MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

85
MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi 275 kV Galang - Simangkuk) TUGAS AKHIR Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Memenuhi Syarat Penyelesaian Pendidikan Sarjana Teknik Sipil DISUSUN OLEH : HILMAN WARDHANA 11 0404 131 BIDANG STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2018 Universitas Sumatera Utara

Transcript of MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

Page 1: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI

(Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan

Ekstra Tinggi 275 kV Galang - Simangkuk)

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-tugas dan

Memenuhi Syarat Penyelesaian Pendidikan Sarjana Teknik Sipil

DISUSUN OLEH :

HILMAN WARDHANA

11 0404 131

BIDANG STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2018

Universitas Sumatera Utara

Page 2: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

i

ABSTRAK

Dalam pelaksanaan proyek konstruksi selalu ada potensi bahaya atau

risiko yang dapat menyebabkan kerugian yang cukup banyak mengenai biaya,

material, dan waktu. Setiap tempat kerja selalu memiliki risiko kecelakaan kerja

yang dapat mengganggu aktivitas pekerjaan dalam sebuah proyek. Faktor-faktor

yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja adalah kurangnya pemahaman

tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang baik dan juga kurangnya

penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) pada

proyek. Pengerjaan proyek tower transmisi merupakan salah satu dari

infrastruktur memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi dalam dunia konstruksi

dikarenakan kurangnya kesadaran pekerja untuk menggunakan APD dan terlepas

dari faktor peralatan dan mesin kerja. Penelitian ini bertujuan untuk

mengidentifikasi risiko K3, penilaian risiko, dan menentukan pengendaliannya.

Metode yang digunakan dalam penilaian risiko pada penelitian ini adalah AS/NZS

4360. Penelitian ini menggunakan teknik kuesioner yang dibagikan kepada

responden, dalam hal ini responden yang dituju adalah pihak kontraktor yang

memiliki pengetahuan tentang K3 dengan metode purposive sampling.

Berdasarkan hasil penelitian ini didapat 34 variabel risiko, dengan 4 variabel

risiko yang termasuk dalam kategori risiko tinggi, 20 variabel risiko yang

termasuk dalam kategori risiko sedang, dan 10 variabel risiko yang termasuk

dalam kategori risiko rendah. Risiko tertinggi yang didapat adalah terjatuh dari

ketinggian dengan indeks risiko sebesar 10,439.

Kata kunci: AS/NZS 4360, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dan Tower Transmisi

Universitas Sumatera Utara

Page 3: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada saya, sehingga saya dapat

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

Tugas akhir ini merupakan syarat untuk mencapai gelar sarjana Teknik

Sipil bidang studi Manajemen Rekayasa Konstruksi Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, dengan judul :

“MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI (Studi

Kasus : Proyek Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi

275 kV Galang – Simangkuk)”

Dalam penyusunan dan penulisan tugas akhir ini hingga dapat

terselesaikan tidak terlepas dari dukungan, bantuan serta bimbingan dari berbagai

pihak. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada beberapa pihak yang berperan penting yaitu :

1. Terutama kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Ir. Mukhtaruddin dan

Ibunda Rozana serta kepada abang - abang saya Denny Hernawan, S.H., M.H.

dan Yudha Widyanata, S.T., yang telah memberikan dukungan penuh serta

mendoakan saya dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini.

2. Bapak Ir. Syahrizal, M.T. dan Ir. Andy Putra Rambe, M.B.A. sebagai Dosen

Pembimbing yang telah dengan sabar memberi bimbingan, saran, dan

dukungan dalam bentuk waktu dan pemikiran untuk menyelesaikan Tugas

Akhir ini.

3. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan dan Indra Jaya, S.T., M.T. sebagai

Dosen Pembanding dan Penguji Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Medis Sejahtera Surbakti, S.T, M.T, Ph.D, sebagai Ketua Departemen

Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

5. Bapak dan Ibu staf pengajar dan seluruh pegawai Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

Page 4: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

iii

6. Seluruh anak Don yang terus memberikan motivasi dan bantuan nya selama

ini.

7. Sahabat-sahabat saya Ahmad Arifin Porkas Lubis, S.T., Ledwin Alwi

Anggara, S.T., Fadil Natoras Nasution, S.T., Yusuf Parlaungan Lubis, Satria

Fadillah Siregar yang telah membantu menyelesaikan Tugas Akhir ini dari

awal proses hingga selesai.

8. Seluruh teman-teman mahasiswa Teknik Sipil 2011 yang tidak mungkin saya

tuliskan satu-persatu atas dukungannya yang sangat baik.

9. Adik – adik angkatan 2014 yang telah memberikan dukungan untuk

menyelesaikan tugas akhir ini.

10. Dan segenap pihak yang belum saya sebut disini atas jasa-jasanya dalam

mendukung dan membantu penulisan Tugas Akhir saya.

Saya menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu saya menerima kritik dan saran yang bersifat

membangun dalam penyempurnaan Tugas Akhir ini.

Akhir kata saya mengucapkan terima kasih dan semoga tugas akhir ini

dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 2018

Penulis

( Hilman Wardhana )

11 04 04 131

Universitas Sumatera Utara

Page 5: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK ................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI ................................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ....................................................................................... vii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

1.1 Latar Belakang ........................................................................... 1

1.2 Perumusan Masalah..................................................................... 3

1.3 Tujuan Penelitian......................................................................... 3

1.4 Batasan Masalah .......................................................................... 4

1.5 Manfaat Penelitian....................................................................... 4

1.6 Sistematika Penulisan .................................................................. 5

1.7 Metodologi Penulisan .................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. 8

2.1 Tempat Kerja ............................................................................... 8

2.2. Tower Transmisi ......................................................................... 10

2.3 Wawancara .................................................................................. 10

2.4 Bahaya ........................................................................................ 11

2.4.1 Pengelompokan Bahaya .................................................... 11

2.5 Risiko ......................................................................................... 13

2.5.1 Jenis – Jenis Risiko .......................................................... 13

2.5.1.1 Risiko Finansial ...................................................... 14

Universitas Sumatera Utara

Page 6: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

v

2.5.1.2 Risiko Operasional ................................................. 14

2.5.1.3 Risiko Alam ........................................................... 16

2.5.1.4 Risiko Pasar ............................................................ 17

2.5.1.5 Risiko Sosial .......................................................... 17

2.5.1.6 Risiko Keamanan ................................................... 18

2.6 Kecelakaan Kerja ........................................................................ 18

2.6.1 Teori Kecelakaan Kerja .................................................... 19

2.7 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ..................................... 21

2.7.1 Keselamatan Kerja ........................................................... 21

2.7.2 Kesehatan Kerja ............................................................... 22

2.8 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) 23

2.8.1 Definisi ............................................................................. 23

2.8.2 Prinsip Dasar SMK3 ......................................................... 23

2.8.3 OHSAS 18001 .................................................................. 25

2.9 Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control .......... 26

2.10 Manajemen Risiko....................................................................... 27

2.10.1 Proses Manajemen Risiko .............................................. 29

2.10.1.1 Menentukan Konteks ........................................... 30

2.10.1.2 Identifikasi Bahaya .............................................. 30

2.10.1.3 Analisis Risiko ..................................................... 35

2.10.1.4 Evaluasi Risiko .................................................... 40

2.10.1.5 Pengendalian Risiko ............................................. 40

2.10.1.5.1 Menekan Likelihood ................................... 41

2.10.1.5.2 Menekan Consequence .............................. 42

2.10.1.5.3 Pengalihan Risiko ....................................... 43

Universitas Sumatera Utara

Page 7: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

vi

2.10.1.6 Komunikasi dan Konsultasi ................................. 43

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 44

3.1 Pendahuluan ............................................................................... 44

3.2 Populasi dan Sampel ................................................................... 44

3.3 Data Primer dan Sekunder .......................................................... 45

3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas ...................................................... 47

3.5 Proses Pengolahan Data .............................................................. 48

3.6 Flowchart Penelitian .................................................................... 49

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA .................................. 50

4.1 Pendahuluan ................................................................................ 50

4.2 Hasil Pengumpulan Data ............................................................ 50

4.2.1 Data Responden Penelitian ............................................. 50

4.2.2 Hasil Identifikasi Risiko ................................................. 53

4.3 Analisa Data .............................................................................. 54

4.3.1 Pengujian Uji Validitas dan Uji Reliabilitas ................... 54

4.3.2 Penilaian Risiko ............................................................... 55

4.4 Pembahasan ............................................................................... 65

4.5. Pengendalian Risiko .................................................................. 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...................................................... 72

5.1 Kesimpulan .................................................................................. 72

5.2 Saran ............................................................................................ 73

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. ix

LAMPIRAN ...........................................................................................

Universitas Sumatera Utara

Page 8: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

vii

DAFTAR TABEL

Nomor

Tabel Judul Halaman

2.1 Ukuran dari Dampak (Consequence) 38

2.2 Ukuran dari Kemungkinan (Likelihood) 38

2.3 Matriks Analisa Risiko (Level) menurut AS/NZS 4360:2004 39

4.1 Daftar Hasil Identifikasi Risiko 53

4.2 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Leg Tower

Bagian Kemungkinan (Likelihood) 56

4.3 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Body

Tower Bagian Kemungkinan (Likelihood) 56

4.4 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Cross Arm

Bagian Kemungkinan (Likelihood) 57

4.5 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Penarikan Kabel

Transmisi Bagian Kemungkinan (Likelihood) 57

4.6 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Leg Tower

Bagian Dampak (Consequence) 58

4.7 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Body

Tower Bagian Dampak (Consequence) 58

4.8 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Cross Arm

Bagian Dampak (Consequence) 59

4.9 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Penarikan Kabel

Transmisi Bagian Dampak (Consequence) 59

4.10 Hasil Perhitungan Indeks Risiko 60

4.11 Hasil Tingkat Risiko Berdasarkan Matriks Risiko AS/NZS

4360:2004 63

4.12 Indeks Risiko Dengan Adanya Pengendalian 68

Universitas Sumatera Utara

Page 9: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

viii

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Gambar Judul Halaman

2.1 Proses Sistem Manajemen K3 27

2.2 Bagan Proses Manajemen Risiko 29

4.1 Diagram Usia Responden 51

4.2 Diagram Tingkat Pendidikan Responden 51

4.3 Diagram Pengalaman Kerja Responden 52

4.4 Diagram Jabatan Responden 52

4.5 Diagram Pengelompokan Potensi Risiko 66

Universitas Sumatera Utara

Page 10: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini perkembangan konstruksi di Indonesia sangat cepat. Hal ini

dapat terlihat dari banyaknya pembangunan infrastruktur seperti : hotel,

perumahan, apartemen, irigasi, dan tower transmisi. Dalam pelaksanaan proyek

konstruksi selalu ada potensi bahaya/risiko yang dapat menyebabkan kerugian.

Risiko dapat didefinisikan sebagai ketidakpastian terkait dengan terjadinya suatu

kerugian (Redja, 2008). Risiko bisa berdampak pada lingkungan kerja dan juga

pekerja di lapangan. Untuk mengurangi dan mencegah risiko yang terjadi,

diperlukan manajemen risiko yang baik.

Setiap tempat kerja selalu memiliki risiko kecelakaan kerja yang dapat

mengganggu aktivitas pekerjaan di proyek. Untuk itu diperlukan sistem

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) guna meminimalisir terjadinya

kecelakaan kerja. Berdasarkan Undang – Undang Republik Indonesia Tahun 1970

tentang Keselamatan Kerja tertulis bahwa “setiap tenaga kerja berhak

mendapatkan perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk

kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional”.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja, yang juga dikenal dengan istilah K3,

merupakan suatu upaya yang bertujuan untuk memelihara kesehatan dan

keselamatan di lingkungan kerja, baik untuk tenaga kerja, pengurus, dan orang -

orang di sekitar lingkungan kerja. K3 juga banyak menyita perhatian, terlebih lagi

Universitas Sumatera Utara

Page 11: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

2

pada proses pembangunan proyek konstruksi yang pada umumnya memiliki

aktivitas pekerjaan yang mengandung unsur bahaya dan risiko yang cukup besar

(Wulfram, 2005).

Mengutip pertimbangan pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan

Transmigrasi nomor PER.01/MEN/1980 bahwa dengan semakin meningkatnya

pembangunan dengan penggunaan teknologi modern, harus diimbangi pula

dengan upaya keselamatan tenaga kerja atau orang lain yang berada di tempat

kerja. Pada pasal 1 Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia

Nomor 9 tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan

pada Ketinggian menyatakan bahwa “Bekerja pada Ketinggian adalah kegiatan

atau aktifitas pekerjaan yang dilakukan oleh Tenaga Kerja pada Tempat Kerja di

permukaan tanah atau perairan yang terdapat perbedaan ketinggian dan memiliki

potensi jatuh yang menyebabkan Tenaga Kerja atau orang lain yang berada di

Tempat Kerja cedera atau meninggal dunia atau menyebabkan kerusakan harta

benda”.

BPJS Ketenagakerjaan menyatakan bahwa pada tahun 2017 tercatat

sebanyak 123.041 kasus kecelakaan kerja (Laporan Keuangan BPJS

Ketenagakerjaan 2017) . Hal ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu sebanyak

101.367 kasus kecelakaan kerja (Laporan Keuangan BPJS Ketenagakerjaan

2016). Dari data tersebut terlihat bahwa keselamatan dan kesehatan kerja belum

diterapkan dengan baik.

Konstruksi tower transmisi merupakan salah satu dari bangunan

infrastruktur yang ada di Indonesia. Pekerjaan konstruksi tower transmisi

merupakan pekerjaan yang memiliki risiko kecelakaan yang tinggi dikarenakan

Universitas Sumatera Utara

Page 12: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

3

pekerjaan tersebut berada pada ketinggian. Dalam pengerjaannya, ada beberapa

risiko yang dapat terjadi pada konstruksi tower transmisi, misalnya terjatuh dari

ketinggian, tertimpa material besi atau baut, dan juga tersandung material.

Manajemen risiko K3 yang direncanakan dengan baik dapat mengurangi dan

mengendalikan risiko pada proyek tersebut. Berdasarkan latar belakang diatas

maka diambil penelitian dengan judul “Manajemen Risiko K3 Pada Proyek Tower

Transmisi”.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka ditemukan rumusan masalah

yang ada. Adapun rumusan masalah yang penulis ambil adalah sebagai berikut :

a. Bagaimana mengidentifikasi risiko pada proyek pembangunan Jaringan

Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi?

b. Bagaimana penilaian risiko pada proyek pembangunan Jaringan

Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi?

c. Bagaimana pengendalian risiko pada proyek pembangunan Jaringan

Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini, adalah :

a. Mengidentifikasi risiko yang dapat terjadi pada proyek pembangunan

Jaringan Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi.

b. Mengukur nilai risiko pada proyek pembangunan Jaringan Transmisi

Tegangan Ekstra Tinggi.

Universitas Sumatera Utara

Page 13: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

4

c. Mengetahui pengendalian risiko pada proyek pembangunan Jaringan

Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi.

1.4 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini diambil batasan masalah sebagai berikut :

a. Penelitian ini dilakukan di Proyek Pembangunan Jaringan Transmisi

Tegangan Ekstra Tinggi 275 kV Galang-Simangkuk.

b. Responden penelitian ini adalah pihak kontraktor pada Proyek

Pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi 275 kV

Galang-Simangkuk.

c. Risiko yang ditinjau ialah risiko mengenai K3.

d. Pekerjaan yang ditinjau adalah pekerjaan pemasangan body tower (leg

tower, common body, dan cross arm) dan penarikan kabel transmisi.

e. Penelitian ini tidak memperhitungkan biaya.

f. Dasar penilaian tingkat risiko yang dipakai adalah AS/NZS 4360:2004.

1.5 Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat manfaat bagi penulis dan pelaku konstruksi.

Adapun manfaatnya adalah :

a. Bagi penulis, dapat mengetahui risiko-risiko yang dapat terjadi pada

proyek pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan Ekstra Tinggi 275

kV Galang-Simangkuk.

Universitas Sumatera Utara

Page 14: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

5

b. Bagi akademisi, dapat menjadi bahan bacaan dan referensi untuk

penulisan karya ilmiah yang berhubungan dengan pengendalian risiko

untuk pembangunan tower transmisi.

c. Bagi pelaku konstruksi, dapat menjadi bahan bacaan dan masukan

dalam mengendalikan risiko yang dapat terjadi guna mencapai zero

accident.

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan ini disusun dalam 5 (lima) bab dengan sistematika penulisan

sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah,

pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, serta

sistematika penulisan.

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab ini berisi dasar-dasar teori mengenai K3, kecelakaan kerja dan metode

yang digunakan untuk menjadi landasan pendukung penelitian.

Bab III Metodologi Penelitian

Bab ini berisi tentang penjabaran keseluruhan proses yang dilakukan mulai

dari teknik pengumpulan data primer dengan observasi dan wawancara

serta data sekunder.

Universitas Sumatera Utara

Page 15: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

6

Bab IV Pengolahan dan Analisa Data

Bab ini menyajikan tentang pengolahan dan analisa data-data yang telah

dikumpulkan mengenai risiko K3 pada pembangunan konstruksi tower

transmisi.

Bab V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dari penelitian yang dilakukan serta saran-saran

yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian.

1.7 Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian ini di bagi menjadi tiga bagian, yaitu :

a. Studi Literatur

Cara yang dipakai untuk menghimpun data-data atau sumber sumber

yang berhubungan dengan topik yang diangkat dalam suatu penelitian. Studi

literatur bisa didapat dari berbagai sumber, jurnal, buku dokumentasi, internet dan

pustaka. Dalam penelitian ini studi literatur yang dipakai ialah jurnal, peraturan

dan buku yang terkait.

b. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu data primer dan data

sekunder. Data primer ialah data yang didapat langsung melalui sumber utama

(orang pertama) sedangkan data sekunder adalah data yang didapat dari sumber

kedua (bukan orang pertama). Dalam hal ini data primer yang diperoleh adalah

observasi dan wawancara di lapangan serta menggunakan penyebaran kuesioner

Universitas Sumatera Utara

Page 16: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

7

yang diberikan kepada responden. Data sekunder yang dipakai adalah data kajian

studi literatur dan penelitian sejenis sebelumnya.

c. Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dilakukan berdasarkan tabel yang di dapat dari hasil

penyebaran kuesioner dengan menggunakan bantuan software SPSS. Data - data

yang didapat kemudian dianalisis menggunakan matriks risiko. Penilaian risiko

dilakukan dengan memperhitungkan nilai konsekuensi/dampak (consequence) dan

kemungkinan kejadian (likelihood).

Universitas Sumatera Utara

Page 17: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tempat Kerja

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.05/MEN/1996

tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja pasal 1 Tempat

Kerja adalah setiap ruangan atau lapangan, tertutup ataupun terbuka, bergerak

atau tetap, dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja

untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-sumber

bahaya baik di darat di dalam tanah di permukaan air di dalam air maupun di

udara yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

Secara rinci tempat kerja dijelaskan dalam ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 ayat

(2) Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja berlaku di mana :

a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat,

perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat

menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan;

b. dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut, atau

disimpan bahan atau barang yang: dapat meledak, mudah terbakar,

menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi;

c. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau

pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk

bangunan pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan

sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan.

Universitas Sumatera Utara

Page 18: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

9

d. dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau

pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk

bangunan pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan

sebagainya atau dimana dilakukan pekerjaan persiapan;

e. dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan: emas, perak, logam

atau bijih logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau mineral lainnya,

baik di permukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan;

f. dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di darat,

melalui terowongan, dipermukaan air, dalam air maupun di udara;

g. dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga,

dok, stasiun atau gudang;

h. dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam

air;

i. dilakukan pekerjaan dalam ketinggian di atas permukaan tanah atau

perairan;

j. dilakukan pekerjaan dibawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau

rendah;

k. dilakukan pekerjaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah,

kejatuhan, terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut

atau terpelanting;

l. dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur atau lubang;

m. terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap,

uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran;

n. dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah;

Universitas Sumatera Utara

Page 19: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

10

o. dilakukan pemancaran, penyiaran atau penerimaan radio, radar, televisi,

atau telepon;

p. dilakukan pendidikan, pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset

(penelitian) yang menggunakan alat teknis;

q. dibangkitkan, dirubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau

disalurkan listrik, gas, minyak atau air;

r. diputar film, pertunjukan sandiwara atau diselenggarakan rekreasi

lainnya yang memakai peralatan, instalasi listrik atau mekanik.

2.2 Tower Transmisi

Tower Transmisi, atau yang lebih dikenal dengan Saluran Udara Tegangan

Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) adalah

sarana yang terbentang di udara untuk menyalurkan tenaga listrik dari Pusat

Pembangkit ke Gardu Induk (GI) / Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET)

atau dari GI / GITET ke GI /GITET lainnya yang disalurkan melalui konduktor

yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui insulator-insulator dengan

sistem tegangan tinggi (30 kV, 70 k,150 kV) atau tegangan ekstra tinggi (275 kV,

500 kV). Tower transmisi terdiri dari pondasi dan stub, erection (pemasangan

badan tower), dan stringing (penarikan kawat konduktor, OPGW dan GSW).

2.3 Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti

ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus

diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang

lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/kecil. Wawancara dapat

dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur (Sugiyono, 2015).

Universitas Sumatera Utara

Page 20: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

11

a. Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data,

bila peneliti atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti tentang

informasi apa yang akan diperoleh.

b. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara bebas di mana peneliti

tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara

sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.

2.4 Bahaya

Menurut OHSAS 18001:2007 hazard (bahaya) adalah sumber, situasi atau

tindakan yang berpotensi menimbulkan kerugian dalam hal luka-luka atau

penyakit terhadap manusia ataupun kombinasi dari semuanya. Bahaya adalah

segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang berpotensi menimbulkan

kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan atau gangguan lainnya. Oleh

karena itu, diperlukan pengendalian yang tepat agar bahaya tersebut tidak

menimbulkan akibat yang merugikan. Bahaya merupakan sifat yang melekat dan

menjadi bagian dari suatu zat, sistem, kondisi atau peralatan.

2.4.1 Pengelompokan Bahaya

Bahaya keselamatan kerja merupakan bahaya yang berdampak pada

timbulnya kecelakaan kerja yang dapat menyebabkan luka, cacat hingga

mengakibatkan kematian serta kerusakaan properti. Jenis - jenis bahaya dapat

dikelompokkan menjadi (Ramli, 2010:66) :

Universitas Sumatera Utara

Page 21: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

12

a. Bahaya mekanis

Sumber bahaya yang berasal dari benda bergerak atau peralatan

mekanis baik secara manual maupun dengan penggerak. Bagian yang

bergerak pada mesin mengandung bahaya seperti gerakan mengebor,

memotong, menempa, menjepit, menekan dan bentuk gerakan lainnya.

Gerakan ini dapat menimbulkan cidera atau kerusakan seperti

terpeleset, tersayat, terpotong, terjatuh dan terjepit.

b. Bahaya Listrik

Sumber bahaya yang berasal dari energi listrik yang dapat

mengakibatkan bahaya seperti kebakaran, sengatan listrik dan

hubungan singkat (short circuit).

c. Bahaya Kimiawi

Bahan kimia mengandung berbagai potensi bahaya sesuai dengan sifat

dan kandungannya. Beberapa bahaya yang diakibatkan oleh bahan

bahan kimia seperti keracunan, iritasi, kebakaran dan peledakan, seta

polusi dan pencemaran lingkungan.

d. Bahaya Fisis

Bahaya yang berasal dari faktor fisis antara lain kebisingan, tekanan,

getaran, suhu panas atau dingin, cahaya atau penerangan, dan radiasi

dari bahan radioaktif.

e. Bahaya Biologis

Di berbagai lingkungan kerja terdapat bahaya yang bersumber dari

unsur biologis seperti flora dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja

atau berasal dari aktivitas kerja. Potensi bahaya ini ditemukan dalam

Universitas Sumatera Utara

Page 22: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

13

industri makanan, farmasi, pertanian dan kimia, pertambangan, minyak

dan gas bumi.

2.5 Risiko

Definisi risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah

akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu

perbuatan atau tindakan. Sedangkan menurut AS/NZS 4360:2004, risiko adalah

peluang terjadinya sesuatu yang akan mempunyai dampak terhadap sasaran,

diukur dengan hukum sebab akibat. Risiko diukur berdasarkan nilai likelihood dan

consequence. Konsekuensi atau dampak hanya akan terjadi bila ada bahaya dan

kontak antara manusia dengan peralatan ataupun material yang terlibat dalam

suatu interaksi. Formula yang secara umum digunakan dalam melakukan

perhitungan risiko adalah :

Risk = Likelihood x Consequence

Dalam aspek K3 risiko biasanya bersifat negatif seperti cedera, kerusakan

atau gangguan operasi. Risiko yang bersifat negatif harus dihindarkan atau

ditekan seminimal mungkin (Ramli, 2010).

2.5.1 Jenis – Jenis Risiko

Menurut Ramli Soehatman (2010) risiko yang dihadapi oleh suatu

organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam

maupun dari luar. Risiko dalam organisasi sangatlah beragam sesuai dengan sifat

lingkup, skala, dan jenis kegiatannya antara lain :

1) Risiko Finansial

2) Risiko Operasional

3) Risiko Alam

Universitas Sumatera Utara

Page 23: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

14

4) Risiko Pasar

5) Risiko Sosial

6) Risiko Keamanan

2.5.1.1 Risiko Finansial

Setiap organisasi atau perusahaan mempunyai risiko finansial yang

berkaitan dengan aspek keuangan. Ada berbagai risiko finansial seperti piutang

macet, utang di bank yang harus segera dilunasi, perubahan suku bunga, nilai

tukar mata uang dan lain-lain. Risiko keuangan ini harus dikelola dengan baik

agar organisasi tidak mengalami kerugian atau bahkan sampai gulung tikar.

2.5.1.2 Risiko Operasional

Risiko dapat terjadi dari kegiatan operasional yang berkaitan dengan

bagaimana cara mengelola perusahaan yang baik dan benar. Perusahaan yang

memiliki sistem manajemen yang kurang baik mempunyai risiko untuk

mengalami kerugian. Risiko operasional suatu perusahaan berbeda dengan

perusahaan lainnya tergantung dari jenis, bentuk dan skala bisnis masing-masing.

Yang termasuk kedalam risiko operasional antara lain yaitu :

a. Ketenagakerjaan

Tenaga kerja merupakan aset paling berharga dan menentukan dalam

operasi perusahaan. Pada dasarnya perusahaan telah mengambil

risiko yang berkaitan dengan ketenagakerjaan ketika perusahaan

memutuskan untuk menerima seseorang bekerja. Perusahaan harus

membayar gaji yang memadai bagi pekerja serta memberikan

jaminan sosial yang diwajibkan menurut perundang - undangan.

Disamping itu perusahaan juga harus memberikan perlindungan

Universitas Sumatera Utara

Page 24: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

15

keselamatan dan kesehatan kerja serta membayar tunjangan jika

tenaga kerja mendapat kecelakaan.

Tenaga kerja merupakan salah satu unsur yang dapat memicu atau

menyebabkan terjadinya kecelakaan atau kegagalan dalam proses

produksi. Mempekerjakan pekerja yang tidak terampil, kurang

pengetahuan, sembrono atau lalai dapat menimbulkan risiko yang

serius terhadap keselamatan.

b. Teknologi

Aspek teknologi disamping bermanfaat untuk meningkatkan

produktivitas juga mengandung berbagai risiko. Penggunaan mesin

modern misalnya dapat menimbulkan risiko kecelakaan dan

pengurangan tenaga kerja. Teknologi juga bersifat dinamis dan terus

berkembang dengan inovasi baru. Perusahaan yang buta terhadap

perkembangan teknologi akan mengalami kemunduran dan tidak

mampu bersaing dengan perusahaan lain yang menggunakan

teknologi yang lebih baik.

Penerapan teknologi yang lebih baik oleh pesaing akan

mempengaruhi produk, biaya dan kualitas yang dihasilkan sehingga

dapat menjadi ancaman bagi perusahaan. Oleh karena itu, pemilihan

dan penggunaan teknologi harus mempertimbangkan dampak risiko

yang ditimbulkan.

c. Risiko K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

Risiko K3 adalah risiko yang berkaitan dengan sumber bahaya yang

timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut aspek manusia,

Universitas Sumatera Utara

Page 25: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

16

peralatan, material dan lingkungan kerja. Umumnya risiko K3

dikonotasikan sebagai hal yang negatif seperti :

Kecelakaan terhadap tenaga kerja dan aset perusahaan

Kebakaran dan peledakan

Penyakit akibat kerja

Kerusakan sarana produksi

Gangguan operasi

Salah satu upaya untuk mengendalikan risiko K3 adalah dengan

menerapkan sistem manajemen K3 dengan salah satu aspeknya melalui

identifikasi bahaya dan penilaian risiko yang diimplementasikan di berbagai

perusahaan.

2.5.1.3 Risiko Alam

Bencana alam merupakan risiko yang dihadapi oleh siapa saja dan

dapat terjadi setiap saat. Bencana alam dapat berupa gempa bumi, badai atau

angin topan, tsunami, tanah longsor, banjir, dan letusan gunung berapi. Selain

memakan korban jiwa, bencana alam juga mengakibatkan kerugian materil yang

sangat besar yang memerlukan waktu pemulihan yang lama.

Di Indonesia, bencana alam merupakan ancaman serius bagi setiap

usaha dan kegiatan. Indonesia berada di pertemuan berbagai lempeng besar, yaitu

lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Kondisi ini tentu saja meningkatkan

risiko terjadi nya gempa, tsunami dan juga longsor. Indonesia berada diantara dua

benua dan dua lautan luas yang mempengaruhi pola iklim dan cuaca. Indonesia

juga memiliki banyak gunung yang aktif. Oleh karena itu, faktor bencana alam

harus dipertimbangkan sebagai risiko yang dapat terjadi setiap saat.

Universitas Sumatera Utara

Page 26: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

17

2.5.1.4 Risiko Pasar

Risiko pasar dapat terjadi terhadap perusahaan yang produknya

dikonsumsi atau digunakan secara luas di tengah masyarakat. Setiap perusahaan

terikat dengan tanggung jawab dan tanggung gugat terhadap produk dan jasa yang

dihasilkannya.

Berkaitan dengan hal ini berbagai negara memiliki perundangan yang

mengatur hak dan kewajiban penyedia jasa dan produk. Perusahaan wajib

menjamin bahwa produk barang atau jasa yang diberikannya aman bagi konsumen

atau pengguna.

Risiko pasar dapat berupa penolakan terhadap produk atau mungkin

tuntutan hukum dari masyarakat konsumen atau larangan beredar yang

dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang. Risiko lainnya datang dari pesaing,

dikarenakan dalam era pasar terbuka konsumen memiliki kebebasan untuk

memilih produk atau jasa yang disukainya dan sangat kritis terhadap mutu, harga,

layanan dan jaminan keselamatannya. Setiap produk atau jasa yang bersaing di

pasar bebas menghadapi risiko untuk ditinggalkan konsumen.

2.5.1.5 Risiko Sosial

Risiko sosial adalah risiko yang timbul atau berkaitan dengan

lingkungan sosial dimana perusahaan beroperasi. Aspek sosial budaya seperti

tingkat kesejahteraan, latar belakang budaya dan pendidikan dapat menimbulkan

risiko baik yang positif maupun negatif. Budaya masyarakat yang tidak peduli

terhadap aspek keselamatan akan mempengaruhi keselamatan operasi perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

Page 27: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

18

2.5.1.6 Risiko Keamanan

Masalah keamanan dapat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha

atau kegiatan suatu perusahaan seperti data informasi, data keuangan, formula

produk, dan lain sebagainya. Di daerah yang mengalami konflik, gangguan

keamanan dapat menghambat atau bahkan menghentikan kegiatan perusahaan.

Risiko keamanan dapat dikurangi dengan menerapkan sistem manajemen

keamanan dengan pendekatan manajemen risiko. Manajemen keamanan dimulai

dengan melakukan identifikasi semua potensi risiko keamanan yang ada dalam

kegiatan bisnis, melakukan penilaian risiko dan selanjutnya melakukan langkah

pencegahan dan pengamanannya.

2.6 Kecelakaan Kerja

Kecelakaan adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan.

Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan berhubung dengan hubungan kerja

pada perusahaan, dalam arti kecelakaan terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau

pada waktu melaksanakan pekerjaan (Suma’mur, 1995). Sedangkan menurut

Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) nomor 3 Tahun 1994 tentang

Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian

Lepas, Tenaga Kerja Borongan dan Tenaga Kerja Kontrak, kecelakaan kerja

adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk

penyakit yang timbul karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang

terjadi dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke

rumah melalui jalan biasa atau wajar dilalui.

Universitas Sumatera Utara

Page 28: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

19

Kecelakaan menyebabkan 5 jenis kerugian, yaitu:

1. Kerusakan.

2. Kekacauan organisasi.

3. Keluhan dan kesedihan.

4. Kelainan dan cacat.

5. Kematian.

2.6.1 Teori Kecelakaan Kerja

Ada banyak teori mengenai kecelakaan kerja. Berikut ini adalah beberapa

teori mengenai kecelakaan kerja.

a. Teori Domino

Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Herbert William Heinrich

pada tahun 1931. Heinrich mengatakan bahwa kecelakaan terjadi

disebabkan oleh 88 % unsafe acts (perilaku tidak aman), 10 % unsafe

conditions (kondisi tidak aman) dan 2 % unpreventable (tidak dapat

dicegah). Adapun 5 faktor penyebab kecelakaan adalah : lingkungan

sosial dan keturunan, kesalahan manusia, perilaku dan/atau kondisi

tidak aman, kecelakaan, dan cedera atau kerugian.

Kelima faktor tersebut tersusun layaknya kartu domino yang

diberdirikan. Jika satu kartu jatuh, maka kartu ini akan menimpa kartu

yang lain hingga semua kartu domino akan jatuh. Untuk mencegah

kecelakaan, dapat dilakukan dengan menghilangkan kartu domino yang

ketiga (unsafe act dan unsafe condition). Jika kartu nomor 3 sudah tidak

ada lagi maka seandainya kartu nomor 1 dan 2 jatuh, hal ini tidak akan

menyebabkan jatuhnya semua kartu karena sudah ada jarak antara kartu

Universitas Sumatera Utara

Page 29: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

20

nomor 2 dan nomor 4 sehingga dapat mencegah terjadi nya kecelakaan

dan cedera.

b. Teori Multiple Causation

Teori ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kemungkinan ada lebih

dari satu penyebab terjadinya kecelakaan. Penyebab ini mewakili

perbuatan, kondisi atau situasi yang tidak aman. Kemungkinan –

kemungkinan penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut perlu di

teliti.

c. Teori Gordon

Menurut Gordon, kecelakaan merupakan akibat dari interaksi antara

korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan, dan lingkungan

yang kompleks, yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan

mempertimbangkan salah satu dari faktor – faktor yang terlibat. Untuk

lebih memahami mengenai penyebab – penyebab terjadinya kecelakaan

maka karakteristik dari korban kecelakaan, perantara terjadinya

kecelakaan, dan lingkungan yang mendukung harus dapat diketahui

secara detail.

d. Teori Domino Terbaru

Teori ini mengatakan bahwa penyebab dasar terjadinya kecelakaan

kerja adalah ketimpangan manajemen. Teori ini merupakan

pengembangan teori domino (Heinrich) oleh Widnerdan Bird dan

Loftus untuk memperlihatkan pengaruh manajemen dalam

mengakibatkan terjadinya kecelakaan.

Universitas Sumatera Utara

Page 30: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

21

e. Teori Reason

Reason (1995-1997) menggambarkan kecelakaan kerja terjadi akibat

terdapat “lubang” dalam sistem pertahanan. Sistem pertahanan ini dapat

berupa pelatihan-pelatihan, prosedur atau peraturan mengenai

keselamatan kerja.

f. Teori Frank E. Bird Petersen

Bird mengadakan modifikasi dengan teori domino (Heinrich) dengan

menggunakan teori manajemen, yaitu : manajemen kurang kontrol,

sumber penyebab utama, gejala penyebab langsung (praktik dibawah

standar), kontak peristiwa (kondisi dibawah standar), dan kerugian

gangguan (tubuh maupun harta benda).

2.7 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Di dalam OHSAS 18001:2007 dijelaskan bahwa keselamatan dan

kesehatan kerja merupakan kondisi – kondisi dan faktor – faktor yang berdampak

pada kesehatan dan keselamatan karyawan atau pekerja lain (termasuk pekerja

kontrak dan personel kontraktor, atau orang lain di tempat kerja).

2.7.1 Keselamatan Kerja

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan mesin,

peralatan kerja, bahan dan proses pengolahannya, lingkungan kerja serta prosedur

atau tata cara kerja (Suma’mur, 1995). Keselamatan kerja menyangkut segenap

proses produksi dan distribusi, baik barang maupun jasa. Salah satu aspek penting

sasaran keselamatan kerja mengingat risiko bahayanya adalah penerapan

teknologi terutama teknologi yang lebih maju. Keselamatan kerja adalah tugas

semua pekerja yang bekerja pada perusahaan. Keselamatan kerja adalah dari, oleh,

Universitas Sumatera Utara

Page 31: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

22

dan untuk setiap tenaga kerja serta orang lainnya dan juga masayarakat pada

umumnya.

Tujuan dari keselamatan kerja adalah sebagai berikut (Suma’mur, 1995) :

a. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melaksanakan

pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta

produktivitas nasional.

b. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.

c. Sumber produksi dipelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

2.7.2 Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja adalah spesialisasi kesehatan atau spesialisasi di bidang

kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja atau pekerja

memperoleh derajat kesehatan sebaik-baiknya, baik fisik, mental, emosional,

maupun sosial dengan usaha - usaha pencegahan terhadap penyakit - penyakit atau

gangguan – gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor - faktor pekerjaan dan

lingkungan kerja, serta terhadap penyakit pada umumnya. Ada dua kategori

penyakit yang umum diderita oleh tenaga kerja yaitu:

a. Penyakit umum

Penyakit yang mungkin diderita oleh setiap orang baik yang bekerja,

yang masih sekolah atau menganggur. Pencegahan penyakit ini

merupakan tanggung jawab seluruh anggota masyarakat.

b. Penyakit akibat kerja

Penyakit ini dapat timbul ketika seseorang melakukan pekerjaannya.

Pencegahannya dapat dimulai dengan pengendalian secermat mungkin

terhadap potensi bahaya kecelakaan kerja yang mungkin terjadi pada

Universitas Sumatera Utara

Page 32: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

23

saat melakukan pekerjaan misalnya memperhatikan prosedur kerja,

kondisi lingkungan kerja, dan mentaati peraturan - peraturan yang

berlaku misalnya menggunakan alat pelindung diri pada saat melakukan

pekerjaan.

2.8 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

2.8.1 Definisi

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: 05/MEN/1996 Tentang

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bab 1 Pasal 1, Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem

manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan,

pelaksanaan, tanggung jawab, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan

bagi pengembangan penerapan, pencapaian, dan pemeliharaan kebijakan

keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan

dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien, dan

produktif. Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan

Kerja adalah menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan kerja di tempat

kerja dengan melibatkan tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja, serta unsur

manajemen yang terintegrasi guna mengurangi dan mencegah kecelakaan dan

penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan

produktif.

2.8.2 Prinsip Dasar SMK3

Sesuai dengan Bab III pasal 3 ayat 1, Peraturan Menteri Tenaga Kerja

Nomor: PER.05/MEN/1996 tentang penerapan SMK3 diwajibkan kepada

perusahaan dengan syarat setiap perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja

Universitas Sumatera Utara

Page 33: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

24

sebanyak 100 orang atau lebih dan atau mengandung potensi bahaya yang

ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat

mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan

penyakit akibat kerja wajib menerapkan Sistem Manajemen K3. Sistem

Manajemen K3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilaksanakan oleh

pengurus, pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan.

Ketentuan – ketentuan yang wajib dilasanakan oleh perusahaan

sebagaimana diatur dalam pasal 4 adalah:

a. Menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan menjamin

komitmen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3;

b. Merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan

keselamatan dan kesehatan kerja;

c. Menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif

dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang

diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan

dan kesehatan kerja;

d. Mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan

kesehatan kerja serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan;

e. Meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan Sistem

Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan

kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

Sedangkan pada undang-undang No.13 tahun 2003 terdapat prinsip dasar

SMK3 yang diatur dalam pasal 87 tentang ketenagakerjaan yang diantaranya

berisi:

Universitas Sumatera Utara

Page 34: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

25

a. Setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen keselamatan

dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen

perusahaan.

b. Ketentuan mengenai penerapan sistem manjemen keselamatan dan

kesehatan kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan

Peraturan Pemerintah.

Setelah peraturan SMK3 dalam undang-undang, maka dikeluarkan

peraturan pelaksanaan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja PER.05/MEN/1996

tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Peraturan

pelaksanaan ini ditujukan untuk kegiatan industri yang terdiri dari ayat (b), (c) dan

(d) sebagai berikut:

a. Ayat (b) menyatakan bahwa untuk menjamin keselamatan dan

kesehatan tenaga kerja maupun orang lain yang berada di tempat kerja,

serta sumber produksi, proses produksi dan lingkungan kerja dalam

keadaan aman, maka perlu penerapan Sistem Manajemen Keselamatan

dan Kesehatan Kerja.

b. Ayat (c) menyatakan bahwa dengan penerapan Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja dapat mengantisipasi hambatan

teknis dalam era globalisasi perdagangan.

c. Ayat (d) menyatakan bahwa untuk Sistem Manajemen Keselamatan dan

Kesehatan Kerja perlu ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

2.8.3 OHSAS 18001

OHSAS – Occupational Health and Safety Assesment Series - 18001

adalah standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan dan

Universitas Sumatera Utara

Page 35: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

26

Keselamatan Kerja atau biasa disebut Manajemen K3. Tujuan dari OHSAS 18001

ini tidak jauh berbeda dengan tujuan Sistem Manajemen K3 Permenaker, yaitu

perlindungan terhadap para pekerja dari hal - hal yang tidak diinginkan yg timbul

dari lingkungan kerja pekerjaan itu sendiri yang berdampak terhadap kesehatan

dan keselamatan para pekerja dan tidak menimbulkan kerugian bagi perusahaan

dan pekerja itu sendiri.

2.9 Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control

Organisasi harus menetapkan prosedur mengenai Identifikasi Bahaya

(Hazard Identification), Penilaian Risiko (Risk Assessment) dan menentukan

Pengendaliannya (Risk Control) atau disingkat HIRARC. Keseluruhan proses ini

disebut juga manajemen risiko (risk management). HIRARC merupakan elemen

pokok dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan

langsung dengan upaya pencegahan dan pengendalian bahaya. Di samping itu,

HIRARC juga merupakan bagian dari sistem manajemen risiko (risk

management). Menurut OHSAS 18001, HIRARC harus dilakukan di seluruh

aktifitas organisasi untuk menentukan kegiatan organisasi yang mengandung

potensi bahaya dan menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan

kesehatan kerja.

Selanjutnya hasil HIRARC menjadi masukan untuk penyusunan objektif

dan target K3 yang akan dicapai, yang dituangkan dalam program kerja. Dari alur

di bawah terlihat bahwa HIRARC merupakan titik pangkal dari pengelolaan K3.

Jika HIRARC tidak dilakukan dengan baik maka penerapan K3 akan

salah arah (misguided), acak atau virtual karena tidak mampu menangani isu

pokok yang ada dalam organisasi.

Universitas Sumatera Utara

Page 36: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

27

Gambar 2.1 Proses Sistem Manajemen K3

( Sumber : Soehatman Ramli Sistem Manajemen Keselamatan &

Kesehatan Kerja OHSAS 18001)

Elemen – elemen lainnya seperti pelatihan, dokumentasi, komunikasi,

pengukuran, pengendalian rekaman dan lainnya adalah untuk menopang atau

mengacu kepada program pengendalian risiko. Jangan terjadi sebaliknya, dimana

organisasi hanya fokus kepada elemen – elemen pendukung, lengkap dengan

prosedur dan dokumentasinya, namun mengabaikan proses HIRARC, sehingga

kecelakaan masih akan dapat terjadi.

2.10 Manajemen Risiko

Manajemen risiko K3 telah berkembang sejak lama. Pada tahun 1970

British Safety Council di Inggris mendirikan Institute of Risk Management untuk

mengembangkan dan melakukan pembinaan terhadap ahli - ahli K3 mangenai

manajemen risiko. Sebelumnya manajemen risiko K3 telah diaplikasikan di

lingkungan asuransi untuk menentukan tingkat tanggungan dan premi asuransi.

Karena itu, lembaga memiliki hubungan dengan perusahaan penilai risiko (Risk

Universitas Sumatera Utara

Page 37: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

28

Survey) yang melakukan analisa risiko terhadap perusahaan - perusahaan yang

akan mempertanggungkan asetnya (Soehatman, 2010:42).

Manajemen risiko K3 sering dimasukkan ke dalam risiko operasional

(Operational risk) karena dianggap sebagai bagian dari kegiatan operasi

perusahaan. Pandangan lain menilai bahwa masalah K3 bersifat multi disiplin dan

menyangkut berbagai aspek, bukan hanya operasional, sehingga risiko yang

berkaitan dengan K3 dikelompokkan tersendiri dalam manajemen Risiko K3

(Occupational Health and Safety Risk Management). Manajemen Risiko sangat

erat hubungannya dengan K3. Timbulnya aspek K3 disebabkan karena adanya

risiko yang mengancam keselamatan pekerja, sarana dan lingkungan kerja

sehingga harus dikelola dengan baik.

Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya mengelola risiko K3 untuk

mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan secara komprehensif,

terencana dan terstruktur dalam suatu kesisteman yang baik. Manajemen risiko

K3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada di tempat kerja yang dapat

menimbulkan kerugian bagi perusahaan (Ramli, 2010:39).

Manajemen Risiko adalah proses manajemen terhadap risiko yang dimulai

dari kegiatan mengidentifikasi bahaya, menilai tingkat risiko dan

mengendalikan risiko (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Pasal 1 No. 05 Tahun

2014). Sedangkan Menurut AS/NZS 4360, “Risk management is an iterative

process consisting of well-defined steps which, taken in sequence, support better

decision-making by contributing a greater insight into risks and their impacts.”

Manajemen risiko adalah suatu proses yang terdiri dari langkah-langkah yang

telah dirumuskan dengan baik, mempunyai urutan (langkah-langkah) dan

Universitas Sumatera Utara

Page 38: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

29

membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dengan melihat risiko

dan dampak yang dapat ditimbulkan.

Menurut Soehatman Ramli (2010:46), menerangkan bahwa manajemen

risiko merupakan bagian integral dari sistem manajemen K3. Implementasi K3

dimulai dengan perencanaan yang baik meliputi identifikasi risiko, penilaian

risiko dan pengendalian risiko.

2.10.1 Proses Manajemen Risiko

Proses pada manajemen risiko harus dilakukan secara komprehensif dan

merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses. Proses

manajemen risiko sebagaimana yang terdapat di dalam Risk Management

Standard AS/NZS 4360 (Ramli, 2010) dapat dilihat pada gambar 2.2 :

Gambar 2.2 Bagan Proses Manajemen Risiko

( Sumber : Soehatman Ramli Sistem Manajemen Keselamatan &

Kesehatan Kerja OHSAS 18001)

Kom

unik

asi

dan

Konsu

ltas

i

Penetapan

Konteks

Penetapan Konteks

Identifikasi Risiko

Analisa Risiko

Evaluasi Risiko

Pengendalian Risiko

Monit

or

dan

Rev

iew

Universitas Sumatera Utara

Page 39: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

30

2.10.1.1 Menentukan Konteks

Menentukan konteks diperlukan karena manajemen risiko sangat luas

dan bermacam aplikasi nya salah satu diantaranya adalah manajemen risiko K3.

Untuk manajemen risiko K3 sendiri juga diperlukan penentuan konteks yang akan

dikembangkan misalnya menyangkut risiko kesehatan kerja, kebakaran, dan

lainnya. Penentuan konteks ini diselaraskan dengan visi dan misi organisasi serta

sasaran yang ingin dicapai. Lebih lanjut ditetapkan pula kriteria risiko yang

sesuai bagi organisasi. Setelah menetapkan konteks manajemen risiko, langkah

berikutnya adalah melakukan identifikasi bahaya, analisa dan evaluasi risiko serta

menentukan langkah atau strategi pengendaliannya (Ramli, 2010:82).

2.10.1.2 Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya merupakan landasan dari program pencegahan

kecelakaan atau pengendalian risiko. Tanpa mengenal bahaya, maka risiko tidak

dapat ditentukan sehingga upaya pencegahan dan pengendalian risiko tidak dapat

dijalankan. Identifikasi bahaya memberikan berbagai manfaat antara lain :

a. Mengurangi peluang kecelakaan

Identifikasi bahaya dapat mengurangi peluang terjadinya kecelakaan,

karen identifikasi bahaya berkaitan dengan faktor penyebab

kecelakaan. Dengan melakukan identifikasi bahaya maka berbagai

sumber bahaya yang merupakan pemicu kecelakaan daoat diketahui

dan kemudian dihilangkan sehingga kemungkinan kecelakaan dapat

ditekan.

Universitas Sumatera Utara

Page 40: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

31

b. Untuk memberikan pemahaman bagi semua pihak mengenai potensi

bahaya dari aktivitas perusahaan sehingga dapat meningkatkan

kewaspadaan dalam menjalankan operasi perusahaan.

c. Sebagai landasan sekaligus masukan untuk menentukan strategi

pencegahan dan pengamanan yang tepat dan efektif.

d. Memberikan informasi yang terdokumentasi mengenai sumber

bahaya dalam perusahaan kepada semua pihak khususnya pemangku

kepentingan.

Beberapa hal yang harus dilakukan dalam identifikasi bahaya antara

lain yaitu :

1) Menyusun daftar risiko secara komprehensif dari kejadian-kejadian

yang dapat berdampak pada setiap elemen kegiatan.

2) Pencatatan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi risiko yang

ada secara rinci sehingga menggambarkan proses yang terjadi.

3) Menyusun skenario proses kejadian yang akan menimbulkan risiko

berdasarkan informasi gambaran hasil identifikasi masalah/bahaya.

Metode dan teknik yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko

antara lain yaitu (Ramli, 2010) :

a. Data kecelakaan

Data kecelakaan adalah salah satu sumber informasi mengenai

adanya bahaya di tempat kerja dan merupakan sumber informasi

yang paling mendasar. Setiap kecelakaan yang terjadi selalu

mempunyai sebab yang didasari adanya kondisi tidak aman baik

menyangkut manusia, peralatan atau lingkungan kerja. Karena itu

Universitas Sumatera Utara

Page 41: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

32

dalam setiap kecelakaan, bagaimanapun kecilnya akan ditemukan

adanya sumber bahaya atau risiko.

b. Daftar periksa

Metode ini sangat mudah dan sederhana untuk dilakukan yaitu

dengan membuat daftar pemeriksaan bahaya ditempat kerja. Dalam

penerapan metode ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan

yaitu :

Metode ini bersifat spesifik untuk peralatan atau tempat kerja

tertentu. Misalnya daftar periksa untuk gudang akan berbeda

dengan daftar periksa untuk unit proses.

Daftar periksa harus dikembangkan oleh orang yang memahami

atau mengenal tempat kerja atau peralatan. Dengan demikian

daftar periksa dapat menjangkau setiap kemungkinan bahaya

yang ada.

Daftar periksa harus dievaluasi secara berkala, terutama jika

ditemukan ada bahaya baru, atau penambahan dan perubahan

sarana produksi, sistem atau proses.

Pemeriksaan bahaya dilakukan oleh mereka yang mengenal

dengan baik kondisi lingkungan kerjanya. Semakin dalam

pemahamannya, maka semakin rinci identifikasi bahaya yang

dapat dilakukan. Oleh karena itu, pengembangan daftar periksa

perlu melibatkan para pekerja setempat.

Universitas Sumatera Utara

Page 42: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

33

c. Brainstorming

Sumber informasi tentang bahaya diperoleh dari semua pihak.

Semakin banyak sumber informasi yang digunakan maka akan

semakin luas, dalam dan rinci informasi yang akan diperoleh. Oleh

karena itu, salah satu teknik yang sederhana yang dapat digunakan

untuk mengidentifikasi bahaya adalah dengan teknik brainstorming.

Melalui diskusi dan pertemuan dari berbagai pihak dan individu

yang berbeda untuk menggali potensi bahaya yang ada, atau

diketahui oleh masing-masing anggota kelompok.

d. What-if

Teknik ini bersifat brainstorming, namun semua anggota tim

dipandu dengan kata “what-if”. Tujuan dari teknik ini adalah untuk

mengidentifikasi kemungkinan adanya kejadian yang tidak

diinginkan dan menimbulkan suatu konsekuensi yang serius. Melalui

teknik ini dapat dilakukan penilaian terhadap kemungkinan

terjadinya penyimpangan rancang bangun, konstruksi atau

modifikasi dari yang diinginkan.

e. HAZOPS

HAZOPS (Hazard and Operability Study) digunakan untuk

mengidentifikasi bahaya yang ada pada proses operasional. Teknik

HAZOPS merupakan sistem yang sangat terstruktur dan sistematis

sehingga dapat menghasilkan kajian yang komprehensif. Kajian

HAZOPS juga bersifat multi disiplin sehingga hasil kajian akan lebih

Universitas Sumatera Utara

Page 43: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

34

mendalam dan rinci karena telah ditinjau dari berbagai latar belakang

disiplin dan keahlian.

f. FMEA

Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) merupakan metode

identifikasi risiko dengan menganalisis berbagai pertimbangan dari

kesalahan suatu sistem atau peralatan yang digunakan dan kemudian

mengevaluasi dampak dari kesalahan tersebut. FMEA membantu

memilih langkah perbaikan untuk mengurangi dampak kumulatif

dari konsekuensi (risk) dan kegagalan sistem (fault).

g. FTA

Fault Tree Analysis (FTA) menggunakan metode analisis yang

bersifat deduktif. Dimulai dengan menetapkan kejadian puncak (top

event) yang mungkin terjadi dalam sistem atau proses. Selanjutnya

semua kejadian yang dapat menimbulkan akibat dari kejadian

puncak tersebut diidentifikasi dalam bentuk pohon logika.

h. JSA

Salah satu teknik analisa bahaya yang sangat populer dan banyak

digunakan di lingkungan kerja adalah Job Safety Analysis (JSA).

Teknik ini bermanfaat untuk mengidentifikasi dan menganalisa

bahaya dalam suatu pekerjaan (job) seperti mengganti bola lampu,

memasang AC, melepas saringan, mengganti ban serep dan lainnya.

Hal ini sejalan dengan pendekatan sebab kecelakaan yang bermula

dari adanya kondisi atau tindakan tidak aman saat melakukan suatu

aktivitas. Karena itu dengan melakukan identifikasi bahaya pada

Universitas Sumatera Utara

Page 44: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

35

setiap jenis pekerjaan dapat dilakukan langkah pencegahan yang

tepat dan efektif.

Proses identifikasi risiko yaitu sebagai berikut :

1) Tentukan pekerjaan yang akan identifikasi.

2) Pecahkan pekerjaan menjadi langkah-langkah kerja

Menetapkan langkah-langkah kerja sederhana yang akan

dilaksanakan.

3) Tentukan tahap kerja kritis

Tahap kerja kritis adalah tahap kerja dimana pada tahap tersebut

dinilai memiliki potensi bahaya yang berdampak pada keselamatan

dan kesehatan kerja.

4) Kenali sumber bahaya

Kemudian kenali sumber bahaya apa saja yang terkandung pada

setiap tahapan tersebut, dilihat dari bahaya fisik, mekanik, peralatan

yang digunakan, lingkungan kerja, dan cara kerja.

5) Kemudian catat dalam tabel, semua keterangan yang didapat.

2.10.1.3 Analisis Risiko

Analisis risiko dimaksudkan untuk menentukan besarnya suatu risiko

dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang

ditimbulkannya. Berdasarkan hasil analisa dapat ditentukan peringkat risiko

sehingga dapat dilakukan pemilahan risiko yang memiliki dampak besar terhadap

perusahaan dan risiko yang ringan atau dapat diabaikan. Hasil analisa risiko

dievaluasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan atau standar

dan norma yang berlaku untuk menentukan apakah risiko tersebut dapat diterima

Universitas Sumatera Utara

Page 45: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

36

atau tidak. Jika risiko dinilai tidak dapat diterima harus dikelola atau ditangani

dengan baik (Ramli, 2010:80).

Analisis risiko merupakan kegiatan menganalisa suatu risiko dengan

menentukan besarnya kemungkinan terjadi dan tingkat dari penerimaan akibat

suatu risiko. Tujuannya adalah untuk membedakan antara risiko kecil, risiko

sedang, dengan risiko besar dan menyediakan data untuk membantu evaluasi dan

penanganan risiko (AZ/NZS 4360).

Faktor yang mempengaruhi dalam analisis risiko adalah :

a. Sumber risiko

Sumber risiko merupakan asal atau timbulnya risiko yang dapat berupa

material, yang digunakan dalam proses kerja, peralatan kerja, kondisi

area kerja dan perilaku dari pekerja.

b. Likelihood

Likelihood merupakan besaran kemungkinan timbulnya risiko.

Ditentukan dengan menganalisis frekuensi bahaya terhadap para

pekerja, jumlah dan karakteristik bahaya yang terpapar pada pekerja,

jumlah dan karakteristik pekerja yang terkena dampak bahaya, kondisi

area kerja, kondisi peralatan kerja, serta efektifitas tindakan

pengendalian bahaya yang telah dilakukan sebelumnya.

Faktor kemungkinan juga berkaitan dengan faktor perilaku pekerja

dikarenakan kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap bahaya

dan sumber risiko yang ada dalam proses kerja dan di tempat kerjanya

atau stres yang dialami pekerja yang berpengaruh dalam penurunan

konsentrasi pekerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 46: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

37

c. Konsekuensi

Konsekuensi merupakan besaran dampak yang ditimbulkan dari risiko.

Ditentukan dengan analisis atau kalkulasi statistik berdasarkan data-

data yang terkait atau melakukan estimasi subjektif berdasarkan

pengalaman terdahulu.

Menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan atau likelihood diberi

rentang antara risiko yang jarang terjadi (rare) sampai dengan risiko yang dapat

terjadi setiap saat (almost certain). Sedangkan untuk dampak atau consequence

dikategorikan antara kejadian yang tidak menimbulkan cedera atau kerugian kecil

sampai dampak yang paling parah yaitu menimbulkan kejadian fatal (meninggal

dunia) atau kerusakan besar terhadap aset perusahaan.

Adapun analisis yang dipakai adalah analisis risiko kualitatif. Metode

kualitatif ini pada umumnya menggunakan tabulasi sifat karakteristik penelitian

melalui skala deskriptif seperti : tinggi, sedang, atau rendah. Hasil dari analisis

kualitatif berbentuk matriks risiko dengan dua parameter, yaitu kemungkinan

kejadian dan akibat.

Berikut merupakan tabel konsekuensi dan kemungkinan menurut standar

AS/NZS 4360.

Universitas Sumatera Utara

Page 47: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

38

Tabel 2.1 Ukuran dari Dampak (Consequence)

Tingkatan Kriteria Penjelasan

1 Insignificant Tidak terjadi cidera, kerugian

finansial sedikit

2 Minor Cedera ringan, memerlukan

perawatan, kerugian finansial sedang.

3 Moderate/Sedang Cedera sedang, perlu penanganan

medis, kerugian finansial besar.

4

Mayor

Cedera berat, kerugian besar,

gangguan produksi.

5

Catastrophic/Bencana Fatal, menyebabkan kematian,

keracunan, kerugian sangat besar,

terhentinya kegiatan.

(Sumber :AS/NZS 4360:2004)

Tabel 2.2 Ukuran dari Kemungkinan (Likelihood)

Level Kriteria Penjelasan

5

Almost

certain

Terjadi hampir di semua keadaan

4 Likely

Sangat mungkin terjadi hampir di semua

keadaan

3 Possible Dapat terjadi sewaktu-waktu

2 Unlikely Kemungkinan terjadi jarang

1 Rare

Hampir tidak pernah, sangat jarang

terjadi

(Sumber :AS/NZS 4360:2004)

Universitas Sumatera Utara

Page 48: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

39

Dalam penilaian risiko dimana risiko diformulasikan sebagai

fungsi dari kemungkinan terjadi (Likelihood) dan dampak (Consequences), atau

indeks risiko sama dengan perkalian kemungkinan dengan dampak (AS/NZS 4360

: 2004 Risk Management).

Indeks risiko (risk) = Likelihood x Consequence

Setelah nilai indeks risiko diperoleh, maka langkah selanjutnya

adalah pengelompokan level risiko berdasarkan tabel matriks sehingga dapat

diketahui risiko tersebut masuk dalam kategori Very High (VH), High (H),

Moderate (M), ataupun Low (L). Tingkat atau level dari risiko merupakan alat

yang sangat penting pada manajemen dalam pengambilan keputusan, karena

melalui peringkat risiko pihak manajemen dapat menentukan prioritas dan

penanganan ketika risiko tersebut terjadi.

Tabel 2.3 Matriks Analisa Risiko (Level) menurut AS/NZS 4360:2004

Nilai Risiko Kategori Risiko Keterangan

1-3 L Low

4-9 M Moderate

10-16 H High

17-25 VH Very High

(Sumber : AS/NZS 4360 : 2004)

Keterangan :

VH : Very High Risk = Sangat berisiko atau tidak dapat di

toleransi sehingga perlu penanganan

dengan segera.

H : High Risk = Berisiko besar, perlu perhatian khusus

dari pihak manajemen.

M : Moderate Risk = Risiko sedang, memerlukan tanggung

jawab yang jelas dari manajemen.

Universitas Sumatera Utara

Page 49: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

40

L : Low Risk = Risiko rendah, ditangani dengan

prosedur yang rutin.

2.10.1.4 Evaluasi Risiko

Evaluasi risiko adalah untuk menilai apakah risiko tersebut dapat

diterima atau tidak, dengan membandingkan terhadap standar yang berlaku, atau

kemampuan organisasi untuk menghadapi suatu risiko. Evaluasi risiko

mempunyai tujuan untuk membantu dalam membuat keputusan serta untuk

melihat apakah risiko yang telah dianalisis dapat diterima atau tidak dengan

membandingkan tingkat risiko yang telah dihitung pada tahapan analisis risiko

dengan kriteria standar yang digunakan (Ramli, 2010:82).

Peringkat risiko sangat penting sebagai alat manajemen dalam

pengambilan keputusan. Melalui peringkat risiko manajemen dapat menentukan

skala prioritas dalam penanganannya. Manajemen juga dapat mengalokasikan

sumber daya yang sesuai untuk masing - masing risiko sesuai dengan tingkat

prioritasnya. (Ramli, 2010:98).

2.10.1.5 Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko merupakan langkah penting dan menentukan dalam

keseluruhan manajemen risko. Pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh

bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan

peringkat risiko untuk menentukan prioritas dan cara pengendaliannya.

Menurut standar AS/NZS 4360, pengendalian risiko secara ginerik

dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut:

Hindarkan risiko dengan mengambil keputusan untuk menghentikan

kegiatan atau pengguanaan proses, bahan, alat yang berbahaya.

Mengurangi kemungkinan terjadi.

Universitas Sumatera Utara

Page 50: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

41

Mengurangi konsekuensi kejadian.

Pengendalian risiko ke pihak lain.

Menanggung risiko yang tersisa. Penanganan risiko tidak mungkin

menjamin risiko atau bahaya hilang seratus persen, sehingga masih

ada sisa risiko yang harus ditanggung perusahaan.

Strategi pengendalian risiko antara lain : menekan Likelihood, menekan

Consequence, dan pengalihan risiko.

2.10.1.5.1 Menekan Likelihood

Pengurangan kemungkinan ini dapat dilakukan dengan berbagai

pendekatan yaitu secara teknis, administratif dan pendekatan manusia.

1) Pendekatan Teknis

a) Eliminasi

Risiko dapat dihindarkan dengan menghilangkan sumbernya.

Jika sumber bahaya dihilangkan maka risiko yang akan timbul

dapat dihindarkan. Beberapa contoh teknik eliminasi antara

lain:

Mesin yang bisa dimatikan atau dihentikan sehingga tempat

kerja bebas dari kebisingan.

Lubang bekas galian di tengah jalan ditutup dan ditimbun.

Penggunaan bahan kimia berbahaya dihentikan.

b) Substitusi

Teknik subtitusi adalah mengganti bahan, alat atau cara kerja

dengan yang lain sehingga kemungkinan kecelakaan kerja

dapat ditekan.

Universitas Sumatera Utara

Page 51: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

42

c) Pengendalian jarak

Kemungkinan kecelakaan atau risiko dapat dikurangi dengan

melakukan pengendalian jarak antara sumber bahaya dengan

penerima.

2) Pendekatan Administratif

Pendekatan ini dilakukan untuk mengurangi kontak antara

penerima dengan sumber bahaya.

3) Pendekatan Manusia

Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai cara kerja yang

aman, budaya keselamatan dan prosedur keselamatan.

2.10.1.5.2 Menekan Consequence

Pendekatan berikutnya untuk mengendalikan risiko adalah dengan

menekan keparahan atau konsekuensi yang ditimbulkannya. Berbagai pendekatan

yang dapat dilakukan untuk mengurangi konsekuensi antara lain:

1) Tanggap darurat

Keparahan suatu kejadian dapat ditekan jika perusahaan memiliki

sistem tanggap darurat yang baik dan terencana.

2) Penyediaan alat pelindung diri

Penggunaan APD bukan untuk mencegah kecelakaan tetapi untuk

mengurangi dampak atau konsekuensi dari suatu kejadian.

3) Sistem pelindung

Dengan memasang sistem pelindung, dampak kejadian dapat

ditekan. Misalnya dengan memasang tanggul sekeliling tangki,

jika ada kebocoran atau tumpahan, maka cairan tidak akan

Universitas Sumatera Utara

Page 52: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

43

menyebar ke daerah sekitarnya sehingga dampak kejadian dapat

dikurangi.

2.10.1.5.3 Pengalihan Risiko

Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya:

1) Kontraktual, yang mengalihkan tanggungjawab K3 kepada pihak

lain, misalnya pemasok atau pihak ketiga.

2) Asuransi, dengan menutup asuransi untuk melindungi potensi

risiko yang ada dalam perusahaan.

2.10.1.6 Komunikasi dan Konsultasi

Hasil manajemen risiko harus dikomunikasikan dan diketahui oleh

semua pihak yang berkepentingan sehingga akan memberikan manfaat dan

keuntungan bagi semua pihak. Pihak manajemen harus memperoleh informasi

yang jelas mengenai semua risiko yang ada dibawah kendalinya. Demikian pula

dengan para pekerja perlu diberi informasi mengenai semua potensi bahaya yang

ada di tempat kerjanya sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan atau

kegiatannya dengan aman. Pihak lainpun seperti pemasok, kontraktor dan

masyarakat sekitar aktivitas perusahaan juga perlu mendapat informasi yang jelas

tentang kegiatan perusahaan dan potensi terhadap bahaya yang dapat timbul dan

akan membawa pengaruh terhadap keselamatan dan kesehatannya. Dengan

mengetahui dan memahami semua risiko yang ada di lingkungannya, maka semua

pihak akan dapat bertindak dengan hati-hati (Ramli, 2010).

Universitas Sumatera Utara

Page 53: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

44

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendahuluan

Penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan

dan kegunaan tertentu. Secara umum data yang diperoleh dari penelitian dapat

digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam

kehidupan manusia (Sugiyono, 2007). Menurut (J.R Raco, 2010), menjelaskan

metode penelitian adalah sebagai suatu kegiatan ilmiah yang dilakukan secara

bertahap dimulai dengan penentuan topik, pengumpulan data dan menganalisis

data, sehingga nantinya diperoleh suatu pemahaman dan pengertian atas topik,

gejala atau isu tertentu. Dikatakan bertahap karena kegiatan ini berlangsung

mengikuti suatu proses tertentu, sehingga ada langkah - langkah yang perlu dilalui

secara berjenjang sebelum melangkah pada tahap berikutnya.

3.2 Populasi dan Sampel

Menurut Sugiyono (2007) populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas : obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya. Jadi, populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda -

benda alam yang lain.

Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi. Apa yang dipelajari dari sampel, kesimpulannya akan

dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi

harus betul – betul representatif (Sugiyono, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Page 54: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

45

Penelitian ini menggunakan teknik Purposive sampling, yaitu

pengambilan sampel yang berdasarkan pada kemampuan dan pengetahuan

responden yang diyakini dapat memberikan jawaban sesuai dengan topik

penelitian (Sugiyono, 2007). Sampel dari penelitian ini merupakan pihak

pelaksana (kontraktor) yang memiliki jabatan minimal setingkat dengan

mandor. Untuk menentukan jumlah sampel digunakan metode Slovin dengan

taraf toleransi kesalahan 5%. Semakin kecil toleransi kesalahan, semakin akurat

sampel menggambarkan populasi. Misalnya, penelitian dengan batas kesalahan

5% berarti memiliki tingkat akurasi 95%.

(Persamaan 3.1)

dimana

n: jumlah sampel

N: jumlah populasi

e: batas toleransi kesalahan (error tolerance).

𝑛 =15

1 + 15 𝑥0.052= 14.46 ≈ 14 orang

(Jumlah populasi sebanyak 15 orang diambil dari data struktur organisasi.)

Maka dengan menggunakan rumus Slovin jumlah sampel atau responden

pada penelitian ini adalah sebanyak 14 orang.

3.3 Data Primer dan Sekunder

Pengumpulan data primer dilakukan dengan cara melakukan wawancara

atau diskusi, serta penyebaran kuesioner berupa gambaran bahaya dan potensi

risiko kepada para responden.

Universitas Sumatera Utara

Page 55: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

46

a. Wawancara

Wawancara dilakukan terhadap responden dengan cara wawancara

terbuka atau tidak terstruktur dengan tanya jawab yang berkaitan

dengan risiko K3.

b. Kuesioner

Kuesioner adalah sebuah set pertanyaan yang secara logis berhubungan

dengan masalah penelitian dan tiap pertanyaan merupakan jawaban -

jawaban yang mempunyai makna. Desain Kuesioner dibuat berdasarkan

studi pustaka dan disesuaikan dengan pengamatan di lapangan. Struktur

kuesioner terbagi dalam tiga bagian:

Data profil responden

Berisi mengenai informasi identitas responden yaitu usia, pendidikan

terakhir, pengalaman bekerja di bidang konstruksi, dan jabatan

(spesifikasi pekerjaan).

Petunjuk pengisian kuesioner

Pada bagian ini, responden diberi petunjuk pengisian kuesioner,

sehingga responden tidak salah dalam pengisian jawaban kuesioner.

Variabel Pertanyaan

Pertanyaan yang digunakan adalah jenis pertanyaan tertutup untuk

mempermudah responden menjawab pertanyaan dan memfokuskan

jawaban yang diharapkan penulis.

Sugiyono (2012) mendefinisikan data sekunder adalah sumber sekunder

adalah sumber data yang diperoleh dengan cara membaca, mempelajari dan

memahami melalui media lain yang bersumber dari literatur, buku - buku, serta

Universitas Sumatera Utara

Page 56: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

47

dokumen perusahaan, serta sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian

ini.

Data sekunder diperoleh dari pihak kontraktor seperti struktur organisasi,

item pekerjaan, dan lain - lain. Selain itu didapat juga dari penelitian terdahulu,

buku, internet dan sumber - sumber yang menunjang dalam penelitian. Data

sekunder digunakan untuk melengkapi data penelitian.

3.4 Uji Validitas dan Reliabilitas

Data Likelihood dan Consequences dari hasil pengumpulan data yang

didapat dari penyebaran kuesioner dan wawancara kemudian diuji validitas dan

reliabilitasnya. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi

pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti (Sugiyono,

2015). Untuk menentukan tingkat kevalidan data maka diperlukan nilai r yang

diambil dari jumlah responden. Uji validitas pada penelitian in dilakukan dengan

bantuan program SPSS.

Setelah dilakukan uji validitas, kemudian dilakukan uji reliabilitas. Susan

Stainback dalam buku Sugiyono (2015) menyatakan bahwa “Reliability is often

defined as the consistency and stability of data or findings. From a

positivistic perspective , reliability typically is considered to be synonymous with

the consistency of data produced by observations made by different researchers (

eg interrater reliability), by the same researcher at different times (e.g testratest),

or by splitting a data set in two parts (split half)”. Reliabilitas berkenaan dengan

derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Dalam pandangan positivistik

(kuantitas), suatu data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam

objek yang sama menghasilkan data yang sama, atau peneliti sama dalam waktu

Universitas Sumatera Utara

Page 57: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

48

yang berbeda menghasilkan data yang sama, atau sekelompok data bila dipecah

menjadi dua menunjukkan data yang tidak berbeda. Menurut Sugiyono (2012),

“Suatu instrumen dinyatakan reliabel, bila koefisien reliabilitas minimal 0.60”.

3.5 Proses Pengolahan Data

Setelah data kuesioner diuji validitas dan reliabilitas selanjutnya data

kuesioner diolah sehingga diperoleh nilai rata - rata kemungkinan dan dampak

dari tiap-tiap risiko. Kemudian nilai rata-rata kemungkinan dikalikan dengan nilai

rata-rata dampak sehingga diperoleh nilai indeks risiko (tingkat risiko). Setelah

nilai indeks risiko diperoleh, maka nilai risiko dibandingkan dengan standar level

risiko untuk mengetahui level/tingkatan risiko berdasarkan standar AS/NZS

4360:2004. Berdasarkan dari level/tingkatan risiko yang telah diketahui

selanjutnya dilakukan strategi pengendalian terhadap risiko K3.

Universitas Sumatera Utara

Page 58: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

49

3.6 Flowchart Penelitian

Tidak

Studi Literatur

Pengumpulan Data

Data Primer

- Observasi dan wawancara

di lapangan

- Kuesioner

Data Sekunder

- Struktur organisasi

- SOP (Standar Operasional

Prosedur)

Pengolahan Data

- Uji validitas dan

reabilitas data

Pengendalian risiko – risiko

K3

Analisa Data

Analisa tingkat risiko

menggunaan matriks risiko

Manajemen Risiko K3 Pada Proyek

Tower Transmisi

Ya

Kesimpulan dan Saran

Universitas Sumatera Utara

Page 59: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

50

BAB IV

PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

4.1 Pendahuluan

Di dalam bab ini akan dibahas hasil analisis data untuk memperoleh

jawaban (output) dari penelitian ini berdasarkan data yang diperoleh serta hasil

observasi lapangan yaitu dengan cara wawancara dan menyebar kuesioner kepada

responden sesuai struktur organisasi yang sudah berpengalaman dalam hal K3,

yang selanjutnya diolah berdasarkan teori-teori dari tinjauan kepustakaan.

Kemudian dilakukan pembahasan mengenai hasil dan pengendalian dari hasil

yang diperoleh.

4.2 Hasil Pengumpulan Data

Pada hasil penelitian ini akan diuraikan mengenai hasil – hasil yang

diperoleh setelah tahapan pengumpulan data dan pengolahan data.

4.2.1 Data Responden Penelitian

Data diperoleh dari hasil wawancara serta penyebaran kuesioner pada

beberapa staf pihak kontraktor, minimal setingkat mandor. Pada penelitian ini

kuesioner diberikan kepada 14 orang responden. Dalam praktiknya, responden

sangat sulit meluangkan waktu untuk wawancara karena kesibukan proyek.

Sebelum melakukan pengisian kuesioner, maksud dan tujuan dari penelitian ini

akan dijelaskan terlebih dahulu.

Berikut data responden yang dikategorikan berdasarkan usia, tingkat

pendidikan, pengalaman kerja, dan jabatan. Adapun data – data dibawah ini akan

dijelaskan dalam bentuk diagram.

Universitas Sumatera Utara

Page 60: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

51

1. Usia Responden

Gambar 4.1 Diagram Usia Responden

Berdasarkan gambar 4.1, hasil survei usia responden dengan total 14

orang, sebanyak 1 orang atau 7% berusia ≤ 25 tahun, 9 orang atau 64% berusia 26

≤ x ≤ 35 tahun, dan 4 orang atau 29% berusia ≥ 36 tahun.

2. Tingkat Pendidikan

Gambar 4.2 Diagram Tingkat Pendidikan Responden

Berdasarkan gambar 4.2, hasil survei tingkat pendidikan responden dengan

total 14 orang, sebanyak 2 orang atau 14% dengan tingkat pendidikan Strata 2

(S2), 7 orang atau 50% dengan tingkat pendidikan Strata 1 (S1), 3 orang atau 22%

dengan tingkat pendidikan Diploma 3 (D3), dan 2 orang atau 14% dengan tingkat

pendidikan SMA/sederajat.

7%

64%

29%≤ 25 tahun

26≤X≤35 tahun

≥36 tahun

14%

50%

22%

14%

S2

S1

D3

SMA/sederajat

Universitas Sumatera Utara

Page 61: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

52

3. Pengalaman kerja

Gambar 4.3 Diagram Pengalaman Kerja Responden

Berdasarkan gambar 4.3, hasil survei pengalaman kerja responden dengan

total 14 orang, sebanyak 2 orang atau 14% dengan pengalaman kerja ≤ 5 tahun

dan 12 orang atau 86% dengan pengalaman kerja > 5 tahun.

4. Jabatan

Gambar 4.4 Diagram Jabatan Responden

Berdasarkan gambar 4.4, hasil survei jabatan responden dengan total 14

orang, sebanyak 2 orang atau 13% dengan masing - masing jabatan Project

Engineer, Site Manager, Site Engineer EM, dan Mandor. Sebanyak 1 orang atau

14%

86%

≤ 5 tahun

> 5tahun

7%

7%

15%

15%

7%7%

7%

7%

14%

14%

Project Manager

Management Team

Project Engineer

Site Manager

Supervisor K3

Supervisor Sipil dan EM

Administrasi & Keuangan

Logistik

Site Engineer EM

Mandor

Universitas Sumatera Utara

Page 62: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

53

7% dengan masing – masing jabatan Project Manager, Management Team,

Supervisor K3, Supervisor Sipil dan EM, Administrasi dan Keuangan, serta

logistik.

4.2.2 Hasil Identifikasi Risiko

Dibawah ini merupakan tabel hasil identifikasi risiko yang diperoleh dari

observasi dan wawancara.

Tabel 4.1 Daftar Hasil Identifikasi Risiko

No. Kegiatan Variabel Risiko

Pekerjaan Erection

1 Proses pemasangan

leg tower

1.Box Crane manual terjatuh mengenai pekerja

2.Tali terputus mengenai pekerja

3.Material besi / baut terjatuh

4.Mata rusak saat pengelasan

5.Pekerja terjatuh dari ketinggian

6.Kulit terkena percikan api pada saat pengelasan

7.Peralatan kerja terjatuh mengenai pekerja

8.Kaki pekerja tersandung material besi

2 Proses Pemasangan

Common Body 1.Box Crane manual terjatuh mengenai pekerja

2.Tali terputus mengenai pekerja

3.Material besi / baut terjatuh

4.Dehidrasi

5.Pekerja terjatuh dari ketinggian

6.Peralatan kerja terjatuh mengenai pekerja

7.Kaki pekerja tersandung material besi

3 Proses Pemasangan

Cross Arm

1.Box Crane manual terjatuh mengenai pekerja

2.Tali terputus mengenai pekerja

3.Material besi / baut terjatuh

4.Dehidrasi

5.Pekerja terjatuh dari ketinggian

6.Tersambar petir

7.Peralatan kerja terjatuh mengenai pekerja

8.Kaki pekerja tersandung material besi

Pekerjaan Stringing

4 Proses Penarikan

Kabel transmisi 1.Pekerja terjatuh dari ketinggian

2.Dehidrasi

3.Tangan terluka terkena tali tambang

4.Kaki pekerja tersandung tali tambang

Universitas Sumatera Utara

Page 63: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

54

Tabel 4.1 Lanjutan

5.Kaki pekerja tersandung kawat konduktor

6.Tangan terluka terkena peralatan pada saat

pemotongan kawat konduktor

7.Kaki terluka terkena cangkul

8.Tangan tergores ujung kawat konduktor

9.Tangan tertusuk kawat konduktor

10.Roller terjatuh mengenai pekerja

11.Isolator terjatuh mengenai pekerja

Setelah didapat variabel potensi risiko K3 yang ada pada proyek,

dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden guna mengetahui

kemungkinan dan dampak dari risiko K3 tersebut. Kemudian dilakukan uji

validitas dan reliabilitas terhadap hasil jawaban kuesioner. Pengujian dibantu

dengan program SPSS 25.

4.3 Analisa Data

4.3.1 Pengujian Uji validitas dan Uji reliabilitas

a. Uji validitas

Uji validitas bertujuan untuk mengukur ketepatan atau kecermatan

instrumen yang digunakan dalam suatu penelitian atau untuk melihat

apakah hasil pengisian kuesioner yang dilakukan telah valid dan

dimengerti oleh responden. Untuk menentukan tingkat kevalidan data

maka diperlukan nilai r yang diambil dari jumlah responden. Nilai r

dapat dilihat pada tabel r yang dikemukakan oleh Sugiyono (2007).

Dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebanyak 14 orang

responden sehingga nilai r yang didapat yaitu 0,532. Dari hasil uji

validitas nilai r Hitung > r Tabel = 0,532 sehingga hasil pengisian

kuesioner dinyatakan valid.

Universitas Sumatera Utara

Page 64: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

55

b. Uji reliabilitas

Untuk mengetahui suatu instrumen dinyatakan reliabilitas, Sugiyono

(2012) mengemukakan bahwa : “Suatu instrumen dinyatakan reliabel,

bila koefisien reliabilitas minimal 0,60”. Berdasarkan pendapat

tersebut, maka dapat diketahui bahwa suatu instrumen dinyatakan

reliabel jika nilai Alpha ≥ 0,60. Dari hasil uji reliabilitas nilai r Hitung

> Alpha 0,60 sehingga dinyatakan memiliki reliabilitas yang tinggi.

4.3.2 Penilaian Risiko

Setelah hasil kuesioner sudah valid dan reliabel, dilakukan penilaian risiko

dengan parameter kemungkinan (Likelihood) dan dampak (Consequences).

Pengolahan data kuesioner dilakukan dengan bantuan program Microsoft Excel

untuk mendapatkan nilai rata – rata kemungkinan dan dampak risiko pada masing

– masing item pekerjaan. Kemudian nilai rata – rata kemungkinan dan dampak

dikalikan untuk mendapatkan indeks risiko. Hasil pengisian kuesioner dapat

dilihat pada tabel dibawah ini.

Universitas Sumatera Utara

Page 65: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

56

Tabel 4.2 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Leg Tower Bagian

Kemungkinan (Likelihood)

Kemungkinan

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8

1 3 1 1 3 2 1 2 3

2 1 1 2 2 2 1 3 2

3 2 3 3 3 3 3 2 2

4 3 2 3 2 3 4 2 3

5 2 2 1 1 1 3 2 1

6 1 2 2 3 3 2 3 3

7 3 3 3 2 2 3 2 4

8 3 3 2 2 3 2 2 3

9 2 3 2 3 2 3 3 2

10 1 1 3 2 2 2 1 3

11 3 2 3 4 3 2 3 4

12 2 1 1 2 2 1 1 2

13 1 3 1 2 2 1 1 1

14 3 3 2 3 3 4 4 3

Tabel 4.3 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Body Tower Bagian

Kemungkinan (Likelihood)

Kemungkinan

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7

1 2 2 1 2 3 1 3

2 1 1 2 2 2 1 2

3 2 2 3 2 2 3 3

4 3 3 2 3 3 2 3

5 2 2 1 2 2 2 1

6 1 3 3 2 3 3 3

7 3 2 3 3 2 2 4

8 2 3 2 3 3 3 2

9 1 3 4 2 3 3 3

10 2 3 2 2 2 1 2

11 2 2 2 2 3 2 3

12 1 1 3 1 3 3 2

13 1 1 1 1 1 2 2

14 4 3 3 2 3 2 3

Universitas Sumatera Utara

Page 66: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

57

Tabel 4.4 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Cross Arm Bagian

Kemungkinan (Likelihood)

Kemungkinan

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2 1 2 2 1 2 2 3

2 2 1 3 2 2 1 1 2

3 3 3 3 4 2 2 2 4

4 2 2 2 3 3 3 3 3

5 1 3 1 1 2 1 1 1

6 3 3 2 2 3 2 3 3

7 2 2 3 3 2 1 2 3

8 3 3 2 2 3 2 3 2

9 2 3 3 3 2 3 2 3

10 2 1 2 1 2 1 1 2

11 2 2 3 2 3 3 2 4

12 2 1 1 3 2 2 3 2

13 2 2 1 1 2 1 2 3

14 3 3 2 3 3 2 3 3

Tabel 4.5 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Penarikan Kabel Transmisi Bagian

Kemungkinan (Likelihood)

Kemungkinan

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 1 1 3 2 3 1 2 1 1 1 2

2 1 3 2 1 2 2 1 2 1 2 3

3 3 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2

4 3 3 2 2 4 3 3 2 3 3 3

5 2 1 1 1 2 1 2 2 2 1 1

6 2 3 2 3 3 1 1 2 3 2 2

7 3 3 2 2 3 2 1 2 3 3 3

8 3 2 3 3 2 3 3 3 2 2 2

9 3 3 3 1 3 2 2 3 1 2 3

10 2 1 2 2 3 3 2 1 1 3 2

11 3 2 3 3 2 1 2 2 3 2 3

12 3 2 2 2 2 1 1 1 1 2 2

13 2 2 2 1 2 1 1 1 1 1 2

14 3 3 3 2 4 3 3 3 2 3 3

Universitas Sumatera Utara

Page 67: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

58

Tabel 4.6 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Leg Tower Bagian

Dampak (Consequence)

Dampak

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2 1 1 1 5 1 2 1

2 1 1 1 1 4 1 1 2

3 2 3 3 3 4 1 3 3

4 2 3 2 1 5 2 3 2

5 2 1 1 2 3 1 1 1

6 3 2 3 3 5 2 2 1

7 2 3 2 2 5 2 2 3

8 3 3 3 3 4 3 3 2

9 2 3 2 2 5 2 1 3

10 1 2 3 1 5 3 1 2

11 3 1 3 3 5 2 3 2

12 2 1 1 1 4 1 2 1

13 1 2 2 1 3 1 1 2

14 3 2 3 2 5 3 2 3

Tabel 4.7 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Body Tower Bagian

Dampak (Consequence)

Dampak

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7

1 1 2 1 2 4 1 2

2 1 1 1 1 3 1 1

3 2 2 2 2 4 2 3

4 2 3 3 2 5 2 3

5 1 1 1 2 3 1 1

6 2 2 2 1 4 2 2

7 3 2 3 3 4 2 3

8 3 3 3 2 4 3 1

9 3 3 2 2 4 1 2

10 1 1 3 1 5 1 3

11 2 2 2 3 5 3 3

12 1 1 1 1 4 1 1

13 3 1 1 1 4 1 2

14 3 2 2 2 5 1 3

Universitas Sumatera Utara

Page 68: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

59

Tabel 4.8 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Pemasangan Cross Arm Bagian

Dampak (Consequence)

Dampak

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2 2 1 2 5 4 2 3

2 1 1 1 1 4 5 1 1

3 2 3 3 3 5 5 2 3

4 2 1 3 3 5 5 3 2

5 1 1 1 1 4 4 1 1

6 2 2 2 3 5 5 3 2

7 2 3 2 2 5 5 2 2

8 2 2 1 3 4 5 2 1

9 2 3 1 1 4 5 2 3

10 1 1 1 2 5 4 1 1

11 2 2 3 3 5 5 3 3

12 2 1 1 1 4 4 1 1

13 2 1 2 1 3 4 1 1

14 3 2 3 1 5 4 2 2

Tabel 4.9 Hasil Pengisian Kuesioner Kegiatan Penarikan Kabel Transmisi Bagian

Dampak (Consequence)

Dampak

Responden Pertanyaan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

1 3 1 1 1 3 3 1 1 2 2 2

2 3 2 1 1 1 1 2 2 2 1 1

3 4 2 3 1 2 3 2 2 3 2 3

4 5 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2

5 4 1 2 2 1 1 2 1 3 1 2

6 5 3 3 3 1 2 3 1 2 2 3

7 5 2 3 2 3 2 3 2 3 2 2

8 5 2 1 2 3 2 2 2 3 3 1

9 5 2 3 3 3 3 2 3 2 3 4

10 4 1 1 2 1 2 1 2 1 2 1

11 5 2 3 3 2 2 2 2 3 2 3

12 3 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1

13 4 2 1 2 1 2 2 2 1 1 2

14 4 3 1 3 2 2 3 3 3 2 3

Di bawah ini adalah hasil perhitungan indeks risiko yang didapat dari

perkalian nilai rata – rata kemungkinan dan rata – rata dampak pada masing –

masing pertanyaan di setiap kegiatan.

Universitas Sumatera Utara

Page 69: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

60

Tabel 4.10 Hasil Perhitungan Indeks Risiko

Event Risiko Nilai rata –

rata

kemungkina

n

Nilai

rata –

rata

dampak

Indeks

Risiko

(kemungkin

an x

dampak)

No

Pekerjaan

Variabel

Risiko Pekerjaan

Erection

1

Proses

pemasangan

Leg Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

2,143 2,071 4,439

Tali terputus

mengenai

pekerja

2,143 2,000 4,286

Material

besi terjatuh 2,071 2,143 4,439

Mata rusak

saat

pengelasan

2,429 1,857 4,510

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

2,357 4,429 10,439

Kulit terkena

percikan api

pada saat

pengelasan

2,286 1,786 4,082

Peralatan

kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

2,214 1,929 4,270

Kaki pekerja

tersandung

material besi

2,571 2,000 5,143

2

Proses

pemasangan

Body

Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

1,929 2,000 3,857

Tali terputus

mengenai

pekerja

2,214 1,857 4,112

Material besi

terjatuh 2,286 1,929 4,408

Dehidrasi 2,071 1,786 3,699

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

2,500 4,143 10,357

Universitas Sumatera Utara

Page 70: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

61

Tabel 4.10 Lanjutan

Peralatan

kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

2,214 1,571 3,480

Kaki pekerja

tersandung

material besi

2,571 2,143 5,510

3

Proses

pemasangan

Cross Arm

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

2,214 1,857 4,112

Tali terputus

mengenai

pekerja

2,143 1,786 3,827

Material besi

terjatuh 2,143 1,786 3,827

Dehidrasi 2,286 1,929 4,408

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

2,286 4,500 10,286

Tersambar

petir 1,857 4,571 8,490

Peralatan

kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

2,143 1,857 3,980

Kaki pekerja

tersandung

material besi

2,714 1,857 5,041

Pekerjaan Stringing

4

Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

2,429 4,214 10,235

Dehidrasi 2,214 2,000 4,429

Tangan

terluka

terkena tali

tambang

2,357 1,929 4,546

Kaki pekerja

tersandung

tali tambang

1,929 2,071 3,995

Universitas Sumatera Utara

Page 71: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

62

Tabel 4.10 Lanjutan

Kaki pekerja

tersandung

kawat

konduktor

2,714 2,000 5,429

Tangan

terkena

peralatan

pada saat

pemotongan

kawat

konduktor

1,929 2,071 3,995

Kaki terluka

terkena

cangkul

1,857 2,071 3,847

Tangan

tergores

ujung kawat

konduktor

2,000 1,857 3,714

Tangan

tertusuk

kawat

konduktor

1,929 2,214 4,270

Roller

terjatuh

mengenai

pekerja

2,143 1,929 4,133

Isolator

terjatuh

mengenai

pekerja

2,357 2,143 5,051

Langkah selanjutnya setelah nilai indeks risiko didapat adalah

mengkelompokkan risiko berdasarkan matriks risiko AS/NZS 4360:2004. Berikut

ini adalah hasil tingkat risiko.

Universitas Sumatera Utara

Page 72: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

63

Tabel 4.11 Hasil Tingkat Risiko Berdasarkan Matriks Risiko AS/NZS 4360:2004

No Kegiatan Potensi Risiko Indeks Risiko Kategori

Risiko

1 Proses

pemasangan Leg

Tower

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,439 H

2 Proses

pemasangan Body

Tower

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,357 H

3 Proses

pemasangan

Cross Arm

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,286 H

4 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,235 H

5 Proses

pemasangan

Cross Arm

Tersambar

petir

8,490 M

6 Proses

pemasangan Body

Tower

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,510 M

7 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Kaki pekerja

tersandung

kawat

konduktor

5,429 M

8 Proses

pemasangan Leg

Tower

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,143 M

9

Proses Penarikan

Kabel transmisi

Isolator

terjatuh

mengenai

pekerja

5,051 M

10 Proses

pemasangan

Cross Arm

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,041 M

11 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Tangan terluka

terkena tali

tambang

4,546 M

12 Proses

pemasangan Leg

Tower

Mata rusak

saat

pengelasan

4,510 M

13 Proses

pemasangan Leg

Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

4,439 M

Universitas Sumatera Utara

Page 73: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

64

Tabel 4.11 Lanjutan

14 Proses

pemasangan Leg

Tower

Material besi

terjatuh

4,439 M

15 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Dehidrasi 4,429 M

16 Proses

pemasangan Body

Tower

Material besi

terjatuh

4,408 M

17 Proses

pemasangan

Cross Arm

Dehidrasi 4,408 M

18 Proses

pemasangan Leg

Tower

Tali terputus

mengenai

pekerja

4,286 M

19 Proses

pemasangan Leg

Tower

Peralatan kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

4,270 M

20 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Tangan

tertusuk kawat

konduktor

4,270 M

21 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Roller terjatuh

mengenai

pekerja

4,133 M

22 Proses

pemasangan Body

Tower

Tali terputus

mengenai

pekerja

4,112 M

23

Proses

pemasangan

Cross Arm

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

4,112 M

24 Proses

pemasangan Leg

Tower

Kulit terkena

percikan api

pada saat

pengelasan

4,082 M

25 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Kaki pekerja

tersandung tali

tambang

3,995 L

26

Proses Penarikan

Kabel transmisi

Tangan

terkena

peralatan pada

saat

pemotongan

kawat

konduktor

3,995 L

Universitas Sumatera Utara

Page 74: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

65

Tabel 4.11 Lanjutan

27 Proses

pemasangan

Cross Arm

Peralatan kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

3,980 L

28

Proses

pemasangan Body

Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

3,857 L

29 Proses Penarikan

Kabel transmisi

Kaki terluka

terkena

cangkul

3,847 L

30 Proses

pemasangan

Cross Arm

Tali terputus

mengenai

pekerja

3,827 L

31 Proses

pemasangan

Cross Arm

Material besi

terjatuh

3,827 L

32

Proses Penarikan

Kabel transmisi

Tangan

tergores ujung

kawat

konduktor

3,714 L

33 Proses

pemasangan Body

Tower

Dehidrasi 3,699 L

34 Proses

pemasangan Body

Tower

Peralatan kerja

terjatuh

mengenai

pekerja

3,480 L

Keterangan :

H (High) : Risiko Tinggi

M (Medium) : Risiko Sedang

L (Low) : Risiko Rendah

4.4 Pembahasan

Dari hasil identifikasi risiko yang diteliti terdapat 34 variabel risiko.

Kemudian dilakukan pengelompokan terhadap potensi risiko yang memiliki

kesamaan dari kegiatan yang berbeda. Dengan melakukan pengelompokan ini,

maka akan diketahui nilai persentase dari setiap jenis potensi risiko terhadap

Universitas Sumatera Utara

Page 75: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

66

keseluruhan potensi risiko yang terjadi. Berikut hasil pengelompokan terhadap

potensi risiko yang dijelaskan dalam bentuk diagram seperti pada gambar 4.5

dibawah ini.

Gambar 4.5 Diagram Pengelompokan Potensi Risiko

Dari hasil penilaian indeks risiko, diperoleh 4 variabel dengan kategori

High Risk dengan potensi risiko pekerja terjatuh dari ketinggian pada masing –

masing pekerjaan. Untuk kategori Medium Risk diperoleh 20 variabel, dan

sebanyak 10 variabel termasuk didalam kategori Low Risk.

4.5 Pengendalian Risiko

Berdasarkan analisis yang dilakukan, maka diperoleh alternatif

pengendalian risiko terhadap risiko. Strategi pengendalian risiko dapat dilakukan

dengan pendekatan sebagai berikut :

1. Menekan kemungkinan (likelihood) potensi risiko

Cara untuk melakukan penekanan angka likelihood potensi risiko

adalah dengan melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap setiap

Potensi risiko pekerja terjatuh

12%

Potensi risiko akibat cuaca

12%

Potensi risiko kejatuhan

benda32%Potensi Risiko

tertusuk/tergores benda

14%

Potensi Risiko tersandung

15%

Potensi Risiko terbakar

6%

Potensi Risiko kerusakan peralatan

9%

Universitas Sumatera Utara

Page 76: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

67

potensi risiko yang terjadi. Berikut tindakan yang dapat dilakukan

untuk menekan likelihood potensi risiko :

a. Memasang rambu – rambu K3 yang bertujuan untuk menunjukkan

adanya potensi risiko sehingga para pekerja selalu bekerja dengan

waspada dan hati – hati.

b. Menggunakan work permit (izin kerja K3) pada setiap kegiatan.

c. Melakukan Safety Briefing (Safety Talk) seminggu sekali, misalnya

sebelum dimulai semua aktivitas pada proyek, para pekerja

diingatkan pentingnya penggunaan APD dalam bekerja.

d. Melakukan Safety Patrol K3 pada tiap pekerja secara rutin yang

bertujuan untuk mengawasi dan memberi tahu para pekerja jika

terdapat potensi bahaya yang mengancam pada saat pekerjaan

berlangsung.

e. Memberikan pelatihan kepada pekerja mengenai metode-metode

penggunaan alat kerja, pelaksanaan pekerjaan dan pelatihan tentang

K3.

2. Menekan dampak (consequence) potensi risiko

Cara untuk menekan consequence potensi risiko adalah dengan

melakukan persiapan perlindungan diri jika sewaktu-waktu suatu

potensi risiko terjadi. Cara pengendalian terhadap consequence potensi

risiko adalah :

a. Selalu memakai alat pelindung diri (APD) dalam bekerja dan

penggunaan APD disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Contoh

Universitas Sumatera Utara

Page 77: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

68

penggunaan APD pada pekerjaan di ketinggian diwajibkan

menggunakan full body harness ataupun safety belt.

b. Menggunakan alat pelindung jatuh seperti safety net untuk

melindungi pekerja yang terjatuh dari ketinggian dan menahan benda

yang terjatuh.

c. Setelah pekerja selesai memakai peralatan, agar meletakkan kembali

pada tempat yang telah disediakan sebelumnya.

d. Membersihkan sisa – sisa potongan material yang berserakan seperti

kawat konduktor yang ada di lokasi proyek.

3. Menghindari Risiko (Avoiding Risk)

Mengganti peralatan kerja dan APD yang tidak layak dipakai.

4. Pengalihan Risiko (Risk Transfer)

Pengalihan risiko dapat dilakukan dengan memberikan asuransi kepada

para pekerja.

Dengan strategi pengendalian diatas, diharapkan dapat mengurangi nilai

risiko yang ada. Berikut ini adalah tabel nilai indeks risiko dengan ada nya

pengendalian.

Tabel 4.12 Indeks Risiko Dengan Adanya Pengendalian

No. Kegiatan Potensi

Risiko

Indeks Risiko

Sebelum

Pengendalian

Setelah

Pengendalian

1 Proses

pemasangan

Leg Tower

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,439 4,653

2 Proses

pemasangan

Body Tower

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,357 4,715

3 Proses

pemasangan

Cross Arm

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian

10,286 4,501

Universitas Sumatera Utara

Page 78: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

69

Tabel 4.12 Lanjutan

4 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Pekerja

terjatuh dari

ketinggian 10,235 4,593

5 Proses

pemasangan

Cross Arm

Tersambar

petir 8,490 3,917

6 Proses

pemasangan

Body Tower

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,510 1,796

7 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Kaki pekerja

tersandung

kawat

konduktor

5,429 1,714

8 Proses

pemasangan

Leg Tower

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,143 1,571

9 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Isolator

terjatuh

mengenai

pekerja

5,051 1,551

10 Proses

pemasangan

Cross Arm

Kaki pekerja

tersandung

material besi

5,041 1,469

11 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Tangan

terluka

terkena tali

tambang

4,546 1,261

12 Proses

pemasangan

Leg Tower

Mata rusak

saat

pengelasan

4,510 1,225

13 Proses

pemasangan

Leg Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

4,439 2,367

14 Proses

pemasangan

Leg Tower

Material besi

terjatuh 4,439 1,224

15 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Dehidrasi

4,429 2,428

16 Proses

pemasangan

Body Tower

Material besi

terjatuh 4,408 1,195

Universitas Sumatera Utara

Page 79: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

70

Tabel 4.12 Lanjutan

17 Proses

pemasangan

Cross Arm

Dehidrasi

4,408 2,481

18 Proses

pemasangan

Leg Tower

Tali terputus

mengenai

pekerja

4,286 1,143

19 Proses

pemasangan

Leg Tower

Peralatan

kerja terjatuh

mengenai

pekerja

4,270 1,128

20 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Tangan

tertusuk kawat

konduktor 4,270 1,128

21 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Roller terjatuh

mengenai

pekerja 4,133 1,062

22 Proses

pemasangan

Body Tower

Tali terputus

mengenai

pekerja

4,112 1,040

23

Proses

pemasangan

Cross Arm

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

4,112 1,040

24 Proses

pemasangan

Leg Tower

Kulit terkena

percikan api

pada saat

pengelasan

4,082 1,011

25 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Kaki pekerja

tersandung

tali tambang 3,995 0,995

26

Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Tangan

terkena

peralatan pada

saat

pemotongan

kawat

konduktor

3,995 0,995

27 Proses

pemasangan

Cross Arm

Peralatan

kerja terjatuh

mengenai

pekerja

3,980 0,980

Universitas Sumatera Utara

Page 80: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

71

Tabel 4.12 Lanjutan

28

Proses

pemasangan

Body Tower

Box Crane

manual

terjatuh

mengenai

pekerja

3,857 0,929

29 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Kaki terluka

terkena

cangkul 3,847 0,918

30 Proses

pemasangan

Cross Arm

Tali terputus

mengenai

pekerja

3,827 0,898

31 Proses

pemasangan

Cross Arm

Material besi

terjatuh 3,827 0,898

32 Proses

Penarikan

Kabel

transmisi

Tangan

tergores ujung

kawat

konduktor

3,714 0,857

33 Proses

pemasangan

Body Tower

Dehidrasi

3,699 0,842

34 Proses

pemasangan

Body Tower

Peralatan

kerja terjatuh

mengenai

pekerja

3,480 0,693

Berdasarkan tabel diatas, rata – rata indeks risiko setelah adanya

pengendalian mengalami penurunan dalam tingkatan indeks risiko sebesar 1

tingkatan. Sehingga indeks risiko tertinggi berada pada tingkat risiko sedang,

dengan indeks risiko sebesar 4,715 yaitu risiko pekerja terjatuh dari ketinggian

dalam kegiatan proses pemasangan body tower.

Universitas Sumatera Utara

Page 81: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

72

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan pada bab – bab sebelumnya,

dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Diperoleh potensi risiko yang teridentifikasi sebanyak 34 variabel, yang

dapat terjadi pada proyek pembangunan Jaringan Transmisi Tegangan

Ekstra Tinggi 275 kV Galang – Simangkuk, dengan potensi risiko

terjatuh dari ketinggian adalah risiko yang paling tinggi sebesar 10,439

dengan tingkat high risk.

2. Diperoleh level atau ranking menurut standar AS/NZS 4360 : 2004

yaitu terdapat 4 risiko tergolong high risk, 20 risiko tergolong medium

risk, dan 10 risiko tergolong low risk.

3. Strategi pengendalian risiko untuk mengurangi potensi risiko adalah

dengan melakukan pencegahan sedini mungkin, dengan cara :

a. Memasang rambu – rambu K3, menggunakan work permit,

melakukan Safety Briefing dan Safety Patrol serta memberikan

pelatihan mengenai metode – metode penggunaan alat kerja,

pelaksanaan pekerjaan dan pelatihan tentang K3.

b. Selalu memakai alat pengaman diri (APD), merapikan peralatan

kerja dan membersihkan lokasi proyek dari sisa – sisa material.

c. Menghindari risiko dengan cara melakukan penggantian peralatan

kerja dan APD yang tidak layak pakai.

Universitas Sumatera Utara

Page 82: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

73

d. Pengalihan risiko (risk transfer) dengan memberikan asuransi

kepada para pekerja.

5.2 Saran

1. Melakukan pemeriksaan terhadap pemakaian APD yang digunakan oleh

pekerja dan pemasangan rambu – rambu K3 serta alat pelindung jatuh

seperti safety net di lokasi kerja guna mencapai target zero accident.

2. Perlu dilakukan pembaharuan SOP dengan menambahkan metode kerja

dan juga uraian kegiatan yang lebih detail agar tidak terjadi

kesalahpahaman dalam pengerjaannya.

3. Petugas K3 harus selalu berada di lapangan agar megawasi setiap

pekerjaan.

Universitas Sumatera Utara

Page 83: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

ix

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Fahmi Nurul, Ida Farida, dan Agus Ismail, 2014. Analisis Manajemen

Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Pekerjaan Upper

Structure Gedung Bertingkat (Studi Kasus Proyek Skyland City –

Jatinangor). Jurnal Konstruksi Sekolah Tinggi Teknologi Garut Vol.13 No.

1. Garut.

Arifin, Mohamad, 2014. Analisa Resiko dan Implementasi Metode HIRARC

(Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control) pada Satuan

Penyelam di Dislambair Koarmatim. Tugas Akhir. Surabaya.

[AS/NZS] The Australian And New Zealand Standard 4360, 2004. 3rd Edition The

Australian And New Zealand Standard on Risk Management. Broadleaf

Capital International Pty Ltd. NSW Australia.

[BPJS] Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, 2016. Laporan

Keuangan. Jakarta.

[BPJS] Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, 2017. Laporan

Keuangan. Jakarta.

Ervianto, Wulfram I., 2005. Manajemen Proyek Konstruksi (Edisi Revisi). Andi.

Yogyakarta.

K., Suma’mur P., 1995. Keselamatan Kerja & Pencegahan Kecelakaan. Toko

Gunung Agung. Jakarta.

Marsden, Eric, (2017, 1 Augustus). Heinrich's domino model of accident causation:

https://risk-engineering.org/concept/Heinrich-dominos [04 Juli 2018]

[OHSAS] Occupational Health and Safety Assesment Series 18001, 2007.

Occupational Health and Safety Management System – Requirements.

[OHSAS] Occupational Health and Safety Assesment Series 18002, 2008.

Occupational Health and Safety Management System – Guidelines for the

Implementation of OHSAS 18001: 2007.

Universitas Sumatera Utara

Page 84: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

x

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, 2014. Pasal 1 No. 05 tentang Pedoman Sistem

Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang

Pekerjaan Umum. Jakarta.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 1980. No. 01 tentang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Konstruksi Bangunan. Jakarta.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja, 1996. No. 05 tentang Sistem Manajemen

Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta.

Peraturan Menteri Tenaga Kerja, 1994. No. 3 tentang Penyelenggaraan Program

Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja Harian Lepas, Tenaga

Kerja Borongan dan Tenaga Kerja Kontrak. Jakarta.

Peraturan Menteri Ketenagakerjaan, 2016. No. 9 tentang Keselamatan dan

Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian. Jakarta.

Ramli, Soehatman, 2010. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja

OHSAS 18001. Dian Rakyat. Jakarta.

Ramli, Soehatman, 2010. Pedoman Praktis Manajemen Risiko dalam Perspektif K3

OHS Risk Management. Dian Rakyat. Jakarta.

Redja, George E., 2008. Principle of Risk Management and Insurance. 10th

Edition. Pearson Education. Boston.

Sepang, Bryan Alfons Willyam, 2013. Manajemen Risiko Keselamatan dan

Kesehatan Kerja (K3) pada Proyek Pembangunan Ruko Orlens Fashion

Manado. Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.4. Manado.

Soputan, Gabby E.M., 2014. Manajemen Risiko Kesehatan dan Keselamatan Kerja

(K3) (Study Kasus Pada Pembangunan Gedung SMA Eben Haezar). Jurnal

Ilmiah Media Engineering Vol. 4 No. 4. Manado.

Sugiyono, 2007. Statistika untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.

Sugiyono, 2015. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,

dan R&D). Alfabeta. Bandung.

UU RI No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. Jakarta.

UU RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jakarta.

Wicaksono, I. K. dan Singgih, M. L., 2011. Manajemen Risiko K3 (Kesehatan dan

Keselamatan Kerja) pada Proyek Pembangunan Apartemen Puncak Permai.

Universitas Sumatera Utara

Page 85: MANAJEMEN RISIKO K3 PADA PROYEK TOWER TRANSMISI …

xi

Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XIII, Program Studi

MMT-ITS. Surabaya.

Universitas Sumatera Utara