Makalah psikosis

of 64/64
DAFTAR ISI Daftar Isi............................................................ .........................................i BAB I Landasan Teori...............................1 I. Definisi........................................1 Tabel Perbedaan Psikosis & Neurosis.............2 II. Klasifikasi Psikosis............................2 1. Psikosa Organik..............................3 2. Psikosa Fungsional...........................3 III. Etiologi....................................11 IV. Asuhan Keperawatan.............................14 BAB II Analisis Kasus..............................19 1. Sinopsis.......................................38 2. Pemeran dan Karakter...........................39 3. Analisis Film..................................40 BAB III Penutup....................................23 3.1 Kesimpulan.....................................43 3.2 Saran..........................................43 Daftar Pustaka.....................................44 Pertanyaan dan Jawaban ............................45 i
  • date post

    09-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    288
  • download

    50

Embed Size (px)

description

m

Transcript of Makalah psikosis

DAFTAR ISI

Daftar Isi.....................................................................................................i

BAB I Landasan Teori1

I. Definisi1

Tabel Perbedaan Psikosis & Neurosis2II. Klasifikasi Psikosis21. Psikosa Organik3

2. Psikosa Fungsional3

III. Etiologi11IV. Asuhan Keperawatan14BAB II Analisis Kasus19

1. Sinopsis382. Pemeran dan Karakter393. Analisis Film40

BAB III Penutup23

3.1 Kesimpulan43

3.2 Saran43

Daftar Pustaka44

Pertanyaan dan Jawaban 45

BAB I

LANDASAN TEORI

I. DEFINISI

Menurut Singgih D. Gunarsa (1998:140), psikosis adalah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum.

Menurut W.F. Maramis (2005:180), psikosis adalah gangguan jiwa dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikiran, kemauan, motorik, dst. Sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan. Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal sehingga orang awam menyebut penderita sebagai orang gila.

Menurut Zakiah Daradjat (1993:56) menyatakan , seorang yanng diserang penyakit jiwa (psikosis), kepribadiannya terganggu, dan selanjutnya menyebabkan kurang mampu menyesuaikan diri dengan wajar dan tidak sanggup memahami problemnya. Seringkali orang sakit jiwa tidak merasa bahwa dirinya sakit, sebaliknya ia menganggap dirinya normal saja, bahkan lebih baik, lebih unggul, dan lebih penting dari orang lain.

Dari tiga pendapat tersebut dapat diperoleh gambaran tentang psikosis yang intinya sebagai berikut :1. Psikosis merupakan gangguan jiwa yang berat, atau tepatnya penyakit jiwa, yang terjadi pada semua aspek kepribadian.2. Bahwa penderita psikosis tidak dapat lagi berhubungan dengan realitas, penderita hidup dalam dunianya sendiri.3. Psikosis tidak dirasakan keberadaannya oleh penderita. Penderita tidak menyadari bahwa dirinya sakit.Tabel 1. Perbedaan Psikosis dan Neurosis

NOASPEKPSIKOSISNEUROSIS

1.Perilaku umumGangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian, tidak ada kontak dengan realitas.Gangguan terjadi pada sebagian kepribadian, kontak dengan realitas masih ada.

2.Gejala-gejalaGejala bervariasi luas dengan

waham, halusinasi, kedangkalan emosi yang terjadi secara terus menerus.Gejala psikologis dan somatik

bisa bervariasi, tetapi bersifat

temporer dan ringan.

3.OrientasiPenderita sering mengalami disorientasi (waktu, tempat, dan orang-orang).Penderita tidak atau jarang mengalami disorientasi.

4.Pemahaman

(insight)Penderita tidak memahami bahwa dirinya sakit.Penderita memahami bahwa

dirinya mengalami gangguan

Jiwa.

5.Resiko sosialPerilaku penderita dapat membahayakan orang lain dan diri sendiri.Perilaku penderita jarang atau tidak membahayakan orang lain dan diri sendiri.

6.PenyembuhanPenderita memerlukan perawatan di rumah sakit. Kesembuhan seperti keadaan semula dan permanen sulit dicapai.Tidak begitu memerlukan perawatan di rumah sakit. Kesembuhan seperti semula dan permanen sangat mungkin untuk dicapai.

II. KLASIFIKASI

Secara garis besar klasifikasi psikosa menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) (Maramis, 2005: 150-155) adalah sebagai berikut:

1. Psikosis Berhubungan dengan Sindroma Otak Organik

Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau organik, yaitu pada fungsi jaringan otak, sehingga penderita mengalami inkompeten secara sosial, tidak mampu bertanggung jawab dan gagal dalam menyesuaikan diri terhadap realitas. Psikosis organik dibedakan menjadi beberapa jenis dengan sebutan atau nama mengacu pada faktor penyebab terjadinya. Jenis psikosis yang tergolong psikosis organik adalah sebagai berikut:

a. Dementia ParalyticaPsikosis yang terjadi akibat infeksi syphilis yang kemudian menyebabkan kerusakan sel-sel otak.b. Psikosis alkoholik

Terjadi karena fungsi jaringan otak terganggu atau rusak akibat terlalu banyak minum minuman keras.c. Psikosis berhubungan dengan traumaPsikosis yang terjadi akibat luka atau trauma pada kepala karena terkena pukulan, tertembak, kecelakaan, dst.

d. Psikosis obat-obatan

psikosis akibat obat-obat terlarang (kokain, sabu-sabu)

2. Psikosis Fungsional

Psikosis fungsional merupakan penyakit jiwa secara fungsional yang bersifat nonorganik, yang ditandai dengan disintegrasi kepribadian dan ketidakmampuan dalam melakukan penyesuaian sosial. Psikosis jenis ini dibedakan menjadi tiga, yaitu:a. Psikosis manik-depresif (Bipolar Disease)Gangguan bipolar adalah penyakit jangka panjang yang episodik dan berulang. Gangguan tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis berbeda, yaitu bipolar I dan bipolar II. Episode mania yang bercampur dengan episode depresif tergolong bipolar I, sedangkan gangguan depresif dengan hipomania tergolong bipolar II (Livingstone,Churchill:2009). Psikosis mania-depresif merupakan kekalutan mental yang berat, yang berbentuk gangguan emosi yang ekstrim, yaitu berubah-ubahnya kegembiraan yang berlebihan (mania) menjadi kesedihan yang sangat mendalam (depresi) dan sebaliknya dan seterusnya. Gejala-gejala psikosis mania-depresifa) Gejala-gejala mania antara lain: euphoria (kegembiraan secara berlebihan) dan atau iritabilitas waham kebesaran; hiperaktivitas; pikiran melayang mudah beralih perhatian perilaku bertentangan dengan nilai tidur kurang

nafsu makan dan libido meningkat

flight of idea (topik pembicaraan meloncat-loncat)

pemikiran atau ide tidak terbatas

b) Gejala-gejala depresif antara lain : waham (merasa tidak berguna, bersalah,nihilisme,dan tersiksa); kadang halusinasi penglihatan dan pendengaran;

kecemasan;

pesimis;

hipoaktivitas;

insomnia;

anorexia.Gambaran gangguan bipolar (Semiun,Yustinus:2010) : serangan biasanya terjadi secara mendadak hanya dalam beberapa kasus reaksi ini berkembang secara berangsur-angsur; biasanya reaksi ini berhenti dengan sendirinya atau karena dirawat sesudah jangka waktu 6 bulan; reaksi ini akan terjadi berulang kali dengan jarak diantaranya mungkin selama beberapa tahun; tidak ada bukti deteriorsi intelektual atau emosional pada pasien suasana hati yang berubah-ubah merupakan satu gejala yang sangat menonjol;

ilusi,delusi, halusinasi mungkin ada tetatpi bukan merupakan gejala yang khas.

Psikosis mania-depresif disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan dua gejala utama penyakit ini, yaitu mania dan depresi. Aspek mania terjadi akibat dari usaha untuk melupakan kesedihan dan kekecewaan hidup dalam bentuk aktivitas-aktivitas yang sangat berlebihan. Sedangkan aspek depresinya terjadi karena adanya penyesalan yang berlebihan.b. Psikosis paranoid

Psikosis paranoid merupakan penyakit jiwa yang serius yang ditandai dengan banyak delusi atau waham yang disistematisasikan dan ide-ide yang salah yang bersifat menetap. Istilah paranoid dipergunakan pertama kali oleh Kahlbaum pada tahun 1863, untuk menunjukkan suatu kecurigaan dan kebesaran yang berlebihan (W. F. Maramis, 2005 : 241).Gejala-gejala psikosis paranoid Sistem waham yang kaku, kukuh dan sistematis, terutama waham kejaran dan kebesaran baik sendiri-sendiri maupun bercampur aduk

Pikirannya dikuasai ole hide-ide yang salah, kaku, dan paksaan..

Mudah timbul rasa curiga .

Faktor penyebab psikosis paranoid

Faktor-faktor yangdapat menyebabkan psikosis paranoid (Kartini Kartono, 1999 : 176), antara lain :

Kebiasaan berpikir yang salah;

Terlalu sensitif dan seringkali dihinggapi rasa curiga;

Adanya rasa percaya diri yang berlebihan (over confidence); Adanya kompensasi terhadap kegagalan dan kompleks inferioritas.

c. Skizofrenia

Menurut Ann Isaacs (2004: 151- 153)

1. Definisi

Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang memengaruhi berbagai area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan berperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial. 2. Kriteria DSM-IV

a) Gangguan berlangsung selama sedikitnya 6 bulan dan termasuk minimal 1 bulan gejala fase aktif yang melibatkan dua atau lebih hal-hal berikut : waham, halusinasi, bicara tidak teratur, perilaku yang sangat kacau, dan katatonik, gejala-gejala negatif (mis., afek datar, alogia, atau avolusi).

b) Kriteria lain

Terganggunya fungsi sosial dan okupasi Gangguan skizoafektif dan gangguan mood dengan mengesampingkan ciri-ciri psikotik.

Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologik dari suatu zat atau kondisi medis umum.

3. Gejala umum skizofreniaa) Gangguan isi pikiran (waham) : keyakinan keliru yang sangat kuat, yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin aneh. Misalnya mata saya adalah komputer yang dapat mengontrol dunia. Dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. Semakin akut psikosis, semakin sering ditemui waham. Macam-macam waham :Tabel 2. Macam-macam Waham

b) Gangguan persepsi : Halusinasi, persepsi sensori yang keliru dan melibatkan panca indra. Halusinasi dengar

Halusinasi ini paling sering dialami penderita gangguan mental. Misalnya mendengar suara melengking, mendesir, bising, mungkin juga dalam bentuk kata-kata atau kalimat. Suara itu dirasakan tertuju pada dirinya, sehingga sering penderita terlihat betengkar atau berbicara (sendiri) dengan suara yang didengarnya. Sumber suara dapat berasal dari bagian tubuhnya sendiri, dari sesuatu yang jauh atau dekat. Kadnag berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan, menyuruh berbuat baik. Kadang berhubungan dengan sesuatu yang mengancam, mencela, memaki. Sering juga dirasakan sebagai suruhan meyakinkan, misalnya menyuruh membunuh dan sebagainya.

Halusinasi lihat

Biasanya terjadi bersamaan dengan adanya penurunan kesadaran, paling sering dijumpai pada penderita dengan penyakit otak yang organis. Umumnya halusinasi lihat yang muncul adalah sesuatu yang mengerikan atau menakutkan.

Halusinasi cium

Seolah-olah merasa mencium bau tertentu. Misalnya penderita yang merasa tertekan oleh banyak masalah, ia merasakan bau-bauan kemenyan, sampah, kotoran sperti mengikuti kemanapun dia bergerak.

Halusinasi pengecap

Seolah-olah merasa mengecap sesuatu. Misalnya penderita yang sangat ketakutan, ia merasakan lidahnya selalu pahit.

Halusinasi perabaan

Seolah-olah merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau ada sesuatu yang bergerak di kulitnya (misalnya ulat)

Halusinasi kinestetik

Seolah-olah merasa badannya bergerak dalam sebuah ruang, atau anggota badannya terus begerak tanpa henti.

Halusinasi visceral

Ada semacam perasaan tertentu dalam tubuhnya.

Halusinasi hipnagogik

Halusinasi yang biasanya terjadi pada orang normal, persepsi sensorik bekerja secara salah tepat sebelum tidur.

Halusinasi hipnopompik

Halusinasi yang terjadi atau dialami tepat sebelum seseorang terbangun dari tidur.

Halusinasi histerik

Timbul karena neurosa histerik karena konflik emosional.

Depersonalisasi

Perasaan aneh tentang dirinya atau perasaan bahwa pribadinya sudah tidak seperti dulu lagi, tidak menurut kenyataan. Misalnya, penderita merasa seperti diluar badannya (out of body experience OBE ) atau suatu bagian tubuhnya sudah bukan kepunyaannya lagi.

Derealisasi

Perasaan aneh tentang lingkungannya dan tidak menurut kenyataan. Misalnya, segala sesuatu dialaminya seperti dalam mimpi.

(Baihaqi, 2007)

c) Ilusi : Salah menginterpretasikan stimulus lingkungan

d) Gangguan emosi

Afek tumpul atau datar : tidak adanya respons emosional; afek juga dapat digambarkan sebagai tumpul (respon datar) atau tidak tepat (kebalikan dengan apa yang diharapkan dari suatu situasi). Afek tidak serasi : afeknya mungkin kuat taetapi tidak sesuai dengan pikiran dan pembicaraan pasien.

Afek labil : dalam jangka waktu pendek terjadi perubahan afek yang jelas.

e) Alogia : berkurangnya pola bicara atau miskin kata-kata.

f) Avolisi : kurangnya motivasi untuk melanjutkan aktivitas yang berorientasi pada tujuan.

g) Asosiasi Longgar (asosiasi derailment atau tangensial) : ide pasien tidak saling berkaitan. Idenya dapat melompat dari satu topik ke topik lain yang tidak berhubungan sehingga membingungkan pendengar. Gangguan ini sering terjadi misalnya di pertengahan kalimat sehingga pembicaraan sering inkoheren.

h) Neologisme : pasien menciptakan kata-kata baru (yang bagi mereka mungkin mengadung arti simbolik)

i) Bloking : pembicaraan tiba-tiba berhenti (sering pada pertengahan kalimat) dan disambung kembali beberapa menit kemudian, biasanya dengan topik yang lain. Pasien-pasien ini sangat mudah dialihkan perhatiannya dan sangat sulit memusatkan perhatian.

j) Klanging : pasien memilih kata-kata dan tema berdasarkan bunyi kata-kata yang baru saja diucapkan dan bukan isi pikirannya. (misal, kemarin saya pergi ke toko pasien melihat ke sekitarnya dan kemudian mengatakan , saya kira saya lebih baik dari Eko)

k) Ekolalia : pasien mengulang kata-kata atau kaliamat yang baru saja diucapkan.l) Konkritisasi : pasien dengan IQ rata-rata normal atau lebih tinggi tetapi kemampuan berpikir abstraknya buruk.

4. Klasifikasi

Skizofrenia dapat digolongkan menjadi dua jenis, yakni positif dan negatif. Kebanyakan klien mengalami campuran kedua jenis gejala.

a) Gejala positif meliputi halusinasi, waham, asosiasi longgar, dan perilaku yang tidak teratur atau aneh.

b) Gejala negatif meliputi emosi tertahan (afek datar), anhedonia, avolisi, alogia, dan menarik diri.

5. Tipe Skizofrenia

Menurut Linda Carman Copel (2007 : 119), skizofrenia dibedakan ke dalam beberapa tipe, antara lain :Tabel 3. Tipe skizofrenia

Tipe Gejala Umum

Paranoid Pikiran dipenuhi dengan waham sistematik, yang paling umum adalah dengan waham kebesaran atau waham kejar Halusinasi pendengaran terfokus pada tema tunggal sementara klien mempertahankan fungsi kognitif dan afek yang serasi Ansietas Marah Argumetatif Hubungan interpersonal menguat Berpotensi melakukan prilaku kekerasan pada diri sendiri atau orang lain

Tak terorganisasi Perilaku kacau, menyebabkan gangguan yang berat dalam aktivitas kehidupan sehari-hari Kurang memiliki hubungan/pertalian Kehilangan asosiasi Bicara tidak teratur Perilaku kacau, bingung, atau ganjil Afek datar atau tidk sesuai Gangguan kognitif

Katatonia Gangguan psikomotor, seperti stupor, negativisme, rigiditas, gairah, postur aneh Mutisme Ekolalia (pengulangan kata atau kalimat yang baru diucapkan orang lain) Ekopraksia (meniru gerakan orang lain)

Tak terinci Waham Halusinasi Tidak koheren Perilaku tidak terorganisasi yang tidak dapat digolongkan ke tipe lain

Residual Minimal mengalami satu episode skizofrenik dengan gejala psikotik yang menonjol, diikuti oleh episode lain tanpa gejala psikotik Emosi tumpul Menarik diri dari realita Keyakinan aneh Pengalaman persepsi tidak biasa Perilaku eksentrik Pemikiran tidak logis Kehilangan asosiasi

6. Fase Skizofreniaa) Fase Prodromal

Kemunduran dalam waktu lama (6 sampai 12 tahun) dalam tingkat fungsi perawatan diri, sosial, waktu luang, pekerjaan, atau akademik Timbul gejala positif dan negatif

Periode kebingungan pada klien dan keluarga

b) Fase aktif

Permulaan intervensi asuhan kesehatan, khususnya hospitalisasi

Pengenalan pemberian obat dan modalitas terapeutik lainnya

Perawatan difokuskan pada rehabilitasi psikiatrik saat klien belajar untu\k hidup dengan penyakit yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku.

c) Fase residual Pengalaman sehari-hari dengan penanganan gejala

Pengurangan dan penguatan gejala

Adaptasi Linda Carman Copel (2007 : 118).III. ETIOLOGI

Menurut Ann Isaacs (2004: 155-156), penyebab pasti dari skizofrenia masih belum jelas. Banyak faktor yang berpengaruh untuk timbulnya gangguan skizofrenia baik dari faktor predisposisi dan faktor presipitasi.

a) Faktor predisposisi

1) Biologis

Genetika Meskipun genetika merupakan faktor risiko yang signifikan, belum ada penanda genetika tunggal yang diidentifikasi. Kemungkinan melibatkan berbagai gen.

Penelitian telah berfokus pada kromosom 6, 13, 18, dan 22. Risiko terjangkit skizofrenia bila gangguan ini ada dalam adalah sebagai berikut:

Satu orang tua yang terkena : risiko 12% sampai 15% Kedua orang tua terkena penyakit ini : risiko 35% sampai 39%

Saudara sekandung yang terkena : risiko 8% sampai 10%

Kembar dzigotik yang terkena : risiko 15%

Kembar monozigotik yang terkena : risiko 50%

Abnormalitas perkembangan saraf

Penelitian menunjukkan bahwa malformasi janin minor yang terjadi pada awal gestasi berperan dalam manifestasi akhir dari skizofrenia. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi perkembangan saraf dan diidentifikasi sebagai risiko yang terus bertambah meliputi : Individu yang ibunya terserang influenza pada trimester kedua

Individu yang mengalami trauma atau cedera pada waktu dilahirkan

Penganiayaan atau trauma di masa bayi atau masa kanak-kanak awal

Abnormalitas struktur otakPada beberapa subkelompok penderita skizofrenia, teknik pencitraan otak (CT, MRI, PET) telah menunjukkan adanya abnormalitas pada struktur otak yang meliputi :

Pembesaran ventrikel; jaringan otak pasti lebih kecil dari normal ( proses memburuknya atau berhentinya pertumbuhan jaringan otak Penurunan aliran darah kortikal, terutama di korteks prefontal

Penurunan aktivitas metabolik di bagian-bagian otak-otak tertentu

Atrofi serebri

Ketidakseimbangan neurokimia (neurotransmiter)

Dulu penelitian berfokus pada hipotesis dopamin, yang menyatakan bahwa aktivitas dopamin yang berlebihan di bagian kortikal otak, berdasarkan 3 penemuan utama, yaitu Aktivitas antipsikotik dari obat-obat neuroleptik (misal : fenotiazine) bekerja memblokkade pada reseptor dopamine pascasinaps (tipe D2), ada peningkatan jumlah reseptor D2 di nukleus kaudatus , nukleus akumben, dan putamen pada penderita skizofrenia, amfetamin melepaskan dopamine sentral dan memperburuk skizofrenia.

Penelitian terbaru menunjukkan pentingnya neurotransmiter lain, termasuk serotonin, norepinefrin, glautamat, dan GABA.

Homeostasis, atau hubungan antarneurotransmiter, mungkin lebih penting dibanding jumlah relatif neurotransmiter tertentu.

Tempat reseptor untuk neurotransmiter tertentu juga penting. Perubahan jumlah dan jenis reseptor dapat memengaruhi tingkat neurotransmiter. Obat psikotropik dapat memengaruhi tempat reseptor dan neurotansmiter itu sendiri.2) Umur dan jenis kelamin

Skizofrenia mempunyai prevalensi yang hampir sama pada pria dan wanita. Tetapi kedua jenis kelamin ini menunjukkan perbedaan permulaan dan perjalanan penyakitnya. Laki-laki mempunyai permulaan skizofrenia yang lebih cepat dapripada wanita. Umur puncak terjadinya skizofrenia pada laki-laki antara 15- 25 tahun, sedang pada wanita 25-35 tahun.

3) Ahli teori

Teori perkembangan. Ahli teori seperti Freud, Sullivian, dan Erikson mengemukakan bahwa kurangnya perhatian yang hangat dan penuh kasih sayang di tahun-tahun awal kehidupan berperan dalam menyebabkan kurangnya identitas diri, salah interpretasi terhadap realitas, dan menarik diri dari hubungan pada penderita skizofrenia.

Teori keluarga. Teori-teori yang berkaitan dengan peran keluarga dalam munculnya skizofrenia belum divalidasi dengan penelitian. Bagian fungsi keluarga yang diimplikasikan dalam peningkatan angka kekambuhan individu dengan skizofrenia adalah sangat mengekspresikan emosi (high expressed emotion). Keluarga dengan ciri ini dianggap terlalu ikut campur secara emosional, kasar dan kritis.b) Faktor presipitasi

1) Stresor psikososialStresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam hidup seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan penyesuaian diri (adaptasi) untuk menanggulangi stesor (tekanan mental) yang timbul. Namun tidak semua orang mampu menanggulangi sehingga timbul keluhan-keluhan kejiwaan seperti skizofrenia.

Pada umumnya jenis stresor psikososial yang dimaksud dapat digolongkan sebagai berikut :

Perkawinan; pertengkaran, perpisahan, perceraian, kematian salah satu pasangan, ketidaksetiaan

Problem orangtua; tidak punya anak, kebanyakan anak, kenakalan anak, anak sakit dan hubungan yang tidak baik antara mertua, ipar, besan, dsb.

Hubungan interpersonal (antar pribadi); konflik dengan kekasih, rekan kerja, antara atasan dan bawahan.

Pekerjaan; di PHK, perusaan bangkrut, dll.

Lingkungan hidup; masalah perumahan, pindah tempat tinggal, penggusuran, rawan kriminalitas

Keuangan; pendapatan jauh lebih rendah dari pengeluaran, terbelit hutang, soal warisan, dsb.

Hukum; tuntutan hukum, pengadilan, penjara. Perkembangan baik fisik, maupun mental; masa remaja, masa dewasa, menopause, usia lanjut, dll. yang tidak dilampaui dengan baik.

Penyakit fisik atau cedera; jantung, kanker, kecelakaan, operasi, aborsi, dll.

Keluarga; sikap orang tua yang tidak baik terhadap anak, penyiksaan, penganiayaan terhadap anak.

Lain-lain; bencana alam, huru-hara, peperangan, kebakaran, perkosaan, hamil di luar nikah, dll.

IV. ASUHAN KEPERAWATAN

I. Pengkajian

A. Identitas klien

Nama pasien

:

Jenis kelamin

:

Usia

:

Tanggal masuk RS :

Alamat

:

Status perkawinan :

Pendidikan

:

Pekerjaan

:

B. Alasan masuk RSJ :

C. Faktor predisposisi

1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?

( ) ya, tahun___________ ( ) tidak

2. Pengobatan sebelumnya kemana __________________________________________

3. Trauma

Usia

Pelaku

Korban

Saksi

Aniaya fisik

_________ _________ __________ _________

Aniaya seksual

_________ _________ __________ _________

Penolakan

_________ _________ __________ _________

Kekerasan dalam keluarga_________ _________ __________ _________

Tindakan criminal

_________ _________ __________ _________

Jelaskan : ____________________________________________________________

____________________________________________________________4. Adakah keluarga yang mengalami gangguan jiwa ?( ) ya

( ) tidak

a. Hubungan keluarga : ________________________________________________

b. Gejala : ___________________________________________________________

c. Riwayat pengobatan : ________________________________________________

5. Adakah pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan ? (perceraian/perpisahan/konflik,dsb)

____________________________________________________________________________________________________________________________________

D. Faktor presipitasi

_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

E. Persepsi klien dan harapan klien dan keluarga

1. Persepsi klien atas masalahnya

____________________________________________________________________________________________________________________________________

2. Persepsi keluarga atas masalahnya

____________________________________________________________________________________________________________________________________

3. Harapan klien sehubungan dengan pemecahan masalah

____________________________________________________________________________________________________________________________________

4. Harapan keluarga sehubungan dengan pemecahan masalah

F. Koping dan harapan klien / keluarga

1. Koping klien terhadap masalah yang dihadapi

____________________________________________________________________________________________________________________________________

2. Koping keluarga terhadap masalah klien

____________________________________________________________________________________________________________________________________

G. Pemeriksaan fisik

1. TD ______ mmHg N _____ x/menit S _____ oC P ___ x/menit

2. Berat badan _________ kg

Tinggi badan _________ cm

3. Keluhan fisik :

____________________________________________________________

H. Keluarga

Genogram

1. Pola pengambilan keputusan

____________________________________________________________________________________________________________________________________

2. Persepsi peran dalam keluarga

____________________________________________________________________________________________________________________________________

3. Persepsi kemampuan keluarga

____________________________________________________________________________________________________________________________________

I. Status mental

1. Interaksi selama wawancara

( ) bermusuhan

( ) defensive

( ) curiga

( ) tidak kooperatif ( ) mudah tersinggung

Jelaskan ; ____________________________________________________________

2. Persepsi : halusinasi

( ) pengecapan ( ) pendengaran ( ) perabaan

( ) penglihatan

( ) penciuman

Jelaskan :

__________________________________________________________________

3. Isi pikir

( ) obsesi

( ) depersonalisasi

( ) pikiran magis

( ) phobia

( ) ide yang terkait

( ) hipokondria

Waham ( ) agama

( ) nihilistik

( ) curiga

( ) kontrol pikir

( ) somatik( ) sisip pikir

( ) kebesaran

( ) siar pikir

Jelaskan :

______________________________________________________

4. Arus pikir

( ) sirkumstansial

( ) flight of idea

( ) perseverasi

( ) tangensial

( ) blocking

( ) kehilangan asosiasi

5. Tingkat kesadaran

( ) bingung

( ) stupor

( ) disorientasi orang

( ) sedasi

( ) blocking

( ) disorientasi tempat

Jelaskan :

____________________________________________________________

6. Memori

( ) gangguan daya ingat jangka panjang

( ) gangguan daya ingat saat ini

( ) gangguan daya ingat jangka pendek

( ) konfabulasi

Jelaskan :

____________________________________________________________

7. Tingkat konsentrasi dan berhitung

( ) mudah beralih

( ) tidak mampu berkonsentrasi

( ) tidak mampu berhitung

Jelaskan :

____________________________________________________________

8. Kemampuan penilaian

( ) gangguan ringan

( ) gangguan bermakna

Jelaskan :

____________________________________________________________

9. Daya tarik diri

( ) mengingkari penyakit yang diderita ( ) menyalahkan hal-hal diluar dirinya

Jelaskan :

____________________________________________________________

J. Kebutuhan perencanaan pulang

1. Kemampuan klien memenuhi kebutuhan

( ) makan

ya __ tidak __ ( ) transportasi ya __ tidak ___

( ) keamanan

ya __ tidak __ ( ) tempat tinggal ya __ tidak ___

( ) perawatan kesehatan ya __ tidak __ ( ) uang

ya __ tidak ___

( ) pakaian

ya __ tidak __

Jelaskan:

____________________________________________________________

2. Kegiatan hidup sehari-hari

a. Perawatan diri

Bantuan Total

Bantuan Minimal

( ) mandi

___________

______________

( ) kebersihan

___________

______________

( ) makan

___________

______________

( ) BAK/BAB

___________

______________

( ) ganti pakaian

___________

______________

Jelaskan:

_________________________________________________________

b. Nutrisi

Apakah anda puas dengan pola makan anda : ( ) ya

( ) tidak

Apakah anda makan memisahkan diri :

( ) ya, jelaskan _____________________________________________________

( ) tidak

Frekuensi makan sehari __ x sehari frekuensi kudapan sehari : __x sehari

Nafsu makan : ( ) meningkat ( ) menurun ( ) berlebihan ( ) sedikit-sedikit

Berat badan: ( ) meningkat ( ) menurun

Berat badan terendah : ___ kg

Berat badan tertinggi : ___ kg

Jelaskan :

_________________________________________________________

c. Tidur

Apakah ada masalah tidur _____________________

Apakah merasa segar setelah bangun tidur _______________

Apakah ada kebiasaan tidur siang _____________

Lama tidur siang _______ jam

Apa yang menolong tidur _______________

Tidur malam : __________

bangun jam : ________

Apakah ada gangguan tidur :

( ) sulit untuk tidur

( ) bangun terlalu pagi ( ) sonambulisme

( ) terbangun saat tidur( ) gelisah saat tidur ( ) berbicara saat tidur

Jelaskan :

_________________________________________________________

3. Kemampuan klien dalam :

Mengantisipasi kebutuhan sendiri

( ) ya

( ) tidak

Membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri ( ) ya

( ) tidak

Mengatur penggunaan obat

( ) ya

( ) tidak

Melakukan pemeriksaan kesehatan

( ) ya

( ) tidak

Jelaskan :

____________________________________________________________

4. Klien memiliki sistem pendukung

Keluarga

: ( ) ya

( ) tidak

Terapis

: ( ) ya

( ) tidak

Teman sejawat: ( ) ya

( ) tidak

Kelompok sosial: ( ) ya

( ) tidak

Jelaskan :

____________________________________________________________

5. Apakah klien menikmati saat bekerja, kegiatan produktif atau hobi ?

( ) ya

( ) tidak

Jelaskan :

____________________________________________________________

K. Pemeriksaan penunjang

1. CT-Scan: dapat menunjukkan struktur abnormalitas otak pada beberapa kasus seperti schizofrenik (misalnya atrofi lobus temporal), pembesaran ventrikel dengan rasio ventrikel-otak meningkat yang dapat dihubungkan dengan derajat yang dapat dilihat

2. PET (Positron Emission Tomography) : mengukur aktivitas metabolik dari area spesifik otak dan dapat menyatakan aktivitas metabolik yang rendah dari lobus frontal. Terutama pada area prefrontal dari korteks serebral

3. MRI : memberi gambaran otak 3 dimensi, dapat memperlihatkan gambaran yang lebih kecil dari lobus frontal rata-rata, atrofi lobus temporal (terutama hipokampus, girus parahipokampus, dan girus temporal superior)

4. RCBF (Regional Cerebral Blood Flow) : memetakan aliran darah dan menyatakan aktivitas pada daerah otak yang bervariasi

5. BEAM (Brain Electrical Activity Mapping) : menunjukkan respon gelombang otak terhadap rangsangan yang bervariasi disertai dengan adanya respon yang terhambat dan menurun, kadang-kadang dilobus temporal dan sistem limbic

6. ASI (Addiction Severity Index) : menentukan masalah-masalah ketergantungan (ketergantungan zat), yang mungkin dikaitkan dengan penyakit mental, dan mengindikasikan area pengobatan yang diperlukan

7. Skrining obat (termasuk alcohol) : mengidentifikasi jenis obat yang digunakan

8. Uji psikologis (misalnya MMPI) : menyatakan kerusakan pada satu area atau lebih.

Catatan : tipe paranoid biasanya menunjukkan sedikit atau tidak adanya kerusakan

L. Penatalaksanaan

PENATALAKSANAAN PSIKOTIK AKUT

Pertama, kita harus dapat memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang psikotik akut berikut hak dan kewajibannya

1. Informasi yang perlu untuk pasien dan keluarga

Untuk lebih memahami dan memperjelas isi dan metode pemberian informasi yang akan disampaikan saudara dapat dibaca lebih lengkap pada modul VI B tentang asuhan keperawatan pasien halusinasi, waham, isolasi sosial. Beberapa informasi yang perlu disampaikan pada pasien dan keluarga antara lain tentang :

Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi lama perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan melihat dari satu episode akut saja

Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat, memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu tempat yang aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan dengan bantuan perawat kesehatan jiwa masyarakat dan perangkat desa serta keamanan setempat

2. Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya: Keluarga atau teman harus mendampingi pasien

Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum, eliminasi dan kebersihan)

Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera

3. Konseling pasien dan keluarga

Bantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan dengan pengobatan psikiatrik antara lain : hak pasien, kewajiban dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien

Dampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan kontak dengan stresor

Motivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari-hari setelah gejala memba

4. Pengobatan

Program pengobatan untuk psikotik akut :

(1) Berikan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik. Obat antipsikotik berfungsi untuk menghambat reseptor dopamine subtipe D1 dan D2 atau jalur serotonin dalam SSP. Obat-obat tersebut menghilangkan gejala positif, namun efeknya terhadap gejala negatif lebih sedikit.

Haloperidol 1-5 mg PO, 1 sampai 3 kali sehari, Untuk psikosis akut. Juga untuk anak-anak dengan problem perilaku yang berat yang bersifat menyerang. Dipakai untuk menekan gejala-gejala putus obat akibat narkotik dan untuk skizofrenia yang tidak dapat diatasi dengan obat-obat lain. Kemungkinan menimbulkan EPS. Mempunyai efek sedasi, hipotensi, dan antikolinergik yang minimal.

Chlorpromazine 25 mg, 1 sampai 3 kali sehari, tingkatkan secara bertahap. Efektif untuk psikosis akut. Efek samping sedasi kuat , dapat menimbulkan hipotensi ortostatik.

Dosis harus diberikan serendah mungkin untuk mengurangi efek samping, walaupun beberapa pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi

(2) Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan neuroleptika untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya: lorazepam 1-2 mg, 1 sampai 3 kali sehari). Ansietas ringan paling baik diobati tanpa obat dengan cara melatih manajemen ansietas dan teknik relaksasi. Ansietas sedang hingga berat dapat diatasi dengan gabungan teknik-teknik tersebut dan terapi obat antidepresan atau antipsikotik dengan dosis yang sangat rendah misalnya benzodiazepine dapat mengatasi ansietas akut.(3) Lanjutkan obat antipsikotik selama sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah gejala hilang.

(4) monitoring penggunaan antipsikosis pada klien.

Jika penggunaan obat-obatan antipsikosis tidak kuat meskipun sudah diberikan lebih dari satu jenis, maka gunakan satu jenis obat dengan dosis adekuat dengan durasi yang lebih lama.

a. Diagnosis ulang (dan diagnosis penyakit lain)

b. Hilangkan kemungkinan psikosis yang disebabkan oleh alkohol

c. Memastikan kepatuhan terhadap pengobatan, mempertimbangkan depo atau long-acting antipsikotik injeksi dengan maksud untuk meningkatkan kepatuhan.

d. Pertimbangkan untuk meningkatkan pengobatan saat ini atau beralih ke obat lain

e. Pertimbangkan antipsikotik generasi kedua (kecuali clozapine), jika biaya dan ketersediaan bukan kendala, sebagai alternatif untuk haloperidol dan klorpromazin

Jika efek ekstrapiramidal muncul (seperti parkinson dan dystonia), maka lakukan :

a. Mengurangi dosis antipsikotik

b. Pertimbangkan untuk mengganti obat antipsikotik (misalnya dari haloperidol ke klorpromazin)

c. Pertimbangkan obat antikolinergik untuk penggunaan jangka pendek jika strategi-strategi ini gagal atau ekstrapiramidal efek samping yang parah,akut, atau menonaktifkan. Obat antikolinergik :

Biperiden, harus dimulai pada 1 mg dua kali sehari, meningkat menjadi 3-12 mg per hari, oral atau intravena. Efek samping termasuk sedasi, kebingungan, dan gangguan memori, terutama pada orang tua. Efek samping yang jarang berupa glaukoma sudut tertutup, myasthenia gravis, gastrointestinal obstruksi.

Trihexyphenidyl (benzhexol), dapat digunakan sebagai alternatif dengan dosis 4-12 mg per hari. Efek samping sama dengan biperiden.

(5) Penghentian obat antipsikosis pada kasus efek samping berat (demam, rigiditas, dan hipertensi).

Untuk psikosis akut, pengobatan dilanjutkan sampai 12 bulan setelah remisi penuh

Untuk psikosis kronik, pertimbangkan penghentian pengobatan jika pasien sudah stabil dalam jangka waktu beberapa tahun, peningkatan resiko kekambuhan perlu dipertimbangkan sebagai akibat efek dari pemutusan pemakaian obat, selama itu pasien dan keluarga harus berkonsultasi.

Jika memungkinkan, rujuk ke spesialis setelah pemutusan pemakaian obat.

(6) Apabila saudara menemukan pasien gangguan jiwa di rumah dengan perilaku di bawah ini, lakukan kolaborasi dengan tim untuk mengatasinya.

Kekakuan otot (Distonia atau spasme akut), bisa ditanggulangi dengan suntikan benzodiazepine atau obat antiparkinson

Kegelisahan motorik berat (Akatisia), bisa ditanggulangi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker

Gejala parkinson (tremor/gemetar, akinesia), bisa ditanggulangi dengan obat antiparkinson oral (misalnya, trihexyphenidil 2 mg 3 kali sehari)

5. Rujukan

Tindakan rujukan diperlukan bila terjadi kondisi-kondisi yang tidak dapat diatasi melalui tindakan yang sudah dilakukan sebelumnya khususnya pada :

Kasus baru gangguan psikotik

Kasus dengan efek samping motorik yang berat atau timbulnya demam, kekakuan, hipertensi, hentikan obat antipsikotik lalu rujuk

PENATALAKSANAAN PSIKOTIK KRONIK

Berikut ini akan diuraikan tentang penatalaksanaan pada pasien psikotik kronik secara medik.

1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga.

Tentang asuhan keperawatan pada pasien halusinasi, waham, isolasi sosial, defisit perawatan diri. Beberapa informasi yang dapat saudara sampaikan pada pasien dan keluarga antara lain :

Gejala penyakit jiwa (perilaku aneh dan agitasi)

Antisipasi kekambuhan

Penanganan psikosis akut

Pengobatan yang akan mengurangi gejala dan mencegah kekambuhan

Perlunya dukungan keluarga terhadap pengobatan dan rehabililtasi pasien

Perlunya organisasi kemasyarakatan sebagai dukungan yang berarti bagi pasien dan keluarga

2. Konseling pasien dan keluarga

Beberapa topik yang dapat menjadi fokus konseling adalah :

Pengobatan dan dukungan keluarga terhadap pasien

Membantu pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari

Kurangi stress dan kontak dengan stres

3. Pengobatan

Program pengobatan untuk psikotik kronik :

(1) Antipsikotik yang mengurangi gejala psikotik :

Haloperidol 2-5 mg; 1 3 kali sehari

Chlorpromazine 100-200 mg ; 1 3 kali sehari

Dosis harus serendah mungkin; hanya untuk menghilangkan gejala, walaupun beberapa pasien mungkin membutuhkan dosis yang lebih tinggi

(2) Obat anti psikotik diberikan sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah episode pertama penyakitnya dan lebih lama sesudah episode berikutnya

(3) Obat antipsikotik mempunyai efek jangka panjang yang disuntikkan jika pasien gagal untuk minum obat oral

(4) Berikan terapi untuk mengatasi efek samping yang mungkin timbul :

Kekakuan otot (distonis dan spasme akut), yang dapat diatasi dengan obat anti parkinson atau benzodiazepine yang disuntikkan

Kegelisahan motorik yang berat (Akatisia) yang dapat diatasi dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta-bloker

Obat anti Parkinson yang dapat mengatasi gejala parkinson (antara lain trihexyphenidil 2 mg sampai 3 kali sehari, ekstrak belladonna 10-20 mg 3x sehari, diphenhydramine 50 mg 3 x sehari)

4. Rujukan

Beberapa kriteria perlunya rujukan kasus adalah :

Semua kasus baru dengan gangguan psikotik

Depresi atau mania dengan gejala psikotik.

Perlu kepastian diagnosis dan terapi yang paling sesuai pada kasus kronis

Keluarga merasakan terbebani dengan kondisi pasien dan memerlukan konsultasi dengan pelayanan masyarakat yang sesuai

Pertimbangkan konsultasi untuk kasus dengan efek samping motorik yang berat

II. Diagnosa keperawatan

1. Gangguan proses pikir

2. Gangguan persepsi dan sensori : penglihatan, pendengaran

3. Hambatan komunikasi verbal

4. Ketidakefektifan koping individu

5. Harga diri rendah kronis

6. Isolasi sosial

7. Disfungsi seksual

8. Resiko membahayakan diri/orang lain

9. Defisit perawatan diri

III. Perencanaan

1. Gangguan proses pikir

Intervensi :

a. Kaji tingkat keparahan gangguan proses pikir klien, catat bentuk (dereistik, autistic, simbolik, asosiasi konkret dan/atau kehilangan asosiasi, terhambat)

Rasional : identifikasi komunikasi/pikiran simbolik/primitive meningkatkan pemahaman tentang proses pikir klien dan memungkinkan perencanaan intervensi yang tepat

b. Menciptakan hubungan perawat-klien yang terapeutik

Rasional : menyediakan lingkungan emosi yang aman memungkinkan terjadinya interaksi interpersonal dan menurunkan autisme

c. Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengintervensi secara efektif

Rasional : komunikasi terapeutik akan menurunkan pikiran autistic karena bersifat jelas, terbuka, konsisten, ringkas dan memerlukan partisipasi dari diri sendiri

d. Ekpresikan keinginan untuk memahami pikiran klien dengan mengklarifikasi apa yang tidak jelas, pusatkan pada perasaan bukan isi, usahakan untuk mengerti (tentang ketidakjelasan klien), mendengarkan dengan seksama, mengatur aliran pikiran bila dibutuhkan

Rasional : klien sering tidak mampu mengorganisasikan pikiran (mudah terdistraksi, tidak bisa berpegang pada konsep atau keutuhan) sehingga dengan mendengar dan aktif mengidentifikasi pola pikir pasien akan mempermudah untuk memahami pasien dan juga keinginan untuk mengerti pasien dengan menunjukkan ekspresi dan perhatian meningkatkan perasaan makna-diri klien.

e. Berikan pikiran yang sesuai dan buat batasan (terapi kognitif) jika klien mencoba untuk berespon secara impulsive terhadap perubahan pikiran.

f. Pantau program pengobatan, observasi dampak dan efek samping dari pengobatan

Rasional : pencegahan efek samping dapat mencegah kerusakan permanen

g. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat seperti antipsikotik, obat anti-parkinson

Rasional :

Pemberian obat seperto antipsikotik dapat mencegah kekambuhan pasien dan mengurangi gejala psikotik yang dialami pasien

2. Gangguan persepsi dan sensori : penglihatan, pendengaran

a. Kaji adanya perubahan persepsi dan sensori klien, catat faktor penyebab/ peranan (misalnya ketergantungan obat, demam, trauma, atau penyakit/kondisi organic lain)

Rasional : mengkaji adanya perubahan persepsi dan sensori klien dan juga penyebab digunakan agar kita tahu selanjutnya intervensi apa yang akan dilakukan

b. Sediakan waktu bersama klien, dengarkan dengan baik dan dukung setiap perubahan yang klien lakukan

Rasional : dukungan/ penerimaan yang konsisten dapat mengurangi kecemasan dan ketakutan serta mengajarkan klien untuk mengurangi persepsi yang terganggu

c. Beri lingkungan yang aman yang tidak berargumen atau mengejek pasien

Rasional : perubahan persepsi sangatlah menakutkan klien dan menunjukkan adanya kehilangan control. Karena kurang pengertian, klien melihat perubahan persepsi sebagai suatu kenyataan dan berargumen hanya mengarah ke pembelaan diri dan perlawanan regresif klien

d. Orientasikan kenyataan dengan komunikasi secara efektif, kuatkan kenyataan tentang perubahan persepsi klien, dan klarifikasi waktu, tempat, dan orang

Rasional : orientasi realitas membimbing klien untuk menginterpretasikan secara tepat rangsangan dalam lingkungan pergaulan

e. Buat batasan respon impulsif klien terhadap perubahan persepsi. Tetap bersama klien dan berikan distraksi bila mungkin.

Rasional : klien yang mempersepsi lingkungan secara tidak tepat tidak memiliki control internal untuk mencegah respon impulsif terhadap kesalahan persepsi. Distraksi dapat juga mendukung klien untuk mengontrol respon terhadap gangguan persepsi

f. Berikan control eksternal (ruangan yang sunyi, pengasingan, restrein), beri tahu klien tujuan sentuhan, sesuai indikasi

Rasional : batasan eksternal dan control harus diberikan untuk melindungi klien dan orang lain sampai klien dapat mengontrol secara internal dan mampu menyangkal perubahan persepsi

3. Hambatan komunikasi verbal

a. Kaji tingkat keparahan hambatan verbal klien

Rasional : kerusakan/ hambatan komunikasi verbal klien dapat berdampak pada kemampuan komunikasi klien untuk berinteraksi dengan petugas kesehatan dan orang lain.

b. Tunjukkan sikap menyimak dalam hubungan perawat dengan klien

Rasional : memungkinkan perawat mendengar dengan cermat, mengobservasi klien, dan mengantisipasi serta memperhatikan pola komunikasi klien yang mungkin muncul

c. Akui kesulitan klien dalam berkomunikasi

Rasional : pengenalan kesulitan klien dalam mengekspresikan ide dan perasaan menunjukkan empati, mengurangi kecemasan, dan memampukan klien untuk berkonsentrasi dalam berkomunikasi

d. Beri lingkungan yang tidak mengancam/ aman untuk komunikasi klien

Rasional : situasi ketika seseorang merasa bebas untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dikritik, membantu memenuhi kebutuhan keamanan, rasa saling percaya meningkat, memberikan jaminan toleransi, dan validasi komunikasi negative yang sesuai

e. Terima penggunaan komunikasi alternatif, misalnya menggambar, menyanyi, menari, atau pantomime.

Rasional : meningkatkan perasaan aman klien, menyediakan ruang untuk mengekspresikan kebutuhan

f. Hindari sanggahan atau persetujuan pada komunikasi yang tidak akurat, sederhanakan pemberian pandangan realita dengan gaya tidak menghakimi

Rasional : sanggahan merupakn tindakan non terapeutik dan dapat menyebabkan klien menjadi defensive. Persetujuan dengan ekspresi komunikasi klien yang tidak akurat akan memicu kesalahpahaman terhadap realita

g. Gunakan komunikasi terapeutik saat berkomunikasi dengan klien seperti parafrase, refleksi, klarifikasi.

Rasional :alur komunikasi klien (terlalu cepat/lambat) membutuhkan pengaturan. Teknik ini dibimbing dengan orientasi terhadap realita, untuk itumeminimalkan kesalahan interpretasi dan mempermudah komunikasi yang akurat

h. Gunakan pendekatan yang mendukung klien dengan mengkomunikasikan keinginan untuk mengerti (minta klien untuk membantu anda, begitu pula sebaliknya)

Rasional : pengenalan tentang pengalaman masa lalu klien menimbulkan ketidakpercayaan, menimbulkan upaya mempertahankan jarak dengan pemberian pesan yang samar dan tidak jelas

4. Ketidakefektifan koping individu

a. Kaji seberapa parah tingkat kerusakan koping klien

Rasional : memberi informasi tentang kemampuan koping aktual dan yang dirasakan, bagian kehidupan yang berubah, tingkat ansietas, stress, tingkat perkembangan fungsi, penggunaan mekanisme pertahanan, dan kemampuan pemecahan masalah

b. Bantu klien untuk mengidentifikasi/ mendiskusikan pikiran, perasaan, dan persepsi

Rasional : klien mampu melihat bagaimana persepsi/pikiran/afek diproses dan menguatkan realita dan keterampilan koping

c. Dorong klien untuk mengekspresikan kekhawatiran. Dukung menyusun tujuan yang realistic dan belajar teknik pemecahan masalah yang tepat

Rasional : dalam hubungan saling dipercaya, klien dapat mulai belajar keterampilan ini, tanpa takut merasa dihakimi

d. Bantu klien mengidentifikasi pencetus yang menimbulkan koping tidak efektif, jika mungkin

Rasional : pengetahuan tentang stressor yang telah dicetuskan memperburuk kemampuan koping klien untuk mengenal dan menghadapi faktor-faktor ini sebelum masalah terjadi

e. Bantu klien mengenali dan mengembangkan keterampilan koping efektif/tepat

Rasional : pemecahan masalah/perilaku koping ynag meningkat/fleksibel mencegah dekompensasi (kenyataan yang terganggu, sistem delusi)

5. Harga diri rendah kronis

a. Kaji derajat gangguan konsep diri klien

Rasional : mendokumentasikan persepsi diri dan orang lain, tujuan klien, perubahan/kehilangan yang bermakna memberi dasar penentuan kebutuhan terapi dan evaluasi perkembangannya

b. Sediakan waktu bersama klien, dengarkan dengan penerimaan yang positif dan menghormati dengan tidak menghakimi

Rasional : menyampaikan empati, penerimaan, dukungan dapat meningkatkan harga diri klien. Identitas personal dikuatkan ketika klien mengenalinya bersama perawat dan mengalami perhatian terapeutik dalam hubungan perawat-klien

c. Bantu klien untuk mengungkapkan kekhawatiran/perasaannya

Rasional : harga diri diwujudkan dengan meningkatkan pengertian dan perasaan. Pengertian dicapai saat klien mengatakan secara verbal /identifikasi perasaan (misalnya rasa tidak berharga, penolakan, kesendirian)

d. Bantu klien mengidentifikasi bagaimana perasaan negative dapat menurunkan harga diri

Rasional : perasaan negative dapat menimbulkan kecemasan berat dan/atau kecurigaan. Kewaspadaan/persepsi tentang faktor-faktor penyebab dapat membantu klien mengenali bagaimana perasaan negative menyebabkan penyimpangan

e. Bantu klien untuk mengenali karakteristik positif yang terkait dengan diri klien

Rasional : mendiskusikan aspek positif harga diri, seperti keterampilan sosial, kemampuan bekerja, pendidikan, bakat, penampilan, dapat menguatkan perasaan layak/mampu klien

f. Anjurkan klien untuk berpartisipasi dalam program/aktivitas latihan yang tepat

Rasional : meningkatkan kemampuan untuk hubungan interpersonal (berdua 1:1 dan dalam kelompok kecil). Aktivitas yang menggunakan pancaindra meningkatkan perasaan diri sendiri dan latihan fisik memicu rasa sejahtera positif

g. Beri penguatan positif untuk usaha/kemampuan klien

Rasional : umpan balik positif dapat meningkatkan harga diri, memberi dorongan, dan mengembangkan rasa diri terarah

h. Tentukan tingkat penampilan peran saat ini dan catat faktor penyebab/kontribusi yang mempengaruhinya

Rasional :faktor-faktor seperti pengetahuan yang tidak adekuat, konflik peran, perubahan persepsi peran diri/orang lain, dan perubahan pola tanggung jawab yang biasa dapat memengaruhi kemampuan fisik dan psikologis klien untuk penampilan peran yang efektif

i. Bantu klien beradaptasi terhadap perubahan penampilan peran dengan bekerja bersama klien/orang terdekat untuk mengembangkan strategi menangani gangguan peran dan meningkatkan koping secara efektif

Rasional : tingkat akhir penampilan klien mungkin memengaruhi dipengaruhi oleh sistem pendukung yaitu memperhatikan dan responsif

j. Kaji identitas personal saat ini, dengan pertimbangkan jika klien menyatakan keberadaan dirinya dan mengekspresikan perasaannya tentang ketidaksiapan bertemu dengan orang lain/objek

Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individu dan intervensi yang tepat. Ketidakmampuan untuk mengidentifikasi diri menimbulkan masalah utama yang dapat mengganggu interaksi seseorang dengan orang lain

k. Analisis adanya/keparahan faktor-faktor yang dapat mengganggu identitas pribadi (misalnya paranoid, afek tumpul)

Rasional : batasan ego disintegrasi dapat menyebabkan kelemahan perasaan tentang diri. Klien sering mengekspresikan ketakutan tentang munculnya faktor-faktor dan karenanya kehilangan identitas personal

l. Kolaborasi dengan ahli kejiwaan untuk melakukan uji yang tepat (misalnya minta klien untuk menggambar figure diri, Body Image Aberration, Physical Anhedonia Scale)

Rasional : uji ini menunjukkan pandangan klien, konsep diri klien, dan korelasi klien dengan berbagai macam variabel

m. Rujuk ke ahli terapi okupasi/terapi pergerakan/Outdoor Education Program, dan lain-lain

Rasional : memberi aktivitas yang memberikan harga diri dan pencapaian selama keterlibatan dengan program hospitalisasi parsial. Hospitalisasi parsial dapat memfasilitasi transisi dari lingkungan rumah sakit ke komunitas

6. Isolasi sosial

a. Kaji derajat keparahan isolasi yang dialami klien dengan mendengarkan pandangan klien tentang kesendiriannya.

Rasional : perasaan tidak percaya dapat mengarah kek kesulitan dalam membina hubungan, dan klien dapat menarik diri dari kontak tertutup dengan orang lain

b. Sediakan waktu bersama klien, buat interaksi yang singkat tetapi yang mengomunikasikan minat, kekhawatiran, dan perhatian

Rasional : membina hubungan trust dengan klien dengan kontak yang jujur, singkat, konsisten dengan perawat dapat membantu klien membina kembali interaksi penuh percaya dengan orang lain

c. Rencanakan waktu yang tepat untuk aktivitas (dengan membatasi menarik diri, menganekaragamkan rutinitas harian hanya yang ditoleransi)

Rasional : konsistensi dalam hubungan interpersonal 1:1 dan kesamaan lingkungan dibutuhkan pada awal untuk memungkinkan klien menurunkan perilaku menarik diri. Motivasi dirangsang dengan berbagi pengalaman.

d. Bantu klien berpartisipasi dalam aktivitas pengalih dan batasi/rencanakan situasi intervensi dengan orang lain pada pertemuan kelompok/unit, dll.

Rasional : dengan toleransi hubungan interpersonal dan penguatan batasan ego, klien dapat meningkatkan sosialisasi dan masuk ke situasi kelompok kecil. Interaksi yang singkat dapat membantu klien merasa lebih nyaman diantara orang lain dan memberikan kesempatan untuk mencoba keterampilan sosial baru

e. Identifikasi sistem pendukung yang tersedia untuk klien (misalnya keluarga, teman, rekan sejawat)

Rasional : dukungan merupakan bagian penting dari rehabilitasi klien, memberikan jaringan kerja untuk membimbing klien dalam pemulihan sosial

f. Kaji hubungan keluarga, pola komunikasi, pengetahuan tentang kondisi klien

Rasional : masalah dalam keluarga (keterampilan berhubungan/sosial yang kurang, ekspresi emosi yang tinggi) dapat mengganggu perkembangan klien dan menunjukkan perlunya terapi keluarga

g. Catat perasaan makna-diri klien dan keyakinan tentang identitas individu/peran dalam pergaulan dan lingkungan

Rasional : ketika klien merasa dirinya lebih baik dan mempunyai makna, interaksi keluarga dengan orang lain ditingkatkan.

7. Disfungsi seksual

a. Izinkan klien untuk menggambarkan persepsinya tentang fungsi seksual/seksualitas

Rasional : ketika kekhawatiran dan persepsi sudah diungkapkan, ungkapan tersebut memberikan kesempatan untuk memahami sudut pandang klien, mengidentifikasikan kebutuhan individu, dan mengklarifikasi kesalahan konsep

b. Tentukan adanya/derajat faktor-faktor yang mengganggu fungsi seksual/seksualitas

Rasional : disintegrasi batsan ego dapat menyebabkan perilaku regresif (menarik diri) yang mengganggu pembentukan usaha dan menciptakan konfusi identitas gender. Pengobatan antipsikotik dapat menyebabkan perubahan endokrin (amenore, laktasi pada wanita dan impoten, hambatan ejakulasi, ginekomastia pada pria)

c. Beri informasi mengenai obat-obatan, indikasi, dosis dan juga efeksampingnya, dan lakukan konseling/penyuluhan tentang pemecahan masalah

Rasional : kurang pengetahuan mungkin sebagai faktor yang memperberat difungsi

d. Anjurkan klien untuk mengidentifikasi/melaporkan setiap perubahan dalam fungsi seksual/seksualitas

Rasional : intervensi pada suatu saat dapat mencegah disintegrasi batasan ego yang akan dating dan efek samping pengobatan lebih lanjut

e. Lakukan konseling pada klien tentang pengaturan kehamilan, implikasi genetic memiliki anak

Rasional : penyakit klien yang parah mengakibatkan kesulitan dalam berhubungan dan tidak membuat pasangan atau orang tua menjadi lebih baik. Konseling eugenic pra-nikah menjadi sangat penting

f. Identifikasi praktik seks yang lebih aman dan diskusikan resiko terkena Penyakit Menular Seksual (PMS)

Rasional : kurangnya hambatan sosial (pasangan multipel, seks yang tidak aman) menempatkan klien ini pada kemungkinan beresiko terkena penyakit menular seksual, dan tingkat fungsi yang buruk dapat berakibat pada pengabaian pengobatan

8. Resiko membahayakan diri/orang lain

a. Kaji adanya/derajat potensi membahayakan diri atau orang lain dengan menggunakan skala 1-10. Tentukan keinginan untuk bunuh diri/membunuh/indikasi kehilangan control perilaku (aktual atau dirasakan), perilaku bermusuhan secara verbal/nonverbal, faktor resiko dan keterampilan koping sebelumnya/sekarang.

Rasional : kaji adanya atau derajat potensi membahayakan diri sendir atau orang lain dijadikan sebagai sumber informasi dan dasar untuk melakukan tindakan intervensi selanjutnya.

b. Berikan lingkungan yang tenang dan aman, jauhkan benda-benda tajam dan berbahaya yang dapat digunakan untuk melukai dirinya atau orang lain, katakana pada klien anda aman.

Rasional : mempertahankan rangsangan lingkungan dengan minimal dan pemberian keyakinan membantu mencegah agitasi

c. Hati-hati dalam memberi tempat bersandar/memberi pelukan,dll

Sentuhan mungkin dapat diartikan sebagai bahasa tubuh yang agresif

d. Anjurkan pengungkapan perasaan dan tingkatkan cara ekspresi verbal yang diterima misalnya berteriak diruangan, atau memaki bantal

Rasional : pengungkapan perasaan dapat mengurangi perlunya tindakan fisik

e. Bantu klien mengidentifikasi situasi yang dapat memicu ansietas/perilaku agresif

Rasional : memberi pemahaman hubungan antara ansietas berat dan situasi yang mengakibatkan perasaan dekstruktif yang menimbulkan tindakan agresif

f. Gali implikasi dan konsekuensi penanganan situasi ini dengan agresi

Rasional : membantu klien menyadari kemungkinan dan pentingnya mempertimbangkan situasi sebelum melakukan tindakan

g. Bantu klien mendefinisikan alternative perilaku agresif. Awalnya libatkan dalam aktivitas fisik sendiri, bukan dalam kelompok. Pantau aktivitas kompetitif, lakukan dalam kewaspadaan.

Rasional : mengajarkan klien untuk belajar menangani situasi dengan cara yang dapat diterima orang lain dan lingkungannya. Pengungkapan yang tepat dapat menghilangkan rasa permusuhan. Ansietas dan ketakutan dapat meningkat selama aktivitas ketika klien merasa dirinya berkompetisi dengan orang lain dan dapat memicu terjadinya perilaku yang membahayakan

h. Atur batasan, nyatakan dengan jelas, spesifik, sikap yang tegas terhadap apa yang dapat/tidak dapat diterima. Gunakan tuntutan hanya bila situasi memerlukannya

Rasional : bersikap jelas dan tetap tenang meningkatkan kesempatan klien bekerjasama dan mengurangi potensi kekerasan. Dengan memberlakukan batasan yang sedikit tetapi penting akan meningkatkan kesempatan untuk mengobservasi

i. Waspada terhadap tanda-tanda yang memunculkan perilaku kekerasan, peningkatan aktivitas psikomotor, intensitas afek, pengungkapan pikiran delusi, terutama ekspresi adanya ancaman, halusinasi ketakutan

Rasional : meningkatkan intervensi tepat waktu karena komuniksi terapeutik lebih efektif sebelum perilaku menjadi berbahaya

j. Waspada terhadap respon diri sendiri pada perilaku klien (misalnya marah atau takut)

Rasional : berespon secara defensive cenderung memperberat situasi.

k. Isolasi segera dengan cara tidak menghukum, dengan menggunakan bantuan adekuat bila terjadi perilaku yang membahayakan. Pegang klien dan beritau klien untuk MENGHENTIKAN perilakunya

Rasional : pemindahan klien ke lingkungan yang lebih tenang dapat mengurangi rangsangan dan dapat membantu klien merasa lebih tenang. Sering memegang klien da/atau berkata berhenti adalah cukup untuk membantu klien mendapatkan kembali control atas dirinya

l. Kolaborasi untuk menempatkan dalam tempat isolasi, dan/atau gunakan restrain sesuai petunjuk dan dokumentasikan alasan tindakan

Rasional : menempatkan dalam tempat isolasi atau menggunakan restrain diperlukan sampai klien merasa mendapat pengendalian atas dirinya sendiri

m. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi

Rasional : digunakan untuk menurubkan gejala, mengurangi pikiran delusi, dan bantu klien mencapai pengendalian diri

9. Defisit perawatan diri

a. Tentukan tingkat perawatan diri seperti makan, mandi/kebersihan, berpakaian/berdandan, dan toileting

Rasional : mengidentifikasi potensi dan menetapkan derajat asuhan keperawatan yang akan dilakukan

b. Kaji adanya/beratnya faktor yang memengaruhi kapasitas klien untuk merawat diri (misalnya kemampuan kognitif/persepsi, disintegratif, status mobilisasi)

Rasional : gangguan pada area ini dapat mengubah kemampuan/kesiapan klien untuk merawat diri

c. Diskusikan penampilan/dandanan individu dan anjurkan untuk berpakaian dengan pakaian warna terang dan atraktif. Beri umpan balik positif untuk usaha klien

Rasional : penampilan memengaruhi bagaimana klien dapat melihat dirinya. Penampilan yang tidak rapih, tidak cocok, memperlihatkan perasaan layak diri yang rendah, karena penampilan yang atraktif dan serasi memperlihatkan perasaan positif klien dan juga orang lain

d. Tingkatkan aktivitas hidup sehari-hari klien sesuai kemampuan klien

Rasional : latihan fisik adekuat meningkatkan tonus otot, sehingga mengajarkan pasien untuk mampu bergerak dan memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri

e. Kolaborasi dengan keluarga untuk membantu klien dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya dirumah

Rasional : melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien dapat membentuk koping keluarga menjadi lebih baik

BAB II

ANALISA KASUS

FILM BEAUTIFUL MIND

1. SinopsisFilm Beautiful Mind menceritakan kisah tentang seorang ahli matematika genius yang bernama John Forbes Nash yang mengidap schizophrenia hingga membuatnya hidup dalam halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan yang membuatnya harus berjuang keras untuk sembuh dan meraih hadiah Nobel tahun 1994, kala ia memasuki usia senja.

Cerita berawal dengan Nash muda di tahun 1948 yang memulai hari-hari pertama kuliahnya di universitas bergengsi, Princeton University. Nash lelaki sederhana yang digambarkan sebagai pribadi penyendiri, pemalu, rendah diri, sekaligus aneh. Dia tidak terlalu suka berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukainya, itu anggapan dalam diri Nash dan selalu dia ucapkan pada hampir setiap orang yang baru dia kenal. Di balik segala kekurangannya, Nash juga digambarkan sebagai laki-laki arogan yang bangga akan kepandaiannya. Ini ditunjukkannnya dengan cara menolak mengikuti kuliah yang dianggapnya hanya menghabiskan waktu dan membuat otak tumpul. Sebagai gantinya, Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide orisinal untuk meraih gelar doktornya dan diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.

Saat Nash sedangberusahamencapaicita-citanyaitu, dia mendapat teman sekamar yang sangat memakluminya, Charles Herman yang memiliki keponakan seorang gadis cilik Marcee. Nash yang amat terobsesi dengan matematika-sampai-sampai menulis berbagai rumus di kaca jendela kamar dan perpustakaan akhirnya secara tak sengaja berhasil menemukan konsep baru yang bertentangan dengan teori bapak ekonomi modern dunia, Adam Smith. Konsep inilah yang dinamakannya dengan teori keseimbangan, yang mengantarkannya meraih gelar doktor. Mimpi Nash menjadi kenyataan. Tak hanya meraih gelar doktor, ia berhasil diterima sebagai peneliti dan pengajar di MIT.

Kehidupan Nash mulai berubah ketika dia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Sovyet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari agen rahasia ini, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri.

Kemudian datanglah Alicia Larde, seorang mahasiswinya yang cantik, yang membuatnya sadar bahwa ia juga membutuhkan cinta. Ketika pasangan ini menikah, Nash justru semakin parah dan merasa terus berada dalam ancaman bahaya gara-gara pekerjaannya sebagai agen rahasia. Nash semakin hari semakin terlihat aneh dan ketakutan, sampai akhirnya ketika ia sedang membawakan makalahnya di sebuah seminar di Harvard, Dr Rosen seorang ahli jiwa menangkap dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Dari situlah terungkap, Nash mengidap paranoid schizophrenia. Beberapa kejadian yang dialami Nash selama ini hanya khayalan belaka. Tak pernah ada teman sekamar, Herman dan keponakannya yang menggemaskan, Marcee ataupun Parcher dengan proyek rahasianya.

Untungnya, Alicia adalah seorang istri setia yang tidak pernah lelah memberi semangat pada suaminya. Dengan dorongan semangat serta cinta kasih yang tak pernah habis dari Alicia, Nash bangkit dan berjuang melawan penyakitnya.

2. Karakter Pribadi John Nash: Pemalu, introvert, penyendiri, rendah diri (merasa dirinya tidak disukai orang lain), kaku, tidak suka bergaul (tidak menyukai orang lain), penarikan diri dari lingkungan sosial.

Alicia Larde : setia, cerdas, feminin, tegar , dan pantang menyerah.

Christopher Plummer sebagai Dr. Rosen : Dr. Rosen merupakan seorang ahli kejiwaan yang merawat John Nash dan mengamati kesehatannya. Dia adalah dokter yang bertanggung jawab atas pengobatan penyakit yang dialami John Nash. Ed Harris sebagai William Parcher : William Parcher adalah tokoh khayalan yang diciptakan oleh John Nash. Tokoh ini adalah tokoh tidak nyata dan hanya dapat dilihat oleh John Nash itu sendiri. Dalam film ini William diceritakan berperan sebagai seorang agen rahasia yang berasal dari Pentagon. Keduanya bertemu saat di Pentagon dan Parcher merekrut John Nash untuk ikut bergabung dalam misi rahasia mereka yang melibatkan rahasia dua negara.KarakterParcherpada film iniadalahsebagaiseseorang yang tegas, otoriter, danpenghasut. Paul Bettany sebagai Charles Herman : Charles dalam film ini sama halnya seperti William Parcher, keduanya merupakan tokoh halusinasi yang diciptakan oleh John Nash. Charles merupakan teman sekamar John Nash sewaktu di asrama saat ia masih kuliah di Princeton University.Karakter Charles dalam film ini sebagai seorang teman yang diidamkan oleh John, selalu mendukung John, ceria, friendly. Josh Lucas sebagai Martin Hansen : Tokoh Martin pada film ini adalah teman kuliah Nash, dia digambarkan sebagai tokoh yang pada awalnya menganggap Nash adalah orang aneh, sehingga membuatnya ingin selalu mengganggunya. Walaupun begitu Martin ini merupakan teman yang baik, terlihat setia ketika sudah mengetahui bahwa Nash mengidap schizophrenia Ia tidak meninggalkannya dan tetap membantunya memberi pekerjaan. Vivien Cardone sebagai Marcee : Marcee adalah anak kecil yang merupakan tokoh halusinasi ciptaan John Nash. Anak kecil ini merupakan keponakan dari Charles yang juga tokoh imajinasi John Nash yang lucu dan menggemaskan.3. Tanda gejala schizophrenia yang dialami John Nash :a. Adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan.Waham yang terjadipada John Nash adalah : Waham Kejar (delusion of persecution), yaitu keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya, dalam film tersebut yaitu agen pemerintah dan mata mata rusia. Waham ini menjadikannya paranoid, yang selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi.

Waham Kebesaran (delusion of grandeur), yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang penting. John Nash menganggap dirinya adalah pemecah kode rahasia terbaik dan mata mata atau agen rahasia.

Waham Pengaruh (delusion of influence), adalah keyakinan bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya. Adegan yang menunjukkan waham ini yaitu ketika disuruh membunuh istrinya, ketika disuruh menunjukkan bahwa dia jenius, dan ketika diyakinkan bahwa dia tidak berarti oleh para teman halusinasinya.

b. Adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu hal ada dan nyata padahal kenyataannya hal tersebut hanyalah khayalan. John Nash mengalami halusinasi penglihatan dan pendengaran. John Nash bertemu dengan tiga orang yang secara nyata tidak ada yaitu Charles Herman (teman sekamarnya), William Parcher (agen pemerintah) dan Marcee (keponakan Charles Herman). Ia dapat melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh ketiga orang tersebut. Selain itu juga John Nash berhalusinasi mengenai laboratorium rahasia, dan juga nomer kode yang dipasang pada tangannya.

c. Gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan khas diikuti dengan gerakan tangan, jari dan lengan yg aneh. Indikasi ini sangat jelas ketika John Nash berkenalan dengan teman temannya dan juga jika dilihat dari cara berjalannya.

d. Adanya gangguan emosi, adegan yang paling jelas yaitu ketika John Nash menggendong anaknya dengan tanpa emosi sedikitpun.

e. Social withdrawl (penarikan sosial), John Nash tidak bisa berinteraksi sosial seperti orang orang pada umumnya, dia tidak menyukai orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya memiliki sedikit teman.

4. Faktor penyebab John Nash mengidap schizophrenia :

a. Predisposisi :

Genetik, kerusakan di kromosom 5 dan 6

Pola asuh yang salah dari orang tuanya saat kecil

b. Presipitasi :

Kalah bermain dari teman-temannya

Merasa gagal berprestasi untuk mendapatkan cita-citanya

Tidak mempunyai teman dekat

Dianggap aneh oleh teman-temannya5. Menurut model keperawatan jiwa

Model psikoanalisis (Freud, Ericson), gangguan jiwa terjadi akibat perkembangan diri, resolusi konflik, dan ego (akal) tidak dapat mengontrol id (kehendak nafsu). Pada film Beautiful Mind, tokoh John Nash tidak dapat menyeimbangkan antara ego dengan id. ObsesiJohn Nash yang besar untuk menjadi matematikawan terbaik membuat ia kehilangan akalnya, seperti Ia lebih focus pada penelitiannya dan tidak memperdulikan lingkungan (menutupdiri) sehingga John Nash tidak mempunyai teman baik. Model interpersonal (Sullivan, Peplau), gangguan jiwa timbul karena adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain sehingga muncul ancaman dan menimbulkan kecemasan. Perasaan takut ditolak atau tidak diterima oleh orang disekitarnya. Pada film Beautiful Mind, tokoh John Nash dianggap aneh karena ambisinya pada matematika, membuatnya ditolak oleh teman-temannya sehingga menimbulkan kecemasan yang tidak dapat diatasi oleh dirinya sendiri.

Model sosial (Caplan, Szasz), gangguan jiwa terjadi akibat adanya faktor lingkungan yang memicu stress pada seseorang. Pada film Beautiful Mind, tokoh John Nash mendapat stressor lingkungan dimana teman-temannya telah mendapatkan judul untuk gelar doktornya, namun tidak demikian dengan dirinya.BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Psikosis merupakan suatu penyakit kejiwaan berat yang bisa menyerang siapapun tidak mengenal jenis kelamin, ras, ataupun usia. Perbedaan psikosis dan neurosis salah satunya adalah tidak adanya kontak dengan realitas. Gejala yang muncul adalah halusinasi, delusi/waham, gangguan berpikir, mood swings, dan perubahan perilaku. Psikosa terbagi menjadi 2 macam yakni psikosa organis yang disebabkan oleh faktor fisik seperti alcoholic psychosis, psikosis akibat obat-obat terlarang, traumatic psychosis, dan dementia paralytic. Satu lagi adalah psikosa fungsional yang menyerang jiwa secara fungsional nonorganic seperti schizophrenia, schizoaffective disorder, psikosis mania-depresif, dan psikosis paranoid. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan adalah melalui pengamatan yang dalam mengenai adanya tingkah laku yang berubah dan tes-tes psikiatrik. Pemeriksaan penunjang lain seperti CTScan, PET, MRi bisa digunakan untuk mendeteksi gambaran otak pasien. Kekinian penatalaksanaan penyakit ini meliputi terapi konseling, keluarga yang dapat meningkatkan kesembuhan pasien selain daripada pemberian pengobatan antipsikotik ataupun ECT. Prognosis pasien yang menderita psikosis ini baik jika dilakukan pendeteksian dan pengobatan yang lebih awal untuk mendapatkan kesembuhan total.

3.2 Saran

Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada penyusun agar dapat menjadi motivasi untuk makalah yang akan penyusun buat selanjutnya. Dengan di buatnya makalah ini, penyusun berharap dapat bermanfaat bagi pembaca dan penyusun khususnya.

Daftar Pustaka

Baihaqi, Sunardi, dkk. 2007. Psikiatri. Bandung: PT. Refika Aditama.Brooker chris. 2008. Ensiklopedia Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Brooker christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan ed-31. Jakarta: EGC.

Davey, Patrick. 2005. At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.

Davies, Telfion. 2009. ABC Kesehatan Mental. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges Marilynn E. 2007. Rencana Asuhan Keperawatan Psikiatri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.Guze, Barry. 1997. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Kee, Joyce.L. 1996. Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Livingstonse, Churchill. 2009. Encyclopedia of Nursing. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Semiun, Yustinus. 2010. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius.Tomb, David.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Townsend, Marry C. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. Jakarta: EGC.Soal kuis !

1. Apakah yang dimaksud dengan psikosis ?

2. Sebutkan klasifikasi dari psikosis dan berikan masing-masing satu contoh !

3. Apakah yang dimaksud dengan penyakit bipolar 1 !

4. Sebutkan 2 gambaran tentang penyakit bipolar !

5. Sebutkan 2 gejala mania dan 2 gejala depresif !

6. Sebutkan 3 gejala psikosis paranoid !

7. Sebutkan 5 manifesitasi skizofrenia !

8. Jelaskan cara kerja obat antipsikotik dan berikan contohnya !

9. Sebutkan 3 etiologi dari skizofrenia !

10. Sebutkan 3 diagnosa pada gangguan jiwa psikosis !i

i