MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG …... · gudang dengan pembuatan SOP yang baru. Kata...

of 161/161
i MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG SPARE PART BUS DI PO. SAFARI EKA KAPTI Skripsi Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik RANDI ANTAKA ARIYADI I 1305039 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010
  • date post

    13-Feb-2018
  • Category

    Documents

  • view

    310
  • download

    45

Embed Size (px)

Transcript of MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG …... · gudang dengan pembuatan SOP yang baru. Kata...

  • i

    MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG SPARE PART BUS DI PO. SAFARI EKA KAPTI

    Skripsi Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

    RANDI ANTAKA ARIYADI I 1305039

    JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA 2010

  • ii

    LEMBAR PENGESAHAN Judul Skripsi :

    MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG SPARE PART BUS DI PO. SAFARI EKA KAPTI

    Ditulis oleh:

    RANDI ANTAKA ARIYADI I 1305039

    Mengetahui, Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

    Wakhid Ahmad Jauhari, ST, MT Ilham Priadythama, ST, MT NIP 19791005 200312 1 003 NIP 19801124 200812 1 002

    Ketua Program S-1 Non Reguler Jurusan Teknik Industri

    Fakultas Teknik UNS

    Taufiq Rochman, STP, MT NIP. 19701030 199802 1 001

    Pembantu Dekan I Ketua Jurusan Fakultas Teknik Teknik Industri UNS Ir. Noegroho Djarwanti, MT Ir. Lobes Herdiman, MT NIP 19561112 198403 2 007 NIP 19641007 199702 1 001

  • iii

    LEMBAR VALIDASI Judul Skripsi :

    MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG SPARE PART BUS DI PO. SAFARI EKA KAPTI

    Ditulis oleh:

    RANDI ANTAKA ARIYADI I 1305039

    Telah disidangkan pada hari Rabu tanggal 21 April 2010

    Di Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta,

    dengan

    Dosen Penguji

    1. Rahmaniyah Dwi Astuti, ST, MT NIP. 19760122 199903 2 001

    2. Fakhrina Fahma, STP, MT NIP. 19741008 200003 2 001

    Dosen Pembimbing

    1. Wakhid Ahmad Jauhari, ST, MT NIP. 19791005 200312 1 003

    2. Ilham Priadythama, ST, MT NIP. 19801124 200812 1 002

  • iv

    SURAT PERNYATAAN

    ORISINALITAS KARYA ILMIAH

    Saya mahasiswa Jurusan Teknik Industri UNS yang bertanda tangan di bawah ini,

    Nama : Randi Antaka Ariyadi

    Nim : I 1305039

    Judul tugas akhir : Manajemen Persediaan Dan Penataan Gudang Spare part

    Bus Di PO. Safari Eka Kapti

    Menyatakan bahwa Tugas Akhir (TA) atau Skripsi yang saya susun tidak

    mencontoh atau melakukan plagiat dari karya tulis orang lain. Jika terbukti bahwa

    Tugas Akhir yang saya susun mencontoh atau melakukan plagiat dapat dinyatakan

    batal atau gelar Sarjana yang saya peroleh dengan sendirinya dibatalkan atau

    dicabut.

    Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila

    dikemudian hari terbukti melakukan kebohongan maka saya sanggup

    menanggung segala konsekuensinya.

    Surakarta, 03 Mei 2010

    Randi Antaka Ariyadi I 1305039

  • v

    SURAT PERNYATAAN

    PUBLIKASI KARYA ILMIAH

    Saya mahasiswa Jurusan Teknik Industri UNS yang bertanda tangan di bawah ini,

    Nama : Randi Antaka Ariyadi

    Nim : I 1305039

    Judul tugas akhir : Manajemen Persediaan Dan Penataan Gudang Spare part

    Bus Di PO. Safari Eka Kapti

    Menyatakan bahwa Tugas Akhir (TA) atau Skripsi yang saya susun sebagai syarat

    lulus Sarjana S1 disusun secara bersama-sama dengan Pembimbing 1 dan

    Pembimbing 2. Bersamaan dengan syarat pernyataan ini bahwa hasil penelitian

    dari Tugas Akhir (TA) atau Skripsi yang saya susun bersedia digunakan untuk

    publikasi dari proceeding, jurnal, atau media penerbit lainnya baik di tingkat

    nasional maupun internasional sebagaimana mestinya yang merupakan bagian

    dari publikasi karya ilmiah

    Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.

    Surakarta, 03 Mei 2010

    Randi Antaka Ariyadi I 1305039

  • vi

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat

    dan hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir dengan judul Manajemen Persediaan

    Dan Penataan Gudang Spare part Bus Di PO. Safari Eka Kapti dapat

    diselesaikan untuk memenuhi syarat kelulusan tingkat sarjana di Fakultas Teknik

    Jurusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dengan penelitian

    ini, penulis berharap dapat memberi masukan secara umum bagi PO. Safari Eka

    Kapti Semarang dan khususnya bagian gudang spare part PO. Safari Eka Kapti

    tanpa terhalang oleh tempat dan waktu.

    Tidak lupa pada kesempatan kali ini, penulis ingin menyampaikan ucapan

    terima kasih yang sebesar- besarnya atas pihak- pihak yang turut membantu dalam

    penyelesaian tugas akhir ini, yaitu :

    1. Bapak Ir. Lobes Herdiman, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Industri

    fakultas teknik UNS.

    2. Bapak Wakhid Ahmad Jauhari, ST, MT selaku pembimbing I, atas segala

    bimbingan, arahan, motivasi, pengertian dan doa.

    3. Bapak Ilham Priadythama, ST, MT selaku pembimbing II, atas segala

    bimbingan, arahan, motivasi, pengertian dan doa.

    4. Ibu Rahmaniyah Dwi Astuti, ST, MT selaku penguji, atas kesediaannya

    memberikan masukan, gagasan dan saran atas perbaikan tugas akhir ini.

    5. Ibu Fakhrina Fahma, ST, MT selaku penguji, atas kerelaan dalam

    membimbing, mengarahkan dan memberikan ide maupun gagasan dalam

    tugas akir ini.

    6. Bapak Sujimin Ariyadi dan Ibu Umi Suprihatin selaku orang tua saya,

    selalu memberi dukungan dan doa yang tak pernah putus sehingga dapat

    menyelesaikan laporan ini. Saya bangga menjadi anak dari bapak dan ibu.

    7. Ibu Iin selaku Kepala Manajemen PO.Safari Eka Kapti, dan Pak Win

    selaku Kepala Gudang Spare part PO. Safari Eka Kapti, terima kasih atas

    bimbingannya selama penelitian di PO. Safari Eka Kapti.

    8. Seluruh kru bus PO. Safari Eka Kapti, terima kasih telah memberikan

    nasehat yang berharga untuk menghadapi kehidupan ini.

  • vii

    9. Mas Harso selaku montir Mandiri Karya, terima kasih atas bimbingannya

    selama ini.

    10. Mbak Yayuk, Mbak Rina, Mbak Tuti, Pak Agus , dan semua tim TU,

    terima kasih atas segala urusan administrasi selama kuliah di Teknik

    Industri ini.

    11. Alex, Afiq, Rangga, Bang Narso, Pitcil, Hanafi, Danur, Edi, Haryono,

    Zulmi, Sudadi, Panca, Dzakiyah, Hari, Lutfie, Erdi, Agwin, Dodot, Agus,

    Dedi, Deny, Ajheng, Afla, Ahmad, Sadiyah, Pitndut, Ita, Intan, Tri, Ayu.

    Penulis akan merindukan kebersamaan kita selama ini, terima kasih buat

    semua persahabatan pengertian, waktu, dukungan, semangat, hati tulus,

    semuanya yang aku tidak mampu lagi untuk menyebutkannya, 4,5 tahun

    ini menjadi waktu yang berharga bagiku.

    12. Teman-teman Teknik Industri angkatan 2005, yang selalu mendukung dan

    membantuku, kalian semua teman-teman terbaikku, tetep jaga

    persahabatan kita we are the best forever

    13. Teman-teman kos Akendaruna (Mas Dedi, Mbak Anik, Mas Sampek, Mas

    Brama, Mas Danang, Sidiq, Kewer, Geonk, Jajang, Tian) dan kos Pondok

    Mulya (Mas Aji, Bayu, Hari, Fery, Danang, Wawan) terima kasih telah

    memberikan saya tempat berteduh dari hujan dan panasnya mentari, tetap

    jaga persahabatan kita.

    14. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah

    membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.

    Penulis menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, oleh karena

    itu penulis mengharapkan kritik dan saran membangun yang dapat membantu

    penulis di masa yang akan datang. Semoga apa yang penulis sampaikan dalam

    laporan ini dapat berguna bagi penulis, rekan-rekan mahasiswa maupun semua

    pihak yang membutuhkan.

    Surakarta, Mei 2010

    Penulis

  • viii

    ABSTRAK

    Randi Antaka Ariyadi, NIM : I 1305039, MANAJEMEN PERSEDIAAN DAN PENATAAN GUDANG SPARE PART BUS DI PO. SAFARI EKA KAPTI, Skripsi. Surakarta : Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret, April 2010.

    PO. Safari Eka Kapti merupakan suatu perusahaan jasa transportasi bus. Perusahaan ini masih memiliki permasalahan overstock dan kehabisan stock dalam pengelolaan stock item spare part yang jumlahnya lebih dari 7000 dan terbagi dalam 80 jenis. Permasalahan tersebut juga terkait dengan penataan gudang yang belum teratur. Oleh karena itu, penelitian ini membahas tentang perbaikan manajemen persediaan sekaligus penataan fisik gudang.

    Untuk masalah manajemen persediaan spare part akan digunakan pendekatan model persediaan single item dengan mengakomodasi adanya backorder policy sehingga mampu meminimalkan biaya total persediaan spare part. Sedangkan untuk masalah penataan gudang akan digunakan pendekatan standar 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) yang sekaligus dapat memberikan standarisasi terhadap sistem penerimaan atau pengambilan spare part. Terkait dengan diterapkannya seiketsu, program ini juga merancang program aplikasi yang mendukung manajemen persediaan.

    Output dari penelitian ini adalah perbaikan terhadap manajemen persediaan spare part berupa penetapan jumlah pemesanan optimum (Q) dan reorder point (ROP). Sehingga didapat peningkatan yang didukung oleh program aplikasi manajemen persediaan yang dapat memeberikan penghematan biaya total persediaan 41,27%. Sedangkan dalam penataan gudang spare part didapatkan hasil penataan terhadap tata letak spare part yang mampu meminimalkan searching time, pembuatan prosedur kebersihan gudang, dan standarisasi sistem di gudang dengan pembuatan SOP yang baru. Kata kunci : persediaan, spare part, metode 5S, biaya total persediaan xvi + 158 halaman; 45 gambar; 26 tabel; 16 lampiran; Daftar pustaka : 11 (1990-2006)

  • ix

    ABSTRACT Randi Antaka Ariyadi, NIM : I 1305039, INVENTORY MANAGEMENT AND BUS SPARE PART WAREHAOUSE ARRANGEMENT OF PO. SAFARI EKA KAPTI, Thesis. Surakarta : Industrial Engineering, Faculty of Engineering, Sebelas Maret University, April 2010.

    PO. Safari Eka Kapti is a bus transportation service company. The company had problems in overstock and the lack of stock in the management of spare part item stock which is more than 7000 and devided into 80 types. Those problems are also related to the warehouse arrangement. For the reason, the research discusses the improvement of the management both of inventory and of warehouse physical composing.

    This research uses item inventory model which is applied to the problem of spare part inventory management by accommodating backorder policy to minimize the total cost of spare part inventory. For the meantime, 5S standard approach (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) is employed to the warehouse arrangement problem which provide standardization toward acceptance system or spare part removal. Related to the seiketsu implementation a monitoring application program is designed to support inventory management system.

    The output of the research is the improvements toward spare part inventory management by determining optimum ordering (Q) and reorder point (ROP). The improvement is supported by the inventory monitoring application program which can bring total cost saving of inventory by 41,27%. Meanwhile, the result for the spare part warehouse management are the composing of the spare part layout which is able to minimize the searching time, the composing of warehouse cleanliness procedure and system standardization of the warehouse by composing the new SOP Kata kunci : inventory, spare part, 5S method, total cost of inventory xvi + 158 pages; 45 figures; 26 tables; 16 appendixes; Bibliography : 11 (1990-2006)

  • x

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL

    LEMBAR PENGESAHAN................................................................................

    LEMBAR VALIDASI.........................................................................................

    SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ILMIAH.

    SURAT PERNYATAAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH

    KATA PENGANTAR.........................................................................................

    ABSTRAK.

    ABSTRACT..

    DAFTAR ISI .......................................................................................................

    DAFTAR TABEL ...............................................................................................

    DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................

    DAFTAR LAMPIRAN

    BAB I PENDAHULUAN....................................................................................

    1.1 Latar Belakang.......................................................................

    1.2 Perumusan Masalah...........................................................................

    1.3 Tujuan Penelitian..............................................................................

    1.4 Manfaat Penelitian.............................................................................

    1.5 Batasan Masalah................................................................................

    1.6 Asumsi Penelitian..............................................................................

    1.7 Sistematika Penulisan........................................................................

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA.

    2.1 Persediaan.........................................................

    2.1.1 Pengertian Persediaan.............................................................

    2.1.2 Sistem Persediaan...................................................................

    2.1.3 Biaya Dalam Sistem Persediaan.............................................

    2.1.4 Spare Part..............................................................................

    2.2 Manajemen Spare Part Saat Ini.......................................................

    2.3 Metode-Metode Dalam Manajemen Persediaan..............................

    2.3.1 Metode Continous Review.....................................................

    2.3.2 Metode Periodic Review........................................................

    2.4 Peramalan (Forecasting)..................................................................

    i

    ii

    iii

    iv

    v

    vi

    viii

    ix

    x

    xiii

    xiv

    xvi

    I - 1

    I - 1

    I - 3

    I - 3

    I - 4

    I - 4

    I - 4

    I - 5

    II - 1

    II - 1

    II - 1

    II - 2

    II - 3

    II - 4

    II - 4

    II - 5

    II - 5

    II -11

    II -15

  • xi

    2.4.1 Pengertian Peramalan..............................................................

    2.4.2 Manfaat Peramalan Permintaan...............................................

    2.4.3 Prinsip-Prinsip Peramalan........................................................

    2.4.4 Langkah-Langkah Peramalan..................................................

    2.4.5 Metode-Metode Peramalan......................................................

    2.4.6 Metode Peramalan Kuantitaif Time Series..............................

    2.4.7 Pengukuran Kesalahan Peramalan...........................................

    2.4.8 Validasi Model Peramalan.......................................................

    2.4.9 Peramalan Dengan Metode Croston........................................

    2.5 Klasifikasi ABC ...............................................................................

    2.6 Simulasi Montecarlo..........................................................................

    2.7 Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)........................

    2.7.1 S1-Ringkas (Seiri)...................................................................

    2.7.2 S2-Kerapian (Seiton)...............................................................

    2.7.3 S3-Kebersihan (Seiso).............................................................

    2.7.4 S4-Standarisasi (Seiketsu).......................................................

    2.7.5 S5-Rajin-Disiplin (Shitsuke)...................................................

    2.8 Penelitian Sebelumnya.

    BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................

    3.1 Metodologi Penelitian............................................................

    3.2 Penjelasan Diagram Alir................................

    3.2.1 Tahap Pendahuluan......................................

    3.2.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan Data.........................

    3.2.3 Tahap Analisis dan Kesimpulan ................................

    BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

    4.1 Pengumpulan Data.........................................................................

    4.1.1 Data Historis Permintaan dan Pengadaan Spare part

    Tahun 2008........................................................................

    4.1.2 Data Lead Time Pemesanan Tiap Spare part.....................

    4.1.3 Komponen Holding Cost, Ordering Cost Dan Shortage

    Cost....................................................................

    4.1.4 Data Jenis Spare Part Yang Berada Pada Gudang............

    II -15

    II -16

    II -16

    II -17

    II- 18

    II -20

    II -22

    II -23

    II -23

    II -25

    II -27

    II -28

    II -28

    II -30

    II -33

    II -35

    II -38

    II -39

    III - 1

    III - 1

    III - 2

    III - 2

    III - 5

    III-16

    IV - 1

    IV - 1

    IV - 1

    IV - 1

    IV - 2

    IV - 4

  • xii

    4.1.5 Data Barang Inventaris Gudang .......................................

    4.1.6 Tata Letak Awal Spare part di Gudang

    4.2 Pengolahan Data.........................................................................

    4.2.1 Uji Distribusi Kenormalan Data Permintaan Spare part...

    4.2.2 Perhitungan Holding Cost, Ordering Cost Dan Shortage

    Cost

    4.2.3 Pengelompokan Spare Part Berdasarkan Metode ABC

    4.2.4 Peramalan Jumlah Permintaan...

    4.2.5 Penentuan Jumlah Permintaan (Q) dan Reorder Point

    (ROP).

    4.2.6 Penentuan Total Biaya Persediaan Spare Part Berdasarkan

    Kebijakan Usulan.

    4.2.7 Penentuan Total Biaya Persediaan Spare Part Berdasarkan

    Kebijakan Perusahaan..........................................................

    4.2.8 Penataan Ulang Tata Letak Spare Part Pada Gudang.

    4.2.9 Pembuatan Aplikasi Software Pemantauan Posisi

    Persediaan Spare Part..

    BAB V ANALISIS...............................................................................................

    5.1 Analisis Hasil Pengelompokan Spare Part Berdasarkan Metode

    ABC............................................................

    5.2 Analisis Perbandingan Biaya Total Persediaan Berdasarkan

    Kebijakan Usulan Dengan Biaya Total Persediaan Berdasarkan

    Kebijakan Perusahaan.....................................

    5.3 Analisis penataan gudang spare part......................................

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................

    6.1 Kesimpulan.............................................................................

    6.2 Saran...............................................................

    DAFTAR PUSTAKA

    LAMPIRAN

    IV - 4

    IV - 5

    IV - 5

    IV - 6

    IV - 8

    IV-10

    IV-15

    IV-18

    IV-25

    IV-27

    IV-29

    IV-63

    V - 1

    V - 1

    V - 2

    V - 7

    V - 2

    VI - 1

    VI - 1

  • xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 4.1 Tabel harga spare part...................................................... IV - 2

    Tabel 4.2 Tabel shortage cost........................................................... IV - 3

    Tabel 4.3 Daftar barang inventaris gudang........................................ IV - 4

    Tabel 4.4

    Tabel 4.5

    Tabel 4.6

    Tata letak awal spare part di gudang

    Uji distribusi kenormalan data permintaan spare part

    Tabel holding cost setiap item spare part.

    IV - 5

    IV - 6

    IV- 8

    Tabel 4.7 Tabel persentase pemakaian setiap item spare part.. IV-12

    Tabel 4.8 Tabel pengelompokan spare part dengan metode ABC IV-14

    Tabel 4.9 Tabel peramalan jumlah permintaan tiap item spare part. IV-17

    Tabel 4.10 Tabel demand tahunan tiap spare part.. IV-18

    Tabel 4.11 Tabel standard deviasi tahunan tiap spare part. IV-19

    Tabel 4.12 Tabel nilai safety factor ( k ) dan lot pemesanan ( q ) tiap

    spare part...

    IV-23

    Tabel 4.13 Tabel nilai ROP tiap spare part. IV-24

    Tabel 4.14

    Tabel probabilitas kumulatif spare part packing timing

    tipis 911/917/OH

    IV-26

    Tabel 4.15

    Tabel 4.16

    Tabel 4.17

    Tabel 4.18

    Tabel 4.19

    Tabel 4.20

    Tabel 4.21

    Tabel 4.22

    Tabel 4.23

    Tabel 4.24

    Tabel 5.1

    Tabel 5.2

    Tabel biaya total persediaan tiap spare part (usulan).....

    Tabel biaya total persediaan tiap spare part (perusahaan)..

    Tabel letak spare part yang berada di bawah meja 1 dan

    2....

    Prosedur kebersihan...

    Contoh 5S audition checklist

    Tabel pendataan spare part...

    Tabel pendataan montir.

    Tabel pendataan armada

    Tabel pendataan spare part masuk gudang

    Tabel pendataan spare part keluar gudang

    Besarnya biaya total persediaan usulan dan perusahaan.

    Letak spare part sebelum dan sesudah dilakukan penataan.

    IV-27

    IV-28

    IV-53

    IV-54

    IV-62

    IV-64

    IV-64

    IV-64

    IV-64

    IV-65

    V - 4

    V - 7

  • xiv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 2.1

    Gambar 2.2

    Reorder Point (ROP)

    Pola data time series.

    II - 6

    II -19

    Gambar 3.1

    Gambar 3.1

    Metodologi penelitian

    Flowchart pembuatan program aplikasi manajemen

    persediaan..

    III - 1

    III-15

    Gambar 4.1 Diagram tulang ikan penyebab searching time yang

    lama.

    IV-32

    Gambar 4.2 Layout gudang spare part IV-35

    Gambar 4.3 Rak besar A.. IV-37

    Gambar 4.4 Penamaan bagian rak besar A.. IV-37

    Gambar 4.5 Rak besar B.. IV-39

    Gambar 4.6 Penamaan bagian rak besar B.. IV-40

    Gambar 4.7 Rak kecil C.. IV-41

    Gambar 4.8 Penamaan bagian rak kecil C.. IV-42

    Gambar 4.9 Meja 1.. IV-43

    Gambar 4.10 Penamaan bagian meja 1. IV-43

    Gambar 4.11 Meja 2.. IV-45

    Gambar 4.12 Penamaan bagian meja 2. IV-45

    Gambar 4.13 Meja 3.. IV-47

    Gambar 4.14 Penamaan bagian meja 3. IV-47

    Gambar 4.15 Kotak kayu kecil.. IV-49

    Gambar 4.16 Penamaan bagian kotak kayu kecil.. IV-50

    Gambar 4.17 Ember............................................................................... IV-50

    Gambar 4.18 Penamaan bagian ember IV-51

    Gambar 4.19 Gantungan besi dan penamaan bagiannya. IV-52

    Gambar 4.20 Gantungan tembok dan penamaan bagiannya... IV-52

    Gambar 4.21

    Gambar 4.22

    Flowchart penerimaan dan pengambilan spare part.

    Flowchart perbaikan penerimaan spare part

    IV-56

    IV-58

    Gambar 4.23 Flowchart perbaikan pengambilan spare part.. IV-60

    Gambar 4.24 Form pengambilan spare part... IV-61

  • xv

    Gambar 4.25

    Gambar 4.26

    Gambar 4.27

    Alur logika pembuatan form penadataan jenis spare part.

    Form pendataan spare part

    Alur logika pembuatan form penadataan montir...

    IV-66

    IV-67

    IV-69

    Gambar 4.28 Form pendataan montir. IV-70

    Gambar 4.29 Alur logika pembuatan form pencarian spare part .. IV-71

    Gambar 4.30 Form pencarian spare part IV-72

    Gambar 4.31 Alur logika pembuatan form pendataan spare part masuk

    gudang

    IV-74

    Gambar 4.32 Form pendataan spare part masuk gudang ..... IV-75

    Gambar 4.33

    Gambar 4.34

    Gambar 4.35

    Gambar 4.36

    Alur logika pembuatan form pendataan spare part keluar

    gudang

    Form pendataan spare part keluar gudang

    Peringatan stock spare part kurang...

    Tampilan cek stock

    IV-77

    IV-78

    IV-79

    IV-79

    Gambar 4.37 Peringatan stock spare part dibawah stock minimal. IV-80

    Gambar 4.38 Daftar stock spare part dibawah stock minimal IV-81

    Gambar 4.39 Laporan stock spare part.. IV-82

    Gambar 4.40 Laporan pembelian spare part.. IV-84

    Gambar 4.41 Laporan pengeluaran spare part... IV-85

  • xvi

    DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1

    Lampiran 2

    Data Awal

    Jenis Spare part di Gudang..

    L- 1

    L- 5

    Lampiran 3.1 Peramalan waktu antar permintaan.................................. L-10

    Lampiran 3.2 Peramalan jumlah permintaan.......................................... L-14

    Lampiran 4 Perhitungan Q dan ROP dengan MATLAB..................... L-18

    Lampiran 5.1 Jumlah permintaan harian spare part............................. L-23

    Lampiran 5.2 Perhitungan probabilitas kumulatif spare part............... L-34

    Lampiran 6.1 Simulasi montecarlo spare part (usulan)......................... L-36

    Lampiran 6.2 Simulasi montecarlo spare part (perusahaan)................. L-47

    Lampiran 7.1 Spare part yang terletak di rak besar A........................... L-58

    Lampiran 7.2 Spare part yang terletak di rak besar B... L-61

    Lampiran 7.3 Spare part yang terletak di rak kecil C. L-63

    Lampiran 7.4 Spare part yang terletak di meja 1.. L-65

    Lampiran 7.5 Spare part yang terletak di meja 2.. L-67

    Lampiran 7.6 Spare part yang terletak di meja 3.. L-69

    Lampiran 7.7

    Lampiran 8

    Spare part yang terletak di kotak kayu kecil, ember,

    dan gantungan..

    Buku Cacatan Harian Penelitian (BCHP)

    L-71

    L-72

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang dan perumusan masalah

    yang akan diangkat, tujuan, dan manfaat dari penelitian. Selanjutnya diuraikan

    mengenai batasan masalah, asumsi yang digunakan dalam membahas

    permasalahan dan sistematika penulisan untuk menyelesaikan penelitian ini.

    1.1 LATAR BELAKANG

    Manajemen persediaan berpengaruh terhadap besarnya biaya operasi,

    sehingga kesalahan dalam mengelola persediaan akan mengurangi keuntungan.

    Perusahaan sering kali mengalami masalah persediaan. Persediaan yang terlalu

    banyak menimbulkan modal yang tertanam untuk pengadaan terlalu besar.

    Sebaliknya jika terjadi kekurangan persediaan proses operasional akan terganggu

    dan produktivitas perusahaan akan menurun. Kedua kondisi tersebut memiliki

    konsekuensi biaya yang besar. Oleh karena itu diperlukan manajemen persediaan

    yang tepat untuk mengkondisikan tingkat persediaan yang optimum.

    PO. Safari Eka Kapti merupakan suatu perusahaan yang bergerak dalam

    bidang jasa transportasi publik menggunakan bus. Jumlah armada bus yang

    dimiliki perusahaan sebanyak 280 unit. Spare part yang dimiliki oleh perusahaan

    dibagi menjadi dua jenis, yaitu spare part jenis stocked item dan non stocked item.

    Spare part jenis stocked item lebih dari 7000 spare part terdiri dari 80 jenis

    sedangkan untuk spare part non stocked item lebih dari 34000 item. Pihak

    perusahaan harus mempunyai manajemen persedian spare part yang baik untuk

    mengatur persediaan spare part agar tidak mengganggu proses operasional bus.

    Namun pada kenyataannya perusahaan belum dapat merealisasikan hal tersebut.

    Terbukti dengan sering terjadinya masalah tentang persediaan spare part,

    misalnya habisnya stock persediaan spare part di gudang pada saat dibutuhkan.

    Bahkan, kadang kala bus harus berhenti beroperasi beberapa hari untuk menunggu

    spare part yang dibutuhkan. Sehingga perusahaan harus mengalami kerugian

    yang besar dan membengkaknya biaya total persediaan. Selain itu di PO. Safari

  • 2

    Eka Kapti, jumlah spare part yang dipesan ditentukan oleh montir berdasarkan

    pengalamannya, baik spare part yang langsung digunakan maupun yang akan

    disimpan di gudang. Hal ini bisa menyebabkan jumlah stock di gudang menjadi

    tidak seimbang dalam pemesanan persedian spare part. Dengan kata lain, ada

    potensi yang besar terjadi kelebihan dan kekurangan stock. Selain itu, jumlah

    stock yang keluar dari gudang tidak dimonitor dengan baik sehingga pemesanan

    bisa dilakukan pada spare part yang masih banyak tersedia. Kekurangan dan

    kelebihan stock terjadi pada beberapa jenis spare part. Untuk lebih jelasnya dapat

    dilihat pada lampiran 1.

    Berdasarkan observasi lebih lanjut selain masalah manajemen persediaan

    spare part, fisik gudang spare part di PO. Safari Eka Kapti juga mengalami

    masalah. Jika hal ini tidak diperhatikan, perbaikan sistem manajemen persediaan

    tidak akan optimum. Sebab kondisi gudang yang buruk juga akan berpengaruh

    terhadap tingkat persediaan spare part. Masalah seperti kondisi gudang yang

    kotor telah menyebabkan spare part yang disimpan berkurang keandalannya,

    bahkan ada yang rusak. Jarang dibersihkannya gudang menyebabkan banyaknya

    kotoran, seperti: serbuk besi, tetesan oli dan vaselin, dan debu. Sebagai contoh

    serbuk besi yang menempel pada spare part jenis bearing dan bouring

    menyebabkan spare part tersebut mudah aus dan berkurang umur pakainya.

    Selain masalah kebersihan, jumlah dan kondisi spare part yang disimpan di

    gudang belum dimonitor dan didata dengan baik. Spare part yang diterima tidak

    di periksa, baik kuantitas maupun kualitasnya. Tidak adanya pengecekan kuantitas

    dan kualitas spare part yang di pesan menyebabkan pihak gudang tidak

    mengetahui berapa jumlah spare part yang diterima dan siap digunakan atau

    disimpan dalam kondisi baik. Selain kurangnya pengawasan, pendataan semua

    spare part yang masuk atau keluar gudang masih dilakukan secara manual dengan

    pencatatan dalam buku kendali stock. Cara pendataan spare part ini menyulitkan

    pihak gudang dalam mengetahui posisi persediaan. Karena pencarian informasi

    posisi persediaan spare part memakan waktu lama.

    Tidak hanya dari segi pendataan dan kebersihan, penataan spare part di

    gudang PO. Safari Eka kapti juga masih tergolong buruk sehingga

    mengakibatkan persediaan di gudang sulit dikontrol. Contohnya banyak spare

  • 3

    part yang tertumpuk dan tercampur oleh spare part yang lain. Dampak dari hal

    tersebut pihak gudang sering kali memesan spare part yang sebenarnya masih ada

    di dalam gudang, sehingga terjadi overstock. Dampak lain dari penataan gudang

    yang buruk adalah lamanya waktu pencarian (searching time) jenis spare part

    tertentu oleh pihak gudang. Sebagai ilustrasi, biasanya pegawai gudang dalam

    pencarian spare part yang diminta oleh montir memerlukan waktu lebih dari 5

    menit. Padahal jika spare part langsung ditemukan, waktu yang dibutuhkan bisa

    kurang dari 3 menit saja.

    Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini berusaha untuk menyelesaikan

    masalah tentang manajemen persediaan dan penataan gudang spare part di PO.

    Safari Eka Kapti. Untuk masalah manajemen persediaan spare part akan

    digunakan pendekatan model persediaan single item dengan mengakomodasi

    adanya backorder policy sehingga mampu meminimalkan biaya total persediaan

    spare part. Sedangkan untuk masalah penataan gudang akan digunakan

    pendekatan standar 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Metode ini telah

    dipakai sebagai standard penataan gudang di beberapa perusahaan otomotif grup

    Astra. Metode 5S tidak hanya menata tata letak spare part saja, tetapi juga bisa

    memberikan standarisasi terhadap sistem-sistem yang ada pada gudang dengan

    perbaikan terhadap sistem yang ada di gudang, baik sistem penerimaan atau

    pengambilan spare part.

    1.2 PERUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah

    pada penelitian ini adalah:

    1. Bagaimana melakukan perbaikan manajemen persediaan spare part pada bus

    PO. Safari Eka Kapti yang mampu meminimalkan biaya total persediaan

    2. Bagaimana malakukan penataan fisik gudang spare part PO. Safari Eka

    Kapti.

    1.3 TUJUAN PENELITIAN

    Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

    1. Melakukan manajemen persediaan yang meliputi penentuan:

  • 4

    - Jumlah pemesanan optimum

    - Titik pemesanan ulang (ROP)

    - Pembuatan alat bantu program aplikasi manajemen persediaan

    2. Memperbaiki sistem fisik gudang yang meliputi:

    - Penataan ulang tata letak spare part

    - Pembuatan prosedur kebersihan gudang

    - Pembuatan standarisasi terhadap sistem yang ada di gudang spare part

    1.4 MANFAAT PENELITIAN

    Agar memenuhi suatu unsur manfaat maka perlu ditentukan terlebih

    dahulu manfaat yang akan didapatkan dari suatu penelitian. Manfaat yang

    diharapkan dari penelitian ini adalah :

    1. Meminimalkan biaya total persediaan spare part .

    2. Menjamin ketersediaan spare part saat dibutuhkan.

    1.5 BATASAN MASALAH

    Agar penelitan ini memiliki lingkup pembahasan yang jelas, maka

    diperlukan mempertimbangkan prioritisasi masalah dan kapasitas penelitian.

    Batasan masalah penelitian ini sebagai berikut :

    1. Spare part yang dihitung adalah spare part Marcedez-benz (OF/OH) dan

    Mitsubishi fuso (FM/FR).

    2. Spare part yang diteliti jenis stocked item sebanyak 30 item yang didasarkan

    pada tingginya frekuensi permintaan sehingga spare part perlu distock.

    3. Data pengadaan dan permintaan spare part yang digunakan adalah data pada

    bulan Januari hingga Desember 2008.

    4. Harga spare part yang dipakai adalah harga spare part bulan Desember 2008 .

    5. Lead time pemesanan sebesar 2 hari.

    6. Perancangan tata ulang spare part ini tidak mengubah tata letak tempat

    penyimpanan spare part di gudang.

    1.5 ASUMSI

  • 5

    Asumsi-asumsi masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    sebagai berikut:

    1. Spare part yang dipesan dalam keadaan baik sehingga bisa diasumsikan tidak

    terjadi retur.

    2. Permintaan spare part diasumsikan mengikuti distribusi normal

    I.6 SISTEMATIKA PENULISAN

    Penulisan penelitian dalam laporan tugas akhir ini mengikuti uraian yang

    diberikan pada setiap bab yang berurutan untuk mempermudah pembahasannya.

    Dari pokok-pokok permasalahan dapat dibagi menjadi enam bab seperti

    dijelaskan, di bawah ini.

    BAB I : PENDAHULUAN

    Bab ini meliputi latar belakang masalah yang terdapat di PO. Safari

    Eka Kapti, perumusan masalah manajemen persediaan spare part bus

    di PO. Safari Eka Kapti dan penataan gudang, tujuan dan manfaat

    penelitian untuk memperbaiki manajemen persediaan spare part di

    PO. Safari Eka Kapti dan penataan gudang, batasan masalah, asumsi

    dan sistematika penulisan.

    BAB II : STUDI PUSTAKA

    Bab ini berisi teori-teori yang berhubungan dengan materi penulisan

    yang diambil dari beberapa referensi baik buku, jurnal maupun

    internet. Materi penulisan adalah pengertian persediaan, model

    persediaan, peramalan (forecasting), reorder point (ROP), order

    quantity (Q), dan biaya total persediaan dan metode 5S.

    BAB III : METODOLOGI PENELITIAN

    Bagian ini berisi urut-urutan/tahapan yang dilalui selama penelitian

    mulai dari observasi awal, identifikasi masalah manajemen persediaan

    dan penyebab serching time yang lama spare part bus, melakukan

    proses perbaikan manajemen persediaan spare part dan penataan

    gudang, melakukan penarikan kesimpulan, dan memberikan saran

    perbaikan.

  • 6

    BAB IV : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

    Bab ini berisi tentang pengumpulan data berupa data pemesanan spare

    part kepada supplier meliputi jenis spare part, jumlah, waktu, harga,

    dan data jumlah serta waktu permintaan spare part dari montir kepada

    gudang, data spare part di gudang, kemudian dilakukan pengolahan

    data sesuai dengan perumusan masalah. Tahap-tahap pengolahan data

    dilakukan berdasarkan metodologi penelitian.

    BAB V : ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

    Analisis berisi penjelasan dari output yang didapatkan pada tahapan

    pengumpulan dan pengolahan data, interpretasi hasil merupakan

    ringkasan singkat dari hasil penelitian.

    BAB VI : PENUTUP

    Berisi tentang kesimpulan dan saran yang diperoleh dari pengolahan

    data dan analisis yang telah dilakukan serta rekomendasi yang

    diberikan untuk perbaikan.

  • 7

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Bab ini membahas mengenai konsep dan teori yang digunakan dalam

    penelitian, sebagai landasan dan dasar pemikiran untuk membahas serta

    menganalisa permasalahan yang ada.

    2. 1 Persediaan

    2.1.1 Pengertian Persediaan

    Persediaan adalah bahan atau barang yang disimpan yang akan digunakan

    untuk memenuhi tujuan tertentu, misalnya untuk proses produksi atau perakitan,

    untuk dijual kembali, dan untuk suku cadang dan suatu peralatan atau

    mesin (Herjanto, 1999). Persediaan dapat berupa bahan mentah, bahan

    pembantu, barang dalam proses, barang jadi, ataupun suku cadang.

    Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan.

    Penyebab timbulnya persediaan sebagai berikut:

    1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan. Permintaan terhadap suatu

    barang tidak dapat terpenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia

    sebelumnya. Untuk menyiapkan barang tersebut, diperlukan waktu untuk

    pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang

    sulit dihindarkan.

    2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian. Ketidakpastian terjadi

    akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun

    kedatangan, waktu pembuatan yang tidak cenderung konstan antara satu

    produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang

    cenderung tidak pasti karena banyak faktor yang tidak dapat dikendalikan.

    Ketidakpastian ini dapat diredam dengan mengadakan persediaan.

    3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan

    keuntungan besar dari kenaikan harga di mass mendatang.

  • 8

    2.1.2 Sistem Persediaan

    Sistem pengendalian persediaan adalah mekanisme mengenai bagaimana

    mengelola masukan yang berhubungan dengan persediaan menjadi

    output, sehingga diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu.

    Mekanisme ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat

    persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan reorder point harus

    dilakukan, dan berapa besar order quantity. Sistem ini bertujuan menetapkan dan

    menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses, komponen, dan

    bahan baku secara optimal, dalam kuantitas dan pada waktu yang optimal.

    Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan persediaan,

    yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan.

    Variabel keputusan dalam pengendalian sistem persediaan sebagai berikut:

    1. Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat.

    2. Bagan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan.

    3. Berapa jumlah persediaan pengaman.

    4. Bagaimana mengendalikan persediaan.

    Klasifikasi model persediaan berdasarkan karakteristik demand

    (Elsayed, 1994) sebagai berikut:

    1. Static deterministic inventory model: pada model ini, permintaan bersifat

    deterministic (jumlah total persediaan yang terjadi pada periode waktu yang

    tetap, nilainya diketahui dan konstan) dan tingkat permintaan sama setiap

    periode.

    2. Dynamic deterministic inventory model: permintaan setiap periode

    diketahui dan konstan, tetapi tingkat permintaan bervariasi setiap periodenya.

    3. Static probabilistic inventory model: permintaan merupakan variabel random,

    memiliki distribusi probabilitas yang bergantung pada panjangnya periode.

    Distribusi probabilitas permintaan adalah sama setiap periode.

    4. Dynamic probabilistic inventory model: sama seperti model

    static probabilistic inventory model, tetapi distribusi probabilitas permintaan

    setiap periode bervariasi.

  • 9

    2.1.3 Biaya Dalam Sistem Persediaan

    Unsur biaya yang terdapat dalam persediaan dapat digolongkan menjadi

    tiga, yaitu biaya pemesanan, biaya penyimpanan, dan biaya kekurangan

    persediaan.

    1. Biaya pemesanan

    Biaya pemesanan (ordering costs, set up cost, procurement costs) adalah

    biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan part, sejak dari

    penempatan pemesanan sampai tersedianya barang di gudang. Biaya

    pemesanan ini meliputi semua biaya yang dikeluarkan dalam rangka

    mengadakan pemesanan barang tersebut, yang dapat mencakup biaya

    administrasi dan penempatan order, biaya pemilihan vendor atau pemasok, biaya

    pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan biaya pemeriksaan

    barang. Biaya pemesanan tidak tergantung dari jumlah yang dipesan, tetapi

    tergantung dari berapa kali pesanan dilakukan.

    2. Biaya penyimpanan

    Biaya penyimpanan (carrying costs, holding costs) adalah biaya

    yang dikeluarkan berkenaan dengan diadakannya persediaan barang.

    Yang termasuk biaya ini, antara lain biaya sewa gudang, biaya

    administrasi pergudangan, gaji pegawai gudang, biaya listrik, biaya modal yang

    tertanam dalam persediaan, biaya asuransi, ataupun biaya kerusakan,

    kehilangan atau penyusutan barang selama dalam penyimpanan. Biaya modal

    merupakan komponen biaya penyimpanan yang terbesar, baik itu berupa biaya

    bunga kalau modalnya berasal dan pinjaman maupun biaya oportunitas apabila

    modalnya milik sendiri. Biaya penyimpanan dapat dinyatakan dalam dua

    bentuk, yaitu sebagai persentase dari nilai rata-rata persediaan per-tahun dan

    dalam bentuk rupiah per-tahun per-unit barang.

    3. Biaya kekurangan persediaan

    Biaya kekurangan persediaan. (shortage costs, stock out costs) adalah

    biaya yang timbul sebagai akibat tidak tersedianya barang pada waktu

    diperlukan. Biaya kekurangan persediaan ini pada dasarnya bukan biaya

    nyata (riil), melainkan berupa biaya kehilangan kesempatan. Termasuk dalam

    biaya ini, antara lain semua biaya kesempatan yang timbul karena terhentinya

  • 10

    proses produksi sebagai akibat tidak adanya bahan yang diproses, biaya

    administrasi tambahan, biaya tertundanya penerimaan keuntungan,

    bahkan biaya kehilangan pelanggan.

    2.1.4 Spare part

    Spare part atau suku cadang adalah alat-alat (dalam peralatan teknik) yang

    merupakan bagian dari mesin (Kamus Besar bahasa Indonesia, 1990).

    Spare part dapat dikategorikan menjadi :

    a. Consumable

    Spare part yang pemakaiannya rutin, baik untuk di area produksi, utilitas dll.

    Contoh: sarung tangan, bolt, nut, elektroda las, bearing, oli, grease, filter dll.

    b. OEM (Original Equipment Manufacturing)

    Spare part spare part yang hanya dapat diorder atau dibeli dari produsen

    mesin tersebut.

    Contoh: - piston pada mesin homogenizer

    Piston ini hanya bisa didapat dari produsen mesin homogenizer itu

    sendiri. Mesin homogenizer terdapat pada area produksi.

    - Spare part IGNITION pada burner boiler

    Spare part ini hanya bisa didapat dari produsen Boiler itu sendiri,

    yaitu OMNICAL yang direpresentativekan ke PT. Grasso

    Indonesia.

    c. Spesific

    Spare part yang hanya bisa digunakan pada mesin-mesin tertentu dan tidak

    termasuk pada point 1 dan 2 di atas (dapat dipesan tidak hanya pada 1 agen

    atau pabrik dan jarang digunakan).

    Contoh: angular bearing, grease dan oli yang food grade

    2. 2 Manajemen Persediaan Spare part Saat Ini

    Banyaknya jumlah armada yang dimiliki oleh perusahaan, harus

    diimbangi dengan manajemen persediaan spare part yang baik pula. Selama ini

    perusahaan memesan spare part hanya berdasarkan permintaan dari montir saja.

    Biasanya perusahaan memesan spare part dengan jumlah lebih dari yang diminta

  • 11

    oleh montir. kelebihan jumlah tersebut akan disimpan di gudang dan digunakan

    lagi jika ada permintaan spare part oleh montir. Tetapi kenyataannya, pihak

    gudang sering mengalami kekurangan stock spare part. Hal ini disebabkan

    karena terkadang montir meminta spare part dengan jumlah yang lebih banyak

    dibanding dengan jumlah stock yang ada. Sehingga banyak bus yang rusak tidak

    bisa segera diperbaiki.

    Lamanya waktu tunggu pengiriman spare part (lead time) juga

    menyebabkan bus yang rusak tidak bisa segera diperbaiki. Sehingga pihak

    perusahaan mengalami kerugian operasional yang cukup besar. Perusahaan

    memesan spare part dari supplier dari Jakarta, Semarang, Kudus, Surabaya, dan

    Malang. Untuk pengiriman spare part biasanya menggunakan jasa pengiriman

    (travel) dan juga dititipkan kepada armada bus milik PO. Safari Eka Kapti.

    Perusahaan membayar biaya pembelian spare part tersebut dengan system kredit,

    yaitu menyicilnya selama tiga bulan sekali.

    2. 3 Metode-Metode Dalam Manajemen Persediaan

    Pada sub bab ini akan dijelaskan tentang metode persediaan Continous

    Review dan Periodic Review. Continous Review merupakan metode persediaan

    dimana tingkat persediaan dimonitor secara terus-menerus, sehingga bila tingkat

    persediaan telah mencapai titik ROP (reorder point) pemesanan harus segera

    dilakukan. Sedangkan metode Periodic Review merupakan metode persediaan

    dimana tingkat persediaan dimonitor pada interval waktu yang tetap dan teratur.

    2.3.1 Metode Continous Review

    Metode continous review merupakan metode persediaan dimana tingkat

    persediaan dimonitor secara terus-menerus, sehingga bila tingkat persediaan telah

    mencapai titik ROP (reorder point) pemesanan harus segera dilakukan. ROP

    ditetapkan untuk setiap stock keeping unit sebagai ramalan permintaan selama

    waktu tunggu pengisisan (panjang waktu tunggu untuk resupply dari wholesale,

    atau area warehouse ditambah stok pengaman. ROP dan stok pengaman

    ditentukan secara konvensional.

  • 12

    Pada dasarnya metode ROP merupakan suatu teknik pengisian kembali

    inventori apabila total stock on-hand plus on-order jatuh atau berada di bawah

    titik pemesanan kembali. ROP merupakan metode inventori yang menempatkan

    suatu pesanan untuk lot tertentu apabila kuantitas on-hand berkurang sampai

    tingkat yang ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai titik pemesanan

    kembali (ROP).

    Gambar 2.1 Reorder point (ROP)

    Sumber : Yamit, 1999 Asumsi yang digunakan dalam metode continous review

    a. Harga setiap unit tetap dan tidak dipengaruhi oleh ukuran pemesanan.

    b. Reorder point (ROP) didasarkan pada persediaan bersih dan besarnya harus

    positif.

    c. Biaya backorder independen terhadap lamanya waktu backorder.

    d. Tidak pernah dilakukan pemesanan labih dari satu kali selama pemesanan

    sebelumnya diterima.

    e. Biaya sekali pesan adalah tetap dan independen terhadap ukuran pemesanan.

    f. Permintaan item adalah satu demi satu sehingga reorder point tidak pernah

    terlampaui.

    g. Sekali pengiriman dalam satu paket.

    h. Supplier tidak membatasi ukuran pesanan.

    i. Warehouse space, ketersdiaan modal, dan kapasitas supplier mencukupi

    kebutuhan.

    Unit persediaan

    ROP

    LT LT Waktu

  • 13

    1. Pengembangan Model Persediaan Continous Review Dengan

    Mempertimbangkan Terjadinya Backorder

    Biaya persediaan pada umumnya terdiri dari biaya pemesanan, biaya

    penyimpanan dan biaya backorder. Adapun notasi yang dipakai sebagai berikut:

    D = Permintaan tahunan

    s = Standar deviasi permintaan

    A = Biaya pemesanan

    SS = Safety stock

    X = Permintaan selama lead time

    bh = Biaya penyimpanan

    p = Biaya backorder

    ROP = Reorder point

    q = Lot pemesanan

    L = Lead time

    k = Safety factor

    TotalTC = Biaya total persediaan

    1BTC = Biaya total pemesanan

    2BTC = Biaya total penyimpanan

    3BTC = Biaya total backorder

    Besarnya biaya pemesanan dalam kurun waktu tertentu merupakan

    perkalian antara ekspektasi frekuensi pemesanan

    qD

    dengan biaya setiap kali

    pesan ( )A , sehingga dapat dirumuskan:

    AqD

    TCB =1 ...(2.1)

    Besarnya biaya penyimpanan produk merupakan perkalian antara rata-rata

    persediaan ditambah dengan safety stock, dengan biaya penyimpanan selama

    waktu tertentu ( bh ). Safety stock dapat dirumuskan sebagai perkalian antara faktor

    pengaman ( k ) dengan standar deviasi selama periode pengiriman. Sehingga biaya

    penyimpanan dapat dirumuskan (Tersine, 1994):

  • 14

    += Lk

    qhTC bB s22

    ...(2.2)

    Besarnya biaya backorder dapat dicari dengan mengalikan biaya per unit

    backorder (p ) dengan ekspetasi jumlah backoreder selam kurun waktu tertentu.

    Misalkan variabel random kontinyu x berdistribusi normal dengan rata-rata m dan

    standar deviasi 0>s , maka probability density function dari variabel tersebut

    dapat dirumuskan ( Chopra dan Meindl, 2001) :

    ( )

    --=

    2

    2

    2exp

    2

    1)(

    sm

    psx

    xf ...(2.3)

    Jika permintaan selama periode L dirumuskan sebagai DL dengan standar

    deviasi Ls , reorder point dapat dirumuskan sebagai SSDLROP += .

    Shortage terjadi ketika permintaan selama kurun waktu L lebih besar dari

    persediaan ( )ROPx > sehingga ekspetasi terjadinya shortage per siklus dapat

    dirumuskan:

    ( )

    =

    -=Px

    dxxfROPxES )(

    ( )( )( )

    +=

    --

    +-=SSqx

    L

    DLx

    dxeL

    SSDLxES2

    2

    2

    2

    1 ssp

    ...(2.4)

    Dengan mensubstitusikan ( )

    L

    DLxz

    s-

    = dan dzLdx s= pada persamaan 2.4,

    maka:

    ( )

    =

    -

    -=

    L

    SSz

    z

    dzeSSLzES

    s

    ps 2

    2

    2

    1

    =

    =

    --

    +-=

    L

    SSz

    L

    SSz

    zz

    dzezLdzeSSES

    s s

    ps

    p22

    22

    2

    1

    2

    1...(2.5)

    Misalkan ( )zFs adalah cumulative distribution function dan ( )zf s adalah probability density function untuk distribusi normal standard dengan rata-rata 0

    dan standard deviasi 1. Dengan menggunakan persamaan 2.5 dan definisi dari

    distribusi normal standar maka akan diperoleh:

  • 15

    ( ) ( )

    =

    =-yz

    ss dzzfyF1

    =

    -

    =yz

    z

    dze 22

    2

    1

    p...(2.6)

    dengan mensubtitusikan 2

    2zw = pada persamaan 2.6, maka akan diperoleh:

    ( )

    =

    -+

    --=

    2

    2

    2

    2

    11

    l

    SSw

    ws dweL

    L

    SSFSSES

    s

    ps

    s

    ( )LSSfLL

    SSFSSES ss sss

    /1 +

    --=

    [ ]{ })(1)( kFkkfLES ss --= s

    )(kLES ys= ...(2.7)

    Sehingga biaya backorder selama kurun waktu tertentu dapat dirumuskan:

    )(3 kLqD

    TCB yps

    = ...(2.8)

    Adapun total biaya persediaan dapat dirumuskan (Jauhari, 2006) sebagai berikut:

    totalTC = Biaya pemesanan + Biaya penyimpanan + Biaya backorder

    321 BBBtotal TCTCTCTC ++=

    ( ) )(2

    , kLqD

    Lkq

    hAqD

    kqTC btotal ypss

    +

    ++= ...(2.9)

    2. Pencariaan Solusi Model

    a. Variabel Keputusan q

    Variabel keputusan q dapat dicari dengan melakukan turunan parsial

    pertama persamaan 2.9 terhadap q sama dengan nol. Sehingga nilai q optimal

    akan diperoleh seperti persamaan berikut (Silver & Peterson, 1998):

    0),(=

    k

    kqTCTotal

    )(2 22

    kLqDh

    Aq

    D b yps-+-

  • 16

    ( )bh

    kLADq

    )(2 yps+=* ...(2.10)

    Dimana (Chopra dan Meindl, 2001):

    [ ]{ })(1)()( kFkkfk ss --=y ; sf berdistribusi normal, -

    x = 0 ,s = 1

    )0,,,()( s-

    = xkNORMDISTkf s

    b. Variabel Keputusan k

    Variabel keputusan k dapat dicari dengan melakukan turunan parsial

    pertama persamaa 2.11 terhadap k sama dengan nol. Dari Silver dan Paterson

    (1998) didapatkan bahwa [ ]( )

    1)()(1)(

    -=

    --kF

    k

    kFkkfs

    ss , sehingga nilai k

    optimal akan diperoleh seperti berikut:

    0),(=

    k

    kqTCTotal

    ( )0

    1)(=

    -+

    q

    kFLDLh sb

    sps

    D

    qhkF bs p

    -= 1)( ...(2.11)

    k )(1 kFs-= )(kNORMSINV=

    c. Algoritma Penyelesaian Model

    Pencarian solusi terhadap nilai q* dan k* yang dapat meminimumkan total

    biaya persediaan dapat dilakukan dengan menggunakan suatu algoritma.

    Algoritma tersebut dikembangkan oleh Hariga (2004) menjadi algoritma baru

    untuk menyelesaikan model penelitian ini. Adapun algoritma tersebut

    selengkapnya dapat dilihat sebagai berikut:

    1. Langkah 1:Mulai dengan q =bhD2

    2. Langkah 2:Gunakan nilai q untuk mendapatkan nilai k dengan persamaan

    2.11

    3. Langkah 3:Hitung q dengan persamaan 2.10.

    4. Langkah 4:Ulangi langkah 2 sampai 3 hingga nilai q dan k tidak berubah.

  • 17

    5. Langkah 5:Tetapkan bahwa *q = q dan *k = k

    2.3.2 Metode Periodic Review

    Metode periodic review adalah salah satu metode untuk menentukan

    kebijakan perusahaan. Dengan metode periodic review, status persediaan

    digudang ditentukan pada interval yang teratur atau tetap, dan memesan order

    quantity yang dibutuhkan sampai mencapai level persediaan maksimum.

    Persediaan pengaman (safety stock) yang disediakan di gudang harus lebih besar

    daripada metode continuous review karena dalam system periodic review

    persediaan pengaman harus mencakup variasi permintaan selama periode review

    dan selama waktu tunggu (lead time).

    Metode periodic review merupakan system pemesanan kembali secara

    periodik, dimana interval waktu diantara pesanan-pesanan adalah tetap (misalnya:

    mingguan, bulanan, atau triwulan), tetapi ukuran pemesanan bervariasi sesuai

    dengan pemakaian pada saat review terkhir. Adopsi metode periodic review

    disarankan untuk diterapkan dalam kondisi-kondis berikut (Gasperz, 2001):

    1. Produk-produk inventory berada dalam situasi independent demand.

    2. Kelompok produk dibeli dari supplier yang sama.

    3. Produk-produk yang memiliki daya tahan terbatas adalah ideal dengan

    menggunakan metode periodic review.

    4. Pertimbangan economic advantage dalam membangun full truckload shipment

    atau penggunaan secara penuh kapasitas yang tersedia.

    Pengendalian persediaan menggunakan metode periodic review yang

    sering digunakan adalah dengan menggunakan model persediaan periodic review

    order-up-to-level (R,S). Dalam model persediaan periodic review order-up-to-

    level (R,S), pemesanan dilakukan pada tiap R unit waktu (Silver et al, 1998). Nilai

    dari R telah ditetapkan sebelumnya untuk menghitung S yang optimal. Dua

    komponen penting dalam model persediaan periodic review order-up-to-level

    (R,S) adalah:

    a. Interval Review (R)

  • 18

    Dalam pengendalian persediaan sistem (R,S), pemenuhan order dilakukan pada

    tiap R unit waktu. Nilai dari R telah ditetapkan sebelumnya untuk menghitung

    S yang optimal.

    b. Order-up-to-level (S)

    Order-up-to-level adalah maksimum persediaan yang diijinkan. Dalam sistem

    (R,S), order-up-to-level S harus dapat memenuhi permintaan selama periode R

    + L. kekeurangan dapat terjadi bila total permintaan dalam interval R + L

    melebihi order-up-to-level S.

    Model persediaan periodic review order-up-to-level (R,S) menggunakan

    asumsi-asumsi sebagai berikut (Silver et al, 1998):

    1. Walaupun permintaan bersifat probabilistik, tetapi perubahan laju permintaan

    terhadap waktu sangat kecil.

    2. Pemesanan dilakukan pada setiap periode pemeriksaan.

    3. Bila ada 2 atau lebih order untuk produk yang sama belum terpenuhi, maka

    produk tersebut harus diterima bersamaan dengan produk yang lain yang

    diorder bersama. Untuk dapat memenuhi asumsi ini maka lead time L harus

    konstan.

    4. Nilai dari R telah ditetapkan sebelumnya untuk mendapatkan nilai S yang

    optimal.

    5. Biaya untuk pengendalian sistem tidak tergantung pada nilai S yang

    digunakan.

    1. Notasi Yang Digunakan

    Adapun notasi yang digunakan dalam sistem (R,S) (Silver & Peterson,

    1998) sebagai berikut:

    D = Laju permintaan (unit/tahun)

    )(kGu = ( ) 02

    00 2

    exp2

    1du

    uku

    k

    --

    p...(2.12)

    Suatu fungsi khusus dari unit variabel normal (mean 0, standar deviasi 1)

    k = Safety factor

    L = Lead time (tahun)

    )(kPu = Probabilitas 1 unit variabel normal mempunyai nilai k atau lebih

  • 19

    r = Biaya persediaan (Rp/tahun)

    R = Interval review (tahun)

    S = order-up-to-level (unit)

    SS = Safety stock (unit)

    v = biaya variabel (Rp/unit)

    LRx + = Peramalan permintaan selama periode pemeriksaan dan lead time (unit)

    LR+s = standard deviasi dari kesalahan peramalan (unit)

    2. Turunan Dasar

    Karena adanya asumsi bahwa pemesanan dilakukan pada tiap periode

    pemeriksaan, maka:

    Jumlah pemeriksaan per tahun = R1

    Dan

    Jumlah pemesanan yang dilakukan per tahun = R1

    Kekurangan (stockout) terjadi apabila total permintaan selama interval

    waktu R + L melebihi order-up-to-level S. Bila permintaan (x) selama R + L

    mempunyai sebuah fungsi probabilitas density yang didefinisikan sebagai:

    ( ) 00 dxf x = Probabilitas {total persediaan selama R+L antara 0x dan 00 dxx + }, maka akan menghasilkan (Silver & Peterson, 1998):

    a. Safety stock = E (net stock sebelum pemesanan berikutnya tiba)

    = ( ) ( )

    -0

    0000 dxxfxS

    Maka, LRxSSS +-= ...(2.13)

    b. Probabilitas (stockout selama siklus pemesanan)

    = Prob { Sx }

    =

    xx dxxf 00 )(

    c. Ekspetasi kekurangan per siklus pemesanan order, ESPRC

  • 20

    = ( )

    -x

    x dxxfSx 000 )(

    E (persediaan yang dimiliki menjelang waktu pemesanan),

    safety stock (SS)

    = LRxS +- .....(2.14)

    Karena pemesanan dilakukan tiap R unit waktu, maka ukuran rata-rata tiap

    pemesanan DR. oleh karena itu,

    E (persediaan yang dimiliki saat pesanan tiba) DRxS LR +- +

    Dari kedua kondisi ekstrim di atas dapat dihitung rata-rata persediaan yang

    dimiliki, yaitu:

    E(OH) 2

    DRxS LR +- +

    Dengan demikian,

    LRkSS += s ...(2.15)

    Bila kesalahan peramalan berdistribusi normal, maka

    Probabilitas (kekurangan selama siklus pemesanan) = )(kPu

    Dan

    ESPRC = )(kGuLR +s ...(2.16)

    3. Sistem Keputusan Untuk Specified Fraction (P2) Of Demand Satisfied

    Directly From Shelf

    Langkah-langkah yang dilakukan (Silver & Peterson, 1998) adalah sebagai

    berikut:

    Memilih safety factor (k) yang memenuhi persyaratan

    )1()( 2PDR

    kGLR

    u -=+s

    .....(2.17)

    Dimana D adalah permintaan per tahun (unit/tahun).

    Menghitung reorder point (s)

    LRLR kxs +

    + += s ...(2.18)

  • 21

    2. 4 Peramalan (Forecasting)

    2.4.1 Pengertian Peramalan

    Berdasarkan Gasperz (2001), peramalan adalah suatu kegiatan yang

    menggunakan data masa lalu sebagai dasar untuk meramalkan kejadian yang akan

    terjadi pada masa datang. hasil dari peramalan hanya merupakan suatu yang tidak

    pasti atau hanya merupakan suatu perkiraan yang bersifat ilmiah. Peramalan

    digunakan saat pengambilan keputusan. Peramalan dibutuhkan oleh perusahaan

    untuk memberikan informasi kepada pimpinan dalam membuat keputusan

    berbagai kegiatan, antara lain perencanaan produksi, perencanaan persediaan dan

    anggaran keuangan.

    Perusahaan perlu mengetahui tingkat perkembangan kebutuhan

    masyarakat, baik terhadap jenis kebutuhannya maupun tingkat permintaan produk

    di masa yang akan datang. Analisis mengenai perkembangan pasar suatu produk

    ini diwujudkan dalam bentuk peramalan permintaan.

    Dalam sistem peramalan, penggunaan model peramalan akan memberikan

    nilai peramalan yang berbeda dan derajat galat ramalan (forecast error) yang

    berbeda pula. Salah satu hal yang terpenting dalam peramalan adalah memilih

    model peramalan yang sesuai dan mampu mendentifikasi serta menanggapi pola

    aktivitas historis dari data.

    Tujuan utama dari peramalan permintaan adalah untuk meramalkan

    permintaan dari produk-produk independent demand (misalnya produk akhir) di

    masa yang akan datang. Pemilihan produk-produk independent demand yang akan

    diramalkan tergantung pada situasi dan kondisi aktual dari masing-masing industri

    manufaktur.

    Penetuan horizon waktu peramalan akan tergantung pada situasi dan

    kondisi aktual dari masing-masing industri manufaktur. Alternative interval

    ramalan yang umum dipilih adalah menggunakan interval waktu: harian,

    mingguan, bulanan, triwulan, semesteran, dan tahunan. Selain memilih interval

    ramalan, harus juga ditentukan banyaknya periode dimasa yang akan datang yang

    akan diramalkan, misalnya 12 atau 24 bulan mendatang, atau periode 8, 12, 16,

    atau 20 triwulan mendatang. Dalam sistem peramalan berlaku bahwa semakin

    jauh periode di masa yang akan datang yang diramalkan (dengan asumsi faktor

  • 22

    lain tetap), hasil ramalan akan semakin kurang akurat. Dengan demikian, semakin

    panjang horizon waktu peramalan, hasi ramalan akan semakin kurang akurat.

    2.4.2 Manfaat Peramalan Permintaan

    Peramalan permintaan sangat bermanfaat bagi perusahaan karena

    berhubungan dengan pengambilan keputusan. Manfaat dari peramalan permintaan

    adalah sebagai berikut:

    1. Untuk menentukan kebijakan dalam persoalan penyusunan anggaran untuk

    segala aktivitas yang dilaksanakan, seperti anggaran penjualan dan

    sebagainya.

    2. Pedoman untuk pengendalian persediaan, karena bila persediaan terlalu besar

    maka akan menimbulkan biaya penyimpanan yang tinggi dan sebaliknya bila

    persediaan terlalu kecil maka akan berpengaruh pada tingkat pelayanan

    terhadap konsumen. Oleh karena itu, peramalan dapat digunakan sebagai

    pedoman untuk mengendalikan persediaan.

    3. Merupakan langkah evaluasi yang baik untuk mengatur tingkat pelayanan

    (kemampuan memenuhi permintaan) terhadap konsumen.

    2.4.3 Prinsip-Prinsip Peramalan

    Peramalan mempunyai prinsip-prinsip yang perlu dipertimbangkan,

    diantaranya:

    1. Secara umum, teknik peramalan berasumsi bahwa sesuatu yang berlandaskan

    pada sebab yang sama yang terjadi dimasa lalu akan berlanjut dimasa yang

    akan datang.

    2. Tidak ada peramalan yang sempurna, peramalan hanya tidak mengurangi

    ketidakpastian dari dari suatu kondisi yang akan terjadi dimasa yang akan

    dating. Dengan demikian hasil peramalan mengandung nilai kesalahan.

    3. Peramalan untuk family item cenderung lebih akurat dari pada peramalan

    untuk produk individu.

    4. Peramalan jangka pendek mengandung ketidakpastian yang lebih sedikit dari

    pada peramalan untuk jangka waktu yang lebih lama. Dengan demikian

    peramalan untuk jangka waktu yang lebih pendek cenderung lebih akurat.

  • 23

    2.4.4 Langkah-Langkah Peramalan

    Langkah-langkah yang harus diperhatikan untuk menjamin efektivitas dan

    efisiensi dari system peramalan dalam manajemen permintaan, yaitu:

    1. Menetukan tujuan dari peramalan

    Tujuan utama dari peramalan permintaan adalah untuk menentukan

    permintaan dari produk-produk independent demand dimasa yang akan

    datang.

    2. Memilih produk independent demand yang akan diramalkan

    Pemilihan produk independent demand tergantung pada situasi dan kondisi

    actual dari masing-masing industry manufaktur dan tujuan peramalan itu

    sendiri.

    3. Menetukan horizon waktu peramalan semakin jauh periode dimasa datang

    yang diramalkan (dengan asumsi faktor lain tetap) maka hasil ramalan akan

    semakin kurang akurat.

    4. Mengumpulakan data yang diperlukan untuk melakukan peramalan

    Data yang diperlukan untuk melakukan peramalan adalah data permintaan,

    lead time, persediaan dan lain sebagainya. Jangka waktu untuk proses

    peramalan secara normal minimal 1 tahun.

    5. Memilih model-model peramalan

    Pemilihan model peramalan bergantung pada pola data dan horizon waktu

    peramalan. Pola data dibedakan menjadi 4, yaitu:

    Pola horizontal (H), terjadi bilamana nilai data berfluktuasi di sekitar rata-

    rata yang konstan. Deret seperti ini stasioner terhadap nilai rata-rata.

    Pola musiman (S), terjadi bilamana suatu deret dipengaruhi oleh factor

    musiman, misalnya tahun, minggu, atau hari tertentu.

    Pola siklis (C), merupakan pola musiman dengan periode waktu jangka

    panjang, biasanya berhubungan dengan siklus bisnis.

    Pola tern (T), terjadi bilamana ada kenaikan atau penurunan jangka

    panjang dalam data.

    Dari identifikasi pola dasar maka akan ditemukan formulasi model matematis

    (dengan asumsi yang diperlukan) sehingga pola tersebut dapat diteruskan dan

    diperbaharui untuk masa yang akan datang.

  • 24

    6. Penentuan model peramalan

    Model peramalan yang baik adalah model peramalan yang dapat memberikan

    hasil ramalan yang tidak jauh berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Dengan

    kata lain model peramalan yang baik adalah yang dapat memberikan

    simpangan terkecil antara hasil peramalan dengan nilai kenyataanya.

    7. Validasi model peramalan

    Validasi model peramalan dapat dilakukan dengan menggunakan tracking

    signal. Tracking signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu

    ramalan memperkirakan nialai-nilai actual.

    8. Membuat peramalan

    2.4.5 Metode-metode Peramalan

    Secara garis besar ada 2 macam metode peramalan yang dapat digunakan:

    1. Peramalan dengan menggunakan metode kualitatif

    Peramalan dengan metode kualitatif dilakukan dengan beberapa alasan

    sebagai berikut:

    Data masa lalu belum pernah ada atau susah diperoleh.

    Trend data masa lalu diperkirakan berbeda dengan trend masa yang

    akan datang.

    2. Peramalan dengan menggunakan metode kuantitatif.

    Peramalan dengan kuantitatif dapat dilakukan dengan beberapa

    persyaratan sebagai berikut:

    Data masa lalu bisa diperoleh dan dapat dikuantifikasi.

    Data masa lalu diperkirakan memiliki trend yang sama dengan data

    yang akan datang.

    Metode peramalan kuantitatif dapat digolongkan pada dua bagian, yaitu:

    a. Teknik deret berkala (time series), yaitu memperlakukan proses untuk

    memperoleh output atau taksiran sebagai sistem yang tidak bisa

    diketahui atau black box dan tidak perlu dilakukan usaha untuk

    menelusurinya. Berdasar pola datanya, metode time series ada 4 tipe

    yaitu : pola stasioner, musiman (seasonal), siklik, trend. Gambar 2.2

    merupakan gambar dari masing-masing pola data time series :

  • 25

    Pola Data Horizontal

    Pola Data Horizontal

    Pola Data Horizontal

    Pola Data Musiman

    Pola Data Horizontal

    Pola Data Trend

    Pola Data HorizontalPola Data Siklus

    Gambar 2.2 Pola data time series

    Sumber: Vincent Gaspersz, 2001

    Keterangan gambar:

    - Pola data stationer (horizontal):

    Suatu data runtut waktu yang bersifat stationer atau horizontal,

    dimana serial data nilai rata-ratanya tidak berubah sepanjang waktu (data

    berfluktuasi konstan pada nilai tertentu).

    - Pola data musiman:

    Suatu data runtut waktu yang bersifat musiman, dimana data

    mempunyai perubahan yang berulang (sekumpulan data dipengaruhi faktor

    musiman).

    - Pola data siklis:

    Suatu data yang dipengaruhi fluktuasi ekonomi jangka panjang.

    - Pola data trend:

    Suatu data runtut waktu yang bersifat trend. Suatu data runtut waktu

    dikatakan mempunyai trend jika nilai harapannya berubah sepanjang waktu

    sehingga data tersebut diharapkan akan meningkat atau menurun

    selama periode dimana peramalan diinginkan.

    b. Teknik explanatory atau kausal, yaitu menganggap output/

    taksiran mempunyai hubungan sebab akibat dengan input dalam sistem.

  • 26

    2.4.6 Metode-Metode Peramalan Kuantitatif Time Series

    Berikut ini adalah beberapa metode peramalan yang digolongkan model

    kuantitatif untuk model deret berkala (time series) yaitu: rata-rata bergerak

    (moving averages model), pemulusan exponential (exponential smoothing), dan

    adaptive exponential smoothing.

    1. Model Rata-rata Bergerak (Moving Averages Model)

    Berdasarkan Gaspersz (2001), model rata-rata bergerak menggunakan

    sejumlah data aktual permintaan yang baru untuk membangkitkan nilai ramalan

    untuk permintaan di masa yang akan datang. Metode rata-rata bergerak akan

    efektif bila kita dapat mengasumsikan bahwa permintaan pasar terhadap produk

    akan tetap stabil sepanjang waktu.

    Teknik ini akan bekerja secara sempurna bila pola data yang digunakan

    stasioner atau relative steady, tidak ada lonjakan atau penurunan terlalu tajam.

    Teknik ini atau metode ini tidak dapat digunakan untuk menangani data yang

    memiliki komponen trend dan musiman. Model rata-rata bergerak diperoleh

    dengan menghitung rata-rata suatu nilai runtut waktu dan kemudian

    menggunakannya untuk meramal periode selanjutnya. Persamaan metode ini

    dapat dilihat dibawah ini:

    Mt=Yt + 1=(Yt + Yt-1 + Yt-2 + .. + Yt-n + 1):n...(2.19)

    2. Model Pemulusan Eksponensial (Exponential Smoothing)

    Berdasarkan Gasperz (2001), model peramalan pemulusan eksponensial

    bekerja hampir sama dengan alat thermostat, dimana bila galat ramalan (forecast

    error) adalah positif, yang berarti nilai actual permintaan lebih tinggi dari pada

    nilai ramalan (A-F>0). Sebaliknya apabila galat ramalan adalah negatif, berarti

    nilai actual permintaan lebih rendah daripada nilai ramalan (A-F

  • 27

    smoothing) nilai masa lalu dari suatu runtut data dengan exponential. Persamaan

    yang dipakai dalam metode ini adalah:

    ttt FXF )1(1 aa -+=+ ....(2.20)

    Dimana:

    1+tF = Peramalan untuk periode t +1

    a = konstanta pemulusan, nilainya berkisar antara 0

  • 28

    A (t) = actual data dalam periode t

    I = seasonal index untuk periode t

    2.4.7 Pengukuran Kesalahan Peramalan

    Peramalan yang baik mempunyai berbagai kriteria yang penting antara

    lain akurasi, biaya dan kemudahan. Akurasi dari suatu hasil peramalan diukur

    dengan bias dan konsistensi peramalan. Hasil peramalan dikatakan bias bila

    peramalan tersebut terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan

    kenyataan yang sebenarnya terjadi. Hasil peramalan dikatakan konsisten jika

    besar kesalahan peramalan relatif kecil. Ukuran akurasi hasil peramalan

    merupakan tingkat perbedaan antara hasil peramalan dengan permintaan yang

    sebenarnya terjadi. Ukuran akurasi peramalan yang biasa digunakan yaitu:

    1. Mean Error : ME = n

    ei ......(2.24)

    2. Mean Absolute Error : MAE = n

    ei ...(2.25)

    3. Sum of Square Error : SSE = 2ie ....(2.26)

    4. Mean Squared Error : MSE = ( )n

    ei 2 ......(2.27)

    5. Standard Deviation of Error : SDE = ( )12

    -n

    ei ...(2.28)

    6. Percentage Error : PE = %100xX

    e

    i

    i ...(2.29)

    7. Mean Percentage Error : MPE = n

    PEi ....(2.30)

    8. Mean Absolute Percentage Error : MAPE = n

    PEi ...(2.31)

    dimana ei merupakan kesalahan (error) pada periode i yang

    nilainya didapat dari selisih antara nilai aktual dengan nilai ramalan periode

    i. Secara matematis ei dinyatakan sebagai berikut

    ei=Xi-Fi.....(2.32)

  • 29

    Xi : data aktual pada periode i

    Fi: hasil forecasting pada periode ke-i

    2.4.8 Validasi Model Peramalan

    Tracking signal adalah suatu ukuran bagaimana baiknya suatu ramalan

    memperkirakan nilai-nilai aktual. Suatu ramalan diperbaharui setiap minggu,

    bulan, atau triwulan, sehingga data permintaan yang baru dibandingkan

    terhadap nilai-nilai ramalan. Tracking signal dihitung sebagai running sum of

    the forecast error (RFSE) dibagi dengan mean absolute deviation (MAD).

    Persamaan untuk menentukan tracking signal adalah:

    Tracking signal =MAD

    YY

    MADRFSE t

    -...(2.33)

    Keterangan:

    RFSE : Running sum of the forecast error

    tY : Nilai actual pada periode t

    Y : Nilai peramalan pada periode t

    Tracking signal yang positif menunjukkan bahwa nilai aktual

    permintaan lebih besar daripada ramalan, sedangkan tracking signal yang

    negatif berarti nilai aktual permintaan lebih kecil daripada ramalan. Suatu

    tracking signal disebut baik apabila memiliki RFSE yang rendah, dan

    mempunyai positif error yang sama banyak atau seimbang dengan negative error,

    sehingga pusat dari tracking signal mendekati nol. Apabila tracking signal

    telah dihitung, pets kontrol tracking signal dapat dibangun dengan nilai tracking

    signal maksimum 4, sebagai batas-batas pengendalian untuk tracking

    signal, yang memiliki batas kontrol atas dan batas kontrol bawah.

    2.4.9 Peramalan dengan Metode Croston

    Metode croston pada dasarnya memisahkan permintaan suatu item yang

    intermitten menjadi 2 bagian, yaitu ukuran permintaan dan waktu antar

    kedatangan permintaan. Misalkan suatu proses *zD dapat dirumuskan dengan:

    *zD = za e+ dimana E( ze ) = 0, Var ( ze ) =

    2s

  • 30

    Intermittent demand adalah permintaan yang terjadi dalam waktu yang terputus-

    putus, misalnya spare part. intermittent demand mempunyai sifat:

    1. Permintaan mungkin terjadi secara terus-menerus, tetapi terdapat beberapa

    periode dengan sedikit atau tanpa permintaan yang diikuti dengan periode yang

    mempunyai permintaan tinggi.

    2. Waktu terjadinya permintaan tidak dapat diprediksikan seperti regular demand

    atau bisa dikatakan mempunyai tingkat ketidakpastian tinggi.

    3. Standar deviasi dari permintaan atau hasil peramalan mempunyai nilai yang

    lebih tinggi daripada rata-rata permintaan.

    Jika permintaan posistif pada periode t terjadi dengan probabilitas p, maka

    distribusi dari zA adalah

    P( zA = k) = (1-p)k-1 p,k>1

    Dengan

    2

    )1()(,

    1)(

    pp

    AVarp

    AE zz-

    ==

    Nilai proses *zD dan zA dalam hal ini diasumsikan independent. Dengan

    menggunakan prosedur single exponential smoothing untuk proses *zD dan zA

    (Strijbosch et al, 1998), maka akan didapatkan:

    *

    -*

    *

    -+= 1^^

    )1( zzz AAA bb ....(2.34) *

    -*

    *

    -+= 1^^

    )1( zzz DDD aa ...(2.35)

    Dimana:

    *

    zD^

    = forecast ukuran permintaan untuk periode z

    *zD = ukuran permintaan periode ke z-1

    *

    zA^

    = forecast ukuran waktu antar permintaan untuk periode z

    *zA = ukuran waktu antar permintaan periode ke z-1

    a = parameter ukuran permintaan (0.1-0.9)

    b = parameter ukuran waktu antar kedatangan permintaan (0.1-0.9)

    *

    -1

    ^

    zD = forecast permintaan sebelum *zD

  • 31

    *

    -1

    ^

    zA = forecast waktu antar kedatangan permintaan sebelum *zA

    Parameter smoothing pada umumnya memenuhi 0

  • 32

    agak berlebihan dan dengan pengendalian longgar untuk mengurangi

    resiko kehabisan persediaan.

    Penggunaan klasifikasi ABC (Gaspersz, 2001) adalah untuk menetapkan:

    1. .Frekuensi penghitungan inventori (cycle counting), dimana material-

    material Kelas A harus diuji lebih sering dalam hal akurasi catatan inventori

    dibandingkan material-material kelas B atau C.

    2. Prioritas rekayasa (engineering), di mana material-material kelas A dan B

    memberikan petunjuk pada bagian rekayasa dalam peningkatan

    program reduksi biaya ketika mencari material-material tertentu yang perlu

    difokuskan.

    3. Prioritas pembelian (perolehan), dimana aktifitas pembelian

    seharusnya difokuskan pada bahan-bahan baku bernilai tinggi (high cost)

    dan penggunaan dalam jumlah tinggi (high usage). Fokus pada material-

    material kelas A untuk pemasokan (sourcing) dan negoisasi.

    4. Keamanan: meskipun nilai biaya per unit merupakan merupakan

    indikator yang lebih baik dibandingkan nilai penggunaan (usage value),

    namun analisis ABC boleh digunalan sebagai indikator dari material-material

    mana (kelas A dan B) yang seharusnya lebih aman disimpan dalam ruangan

    terkunci untuk mencegah kehilangan, kerusakan atau pencurian.

    5. Sistem pengisian kembali (replenishment system), dimana klasifikasi

    ABC akan membantu mengidentifikasikan metode pengendalian yang

    digunakan. Akan lebih ekonomis apabila mengendalikan material-

    material kelas C dengan simple two-bin system of replenisment (bin

    reserve system or visual review system) dan metode-metode yang lain untuk

    material-matarial kelas A dan B.

    6. Keputusan investasi, karena material-material kelas A menggambarkan

    investasi yang lebih besar dalam inventory, maka perlu lebih berhati-hati

    dalam membuat keputusan tentang kuantitas pesanan dan stock pengaman

    terhadap material-material kelas A dibandingkan terhadap material-material

    kelas B dan C.

  • 33

    2. 6 Simulasi Montecarlo

    Simulasi montecarlo (Tersine, 1994) adalah tipe simulasi probabilistic

    yang memberikan solusi masalah menggunakan sampling dari suatu proses

    random. Hal ini dilakukan dengan terlebih dahulu menentukan distribusi

    probabilitas dari variabel dan kemudian diambil sampling secara random dari

    distribusi untuk mengumpulkan data. Rangkaian bilangan random digunakan

    untuk menjelaskan bahwa setiap variabel adalah random dari waktu ke waktu.

    Simulasi montecarlo mengembangkan model stokasitik dari situasi nyata

    dan kemudian menampilakan percobaan sampling pada model. Langkah utama

    dalam simulasi montecarlo adalah.

    1. Mendefinisikan distribusi probabilitas dari variabel kunci tertentu. Data

    dapat berdistribusi standar, seperti Poisson, Normal atau Eksponensial atau

    dapat berdistribusi empiris dari data masa lalu. Distribusi dapat dihasilkan

    dari data masa lampau atau dari percobaan.

    2. Sampel random digunakan untuk menentukan nilai variabel yang spesifik

    dalam simulasi. Cara mengambil sampel antara lain dengan tabel bilangan

    random. Urutan bilangan random akan mengikuti pola dari variasi yang

    diharapkan.

    3. Mensimulasikan prosesn dan menganalisa observasi dalam jumlah yang

    banyak. Jumlah yang tepat dari replikasi ditentukan dengan cara yang sama

    dengan ukuran yang sesuai dari sampel dalam eksperimen yang aktual.

    Sampel dari system dalam simulasi montecarlo ditentukan dengan

    bilangan random. Bilangan random adalah sekumpulan nilai numeric yang terjadi

    dengan kemungkinan sama dan tanpa pola yang diketahui. Cara yang paling

    mudah dalam membangkitkan bilangan random adalah mengambil sampel

    random dari semangkuk koin yang ditandai angka 1-100. Kebanyakan bilangan

    random dibangkitkan oleh komputer dan disebut sebagai bilangan random

    pseudo. Kelemahan dari bilangan random ini adalah tidak random secara

    sempurna tetapi cukup random untuk tujuan simulasi. Bilangan random ada yang

    tersedia dalam tabel. Bilangan ini dibangkitkan oleh perangkat elektronik dan

    dapat menghasilkan bilangan random yang sempurna. Kelemahan dari peralatan

    ini adalah harganya yang mahal. Oleh karena itu, dalam simulasi computer lebih

  • 34

    umum digunakan bilangan random pseudo yang dibangkitkan oleh program

    komputer.

    2. 7 Konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke)

    Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep penerapan metode 5S

    dalam penataan tata letak spare part. Adapun penjelasan masing-masing faktor 5S

    (Monden, 2000) adalah sebagai berikut

    2.7.1 S1 Ringkas (Seiri)

    Seiri berarti membedakan dengan jelas barang yang bermanfaat dari

    barang sisa sampah dan membuang barang yang tidak berguna. Seiri secara

    langsung berarti mengatur segala sesuatu dengan rapi. Di tempat kerja banyak

    sekali benda yang seringkali dapat menyebabkan timbulnya gangguan operasional

    dalam bekerja, antara lain tentang keluhan setiap orang yang mengeluhkan

    sempitnya ruang kerja mereka karena terlalu banyak barang.

    Menyimpan barang yang tidak berguna ataupun barang berguna namun

    berlebihan dapat menimbukan kerugian sebagai berikut:

    1. Di tempat kerja yang sempit hal ini akan semakin menimbulkan kesan ruangan

    terasa lebih sempit dan kurang nyaman.

    2. Penggunaan area kerja menjadi tidak produktif.

    3. Rak dan lemari penyimpanan, penggunaannya tidak efisien.

    4. Semakin kesulitan untuk membedakan mana barang yang dibutuhkan di tempat

    kerja dan mana yang tidak.

    5. Menyimpan barang yang berlebihan bagaikan mempunyai banyak uang namun

    tidak tersimpan di bank (kehilangan bunga bank).

    6. Membiarkan kondisi barang yang berkarat, rusak atau kuno sama saja dengan

    menghamburkan uang.

    7. Mempunyai barang yang berlebihan dalam proses produksi dapat berdampak

    pada berbagai faktor seperti turunnya mutu, kerusakan mesin, keterlambatan

    bahan baku dan kerugian pada saat set-up mesin.

    8. Mengalokasikan lebih banyak waktu dalam pemeriksaan inventaris akan

    meningkatkan pengeluaran dan menyebabkan reaksi berantai atas kerugian di

    masa depan.

  • 35

    Prosedur untuk mengetahui bahwa kita sebenarnya menyimpan barang

    yang tidak diperlukan atau pun kita menyimpan barang secara berlebihan:

    1. Memeriksa tempat-tempat berikut ini:

    a. Periksa Rak-rak

    - Periksa barang yang tidak dipakai dan tidak berguna

    - Cek barang lain selain barang yang sudah ditetapkan

    - Rak paling atas dan bawah merupakan tempat utama menyimpan barang-

    barang ini.

    b. Periksa Lemari dinding perkakas/laci/kabinet

    - Cek semua perkakas seperti palu, pemotong dan lain-lain.

    - Cek alat pengukur seperti kompas, jangka geser (vernier) dan meteran

    penunjuk (dial gauge).

    - Periksa barang pribadi yang biasanya tersimpan di sini, seperti majalah,

    komik kartun dan lain-lain.

    c. Periksa Lantai

    - Bagian paling ujung atau sudut lantai merupakan tempat yang perlu

    mendapat perhatian.

    - Cek alat berat yang tidak dipakai dan tidak berguna, trolley/kereta dorong.

    - Umumnya di antara barang produksi ada tumpukan bahan baku atau sisa

    material yang cenderung mengalami penurunan mutu.

    - Cek, di antara barang produksi yang tidak diketahui mutunya biasanya

    ditumpuk di tempat tersembunyi. Misalnya yang tersimpan di bawah

    conveyor, di bawah jendela, di bawah meja kerja dan di sekitar jalur jalan.

    - Periksa tempat pembuangan oli (oil bin), yaitu jenis pembuangan yang

    dilarang untuk digunakan di pabrik.

    2. Cek penyimpanan suku cadang dan bahan baku:

    Periksa suku cadang dan bahan baku yang selama bertahun-tahun tidak

    pernah dipindahkan dan berdebu, perlu diperhatikan.

    3. Periksa di luar area kerja

    - Periksa bahan baku yang tidak dipindahkan selama 5 tahun dan telah

    berkarat

  • 36

    - Cek palet kereta dorong dan container yang tidak dipakai namun masih

    saja disimpan.

    - Periksa sisa-sisa tumpukan bahan baku.

    - Periksa mesin dan peralatan yang tidak dipakai namun masih saja

    disimpan.

    4. Periksa Kantor (termasuk kantor yang terletak di dalam area kerja).

    - Cek rak, lemari dinding tempat dokumen dan lemari dinding tempat

    dokumen yang tidak dipakai.

    - Cek produk sample atau produk demo.

    2.7.2 S2 Kerapian (Seiton)

    Seiton berarti menemukan cara untuk menyimpan peralatan dengan

    menekankan pada aspek keamanan, mutu dan efektifitas. Menjaga kerapian

    barang bahkan pada saat tergesa-gesa sekalipun yang berarti kita harus selalu

    meletakkan barang di tempatnya sehingga jika diperlukan mendadak maka mudah

    dicari dan dapat langsung diperoleh dengan mudah untuk digunakan.

    Mengapa kita harus menghabiskan waktu untuk mencari?

    Kita mencari, jika banyak berserakan barang yang tidak berguna di sekeliling

    kita, yang menyebabkan kita harus mencari barang yang sedang diperlukan.

    Tidak adanya tempat penyimpanan yang memadai.

    Tidak adanya label penunjuk

    Salah simpan

    Prosedur mengeliminir tindakan mencari ini dapat dibagi menjadi 7

    (tujuh) langkah sebagai berikut:

    1. Buanglah segala sesuatu yang tidak berguna.

    2. Bersihkan tempat penyimpanan

    Penggunaan ruang untuk rak dan tempat penyimpanan file yang telah

    ditetapkan dalam bagian SEIRI harus di-sub kelompok-kan kembali. Selain itu

    rak tambahan dibuat seminim mungkin dengan mempertimbangkan adanya

    kebutuhan dan pengaturan yang tepat.

  • 37

    3. Tentukan tempat penyimpanan.

    Atur pertemuan untuk menentukan cara menyimpan yang mudah dan

    sederhana dengan mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

    - Barang yang sering dipakai harus disimpan di dekat pengguna.

    - Barang yang sering dipakai harus disimpan di tempat setinggi antara

    bagian siku dan bahu.

    - Barang yang jarang dipakai harus disimpan di tempat lain dengan

    membedakannya menurut penggunaan (kumpulkan semua barang yang

    jarang dipakai tersebut di tempat yang sama). Simpan barang dengan

    penggunaan yang sama pada tempat yang telah ditentukan misalnya obeng

    harus disimpan bersama dengan obeng, kumpulkan pada saat digunakan

    bagian-bagian yang diperlukan dari masing-masing tempat untuk

    dipasangkan.

    4. Buatlah tanda yang menunjukkan tempat peny