Makalah Psikologi persepsi

download Makalah Psikologi persepsi

of 26

  • date post

    03-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    597
  • download

    2

Embed Size (px)

description

tugas makalah persepsi

Transcript of Makalah Psikologi persepsi

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar BelakangPersepsi dan kognisi merupakan suatu proses psikologis yang sangat dipengaruhi oleh berbagai macam hal. Kognisi pada dasarnya ialah sebuh proses berpikir yang di dalamnya terdapat berbagai macam aspek, yaitu pencarian, penerimaan, pemaknaan, penyimpanan, dan bagaimana menggunakan informasi-informasi tersebut. Proses psikologis lain yang berperan dalam proses ini ialah persepsi, yaitu kemampuan seorang individu memberi makna pada informasi-informasi yang telah diperolehnya.Hubungan dan pengaruh budaya ini tentu sangat menentukan perbedaan dan persamaan persepsi atas proses berpikir seorang individu. Individu dibesarkan sesuai dengan nilai-nilai tertentu yang berlaku dalam masyarakatnya dan diturunkan secara turun-temurun. Nilai-nilai yang dianut inilah yang sangat menentukan bagaimana seseorang dapat mempersepsi objek-objek yang ditangkap melalui proses kognisinya. Misalkan ketika ia menerima informasi tentang maraknya ibu-ibu yang bekerja sebagai wanita karier yang sukses dan secara tidak langsung keluarganya sedikit terbengkalai, maka seorang individu akan mempersepsikannya secara berbeda. Mungkin bagi sebagian orang yang masih menganut sistem budaya konvesional (seorang dengan budaya jawa namun masih memegang teguh ajaran budayanya) akan menganggap bahwa hal itu tidak dibenarkan menurut persepsinya. Seperti yang dijelaskan oleh Umar Kayam (2008) dalam www.kompas.com bahwa wanita merupakan teman belakang atau dalam bahasa jawa disebut sebagai kanca wingking yang merupakan pengembangan dialektika budaya adiluhung yaitu seorang yang bertugas menjaga nilai-nilai luhur di dalam rumah. Hal itu mungkin akan dipersepsi lain oleh orang dari latar belakang budaya yang berbeda.Berdasarkan latar belakang inilah, maka kami akan mengupas lebih jauh mengenai kognisi, persepsi, serta hubungan budaya dengan kedu proses tersebut.B. Masalah

Masalah yang timbul dari penyusunan makalah ini:

Apakah definisi kognisi?

Apakah definisi persepsi?

Apakah terdapat hubungan antara kognisi dan intelegensi?

C. Maksud dan Tujuan

Maksud serta tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui:

a) Memberikan pemahaman mengenai definisi kognisi b) Memberikan pemahaman mengenai definisi persepsic) Memberikan pemahaman mengenai hubungan kognisi dan intelegensiD. Metode Penulisan

Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menggunakan metode literatur yang diambil dari beberapa buku yang berkaitan dengan masalah yang dibahas serta situs-situs internet yang berkaitan. Selain itu penulis juga menggunakan metode deskriptif praktis, artinya dengan menggambarkan keadaan masalah yang ditulis berdasarkan beberapa buku yang terkait.E. Sistematika Penulisan

1) Bab I. Pendahuluan

2) Bab II. Isi

A. KognisiB. PersepsiC. Hubungan antara Kognisi dan Intelegensi3) Bab III. KesimpulanDaftar PustakaBAB II

KOGNISI DAN PERSEPSI

A. KOGNISIKognisi adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indera menjadi pengetahuan (Matsumoto, 2008). Menurut Tri Dayakisni (2008) salah satu proses dasar kognisi ialah pemberian kategori pada setiap benda atau obyek atas dasar persamaan dan perbedaan karakternya. Selain kedua hal di atas, pemberian kategori juga biasanya didasarkan pada fungsi dari masing-masing objek tersebut.Proses-proses mental dari kognisi mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya. Ada beberapa aspek kognisi, yaitu kategorisasi (pengelompokkan), memori (ingatan) dan pemecahan masalah (problem solving). Budaya dan Memori

Memori ialah proses pengolahan informasi dalam kognitif yang meliputi pengkodean, penyimpanan, pemanggilan kembali informasi-informasi tersebut. Dalam hubungannya dalam penyimpanan dan pemanggilan kembali informasi-informasi tersebut, memori dibedakan menjadi memori jangka pendek (short term memory) yang jangka waktu menyimpan informasi tidak lebih dari 15-25 detik dan memori jangka panjang (long term memory) atau memori yang menyimpan informasi relatif permanen meskipun kadang ada kesulitan dalam memanggilnya kembali (Dayakisni, 2008).Ross dan Millson (Matsumoto dalam Dayakisni, 2008) melakukan sebuah penelitian dengan membandingkan daya ingat pelajar Amerika dan pelajar Ghania. Mereka menduga bahwa tradisi oral membuat orang lebih baik dalam kemampuan daya ingatnya. Penelitian mereka ini ialah dengan membacakan cerita dengan suara yang keras dan membandingkan bahwa pelajar Ghania secara umum dapat mengingat isi cerita lebih baik daripada pelajar Amerika. Masih dalam Matsumoto (1996), Cole (1971) menemukan hal lain bahwa sekalipun masyarakat non-literate dapat mengingat isi cerita lebih baik namun kemampuan mereka dalam mengingat daftar kata cenderung lebih lama.

Serial Position Effect merupakan salah satu aspek memori yang paling dikenal karena pada hipotesa ini juga menerangkan bahwa seorang individu akan mampu mengingat lebih baik bagian pertama yang dibaca (primary effect) atau bacaan terakhir dari daftar kata yang harus diingat (recency effect). Meskipun demikian Wagner (dalam Matsumoto, 1996 dalam Dayakisni, 2008) menjelaskan bahwa primary effect ini juga berhubungan dengan pendidikan. Ia membandingkan kelompok anak Moroccan antara yang sekolah dan yang tidak pernah mendapat pendidikan. Hasilnya ialah primary effect cenderung lebih kuat pada anak yang pernah mengenyam pendidikan.

Budaya dan Problem SolvingProses menyelesaikan masalah atau problem solving ini merupakan sebuah usaha yang digunakan untuk menemukan urutan yang benar dari alternatif-alternatif penyelesaian suatu masalah dengan mengarah pada satu tujuan pemecahan yang ideal. Penyelesaian masalah ini biasanya juga sangat tergantung dari pendidikan dan pengalaman-pengalaman yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali teori-teori psikologi yang telah mencoba menjelaskan mengenai problem solving ini, namun banyak juga yang akhirnya meneliti mengenai pengaruh budaya dengan problem solving terhadap masalah-masalah yang tidak biasa ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Cole (dalam Dayakisni, 2008) memberi kesimpulan akhir pada penelitiannya bahwa orang Liberia menyelesaikan masalah mereka dengan berpikir logis akan menyesuaikan dengan konteks permasalahannya. Ketika masalah yang diberikan merupakan sebuah konsep dan mengunakan material yang sudah mereka kenal, maka orang Liberia akan mampu berpikir logis sama baiknya dengan orang Amerika. Ketika masalah yang akan dihadapinya tidak pernah ia temui sebelumnya, maka mereka cenderung mengalami kesulitan mengenai langkah-langkah awal dari penyelesaian masalah tersebut. Dalam perbandingan ini, namun tidak dapat dikatakan bahwa orang Liberia mempunyai problem solving yang lebih rendah dibandingkan dengan orang Amerika, karena mungkin saja orang Amerika juga akan memiliki problem solving tidak sebaik orang Liberia ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang belum pernah ditemui sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Cole ini mendapat berbagai macam respon karena dinilai adanya bias-bias budaya dalam percobaannya sehingga ia perlu melakukan tiga kali percobaan untuk sampai pada kesimpulan yang telah disampaikan sebelumnya. Percobaan-percobaan yang dilakukan Cole antara lain :

Pada percobaan 1 ini ia menggunakan sebuah piranti yang memiliki banyak tombol, panel, dan lubang sehingga untuk dapat membuka piranti tersebut (dan mendapat hadiah yang ditaruh di dalamnya), ia harus mampu mengkombinasikan berbagai tombol dan merancang penyelesaian-penyelesaian lain untuk membuka piranti tersebut. Prosedur yang terdapat dalam penelitian ini iallah : (1) kemampuan menekan tombol yang tepat untuk dapat melepas kelerang; (2) memasukkan kelerang ke dalam lubang yang tepat agar panel dapat terbika dan selanjutnya piranti pun akan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Amerika yang berusia di bawah 10 tahun tidak mampu menyelesaikannya dengan mudah, namun pada orang dewasa Amerika, mereka dapat mengkombinasikan berbagai penyelesaian sehingga dapat menyelesaikannya dengan mudah. Hal ini tidak ditemukan pada subjek-subjek orang Liberia , baik pada usia muda maupun usia dewasa. Hal yang dirasa menjadi bias dalam penelitian ini ialah orang Amerika yang dianggap lebih familiar dengan penggunaan alat-alat yang menggunakan banyak tombol dibandingkan dengan orang Liberia. Oleh karena itu, Cole melakukan penelitian yang kedua.

Pada percobaan kedua ini, Cole menggunakan alat percobaan kotak terkunci beserta kunci-kuncinya. Hal ini dirasa kurang bias karena pertimbangan bahwa orang Liberia juga telah familiar terhadap hal-hal semacam ini. Prosedur dalam menyelesaikan masalah pun masih sama dengan percobaan pertama. Hasilnya menunjukkan bahwa orang Liberia mampu menyelesaikannya dengan baik dan menggunakan waktu yang hampir sama dengan orang Amerika.

Percobaan ketiga yang dilakukan ialah prosedur gabungan dari percobaan pertama dan percobaan kedua. Subjek diminta membuka kotak dengan kunci-kunci yang harus diambil dari piranti yang tertutup. Langkah yang harus dilakukan untuk membuka piranti tersebut ialah menekan tombol yang tepat, mengambil kelereng, dan memasukkan kelereng pada lubang yang tepat pula. Hasil pada percobaan ketiga ini sama dengan hasil pada percobaan pertama.

B. PERSEPSI

Kalau berbicara tentang persepsi, kita biasanya menganggap bahwa kita bisa melihat hal-hal yang benar-benar faktual atau nyata di dunia sekitar kita. Menurut Matsumoto (2008), dalam psikologi tradisional, sensasi dan persepsi adalah tentang memahami bagaimana kita menerima stimulasi dari lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Persepsi biasanya dimengerti sebagai bagaimana informasi yang berasal dari organ yang tersetimulasi diproses, termasuk bagaimana informasi tersebut diseleksi, ditata, dan ditafsirkan. Persepsi mengacu pada pros