Maping Sip 1

download Maping Sip 1

of 32

  • date post

    05-Aug-2015
  • Category

    Documents

  • view

    170
  • download

    7

Embed Size (px)

Transcript of Maping Sip 1

RAHASIA 1 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DAERAH KALIMANTAN SELATAN RESORT BANJAR Jalan. A. Yani Km. 38,900 Martapura

MAPING KERAWANAN SOSIAL YG BERPOTENSI MENIMBULKAN KONFLIK DIWILAYAH HUKUM POLRES BANJAR TAHUN 2012

I.

PENDAHULUAN Kabupaten Banjar mempunyai luas wilayah 4.668,50 km2 terletak antara 2 .49.55 3.43.38 pada garis lintang selatan dan 115.35.37 pada bujur timur berada pada ketinggian antara 0 1.878 meter diatas permukaan air laut (DPL) dan terbagi dalam 19 kecamatan serta 259 desa / kelurahan , jumlah penduduk mencapai 498.088 jiwa terdiri dari laki-laki 2.44.622 dan perempuan sebanyak 235.466 jiwa dengan ratio kepadatan rata-rata mencapai 2.166 jiwa setiap km2 Wilayah Kabupaten Banjar memiliki batas wilayah dengan kabupaten tetangga antara lain : Sebelah utara dengan Kabupaten Tapin . Sebelah selatan dengan Kabupaten Tanah Laut dan Kotamadya Banjarbaru . Sebelah timur dengan Kabupaten Kota Baru dan Kabupaten tanah Bumbu. Sebelah barat dengan Kodya Banjarmasin dan Kabupaten Barito Kuala .

Wilayah Kabupaten Banjar memiliki sumber daya alam berupa batubara , bijih besi , emas ,mangaan , minyak dan gas bumi yang menarik perhatian para investor dari luar daerah untuk berinvestasi dan melakukan eksplorasi terhadap bahan tambang tersebut . Banyaknya sumber daya alam dan tingginya minat investor dari luar daerah untuk melakukan usaha pertambangan diwilayah kabupaten Banjar telah membawa pengaruh positif bagi penduduk setempat yaitu berupa tersedianya lapangan pekerjaan dan meningkatkan taraf hidup bagi penduduk setempat . Disamping pengaruh positif yang dirasakan oleh penduduk , kegiatan usaha pertambangan telah menimbulkan dampak berupa sengekata perbatasan baik antara kabupaten Banjar dengan kabupaten tetangga maupun sengketa batas wilayah desa dalam lingkup kabupaten banjar yang mayoritas dilatar belakangi oleh keinginan mendapatkan bagian keuntungan dari Cominity Development (CD) serta belum adanya kejelasan tentang ketetapan tata batas dari instansi yang berwenang mengeluarkan keputusan tersebut dalam hal ini Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan. Disamping masalah perbatasan wilayah terdapat beberapa permasalahan sosial lainya yang juga berpotensi menimbulkan konflik sosial yang dipetakan sb :

RAHASIA

RAHASIA 2 Sengketa tapal batas yang terjadi diwilayah kabupaten banjar meliputi : Kabupaten Banjar dengan Kabupaten tanah laut terdapat diwilayah dusun Sungai Tabuk desa kiram kecamatan Karang Intan dengan desa Bentok Darat kecamatan Bati-bati Kabupaten Tanah Laut . Kabupaten Banjar dengan Kabupaten Barito Kuala terdapat kecamatan Simpang empat dengan Kecamatan Jejangkit dan kecamatan Cerbon kabupaten Batola . Kabupaten Banjar dengan Kabupaten Tapin berada di desa Batang banyu kecamatan sambung Makmur dengan desa tarungin kecamatan Hatungun kabupaten Tapin . Sengketa batas antara desa Kampung Baru kecamatan Mataraman dengan desa Pulau Nyiur dan desa Habirau kecamatan Karang Intan dalam lingkup wilayah Kabupaten Banjar . Sengketa batas antara warga desa Padang Panjang kecamatan Karang Intan dengan Batalion 623 / BWU Penolakan eksplorasi Gas Metan oleh Pt. BBG dari warga kecamatan Gambut dan kecamatan Beruntung baru . Kasus pembunuhan yang terjadi di desa tungkaran dengan tersangka warga suku Madura dan korbannya adalah suku Banjar .

-

-

-

-

-

-

Permasalahan sengketa tata batas dan beberapa masalah sosial sebagaimana tersebut diatas yang tak kunjung mencapai penyelesaian dalam kurun waktu lama telah menimbulkan berbagai macam bentuk kerawanan sosial yang apabila dibiarkan dapat menimbulkan konflik horizontal .. II. PERMASALAHAN YANG DIHADAPI . A. SENGKETA BATAS ANTARA KAB..BANJAR DENGAN KAB. BATOLA 1. LATAR BELAKANG Sengketa perbatasan antara Pemkab Banjar dengan Pemkab Barito Kuala mulai muncul pada tahun 2006 dimana wilayah yang menjadi sengketa yaitu Wilayah Kec.Simpang Empat dengan Wilayah Kec.Cirebon dan Wilayah Simpang Empat dengan wilayah Kec.Jejangkit sehingga diperkirakan dengan adanya sengketa perbatasan wilayah tersebut berdampak adanya gangguan kamtibmas. Pada tahun 2006 timbul permasalahan sengketa tapal batas antara Pemkab Banjar dengan Pemkab Batola dimana sengketa di wilayah Kec.Simapang Empat Kab.Banjar dengan Wilayah RAHASIA

RAHASIA 3 Kec.Cerebon Kab.Batola dan Kec.Simpang Empat Kab.Banjar dengan Kec.Jejangkit Kab.Batola. Desa Makmur Karya yang berbatasan dengan Kec,Cerebon Kab.Batola dan DESA Simpang 5 yang berbatasan dengan Desa Jejangkit Kab.Batola yang dijadikan lokasi sengketa , yang mana kawasan tersebut pada mulanya merupakan kawasan rawa-rawa dan hutan serta bukan merupakan daerah pemukiman dan bukan juga sebagai potensi penghasil Pendapatan Daerah. Awal mula adanya konflik sengketa dimana adanya Investor PT PALMINA UTAMA yang mengembangkan perkebunan dan pembibitan kelapa sawit dengan lahan seluas 15.000 Ha dimana akte pendirian serta Domisili masuk dalam Pemkab Banjar ( SK Bupati Banjar Nomor:02/IL-TAPEM/2006). Permasalahan sengketa tersebut semakin meruncing ketika Pemkab Batola juga mengembangkan Sentral Agro Bisnis di daerah yang sama diawali dengan pembuatan saluran-saluran irigasi / kanal sebagai pengairan yang di kerjakan oleh CV KARYA BARITO di lokasi Hantasan gulungan sei Gendung dan Handil Suwardi Desa Julungan dengan pengerjaan pembuatan 3 (tiga) buah tabat beton, CV KARYA AGUNG di lokasi Handil Nasir Simpang Bahalang dan simpang Nungki Desa Sawahan dan Desa Simpang Nungki dengan pengerjaan pembuatan 3 (tiga) tabat beton, CV ANDEMAN pengerjaan rehab handil sepanjang 6.800 meter, di sei Sedandan 5000 m dan di Desa Sawahan dan Desa Sungai Raya 1,800m. Dengan demikian Pemkab Barito kuala telah melakukan aktifitas pembangunan memasuki wilayah Kab.Banjar sehingga dari Pihak Pemkab Banjar merasa keberatan di karenakan sebelumnya tidak ada koordinasi menyangkut titik koordinat sehingga menimbulkan permasalahan dalam penentuan tapal batas. Dengan adanya pembangunan yang dilaksanakan oleh Pemkab.Batola berdampak kepada PT PALMINA UTAMA hal tersebut dibuktikan dengan adanya surat keberatan yang di tujukan kepada Pemkab.Banjar dengan Nomor :001/PALMINA BJM/XII/2006 tanggal 5 Desember 2006 menyatakan bahwa dengan adanya aktifitas pembuatan parit pengairan oleh Pamkab Batola akan berakibat akan rusaknya system manajemen tata air perkebunan sawit serta mendorong masyarakat untuk masuk dan mencetak sawah baru di dalam areal perkebunan PT PALMINA UTAMA sehingga akan menimbulkan klaim lahan di perkebunan di kemudian hari. Dengan adanya keberatan dari PT PALMINA UTAMA terhadap aktifitas pembuatan parit irigasi telah membuka konflik sengketa wilayah hal tersebut di buktikan dengan munculnya surat dari masing-masing pemerintah kabupaten yang telah mengklaim bahwa wilayah di sengketakan adalah masuk wilayahnya hal tersebut dribuktikan dengan adanya surat ke Gubernur Kalsel RAHASIA

RAHASIA 4 tentang klaim dari pemerintah kabupaten tersebut diatas sebagai berikut : Surat dari Pemkab Banjar dengan nomor : 100/01109/Tapem tanggal 8 Desember 2006 yang di tujukan kepada Gubernur Kalsel dan di tanda tangani oleh Bupati Banbjar H.Gt. KHAIRUL SALEH dengan inti pokok bahwa merasa keberatan atas proyek pembuatan parit pengairan yang di selenggarakan oleh Pemkab Batola adalah merupakan wilayah Kab.Banjar. Surat dari Pemkab Batola dengan Nomor: 100/2612/Pem tanggal 15 Desember 2006 yang ditujukan kepada Gubernur Kalsel yang di tanda tangani Bupati Batola H.EDY SUKARMA yang inti dari surat tersebut menyatakan bahwa proyek pembuatan parit yang di kerjakan merupakan wilayah Kab.Batola. Aktifitas yang dilakukan Pemkab.Batola telah memasuki perbatasan wilayah Kab.Banjar sejauh 7 Km dari daerah yang di sengketakan yaitu Desa Makmur Karya Kec.Simpang Emapt yang berbatasan dengan Desa Sawahan Kec.Serbon Kab.Batola dan selama melakukan aktifitas tersebut dari pihak Pemkab Batola tidak pernah koordinasi dengan unsure Muspika Kec.Simpang empat. Demikian juga aktifitas pembangunan yang di lakukan Pemkab Batola telah memasuki perbatasan dengan Desa Simpang 5 Kab.Banjar sejauh 15 Km yang berbatasan dengan Desa Jejangkit timur Kec.Jejangkit Kab.Batola. Pada hari kamis tanggal 16 Mei 2007 bertempat di ruang rapat Dharma Wanita lantai dasar kantor Gubernur Kalsel telah dilaksanakan rapat dalam penegasan tapal batas, dari Pemkab Batola di wakili Drs NOOR IPANI dan dari Pemkab Banjar di wakili Drs RIDUANSYAH yang di saksikan oleh Drs H.ARDIANSYAH dari Tim Penentuan Batas Daerah Provinsi Kalsel namun dalam pertemuan tersebut bulum di capai kata Sepakat penegasan batas wilayah kedua Kabupaten yang bersengketa. Disamping masalah sengketa batas masih terdapat permasalahan yang diperkirakan mengandung kerawanan yang cukup tinggi terkait adanya pembangunan jalan khusus batu bara oleh Pt.Talenta yaitu ganti rugi lahan terhadap 125 orang warga Jejangkit yang hingga saat ini belum terealisasi . 2. PREDIKSI KERAWANAN Walaupun kasus perbatasan antara Kab. Banjar dan Kab. Batola belum menimbulkan konflik yang melibatkan masyarakat setempat sebagaimana halnya yang pernah terjadi pada sengketa tata batas antara kabupaten Banjar dengan Kab. Tanah Bumbu tetapi tidak menutup kemungkinan suatu saat apabila di wilayah perbatasan tersebut terdapat rencana pembangunan ataupun adanya peningkatan nilai harga tanah maka diprediksi akan terjadi konflik serupa . RAHASIA

RAHASIA 5 3. LANGKAH YANG TELAH DIAMBIL a. Melakukan pendekatan kepada tokoh tokoh masyarakat supaya tidak melakukan tindakan melanggar hukum. b. Melakukan monitoring dan pulbaket terhadap setiap perkembangan situasi yang berkaitan dengan permasalahan perbatasan antara kabupaten Banjar dan kabupaten Barito kuala agar dapat diambil langkah antisipasi secara dini dan tidak berkembang menjadi gangguan kamtibmas yang lebih besar. c. Koordinasi dengan instansi terkait agar dalam setiap melakukan langkah tetap memperhatikan kamtibmas dan selal