, pemerintah mengasumsikan lifting pada tahun 2011 akan ada di posisi 970.000 barrel per hari. Namun, akibat akumulasi masalah, antara lain masalah drilling rig, maka target lifting diperkirakan akan berkurang menjadi 940.000 barrel per hari. Tetapi kemudian pemeriintah mengeluarkan PP No 22 tahun 2011 tentang Angkutan Perairan Laut yang memiliki ketentuan pengecualian asas cabotage terhadap industri migas. Lalu mentri perhubungan memberikan jangka waktu kepada industri migas untuk segera melengkapi kapalnya dengan bendera Indonesia, sampai dengan tahun 2015, pada Peraturan Menteri Perhubungan No 48 tahun 2011. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah pengaturan hukum pengangkutan di Indonesia? 2. Bagaimakah pengaturan asas cabbotage di Indonesia? 3. Apa peran BP Migas dalam proses pertambangan Minyak dan Gas, termasuk hal pengangkutan hasil tambang? 4. Apa keuntungan diterapkannya asas cabbotage bagi BP Migas, terkait dengan masalah Rig kapal?

4

BAB II ISI 2.1 Hukum Pengangkutan di Indonesia 2.1.1 Pengaturannya di Indonesia. Pengangkut, berdasar pasal 466 KUHD, dalam arti menurut title adalah orang yang baik karena penggunaan penyediaan kapal menurut waktu atau penggunaan penyediaan kapal menurut perjalanan, maupun karena perjanjian lainnya, mengikatkan diri untuk melaksanakan pengenkutan barang-barang seluruhnya atau sebagian menyebrang laut. Menurut The Hague Rules 1924, pengangkut adalah baik pemilik kapal atau pihak pengguna penyediaan kapal, dalam hal kapal di carter, berdasarkan perjanjian pengangkutan. Sedangkan menurut The Hamburg Rules 1978, pengangkut dibedakan menjadi carriers dan actual carriers. Carriers adalah setiap orang untuk siapa atau untuk atas nama siapa perjanjian pengangkutan barang di laut diadakan dengan pihak yang berkepentingan dengan barang muatan. Sedang, actual carriers adalah mereka melaksanakan pengakutan barang atau melaksanakan sebagian pengangkitan dan termasuk didalamnya orang lalin terhadap siapa pelaksanaannya telah dipercayakan padanya. Pengaturan mengenai hukum pengangkutan laut di Indonesia, dahulu diatur dengan Kitab Undang-undang Hukum Dagang, Buku V mengenai Pengangkutan, pada KUHD mengatur tidak hanya mengenai pengangkutan barang tetapi juga pengengkutan orang. KUHD hanya mengetur mengenai pengangkutan melalui laut saja. 1. Bagian III, title 5 buku I, pasal 91 98 mengenai tugas pengangkut serta juragan kapal yang berlayar di sungai dan perairan pedalaman. 2. Bagian II title 5 buku I pasal 86 90 mengenai kedudukan para ekspeditur sebagai pengusaha kapal. Kemudian pengaturan mengenai pengangkutan kapal ini berubah sejak diundangkannya, UU No 21 tahun 1992 tentang Pelayaran, yang kemudian diganti dengan UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran. Mengenai peraturan pelaksanannya, Indonesia memiliki diantaranya PP No 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan, serta Inpres No. 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.

5

2.1.2 Tentang Pengangkutan dengan Kapal Kapal digunakan untuk berbagai perjanjian, antara lain adlaah sewamenyewa, pemborongan pekerjaan, dan lainn Jasa-jasa angkutan laut biasanya mengenai barang-barang besar atau bulk comoditi dan juga dapat menempuh jarak jauh, lebih jauh jarak yang ditempuh relatif akan lebih murah freightnya, ruang angkutan laut dibandingkan dengan angkutan darat memang lebih besar dan luas. Kapal dapat menampung sampai ribuan ratus ton. Menurut KUHD pasal 309, kapal adalah semua bahtera papun namanya dan papun sifatnya, yang ditujukan untuk berlayar. Menurut Memiore van Toelechting, bahwa kapal adalah benda-benda yang dapat berlayar dan bergerak di air, meliputi juga kapal keruk dan rakit yang tidak ditujukan untuk berlayar di laut. Pasal 309 ayat (2) bahwa kapal juga meliputi segala alat perlengkapan, yaitu segala benda yang bukan suatu bagian dari kapal itu sendiri namun diperuntukan untuk selamanya dipakai tetap dnegan kapal itu Kapal laut ialah semua kapal yang dipakai untuk pelayaran di lautan atau sementara di pakai disungai-sungai untuk dipakai mengarungi lautan atau sementara mengarungi sunga-sungai. Kapal laut Indonesia adalah kapal laut yang dimiliki oleh seorang atau lebih warga negara Indonesia atau dimiliki untuk 2/3 bagian oleh seorang atau lebih negara Indonesia dan untuk 1/3 bagian oleh seorang atau lebih penduduk Indonesia, dengan syarat pemegang (1)). Sedangkan menurut UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, kapal adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis tertentu yang digerakkan dengan tenaga angin, tenaga mekanik, energi lainnya, ditarik atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan di bawah permukaan air serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah. Berdasar pasal 8 UU No 17 Tahun 2008, bahwa pengangkutan dalam negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia serta diawaki oleh awak berkewarganegaraan Indonesia. Disebutkan pula bahwa, kapal asing dilarang mengangkut pen