Makalah ulumul qur'an

of 27 /27
SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL – QUR’AN Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ‘Ulumul Qur’an yang diampu oleh Bapak M. Aba Yazid, M.Si Disusun oleh : 1. Ika Zulaefah (2013114125) 2. Yulan Afriani (2013114135) 3. Hikmatul Hanifah (2013114181) 4. Mamluatul Barokah (2013114286)

Transcript of Makalah ulumul qur'an

Page 1: Makalah ulumul qur'an

SEJARAH TURUN DAN PENULISAN AL – QUR’AN

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah ‘Ulumul Qur’an yang

diampu oleh Bapak M. Aba Yazid, M.Si

Disusun oleh :

1. Ika Zulaefah (2013114125)

2. Yulan Afriani (2013114135)

3. Hikmatul Hanifah (2013114181)

4. Mamluatul Barokah (2013114286)

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pekalongan

Jalan Kusuma Bangsa No. 09 Pekalongan

Tahun Akademik 2015

Page 2: Makalah ulumul qur'an

DAFTAR ISI

Daftar Isi...........................................................................................................1

Bab I Pendahuluan............................................................................................2

1.1.  Latar Belakang...........................................................................................2

1.2.  Tujuan..............................................................................................2

Bab II Pembahasan...........................................................................................3

2.1. Definisi Al-Qur’an..................................................................................4

2.1.1. Pengertian Etimologi (Bahasa)......................................................4

2.1.2. Pengertian Terminologi (Istilah)...................................................5

2.2. Sejarah Turunnya Al-Qur’an...................................................................6

2.2.1. Nuzulul Qur’an ...........................................................................6

2.2.2. Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur.............7

2.3. Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an............................................................8

2.3.1. Pengertian Pengumpulan Al-Qur’an.............................................8

2.3.1. Proses Penulisan Al-Qur’an..........................................................9

2.3.3. Pendapat Tentang Rasm Al-Qur’an Menurut Para Ulama’..........13

Bab III Penutup.................................................................................................15

3.1. Kesimpulan..............................................................................................15

3.2. Saran ....................................................................................................15

Daftar Pustaka...................................................................................................16

1

Page 3: Makalah ulumul qur'an

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam. Bagi Muslim, Al-Quran

merupakan firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW

melalui malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an merupakan

mukjizat Nabi Muhammad SAW yang sangat berharga bagi umat Islam hingga

saat ini. Di dalamnya terkandung petunjuk dan pedoman bagi umat manusia

dalam mencapai kebahagiaan hidup baik di dunia maupun akhirat.

Al-Qur’an mempunyai 114 surat, dengan surat terpanjang terdiri atas 286

ayat, yaitu Al Baqarah, dan terpendek terdiri dari 3 ayat, yaitu Al-’Ashr, Al-

Kautsar, dan An-Nashr. Sebagian ulama menyatakan jumlah ayat di Al-Qur’an

adalah 6.236, sebagian lagi menyatakan 6.666.

Perbedaan jumlah ayat ini disebabkan karena perbedaan pandangan tentang

kalimat Basmalah pada setiap awal surat (kecuali At-Taubah), kemudian tentang

kata-kata pembuka surat yang terdiri dari susunan huruf-huruf seperti Yaa Siin,

Alif Lam Miim, Ha Mim dan lain-lain. Ada yang memasukkannya sebagai ayat,

ada yang tidak mengikutsertakannya sebagai ayat. Untuk memudahkan

pembacaan dan penghafalan, para ulama membagi Al-Qur’an dalam 30 juz yang

sama panjang, dan dalam 60 hizb (biasanya ditulis di bagian pinggir Al-Qur’an).

Masing-masing hizb dibagi lagi menjadi empat dengan tanda-tanda ar-rub’

(seperempat), an-nisf (seperdua), dan as-salasah (tiga perempat).

Dari segi turunnya Al-Qur’an dan penulisan Al-Qur’an terdapat pula

beberapa perbedaan pendapat para ahli. Adapun perbedaan itu dari segi

pengertian Al-Qur’an, sejarah turunnya Al-Qur’an, penulisan serta rasm Al-

Qur’an dan sebagainya. Maka diperlukan pengkajian yang serius untuk menjaga

kemurnian dan kesucian Al-Qur’an hingga akhir zaman.

B. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui :

1.      Untuk mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an

2.      Mengetahui periodesasi penulisan Al-Qur’an

3.      Mengetahui hikmah turunnya Al-Qur’an

2

Page 4: Makalah ulumul qur'an

BAB II

PEMBAHASAN

Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam, dimana redaksi maupun

susunannya tidak pernah berubah dan tetap terpelihara sepanjang zaman, dari awal

hingga akhir turunnya Al-Quran, seluruh ayat-ayatnya diriwayatkan secara

mutawatir baik secara hafalan maupun tulisan. Selanjutnya sesudah masa kenabian

pengkodifikasian (pengumpulan dan pembukuan) Al-Quran disempurnakan,

sehingga sampai kepada yang kita saksikan saat ini. Al-Quran merupakan pedoman

umat Islam yang berisi petunjuk dan tuntunan komprehensif guna mengatur

kehidupan di dunia dan akhirat. Ia merupakan kita otentik dan unik, yang mana

redaksi, susunan maupun kandungan maknanya berasal dari wahyu, sehingga ia

terpelihara dan terjamin sepanjang zaman.1

Al-Qur’an diturunkan tidak sekaligus, melainkan secara berangsur- angsur

dalam masa yang relatif panjang, yakni dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw..

diangkat menjadi Rasul dan berakhir pada masa menjelang wafatnya. sehingga Al-

Qur’an belum terbukukan seperti adanya sekarang ini. Meskipun demikian, upaya

pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an pada masa itu tetap berjalan. Setiap ayat-ayat Al-

Qur’an diwahyukan kepadaNabi Muhammad Saw..kemudian Beliau memerintahkan

kepada para shahabat tertentu untuk menuliskannya dan menghafalnya. Penulisan

ayat-ayat Al-Qur’an tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang. Selain karena

mereka belum mengenal alat-alat tulis, Al-Qur’an hanya ditulis pada kepingan-

kepingan tulang, pelepah korma, atau batu-batu tipis, sesuai dengan peradaban

masyarakat waktu itu.

Peran sahabat sangat penting dalam penulisan al-Qur’an terutama para

Khulafaur Rosyidin, dari Khalifah Abu Bakar yang mengumpulkan penulisan Al-

qur’an atas usul sahabat Umar, dan pada masa Kholifah Utsman bin Affan

menyatukan mushaf menjadi rujukan tunggal yaitu mushaf utsmani kemudian

memperbanyak dan dikirimkan ke penjuru dunia. Untuk lebih jelasnya akan

dipaparkan dalam pembahasan berikutnya.

1Shihab, M. Quraish (1996), Wawasan Al-Qur’an, Jakarta: Mizan, hlm 3-4

3

Page 5: Makalah ulumul qur'an

2.1 Definisi Al-Qur’an

2.1.1 Pengertian Etimologi (Bahasa)

Para ulama telah berbeda pendapat di dalam menjelaskan kata Al-Qur’an

dari sisi: derivasi (istyqaq), cara melafalkan (apakah memakai hamzah atau

tidak), dan apakah ia merupakan kata sifat atau kata jadian. Para ulama’ yang

mengatakan bahwa cara melafalkan menggunakan hamzah pun telah terpecah

menjadi dua pendapat:

1. Sebagian dari mereka, diantaranya Al-Lihyani, berkata bahwa kata “Al-

Qur’an” merupakan kata jadian dari kata dasar “qara’a” (membaca)

sebagai mana kata rujhan dan ghufran. Kata jadian ini kemudian dijadikan

sebagai nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad

Saw..Penamaan ini masuk kedalam kategori “tasmiyah al maf’ul bil al

mashdar” (penamaan isim maf’ul dengan isim masdhar). Mereka merujuk

firman Allah pada surah Al-Qiyamah [75] ayat 17-18 :

Artinya :17.Sesungguhnya atas tanggungan kamilah

mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

18.Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.

2. Sebagian dari mereka, diantaranya Al-Zujaj, menjelaskan bahwa kata “Al

Qur’an” merupakan kata sifat yang berasal dari kata dasar “al-qar’u” yang

artinya menghimpun. Kata sifat ini kemudian dijadikan nama bagi firman

Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, karena kitab menghimpun

surat, ayat, kisah, perintah dan larangan.

Para Ulama yang mengatakan bahwa cara melafalkan “Al-Qur’an” dengan

tidak menggunakan hamzah pun terpecah menjadi 2 kelompok :

4

Page 6: Makalah ulumul qur'an

a.       Sebagian dari mereka, diantaranya adalah Al-Asy’ari, mengatakan bahwa

kata Al-Qur’an diambil dari kata kerja “qarana” (menyertakan) karena Al-

Qur’an menyertakan surat, ayat, dan huruf –huruf.

b.      Al-Farra’ menjelaskan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata dasar

“qarra’in” (penguat) karna Al-Qur’an terdiri dari ayat-ayat yang saling

menguatkan, dan terdapat kemiripan antara satu ayat dan ayat-ayat lainya.2

2.1.2 Pengertian Terminologi (Istilah)

a. Menurut Manna’ Al-Qaththan:3

. . بتالوته المتبد م ص محمد على المنزل الله كالمArtinya :

“Kitab Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad S.A.W dan

membacanya memperoleh pahala.”

b. Menurut Al-Jujani:4

متواترا نقال عنه المنقول المصاحف فى المكتوب الرسول على المنزل هوهةبالشب

Artinya :

“Yang diturunkan kepada Rasulullah S.A.W, yang ditulis didalam mushaf dan

yang di riwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.”

c. Menurut Abu Syahbah:5

Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan, baik lafaldz maupun

maknanya, kepada nabi Muhammad SAW., yang diriwayatkan secara

mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan akan kesesuaiannya

dengan apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW., yang ditulis pada

mushaf mulai dari surat Al-Fatihah sampai akhir surat An-Nas.

d. Menurut Kalangan Pakar Ushul Fiqih, Fiqih, dan Bahasa Arab:6

2 Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah As-Sunnah, Kairo, 1992, hlm. 19-20

3 Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1978, hlm. 21

4 Abu Syahbah, op. cit, hlm. 7.5 Abu Syahbah, op. cit, hlm. 7.6 Ibid., hlm 20

5

Page 7: Makalah ulumul qur'an

, . بالتواتر المنقول بتالوته المعجز م ص محمد نبيه على المنزل الله كالم

الناس سورة إلى الفاتحة سورة أول من المصاحف فى المكتوبArtinya:

“Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad,yang lafazh-

lafazhya mengandung mujizat,membacanya mempunyai nilai ibadah,yang

diturunkan secara mutawatir, dan yang ditulis pada mushaf, mulai dari awal

surat Al-Fatihah [1] sampai akhir surat An-Nas [114].”

2.2 Sejarah Turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an)

2.2.1 Nuzulul Qur’an

Nuzul adalah kata jadian dari kata kerja “Nazala” yang berarti

“Turun”.Turunnya Al-Qur’an lebih sering digunakan istilah Nuzulul Qur’an,

bahkan terdapat peringatan Nuzulul Qur’an sebagai bentuk penghormatan dan

pengagungan terhadap Al-Qur’an. Kebanyakan masyarakat hanya sebatas

mengetahui bahwa Al-Qur’an diturunkan pada Bulan Ramadhan, namun

sebenarnya ada beberapa tahapan Al-Qur’an itu turun kepada Nabi Muhammad

Saw..hingga dapat kita baca sekarang ini.

Al-Qur’an diturunkan dalam tempo 22 tahun 2 bulan 22 hari, yaitu mulai

malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi, sampai 9 Djulhijjah haji

Wada’ tahun 63 dari kelahiran Nabi atau tahun 10 H.7

 Menurut Al-Zarqani dalam manahil Al-Irfan berpendapat bahwa proses

turunnya Al-Qur’an terdiri atas tiga tahapan.8

1. Al-Qur’an turun secara sekaligus dari Allah ke Lauh Al-Mahfuzh, yaitu

suatu tempat yang merupakan catatan tentang segala ketentuan dan

kepastian Allah. Disebutkan dalan Surat Al-Buruj ayat 21-22:

Artinya :

21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Quran yang mulia,

22. yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.

2. Al-Qur’an diturunkan dari Lauh Al-Mahfuzh ke Bait Al-Izzah (tempat yang berada di langit dunia), sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Qadar ayat 1.

7 Hudari Bik, Tarih Al-Tasyri’ Al- Islami, terjemahan , Rajamurah Al-Qana’ah, 1980, hlm. 5-68 Mabahits fi Ulu’mul Al-Qur’an, Dar Al-Qalam. li Al-Malayyin, Bairut, 1988, hlm. 51

6

Page 8: Makalah ulumul qur'an

Artinya :Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

3. Al-Qur’an diturunkan dari Bait Al-Izzah ke dalam hati Nabi dengan jalan

berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan. Hal ini diisyaratjkan dalam

Q.S. Asy-Syu’ara ayat 193-195:

Artinya:

193. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),

194. ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di

antara orang-orang yang memberi peringatan,

195. dengan bahasa Arab yang jelas.

Masa turunnya Al-Qur’an dapat dibagi ke dalam dua periode. Perode

pertama disebut periode makiyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan ketika

Nabi Muhammad masih bermukim di Mekah, yaitu 12 tahun 5 bulan 13

hari yaitu dari 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi. Periode kedua

disebut periode Madaniyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan ketika Nabi

Muhammad hijrah ke Madinah yaitu selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, yakni

dari permulaan Rabiul awal tahun 54 dari kelahiran Nabi sampai 9

Djulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi. Hal ini menandakan bahwa Al-

Qur’an mempunyai hubungan dialektis dengan situasi dan tempat dimana

ia diturunkan.

2.2.2 Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-Angsur

Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur mempunyai hikmah yang

besar sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Furqon ayat 32 :

Artinya : “Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak

diturunkan kepadanya sekali turun saja?", demikianlah supaya Kami perkuat

hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).”

7

Page 9: Makalah ulumul qur'an

Di samping itu masih banyak pula hikmah yang terkandung dalam hal

diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur sebagai berikut :9

1. Untuk meneguhakan hati Nabi Muhammad Saw.. Mengingat watak keras

masyarakat yamg dihadapi Nabi, maka dengan turunnya Al-Qur’an secara

berangsur-angsur akan memperkuat hati Nabi.

2. Sebagai Mukjizat Mengingat banyaknya tantangan yang dihadapi Nabi

dari kaumnya baik dari pertanyaan yang memojokkan. Turunnya wahyu

yang berangsur-angsur itu tidak saja menjawab pertanyaan itu bahkan

menantang mereka untuk membuat sesuatu yang serupa dengan Al-

Qur’an.

3. Untuk memudahkan hafalan dan pemahaman Al-Qur’an.  Sekiranya Al-

Qur’an turun sekaligus tentu sulit untuk memahami dan menghafal isinya.

4. Untuk menerapkan hukum secara bertahap.

5. Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an adalah bukan rekayasa Nabi Muhammad

atau manusia biasa. Meskipun rangkaian ayatnya turun selama 23 tahun

tetapi sistematika dan kandungannya tetap konsisten.

2.3  Sejarah Pengumpulan dan Penulisan Al-Qur’an

2.3.1  Pengertian Pengumpulan Al-Quran

Dalam penulisan Al-Qur’an kita mengenal istilah Jam’u Al-Qur’an

(pengumpulan Al-qur’an) yang mempunyai dua pengertian yaitu, al-hifdzu

(menghafal) dan al-kitabah (menulis) yakni menulis al-qur’an pada benda-

benda yang dapat ditulis.

Kata pengumpulan dalam arti penghafalannya adalah proses ketika Allah

Swt. menyemayamkan wahyu yang diturunkan ke dalam lubuk hati Nabi

Muhammad Saw. secara mantap, menghafal dan menghayatinya, sehingga

beliau dapat menguasai Al-Quran sebagaimana yang dimaksud Allah SWT.

kemudian beliau membacakannya kepada sejumlah sahabatnya, agar mereka

dapat pula menghafal dan memantapkannya di dalam lubuk hati mereka.

Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Jumu’ah ayat 2:

9 Al-Qaththan, op. cit., hlm. 107-116

8

Page 10: Makalah ulumul qur'an

Artinya :

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di

antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan

mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan

Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Sedangkan pengumpulan Al-Qur’an yang berarti al-kitabah (menulis)

yakni perhimpunan seluruh Al-Qur’an dalam bentuk tulisan, yang

memisahkan masing-masing ayat dan surah, atau hanya mengatur susunan

ayat-ayat Al-Qur’an saja dan mengatur susunan semua ayat dan surah di

dalam beberapa shahifah yang kemudian disatukan sehingga menjadi suatu

koleksi yang merangkum semua surah yang sebelumnya telah disusun satu

demi satu. Penulisan sudah ada pada zaman Rasulullah SAW. yaitu dalam

bentuk lembaran-lembaran yang terpisah atau dalam bentuk ukiran pada

beberapa jenis benda yang dapat dijadikan sebagai alat tulis-menulis yaitu

‘usub (pelepah kurma), likhaf (batu halus berwarna putih), riqa’ (kulit), aktaf

(tulang unta) dan aktab (bantalan kayu yang biasa dipasang dipunggung

unta).10

2.3.2 Proses Penulisan Al-Qur’an

Proses penulisan Al-Qur’an (rasmu Al-Qur’an) terdiri dari beberapa

tahapan atau masa. Yaitu pada masa Nabi Muhammad SAW., masa

Khulafa’ur Rasyidin, dan pada masa setelah Khulafa’ur Rasyidin.

A. Pada Masa Nabi Muhammad Saw.

Kedatangan wahyu merupakan se/suatu yang sangat dirindukan oleh

Nabi Muhammad SAW. Sehingga kerinduan Nabi Muhammad SAW.

terhadap kedatangan wahyu tidak sengaja diekspresikan dalam bentuk

hafalan, tetapi juga dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, penulisan Al-

Qur’an pada masa Nabi Muhammad ditempuh dengan dua cara:

1. Al-Jam’u fis Sudur

10 Syahbah, op. cit., hlm. 241

9

Page 11: Makalah ulumul qur'an

Rasulullah amat menyukai wahyu, dan senantiasa menunggu

turunnya wahyu dengan rasa rindu, lalu menghafal dan memahaminya.

Persis seperti dijanjikan Allah SWT dalam surat Al-Qiyamah ayat 17 :

Artinya:

“Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di

dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.”

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad Saw adalah hafiz (penghafal) Al-

Qur’an pertama dan merupakan contoh paling baik bagi para sahabat

dalam menghafalnya, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada pokok

agama dan sumber risalah. Setiap kali Rasulullah menerima wahyu,

para sahabat langsung menghafalnya diluar kepala.

2. Al-Jam’u fis Suthur

Selain di hafal, Rasulullah juga mengangkat para penulis wahyu Al-

Qur’an dari sahabat-sahabat terkemuka seperti Ali, Mu’awiyah, Ubay

bin Ka’b dan Zaid bin Sabit. Bila ayat turun, beliau memerintahkan

mereka menuliskan dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah,

sehingga penulisan pada lembaran itu membantu penghafalan didalam

hati.

Proses penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad Saw.

sangatlah sederhana. Mereka menggunakan alat tulis sederhana dan

berupa lontaran kayu, pelepah kurma, tulang belulang dan berbagai

tempat lainnya. Selain para sekretaris Rasulullah, para sahabat juga

melakukannya tanpa sepengetahuan Nabi Muhammad Saw.

Diantara faktor yang mendorong penuisan al-quran pada masa Nabi

Muhammad S.A.W adalah :

1. Memback-up hafalan yang telah dilakukan oleh nabi dan para

rasulnya

2. Mempresentasikan wahyu dengan cara yang paling sempurna.

bertolak dari hafalan para sahabat saja tidak cukup karena terkadang

mereka lupa atau sebagian dari mereka ada yang sudah wafat.

10

Page 12: Makalah ulumul qur'an

adapun tulisan tetap terpelihara walaupun tidak ditulis pada satu

tempat.11

B. Pada Masa Khulafa’ur Rasyidin

1. Pada Masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sepeningal Rasulullah Saw., istrinya `Aisyah menyimpan beberapa

naskah catatan (manuskrip) Al Quran, dan pada masa pemerintahan Abu

Bakar R.a terjadilah Jam’ul Quran yaitu pengumpulan naskah-naskah

atau manuskrip Al-Quran yang susunan surah-surahnya menurut riwayat

masih berdasarkan pada turunnya wahyu (hasbi tartibin nuzul).

Usaha pengumpulan tulisan Al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar

terjadi setelah Perang Yamamah pada tahun 12 H. Peperangan yang

bertujuan menumpas habis para pemurtad dan juga para pengikut

Musailamah Al-Kadzdzab itu ternyata telah menjadikan 70 orang sahabat

penghafal Al-Qur’an syahid.  Khawatir akan hilangnya Al-Qur’an karena

para penghafal Al-Qur’an banyak yang gugur dalam medan perang. Lalu

Umar bin Khattab menemui Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk

mengumpulkan Al-Qur’an dari berbagai sumber, baik yang tersimpan

didalam hafalan maupun tulisan.

Namun pada awalnya Abu Bakar pun tidak setuju dengan apa yang

diusulkan oleh Umar bin Khattab. Karena menurutnya, Nabi Muhammad

SAW.pun tidak pernah melakukannya. Tetapi Umar bin Khattab terus

membujuk Abu Bakar untuk melakukannya, dan akhirnya Allah SWT

membukakan hati Abu Bakar untuk menerima usulan tersebut. Kemudian

Abu Bakar pun memerintahkan Zaid bin Sabit untuk melakukannya.

Seperti Abu Bakar sebelumnya, Zaid bin Sabit pun menolak perintah

Abu Bakar dengan alas an yang sama. Setelah terjadi musyawarah,

akhirnya Zaid bin Sabit pun setuju.

2. Pada Masa Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan

Pada masa pemerintahan Usman bin ‘Affan terjadi perluasan wilayah

islam di luar Jazirah arab sehingga menyebabkan umat islam bukan

11 Rosihon anwar.pengantar ulumul quran.bandung:pustaka setia,2009.hlm 74.

11

Page 13: Makalah ulumul qur'an

hanya terdiri dari bangsa arab saja (’Ajamy). Kondisi ini tentunya

memiliki dampak positif dan negatif.

Salah satu dampaknya adalah ketika mereka membaca Al Quran,

karena bahasa asli mereka bukan bahasa arab. Fenomena ini di tangkap

dan ditanggapi secara cerdas oleh salah seorang sahabat yang juga

sebagai panglima perang pasukan muslim yang bernama Hudzaifah bin

Al-Yaman.

Inisiatif ‘Utsman bin ‘Affan untuk menyatukan penulisan Al-Qur’an

tampaknya sangat beralasan. Betapa tidak, menurut beberapa riwayat,

perbedaan cara membaca Al-Qur’an pada saat itu sudah berada pada titik

yang menyebabkan umat Islam saling menyalahkan dan pada ujungnya

terjadi perselisihan diantara mereka.

‘Utsman bin ‘Affan memutuskan agar mushaf-mushaf yang beredar

adalah mushaf yang memenuhi persyaratan berikut:

1. Harus terbukti mutawatir, tidak ditulis berdasarkan riwayat ahad,

2. Mengabaikan ayat yang bacaannya dinasakh dan ayat tersebut tidak

diyakini dibaca kembali dihadapan Nabi Muhmmad SAW. pada saat-

saat terakhir.

3. Kronologi surat dan ayat seperti yang dikenal sekarang ini, berbeda

dengan mushaf Abu bakar yang susunan mushafnya berbeda dengan

mushaf ‘Utsman bin ‘Affan.

4. Sistem penulisan yang digunakan mushaf mampu mencakupi qira’at

yang berbeda sesuai dengan lafazh-lafazh Al-Qur’an ketika turun,

5.  Semua yang bukan mushaf Al-Qur’an dihilangkan.Pada masa ini, Al-

Qur’an mulai dalam tahap penyempurnaan dalam penulisannya.

Mushaf yang ditulis pada masa ‘Utsman bin ‘Affan tidak memiliki

harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu qira’at

yang tujuh. Setelah banyak orang non-Arab memeluk Islam, mereka

merasa kesulitan membaca mushaf yang tidak berharakat dan bertitik

itu. Pada masa khalifah ‘Abd Al-Malik (685-705), ketidak

memadainya mushaf ini telah dimaklumi para sarjana muslim

12

Page 14: Makalah ulumul qur'an

terkemuka saat itu dan pada karena itu pula penyempurnaan mulai

segera dilakukan.

C. Pada Masa Setelah Khulafa’ur Rasyidin

Pada masa ini, Al-Qur’an mulai dalam tahap penyempurnaan dalam

penulisannya. Mushaf yang ditulis pada masa ‘Utsman bin ‘Affan tidak

memiliki harakat dan tanda titik sehingga dapat dibaca dengan salah satu

qira’at yang tujuh. Setelah banyak orang non-Arab memeluk Islam,

mereka merasa kesulitan membaca mushaf yang tidak berharakat dan

bertitik itu. Pada masa khalifah ‘Abd Al-Malik (685-705), ketidak

memadainya mushaf ini telah dimaklumi para sarjana muslim terkemuka

saat itu dan pada karena itu pula penyempurnaan mulai segera dilakukan.

Upaya penyempurnaan itu tidak berlangsung sekaligus, tetapi bertahap

dan dilakukan oleh setiap generasi sampai abad III H (akhir abad IX M.).

2.3.3 Pendapat tentang Rasm Al-Qur’an  Menurut Para Ulama

Rasm yang bermakna “penulisan” yang dalam hal ini adalah penulisan

Al-Qur’an yang begitu terjaga, memiliki tingkat ketelitian dan kehati-hatian

yang tinggi. Rasm Al-Qur’an pertama kali dilakukan pada masa Khalifah

Utsman Bin Affan ternyata melahirkan beberapa pendapat para Ulama dalam

hal cara penulisannya. Pendapat-pendapat Ulama’ tersebut dapat

dirangkumkan sebagai berikut:

1.  Sebagian dari mereka berpendapat bahwa rasm ‘Utsmani itu bersifat

tauqifi, yakni bukan produk budaya manusia yang wajib diikuti siapa saja

ketika menulis Al-Qur’an. Mereka merujuk pada sebuah riwayat yang

menginformasikan bahwa Nabi pernah berpesan kepada Mu’awiyah, salah

seorang sekretarisnya.12

“Letakkanlah tinta. Pegang pena baik-baik. Luruskan huruf ba’.

Bedakan huruf sin. Jangan butakan huruf mim. Buat baguslah (tulisan)

Allah. Panjangkan (tulisan) Ar- Rahman dan buatlah bagus (tulisan) Ar-

Rahim. Lalu, letakkan penamu diatas telinga kirimu, karena itu akan

membuatmu lebih ingat”.

12 Al-Qaththan, op. Cit, hlm. 146-147.

13

Page 15: Makalah ulumul qur'an

Namun Al-Qaththani berpendapat bahwa tidak ada satu riwayat pun

dari Nabi yang bisa dijadikan alasan untuk menjadikan rasm’Utsmani

menjadi tauqifi. 13 Rasm ‘Utsmani murni merupakan kreatif panitia atas

persetujuan ‘Utsman.

Subhi Shalih juga mengatakan ketidaklogisan rasm ‘Utsmani disebut-

sebut tauqifi. Karena huruf-huruf tahajji itu status Qurannya mutawatir.

Akan tetapi, istilah rasm ‘Utsmani baru lahir pada masa pemerintahan

‘Utsman. ‘Utsman yang menyetujui penggunaan istilah itu, bukan Nabi.14

2.  Sebagian besar ulama berpendapat bahwa rasm ‘Utsmani bukan tauqifi,

tetapi merupakan kesepakatan cara penulisan yang disetujui ‘Utsman dan

diterima umat, sehingga wajib diikuti dan ditaati siapa pun yang menulis

Al-Qur’an. Tidak boleh ada yang menyalahinya.

3.  Sebagian dari mereka berpendapat rasm ‘Utsmani bukanlah tauqifi. Tidak

ada halangan yang menghalanginya tatkala suatu generasi sepakat

menggunakan cara tertentu untuk menulis Al-Qur’an yang berlainan

dengan rasm ‘Utsmani. Sunnah menunjukan bolehnya menuliskannya

(mushaf) dengan cara bagaimana saja yang mudah. Sebab, Rasulullah

Saw. dahulu menyuruh para Sahabat untuk menuliskan Al-Qur‘an tanpa

menjelaskan kepada mereka bentuk (tulisan) tertentu.

13 Ulum Qur’an, hal 51.14 Ash-Shalih, op. Cit, 277

14

Page 16: Makalah ulumul qur'an

BAB III

PENUTUP

3.1.   Kesimpulan

Dalam penulisan Al-Qur’an kita mengenal istilah Jam’u Al-Qur’an

(pengumpulan Al-qur’an) yang mempunyai dua pengertian yaitu, al-hifdzu

(menghafal) dan al-kitabah ( menulis ) yakni menulis al-qur’an pada benda-

benda yang dapat ditulis.

Seluruh Al-Qur’an telah ditulis pada zaman Rasulullah Saw.. masih hidup,

hanya belum terhimpun di dalam satu tempat. Media penulisan yang digunakan

saat itu berupa pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun

kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang dan banyak sahabat-sahabat

yang langsung menghafalkan ayat-ayat Al-Qur'an setelah wahyu diturunkan.

Umar bin Khattab meminta kepada Abu Bakar sebagai khulafaur rosyidin

untuk mengumpulkan seluruh tulisan Al-Qur'an yang saat itu tersebar di antara

para sahabat dan memerintahkan Zaid bin Tsabit sebagai koordinator

pelaksana.

Pada masa kholifah Utsman bin Affan, mengambil kebijakan untuk

membuat sebuah mushaf standar (menyalin mushaf yang dipegang Hafsah)

yang ditulis dengan sebuah jenis penulisan yang baku. Standar tersebut, yang

kemudian dikenal dengan istilah cara penulisan (rasam) Utsmani yang

digunakan hingga saat ini. Bersamaan dengan ini, seluruh mushaf yang berbeda

dengan standar yang dihasilkan diperintahkan untuk dimusnahkan (dibakar).

3.2. Saran

Kita sebagai umat Islam seharusnya lebih giat untuk membaca dan

mengamalkan isi ajaran yang terkandung didalam Al-Qur’an. Sebagaimana

para sahabat nabi yang telah berupaya mengumpulkan, menuliskan, serta

merapihkan susunan isi Al-Qur’an namun tidak merubah satu kata pun isi

ketika awal turun kepada Nabi Muhammad Saw.. Lebih-lebih sampai kita

belajar lebih dalam lagi untuk mentadaburinya, karena sekarang sudah ada

studi yang khusus mempelajari Al-Qur’an yaitu Ulumul Qur’an (Ilmu Al-

Qur’an).

15

Page 17: Makalah ulumul qur'an

DAFTAR PUSTAKA

Shihab, M. Quraish (1996), Wawasan Al-Qur’an, Jakarta: Mizan

Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, Al-Madkhal li Dirasat Al-Qur’an Al-Karim, Maktabah As-Sunnah, Kairo, 1992

Al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum Al-Qur’an, Mansyurat Al-‘Ashr Al-Hadis, 1978

Hudari Bik, Tarih Al-Tasyri’ Al- Islami, terjemahan , Rajamurah Al-Qana’ah, 1980

Mabahits fi Ulu’mul Al-Qur’an, Dar Al-Qalam. li Al-Malayyin, Bairut, 1988

Anwar Rosihon.(2009). pengantar ulumul quran, bandung: pustaka setia

16