Makalah Problem Solving

of 28 /28
A. Pendahuluan Pendidikan merupakan proses alami dan memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia. Setiap individu yang dikaruniai akal dan pikiran akan senantiasa melakukan proses pendidikan, sebab hal tersebut dapat merubah perilaku, mengembangkan kemampuan dan menunjukan kepribadian seseorang. Hal tersebut, sejalan dengan fungsi dari Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurut Surya (2004:77) dalam lingkup mikro, pendidikan diwujudkan melalui proses pengajaran, baik di dalam atau di luar kelas. Proses ini berlangsung melalui interaksi antara guru dan siswa dalam situasi pengajaran yang bersifat mendidik (edukatif). Dari pemahaman tersebut, relasi antara guru dan siswa hendaknya dapat berjalan dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat berhasil secara maksimal. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari oleh setiap siswa di sekolah. Dalam kurikulum dijelaskan bahwa tujuan diberikannya matematika anatara lain agar siswa mampu 1

Embed Size (px)

description

Problem Solving dalam Matematika

Transcript of Makalah Problem Solving

A. Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses alami dan memegang peranan penting dalam setiap kehidupan manusia. Setiap individu yang dikaruniai akal dan pikiran akan senantiasa melakukan proses pendidikan, sebab hal tersebut dapat merubah perilaku, mengembangkan kemampuan dan menunjukan kepribadian seseorang. Hal tersebut, sejalan dengan fungsi dari Pendidikan Nasional yang tercantum dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Menurut Surya (2004:77) dalam lingkup mikro, pendidikan diwujudkan melalui proses pengajaran, baik di dalam atau di luar kelas. Proses ini berlangsung melalui interaksi antara guru dan siswa dalam situasi pengajaran yang bersifat mendidik (edukatif). Dari pemahaman tersebut, relasi antara guru dan siswa hendaknya dapat berjalan dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat berhasil secara maksimal.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk dipelajari oleh setiap siswa di sekolah. Dalam kurikulum dijelaskan bahwa tujuan diberikannya matematika anatara lain agar siswa mampu menghadapi perubahan keadaan di bumi yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, dan efektif. Hal ini jelas merupakan tuntutan sangat tinggi yang tidak mungkin bisa dicapai hanya melalui hafalan, latihan pengerjaan soal yang bersifat rutin serta proses pembelajaran biasa. Untuk menjawab tuntutan tujuan yang demikian tinggi, maka perlu dikembangkan materi serta proses pembelajarannya yang sesuai. Berdasarkan teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne (1970), bahwa keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan masalah (problem solving).

Pembelajaran matematika di sekolah dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan belajar matematika merupakan cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran agar konsep yang disajikan bisa beradaptasi dengan siswa. Terdapat banyak pendekatan yang dapat diaplikasikan guru dalam pembelajran matematika, salah satunya adalah pendekatan Pemecahan Masalah (Problem Solving).

Pemecahan masalah adalah proses menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru yang belum dikenal. Pada pemecahan masalah matematika akan memberikan peserta didik kesempatan untuk melakukan investigasi masalah matematika yang mendalam, sehingga dapat mengkonstruksi segala kemungkinan pemecahannya secara kritis, dan kreatif (Rahmawati,2010).

Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum matematika yang sangat penting, karena dalam proses pembelajran maupun penyelesaian, siswa dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah yang bersifat tidak rutin. Melalui kegiatan ini aspek-aspek kemampuan matematika penting seperti penerapan aturan pada masalah tidak rutin, penemuan pola, penggeneralisasian, komunikasi matematik dan lain-lainnya dapat dikembangkan secara baik.

B. Pembelajaran Matematika dengan pendekatan Problem Solving

1. Pengertian dasar Problem SolvingSebelum mempelajari pengertian problem solving, terlebih dahulu mari kita maknai arti kata problem atau masalah . Menurut Lencher (dalam Wardhani, 2010) setiap penugasan kepada siswa dalam belajar matematika dapat digolongkan menjadi dua hal, yaitu exercise atau latihan dan problem atau masalah. Exercise (latihan) merupakan tugas yang langkah penyelesaiannya sudah diketahui siswa. Pada umumnya suatu latihan dapat diselesaikan dengan menerapkan secara langsung satu atau lebih algoritma. Problem lebih kompleks daripada latihan karena strategi untuk menyelesaikannya tidak langsung tampak. Dalam menyelesaikan problem siswa dituntut kreativitasnya.

Barangkali secara umum orang memahami masalah (problem) sebagai kesenjangan antara kenyataan dan harapan. Namun dalam matematika, istilah problem memiliki makna yang lebih khusus. Kata Problem terkait erat dengan suatu pendekatan pembelajaran yaitu pendekatan problem solving. Dalam hal ini tidak setiap soal dapat disebut problem atau masalah. Ciri-ciri suatu soal disebut problem dalam perspektif ini paling tidak memuat 2 hal yaitu:a. soal tersebut menantang pikiran (challenging),b. soal tersebut tidak otomatis diketahui cara penyelesaiannya (nonroutine).

Departemen Matematika dan Ilmu Komputer di Saint Louis University (dalam Department of Mathematics and Computer Science, 1993) mengemukakan lima tipe soal matematika:a. Soal-soal yang menguji ingatan (memory).b. Soal-soal yang menguji keterampilan (skills).c. Soal-soal yang membutuhkan penerapan keterampilan pada situasi yang biasa (familiar).d. Soal-soal yang membutuhkan penerapan keterampilan pada situasi yang tidak biasa (unfamiliar) mengembangkan strategi untuk masalah yang baru.e. Soal-soal yang membutuhkan ekstensi (perluasan) keterampilan atau teori yang kita kenal sebelum diterapkan pada situasi yang tidak biasa (unfamiliar).

Soal tipe 1, 2, dan 3 termasuk pada kelompok soal rutin (routine problems). Soal tipe inilah yang sering kita berikan kepada siswa, walaupun harus kita sadari bahwa dengan hanya memberi soal-soal tipe ini, tidak dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam pemecahan masalah. Soal-soal dengan tipe 4 dan 5 merupakan soal-soal dalam kelompok non-rutin (non-routine problems) yang banyak mengasah kemampuan dalam pemecahan masalah.

Apa itu problem solving? Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi problem solving dalam matematika memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah problem solving dalam pembelajaran matematika, yaitu (1) problem solving sebagai tujuan (as a goal), (2) problem solving sebagai proses (as a process), dan (3) problem solving sebagai keterampilan dasar (as a basic skill). (Branca, N. A.dalam Krulik, S. & Reys, R. E., 1980:3-6).

1). Problem solving sebagai tujuanPara pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan matematika seringkali menetapkan problem solving sebagai salah satu tujuan pembelajaran matematika. Bila problem solving ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve problems) merupakan alasan utama (primary reason) belajar matematika.

2). Problem solving sebagai prosesPengertian lain tentang problem solving adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, problem solving dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah proses ini sangat penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam kurikulum matematika. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses problem solving dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi atau proses problem solving telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar problem solving dan aplikasi dalam pengajaran.

3. Problem solving sebagai keterampilan dasarTerakhir, problem solving sebagai keterampilan dasar (basic skill). Pengertian problem solving sebagai keterampilan dasar lebih dari sekedar menjawab tentang pertanyaan: apa itu problem solving? Ada banyak anggapan tentang apa keterampilan dasar dalam matematika. Beberapa yang dikemukakan antara lain keterampilan berhitung, keterampilan aritmetika, keterampilan logika, keterampilan matematika, dan lainnya. Satu lagi yang baik secara implisit maupun eksplisit sering diungkapkan adalah keterampilan problem solving.

2. Tahapan dan Strategi dalam Problem SolvingGeorge Polya (dalam Sumardyono, 2010) menjelaskan bahwa ada 4 langkah dalam memecahkan masalah, yaitu :

a. Memahami soal / masalah Untuk dapat melakukan tahap ini dengan baik, maka perlu latihan untuk memahami masalah baik berupa soal cerita maupun soal non-cerita, terutama dalam hal:1). apa saja pertanyaannya, dapatkah pertanyaannya disederhanakan,2). apa saja data yang dipunyai dari soal/masalah, pilih data-data yang relevan,3). hubungan-hubungan apa dari data-data yang ada.

b. Memilih rencana penyelesaian Dalam proses pembelajaran pemecahan masalah, siswa dikondisikan untuk memiliki pengalaman menerapkan berbagai macam strategi atau metode pemecahan masalah. Pengalaman itu diawali dengan memilih atau menentukan strategi memecahkan masalah sebagai bentuk rencana memecahkan masalah. Menurut Lenchner, ketika siswa Anda telah memahami masalah yang dihadapi, saatnya mereka selanjutnya memutuskan rencana aksi untuk menindaklanjuti pemecahan masalah. Mereka harus memilih strategi pemecahan masalah yang masuk akal. Strategi yang tepat untuk memecahkan masalah matematika cukup banyak dan bervariasi, tetapi berikut ini beberapa diantaranya yang paling banyak digunakan. 1) Membuat gambar atau diagram 2) Menemukan pola 3) Membuat daftar yang terorganisir 4) Membuat tabel 5) Menyederhanakan masalah 6) Mencoba-coba 7) Melakukan eksperimen 8) Memeragakan (memerankan) masalah 9) Bergerak dari belakang 10) Menulis pertanyaan 11) Menggunakan deduksi

Untuk menyelesaikan suatu masalah, strategi seperti tersebut di atas mungkin digunakan secara sendiri-sendiri, namun dapat pula secara kombinasi. Anda akan menjumpai bahwa untuk suatu masalah yang sama, orang (pemecah masalah) yang berbeda dapat menggunakan strategi yang berbeda.

Sangat penting untuk disadari bahwa kita tidak dapat mengharapkan siswa menggunakan strategi yang tidak dikenalnya. Seperti ketrampilan yang lain, ketrampilan pemecahan masalah diperoleh setelah dipelajari. Oleh karena itu kepada siswa perlu diberikan masalah-masalah yang luas dan bervariasi sehingga mereka dapat mencoba strategi baru dan praktik menggunakannya. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran suatu kompetensi dasar (KD) yang bertujuan mengembangkan dan melatih kemampuan siswa dalam memecahkan masalah hendaknya dilatihkan penerapan strategi pemecahan masalah yang bervariasi.

c. Menerapkan rencana Untuk dapat melakukan tahapan ini dengan baik, maka perlu dilatih mengenai beberapa hal :1). keterampilan berhitung,2). keterampilan memanipulasi aljabar,3). membuat penjelasan (explanation) dan argumentasi (reasoning).

d. Memeriksa jawaban Untuk dapat melakukan tahap ke-4 ini, maka diperlukan latihan mengenai:1). memeriksa penyelesaian/jawaban (mengetes atau mengujicoba jawaban),2). memeriksa apakah jawaban yang diperolah masuk akal,3). memeriksa pekerjaan, adakah yang perhitungan atau analisis yang salah,4). memeriksa pekerjaan, adakah yang kurang lengkap atau kurang jelas.

3. Teknik Penilaian Soal Pemecahan MasalahPemahaman kita akan cara penilaian soal pemecahan masalah, dapat membimbing kita mengarahkan (memfasilitasi) siswa menyelesaikan masalah. Selain itu, yang jelas, agar kita tidak keliru menilai kemampuan memecahkan masalah.Umumnya kita membedakan ada dua macam cara penilaian pemecahan masalah, yaitu secara holistik dan secara analitik (Emenaker, 1999:117).

Pembedaan penilaian ini didasarkan pembedaaan cara penyekoran. Penyekoran secara holistik didasarkan pada beberapa kelompok besar kemampuan memecahkan masalah, sementara penyekoran secara analitik berdasarkan rincian aspek-aspek kemampuan. Beberapa aspek yang dapat dinilai dalam pemecahan masalah, antara lain: pemahaman masalah, strategi penyelesaian, penjelasan atau eksplanasi, argumentasi langkah, penarikan kesimpulan atau jawaban, penggunaan symbol matematika, manipulasi aljabar atau hitungan bilangan, dan bahasa tulis. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas berikut ini contoh penyekoran secara holistik dan contoh penyekoran secara analitik.

Contoh penyekoran secara holistik (disadur dari Lester, F. & Kroll, D. 1991).SkorIndikatorKeterangan

4Semua yang berikut dipenuhi: Jawaban yang diperoleh benar. Penjelasan jelas dan lengkap. Perhitungan matematis dilakukan dengan benar.respon yangpatut dicontoh

3Hanya terjadi salah satu dari yang berikut: Jawaban salah karena sedikit kesalahan perhitungan. Penjelasan kurang jelas. Penjelasan kurang lengkaprespon yangbaik

2Terjadi 2 dari 3 hal pada skor 3 di atas. Atau, salah satu atau lebih ciri-ciri berikut terjadi: Jawaban tidak benar, namun disebabkan kesalahan analisis (bukan kesalahan perhitungan) Penjelasan tidak jelas atau membingungkan Ada kesalahan penerapan strategi penyelesaianrespon yangkurang tepat

1Jawaban tidak benar, dan Penjelasan (jika ada) dengan alasan yang tidak benar, dan Strategi yang diterapkan tidak benar atau membingungkan.respon yangkurang

0Kertas jawaban dalam keadaan kosong atau berisi catatan yang tidak relevan untuk menjawab masalahtidak adarespon

Contoh penyekoran secara analitik (disadur dari Charles, Lester & O`Daffer(1987:10)).Aspek dan skorIndicator

Pemahaman

Skor 3Siswa menunjukkan pemahaman yang lengkap baik pada langkah penyelesaian maupun pada penafsiran/penjelasan terhadap jawaban

Skor 2Siswa menunjukkan pemahaman yang baik. Sedikitkesalahan mungkin terjadi pada pemahaman masalahatau pada pengembangan strategi penyelesaian ataupada penafsiran jawaban.

Skor 1Siswa menunjukkan pemahaman yang minimal.Pernyataan masalah mungkin kurang jelas bagi siswa.Strategi yang digunakan atau penafsiran jawabankurang cocok dengan masalahnya

Skor 0Siswa tidak menunjukkan pemahaman terhadapmasalah. Strategi yang digunakan dan jawaban yangdiperoleh tidak cocok dengan masalah.

Perencanaan

Skor 3Jawaban benar dan dinyatakan secara jelas ataumeskipun jawaban tidak benar namun hanyadikarenakan kesalahan yang tidak esensi bukan karenakesalahan implementasi/prosedur

Skor 2Jawaban salah karena sedikit kesalahan pada implementasi/prosedur atau jawaban dikemukakansecara tidak jelas

Skor 1Jawaban salah karena kesalahan yang esensi padaimplementasi/prosedur.

Skor 0Tidak ada jawaban yang diberikan

Penampilan

Skor 1Keseluruhan tampilan di atas kertas rapi/cermat danmudah dibaca. Informasi yang berguna/penting dapatdengan mudah ditemukan

Skor 0Kertas jawaban sulit untuk dibaca atau informasi yang berguna/penting sulit untuk ditemukan

C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)terlampir

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Madrasah :MTs Negeri CigugurMata Pelajaran:MatematikaKelas / Smtr: VII / Genap

Standar Kompetensi: GEOMETRI 6. Memahami konsep segi empat dan segitiga serta menentukan ukurannya.Kompetensi Dasar: 6.3. Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.Indikator: Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat

Alokasi Waktu : 8 jam pelajaran (4 pertemuan).

Tujuan Pembelajaran Pertemuan Pertama, Kedua, ketiga dan keempat,:a. Peserta didik dapat menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat.b. Peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat.Materi Ajar Menghitung keliling dan luas segi empat dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. Menghitung keliling dan luas segitiga dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. Menghitung keliling dan luas bangun datar dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

Metode PembelajaranPendekatan Problem solving

Langkah-langkah KegiatanLangkah-langkahKegiatan

PendidikPeserta didik

A. Kegiatan Awal apersepsi

B.Kegiatan inti

C.Kegiatan Akhir

a. Memberi salam

b. Memberikan motivasi dan memberikan gambaran tujuan mempelajarai materi

c. Menjelaskan langkah-langkah pemecahan masalah dalam menyelesaikan soal.

a. Memberikan penguatan konsep tentang keliling dan luas bangun datar segitiga dan segi empat dan mempersilahkan bertanya kepada siswa tentang materi tersebut

b. Memberikan beberapa contoh soal untuk menguji konsep yang diberikan, menunjuk beberapa siswa mengerjakan di papan tulis.

c. Setelah dirasakan cukup, guru memberikan soal problem solving untuk dikerjakan secara berkelompok (dalam kelompok kecil/teman sebangku) dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah.

d. Membimbing, mengevaluasi dan merefleksi jawaban siswa

a. Bersama-sama dengan siswa membuat generalisasi materi yang telah dipelajari

b. Memberikan soal/tugas/PR yang harus dikerjakan secara individu dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah.Menjawab salam

Menyimak pembahasan guru

Menyimak dan mencatat langkah-langkah pemecahan masalah

Menyimak, memahami, mencatat dan bertanya tentang materi yang kurang dipahami.

Mengerjakan soal secara individu, yang ditunjuk mengerjakan soal di papan tulis.

Mengerjakan soal dengan berkelompok dengan menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah dengan dibimbing oleh guru

Mendapatkan penilaian dan bersama guru melakukan refleksi

Membuat/mencatat rangkuman

Mencatat soal dan mengerjakannya secara individu

Alat dan Sumber BelajarSumber :-Buku paket, yaitu buku Matematika Kelas VII Semester 2.-Buku referensi lain.

Alat : Alat peraga berbagai jenis segitiga dan segi empat

Penilaian Hasil Belajar.Indikator Pencapaian KompetensiPenilaian

Teknik Bentuk InstrumenInstrumen/ Soal

Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat

Tes tertulis

Uraian tersetruktur

Pak Ahmad memiliki sebidang tanah berbentuk seperti gambar berikut ini. Tanah tersebut rencananya akan dibagikan kepada 4 anaknya. Setiap anak menerima bagian tanah dengan luas yang sama. Tunjukan cara membagi tanah tersebut dengan tepat.

Indikator JawabanSkor

Semua yang berikut dipenuhi: Jawaban yang diperoleh benar. Penjelasan jelas dan lengkap. Perhitungan matematis dilakukan dengan benar.4

Hanya terjadi salah satu dari yang berikut: Jawaban salah karena sedikit kesalahan perhitungan. Penjelasan kurang jelas. Penjelasan kurang lengkap3

Terjadi 2 dari 3 hal pada skor 3 di atas. Atau, salah satu atau lebih ciri-ciri berikut terjadi: Jawaban tidak benar, namun disebabkan kesalahan analisis (bukan kesalahan perhitungan) Penjelasan tidak jelas atau membingungkan Ada kesalahan penerapan strategi penyelesaian

2

Jawaban tidak benar, dan Penjelasan (jika ada) dengan alasan yang tidak benar, dan Strategi yang diterapkan tidak benar atau membingungkan.1

Kertas jawaban dalam keadaan kosong atau berisi catatan yang tidak relevan untuk menjawab masalah0

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Madrasah :MTs Negeri CigugurMata Pelajaran:MatematikaKelas / Smtr: VII / Genap

Standar Kompetensi: GEOMETRI 6. Memahami konsep segi empat dan segitiga serta menentukan ukurannya.Kompetensi Dasar: 6.3. Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.Indikator: Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat Alokasi Waktu : 8 jam pelajaran (4 pertemuan).

Tujuan Pembelajaran Pertemuan Pertama, Kedua, ketiga dan keempat,:c. Peserta didik dapat menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat.d. Peserta didik dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat.

Materi Ajar Menghitung keliling dan luas segi empat dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. Menghitung keliling dan luas segitiga dan menggunakannya dalam pemecahan masalah. Menghitung keliling dan luas bangun datar dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

Metode PembelajaranEkspositori

Langkah-langkah KegiatanPertemuan Pertama, Kedua, ketiga dan keempatPendahuluan:-Apersepsi : Menyampaikan tujuan pembelajaran. Memotivasi peserta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya mempelajari materi ini.

Kegiatan Inti EksplorasiDalam kegiatan eksplorasi, guru: Peserta didik diberikan stimulus berupa pemberian materi oleh guru mengenai cara menurunkan rumus keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat, serta cara menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat, kemudian antara peserta didik dan guru mendiskusikan materi tersebut Peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas contoh dalam buku paket pada mengenai cara menghitung keliling dan luas persegi panjang, mengenai cara menghitung keliling dan luas jajargenjang, mengenai cara menghitung keliling dan luas segitiga, mengenai cara menghitung keliling dan luas trapesium, dan mengenai cara menghitung keliling dan luas layang-layang. memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; ElaborasiDalam kegiatan elaborasi, guru: memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis; memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar; memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok; memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok; Peserta didik mengerjakan beberapa soal dari buku paket mengenai rumus keliling dan luas jajargenjang, mengenai keliling dan luas jajargenjang, mengenai rumus luas trapesium, dan mengenai rumus luas layang-layang, kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal tersebut. Peserta didik mengerjakan soal-soal mengenai penentuan keliling dan luas persegi dan persegi panjang, mengenai penentuan keliling dan luas jaring kawat keranjang yang berbentuk jajargenjang, mengenai penentuan keliling dan luas segitiga, mengenai penentuan luas bangun datar, dan berturut-turut mengenai penentuan keliling dan luas trapesium dan layang-layang, kemudian peserta didik dan guru secara bersama-sama membahas jawaban soal tersebut.

Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi, guru: memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik, memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan, memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar; memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh; memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif.

Kegiatan AkhirDalam kegiatan penutup, guru: bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran; melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;

E. Alat dan Sumber BelajarSumber :-Buku paket, yaitu buku Matematika Kelas VII Semester 2.-Buku referensi lain.

F. Penilaian Hasil Belajar.Indikator Pencapaian KompetensiPenilaian

Teknik Bentuk InstrumenInstrumen/ Soal

Menurunkan rumus keliling bangun segitiga dan segiempat Menurunkan rumus luas bangun segitiga dan segiempat Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segiempat

Tes tertulis

Tes tertulis

Tes tertulisuraian

Uraian

Uraian1. Tentukan luas dan kelilng segi empat berikut. 5 cm 8 cm

2. Tentukan luas dan keliling segitiga berikut. 4 cm 5 cm

3. Keliling persegi ABCD = 64 cm. Luas persegi tersebut adalah

19