MAKALAH SAMURAI JEPANG SHINTA DEWI

download MAKALAH SAMURAI JEPANG SHINTA DEWI

of 22

  • date post

    29-Jun-2015
  • Category

    Documents

  • view

    688
  • download

    10

Embed Size (px)

Transcript of MAKALAH SAMURAI JEPANG SHINTA DEWI

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Bahasa Jepang

Oleh:

SHINTA DEWI K.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT., karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan segenap kemampuan saya, walaupun masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Seiring dengan perkembangan zaman dan juga remaja sekarang telah melupakan kebudayaannya maka, saya membuat makalah mengenai Kebudayaan Samurai ini agar kita semua dapat memperoleh dan mengetahui apa sebenarnya Samurai itu dan darimana kebudayaan itu berasal. Saya menghadirkan makalah ini sebagai salah satu alternatif bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai Samurai. Makalah mengenai Kebudayaan Jepang ini disusun dengan baik dari berbagai macam panduan mengenai Kebudayaan yang berasal dari Jepang yang telah diringkas menjadi sebuah Makalah yang berjudul SAMURAI. Namun saya menyadari makalah ini masih belum sempurna apabila tidak ada kritikan dan saran dari saudara/i sekalian yang membaca Makalah ini. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak yang membaca demi perbaikan dan penyempurnaan pada Makalah ini.

Akhir kata saya ucapkan terimakasih dan semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua.

Jakarta, 10 Februari 2011

Penulis

DAFTAR ISI

HalamanATA PENGANTAR.................................................................. DAFTAR ISI................................................................................ BAB I PENDAHULUAN

i ii

A. Latar Belakang......................................................... B. Tujuan Penulisan. C. Metode Penulisan. D. Sistematika Penulisan.....BAB II TINJAUAN TEORI

1 1 2 2 4 7 9 10 11 14 15

1. Kebudayaan Jepang. 2. Sejarah Samurai 3. Kematian Samurai. 3.1. Cara Kematian 1: Mati Di Medan Pertempuran........ 3.2. Cara Kematian 2: Seppuku.... 4. Samurai Wanita.. 5. Tokoh-Tokoh Samurai Jepang.BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan... . 3.2 Saran ......DAFTAR PUSTAKA

16 16

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Awalnya, pedang di Jepang mengadopsi pedang Cina yang bermata ganda dan lurus. Sejarah pedang samurai dimulai ketika Amakuni, seorang pembuat pedang di abad ke-7, mulai membuat pedang yang berkarakter khusus Jepang. Pada zaman itu, para samurai dapat menggunakan berbagai macam senjata berbeda, tetapi pedang menjadi senjata yang bernilai tinggi sebagai jiwa seorang samurai. Bahkan, bila ada orang yang bukan seorang samurai membawa pedang atau senjata sembarangan, hukuman penggal kepala dengan mudah dapat dikenakan padanya. Perkembangan pedang di Jepang tidak bisa lepas dari perkembangan sejarah bangsa itu. Perang Onin yang terjadi pada 1467-1477 membuat kualitas pedang dan senjata meningkat tinggi karena peruntukkan perang. Akan tetapi, pada masa Muromachi, peran pedang sedikit tersingkir karena mulai masuknya senjata api. Era Tokugawa menjadikan pedang berkualitas baik kembali, terutama di akhir zaman Edo. Hal ini karena adanya pelarangan penggunaan senjata api dan bubuk mesiu. Akhirnya, di era Restorasi Meiji, pedang dilarang oleh pemerintah. Memasuki era 1900-an, masa Perang Dunia ke II, Jepang membuat pedang murah untuk digunakan oleh para tentara yang dinamai pedang shin-gunto. Perjalanan samurai dan kebudayaan jepang sangat menarik. Oleh karena itu saya akan mencoba membuat sebuah makalah mengenai SAMURAI

B.

Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah: Diperoleh pengetahuan mengenai Samurai 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui tentang kebudayaan jepang b. Mengetahui sejarah samurai c. Mengetahui cara kematian samurai d. Mengetahui samurai wanita e. Mengetahui tokoh-tokoh samurai C. Ruang Lingkup Dalam penulisan makalah ini saya membahas tentang Samurai D. Metode Penulisan Pada penulisan makalah ini saya menggunakan metode studi kepustakaan yaitu dengan membaca, menelaah, mempelajari, memahami buku-buku, diklat, dan sumber lain untuk mendapatkan hasil dasar ilmiah yang berhubungan dengan isi makalah ini. E. Sistematika Penulisan Dalam pembuatan makalah ilmiah ini dijelaskan secara sistematis yang dibagi dalam 4 bab, yaitu: BAB I :PENDAHULUAN Terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II BABIII :TINJAUAN TEORITIS :PEMBAHASAN Pembahasan disini berisi tentang samurai BAB IV :PENUTUP

Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran. DAFTAR PUSTAKA

BAB II TINJAUAN TEORI

1.

KEBUDAYAAN JEPANG Jepang yang mempunyai kebudayaan yang unik membuat Negara bunga

sakura itu banyak di kenal masyarakat dunia salah satunya Indonesia, kebudayaan jepang yang sampai saat ini masih dilakukan dalam berbagai kesempatan misalkan perayaan hanami, di karenakan masyarakat jepang mencintai kebudayaannya sendiri dan mau menjaganya. Orang jepang mau memakai pakean seberat dan setebal kimono untuk sekedar menghadiri upacara resepsi pernikahan, sekarang kita tau bagaimana cintanya warga jepang pada kebudayaannya sendiri. Adakalanya kita perlu mengetahui seperti apa kebudayaan jepang itu, mungkin dengan mengetahui beberapa kebudayaan jepang kita bisa sedikit meniru cara melestarikan kebudayaannya, mungkin bisa saja kebudayaan kita tetap terjaga dan tetap di lakukan seperti kebudayaan jepang, salah satu contoh kebudayaan jepang adalah Samurai.

2.

Sejarah Samurai Istilah samurai ( ), pada awalnya mengacu kepada seseorang yang

mengabdi kepada bangsawan. Pada zaman Nara, (710 784), istilah ini diucapkan saburau dan kemudian menjadi saburai. Selain itu terdapat pula istilah lain yang mengacu kepada samurai yakni bushi. Istilah bushi ( ) yang berarti

orang yang dipersenjatai/kaum militer, pertama kali muncul di dalam Shoku Nihongi ( ), pada bagian catatan itu tertulis secara umum, rakyat dan

pejuang (bushi) adalah harta negara. Kemudian berikutnya istilah samurai dan bushi menjadi sinonim pada akhir abad ke-12 (zaman Kamakura). Pada zaman Azuchi-Momoyama (1573 1600) dan awal zaman Edo (1603), istilah saburai berubah menjadi samurai yang kemudian berubah pengertian menjadi orang yang mengabdi.

Namun selain itu dalam sejarah militer Jepang, terdapat kelompok samurai yang tidak terikat/mengabdi kepada seorang pemimpin/atasan yang dikenal dengan r nin ( ). R nin ini sudah ada sejak zaman Muromachi (1392).

istilah r nin digunakan bagi samurai tak bertuan pada zaman Edo (1603 1867). Dikarenakan adanya pertempuran yang berkepanjangan sehingga banyak samurai yang kehilangan tuannya. Kehidupan seorang r nin bagaikan ombak dilaut tanpa arah tujuan yang jelas. Ada beberapa alasan seorang samurai menjadi r nin. Seorang samurai dapat mengundurkan diri dari tugasnya untuk menjalani hidup sebagai r nin. Adapula r nin yang berasal dari garis keturunan, anak seorang r nin secara otomatis akan menjadi r nin. Eksistensi r nin makin bertambah jumlahnya diawali berakhirnya perang Sekigahara (1600), yang mengakibatkan jatuhnya kaum samurai/daimyo yang mengakibatkan para samurai kehilangan majikannya. Dalam catatan sejarah militer di Jepang, terdapat data-data yang menjelaskan bahwa pada zaman Nara (710 784), pasukan militer Jepang mengikuti model yang ada di Cina dengan memberlakukan wajib militer dan dibawah komando langsung Kaisar. Dalam peraturan yang diberlakukan tersebut setiap laki-laki dewasa baik dari kalangan petani maupun bangsawan, kecuali budak, diwajibkan untuk mengikuti dinas militer. Secara materi peraturan ini amat berat, karena para wakil tersebut atau kaum milter harus membekali diri secara materi sehingga banyak yang menyerah dan tidak mematuhi peraturan tersebut. Selain itu pula pada waktu itu kaum petani juga dibebani wajib pajak yang cukup berat sehingga mereka melarikan diri dari kewajiban ini. Pasukan yang kemudian terbentuk dari wajib militer tersebut dikenal dengan sakimori ( ) yang secara harfiah berarti pembela, namun

pasukan ini tidak ada hubungannya dengan samurai yang ada pada zaman berikutnya. Setelah tahun 794, ketika ibu kota dipindahkan dari Nara ke Heian (Kyoto), kaum bangsawan menikmati masa kemakmurannya selama 150 tahun dibawah pemerintahan kaisar. Tetapi, pemerintahan daerah yang dibentuk oleh pemerintah pusat justru menekan para penduduk yang mayoritas adalah petani. Pajak yang

sangat berat menimbulkan pemberontakan di daerah-daerah, dan mengharuskan petani kecil untuk bergabung dengan tuan tanah yang memiliki pengaruh agar mendapatkan pemasukan yang lebih besar. Dikarenakan keadaan negara yang tidak aman, penjarahan terhadap tuan tanah pun terjadi baik di daerah dan di ibu kota yang memaksa para pemilik shoen (tanah milik pribadi) mempersenjatai keluarga dan para petaninya. Kondisi ini yang kemudian melahirkan kelas militer yang dikenal dengan samurai. Kelompok toryo (panglima perang) dibawah pimpinan keluarga Taira dan Minamoto muncul sebagai pemenang di Jepang bagian Barat dan Timur, tetapi mereka saling memperebutkan kekuasaan. Pemerintah pusat, dalam hal ini keluarga Fujiwara, tidak mampu mengatasi polarisasi ini, yang mengakibatkan berakhirnya kekuasaan kaum bangsawan.

Kaisar Gonjo yang dikenal anti-Fujiwara, mengadakan perebutan kekuasaan dan memusatkan kekuasaan politiknya dari dalam o-tera yang dikenal dengan insei seiji. Kaisar Shirakawa,menggantikan kaisar Gonjo akhirnya menjadikan o -tera sebagai markas politiknya. Secara lihai, ia memanfaatkan o-tera sebagai fungsi keagamaan dan fungsi politik.

Tentara pengawal o-tera, souhei (

) pun ia bentuk, termasuk memberi

sumbangan tanah (shoen) pada o-tera. Lengkaplah sudah o-tera memenuhi syarat sebagai negara di dalam negara. Akibatnya, kelompok kaisar yang anti pemerintahan o-tera mengadakan perlawanan dengan memanfaatkan kelompok Taira dan Minamoto yang sedang bertikai. Keter